Wednesday, July 31, 2013

Industri Pertahanan Indonesia Incar Pasar ASEAN


Jakarta -  Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan ternyata mengincar pasar industri pertahanan di wilayah negara-negara ASEAN. Potensi pasar di kawasan ini, menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, bisa mencapai nilai US $ 25 miliar.

Peluang pasar ini disampaikan Purnomo dalam diskusi Executive Business Breakfast tentang Ke Mana Arah Kebijakan Industri Pertahanan Indonesia yang digelar Lembaga Kajian Pusat Studi Kebijakan dan Pendampingan Strategis (CPSSA) di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Kamis 23 Mei 2013. "Proyeksi masa depan adalah bagaimana membangun kemandirian industri pertahanan." kata Purnomo. "Kami ingin industri pertahanan Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tapi juga dapat ekspor ke luar negeri."

Menurut Purnomo, proyeksi pasar industri pertahanan di wilayah Asia Tenggara biaa mencapai capai US $ 25 Miliar. Potensi pasar ini, sebaiknya juga dimanfaatkan untuk mendorong kemandirian lokal dalam sektor industri pertahanan dalam negeri. Apalagi, ASEAN dalah pasar yang besar bagi industri pertahanan. Pasar industri ini melonjak signifikan dalam dua dekade terakhir. 

Meski besar, namun kebanyakan negara anggota ASEAN setuju, transaksi di pasar industri pertahanan dikhususnya untuk peralatan bukan untuk perang atau untuk operasi militer selain perang. Selain itu, juga mulai dirasa pentingnya kolaborasi industri pertahanan di kawasan ASEAN. Kolaborasi itu mutlak diperlukan guna terciptanya kemandirian alutsista dan perluasan pembangunan ekonomi dna kemajuan kawasan ASEAN. "Harus ada yang bersedia membeli alutsista dalam negeri beserta kekurangan dan kelebihannya demi memajukan industri pertahanan dalam negeri sebelum berkolaborasi di ASEAN." kata Purnomo.

Purnomo mengatakan, mengatakan bahwa industri pertahanan RI yang berdiri sejak 1958 dengan menasionalisasi industri pertahanan bekas peninggalan asing seperti Inggris dan Belanda, runtuh pada tahun 1997 - 1998. Pada tahun 2010 pemerintah telah memprioritaskan pembangunan industri pertahanan hingga 2024."Tidak ada negara di dunia ini yang kuat kalau hanya ekonominya saja yang kuat," kata Purnomo

Ia mengatakan bahwa negara yang kuat itu tak hanya ditopang oleh ekonominya yang kuat namun juga harus memiliki industri pertahanan yang kuat pula dan pertahanan itu tidak bisa sukses hanya bergantung pada industri pertahanannya saja tetapi komitmen untuk mewujudkannya

Dalam presentasinya, Purnomo membeberkan peta dasar pembangunan Industri Pertahanan dalam negeri, selama 15 tahun ke depan menyusul diberlakukannya UU Industri Pertahanan nomor 16 tahun 2012. Terutama bagaimana rancang bangun peta kekuatan industri pertahanan di kawasan dan peran Komite Kebijakan Industri Pertahanan di dalamnya. 

Sebelumnya dalam sambutan membuka acara itu, Ketua Centre for Policy Studies and Strategic Advocacy Luhut Panjaitan optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6% pada tahun ini dan diperkirakan dapat mencapai 8%-9% dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia seharusnya tidak sekedar menjadi pasar bagi negara lain tetapi harus sudah mencari pasar luar.

"Di industri pertahanan, Indonesia sebenarnya sudah punya industri dasar. Ini bisa dikembangkan. Tinggal dorongan kebijakan dari pemerintah," ujar Luhut. (Tempo. co. - FARDHANI RAMADHANA)



"Indonesia pelengkap armada perang", Kata 'Utusan', Media Malaysia



Modernisasi peralatan militer Indonesia akan selalu menarik perhatian negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan lain-lain. Mungkin bahkan bisa menimbulkan kekhawatiran tersendiri dari mereka, jika hal ini tidak dilakukan dengan hati-hati. Indonesia harus bisa meyakinkan para tetangga bahwa modernisasi peralatan tempur tidak dimaksudkan untuk berperang atau mendukung perilaku agresif, melainkan lebih untuk tujuan penjagaan stabilitias kawasan dan perdamaian. Oleh sebab itu modernisasi perlu dilakukan secara bertahap, langkah demi langkah, dan tidak secara besar-besaran (revolusioner). Hal ini penting agar para tetangga tidak merasa khawatir dan merasa takut terhadap rencana pemerintan RI ini, sehingga stabilitas kawasan utamanya regional ASEAN tetap bisa stabil, aman, damai, dan terbebas dari perlombaan senjata.

Gaya kepemimpinan Presiden Indonesia yang mengedepankan kohesivitas hubungan baik dengan para tetangga di Asia Tenggara /Australia dan jauh dari kesan ingin mendominasi telah memberi pengaruh positif di tingkat ASEAN, sehingga di tengah-tengah modernisasi peralatan militer ini tidak menimbulkan rasa khawatir terhadap mereka semua. Ini tak lepas dari sikap Indonesia yang selama ini berhasil membangun 'budaya persaudaraan' di antara sesama negara ASEAN, dan hal ini menimbulkan rasa 'trusting' atau saling percaya tersendiri antara Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara bahwa pembangunan industri pertahanan dan keamanan nasional bukanlah sesuatu yang patut ditakutkan. Malaysia, bagaimanapun juga adalah saudara serumpun, sama-sama ras Melayu, demikian pula halnya dengan Brunei Darussalam dan negara-negara lain anggota ASEAN adalah ibarat satu keluarga. 

Kepemimpinan Indonesia di tingkat ASEAN yang sangat baik sehingga kawasan ini bebas dari perang dan menjadi kawasan yang paling solid di dunia telah diakui sukses oleh PBB, Uni Eropa, AS, dan juga negara-negara lain di dunia. Ini jika kita melihat ada perbedaan dengan kawasan seperti Asia Selatan (India-Pakistan saling curiga), Asia Timur (Jepang-Korea-China tampak saling curiga/perang), Timur Tengah, dan bahkan Eropa (Yugoslavia porak-poranda dilanda perang, Barat (Inggris)-Rusia masih saling usir duta besar masing-masing), dan lain-lain. ASEAN masih lebih adem dibandingkan  dengan kawasan lain yang kadang panas dan kadang dingin.  Terkait dengan modernisasi alutsista nasional Indonesia, berikut ini ulasan dari salah satu media Malaysia, Utusan, yang ditulis oleh Borhan Abu Samah : 
     

Indonesia Pelengkap Armada Perang

Oleh BORHAN ABU SAMAH


ISU persempadanan dengan beberapa negara jiran khususnya Malaysia menjadikan Indonesia kini lebih ghairah memperbaiki kelengkapan armada perang yang agak ketinggalan kerana dibatasi kemampuan kewangan.

