Friday, October 25, 2013

Bodi Helikopter Cougar Asli Buatan Indonesia


BANDUNG — Industri pesawat terbang Indonesia terus berkembang. PT Dirgantara Indonesia, badan usaha milik negara (BUMN) strategis, bekerja sama dengan Eurocopter dalam mengembangkan helikopter EC 725 Cougar.

Setelah tiga tahun pengembangan, fuselage (badan helikopter) Cougar akhirnya rampung. Helikopter tersebut didesain oleh Eurocopter, industri helikopter yang bermarkas di Perancis dan merupakan pemegang hak cipta dari helikopter Cougar.

Awalnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) merakit helikopter ini atas pemesanan dari TNI Angkatan Udara sebanyak empat unit. Eurocopter kemudian mengirim desain Cougar. Namun, desain yang dikirimkan ternyata belum sempurna.

"Mulanya kami seperti subkontrak, mereka memberikan desain, kami yang mengerjakan. Tapi ini berbeda. Gambar-gambar yang diberikan kepada kami itu belum matang. Belum bisa menjadi komponen dan masih banyak kesalahan. Kami membantu desain tersebut menjadi desain utuh," ujar Sonny Saleh Ibrahim, Kepala Komunikasi PT DI, Rabu (23/10/2013).

Karena turut serta dalam mendesain Cougar, PT DI tentu mendapat keuntungan. "Akhirnya kami investasi juga di dalam, tapi investasi produksi. Tools-nya jadi tools kami. Jadi, nanti suatu hari misalnya negara lain membeli Cougar di Eurocopter, komponennya dibuat di sini, lalu kirim ke Perancis," kata Sonny.

PT DI menjadi mitra strategis Eurocopter. Hal ini sudah berlangsung selama tiga tahun sejak TNI AU melakukan pemesanan pada tahun 2010. PT DI bertugas mengerjakan fuselage dan tail boom (buntut helikopter) sambil mengembangkan desain. Baling-baling dan sisanya dikerjakan oleh Eurocopter.

Setelah menerima desain untuk pembuatan fuselage dan tail boom, karya PTDI ini diserahkan kepada Eurocopter untuk dipasangi mesin dan komponen lainnya. Helikopter belum rampung karena masih harus diserahkan kembali ke PT DI untuk pemasangan komponen elektronik dan lain-lain. Jika rampung, maka helikopter berkapasitas 22 orang ini bisa diserahkan ke TNI AU sebagai pemesan.

Bagaimana dengan pemasangan persenjataan di Cougar ini? "Selama persenjataan yang digunakan adalah produksi PT Pindad, kami yang akan memasangnya. Kalau impor, TNI AU sendiri yang akan pasang karena mereka yang tahu," ujar Sonny.

Tak hanya dengan Eurocopter, kerja sama serupa juga dilakukan oleh PT DI dengan perusahaan Airbus. PT DI menjadi penyuplai global. "Global supplier itu, kami membuat komponen untuk Airbus atau Eurocopter, lalu pesawatnya dipakai di seluruh dunia," kata Sonny.

Karya dari jerih payah anak bangsa Indonesia akhirnya bisa berkibar juga di dunia internasional meski sebagian bahan baku masih harus diimpor. Sejak 1976, pembuatan helikopter di PT DI selalu atas lisensi penuh dari luar negeri. Pembuatan Cougar ini menjadi yang pertama bagi PT DI dalam berposisi sebagai mitra strategis industri luar negeri.

Pembuatan helikopter di PT DI dimulai dengan jenis NBO 105 pada 1976, dilanjutkan dengan Puma NSA 330 dan Super Puma NAS 332 di tahun 1982. Dua tahun kemudian, pada 1984, PT DI memproduksi lagi Nbell 412.

