Monday, September 9, 2013

Ketika Dahlan Iskan Menyaksikan Pembuatan Pesawat Boeing

Cabin pesawat terbang Boeing 777-300er

Menteri BUMN Dahlan Iskan mendapatkan kesempatan meninjau langsung proses pembuatan Boeing 777 seri 300 yang dipesan oleh PT Garuda Indonesia.

Pesawat pesanan Garuda itu diproduksi di pabrik pesawat Boeing di Seattle, Amerika Serikat, dan hampir selesai."Mesin dan keseluruhan bodinya sudah siap," kata Dahlan dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta kemarin (5/9). Dahlan saat ini sedang melakukan kunjungan ke Amerika Serikat hingga 8 September mendatang.

Kedatangannya ke Amerika Serikat atas undangan pejabat Boeing untuk meninjau langsung fasilitas pabrikan. Mulai dari pembuatan desain, perakitan dan penjualan pesawat jet komersial, hingga perawatan yang berhubungan dengan produk dan pelatihan untuk pelanggan di seluruh dunia.
Dahlan dipersilakan naik dan masuk ke dalam pesawat Boeing 777-300 yang dipenuhi para pekerja memasang kursi. Pemasangan kursi ditargetkan selesai dalam waktu dekat. Rencananya, pesawat tersebut akan dikirim ke Jakarta pada akhir Oktober mendatang.
Garuda Indonesia, maskapai penerbangan milik negara, membeli 10 pesawat jenis 777. Dua di antaranya sudah beroperasi untuk penerbangan rute Jakarta-Jeddah. Setelah menyaksikan langsung pembuatan Boeing 777 seri 300, Dahlan kemudian diajak meninjau fasilitas pabrik yang khusus memproduksi Boeing 737. Jaraknya sekitar satu kilometer dari lokasi pabrik Boeing 777.
Garuda juga memesan beberapa pesawat 737. Pesanan itu sedang dalam pengerjaan. Salah satu dari pesawat 737 pesanan Garuda itu siap dikirim ke Jakarta dalam dua minggu ke depan. ”Indonesia memang punya hubungan baik dengan Boeing, sejalan dengan kerja sama PT Dirgantara Indonesia sebagai pemasok komponen pesawat bagi Boeing. Apalagi kini Garuda banyak memesan dan menggunakan pesawat jenis Boeing," jelas Dahlan.
Kesempatan itu digunakan Dahlan untuk berdiskusi dengan para petinggi Boeing. Khususnya membicarakan persoalan pertumbuhan jumlah pesawat di Indonesia yang menyebabkan kepadatan di hampir semua bandara. Di Bandara Soekarno-Hatta, bandara terbesar dan tersibuk di Indonesia, pada pagi dan sore hari pesawat harus mangantre untuk tinggal landas atau mendarat.
”Saya mengemukakan persoalan apakah ada pesawat yang lebih besar dari Boeing 737, tapi masih ekonomis untuk jarak tempuh pendek antara 1 sampai 2 jam penerbangan,” ungkap Dahlan.
Bandara-bandara di Indonesia sekarang ini didominasi oleh pesawat Boeing 737. Karena jenis itu yang paling ekonomis untuk jarak pendek. Misalnya saja untuk jurusan Jakarta-Surabaya yang kini mencapai 40 kali sehari. Kemudian Jakarta-Medan 30 kali sehari, Jakarta-Makassar 20 kali sehari, Jakarta-Singapura 20 kali sehari.
”Akibatnya bandara seperti Jakarta sangat padat. Kalau jurusan-jurusan padat tersebut bisa menggunakan pesawat lebih besar dari 737, frekuensinya bisa dikurangi tanpa menurunkan kapasitas angkut,” jelas Dahlan.
Senior Vice President Global Sales Commercial Airplanes John Wojick mengatakan, kelihatannya permasalahan tersebut khas Indonesia, yakni negara besar dengan pertumbuhan yang tinggi, tapi berpulau-pulau. Dia belum mempunyai solusi yang tepat atas permasalah itu, namun ia meyakini dengan pembuatan pesawat Boeing 787 diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif jalan keluar.
"Belum ada solusi yang tepat, tapi Boeing sedang membuat Boeing 787 yang lebih kecil dari 777 tapi lebih besar dari 737. Kelihatannya 787 bisa jadi jalan keluarnya," terang Dahlan menirukan hasil diskusi dengan pimpinan Boeing.

Seluruh badannya tidak lagi terbuat dari logam tapi komposit. Pesawat itu, sudah mulai diproduksi dan siap menjalani tes terbang. Namun dirinya tidak bisa memastikan penggunaan pesawat itu bisa mengatasi masalah yang dihadapi tersebut. (dri/sar) (JPPN)



No comments: