Tuesday, April 30, 2013

PT PAL Bangun 16 Kapal Rudal Cepat untuk TNI AL

Tiga Kapal Cepat Rudal TNI AL dalam Formasi Siap Tempur
SURABAYA - Sinergi antara industri galangan kapal dengan industri pertahanan nasional makin kuat. Hingga sepuluh tahun ke depan, kebutuhan kapal industri pertahanan khususnya kapal cepat rudal (KCR) 60 meter mencapai 16 kapal. Saat ini tiga kapal di antaranya sudah menjalin kontrak kerja sama dengan PT PAL.

       
Dirut PT PAL M Firmansyah Arifin mengatakan, pembangunan KCR tersebut mengacu pada perjanjian surat jual beli kedua pihak, yakni untuk W273, 274, 275. "Kapal pertama kami serahkan akhir Desember tahun ini, kapal kedua Maret 2014 dan kapal ketiga pada medio Juni 2014," urainya saat memantau proses pembangunan dasar kapal (keel laying) di pabrik PT PAL di Surabaya, Kamis (18/4).
        
Dia mengatakan, sebagai industri galangan kapal, kendala utama pada pasokan peralatan dan komponen kapal. Selama industri dalam negeri belum mampu menyuplai peralatan dan komponen yang diperlukan, maka industri galangan kapal tetap bergantung ke impor. "Tapi dengan keterbatasan itu, kami berusaha untuk menyelesaikan proyek ini sesegera mungkin. Karena dengan demikian kami masih terus dipercaya untuk memenuhi kebutuhan kapal TNI-AL," ucapnya.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio mengatakan, kebutuhan kapal TNI makin besar. Sebab untuk mempertahankan kedaulatan, perlu memiliki angkatan laut yang kuat. Disebutkan, dalam concept map hingga 2024, kebutuhan KCR 60 meter mencapai 16 kapal dan KCR 40 meter 16 kapal. Sehingga total kebutuhan 32 kapal. 

"Nah ini sekaligus memajukan industri perkapalan nasional dan tantangan bagi PT PAL ke depan. Melalui momentum ini kami berharap PT PAL makin meningkatkan kinerja sebagai leading sector kapal perang skala dunia," tutur dia.

Marsetio mengatakan, kendati baru menandatangani kontrak kerja sama untuk pembangunan KCR tiga unit, tapi ke depan pihaknya akan tetap mempercayakan pembangunan tiga belas kapal sisanya pada perusahaan pelat merah tersebut. "Total, 16 KCR 60 meter kami akan dibuat oleh PT PAL," tandas dia. Sedangkan, untuk KCR 40 meter akan dipercayakan pada industri galangan kapal nasional melalui mekanisme lelang. 

Disebutkan dana yang dianggarkan untuk membeli satu KCR mencapai Rp 500 miliar. Marsetio mengakui, pembangunan satu kapal tidak dapat mengandalkan komponen dalam negeri sepenuhnya. Menurutnya itu wajar, di berbagai negara pun memang rakitan dari berbagai negara seperti Jerman, Jepang dan Inggris. "Tapi kami harapkan semua industri dan peralatan dalam negeri dipakai secara maksimal, misalnya kerja sama teknologi dengan PT LAN Industri (Persero), lalu pelat dari Krakatau Steel, interior dengan PT INKA. Jadi, semua industri dalam negeri diberdayakan," tegasnya. 

Selain KCR, lanjut Marsetio, pihaknya sudah memesan kapal selam pada PT PAL yang bekerja sama dengan Korea Selatan. Dua kapal selam akan dibangun di Korea dan sisanya satu kapal di galangan milik PT PAL. Sedangkan untuk membangun itu, PT PAL mengirim karyawannya ke Korea. (res/kim)
Sumber : JPNN

Dapat uang melalui internet

Monday, April 29, 2013

PUNA Wulung, Pesawat Tanpa Awak Asli Buatan Indonesia

Pesawat ini akan memperkuat sistem pertahanan dan keamanan nasional.
ddd
Senin, 29 April 2013, 16:25Muhammad Chandrataruna, Tommy Adi Wibowo


Sejak tahun 2004, Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) telah mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau tanpa awak.

Di tahun 2013 ini, BPPT mulai menyiapkan program perintis industrialisasi untuk memproduksi PUNA secara massal.

Menurut Kepala BPPT, Marzan A Iskandar, untuk mendukung program PUNA perlu kerja sama antara regulator, industri, dan pengguna.

"BPPT telah berkerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI), PT LEN Industri, dan Kementerian Pertahanan (Kemhan)," kata Marzan, saat ditemui di acara MoU kerja sama pengembangan dan Penerapan Teknologi Kedirgantaraan, di BPPT, Jakarta, hari ini.

Ia menjelaskan, BPPT bertindak sebagai pembuat teknologi, sementara PT DI sebagai yang memproduksi, PT LEN Industri bertugas untuk penerapan teknologi sistem kontrol. Sedangkan, Kemhan sebagai penggunanya.

"PUNA terbaru ini diberi nama PUNA BPPT01A-200-PA7 Wulung. Pesawat nirawak ini nantinya memiliki misi militer dalam pengawasan sistem pertahanan dan keamanan nasional," ujar Marzan.

Berbangga

Sementara itu, Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan pengembangan Rekayasa PT Dirgantara Indonesia mengatakan, kerja sama ini sangat penting untuk kemajuan sistem inovasi nasional.

"Kerja sama ini akan memiliki program kelanjutan. Ke depan kami akan melakukan perluasan di bidang teknologi pertahanan, teknologi dirgantara, dan teknologi energi," kata Andi.

Ia pun menegaskan, PT DI akan selalu siap memproduksi barang-barang yang dibuat berdasarkan penerapan teknologi BPPT, sehingga manfaatnya dapat diperluas kepada masyarakat. "Ini adalah kolaborasi antara peneliti, industri, dan pengguna," ujar Andi.

