Saturday, July 6, 2013

Kemhan Kembangkan Kamera Intai SRS Retina 2000



SRS Retina 2000

Kemhan Kembangkan Kamera Intai SRS Retina 2000

Sebenarnya sudah lama, Kementerian Pertahanan RI dan PT Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang diketuai Kasubdit Teknologi Pertahanan Kolonel (Laut) Taufik Arief melakukan riset pengembangan kamera SRS Retina 2000.

Kamera ini merupakan produksi dalam negeri yang mulai dirintis pada tahun 2006 dan diujicobakan pada tahun 2007, dan kemudian mulai dioperasikan oleh Skadron Udara 4 serta memperkuat alutsista TNI AU pada tahun 2008.

SRS Retina 2000 dirancang dengan kemampuan mengidentifikasi suatu objek dan merekamnya dalam bentuk data berupa foto udara digital dan video.

Sistem ini terdiri atas Gimbal yang meliputi kamera foto, kamera video, laser finder (penentu jarak), Master Control Unit (MCU) dan Uniterruptible Power Supply (UPS).

Menurut Letkol Pnb Novyanto Widadi SIP, Komandan Skadron Udara 4 Casa 212 yang menjadi Pabandya Latihan staf Operasi Koopsau 2 di Makassar, sistem kamera ini diakuisisi melalui serangkaian tahapan dan proses yang terencana dan sistematis. Pengujiannya dilakukan baik saat di darat maupun di udara.

Deskripsi umum fungsi dari alat ini dalam mendukung operasi dan performance peralatan, ringkasan teknis kemampuan sensornya terdiri atas, color day light CCD camera yang berupa digital camera video dengan tingkat resolusi tinggi, dengan kemampuan memperbesar objek hingga 26 kali. ”Ini memungkinkan pengambilan gambar secara detail dari ketinggian 5.000 kaki” katanya.

Resolusi tinggi digital camera dengan kualitas gambar 12,4 mega pixel mampu menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi, dan mampu digunakan untuk melaksanakan foto udara vertikal (pemetaan) dan foto udara obliq atau identitifikasi objek dari ketinggian 5.000 – 10.000 kaki.

Laser range finder (range 4-6 km) merupakan alat yang mampu digunakan untuk mengindera sasaran efektif pada jarak 4-5 km, dengan alat ini data objek yang diidentifikasi dapat diketahui jarak terhadap pengamat dan koordinatnya.

SRS 2000 Retina ini sebagai upaya Departemen Pertahanan guna mengembangkan peralatan pencitraan karya anak bangsa yang kelak dapat dikembangkan dan digunakan.

Alat ini sudah diujicobakan menggunakan pesawat C-212 Casa TNI-AU dengan hasil baik. ”Dengan tiga sensor yang dimiliki  SRS retina 2000  jika diaplikasikan ke pesawat, pesawat itu mempunyai kemampuan melaksanakan intai udara taktis, identifikasi objek maupun foto udara vertikal” tambah Novi.

Selama empat tahun operasional, kamera SRS Retina 2000 telah banyak berkiprah dalam berbagai misi operasi, salah satunya dalam operasi Eyes In the Skies (EIS), yakni patroli maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura yang bekerja sama dengan pihak Malaysia dan Singapura.

Di samping itu, juga dalam kegiatan latihan, baik latihan perorangan di Lanud Abd Saleh, Latihan antar satuan Garuda Perkasa, Sikatan Daya, Angkasa Yudha dan juga dalam Latihan Gabungan TNI tahun 2008 yang di gelar di daerah Sanggatta di Wilayah Kalimantan Timur.

Kamera produksi PT LEN yang kini dioperasikan oleh Skadron Udara 4 itu memiliki kemampuan menghasilkan foto udara vertikal, foto udara oblique, dan video streaming yang merupakan inti dari misi surveillance.

Kehadiran Tim Vertifikasi Kemhan kali ini memang bertujuan untuk menjajaki secara teknis rencana pengembangan kamera yang telah diproduksi sebelumnya.  Adapun kemampuan yang akan dikembangkan lebih lanjut antara lain kemampuan operasional siang dan malam dengan meningkatkan kemampuan sensor video dan meningkatkan pergerakan kamera yang semula hanya mampu bergerak pada dua sumbu,  menjadi mampu bergerak pada tiga sumbu dan mampu berputar 360 derajad.

Di samping itu yang tidak kalah penting adalah penambahan kemampuan transmisi data dari pesawat secara real time yang dilakukan melalui satelit, sehingga kegiatan surveillance dan recognizance yang dilaksanakan dapat dimonitor on the ground.

Keberadaan SRS 2000 sangat membantu dalam melakukan penyerangan, memprediksi sasaran juga sangat bermanfaat dalam mendeteksi sasaran. Selain mudah dan cepat dalam instalasi (pemasangan di pesawat) juga mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaan. Tidak memengaruhi alat komunikasi, navigasi maupun kelistrikan dan sistem aerodinamis dari pesawat.

Alat ini juga memiliki tingkat efisiensi tinggi dari segi pemeliharaan dan suku cadang, karena dibuat di dalam negeri, sehingga penindakan kesulitan tidak tergantung dengan pihak luar.

1 comment:

The Geeks said...

Terima kasih ya gan atas artikelnya, thanks for sharing :)