EC 725 Cougar sendiri dikerjakan sejak 2010, diikuti pengerjaan Bell 412-EP pada 2011. Helikopter Cougar sendiri merupakan evolusi dari Super Puma NAS 332. Hingga saat ini, Super Puma NAS 332 sudah diproduksi sebanyak 20 unit. Sebagian besar produksi digunakan oleh TNI AU. (Rhea Febriani Tritami)
(Kompas)




Tuesday, October 22, 2013

Desain Pengembangan Pesawat N-250 Libatkan 6 Maskapai

Enam maskapai itu digandeng Regio Aviasi sebagai penggagas.



Salah satu perusahaan di industri penerbangan, PT Regio Aviasi Industri, menggandeng enam maskapai untuk mendesain pesawat R-80. Produk itu merupakan pengembangan pesawat N-250 yang digagas B.J. Habibie.

Pesawat N-250 adalah pesawat yang dikendalikan secara elektronik atau dikenal dengan istilah fire by wire kedua setelah pesawat Airbus A-300.

Komisaris Utama Revio Aviasi Industri, Iham A. Habibie, pada Selasa, 22 Oktober 2013, mengatakan, saat ini proses desain pesawat R-80 masih berjalan. Selama proses perancangan itu, beberapa maskapai yang terlibat adalah perusahaan penerbangan yang ada di Indonesia.

"Semuanya maskapai Indonesia. Selain NAM Air, ada Citilink, Wings Air, Kalstar Asia, Sky Aviation, dan Merpati Nusantara Airlines," kata Ilham di Jakarta.

Ilham mengatakan, rancangan tersebut juga memperhitungkan masukan-masukan dari keenam maskapai tersebut. NAM Air sendiri sudah menandatangani kontrak pengadaan 100 unit pesawat "narrow body" itu.

"Memang luar biasa NAM Air. Saat ini, mereka sudah mengambil keputusan. Mereka juga sudah meminta harganya, padahal kami masih mendesain," kata dia.

Manajemen Regio menyatakan, desain awal R-80 akan rampung pada April 2014. Selanjutnya, perusahaan akan membuat prototipe pesawat itu, yang diperkirakan selesai pada 2016. Setelah itu, akan dilakukan sertifikasi kelayakan udaranya.

"Kami akan melihat penerbangan perdananya pada 2016. Setelah itu, kami akan melakukan sertifikasi kelayakan udara. Dua tahun sertifikasinya," kata dia.

Menurut dia, apabila tidak ada halangan, penyerahan perdana R-80 kepada pemesan akan dilakukan pada 2018. "Tapi, ini masih bisa berubah dari rencana awal. Sejauh ini, masih belum ada perubahan," kata dia.

(Viva.co.id)




Teknologi 'Kapal Perang Siluman' dari Surabaya











Surabaya- Teknologi siluman, yang memungkinkan kapal perang tak terdeteksi radar musuh, menjadi salah satu keunggulan penting bagi sistem pertahanan di negara maju. Hanya saja, untuk menciptakan teknologi canggih seperti ini membutuhkan anggaran besar. Tak mengherankan jika teknologi semacam ini seperti menjadi monopoli negara maju.



Benarkah teknologi seperti itu tak bisa dimiliki oleh Indonesia? Jawaban atas pertanyaan inilah yang ingin dipecahkan oleh Mochammad Zainuri, dosen Fisika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, melalui risetnya sejak 2009 lalu.  


Menurut dia, teknologi siluman sebenarnya bisa dikembangkan dengan dua cara. Pertama, membuat kapal dengan struktur dan desain yang tidak bisa dilacak dengan radar. Artinya, saat terkena radar, bagian dari kapal tersebut akan memantulkannya ke arah lain sehingga membuatnya tak terdeteksi. "Untuk membuat kapal sendiri dengan desain dan struktur canggih, butuh biaya sangat besar. Ini tidak mungkin saya lakukan," kata dia saat ditemui Tempo di rumahnya di Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu 29 Juli 2012. Ia menyadari anggaran untuk alat utama sistem persenjataan Indonesia sangat terbatas. 


Kedua, mengembangkan teknologi "kapal siluman" dengan menyulap kapal-kapal bekas yang dilapisi material nano komposit sehingga bisa menyerap gelombang radar. Konsep inilah yang sedang ditelitinya sejak tiga tahun lalu hingga kini. Pria 48 tahun ini terus mengembangkan teknologi siluman dengan mengembangkan material nano komposit, pelapis yang mampu menyerap gelombang radar. 


Material untuk nano komposit itu diambil dari bahan-bahan alam pasir besi di Pantai Bambang Lumajang, Jawa Timur.  Pertimbangannya, pasir di wilayah ternyata mempunyai sifat veromagnetik (pasir besi). Untuk bisa menjadi bahan nano komposit, pasir besi ini terlebih dahulu dipisahkan, diekstraksi, dan direkayasa. Hasilnya lantas digabung dengan partikel listrik yang berbahan dasar PANi (ponianeline) dalam orde nano dan diikat sehingga bisa dilapiskan dalam bahan logam. 


Kenapa dalam ukuran orde nano? Kata Zainuri, semakin kecil ukuran partikel maka akan memperluas permukaan spesifik, sehingga kemampuan menyerap radar semakin besar. 


Setelah diuji coba, kata Zainuri, logam yang telah dilapisi dengan material ini tidak bisa dilacak radar jarak jauh microwafe dengan gelombang 8-12 GHz. Radar jarak jauh jenis ini biasanya digunakan untuk mendeteksi keberadaan kapal. Hasilnya, gelombang radar yang dikirim oleh alat deteksi tidak bisa terpantul kembali alias terserap atau (terabsorsi) oleh material tersebut hingga 99 persen.


Zainuri menambahkan, prinsip kerja radar adalah mengirim gelombang ke kapal tersebut. Biasanya kapal selalu memantulkan kembali gelombang yang dikirim tersebut, sehingga membuat keberadaannya terbaca di alat pemantau radar. "Jika diberi pelapis logam ini, maka kapal-kapal perang kita tidak akan terdeteksi oleh gelombang radar meski sebelumnya adalah kapal-kapal bekas yang selalu bisa terdeteksi oleh gelombang radar," ujarnya.


Ia mengungkapkan, ketertarikannya untuk menggunakan pasir besi pesisir pantai Lumajang menjadi bahan dasar pelapis logam anti radar berawal dari karena keterlibatannya dalam survey yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum Jawa Timur. Ia diminta untuk meneliti bahan-bahan alternatif yang terkandung pada pasir pantai tersebut. 


Saat itu kata dia, banyak kontraktor perumahan yang langsung datang dan membeli pasir di wilayah setempat. Harga pasirnya juga lebih lebih mahal dari yang lain. "Saya diminta meneliti apa kelebihannya.Dan setelah saya teliti ternyata pasir setempat mempunyai sifat veromagnetik (pasir yang mengandung besi)," kata pria kelahiran Surabaya, 30 Januari 1964 ini.


Usai melakukan survey itulah muncul ide untuk berkontribusi terhadap ketahanan alutsista Indonesia. Ide semacam ini juga terpicu oleh tantangan Profesor Sirait, promotor Strata III-nya di Universitas Indonesia. "Lue bisa apa untuk bantu pertahanan keamanan Indonesia ?" kata Zainuri, menirukan ucapan promotornya. Zainuri adalah lulusan Strata 3 Metalurgi dan Material Universitas Indonesia tahun 2008. Strata 2-nya juga dari kampus yang sama. Sedangkan Strata 1-nya dari ITS.


Setelah itu, ia terus berfikir untuk meneliti sesuatu dan memanfaatkan ilmunya. "Awalnya ingin melakukan riset menciptakan peluru ramah lingkungan sehingga selongsongnya tidak terbuang sia-sia. Namun akhirnya menawarkan untuk mengembangkan teknologi anti radar," ujar dia. Dengan bantuan dana dari Departemen Riset dan Teknologi, ia kemudian mengembangkan riset teknologi siluman ini. 
(Tempo.co)




Wednesday, October 16, 2013

Smartphone Made in Indonesia, Kenapa Tidak?

Harga Rp 500 Ribu, Sudah Antisadap, Anti - Situs Porno Pula



Diawali dari alat utama sistem persenjataan (alutsista) hingga mobil, Indonesia terus mengejar ambisi memproduksi produk favorit konsumen di dalam negeri. Salah satu yang kini dalam persiapan serius adalah smartphone made in Indonesia.
= = = = = = =  =
HARAPAN terhadap munculnya produk smartphone karya anak bangsa terbit pada pengujung Agustus lalu. Tepatnya ketika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian (Puslit) Informatika meluncurkan smartphone bernama BandrOS.
Smartphone BandrOS ini tidak seperti barang sejenis yang mengklaim buatan Indonesia, tetapi operating system (OS)-nya bikinan luar negeri.  Entah itu menggunakan OS Android, iOS, BlackBerry, Windows Phone, atau sejenisnya.
Pada teknologi smartphone, posisi OS ibarat nyawa pada manusia. Sementara chasing atau perangkat keras handphone ibarat badan. Meskipun perangkatnya dibuat di Indonesia, tetapi jika menggunakan OS impor, tidak sah disebut karya anak bangsa.
Namun, khusus BandrOS ini benar-benar produk lokal. Semuanya dibuat orang Indonesia. Khusus perangkat teleponnya mendapatkan suntikan ide dari PT INTI, selaku produsen pesawat telepon dan telepon genggam lokal. Sedangkan "nyawa" smartphone ini dikembangkan dua peneliti LIPI Ana Heryana dan Sahrul Arif, yang akhirnya diberi nama BandrOS.
Smartphone ini saat diluncurkan di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong sudah berbentuk prototipe (produk contoh). Sejumlah pihak seperti Kepala LIPI Lukman Hakim mendapatkan satu unit prototipe BandrOS.
Dari tampilan fisiknya, BandrOS ini hampir mirip dengan smartphone yang sekarang beredar di pasaran. Peranti ini menggunakan teknologi full touch screen dengan layar 3,5 inci. Aplikasi dan fungsi di dalamnya juga tidak jauh berbeda dengan smartphone lainnya. Di antaranya bisa dipakai untuk menelepon, SMS, internetan, multimedia, game, GPS, dan fitur-fitur ter-update yang lain.
Penelitian BandrOS dimulai pada 2010. Proyek tersebut merupakan tindak lanjut prestasi LIPI menciptakan open source IGOS Nusantara pada 2006. Sayangnya, meskipun bebas di-donwload dan dipasang di komputer desktop maupun laptop, IGOS Nusantara tidak bisa mengalahkan dominasi peranti lunak Windows.
Kepala Bidang Komputer Puslit Informatika LIPI Agus Subekti menuturkan, BandrOS ini diciptakan awal mulanya bukan murni untuk dibenamkan di smartphone. "Tujuan kami dari pengembangan BandrOS adalah untuk kebutuhan komputasi khusus," ungkap dia di Jakarta beberapa waktu lalu.
Agus menceritakan, sistem operasi BandrOS ini awalnya diterapkan pada komputer khusus (special purpose computer) yang berwujud single board computer (SBC). Perangkat komputer khusus ini di antaranya sudah sukses dipakai untuk proyek stasiun cuaca nirkabel. Pada prinsipnya, sistem operasi BandrOS ini dikembangkan dengan menggunakan open source software Linux. "Setelah sukses membuat BandrOS yang ditanam di komputer khusus untuk cuaca tadi, baru tebersit gagasan untuk dipakai di peranti smartphone," paparnya.
Diskusi awal menggodok ide ini melibatkan berbagai pihak. Antara lain dari PT INTI selaku produsen pesawat telepon dan telepon genggam lokal. Selain itu, ada perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).
Hasil diskusi tadi menargetkan bisa membuat prototipe smartphone yang sudah dibenamkan BandrOS di dalamnya tahun ini. Target tadi akhirnya bisa dipenuhi Agustus lalu. Prototipe smartphone BandrOS diperkenalkan ke publik bersama dengan pengenalan minibus bermotor listrik dengan nama Hevina.
Penamaan BandrOS diberikan bukan asal-asalan. Di tempat kelahirannya, Bandung, istilah bandros itu adalah nama salah satu makanan khas setempat. Kue bandros berasa gurih dan bentuknya seperti kue pukis. Kue ini memiliki nama lain kue pancong. Dengan dasar tadi, BandrOS diharapkan lebih bernuansa lokal. Penamaan BandrOS juga memiliki kepanjangan, yaitu Bandung Raya Operating System.
Peluncuran smartphone BandrOS tersebut sempat menghebohkan. Salah satunya adalah kemampuannya menjadi handphone antisadap pertama di Indonesia. Sejumlah pihak bahkan mengatakan, beberapa kalangan sangat intensif melobi LIPI supaya menciptakan smartphone itu dalam jumlah besar. Seperti mafhum diketahui, baru-baru ini banyak kasus korupsi kakap yang melibatkan politikus, PNS, dan swasta yang dibongkar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari hasil penyadapan.
Kepala LIPI Lukman Hakim tidak menampik kemampuan khusus BandrOS sebagai handphone antisadap. Melalui sistem operasi yang dikembangkan sendiri, kustomisasi smartphone BandrOS bisa diolah sesuka hati. Seperti diciptakan supaya tidak bisa disadap dan diproteksi atau diblok untuk mengakses situs-situs porno.
"Tapi, saya tegaskan, arah BandrOS ini bukan seperti itu (menjadi handphone antisadap, Red). Nanti bakal banyak yang memesan ke saya," kata Lukman.
Dia menjelaskan, hingga kini LIPI dan pemerintah belum berencana memproduksi BandrOS sebagai smartphone umum. Dia mengatakan, jika BandrOS dilepas secara umum, teknologinya sudah terlalu jauh untuk menggeser smartphone yang sudah ada.
Tetapi, Lukman menyatakan bahwa teknologi BandrOS ini akan dikembangkan untuk telekomunikasi khusus. Misalnya untuk polisi hutan dan polisi perairan yang tugasnya blusukan di penjuru Indonesia. Fungsi jagoan dari BandrOS yang bakal dikembangkan lagi antara lain untuk keperluan pendidikan, administrasi perkantoran, komunikasi aman/rahasia, pengendalian jarak jauh, dan sistem pengamatan.
"Jadi, untuk diproduksi masal dan dijual ke pasaran umum, itu masih jauh," tutur Lukman. Selain itu, wewenang LIPI adalah penelitian dan pengembangannya. Urusan produksi masal umumnya diambil alih vendor-vendor swasta.
Jika pihak LIPI masih gamang terhadap rencana produksi masal BrandOS, pemerintah justru berencana mulai memproduksi massal pada tahun depan.
Langkah itu untuk membendung arus impor handphone yang semakin deras mengalir ke Tanah Air. Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, untuk bersaing di industri global, Indonesia mesti berani melakukan inovasi teknologi. "Insya Allah, tahun depan diproduksi massal," katanya.
Dia mengatakan, handphone yang akan diproduksi itu masih dikaji lebih matang agar saat dilepas ke pasaran bisa kompetitif dengan produk impor. "Kalau soal harga lebih murah, handphone impor sampai Rp3 juta, kalau yang ini bisa di bawah Rp1 juta," katanya bangga. Kisaran harganya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu saja. (wan/c9/kim)




Sunday, October 13, 2013

Ini Kata Dirut Merpati Soal Pesawat R80 Buatan BJ Habibie


Jakarta - Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati) Capt Asep Ekanugraha angkat bicara soal rencana Mantan Presiden Indonesia BJ Habibie membuat pesawat baru. Asep mengaku mengikuti perkembangan pesawat R80yang digarap Regio Aviasi ini.

"Saat ini masih desain, tapi kita terus ikuti," ungkap Asep saat berkunjung ke kantor detikFinance, Kamis (10/10/2013).

Menurut Asep, Merpati mencermati setiap jenis pesawat yang ada untuk kedepannya digunakan oleh perseroan. Pesawat yang sesuai dengan performance dan rencana bisnis Merpati akan didatangkan.

"Untuk R80 itu ada airline working group-nya. Di sini posisi kita mencermati dahulu jika memang sesuai maka akan kita gunakan. Maksudnya sesuai adalah pesawat yang tepat dengan rencana bisnis Merpati," tuturnya.

Sejauh ini pesawat yang bakal digunakan perseroan adalah milik PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yaitu N-219.

Dijelaskan Asep, penggunaan N-219 mendukung rencana bisnis Merpati untuk terus mengembangkan penerbangan perintis. Ia mempunyai mimpi untuk terus membuat Merpati terbang keliling Indonesia.

"Untuk kelas 20 seater itu penerbangan perintis kita siap gunakan N-219. Kita tetap menjelajah langit Indonesia dengan berupaya menghubungkan tempat-tempat yang belum digarap maskapai lain. Ini ciri khas kita," jelas Asep.

Saat ini untuk kelas sampai 20 tempat duduk, Asep menjelaskan Merpati memiliki 8 pesawat. Antara lain, Twin Otter dan Cessna.

"Ke depan kita siap menambah sampai 40 pesawat untuk penerbangan perintis. Doakan agar Merpati bisa terus terbang di tanah air Indonesia," tutup Asep.

http://m.detik.com/finance/read/2013/10/10/183636/2383941/1036/




BJ Habibie: Harga 1 Kg Pesawat Terbang Setara 450 Ton Beras


Jakarta - Mantan Presiden BJ Habibie punya pemikiran bahwa masalah mendasar yang dihadapi Indonesia saat ini dan ke depan adalah persoalan ketidakadilan dan kemiskinan. Untuk mengatasi satu dari dua masalah itu yaitu kemiskinan maka perlu upaya penciptaan lapangan kerja diantaranya dari sektor industri kedirgantaraan.

Bahkan Habibie menyebutkan, nilai tambah industri kedirgantaraan sangat luar biasa. Ia mengilustrasikan harga satu pesawat terbang bisa setara dengan jutaan ton beras.

"Saya mikir, saya mau menang lawan kemiskinan. Caranya kasih dong pekerjaan, kasih jam kerja. Satu kilogram pesawat terbang penumpang harganya sama dengan 450 ton beras," kata BJ Habibie kepada detikFinance pekan lalu.

Untuk mewujudkan keinginannya memerangi kemiskinan, pada masa lalu ia mengirim banyak putra-putra terbaik Indonesia ke luar negeri untuk mengembangkan industri kedirgantraan di Tanah A‏ir. Menurutnya Indonesia tak boleh terus bergantung dengan pesawat impor dan harus mandiri membuat pesawat penumpang di dalam negeri. 

"Saya bilang orang-orang yang saya bimbing dengan kasih sayang dikirim ke luar. Belajar N250 sudah terbang, N2130 baru mau terbang. N250 sudah ETA certified, 80 persen. Tahun 2000 masuk market, assembly line di Alabama sudah ada dan di Stuttgart untuk Eropa," katanya.

Namun krisis 1998 lalu membuat segala rencananya kandas, waktu itu IPTN yang kini PTDI tak lagi mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah. Akhirnya para sumber daya manusia yang ia didik tidak bisa kerja di dalam negeri. 