Respons baik pun diberikan oleh Kemhan terhadap pembuatan PUNA Wulung. Menurut Darlis Pangaribuan, Direktur Teknik Industri Pertahan Kemenhan, selama ini penciptaan teknologi BPPT sangat jarang digunakan oleh Kemhan.

"Pasca ujicoba PUNA Wulung di Bandara Halim Perdana Kusuma pada Oktober tahun 2012, Kemenhan pun tertarik untuk menggunakan pesawat nirawak itu kebutuhan pengawasan oleh TNI," kata Darlis.

Meskipun teknologi PUNA Wulung masih kalah canggih dari pesawat nirawak buatan luar negeri, dia mengatakan, Kemenhan sangat bangga menggunakan produk buatan anak negeri.

"Ini untuk mendukung kemandirian produksi dalam negeri. Kami berharap ke depan, BPPT terus mengembangkan teknologi PUNA Wulung agar dapat digunakan secara maksimal oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Republik Indonesia," kata Darlis.

Sampai akhir tahun, PUNA Wulung akan diproduksi sebanyak tiga unit. "Tahun depan, pesawat ini akan diproduksi lebih banyak lagi, untuk memenuhi permintaan dari Kemhan sebanyak satu skuadron," kata Marzan. (eh). Sumber : ViVANews

Dapat uang melalui internet

Sunday, April 28, 2013

Para Pemimpin Dunia Pakai Pesawat Made in Bandung, Bagaimana Indonesia?

PM Malaysia, PM Pakistan, Pemimpin Turki, dan Presiden Korea Selatan merasa sangat puas menggunakan pesawat Buatan Bandung untuk kelas VVIP Mereka. Kepala Angkatan Udara Tentara Diraja Malaysia bahkan menyetir sendiri CN 235-220 miliknya.


CN 235 Malaysia

Jakarta - Pesawat buatan Indonesia sangat diperhitungkan kualitasnya oleh negara lain. Buktinya pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia yaitu CN235-220 digunakan oleh para pemimpin negara sebagai pesawat VIP.

"Kita punya pesawat CN235-220 itu pesawat multi missions platfrom, bisa untuk pribadi, maritime patrol, kargo dan lainnya," ucap Vice President Logistics & Costumer Support Division PT Dirgantara Indonesia, Mula W. Wangsaputra kepada detikFinanceditemui di The 12th Langkawi International Maritime & Aerospace (LIMA '13) Langkawi, Malaysia, Selasa (26/3/2013).

Salah satu bukti bahwa produk PT DI berkualitas yakni pesawat CN 235-220 digunakan oleh Perdana Menteri (PM) Malaysia, Presiden Korea Selatan dan Pakistan. "PM-nya Malaysia pakai, Korea Selatan pakai, Pakistan pakai punya kita juga," ucap Mula.

Pesawat CN235-220 dipesan oleh mereka untuk dijadikan pesawat VIP. "Jadi pesawat ini digunakan para pemimpin negara tersebut untuk pergi dinas di dalam negaranya sendiri," katanya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Terkait dengan hal itu, berikut ini ulasan seorang mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) TNI AU Indonesia yang sekaligus Chairman CSE Aviation terkenal, Marsekal TNI (Purn) Cheppy Hakim, di salah satu media : 

CN 235 VIP: Pesawat Anak Negeri yang Memberi Kebanggaan Bangsa Lain


Dalam kesempatan kunjungan resmi ke Korea Selatan sebagai kepala staf Angkatan Udara Republik Indonesia, salah satu acara formal adalah mengunjungi lokasi strategis Angkatan Udara Korea di luar Kota Seoul.
Perjalanan ke tempat tersebut dilakukan menggunakan pesawat helikopter yang berpangkalan di salah satu pangkalan udara yang berdampingan dengan Air Force Base, unit dari Angkatan Udara Amerika Serikat.
Selesai acara resmi, rombongan kami saat itu tertunda lebih kurang satu jam dalam jadwal perjalanan kembali ke Seoul karena cuaca yang berubah buruk.
Seorang kolonel menghadap saya menjelaskan bahwa perjalanan kembali ke Seoul tidak dapat dilaksanakan menggunakan helikopter atau pesawat rotary wing yang tadi.
Disebutkan alasannya adalah pesawat tersebut tidak bisa terbang tinggi berhubung dengan perkembangan keadaan cuaca yang memburuk. Markas Besar di Seoul memerintahkan untuk mengirim sebuah pesawat fixed wing VIP menjemput saya dan rombongan.
Setelah pesawat siap, kami pun segera bergegas menuju tempat parkir pesawat. Agak sedikit kaget karena ternyata pesawat fixed wing VIP yang disiapkan tersebut ternyata dari jenis CN-235.

Selesai melaksanakan penghormatan berjajar sesuai dengan prosedur pemberangkatan VIP, sang Captain Pilot dengan tersenyum lebar mendekat ke saya dengan mengatakan penuh bangga bahwa saya akan diantar kembali ke Seoul dengan pesawat fixed wing terbaik yang tersedia di Korea Selatan dan itu adalah pesawat terbang “asli” buatan negara anda! Terharu dalam hati, saya tersenyum sejenak dan mulai meneliti interior CN-235 yang sama sekali belum pernah saya saksikan sebelumnya.
Tidak bisa saya sembunyikan kekaguman terhadap desain interior CN-235 VIP Angkatan Udara Korea Selatan ini. Konon, belakangan setelah itu, saya memperoleh informasi bahwa desain dan perlengkapan VIP interior CN-235 tersebut adalah produk dari pesanan khusus Pemerintah Korea Selatan kepada pihak PTDI.
Desain Interior Pesawat VIP CN 235-220. PT DI memiliki Desainer Interior kelas 
dunia spesialis pesawat terbang lulusan Universitas terbaik Jerman. 
Terus terang, sangat mewah untuk ukuran Indonesia dan yang istimewa adalah sangat bersih, termasuk lantainya. Yang sangat mengharukan saya adalah melihat bagaimana para awak pesawat bertugas di pesawat itu dengan penuh kebanggaan. Bertugas menerbangkan VIP dengan pesawat khusus buatan BANDUNG !
Di pertengahan masa jabatan saya lainnya, Panglima Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) berkunjung tidak resmi ke Surabaya dengan transit semalam di Jakarta. Saya datang menemuinya di salah satu hotel di Jakarta Pusat.
Ada rasa ingin tahu, apa gerangan yang menjadi acara penting Panglima ke Surabaya. Ternyata, Panglima TUDM beserta satu set kru lainnya hendak berlatih simulator CN-235 di Surabaya.
Saya bertanya kepada Panglima, Jenderal Dato’ Suleiman, jam berapa tiba dan menggunakan apa? Surprise sekali saya memperoleh jawaban ternyata Panglima mengemudikan sendiri pesawat CN-235 TUDM VIP dengan menyertakan dua co-pilot yang akan berlatih simulator di Surabaya.
Jenderal Dato’ Suleiman menceritakan kepada saya betapa dia sangat menikmati terbang dengan CN-235. Saya tidak punya rating/ kemampuan menerbangkan CN-235 karena sebagian besar perjalanan terbang saya adalah menerbangkan C-130 Hercules.
Secara kebetulan, Jenderal Dato’ Suleiman juga mempunyai rating pesawat Hercules. Dengan demikian saya dapat mendiskusikannya agak lebih teknis apa yang dimaksudkannya “nikmat” menerbangkan CN-235 dengan membandingkannya dengan Hercules.
Diskusi berakhir dengan pernyataan Panglima TUDM yang sangat saya percaya jauh dari basa-basi bahwa secara teknis, menerbangkan CN-235 tidaklah kalah menyenangkan dari menerbangkan Hercules.
Dia menutup dengan hal yang sangat mengharukan hati saya bahwa seluruh warga TUDM sangat berbangga hati memiliki dan mengoperasikan pesawat CN-235 produksi dari bangsa serumpun!
Dari dua uraian ilustrasi tadi, kiranya telah lebih dari cukup untuk mewakili refleksi dari beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang juga menggunakan pesawat buatan anak bangsa CN-235.
Pesawat tersebut telah membuktikan dirinya, betapa kelas dari hasil jerih payah putra sang Ibu Pertiwi sudah memperoleh pengakuan de facto di panggung global.
Sangat disayangkan, kini justru di negeri sendiri kita mulai sulit untuk dapat menyaksikan CN-235 membelah angkasa Nusantara, menjaga persada. Sangat berbeda kehadiran CN- 235 bila dibandingkan dengan pesawat Casa-212 yang juga keluar dari kandungan PTDI.
CN-235 dari sejak awal memang telah lahir dari kerja keras dan olah pikir anak-anak kebanggaan kita. Lahir dari pemikiran orisinal sejak desain dasar pesawatnya, bukan sekadar kerja yang mencampur “asem dengan beling” alias assembling alias “jahit obras” belaka. Tidak berlebihan kiranya bila banyak pihak yang masih saja menginginkan produk kebanggaan seperti ini dapat diteruskan.
Diteruskan yang memang pasti membutuhkan tekad kuat yang harus dilandasi dengan rasa bangga atas karya sendiri. Yang memang diperlukan adalah spirit dan daya juang untuk bertempur dalam kancah persaingan internasional dibandingkan dengan hanya mencari kemudahan melalui kerja ringan memoles saja karya negara lain untuk diluncurkan melalui jalur assembly-lineaircraft manufacturer yang bernama PTDI.
Mudah-mudahan kita ini semua tidak mudah untuk selalu tergoda dengan “jalan pintas” yang selalu saja merangsang alias “menggiurkan” itu.

CHAPPY HAKIMChairman CSE Aviation (Koran SI)Sources : economy.okezone.com, ITB.blog.
Dapat uang melalui internet

Turki Punya Pesawat Anti Kapal Selam Buatan PT DI, RI Malah Tak Punya

Rista Rama Dhany - detikfinance
Selasa, 26/03/2013 14:47 WIB

CN 235 ASW milik Angkatan Udara Turki



Jakarta Turki ternyata memiliki salah satu pesawat canggih buatan Indonesia yakni CN235 ASW yang diciptakan untuk mendeteksi kapal selam. CN235 ASW merupakan kependekan dari Anti-Submarine Warfare.


"Turki itu punya pesawat buatan kita yang diciptakan untuk anti kapal selam," kata Vice President Corporate Communication PT Dirgantara Indonesia, Sonni Ibrahim, ketika ditemui disela acara The 12th Langkawi International Maritime & Exhibition 2013 (LIMA '13), Malaysia, Selasa (26/3/2013).



Dikatakan Sonni, pesawat tersebut memang didesain khusus untuk anti kapal selam karena memiliki dua buah torpedo.

"CN235 ASW ini memiliki sonar dan radar yang bisa mendeteksi keberadaan kapal selam musuh, ketika terdeteksi musuh di dalam laut, dari atas pesawat torpedo dijatuhkan dan dibelakang torpedo ada parutnya, setelah jatuh ke laut torpedo langsung mengejar musuh karena juga memiliki radar di dalamnya," ungkap Sonni.

Selain itu, Turki juga punya pesawat buatan PT DI jenis CN235 yang tidak memiliki torpedo.

"CN235 yang biasa juga beberapa dimiliki Turki, Malaysia juga ada, ini yang tanpa rudal, tapi kegunaanya untuk mendeteksi keberadaan musuh, CN235 ini seperti komando, menentukan target musuh dimana, berapa pasukan yang perlu dibawa, pesawat jenis apa yang digunakan untuk menyerang," jelas Sonni.

Namun sayangnya, negara seluas Indonesia dan produknya dibuat sendiri di dalam negeri, tetapi tidak ada satu pun jenis CN235 ASW yang dimiliki Indonesia. "Indonesia belum punya," tandas Sonni. (rrd/hen) Detik.com 


Turki memiliki beberapa Pesawat CN 235 buatan Pt DI Indonesia

Mengapa sampai demikian ? Barangkali ada perubahan rencana karena beberapa faktor internal maupun eksternal dari dalam PT DI sendiri maupun dari pemerintah.

Sebuah media Flightgobal Singapura memberitakan hal itu sebagai berikut terkait rencana  PT DI dalam hal pengembangan Pesawat Anti Kapal Selam tersebut  :
Indonesian Aerospace to develop CN-235 for anti-submarine role
  SIVA GOVINDASAMY SINGAPORE
Indonesian Aerospace (IaE) plans to develop an anti-submarine warfare (ASW) variant of the CN-235turboprop and hopes to offer the aircraft to countries in the region. 
The state-owned company's president, Budi Wuraskito, told the official Antara news agency that IaE had sent about 40 engineers to Turkey to learn how to manufacture ASW aircraft.
"We already have the technology for the production of such aircraft," he says, while not revealing where it has been acquired from. "They [the engineers] now have the experience to assemble and modify aircraft of that type." 
Turkish Aerospace Industries in late 2008 performed the first flight of a CN-235 maritime patrol aircraft equipped with a Thales Amascos mission system. The company is preparing six of the aircraft for ASW and anti-surface warfare duties with the Turkish navy under Ankara's Meltem 2 project. 
IaE manufactures the CN-235 under licence from Airbus Military, and an ASW variant could attract interest from neighbouring countries like Brunei, Malaysia and Thailand, as well as some Middle Eastern countries. 
The company has developed civilian and other military variants of the CN-235, and a military transport version is in service with countries including Indonesia, Malaysia and South Korea. 
It has also developed a maritime patrol variant that is in service with the Indonesian navy, and has also attracted interest from South Korea.Indonesia meanwhile plans to increase its defence budget by 20% in 2010 to make up for years of underfunding, says newly elected president Susilo Bambang Yudhoyono, a former army general. 
"We will significantly increase our defence budget from 33.6 trillion rupiah ($3.3 billion) in 2009 to 40.6 trillion," Antara quotes him as saying. The aim is to increase the budget every year until it reaches 120 trillion rupiah, he adds.
C-130-crashindonesia-445
@PA Photos : The remains of the Indonesian military C-130 which crashed in May
There have been calls for additional funding for the military after a series of fatal crashes involving Indonesian military aircraft over the last few months. In May, an air force Lockheed Martin C-130H crashed, killing 99 people. Another 24 died when an air force Fokker F27 crashed in April, and there have also been several recent fatal accidents involving military helicopters. 
Source :  Flightglobal
Dapat uang melalui internet

Thursday, April 25, 2013

Batal Beli Apache, Indonesia Beli Heli Buatan PTDI


Heli Serang AH64 Apache Long Bow

Pada hari Kamis, 18 April 2013 Tempo menurunkan berita sebagaimana judul di atas. Isi lengkapnya sebagai berikut : 
Komisi Pertahanan DPR menyatakan Indonesia batal membeli delapan unit helikopter serbu canggih dari Amerika Serikat, Apache Longbow. DPR beralasan harga Apache terlalu mahal. 
"Bukannya tidak mendukung TNI, tapi kami memprioritaskan anggaran," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, saat dihubungi Tempo, Kamis, 18 April 2013.
Untuk pembelian alat sistem pertahanan Angkatan Darat, dia menambahkan, diprioritaskan tank tempur utama Leopard. "Lagi pula tank ini kan baru, diprioritaskan."
Batalnya pembelian Apache bukan berarti Indonesia tak jadi membeli helikopter serbu. Indonesia kini mengalihkan pandangan kepada 16 helikopter Bell buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). 

Menurut Hasanuddin, ini karena harga Bell lebih murah ketimbang Apache. "Memang Bell tidak sehebat Apache, tapi kita belum mendesak untuk beli Apache," kata dia.
Saat ditanya apakah pembelian Apache dibatalkan karena ada kontrak dengan PT DI, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menjawab tidak. Dia bersikeras masalah utamanya adalah harga yang kemahalan.
"Lagi pula kalau beli produk PT DI, kita ikut mengembangkan industri pertahanan dalam negeri," ujarnya.
Pemerintah Amerika Serikat pernah menawarkan untuk menjual delapan helikopter AH-64 D Longbow Apache kepada Indonesia. Produk tempur bikinan Boeing ini memang sudah termasyhur di dunia lantaran sukses dalam banyak misi Angkatan Darat Amerika Serikat.


Apakah ini berita baik atau buruk ? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya, itu bisa berita baik, atau berita yang tidak terlalu baik. Namun keputusan itu tentulah sudah melalui pertimbangan yang matang, jadi keputusan yang diambil oleh DPR, hampir pasti sudah yang terbaik untuk Indonesia sendiri.

Peralatan apapun dari AS, terlebih alat-alat tempur, harganya memang selangit. Hal itu disebabkan AS secara tradisional merasa sebagai penemu, inventor, sangat melindungi hak intelektual mereka, menunjung tinggi hak cipta, jadi bisa dipahami jika mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Sejauh menyangkut teknologi, AS tidak pernah menjualnya dengan harga rata-rata. Mereka selalu mematok harga sangat tinggi. Kita ingat, beberapa waktu lalu Komisi Perdagangan AS mengkritik China yang menjual komputer, tablet, dll dengan harga murah dengan mengatakan," Adalah bodoh menjual teknologi tinggi dengan harga murah". 

Heli AH64 Apache ini dijual dengan harga 18 juta US$ atau Rp 45 milyar rupiah per unit-nya belum termasuk persenjataan yang dibawa oleh Heli tersebut. Itu harga tahun 1996, yakni 17 tahun yang lalu sebelum krisis 1998, saat 1 $  = Rp 2.500. Dengan kurs sekarang, 1 $ = Rp 10.000, maka, hanya dengan dasar perhitungan faktor kurs mata Rupiah terhadap Dollar saja, harganya naik 400% menjadi lebih dari 180 milyar rupiah per buah. Belum lagi dari produsen AS sendiri sudah pasti menaikkan harga atas dasar kenaikan biaya produksi dan faktor inflasi. Kemungkinan bisa di atas 250 milyar rupiah per unitnya. 

Bandingkan dengan Heli pesaingnya dari Rusia yang hanya 64,5 milyar rupiah (harga tahun 2007) sudah termasuk peralatan dan senjata lengkap. Bahkan pembelian bisa dilakukan dengan kredit sangat lunak. Dari segi kualitas, Mi 35 tidak kalah dengan Apache, bahkan lebih unggul dalam beberapa aspek.

Dalam prinsip pengadaan barang, pihak pembeli selalu memperhitungkan harga, kualitas barang, manfaat, dan kemudahan pembayaran. Jika untuk barang yang sama dihargai dengan harga yang sama dari dua penjual yang berbeda, maka penjual yang bisa memberi fasilitas kredit lunak akan lebih kompetitif ketimbang yang menuntut pembayaran tunai.

Pembatalan pemerintah atas rencana pembelian Heli Apache dan kemudian beralih ke pembelian Heli buatan PT DI adalah keputusan yang sangat tepat, bijaksana, dan positif. Manfaatnya bukan hanya jangka pendek, melainkan pula jangka panjang menyangkut dukungan terhadap perkembangan industri dalam negeri. Dengan dana yang sama, Dephankam akan memperoleh pesawat Helikopter Bell sebanyak dua kali lipat dari yang bisa diperolehnya berupa Apache. 

Bell 406 Combat Scout & Attack Helicopter
Lalu apa makna pembatalan Apache dan pengalihan ke industri dalam negeri ? 
Menurut penulis, ada banyak makna positif atas keputusan ini : 

1. Secara strategis, akan mendukung pengembangan PT DI untuk mencoba membuat Heli serang murni atau multifungsi dengan kelas lebih berat. 
2. Memberi proyek pada PT DI berarti memberi lapangan pekerjaan pada insinyur-insinyur kita sehingga menambah pengalaman, pengetahuan, dan keahlian yang lebih baik.
3. Mendorong industri penerbangan kita sedemikian rupa sehingga lambat laun semakin percaya diri, mampu menciptakan produk dengan tingkatan lebih baik. 
4. Saat ini PT DI membutuhkan proyek-proyek yang bisa dikerjakan agar keberlangsungan perusahaan tidak trerhambat. Pembelian ini akan sangat berarti bagi PT DI untuk memperkuat R & D, meremajakan mesin-mesin produksi, perolehan lisensi, dan lain-lain.
5. Pembatalan persetujuan DPR menunjukkan adanya komitmen wakil rakyat untuk ikut serta "mengarahkan" pemerintah agar lebih peduli pada industri alutsista dalam negeri. Ini bisa berarti banyak hal : berkurangnya dugaan kong kali kong antara pemerintah dengan produsen/perantara dalam hal ini pejabat Dephankan-pihak AS. Sudah jamak terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di India bahwa pengadaan alutsista yang sangat mahal menimbulkan kecurigaan korupsi.
6. Adanya perubahan cara pandang pihak Dephankam sendiri semenjak dialihkannya BUMN strategis seperti : PT PAL, PT PINDAD, PT DI, menjadi di bawah Dephankam dan bukan di bawah Kementerian BUMN lagi. 
7. Adanya perubahan signifikan peran Indonesia yang  semakin kuat di dunia Internasional dibanding sebelumnya di mana AS sudah tidak bisa "mendikte" lagi kebijakan luar negeri maupun pembangunan Alutsista nasional.  

Yang jelas, keputusan itu bermakna sangat positif. Makna strategis ini sangat penting agar kita bisa dengan cepat mandiri dalam pengadaan alutsista, sebagaimana Brazil telah mampu membuat pabrik mereka, Embraer, bisa berkembang dan semakin diakui oleh dunia, maka PT DI pun diharapkan bisa semakin dipercaya oleh dunia. 

File:Eurocopter EC-725 Cougar MkII.jpg
Helikopter  Cougar EC-725 lisensi dari Eurocopter yang akan dibuat oleh PT DI untuk produk berikutnya.
  
Makna Politis

Ada hal khusus saat Barack Hussein Obama naik menjadi Presiden AS dalam hubungannya dengan Indonesia, yakni hibah 24 Jet Tempur F-16 yang akan diretrofit ke Block 50. Jumlah 24 adalah cukup banyak, belum pernah dalam sejarah politik hubungan AS-Indonesia mendapat hibah sebanyak itu, belum lagi persetujuan pembelian Heli AH64 Apache ini. Sangat mungkin karena Obama sendiri menilai istimewa Indonesia karena masa kecilnya pernah besar di negeri ini, dan di saat yang sama Indonesia di bawah Presiden SBY memiliki banyak kesamaan kebijakan dengan AS : keberhasilan pemberantasan terorisme, demokrasi yang semakin berkembang, dan tidak adanya peanggaran HAM oleh negara. 
Terlepas AS yang kini ditimpa krisis, dan Indonesia yang justru ekonominya tumbuh secara meyakinkan, pemulihan hubungan militer AS-Indonesia saat ini mengalami peningkatan pesat setelah sebelumnya mereka (AS) mengambargo bantuan militer Indonesia.
Diembargo AS, Indonesia tidak kehilangan akal. Indonesia justru semakin "mesra" dengan China dan Rusia, dan mulai mengarahkan radarnya untuk melakukan kerjasama militer dengan Brazil, Polandia, Jerman, dan negara-negara lain. Dari Jerman misalnya, Indonesia membeli Tank Berat dan Sedang Leopard. 

Seiring pulihnya ekonomi Indonesia dari krisis 1998 dan belum pulihnya krisis di AS, peran dan kekuatan Indonesia semakin tidak dianggap sebelah mata oleh dunia, termasuk oleh Barat. Ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta pemerintah untuk berhenti menjual bahan-bahan mineral dan hasil tambang secara mentah ke luar negeri karena penjualan demikian tidak memberi nilai tambah apapun untuk kepentingan nasional, hal ini berimbas pada perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di sini. Indonesia berani "menasionalisasi" secara pelan-pelan perusahaan-perusahaan seperti Freeport agar menjaul sahamnya ke pemerintah RI dan dipaksa membangun smelter di sini. 

Pemerintah Indonesia mengancam, jika Freeport (perusahaan paling bandel di dunia untuk taat pada aturan lokal) tidak juga membangun Smelter di sini, mereka akan kehilangan peluang untuk mengekspor emas mentah ke luar negeri. Newmont juga demikian, jika mereka tidak taat pada undang-undang yang berlaku di sini, mereka tidak akan diberi ijin mengekspor mineral mentah ke luar negeri. 

Toyota, pabrik raksasa mobil asal Jepang, juga protes karena dengan kebijakan Indonesia itu berimbas ke mereka. Jepang tidak lagi bisa membeli bahan baku dari Indonesia secara langsung. Pemerintah Indonesia pun memberi solusi, misalnya dengan meminta pabrik mobil Toyota untuk membangun pabrik mobil di Indonesia. Toyota akhirnya bersedia, dan mereka pun membangun pabriknya di Cikarang. Banyak anak muda Indonesia pun mendapat peluang memperoleh pekerjaan, ekonomi semakin tumbuh, keahlian SDM Indonesia semakin terasah. Bukan hanya Toyota, General Motors (GM) dan Chevrolet pabrikan asal AS; lalu BMW dan VolksWagen (VW) pabrik otomotif asal Jerman, pun berencana membangun pabrik mobil mereka di Indonesia. Ini akan sangat berarti bagi SDM-SDM kita untuk mendapatkan pekerjaan, keahlian, tranfer teknologi, dan-lain-lain.

PT DI, Mi 35, dan Apache. 

Jika pemerintah membatalkan pembelian Apache lalu berganti membeli Heli dari PT DI, apakah teknologinya sepadan ?

Bisa saja sepadan jika masalahnya hanya pesawat itu sendiri. Inti dari Helikopter untuk jenis apapun pada dasarnya sama. Heli Apache maupun Heli Bell buatan PTDI punya bagian-bagian utama yang sama, yakni mesin, rotor, baling-baling utama, baling-baling ekor, ekor, dan body dari Heli.  Yang  berbeda antara satu Heli dengan heli yang lainnya dari organ utama ini adalah kapasitas angkut, daya mesin, panjang baling-baling, sayap, dan lain-lain yang berimbas pada kecepatan dan daya tahan. 
PTDI tentu tidak akan kesulitan menyesuaikan ini dengan memasang mesin ganda dengan daya yang lebih besar misalnya, atau membuat baling-baling dan rotor yang lebih besar atau menambahkan sayap seperti halnya Apache atau Mi 35. PT DI tentu mudah saja 'meniru' Apache atau Mi 35 jika soal berat-ringan.

Yang membedakan adalah aksesoris yang dipasang pada Heli tersebut. Sebagai Heli Serang, perlengkapan utama yang sangat penting dan ini sangat ditentukan oleh kecanggihan teknologi adalah sistem persenjataan yang meliputi : senjata itu sendiri (senapan mesin/Canon, rudal, peluncur roket jamak, dan bom), sistem avionik dan sistem targeting mereka.
     
Heli buatan PTDI tidak akan sepadan dengan Apache jika teknologinya tidak dimutakhirkan sehingga standarnya sama dengan AH64 Apache Long Bow. Namun Bell pada umumnya sudah sesuai dengan standard Heli Serang NATO. Jika Indonesia menjatuhkan pilihannya pada jenis Bell, maka paling tidak sistem Avionik dan Targetingnya harus dibuat setingkat dengan Apache. 

Kelebihan Helikopter asal AS ini adalah teknologi penginderaan dan keakuratan dalam menentukan target serang secara presisi. Jika Indonesia ingin bisa mendekati Apache, maka solusinya bisa mengimpor alat-alat seperti sistem avionik dan targeting yang sangat canggih itu jika belum bisa buat sendiri, 

Salah satu fitur revolusioner yang mereka klaim ada pada Apache adalah adanya helmet mounted display, yakni sebuah helm yang terintegrasi dengan Sistem Penglihatan (IHADSS) di antara kemampuan lain yang diperlengkapkan pada pilot maupun operator senjata sehingga bisa terus memfokuskan senjata pada target secara presisi saat Heli bergerak maju. Heli ini dilengkapi dengan senapan mesin dan balistik sebagai senjata serang standard. Kelebihan lain adalah adanya alternatif sistem kendali TADS, Targeting Acquisition and Designation System untuk menetapkan sasaran dan mengunci posisi tembakan ke depan.  
Sementara kekuatan dan daya jelajah yang sangat kuat bisa mengadopsi teknologi Mi 35. Namun Bell adalah lisensi, perlu dicermati dulu aturan-aturan yang mengikatnya. Kemungkinan lain adalah pembuatan Heli serang  Cougar EC 725 dari Eurocopter.

Dapat uang melalui internet

Monday, April 22, 2013

Heli Serang AH64 Apache dan Mil Mi 35 Hind Gunship, Bagaimana Jika RI Punya Keduanya ?

Mil Mi 35 Hind Attack Gunship
AH64 Apache Long Bow
Jika Dephankam jadi membeli Heli serang AH64 Apache Long Bow dari AS, maka heli ini akan melengkapi Heli Serang Mil Mi 35 Hind Attack Gunship yang sudah ada. Ini akan sangat menarik, dua produk dari negara blok barat dan timur disatukan.

Seperti halnya Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi 27 yang kita punya, skuadron ini akan menjadikan peralatan tempur kita lebih variatif, dan tentu menjadi lebih kuat.


Sekedar kilas balik, beberapa tahun yang lalu Enam helikopter MI-17 buatan Rusia diserahterimakan dari pihak Rusia ke Departemen Pertahanan (Tempo, 2011). 
Enam helikopter ini akan melengkapi 5 helikopter serbu MI-35 dan 6 helikopter MI-17 yang telah dimiliki Indonesia. Rencananya akan tiba 6 unit lagi pesawat yang sama.
"Sehingga genap 18 heli MI-17," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam sambutan serah terima di Hanggar Skuadron 26 Pondok Cabe, Jakarta Selatan, Jumat, pada 26 Agustus 2011.
Serah terima ini dilakukan dari pihak JSC Rosoboronexport Rusia kepada Kementerian Pertahanan. Penyerahan ini dilakukan oleh perwakilan JSC Rosoboronexport Rusia Vadim V Varaksin kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo.
Pada acara itu diserahkan enam helikopter MI-17 warna hijau dof. Heli ini merupakan buatan Rusia. Tahun lalu, Indonesia juga telah mendatangkan 6 heli MI-17. Hadir dalam acara serah terima ini, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhi Wibowo, dan Duta Besar Rusia Alexander Ivanov. 
Purnomo mengatakan helikopter MI-17 merupakan helikopter yang multipurpose sehingga bisa dimanfaatkan dalam semua kegiatan. Kondisi geografis Indonesia dengan banyak kepulauan dan kondisi daerah yang minim lapangan terbang, dibutuhkan alutsista MI-17. "Indonesia terdiri banyak pulau, belum punya lapangan terbang, dan memiliki ancaman tradisional dan non-tradisional memang diperlukan alutsista seperti heli," katanya.
Ia berharap helikopter ini dirawat dengan baik, mengingat anggaran pembelian alutsista cukup besar. Anggaran untuk pembelian alutsista ini mencapai US$ 56 juta. Dalam kesempatan itu, Purnomo berharap anggaran pembelian alutsista terus meningkat, mengingat perekenomian Indonesia semakin membaik dan APBN sudah mencapai 1.400 triliun. Hal ini dilakukan dalam reformasi jilid II dalam modernisasi alutsista. "Kita sampaikan paparan peningkatan anggaran kita 5 tahun ke depan pencapaian essensial forces," katanya.
Indonesia sejak tahun 1997 sudah jarang melakukan penambahan maupun pembaruan alutsista. Pada 1997, Indonesia sedang mengalami krisis sehingga tidak mungkin melakukan penambahan alutsista. Saat itu, TNI telah melakukan reformasi jilid I dalam bidang organisasi, depolitisasi, dan debisnisasi. Purnomo juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Rusia.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan pemilihan helikopter ini karena memang memiliki kemampuan yang serbaguna dan daya angkut sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan total 18 heli MI-17, maka sekali angkut bisa membawa pasukan satu kompi. "Ini akan mendukung pengamanan perbatasan dan pengangkutan logistik," ujarnya.
Duta Besar Rusia Alexander Ivanov mengatakan pemerintah telah memberikan komitmen untuk membantu Indonesia. Pengadaan heli ini menggunakan kredit negara Rusia, melalui penerapan syarat yang ringan. "Pemerintah Rusia ingin kerja sama dengan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanan," katanya.

Berita di atas sangat menarik bukan saja bagi analis pertahanan nasional Indonesia sendiri, melainkan juga para analis di Washington DC. Pengalihan Indonesia ke Rusia membuat AS seperti 'kebakaran jenggot', khawatir pengaruhnya di Asia Tenggara tergeser oleh Rusia dan China. Maka, buru-buru Parlemen AS segera menyetujui penjualan Heli Serang Apache AH 64 Long Bow untuk Angkatan Bersenjata Indonesia, di luar hibah 24 unit F-16 Block 50. 


Belum pasti, namun kemungkinan menyandingkan dua heli serang canggih dari dua kutub yang berbeda akan sangat bagus. 


Indonesia, negara pendiri Non Blok, sejak awal berprinsip "Having much friends without enemy", bebas ke mana saja menjalin kerjasama militer. Memang seharusnya demikian. Kita boleh saja dekat dengan AS, namun jangan sampai 'terikat' dan bergantung pada mereka. Kita pun tidak perlu ragu untuk dekat dengan Rusia dan China, karena ketika zaman Presiden Soekarno pun jalinan kerjasama dengan 'blok Timur' sangat erat. Dan Indonesia, sebagai negara merdeka, juga menjalin kerjasama dengan Iran, Venezuela, maupun kelompok negara-negara Amerika Latin termasuk Brazil dan Argentina.


Kembali ke topik kita : dua heli serbu asal Rusia dan Amerika Serikat. Analis Barat cenderung mengunggulkan Apache atas Mi 35, sama seperti mereka memberi peringkat lebih baik pada Jet Fighter F-16 ketimbang Sukhoi Su 27. Pendapat itu mungkin benar, tapi mungkin juga tidak. Dalam beberapa momen latihan bersama baik latihan bilateral antara Indonesia-Australia maupun latihan trilateral antara Indonesia-Australia-Amerika Serikat beberapa waktu lalu, di mana kedua jenis pesawat tempur itu terlibat, justru menunjukkan Su 27 lebih hebat ketimbang F 16 bahkan masih lebih unggul jika dibandingkan dengan Jet Fighter F/A-18 Super Hornets sekalipun. Ini sempat mencemaskan Australia, saat niat mereka untuk mendatangkan F35 Lingthning II sebagai penyeimbang kekuatan udara Indonesia terkendala oleh harga yang terbang tinggi.


Ini mirip perbandingan senjata legendaris AK47 (Rusia) dan M16 (AS). AK47 terkenal sebagai senjata handal, demikian juga M16. AK47, menurut prajurit Kopassus yang pernah menggunakannya, sangat bandel dan kuat. Senjata ini tidak akan macet meskipun ditenggelamkan di dalam lumpur. 



AK 47 Guns Rusia
Sebaliknya, M16 akan macet jika digunakan dalam medan ganas seperti itu. M16 harus ditenteng tinggi-tinggi agar tidak terkena air atau lumpur manakala digunakan, jadi rentan terhadap kendala alam. Namun M16 memiliki fokus yang lebih akurat dan tembakan lebih presisi.

M16 Guns, US.
Indonesia akhirnya memproduksi sendiri senjata serbu SS-1 dan kemudian disempurnakan lagi menjad SS-2, SS-3, lalu SS-4. Senjata ini, merupakan gabungan keunggulan dari AK47 dan M16 : sebandel dan sekuat AK47, dan seakurat dan sepresisi seperti M16. Senjata ini adalah perpaduan antara Rusia dan AS. Inspirasinya dari sana. Senjata SS2 bahkan sekarang menjadi pesaing utama AK47 dan M16 di dunia.
Senapan Serbu SS2 Indonesia

Jika Indonesia bisa menciptakan senjata terhebat di dunia berkat belajar dari dua kekuatan dunia Rusia dan AS, maka kita juga bisa berbuat hal yang sama untuk teknologi peralatan lainnya. Pengalaman memiliki dan memakai AK47 dan M16 telah memberi inspirasi sehingga tercipta SS-2, maka sangat mungkin kita juga bisa buat Heli Tempur yang mengawinkan dua keunggulan dari masing-masing : Mil Mi 35 Hind Attack Gunship dan AH64 Apache Long Bow.
Hal serupa sama juga bisa kita lakukan untuk belajar membuat pesawat tempur yang memadukan keunggulan dari F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi Su 30 MK2. Potensi ke arah itu ada, sangat mungkin terjadi, karena kita mempunyai akses untuk kedua-duanya. Mudah-mudahan proyek IFX bisa terwujud sehingga Indonesia mampu segera membuat pesawat tempur sendiri generasi ke-5, lebih hebat dari F-16 dan lebih digdaya dari Su 30. 

Posisi Indonesia yang netral bisa memberi keuntungan tersendiri,--tidak seperti Australia yang 100% terikat dengan AS dan Inggris, atau Korut/China yang dekat dengan Rusia, yang oleh karenanya hampir tak mungkin membeli peralatan tempur dari AS/NATO,--kita bisa memanfaatkan dua negara adidaya itu, AS dan Rusia, untuk berkembang ke arah depan yang lebih baik. 


Ketika AS enggan memberikan teknologi roket mereka untuk Indonesia, kita bisa memperolehnya dari sahabat Timur kita, China. Ketika China belum memiliki teknologi pembuatan pesawat terbang secanggih AS, kita bisa memperolehnya dari Jerman, guru Amerika waktu dulu dalam hal penerbangan. 


Ketika transfer teknologi mensyaratkan pembelian mahal dari negara-negara maju untuk Kapal Selam dan Jet Tempur, kita malah bisa mendapatkan itu dari Korea Selatan. AS tidak mau mengalihkan teknologi itu ke Indonesia, tetapi mereka mau memberikannya pada Korea Selatan. Hubungan Indonesia-Korea Selatan sangatlah dekat, saling percaya,  dan bersahabat. Namun Indonesia juga 'dekat' dengan Korea Utara, dan hal ini sempat diakui oleh pemerintah Korea Selatan sendiri yang sempat meminta Indonesia agar mau lebih aktif membantu krisis kedua Korea.   

Ketika kita kekurangan minyak dan tak mungkin mengimpor dari China/Rusia apalagi AS atau Eropa Barat, kita bisa memperolehnya dari Irak atau Venezuela, atau bahkan Iran. Strategi pemimpin kita untuk bersikap 'cair' memberikan keuntungan tersendiri, tidak dicurigai oleh AS seperti mereka curiga pada Iran, tidak dimusuhi AS sebagaimana mereka memusuhi Cuba, Venezuela, atau Bolivia. Kita berprinsip : Having much friends with no enemy. Ini terlihat ketika Presiden SBY berkunjung ke Jerman dan kembali dengan pengamanan maksimal, dikawal oleh tiga pesawat tempur Eurofighter milik Angkatan Udara Jerman, betapa mereka menghormati kita. 


Ketika dalam Forum Demokrasi di Bali pemimpin Iran Presiden Mahmoud Ahmadinejad tampak tampil di podium berdiri bersama Presiden Indonesia, SBY, dan PM Australia, Julia Gillard--memperlihatkan bagaimana cairnya hubungan antar kawasan bersama Indonesia.



Bagaimanapun juga, ada hal yang membanggakan dari negeri ini yang dalam sejarahnya selalu mengedepankan perdamaian dan persahabatan. Ini sangat penting bagi Indonesia ketimbang terlibat konflik yang melelahkan dan saling curiga seperti yang terjadi di kawasan lain. Di bawah kepemimpinan Indonesia, ASEAN semakin solid dan dipandang memiliki DNA yang sama dengan Uni Eropa. Indonesia berperan penting dalam mendamaikan perang Kamboja-Vietnam beberapa waktu lalu. 

Pertahanan Indonesia semakin kuat namun di saat yang sama tumbuh perasaan saling percaya antara Indonesia-Malaysia, Indonesia-Singapura, sehingga terhindar dari perlombaan senjata nuklir di kawasan. Tidak seperti Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Semenanjung Korea, dan Amerika sendiri yang telah menjadi kawasan nuklir, ASEAN sejauh ini masih steril dari senjata pemusnah massal mematikan itu. Ketenangan dan kedamaian sangat penting agar kita bisa lebih fokus untuk tumbuh dan maju.  

Kembali ke inti pembahasan kita : Heli Serang AH64 Apache dan Mil Mi 35 Hind Gunship. Akan lebih lengkap lagi, jika ada dana kita bisa memiliki Eurocopter EC 665 Tiger Attack Helicopter buatan Jerman. Jadi kita bisa memadukan ketiga heli serang itu masing-masing dalam satu produk unggul kita sendiri ke depan oleh PT DI. 

Dengan kemampuan kita membuat Helikopter kelas multifungsi Super Puma, Bell 412 EP, dan pabrik di Bandung yang kita punya, rasanya tidak terlalu sulit mewujudkan impian itu. Dibandingkan tahun kondisi kita di 1960-an, impian itu hanya berjarak beberapa langkah ke depan. Heli serang buatan Indonesia, sehebat Mi 35 dan setangguh AH-64 Apache, bisa menjelajah wilayah udara nusantara, bahkan dunia.    
Dapat uang melalui internet