Thursday, April 25, 2013

Batal Beli Apache, Indonesia Beli Heli Buatan PTDI


Heli Serang AH64 Apache Long Bow

Pada hari Kamis, 18 April 2013 Tempo menurunkan berita sebagaimana judul di atas. Isi lengkapnya sebagai berikut : 
Komisi Pertahanan DPR menyatakan Indonesia batal membeli delapan unit helikopter serbu canggih dari Amerika Serikat, Apache Longbow. DPR beralasan harga Apache terlalu mahal. 
"Bukannya tidak mendukung TNI, tapi kami memprioritaskan anggaran," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, saat dihubungi Tempo, Kamis, 18 April 2013.
Untuk pembelian alat sistem pertahanan Angkatan Darat, dia menambahkan, diprioritaskan tank tempur utama Leopard. "Lagi pula tank ini kan baru, diprioritaskan."
Batalnya pembelian Apache bukan berarti Indonesia tak jadi membeli helikopter serbu. Indonesia kini mengalihkan pandangan kepada 16 helikopter Bell buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). 

Menurut Hasanuddin, ini karena harga Bell lebih murah ketimbang Apache. "Memang Bell tidak sehebat Apache, tapi kita belum mendesak untuk beli Apache," kata dia.
Saat ditanya apakah pembelian Apache dibatalkan karena ada kontrak dengan PT DI, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menjawab tidak. Dia bersikeras masalah utamanya adalah harga yang kemahalan.
"Lagi pula kalau beli produk PT DI, kita ikut mengembangkan industri pertahanan dalam negeri," ujarnya.
Pemerintah Amerika Serikat pernah menawarkan untuk menjual delapan helikopter AH-64 D Longbow Apache kepada Indonesia. Produk tempur bikinan Boeing ini memang sudah termasyhur di dunia lantaran sukses dalam banyak misi Angkatan Darat Amerika Serikat.


Apakah ini berita baik atau buruk ? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya, itu bisa berita baik, atau berita yang tidak terlalu baik. Namun keputusan itu tentulah sudah melalui pertimbangan yang matang, jadi keputusan yang diambil oleh DPR, hampir pasti sudah yang terbaik untuk Indonesia sendiri.

Peralatan apapun dari AS, terlebih alat-alat tempur, harganya memang selangit. Hal itu disebabkan AS secara tradisional merasa sebagai penemu, inventor, sangat melindungi hak intelektual mereka, menunjung tinggi hak cipta, jadi bisa dipahami jika mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Sejauh menyangkut teknologi, AS tidak pernah menjualnya dengan harga rata-rata. Mereka selalu mematok harga sangat tinggi. Kita ingat, beberapa waktu lalu Komisi Perdagangan AS mengkritik China yang menjual komputer, tablet, dll dengan harga murah dengan mengatakan," Adalah bodoh menjual teknologi tinggi dengan harga murah". 

Heli AH64 Apache ini dijual dengan harga 18 juta US$ atau Rp 45 milyar rupiah per unit-nya belum termasuk persenjataan yang dibawa oleh Heli tersebut. Itu harga tahun 1996, yakni 17 tahun yang lalu sebelum krisis 1998, saat 1 $  = Rp 2.500. Dengan kurs sekarang, 1 $ = Rp 10.000, maka, hanya dengan dasar perhitungan faktor kurs mata Rupiah terhadap Dollar saja, harganya naik 400% menjadi lebih dari 180 milyar rupiah per buah. Belum lagi dari produsen AS sendiri sudah pasti menaikkan harga atas dasar kenaikan biaya produksi dan faktor inflasi. Kemungkinan bisa di atas 250 milyar rupiah per unitnya. 

Bandingkan dengan Heli pesaingnya dari Rusia yang hanya 64,5 milyar rupiah (harga tahun 2007) sudah termasuk peralatan dan senjata lengkap. Bahkan pembelian bisa dilakukan dengan kredit sangat lunak. Dari segi kualitas, Mi 35 tidak kalah dengan Apache, bahkan lebih unggul dalam beberapa aspek.

Dalam prinsip pengadaan barang, pihak pembeli selalu memperhitungkan harga, kualitas barang, manfaat, dan kemudahan pembayaran. Jika untuk barang yang sama dihargai dengan harga yang sama dari dua penjual yang berbeda, maka penjual yang bisa memberi fasilitas kredit lunak akan lebih kompetitif ketimbang yang menuntut pembayaran tunai.

Pembatalan pemerintah atas rencana pembelian Heli Apache dan kemudian beralih ke pembelian Heli buatan PT DI adalah keputusan yang sangat tepat, bijaksana, dan positif. Manfaatnya bukan hanya jangka pendek, melainkan pula jangka panjang menyangkut dukungan terhadap perkembangan industri dalam negeri. Dengan dana yang sama, Dephankam akan memperoleh pesawat Helikopter Bell sebanyak dua kali lipat dari yang bisa diperolehnya berupa Apache. 

