Sunday, September 22, 2013

PT DI Kembangkan Heli Serang Sekelas Apache AH 64E Longbow



Jakarta - Kementerian Pertahanan akan mendorong PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk mengembangkan helikopter serang, menyusul rencana pemerintah Indonesia membeli delapan unit helikopter serang Apache AH-64 dari Amerika Serikat untuk TNI Angkatan Darat.

"Yang dibutuhkan satu skuadron helikopter serang atau sebanyak 16 unit," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, yang ditemui sesaat setelah peluncuran buku yang ditulis anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati berjudul "Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan" di Jakarta, Jumat (30/8) malam.

Ia lantas menjelaskan,"Kalau kita beli delapan unit helikopter Apache, berarti baru setengah skuadron. Mungkin ada kombinasi, seperti halnya pesawat tanpa awak (UAV), setengah skuadronnya merupakan buatan dalam negeri."

Pengembangan helikopter serang yang dibangun oleh PT DI, kata dia, diharapkan spesifikasi dan kemampuannya tak jauh berbeda dengan helikopter Apache.

"Mungkin spesifikasinya masih di bawah Apache, tetapi kemampuannya tak begitu jauh," kata Menhan. 

Purnomo mengatakan bahwa pihaknya telah mengutus Sekjen Kemhan Budiman, yang saat ini telah dilantik menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), ke Amerika Serikat untuk mengetahui secara pasti detail spesifikasi helikopter serang Apache itu. 

"Spesifikasi teknologinya harus jelas betul, yang dibeli seperti apa. Terakhir yang berangkat ke AS adalah Sekjen Kemhan yang saat ini menjadi KSAD," katanya.

Menurut Purnomo, sistem persenjataan sebuah alat tempur sangat memengaruhi harga. Suatu peralatan tempur yang dilengkapi dengan sistem deteksi radar tentu lebih mahal daripada yang tidak ada.

Ia menegaskan bahwa pembelian helikopter Apache merupakan rencana pertahanan jangka panjang. Oleh sebab itu, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar diharapkan tidak akan berpengaruh banyak terhadap rencana pembelian itu. 



Kiat untuk menutupi kebutuhan heli serang bukannya tak pernah dilakukan. Bahkan karena kebutuhannya yang lumayan mendesak, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) kemudian memodifikasi heli NBO-105 menjadi heli serang. Namun  namanya juga heli hasil modifikasi, kemampuannya tak bisa di samakan dengan heli tempur murni. Selain itu heli serang ini lebih cocok untuk bantuan tembakan udara (close air support) bagi soft target seperti pasukan infanteri,truk militer, rantis dan ranpur ringan. Sedangkan untuk hard target macam tank lebih cocok diemban oleh heli tempur.



Nah, berangkat dari kebutuhan heli tempur itulah PT DI berkreasi menciptakan konsep heli berkemampuan tempur sejati. Dengan kata lain PT DI sejak awal menggarap heli ini bagi keperluan tempur alias sebagai combat helicopter. Ini tentunya berbeda dengan helikopter-helikopter militer  yang selama ini dibuat oleh PT DI. Karena heli buatan PT DI (sampai saat ini) sejatinya merupakan heli dengan tugas sebagai pengangkut pasukan bersenjata, seperti NAS-332 Super Puma. Sedangkan tugas sebagai pelahap tank praktis masih kosong.

Dari Basis Bell-412
Berbekal pengalaman mengutak-atik berbagai jenis helikopter melalui lisensi, dari tangan dingin para insinyur Indonesia inilah lahir konsep helikopter tempur bernama Gandiwa. Sama halnya dengan produk pesawat buatan PT DI lainnya yang mengambil nama dari cerita pewayangan, seperti CN-235 yang memiliki nama tetuko (nama kecil Gatotkaca) dan juga N-250 yang memiliki nama Gatotkaca. Gandiwa dalam cerita pewayangan merupakan senjata busur milik Arjuna yang berisi anak panah dalam jumlah tak terhingga yang merupakan pemberian dewa Baruna.



Gandiwa yang basisnya diambil dari heli Bell-412 ini merupakan helikopter tempur dua awak berkonfigurasi tandem dengan kokpit bagian depan sebagai pos kopilot/penembak (gunner) sementara bagian belakang sebagai tempat pilot. Meski memakai basis Bell-412, heli ini sudah mengalami banyak perombakan sehingga dijamin bakal punya rasa berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah konfigurasi kokpit yang dirombak habis-habisan. Berbeda dengan heli Bell-412 dimana posisi pilot dan kopilot yang berjumlah dua orang duduk berdampingan (side-by-side), pada Gandiwa posisi mereka dibuat duduk depan-belakang (tandem). Dengan rombakan kokpit macam ini sekilas sosok Gandiwa mirip dengan AH-1 Super Cobra yang merupakan heli andalan Korps Marinir AS.

Selain itu tak ketinggalan bagian hidung Gandiwa mengalami sedikit perubahan. Tak lagi terlihat polos seperti Bell-412, tampilan hidung heli ini tampak garang dengan terpasangnya kubah kanon di bagian dagu yang dapat diputar ke kanan dan ke kiri untuk menambah fleksibilitas serangan. Perubahan lainnya juga terjadi pada bodi Gandiwa. Ruang kosong ditengah bodi yang biasanya digunakan untuk menggotong pasukan dieliminasi. Dengan begitu bentuk fisik Gandiwa menjadi lebih ramping ketimbang Bell-412. Kiat ini tak lain juga untuk mendongkrak manuver dan kecepatan heli saat melakukan serangan terhadap musuh. Selanjutnya dikanan-kiri bodi terpasang sayap kecil (stub wing) untuk mendongkrak daya angkat heli dan berfungsi sebagai cantelan senjata.



Rampung urusan fisik, kini giliran bicara mesin penggeraknya. Untuk soal ini, Gandiwa direncanakan menggunakan dua buah mesin buatan Pratt and Whitney Canada PT6T-3BE yang masing-masing mesin mampu menghasilkan daya 900 shp. Selain itu, heli dengan empat rotor blade yang sepenuhnya terbuat dari komposit ini mampu digeber hingga kecepatan 259 km/jam.

Beralih ke soal senjata. Daftar persenjataan yang dibawanya bervariatif, antara lain kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun. Sementara padastub wing terdapat empat cantelan senjata. Masing-masing cantelan mampu mengusung berbagai jenis senjata. Untuk roket misalnya, heli tempur ini mampu menggotong roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm. Kemudian soal rudal antitank, Gandiwa mampu membawa persenjataan seperti rudal anti-tank Hellfire.

Jika melihat daftar persenjataan yang dibawanya, heli tempur Gandiwa sepertinya hendak meniru keampuhan AH-64 Apache-nya AS. Lihat saja kanontipe M230 Chain Gun yang biasanya menjadi salah satu senjata andalan Apache. Bedanya, pada Apachekanon ini terletak dibawah badan dengan posisi diantara main landing gear. Kemiripan lainnya terletak pada senjata roket Hydra 70 dan CRV7 serta rudal Hellfire yang juga biasa diusung Apache.



Terlepas dari kehadiran Gandiwa, sebenarnya keinginan untuk memiliki heli tempur pernah direalisasikan TNI melalui pembelian heli tempur buatan Rusia. Simak bagaimana kedatangan heli tempur Mi-35P tahun 2003 silam. Kala itu pembeliannya dilakukan bersamaan dengan jet tempur Sukhoi yang kemudian menjadi berita panas yang menjadi headline surat kabar nasional maupun daerah.

Tapi toh namanya juga alutsista asing, kehadirannya tidak boleh selamanya jadi andalan angkatan bersenjata, terlebih bagi Indonesia yang sudah memiliki industri pesawat terbang sendiri. Bagaimanapun dengan perkembangan industri pertahanan nasional (dalam hal ini industri dirgantara), kehadiran Gandiwa—meskipun sampai saat ini konsepnya masih berada di atas kertas, bisa menjadi alternatif untuk mengurangi dominasi alutsista asing yang masih banyak mengisi armada tempur TNI.


Bumblebee

Sebenarnya kemunculan heli yang dirancang dengan kemampuan tempur bukan kali pertama ditampilkan oleh PT DI. Dalam pameran pertahanan Indodefence 2010, PT DI sudah terlebih dulu menampilkan miniatur helikopter serang ringan dengan namaBumblebee-001. Bedanya heli ini basisnya diambil dari heli ringan serbaguna NBO-105. Tapi entah kenapa (mungkin karena minimnya pendanaan) konsep heli ini cuma berhenti diatas kertas. (Yudi Supriyono)

Spesifikasi Gandiwa:
Panjang: 17,1 m
Diameter rotor utama: 14 m
Berat kosong: 3.079 kg
MTOW: 5.397 kg
Mesin: 2 x Pratt and Whitney Canada PT6T-3BE, masing-masing berdaya 900 shp (shaft horse power)
Kecepatan maksimum: 259 km/jam
Jarak tempuh: 745 km
Persenjataan:
Kanon laras tunggal M230 Chain Gun kaliber 30 mm
Roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm
Rudal AGM-114 Hellfire




3 comments:

Anonymous said...

Kalo masalah aerodinamika dan mekanika PT.DI pasti mampu, tapi untuk elektronikanya terutama radar belum ada industri dalam negeri yang bisa mengimbangi kemampuan rancang bangun pesawat, walau kandidat untuk bidang itu seperti LEN sudah mulai muncul

Ade Agun said...

PT DI pasti mampu !!!

Jika India sj bisa bikin hicopter serang LCH (Light Combat Helycoter) dengan bantuan Sovyet dan China Bikin Z 10 dan Herbin Z 19,

Maka Di pasti bisa memadukan 3 keunggulan Heli serang Mi 35, AH 64 dan disempurnakan dg Tiger Eurocopter, jadi Heli serang Versi Indonesia yg lebih canggih...

yg pening ada Dukungan Nyata & Serius dari Para Pemimpin yg Pro pd Produk Mandiri...

Bravo PT DI...

writinglover said...

ada juga heli buatan indonesia lainnya, dibanderol 120 miliar loh, cek disini yah infonya http://goo.gl/R8VMI7