Dari segi pertahanan, Singapura masih yang terbaik di rantau ini, namun pembangunan jangka panjang industri pertahanan Indonesia akan berada setidak-tidaknya sama taraf dengan negara-negara lain di rantau Asia Tenggara.

Peningkatan usaha untuk melengkapkan aset ketenteraan negara kepulauan itu terserlah pada pameran ketenteraan yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini atau dikenali sebagai Indodefence, Indoaerospace dan Indomarine 2010.

Pada pameran itu Indonesia melahirkan minat untuk menambah stok kapal selamnya yang kini berjumlah dua buah. Pembelian itu adalah daripada syarikat dari Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME).

Kapal selam yang menarik minat Indonesia adlh jenis DW SSK-11 berukuran 56.4 x 6.2 x 11.5 meter. Kapal selam itu mempunyai kelajuan sehingga 22 knot di dalam air dan 12 knot di permukaan air serta dilengkapi dengan empat torpedo.

Rancangan untuk membeli kapal selam tersebut disuarakan Panglima Tentera Laut Indonesia, Agus Suhartono yang kini merupakan Panglima Tentera Indonesia pada Ogos lalu.

Indonesia juga berminat membeli salah satu produk jet latihan supersonik T-50 bagi menggantikan pesawat Hawk MK-53 yang sudah tua. Hasrat itu dilahirkan Panglima Tentera Udara Indonesia, Marsekal Imam Sufaat, April lalu.

Negara itu turut bekerjasama dengan satu lagi syarikat Korea Selatan iaitu Doosan DST melalui syarikat milik negara PT Pindad bagi mengeluarkan kereta perisai baru yang dilengkapi meriam 90 mm dan roket berdaya jangkau 15 kilometer bernama Tarantula.

Tarantula diutamakan untuk penggunaan Tentera Nasional Indonesia (TNI) berbanding satu lagi kereta perisai Anoa yang dibuat untuk dieksport.

Doosan juga akan menjual 22 buah kenderaan tempur infantri K-21 untuk angkatan darat Tentera Indonesia.

Indonesia juga di peringkat perbincangan dengan syarikat kerjasama India dan Rusia, Brahmos Aerospace untuk membeli roket keluaran syarikat itu yang mampu menjelajah 290 kilometer dengan kelajuan supersonik.

Roket itu boleh dilancarkan dari landasan berbeza-beza sama ada dari bawah laut, permukaan laut, darat dan udara.

Selain itu PT Pindad juga bekerjasama dengan syarikat dari Turki, FNSS Savunna Sistemleri AS untuk menghasilkan kenderaan kalis peluru pertempuran darat. PT Pindah dikatakan telah membeli lesen dua peralatan tempur untuk pengeluaran sendiri.

Kecenderungan negara jiran itu adlh untuk bekerjasama membangunkan armada perangnya daripada membeli peralatan perang semata-mata. Konsep tersebut bukan sahaja memberi kesan positif kepada ekonomi tempatan, bahkan untuk jangka panjang ia lebih mudah untuk meremajakan aset armada perang.

Indonesia juga tidak ketinggalan bekerjasama dengan negara tetangga terdekatnya iaitu Malaysia.

Malaysia berminat untuk membeli kenderaan perisai jenis Anoa bagi menggantikan kenderaan perisai Condor buatan Britain. Anoa kini digunakan oleh Angkatan Tentera Malaysia yang menyertai misi perdamaian Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) di Lubnan. Malaysia dijangka membeli 32 buah Anoa.

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi ketika berkunjung ke Indodefence berkata, pembelian aset ketenteraan dari negara jiran itu adlh sebahagian daripada kerjasama rantau ASEAN di dlm bidang ketenteraan bagi mengelak daripada terus bergantung kepada pengeluar aset dri negara Barat.

Selain Anoa, Malaysia juga berminat untuk membeli pesawat CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia untk digunakan bagi rondaan di wilayah maritim.

Namun diharap pembangunan industri ketenteraan jangka panjang Indonesia bukan satu bentuk untuk mewujudkan perlumbaan persenjataan perang, tetapi lebih kepada kepentingan pertahanan negara masing-masing sekali gus untuk menjaga keamanan serta kestabilan rantau ASEAN.



Saturday, July 27, 2013

Pertumbuhan ekonomi Indonesia perkuat militer



Indonesia memiliki keinginan besar untuk memperkuat basis militernya, bahkan Presiden SBY pernah mengatakan keinginan agar kekuatan militer di tanah air bisa lebih besar dari negara-negara tetangga. Lantas apa maksud dari terus ditambahnya jumlah sarana militer?
Rencana pemerintah Indonesia untuk terus meningkatkan pertahanan dengan memperkuat militer melalui penambahan alat utama sistem senjata, dianggap sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
Demikian diungkapkan Andi Wijayanto, pengamat militer dari Universitas Indonesia.
"Jadi pembangunan militernya tidak mengabaikan kesejahteraan rakyat, justru konsisten dengan tujuan untuk menjadi salah satu negara terkuat di masa mendatang," tambah Andi.
Andi juga berpendapat bahwa target dari militer di Indonesia itu supaya bisa lebih kuat tidak hanya dari Australia, tapi juga Asia Tenggara.
Andi juga mengatakan bahwa Indonesia tetap memiliki prinsip "zero enemy, thousand friends", atau tidak memiliki musuh, melainkan banyak teman dari negara-negara lain di dunia.
"Dari sisi ekonomi liberal, ini diwujudkan dengan melakukan perdagangan bebas. Dari sisi kekuatan politik dan militer, ini hanya bisa diwujudkan kalau Indonesia mampu menunjukkan kepada negara-negara di kawasan bahwa kita memiliki kekuatan penangkal yang memadai."
"Kalau ingin membuat semua negara menjadi teman kita, kalau ingin menjamin tidak ada musuh di sekeliling kita, jadilah yang terkuat."
Sementara itu, mengenai pembelian alat utama sistem senjata, atau alutista, Andi menjelaskan bahwa sudah ada undang-undang (UU) soal industri pertahanan, yang disahkan sejak tahun 2012 lalu.
"Dalam UU itu diharuskan semua pembelian senjata melalui government to government (G to G), atau pemerintah ke pemerintah, sehingga tidak memungkinkan lagi keberadaan broker lagi."
Selain itu, juga dalam UU tersebut telah diatur adanya transfer teknologi saat membeli alutista, agar teknologi bisa dikembangkan di dalam negeri. (Sumber : RadioAustralia)
Simak wawancaranya melalui audio yang telah disediakan
.

Peluncuran Hakteknas 2013 Angkat Teknologi Militer


Jakarta - 'Soft launching' peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) 2013 yang dibuka resmi hari ini banyak mengangkat teknologi kedirgantaraan dan hankam. 

"Hakteknas tiap tahunnya selalu berbeda temanya. Kalau tahun lalu mengangkat teknologi mobil listrik, maka tahun ini mengangkat teknologi kedirgantaraan dan hankam," ujar Menristek Gusti Muhammad Hatta di Jakarta, Senin (24/6).

Ia menambahkan bahwa Hakteknas kali ini sudah mencapai gelarannya ke-18, dan pada 'soft-launching' ini digelar Pameran dan Peluncuran Produk Teknologi Hankam dan Kedirgantaraan.

Beberapa produk dari Ristek maupun BUMN yang dipamerkan antara lain adalah: Satelit LAPAN A2, Roket RX-450, mobil Rantis Komodo 4x4, Sniper Rifle, Cloud Seeding Agent Club, Hexarotor dan Flying-Car.

Lalu beberapa teknologi kedirgantaraan di acara pameran jelang peringatan puncak Hakteknas 2013 adalah: Pesawat Udara Nir Awak (Wulung, Alap-alap, Sriti), Roket R HAN 122, dll.

"Beberapa teknologi di pameran ini ada yang masih dalam tahap join research, maupun join production. Namun salah satu tujuan utama kita adalah untuk meningkatkan kandungan lokal dari teknologi-teknologi ini dahulu," imbuh Gusti Muhammad Hatta.

Hakteknas diperingati semenjak penerbangan perdana pesawat N-250 karya IPTN pada 10 Agustus 1995.

Puncak peringatan akan dilaksanakan pada 27 Agustus sampai dengan 1 September 2013, di TMII, dengan berbagai rangkaian kegiatan seminar, Rakornas, Kanaval Iptek, serta Pameran Ritech Expo. [ikh]

Menhan: 2 Tahun Kedepan Alutsista Militer Indonesia Bakal 'Garang'


JAKARTA--Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan doptimis, target optimalisasi sistem pertahanan Indonesia Minimum Essential Force (MEF) rampung dalam dua tahun lagi.
Purnomo optimis usai meninjau pameran produk industri alat utama sistem senjata (alutsista) di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (29/1/2013). Purnomo bangga melihat perkembangan cepat produsen alutsista.
"Kami punya waktu dua tahun penyehatan dan restruksturisasi, berdasarkan undang-undang pertahanan. Setelah lihat ini, saya optimis bisa dilakukan," kata Purnomo kepada wartawan.

MEF merupakan amanat pembangunan pertahanan dan keamanan Indonesia yang didasarkan pada RPJMN 2010-2014, sesuai Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2010.
Seperti diketahui kehadiran MEF untuk mengoreksi faktor perencanaan, mekanisme penyelenggaraan dan anggaran pertahanan.
Penyelarasan MEF merupakan terobosan yang diambil melalui percepatan, untuk mengatasi kendala devisi peruntukan. MEF dibangun untuk merefleksikan kekuatan optimal. (Tribunnews)

Radio Australia Bilang, SBY ingin militer Indonesia lebih kuat dari Australia

Menurut Radio Australia ABC (Australian Broadcasting), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan bahwa Indonesia harus berusaha keras untuk mempunyai militer yang lebih kuat dari Australia.

Sekitar 16,000 anggota TNI sedang bersiap-siap untuk mengadakan latihan militer gabungan di Jawa Timur.

Ketika menemui para komandan disana, Yudhoyono mengatakan kepada mereka, militer Indonesia seharusnya lebih besar dan lebih modern dari negara-negara seperti  Australia, Singapura dan Malaysia.

TNI mempunyai 470,000 tentara aktif, sedangkan Pasukan Pertahanan Australia hanya mempunyai sedikit diatas 80,000 personil penuh dan cadangan.

Indonesia juga telah memulai suatu program upgrade militer; membuat kapal perang dan pesawat tak berawak atau drone serta membeli sejumlah jet tempur dan roket. (Sumber : Radio Australia

Mulai Dari Pencurian Teknologi sampai Cara Mengemudi



Mulai Dari Pencurian Teknologi sampai Cara Mengemudi

INI mirip dengan istilah "sengsara membawa nikmat". Kecelakaan ini, meski menimbulkan keributan yang bising, benar-benar memberikan pelajaran yang berharga.

Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan di antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri yang lagi sama-sama dikembangkan di seluruh dunia.

Ada yang berpandangan mobil listrik tidak perlu menggunakan gearbox. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/roda.

Tapi, ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumnus ITB) berpendapat mobil listrik harus menggunakan gearbox. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini. Demikian juga Ravi Desai (alumnus Gujarat). Mereka setuju tidak harus pakai gearbox, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).

Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu, Sarangan Sabtu pekan lalu memberikan pelajaran yang sangat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.

Saya memang tidak ingin menyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan untuk mewujudkan ambisi keilmuannya. Apalagi, saya menangkap sinyal bahwa para ahli kita itu memang ingin membuktikan kehebatan masing-masing. Saya sangat menghargai itu. Saya memilih bersikap memberikan otonomi yang luas kepada mereka.

Karena itu, ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI dengan menggunakan gearbox, saya dukung penuh. Dana talangan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.

Sebenarnya, pada awalnya saya dan Kang Dasep menanggung malu: Begitu tiba di Jalan Thamrin, Jakarta (dari Depok), mobil AhmaDI "mogok". Media meliputnya dengan besar-besaran. Saya malu sekali. Tapi, saya minta Kang Dasep tidak menyerah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, melainkan low batt. Indikator baterainya kurang sempurna sehingga "menipu".

Minggu berikutnya kami berdua masih menanggung malu: Mobil listrik itu tidak kuat menaiki tanjakan. Padahal tidak terjal. Padahal perjalanan uji coba itu juga diliput langsung oleh media secara luas.

Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.

Sebetulnya masih banyak "malu" yang lain. Tapi, biarlah itu hanya kami berdua yang merasakan.

Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh. Saya mengemudikan mobil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km.

Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali. Tanjakan yang terjal dan turunan yang curam dilewati dengan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasannya boleh dikata berhasil gemilang.

Setelah itu saya minta Kang Dasep membuat mobil listrik jenis yang lebih besar. Sebesar Alphard. Tiga bulan lagi insya Allah sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju untuk membiayainya. Bahkan, saya juga sudah minta Kang Dasep untuk membuat bus listrik.

Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumnus USA) selesai dibuat. Saya pun bertekad mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.

Begitu tiba di Jakarta 19 Desember lalu, mobil Tucuxi (semula saya usul namanya Gundala, tapi Mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pancoran ke Bandara Soekarno-Hatta. Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Mobil tiba di Cengkareng dengan kebanggaan penuh: Mas Danet hebat! Hari pertama ini tidak membawa malu.

Kalau toh ada kekurangannya, hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperbaiki. Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamanya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan secara bergantian ikut mencoba duduk di sebelah saya.

Semua yang menyaksikan terlihat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat.

Beberapa kekurangan memang masih terasa. Tapi tidak mungkin diperbaiki di Jakarta. Maka, saya minta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa.

Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan kemarin Mas Danet tidak lagi menyebut-nyebut soal pencurian teknologi. Yang dipersoalkan tinggal kesalahan cara saya mengemudi dan (menurut perasaannya) saya akan menyingkirkannya.

Setelah diperbaiki, mobil dicoba di sekitar Jogja. Tidak ada masalah. Termasuk sampai Kaliurang. Tapi, suasana sudah kurang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.

Saya sendiri saat itu lagi keliling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Purwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Perhutani dan masyarakat miskin sekitar hutan. Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu, saya minta Tucuxi disiapkan di Solo untuk saya coba lewat medan yang berat.

Itu penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar, mobil tersebut harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: Bisakah mengatasi tanjakan? Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.

Ternyata hebat sekali. Sepanjang jalan, saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tarikannya, power-nya, dan kemampuan menanjaknya hebat sekali. Demikian juga kemampuan baterainya.

Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai waswas. Saya harus menginjak rem sekuat tenaga.

Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berbeda dengan AhmaDI. Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi ciptaan Mas Danet itu tidak menggunakan gearbox. Untuk menahan laju Tucuxi, sepenuhnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gearbox!

Tentu saya mencoba untuk sesekali mengendurkan rem agar tidak overheated. Ini juga disinggung dalam keterangan pers terbaru Mas Danet. Tapi, setiap kali rem saya longgarkan, mobil langsung melaju. Padahal, jalan berkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Danet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.

Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung, otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas. Tapi, bau menyengat akibat rem yang bekerja keras tak tertahankan. Saya memutuskan untuk berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan tajam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.

Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng Gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataran tinggi itu menambah keindahan pemandangan.



Seandainya waktu istirahat ini dibuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Tapi, saya terikat janji dengan Dr Fachri Aly yang akan ke kampung saya sore itu. Dan malamnya kami masih akan salawatan Maulid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kampung saya itu.

Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus menuruni jalan yang curam dan berliku. Kami belum menyadari bahwa tanpa bantuan gearbox, rem akan bekerja sendirian terlalu keras. Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk menginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali menusuk-nusuk hidung.

Ketika akhirnya berhasil mencapai Ngerong, saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang curam dan berkelok. Jalan memang masih akan terus menurun, tapi sudah tidak ekstrem.

Justru di saat hati sudah lega itulah saya merasakan rem Tucuxi tidak lengket lagi. Mobil melaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan. Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhnya. Maka, saya harus ambil keputusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.

Saya segera memutuskan ini: Lebih baik saya sendiri yang menjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tidak ada mobil dari arah berlawanan, saya banting setir mobil itu untuk menabrak tebing tersebut.

Braaak! Mobil hancur. Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi, saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: Tidak ada darah. Saya raba muka saya: Tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.

Setelah mengucap syukur kepada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan, tergores sedikit pun tidak. Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya membentuk segi tiga-segi tiga kecil. Allahu Akbar!

Saya pun memperoleh pelajaran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gearbox. Karena itu, ke depan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gearbox atau yang tidak pakai gearbox.

Mungkin saya akan menghadapi masalah hukum akibat pelanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya. Tapi, pelajaran teknologi itu akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekuensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan itu.

Mobil listrik harus jaya!


Baik Kang Dasep yang menggunakan gearbox maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gearbox sama-sama hebatnya. Sama-sama sudah membuktikan diri menjadi putra bangsa yang membanggakan. Tucuxi akan dikenang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.

Mas Danet akan terus saya dorong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya.

Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berlomba untuk kebaikan negeri. Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya.

Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang, kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik, jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!

Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

(Sumber : Manufacturing Hope-Jppn.com)

Friday, July 26, 2013

DEFISIT PERDAGANGAN: Rusia Diajak Bangun Industri Militer di Indonesia



Jakarta- Guna mempersempit defisit neraca perdagangan dengan Rusia Indonesia mengajak industri di Negeri beruang Merah melakukan investasi bersama di bidang industri militer.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan industri militer di Rusia dapat melakukan kerja sama investasi (joint investment) dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT Pindad, mendirikan pabrik di Tanah Air.

Dengan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, impor dari Rusia dapat ditekan sehingga neraca perdagangan kedua negara akan seimbang.

Total perdagangan RI-Rusia pada 2012 US$3,37 miliar, dengan defisit di sisi Indonesia US$1,64 miliar. Pada Januari-Februari 2013, Indonesia mengalami defisit US$451,91 juta dari total perdagangan US$741,51 juta.

Defisit itu terjadi karena Indonesia lebih banyak mengimpor barang modal dari Rusia, seperti perlengkapan militer, mesin, alat berat, dan petrokimia.

 “Jangan sampai kita hanya membeli, tapi bagaimana bisa bekerja sama dengan PT DI dan PT Pindad kita,” katanya saat menerima kunjungan Presiden Tatarstan Rustam Nuegalievich Minnikhanov, Kamis (2/5).

Tatarstan merupakan negara bagian Federasi Rusia dengan industrialisasi dan produksi hasil industri mencakup 45% dari total produk domestik regional bruto (PDRB)  US$45 miliar pada 2011.

Menjadi negara federal terbesar ketiga di Rusia, Tatarstan merupakan sentra industri petrokimia, perakitan mesin, kendaraan berat dan penerbangan. Sejumlah produk terkenal diproduksi di negara bagian itu, seperti pesawat komersil tipe Tu-214 dan truk Kamaz.

Presiden Republik Tatarstan Rustam Nuegalievich Minnikhanov  menyatakan kalangan industri di negaranya berminat menjalin kerja sama dengan dunia usaha di Indonesia.

“Indonesia merupakan negara di dunia dengan kemajuan ekonomi yang sangat cepat,” ujarnya.

Selain mengundang kalangan industri Tatarstan bekerja sama investasi dan riset, Indonesia juga akan memacu ekspor produk halal mengingat 51,7% dari total populasi Tatarstan 3,79 juta merupakan Muslim.

Di samping itu, Indonesia akan mengandalkan ekspor karet, kopi, teh dan tekstil. Pemerintah menargetkan total perdagangan bilateral pada 2015 mampu mencapai US$5 miliar dengan posisi neraca dagang masing-masing seimbang.

Indonesia yang mengandalkan ekspor komoditas tentu tak sebanding dengan impor dari Tatarstan yang berupa barang modal. Namun, menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, upaya apapun harus dilakukan untuk mengejar peningkatan ekspor.

“Kalau menurut saya, sekarang bukan masalah sebanding atau tidak. Setiap dolar kenaikan ekspor, itu harus kita kejar, harus kita usahakan,” ujarnya.

Dia berpendapat Tatarstan memegang kunci penting karena pengaruh politik negara tersebut yang kuat di Moskow. Pendekatan terhadap Tatarstan diharapkan dapat memengaruhi Rusia dalam mengambil kebijakan kerja sama perdagangan dengan Indonesia.

Rusia merupakan mitra dagang strategis yang mampu menjadi hub bagi produk Indonesia untuk masuk ke Kazakhstan dan Belarusia. Ketiga negara selama ini tergabung dalam kesatuan kepabeanan atau the Customs Union of Belarus, Kazakhstan and Rusia.(Bisnis.com)


Indonesia Mulai Berbicara di Industri Militer Dunia



Jakarta - Indonesia kini sudah jauh berkembang. Bahkan sudah mulai dilirik sektor industri militer dunia. Bukan sebagai konsumen, melainkan produsen. Benarkah?
Teknologi militer untuk pertahanan dan keamanan tidak lagi didominasi Amerika dan Eropa. Kini Indonesia pun sudah memproduksi persenjataan militer buatan anak bangsa.
Di penghujung Maret 2012 lalu, sebanyak 50 roket R-Han 122 diluncurkan di Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.
Wakil Menteri Pertahanan dan Keamanan Sjafrie Sjamsoeddin, Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Riset Kementerian Ristek Iptek Teguh Rahardjo, Wakil Gubernur Sumatra Selatan Eddy Yusuf, Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal Nugroho Widyotomo, dan Komandan Kodiklat TNI-AD Letnan Jenderal Gatot Numantyo ikut hadir dalam peristiwa bersejarah itu karena untuk pertama kalinya diluncurkan roket militer buatan Indonesia.
Peluncuran roket berlangsung mulus. Roket R-Han 122 ini merupakan pengembangan roket sebelumnyam D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi, yang memiliki kecepatan maksimum 1,8 mach.
Perjalanan lahirnya roket militer R-Han 122 ini pun cukup panjang. Berawal pada 2007 saat Kementerian Riset dan Teknologi membentuk Tim D230 untuk mengembangkan roket berdiameter 122 mm dengan jarak jangkau 20 kilometer.
Prototipe roket D-230 ini dibeli Kementerian Pertahanan dan Keamanan untuk memperkuat program seribu roket. Maka pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketua konsorsium PT Dirgantara Indonesia (DI), sebagai wadah memasuki bisnis massal.
Ketua Program Roket Nasional Sonny R Ibrahim menjelaskan rencana pembuatan roket secara massal sudah ada sejak 2005. Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut.
Dalam konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket.
"Kami ditunjuk sebagai ketua konsorsium. Kami tinggal meminta kepada perusahaan-perusahaan itu untuk membuat ini itu untuk komponen roket. Kemudian dirancang di PT DI," jelas Sonny.
Disebutkannya di dalam konsorsium terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan menggunakan platform GAZ, Nissan, dan Perkasa yang sudah dimodifikasi dengan laras 16/ warhead dan mobil launcher(hulu ledak).
Kemudian PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT Dirgantara Indonesia membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuh roket.
ITB menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Sejumlah perguruan tinggi lainnya, yakni UGM, ITS, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Suryadharma, ikut terlibat di dalam pengembangan roket tersebut. Nama D-230 kemudian diganti menjadi R-Han 122 karena sudah dibeli Kementerian Pertahanan.
Sistem isolasi termal untuk membuat roket militer tidaklah mudah. Para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122 itu.
Dijelaskan Sonny, pada 2003 para periset menggunakan material kritis dengan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi produk justru cepat jebol. "Tahun itu tahun jebol karena roket-roket yang diuji rusak atau jebol."
Kemudian para peneliti mulai memperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 derajat Celcius. Pembakaran dengan menghasilkan suhu tinggi bisa berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas.
Untuk material roket, dipilih bahan yang ringan, yakni aluminium, karena bisa menghambat panas. Perubahan-perubahan itu ternyata menghasilkan roket yang tidak pernah rusak saat diujicobakan.
"Karena termalnya bekerja cukup baik, roket itu bisa terbang tepat sasaran dan tidak pernah rusak selama uji roket," imbuh Sonny.
R-Han 122 berfungsi sebagai senjata berdaya ledak optimal dengan sasaran darat dan jarak tembak sampai 15 km.
Sebelumnya PT Pindad telah memproduksi panser yang merupakan hasil pengembangan riset dari BPPT sejak 2003. PT Pindad meneruskan hasil riset BPPT khususnya untuk panser Angkut Personel Sedang (APS). PT Pindad dan BPPT akhirnya mengembangkan riset APS-1 sampai ke APS-3. Pada APS-3 ini punya kemampuan bermanuver di darat, perairan dangkal dan danau.
Pengembangan riset tersebut akhirnya menghasilkan varian 4X4 dan disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya pada varian 6x6. Ujicoba panser APS-3 ini dilakukan awal 2007 dan pada 10 Agustus 2008 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.
Kementerian Pertahanan memberi nama APS3-ANOA. Sejak itu Pindad memproduksi 10 panser pertama APS-3 ANOA. Dalam perkembangannya, Pindad terus mengeluarkan seri-seri terbaru APS-3 ANOA ini.
Selain varian kombatan, ANOA juga memiliki varian lain seperti untuk angkut medis, logistik, armored recovery vehicle (penderek ranpur yang sedang mogok) dan varian mortir.
Saat ini Kementerian Pertahanan telah memesan 100 panser ANOA yang ternyata disukai negara-negara tetangga. Salah satunya Malaysia yang sudah berminat membeli sejumlah panser ANOA dari PT Pindad.
Dan tak kalah penting, panser buatan Indonesia ini juga dipakai untuk kelengkapan persenjataan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon. [Inilah.com-mor]

Wednesday, July 24, 2013

PT LEN Mampu Produksi Radar Canggih untuk Kapal Perang



Jakarta - PT LEN Industri (Persero) memiliki kemampuan mengembangan sistem keamanan canggih untuk militer. BUMN teknologi ini telah memproduksi peralatan radar untuk kapal perang TNI Angkatan Laut (TNI AL).

Peralatan radar ini, mampu menangkap kapal musuh hingga kemudian kapal berhasil dihancurkan. 

"Kita membuat, Combat Management System (CMS) untuk sistem mengatur bagaimana radar menangkap, me-lock target sampai menembak target. Berapa banyak musuh yang mengancam, itu terekam. Kita sudah bangun," tutur Direktur Utama PT Len Industri (Persero) Abraham Mose dalam diskusi kebangkitan BUMN, di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (14/5/2013).

Abraham menambahkan, peralatan radar yang dibuat di Bandung tersebut, telah dikembangkan sejak 2011. Alat ini, bisa dipasang pada kapal perang berjenis Van Spijk dan Varcsim class

"Sudah ditahun 2011 mulainya 2012, kemudian 2013. Kapal Van Spijk dan Varcsim class, itu KRI," jelasnya. 

Dari kenyataan ini sebenarnya Indonesia punya potensi untuk bisa maju. Indonesia bahkan  bisa menjadi negara maju dalam waktu 15 tahun saja dari sekarang.

"15 tahun lagi, Indonesia akan menjadi negara yang sangat maju, karena rakyat Indonesia sudah berpikir bagaimana untuk bisa menjadi maju,” kata Dahlan Iskan.

Menurut Menteri BUMN ini, di Indonesia ada sekitar 136 juta orang yang ingin maju dan sudah berpikiran untuk maju. Karena itulah, mau tidak mau negara ini akan mengikuti keinginan orang-orang ini, dan mereka yang tidak ingin maju akan tertinggal di belakang. Begitupun dengan pemerintah, yang mau tidak mau harus menuruti keinginan orang-orang Indonesia yang ingin maju ini.