Bell 406 Combat Scout & Attack Helicopter
Lalu apa makna pembatalan Apache dan pengalihan ke industri dalam negeri ? 
Menurut penulis, ada banyak makna positif atas keputusan ini : 

1. Secara strategis, akan mendukung pengembangan PT DI untuk mencoba membuat Heli serang murni atau multifungsi dengan kelas lebih berat. 
2. Memberi proyek pada PT DI berarti memberi lapangan pekerjaan pada insinyur-insinyur kita sehingga menambah pengalaman, pengetahuan, dan keahlian yang lebih baik.
3. Mendorong industri penerbangan kita sedemikian rupa sehingga lambat laun semakin percaya diri, mampu menciptakan produk dengan tingkatan lebih baik. 
4. Saat ini PT DI membutuhkan proyek-proyek yang bisa dikerjakan agar keberlangsungan perusahaan tidak trerhambat. Pembelian ini akan sangat berarti bagi PT DI untuk memperkuat R & D, meremajakan mesin-mesin produksi, perolehan lisensi, dan lain-lain.
5. Pembatalan persetujuan DPR menunjukkan adanya komitmen wakil rakyat untuk ikut serta "mengarahkan" pemerintah agar lebih peduli pada industri alutsista dalam negeri. Ini bisa berarti banyak hal : berkurangnya dugaan kong kali kong antara pemerintah dengan produsen/perantara dalam hal ini pejabat Dephankan-pihak AS. Sudah jamak terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di India bahwa pengadaan alutsista yang sangat mahal menimbulkan kecurigaan korupsi.
6. Adanya perubahan cara pandang pihak Dephankam sendiri semenjak dialihkannya BUMN strategis seperti : PT PAL, PT PINDAD, PT DI, menjadi di bawah Dephankam dan bukan di bawah Kementerian BUMN lagi. 
7. Adanya perubahan signifikan peran Indonesia yang  semakin kuat di dunia Internasional dibanding sebelumnya di mana AS sudah tidak bisa "mendikte" lagi kebijakan luar negeri maupun pembangunan Alutsista nasional.  

Yang jelas, keputusan itu bermakna sangat positif. Makna strategis ini sangat penting agar kita bisa dengan cepat mandiri dalam pengadaan alutsista, sebagaimana Brazil telah mampu membuat pabrik mereka, Embraer, bisa berkembang dan semakin diakui oleh dunia, maka PT DI pun diharapkan bisa semakin dipercaya oleh dunia. 

File:Eurocopter EC-725 Cougar MkII.jpg
Helikopter  Cougar EC-725 lisensi dari Eurocopter yang akan dibuat oleh PT DI untuk produk berikutnya.
  
Makna Politis

Ada hal khusus saat Barack Hussein Obama naik menjadi Presiden AS dalam hubungannya dengan Indonesia, yakni hibah 24 Jet Tempur F-16 yang akan diretrofit ke Block 50. Jumlah 24 adalah cukup banyak, belum pernah dalam sejarah politik hubungan AS-Indonesia mendapat hibah sebanyak itu, belum lagi persetujuan pembelian Heli AH64 Apache ini. Sangat mungkin karena Obama sendiri menilai istimewa Indonesia karena masa kecilnya pernah besar di negeri ini, dan di saat yang sama Indonesia di bawah Presiden SBY memiliki banyak kesamaan kebijakan dengan AS : keberhasilan pemberantasan terorisme, demokrasi yang semakin berkembang, dan tidak adanya peanggaran HAM oleh negara. 
Terlepas AS yang kini ditimpa krisis, dan Indonesia yang justru ekonominya tumbuh secara meyakinkan, pemulihan hubungan militer AS-Indonesia saat ini mengalami peningkatan pesat setelah sebelumnya mereka (AS) mengambargo bantuan militer Indonesia.
Diembargo AS, Indonesia tidak kehilangan akal. Indonesia justru semakin "mesra" dengan China dan Rusia, dan mulai mengarahkan radarnya untuk melakukan kerjasama militer dengan Brazil, Polandia, Jerman, dan negara-negara lain. Dari Jerman misalnya, Indonesia membeli Tank Berat dan Sedang Leopard. 

Seiring pulihnya ekonomi Indonesia dari krisis 1998 dan belum pulihnya krisis di AS, peran dan kekuatan Indonesia semakin tidak dianggap sebelah mata oleh dunia, termasuk oleh Barat. Ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta pemerintah untuk berhenti menjual bahan-bahan mineral dan hasil tambang secara mentah ke luar negeri karena penjualan demikian tidak memberi nilai tambah apapun untuk kepentingan nasional, hal ini berimbas pada perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di sini. Indonesia berani "menasionalisasi" secara pelan-pelan perusahaan-perusahaan seperti Freeport agar menjaul sahamnya ke pemerintah RI dan dipaksa membangun smelter di sini. 