"Dibubarkan. Ke mana mereka? Boeing, Airbus, Brasil, Turki, semua," katanya.

Saat ini Habibie kembali mengembangkan pesawat penumpang baling-baling penerus dari N250, yaitu R80 dengan kapasitas 80 penumpang. Pesawat ini kini masih dalam studi, harapannya 2016 nanti sudah bisa diproduksi massal, bahkan maskapai Sriwijaya A‏ir sudah memesan untuk anak usahanya NAM Air.

http://m.detik.com/finance/read/2013/10/11/124617/2384508/1036/




Thursday, October 10, 2013

TNI Sebut Amerika Pelit Teknologi


Jakarta - Pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem senjata atau Alutsista menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Perancis, dan Korea Selatan. Masing-masing negara produsen tersebut mempunyai keunggulan teknologi tersendiri. 

Dari kerja sama itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar mengungkapkan ada strategi tersendiri dari pemerintah Indonesia. 

Sisriadi menegaskan pemerintah tidak terikat pada negara tertentu karena Indonesia punya pengalaman embargo tahun 1990-an hingga 2000-an oleh Amerika. Indonesia punya pesawat tapi tidak dapat terbang karena suku cadangnya tak bisa dibelikan. 

"Karena pengalaman itu makanya kita jadi beli di mana-mana, jadi diembargo di sini kita masih bisa beli di sana,” ujar dia kepada detikcom, kemarin. Selain itu, pemerintah juga tak mau membeli alutsista dari satu sumber karena alasan teknologi. “Amerika itu pelit enggak mau kalau sekalian sama teknologinya,” kata Sisriadi.



Persoalan transfer teknologi memang jadi perhatian tersendiri. Untuk mengoperasikan alat-alat super canggih itu diperlukan keterampilan sumber daya manusia yang tinggi. 

Sesuai Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, dalam setiap pembelian sistem senjata dari luar negeri wajib ada konten lokal. Bentuknya antara lain pelatihan, kerja sama pembuatan, dan kerja sama operasi.

Sisriadi berujar, kerja sama PT Dirgantara Indonesia dengan Kanada adalah salah satu bentuk kerja sama dan transfer teknologi tersebut. Sementara dari produsen lain, pembelian senjata juga umumnya sepaket dengan training.

"Setiap kontrak ada klausul bahwa operator akan dilatih di negara itu. Dan yang kita kirim adalah tenaga-tenaga intinya, jadi nanti dia pulang akan menyebarkan ilmu,” jelasnya. Dia optimistis kemampuan prajurit Tanah Air bisa mengimbangi kecanggihan teknologi alutsista yang baru. 

Anggota Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati atau Nuning mengatakan sudah seharusnya industri pertahanan dalam negeri diberi kesempatan besar untuk pembuatan alutsista TNI. 

"Ini untuk menyesuaikan kebutuhan teritorial wilayah negara dan sistem kemandirian dalam kemampuan yang bisa terus berkembang," ujar politikus Partai Hanura ini kepada detikcom, kemarin.







Satu Peluru Senjata TNI AD Ini Bisa Menghancurkan Senayan



Jakarta - Kehadiran empat unit kendaraan tempur Main Battle Tank Leopard di lapangan Monumen Nasional pekan lalu paling memantik perhatian pengunjung. Pengunjung pameran alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia berebut untuk berpose di samping tank buatan Jerman tersebut. 

MBT Leopard adalah salah satu alutsista yang didatangkan untuk melengkapi senjata tempur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Nantinya sampai tahun 2015, total tank Leopard yang akan didatangkan adalah 169 unit. 

Terdiri dari 119 tank canon untuk tempur dan 50 tank angkut yang membawa jembatan, tank perlengkapan, dan tank ambulan. 

Tank Leopard senegaja didatangkan untuk memberikan efek deteren. “Ketika kita diskusi tentang pertempuran dan mengatakan MBT, orang sudah mikir. Dalam pertempuran darat, tank masih lawan tank,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar kepada detikcom, Selasa (8/10) lalu. 



Selain tank, senjata TNI AD lainnya adalah 38 unit roket multi laras buatan Brasil. Barang yang baru mulai datang tahun depan ini, menurut Sisriadi, adalah yang terbaik di kelasnya. Menurut Sisriadi di beberapa medan pertempuran di Timur Tengah, roket ini paling ditakuti. Termasuk oleh orang NATO.

“(Roket ini) daya hancurnya luar biasa. Satu peluru bisa menghancurkan Senayan dan menembus baja 90 sentimeter,” kata dia.

Alutsista untuk TNI AD lainnya adalah meriam kaliber 155, buatan Prancis. Alat ini menurut Sisriadi termasuk senjata canggih. Senjata ini sudah menggunakan digital dan sound ranging radar untuk mengukur dan melacak meriam musuh. Jarak tembaknya pun bisa mencapai 40-50 kilometer

“Begitu musuh menembak kami tahu langsung musuhnya di mana. Kami tembak dan langsung kena musuh, setelah itu kami bisa langsung geser. Kalau manual mungkin bongkar pasang dulu dan baru jalan lagi, itu butuh 3 menit kalau prajuritnya jago-jago, jika tidak butuh enam menit, peluru musuh udah nyampe duluan,” papar Sisriadi.

Ada juga satu skuadron (12 unit) helikopter serang dan helikopter serbu buatan Eurocopter dari Eropa. Kementerian Pertahanan juga menjajaki untuk membeli 6 atau 8 unit Helikopter Apache buatan Amerika. 

Helikopter tersebut akan digunakan untuk misi-misi tembakan, misalnya saat ada pertempuran darat maka helikopter akan digunakan untuk menyerang dari udara. Sementara Helikopter Serbu yang akan didatangkan yakni 16 unit Bell 412. (Detik.com)




Wednesday, October 9, 2013

Indonesia Cinta Damai, Tapi Alutsista Wajib Dimodernisasi


Indonesia Cinta Damai, Tapi Alutsista Wajib Dimodernisasi

Anggi Oktarinda
130614_sby-1.jpgBISNIS.COM, JAKARTA--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) sangat diperlukan untuk mendukung kedaulatan RI. 
"Benar Indonesia cinta damai, tetapi kedaulatan tidak akan pernah bisa ditawar," ujar SBY sebagaimana dikutip dari laman resmi Kepresidenan RI, Selasa (2/7/2013).
SBY menuturkan dalam 5 tahun terakhir pemerintah membangun kekuatan dan modernisasi alutsista untuk kepentingan pertahanan dan keamanan secara signifikan.
Dia menyebutkan di tengah pertumbuhan ekonomi negeri ini, peningkatan alokasi anggaran untuk mondernisasi alutsista menjadi hal yang memungkinkan.
Di sisi lain, pemerintah juga membangun postur militer dan kepolisian untuk meningkatkan kemampuan dalam melindungi perbatasan serta menghadapi ancaman kejahatan transnasional. 
"Melalui modernisasi alutsista, kita juga menjadi lebih siap baik dalam menjalani operasi militer selain perang, maupun untuk melakukan berbagai operasi pertahanan dan keamanan," ujar SBY.
Menurut dia, kejahatan yang harus dituntaskan di era globalisasi pada saat ini bukan hanya kejahatan tradisional yang terjadi di dalam negeri, tetapi juga kejahatan transnasional serta berteknologi canggih. 
"Bentuk perilaku dan alat kejahatan telah semakin beragam dan canggih, karena itu Polri harus mengungguli kemampuan para pelaku kejahatan dan mampu menaklukan kecanggihan peralatannya," katanya. (Bisnis.com)