Senada dengan Dahlan Iskan, Chairul Tanjung juga berpendapat demikian. Ketika rombongan Komite Ekonomi Nasional (KEN) terjun langsung ke Korea Selatan untuk mempelajari kemajuan ekonomi di Korsel, menurut ketua KEN, Chairul Tanjung, kita bisa menerapkannya di Indonesia meski punya tantangan tersendiri.

"Kunci yang utama dari orang Korea adalah dari pola berpikir. Orang Indonesia masih ragu untuk berpikir negara kita bisa menjadi negara yang maju, orang Korea sudah percaya negara mereka bisa maju. Ubah mindset, Indonesia juga bisa jadi negara yang maju," ujar Chairul Tanjung saat ditemui di Hotel Grand Hyatt, Seoul, Korea Selatan, Jumat (24/5/2013).

Dengan semakin berkembangnya pendidikan di Indonesia, maka bukan hal yang mustahil kemajuan itu bisa kita raih. Kita sudah mampu membuat pesawat terbang, kapal-kapal perang  canggih, helikopter serang, Tank, roket, satelit, teknologi semi konduktor, GPS, dan lain-lainnya. Sementara anak-anak muda kita bisa menjadi juara dunia dalam berbagai kompetisi internasional di bidang rekayasa perangkat lunak komputer, robot, matematika, Fisika, teknologi ramah lingkungan, Biologi, dan lain-lain. Jika kita berhasil menjadi juara dunia, itu artinya kita telah mengalahkan negara manapun untuk menjadi yang paling ahli dan cerdik. Jadi potensi kita amat besar namun banyak orang Indonesia kurang menyadari bahwa kita memang cerdas dan pintar. 

Jika kita sudah terbukti mampu membuat radar kapal militer sendiri dan masih juga meragukan kemampuan diri sendiri, maka bisa dipastikan ada masalah dalam hal citra diri. Maka, sebaiknya kita mulai harus bangga menjadi diri sendiri, bangga menjadi orang Indonesia dan berhenti untuk selalu mengagumi secara berlebihan terhadap bangsa asing seolah mereka seperti dewa di atas awan...  Itu yang dilakukan Bung Karno ketika beliau marah disuguhi keju dan roti (yang merupakan makanan khas Eropa) di Istana negara dan meminta juru masak Istana untuk mengeluarkan makanan-makanan terbaik milik kita sendiri berupa rendang Padang, Sambal terasi Sidoarjo, Gudeg Yogya, dan lain-lain masakan dari seluruh penjuru nusantara. Padahal bangsa asing saja malah kagum dengan kuliner Indonesia yang sangat kaya bumbu dengan ragam yang tak terkalahkan. 

Masa anak-anak muda Indonesia menjadi juara dunia di berbagai bidang asah otak masih tidak juga percaya mereka pekerja keras dan cerdas ?  

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan mengaku yakin dalam satu dekade ke depan, Indonesia akan naik kelas dari emerging countries menjadi salahsatu negara maju di dunia. Beliau bahkan lebih yakin lagi bahwa 10 Tahun Lagi Indonesia Jadi Negara Maju. Hal ini disampaikan SBY di sela sarapan bersama warga diaspora Indonesia di New York, Kamis, 27 September 2012, pagi waktu setempat.


SBY : 10 Tahun lagi Indonesia Bisa Menjadi Negara Maju
Untuk memastikan itu terwujud, kata SBY, pemerintahannya harus menuntaskan tiga agenda besar. Pertama, Presiden ingin Indonesia terus melakukan transformasi pasca reformasi dan mematangkan demokratisasi. "Indonesia yang tampil sebagai negara maju harus mempersiapkan ini," ujarnya.

Kedua, setelah mengalami krisis multi dimensi luar biasa pada 1998, dan lima tahun kemudian terus menerus menghadapi situasi buruk, kini posisi Indonesia di forum dunia berada dalam keadaan baik. “Momentum ini harus dijaga dan jangan disia-siakan,” katanya. SBY mencontohkan keanggotaan Indonesia dalam forum prestisius seperti G-20 harus dijaga dan disyukuri.  


Ketiga, meskipun reformasi yang dilakukan Indonesia telah mencapai banyak prestasi, tetapi kini juga muncul sejumlah masalah baru. "Oleh sebab itu, setelah 15 tahun reformasi, agenda ketiga kita yang harus dilakukan adalah pembenahan agar transformasi kita berjalan menuju arah yang benar," kata Presiden. Jika ini semua dilakukan dengan baik, kata SBY, maka dalam satu dekade ke depan, impian untuk menjadi negara maju bisa tercapai.

Sepulang dari Korea Selatan, Chairul Tanjung mendapatkan satu hal penting tentang kemajuan Korea Selatan. Menurutnya, bekerja keras sudah menjadi kebudayaan dan keharusan bagi orang Korea. Karena itulah Korea dapat menjadi negara yang maju dan berkembang.

"Masyarakat Korea malu kalau tidak bekerja keras. Sementara bekerja keras belum menjadi budaya dibangsa kita. Bekerja keras dan bekerja cerdas," sambung pria yang akrab disapa CT itu.

Chairul Tanjung juga mengatakan, pendidikan sangat penting untuk menjadikan negara yang maju. Sehingga dari pendidikan dapat menghasilkan produk tenaga kerja yang siap mengantisipasi, new economi, new future.

"Ini challenge di negara kita. Dan saya yakin, Indonesia pasti bisa," katanya.




Saturday, July 20, 2013

Indonesia Mempromosikan Pesawat Transport di Kawasan ASEAN untuk Meningkatkan Kerjasama Internasional

Pesawat CN 295 Buatan PT DI milik TNI AD


CN 295 UNJUK KEMAMPUAN DI NEGARA – NEGARA ASEAN

Pada hari Kamis 30 Mei 2013, pesawat transport Militer CN295 mendarat di Bandara Sultan Abdul Aziz Kuala Lumpur, Malaysia, persinggahan terakhir dari rangkaian tour ke enam negara-negara ASEAN. Kementerian Pertahanan Indonesia memperkenalkan pesawat ini ke Philipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Malaysia sejak tanggal 22 sampai 31 Mei dalam rangka promosi mengenai kemampuan dan efisiensi pesawat transportasi hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Airbus Military. Pesawat CN295 adalah sebuah pesawat serba guna berukuran sedang untuk kepentingan sipil maupun militer.
Kunjungan ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan kelebihan dari pesawat CN235 dan NC212i, yaitu hasil pengembangan dari varian C212 yang telah diluncurkan pada bulan November 2012 antara PTDI dan Airbus Military dengan menggunakan sistem avionic dan autopilot yang baru, kapasitas penumpang bertambah dan biaya operasi yang lebih efisien.
Pada kunjungan ke Kementerian Pertahanan Malaysia, Jum’at 31 Mei 2013, Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang juga sebagai Ketua Delegasi, Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsuddien mengatakan bahwa “Kami mempromosikan penggunaan sistem pertahanan yang serupa di antara sesama negara ASEAN dan CN295 merupakan pesawat yang layak dan tepat untuk kepentingan pertahanan tersebut. Kami yakin dengan penggunaan jenis pesawat yang sama di wilayah ASEAN akan memperkuat kerjasama diantara kita, pada waktu yang sama mengurangi biaya operasional dan perawatan pesawat secara signifikan. Dalam segmen pesawat kecil dan menengah, pesawat CN295, CN235 dan NC212i adalah solusi yang tepat untuk menjalankan misi di kawasan regional”.
Angkatan Udara Republik Indonesia saat ini telah mengoperasikan dua unit CN295 dari sembilan unit yang dipesan dari PTDI. Dan pada tahun 2014, seluruhnya sudah dapat dioperasikan di wilayah Indonesia oleh TNI AU, dengan penyerahan pesawat tersebut ke Kementerian Pertahanan RI yang berlangsung di delivery center dan final assemblyPTDI yang merupakan hasil nyata dari Kemitraan Strategis (Strategic Partnership) antara PTDI dan Airbus Military yang ditandatangani pada tahun 2011 lalu. Secara total lebih dari 120 unit C295 telah dipesan seluruh dunia dan hampir 100 unit pesawat telah dioperasikan di berbagai negara seperti Alzajair, Brazil, Chilie, Colombia, Republik Ceko, Mesir, Finlandia, Ghana, Yordania, Kazakhstan, Mexico, Polandia, Portugal dan Spanyol.
Sementara itu, CN235 dan NC212 masing-masing telah terjual lebih dari 270 unit dan 470 unit, serta telah beroperasi dengan sukses di lebih 50 negara. Para operator CN295, CN235, NC212 sangat puas dengan keandalan, kapabilitas  dan ketangguhan dari pesawat-pesawat tersebut, yang sangat mudah dioperasikan di dalam situasi yang bergejolak dan medan yang sulit. Dan hasilnya pesawat tersebut saat ini menduduki posisi terdepan dikelasnya.
Tentang C295
C295 adalah pesawat generasi baru yang ideal untuk misi-misi pertahanan dan sipil, seperti misi kemanusiaan, patroli maritim, misi pengawasan lingkungan, dan yang lainnya. Berkat ketangguhan dan keandalan, dan dengan sistem operasi yang mudah digunakan, pesawat taktis ukuran sedang ini memiliki banyak kelebihan dan fleksibel, yang diperlukan untuk angkut personil, pasukan, cargo,evakuasi korban, serta mempunyai kemampuan menurunkan logistik dari udara. Pesawat ini juga  perpaduan teknologi sipil dan militer yang mendukung suksesnya misi-misi taktis, berkemampuan untuk menambah peralatan-peralatan yang lebih maju di masa depan serta mempunyai kemampuan menyesuaikan diri di wilayah udara sipil.
Pesawat ini juga mampu  lepas landas dan mendarat dilandasan pendek atau Short Take Off and Landing (STOL) dan landasan yang tidak dipersiapkan (CBR 3), dapat terbang rendah dalam misi taktis, membawa beban sampai 9 ton dengan kecepatan jelajah normal 260 knots (480 km/jam).  Cabin C295 pressurized (bertekanan udara), dapat terbang dalam ketinggian 25.000 kaki, dan dapat beroperasi dalam wilayah yang sangat panas. Pesawat ini juga dilengkapi dengan perangkat pendaratan yang dapat dilipat (retractable).Ditenagai 2 mesin turboprop Pratt & Whitney PW 27 G Kanada.
CN 295 dilengkapi juga dengan HIAS (Highly Integrated Avionics System), yaitu suatu sistem avionik yang sangat terintegrasi dan modern berdasarkan Thales Topdeck Avionic Suite. Penggunaan perlengkapan pesawat dengan Konsep arsitektur yang fleksibel dan Penggunaan perlengkapan yang modern menjamin sukses misi taktis dan penggantian  perlengkapan di masa mendatang.
TENTANG PT DIRGANTARA INDONESIA
PTDI adalah badan usaha milik negara yang didirikan pada tahun 1976. Lokasi pabrik pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) terletak di Bandung, Indonesia.  Produk utama perusahaan ini adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. Pabrik perakitan PTDI memproduksi berbagai jenis pesawat CN235 dengantype certificate untuk penumpang sipil, kargo, pembuat hujan, transportasi militer, patroli maritim dan pengawasan.  Selain itu PTDI memproduksi dibawah lisensi pesawat NC212-200, NAS332 Super Puma dan NBell412.  PTDI telah memproduksi lebih dari 340 pesawat terbang dan helikopter untuk 49 operator sipil dan militer.  PTDI memanufaktur dan memproduksi bagian-bagian, komponen-komponen,tools dan fixtures untuk pesawat Airbus A320/321/330/340/350/380, untuk Eurocopter EC225 dan EC725, untuk pesawat Airbus Military CN235/C212-400/C295. Untuk perawatan pesawat, PTDI melayani jasa pemeliharaan, overhaul, perbaikan, alterasi, kustomisasi dan dukungan logistik untuk CN235 berbagai seri, Bell412, BO-105, NC-212-100/200, NAS332 Super Puma, B737-200/300/400/500, A320, Fokker100 dan Fokker27. Enjinering PTDI melayani jasa rekayasa dan analisa serta flight simulators.
(Visited 108 times, 2 visits today)
Categories: Siaran Pers

Friday, July 19, 2013

Telah Lahir : Baterai Lithium Made in Indonesia



SATU lagi langkah maju untuk bisa segera merealisasikan mobil listrik nasional: sejak Sabtu, 13 Juli 2013, Indonesia telah mampu memproduksi baterai litium (lithium). Memang bukan BUMN yang memproduksinya, tapi BUMN ikut menjadi pendorongnya.

Tahun lalu, ketika mobil listrik generasi pertama diluncurkan tim Putra Petir BUMN, memang masih tersisa satu kegundahan ini: baterai (aki) mobil tersebut masih impor dari Tiongkok. Belum menggunakan baterai made in Indonesia.

Selama ini Indonesia baru mampu memproduksi baterai biasa. Padahal, untuk mobil listrik, tidak mungkin digunakan aki biasa. Karena ukurannya menjadi begitu besar dan beratnya begitu ampun-ampun.

Maka, tidak lama setelah peluncuran tiga mobil listrik jenis city car karya Dasep Ahmadi itu, saya mencari-cari siapa gerangan yang punya potensi mampu memproduksi baterai litium di dalam negeri. Tentu saya mengincar pabrik-pabrik baterai yang sudah ada. Lantas saya tawari siapa yang berminat memproduksi baterai litium.

Saya tidak menjanjikan apa-apa. Tidak berjanji membelinya, tidak memberikan fasilitas apa-apa, dan tidak mau ikut menanggung biaya investasi. Juga tidak ikut menanggung risiko. Saya hanya mengemukakan gagasan besar: bahwa sebaiknya Indonesia mulai memproduksi mobil listrik. Agar kelak kita tidak menyesal untuk kedua kalinya. Agar kita tidak hanya akan kembali menjadi pasar yang besar bagi mobil listrik dari luar negeri.

Saya sangat yakin masa depan mobil adalah mobil listrik. Seluruh dunia sudah sepakat seperti itu. Memang tidak bisa kesusu dan grusa-grusu. Pelan tapi pasti masa depan kita adalah mobil listrik.

Alhamdulillah, ada satu pabrik baterai terkemuka yang mendukung ide itu: PT Nipress Tbk di Bogor. Pengalamannya memproduksi baterai sudah puluhan tahun. Pasarnya tidak hanya di dalam negeri. Ekspornya sudah merambah dunia sampai Eropa.

Perusahaan publik ini tertantang untuk ambil bagian mewujudkan gagasan besar itu, dengan mengembangkan baterai litium. Jackson Tandiono, presiden direktur, dan Richard Tandiono, direktur operasional PT Nipress, menyatakan sanggup menanamkan investasi puluhan miliar rupiah dan sanggup meluncurkan produk baterai litium pertama pada Juli 2013.

Ini sesuai dengan perencanaan lahirnya mobil listrik Putra Petir generasi kedua. Yakni mobil listrik yang disiapkan untuk digunakan dalam forum APEC di Bali awal Oktober depan.

Komitmen PT Nipress benar-benar dipenuhi. Minggu lalu Richard menghubungi saya: apakah bersedia meluncurkan baterai litium pertama made in Indonesia. Tentu saya harus bersedia untuk memberikan penghargaan kepada orang yang memenuhi komitmen yang begitu tinggi. Saya terharu ada yang mau ikut mempertaruhkan uang puluhan miliar demi mobil listrik nasional.

Dengan berhasilnya Indonesia memproduksi baterai litium, hampir 50 persen persoalan mobil listrik nasional teratasi, 50 persennya lagi sebagian besar bisa diadakan di dalam negeri. Seperti pembuatan bodi dan interiornya. Motor listriknya pun sudah akan bisa diproduksi di dalam negeri.

Mobil listrik memang harus menggunakan baterai litium. Dengan litium, untuk kekuatan yang sama, hanya diperlukan ukuran yang kecil, hanya 30 persen baterai biasa. Beratnya pun hanya sepertiga berat baterai biasa. Dan yang lebih penting: dengan baterai litium proses charging-nya bisa cepat.

Waktu meluncurkan baterai litium pertama made in Indonesia itu, kepada saya dipamerkan seluruh proses pembuatannya, pengujiannya, laboratoriumnya, dan standardisasinya. Juga sistem modulnya. Ada modul untuk bus listrik, ada modul untuk mobil listrik jenis MPV, ada modul untuk city car, dan ada modul untuk mobil sport.

Modul itu ditentukan berdasar kesepakatan hasil diskusi ilmiah berkali-kali. Dasep Ahmadi, Ravi Desai, Ricky Elson, dan ahli baterai yang paling top di Indonesia Dr Ir Bambang Prihandoko dari LIPI dengan aktifnya merumuskan bersama ahli dari Nipress untuk menentukan modul-modul itu. Inilah modul baterai litium standar Indonesia!

Dengan ditentukannya modul baterai litium ini, siapa pun yang ingin memproduksi mobil listrik tidak perlu lagi bingung. Terutama dalam penempatan baterainya. Ikuti saja standar modul yang ditetapkan produsen baterai litium tersebut.

Kang Dasep lewat PT Sarimas Ahmadi Pratama sedang menyiapkan delapan bus VIP dan lima MPV yang baterainya sudah made in Indonesia. Ricky lewat PT Berkah Para Maestro sedang menyiapkan tiga MPV dan mobil sport. Ravi lewat partnernya di Surabaya sudah membangun pabrik mobil listrik dengan kapasitas 20.000 per tahun.

Maka, kelahiran mobil listrik nasional generasi kedua akhir Agustus nanti sudah lebih lega. Tidak saja sudah banyak belajar dari kekurangan-kekurangan generasi pertama, tapi juga made in Indonesianya sudah lebih "nendang". (*) Taken from manufacturing hope jppn.com


  Dahlan Iskan
 Menteri BUMN

Wednesday, July 10, 2013

Indonesia-China perluas kerja sama pertahanan



Indonesia China Perluas Kerjasama Pertahanan

Beijing - Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat memperluas kerja sama pertahanan untuk meningkatkan profesionalisme angkatan bersenjata kedua negara, hubungan lebih baik kedua pihak serta guna mendukung stabilitas keamanan kawasan khususnya di Asia.

Demikian pokok bahasan dalam Forum ke-5 Konsultasi Pertahanan Indonesia-China di Beijing, Kamis. Dalam forum itu, delegasi Indonesia dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sedangkan delegasi China dipimpin Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata China Letnan Jenderal Qi Jian Guo.

Dalam dokumen resmi yang diterima ANTARA di Beijing, dalam pertemuan tertutup itu dibahas berbagai kerja sama pertahanan yang telah dijalin dan akan dilakukan di masa depan oleh kedua negara.

Sejak Forum Konsultasi Pertahanan Indonesia-China dibentuk pada 2007 berbagai kerja sama telah dilakukan kedua negara seperti pendidikan perwira, latihan bersama pasukan khusus kedua negara, pelatihan pilot pesawat tempur Sukhoi TNI-Angkatan Udara, kerja sama industri pertahanan dan pembelian sejumlah alat utama sistem senjata.

Untuk bidang pendidikan dan pertukaran perwira, sejak 1967 sudah 107 personel militer Indonesia yang belajar di China. Saat ini tercatat 12 orang perwira militer Indonesia yang belajar di China, demikian dikutip dari dokumen itu.

Sedangkan China hingga kini telah mengirimkan delapan orang perwira militernya.

Untuk latihan bersama, Indonesia dan China telah dua kali menggelar latihan bersama antara Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat dengan Pasukan Khusus Angkatan Bersenjata China (People`s Liberation Army/PLA) dengan sandi "Sharp Knife". 

Kerja sama antarpasukan khusus dalam penanggulangan terorisme, akan terus ditingkatkan dan diperluas. Kedepan mungkin dapat dilakukan latihan bersama untuk menghadapi ancaman non tradisional seperti penanggulangan bencana alam, demikian sperti dikutip dalam dokumen itu.

Sedangkan dalam bidang industri pertahanan kedua negara telah sepakat untuk memproduksi bersama rudal C-705. Hingga kini Indonesia dan China masih membahas proses pelaksanaan alih teknologi dalam pembuatan rudal C-705.

Selain C-705 Indonesia dan China akan membahas lebih lanjut alih teknologi pesawat tanpa awak, serta sistem pertahanan elektronik

Forum ke-5 Konsultasi pertahanan Indonesia-China, yang berlangsung hingga Kamis petang juga dibahas berbagai perkembangan situasi keamanan regional khususnya di Asia Pasifik, termasuk isu di Laut China Timur dan Laut China Selatan.  (AntaraNews).