Pemerintah Indonesia mengancam, jika Freeport (perusahaan paling bandel di dunia untuk taat pada aturan lokal) tidak juga membangun Smelter di sini, mereka akan kehilangan peluang untuk mengekspor emas mentah ke luar negeri. Newmont juga demikian, jika mereka tidak taat pada undang-undang yang berlaku di sini, mereka tidak akan diberi ijin mengekspor mineral mentah ke luar negeri. 

Toyota, pabrik raksasa mobil asal Jepang, juga protes karena dengan kebijakan Indonesia itu berimbas ke mereka. Jepang tidak lagi bisa membeli bahan baku dari Indonesia secara langsung. Pemerintah Indonesia pun memberi solusi, misalnya dengan meminta pabrik mobil Toyota untuk membangun pabrik mobil di Indonesia. Toyota akhirnya bersedia, dan mereka pun membangun pabriknya di Cikarang. Banyak anak muda Indonesia pun mendapat peluang memperoleh pekerjaan, ekonomi semakin tumbuh, keahlian SDM Indonesia semakin terasah. Bukan hanya Toyota, General Motors (GM) dan Chevrolet pabrikan asal AS; lalu BMW dan VolksWagen (VW) pabrik otomotif asal Jerman, pun berencana membangun pabrik mobil mereka di Indonesia. Ini akan sangat berarti bagi SDM-SDM kita untuk mendapatkan pekerjaan, keahlian, tranfer teknologi, dan-lain-lain.

PT DI, Mi 35, dan Apache. 

Jika pemerintah membatalkan pembelian Apache lalu berganti membeli Heli dari PT DI, apakah teknologinya sepadan ?

Bisa saja sepadan jika masalahnya hanya pesawat itu sendiri. Inti dari Helikopter untuk jenis apapun pada dasarnya sama. Heli Apache maupun Heli Bell buatan PTDI punya bagian-bagian utama yang sama, yakni mesin, rotor, baling-baling utama, baling-baling ekor, ekor, dan body dari Heli.  Yang  berbeda antara satu Heli dengan heli yang lainnya dari organ utama ini adalah kapasitas angkut, daya mesin, panjang baling-baling, sayap, dan lain-lain yang berimbas pada kecepatan dan daya tahan. 
PTDI tentu tidak akan kesulitan menyesuaikan ini dengan memasang mesin ganda dengan daya yang lebih besar misalnya, atau membuat baling-baling dan rotor yang lebih besar atau menambahkan sayap seperti halnya Apache atau Mi 35. PT DI tentu mudah saja 'meniru' Apache atau Mi 35 jika soal berat-ringan.

Yang membedakan adalah aksesoris yang dipasang pada Heli tersebut. Sebagai Heli Serang, perlengkapan utama yang sangat penting dan ini sangat ditentukan oleh kecanggihan teknologi adalah sistem persenjataan yang meliputi : senjata itu sendiri (senapan mesin/Canon, rudal, peluncur roket jamak, dan bom), sistem avionik dan sistem targeting mereka.
     
Heli buatan PTDI tidak akan sepadan dengan Apache jika teknologinya tidak dimutakhirkan sehingga standarnya sama dengan AH64 Apache Long Bow. Namun Bell pada umumnya sudah sesuai dengan standard Heli Serang NATO. Jika Indonesia menjatuhkan pilihannya pada jenis Bell, maka paling tidak sistem Avionik dan Targetingnya harus dibuat setingkat dengan Apache. 

Kelebihan Helikopter asal AS ini adalah teknologi penginderaan dan keakuratan dalam menentukan target serang secara presisi. Jika Indonesia ingin bisa mendekati Apache, maka solusinya bisa mengimpor alat-alat seperti sistem avionik dan targeting yang sangat canggih itu jika belum bisa buat sendiri, 

Salah satu fitur revolusioner yang mereka klaim ada pada Apache adalah adanya helmet mounted display, yakni sebuah helm yang terintegrasi dengan Sistem Penglihatan (IHADSS) di antara kemampuan lain yang diperlengkapkan pada pilot maupun operator senjata sehingga bisa terus memfokuskan senjata pada target secara presisi saat Heli bergerak maju. Heli ini dilengkapi dengan senapan mesin dan balistik sebagai senjata serang standard. Kelebihan lain adalah adanya alternatif sistem kendali TADS, Targeting Acquisition and Designation System untuk menetapkan sasaran dan mengunci posisi tembakan ke depan.  
Sementara kekuatan dan daya jelajah yang sangat kuat bisa mengadopsi teknologi Mi 35. Namun Bell adalah lisensi, perlu dicermati dulu aturan-aturan yang mengikatnya. Kemungkinan lain adalah pembuatan Heli serang  Cougar EC 725 dari Eurocopter.

Dapat uang melalui internet

No comments: