Showing posts with label Transfer Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Transfer Teknologi. Show all posts
Monday, June 24, 2013
Bulgaria to transfer fuse bomb technology to RI
Indonesia will soon be ready to produce live bombs for fighter aircraft, particularly the Sukhoi 27 SK and 30 MK, as weapons manufacturer PT Sari Bahari Malang will receive technology from Bulgarian fuse-bomb producer Armaco.
Indonesia has only been able to produce casing, warheads and ammunition powder, while importing fuse bombs.
“This is a major step forward for Indonesia. From now on we will no longer depend on other countries because we are able to fulfill the Indonesian Military [TNI] needs of bombs,” company director Ricky Hendrik Egam told The Jakarta Post on Wednesday in Surabaya, East Java.
Ricky, however, refused to reveal the financial value of the cooperation between his company and Armaco.
He said that with the cooperation, Indonesia could also have the chance to provide fuse bombs for Asian countries that use Russian-made Sukhoi fighter jets.
The company has previously faced difficulties in finding countries producing fuse bombs that were willing to transfer the technology. China has rejected the company’s request for cooperation.
PT Sari Bahari has produced bombs for Sukhoi fighter jets, both smoke and live versions, with weights ranging from 100 kilograms to 250 kilograms. The company has also exported 70 millimeter smoke warhead rockets to the Chilean Air Force. (swd) (The Jakarta Post)
Labels:
Fuse Bomb,
PT Dahana,
sukhoi,
ToT,
Transfer Teknologi
Sunday, May 5, 2013
Transfer Teknologi Alat-Alat Tempur: Fakta Atau Utopia ?
![]() |
| MLRS Astross II yang dibeli TNI dari Brazil beberapa waktu lalu. Akankah Brazil melakukan Transfer teknologi (ToT) untuk Indonesia dalam pembuatan Rudal Multi laras ini ? |
Transfer teknologi, terlebih lagi di bidang militer, adalah kisah yang hampir-hampir menjadi dongeng. Dongeng yang enak di dengar, mudah di ucapkan, namun nyatanya selalu sulit diwujudkan. Mungkin istilah itu harus diganti, agar terminologi itu tidak terasa 'menakutkan' bagi negara-negara maju, yang dalam hal ini terkandung makna harus memberikan ilmunya kepada negara-negara berkembang. Jika dalam green technology saja transfer teknologi begitu sulit, apalagi di bidang militer, tentu lebih sulit lagi. Jangan berharap mereka (negara maju) itu mau menularkan ilmunya begitu saja.
Tapi jika memang transfer teknologi itu sesuatu yang mustahil dilakukan, kenapa Jerman mau berbaik hati membantu Indonesia mendirikan pabrik pesawat terbang bernama IPTN ketika itu ?
Ya, itulah kelihaian BJ Habibie dalam memboyong ahli-ahli pesawat Jerman ke Indonesia, dan kepandaian beliau juga dalam meyakinkan Presiden Soeharto ketika itu agar mau tanda tangan mengalokasikan trliunan rupiah untuk proses pendirian dan pendidikan ahli-ahli aeronetika Indonesia.
Transfer teknologi memang sulit, tapi bukan berarti mustahil. Terbukti kita juga bisa menguasai teknologi tinggi yang tidak mampu dikuasai oleh negara tetangga, berkat 'transfer teknologi' dari negara maju seperti Jerman. Persoalannya tidak terletak pada keengganan sang penguasa teknologi untuk memberikan ilmu dan pengalamannya pada negara penerima, melainkan 'cara' mendapatkannya.
Ya, cara atau strategi negara berkembang agar bisa mendapatkan ilmu dari negara maju itulah yang menentukan. Hampir pasti mereka tidak akan sudi memberikan begitu saja pada negara dan bangsa lain, namun mereka bisa 'dipaksa' dengan satu atau lain cara agar mau 'menularkan' ilmunya ke negara-negara berkembang.
Seperti yang tengah dan sudah kita lakukan, kita bisa saja merekrut tenaga ahli dari mereka (negara-negara maju) untuk bekerja di perusahaan yang kita dirikan dengan menawarkan bayaran yang lebih tinggi di bandingkan di negara asalnya. Ekspatriat itu dikontrak dalam jangka waktu tertentu, dan diberi target dalam waktu tertentu pula agar bisa mendidik anak buahnya yang orang Indonesia untuk menguasai keahlian mereka. Itu yang dilakuka PT DI dulu.
Cara kedua adalah dengan riset dan pengembangan bersama dengan negara-negara lain. Misalnya program pembuatan kapal selam Indonesia-Korsel dan proyek pembuatan pesawat tempur KFX/IFX juga antara Korsel-Indonesia.
Cara ketiga adalah 'mencontek' teknologi itu dengan membongkar pasang barang yang kita beli dari mereka. Jepang mungkin berhasil melakukan dengan cara ini, mencontek teknologi AS lalu mereka kembangkan sendiri menjadi teknologi yang lebih marketable. Indonesia bisa saja membongkar satu Tank Tempur Utama Leopard, mempretelinya satu demi satu, dipelajari, lalu dicontek model dan bentuknya. Juga cara kerjanya. Tapi cara ini sangat sulit, perlu berpuluh-puluh tahun. Tapi yang namanya manusia, tetap saja bisa belajar dan melakukan hal itu dengan sukses.
Cara keempat adalah dengan pendirian perusahaan Joint Venture, yakni perusahaan patungan antara perusahaan nasional baik swasta/BUMN dengan perusahaan asing yang memiliki teknologi itu. Contohnya, adalah rencana pendirian perusahaan Foxconn dengan PT LEN dan PT INTI untuk memproduksi tablet canggih dan smarphone high-end.
Pemerintah untuk itu perlu mengatur dalam suatu UU penanaman modal asing, agar transfer teknologi bisa berjalan mulus tanpa hambatan. Misalnya, mengharuskan PT Freeport untuk joint venture dengan perusahaan domestik dalam proses pemurnian emas dan penambangan. Atau mengharuskan Exxon dalam ijin kontraknya dengan Pertamina dalam teknologi eksplorasi dan idenfiikasi sumber-sumber minyak baru. Dengan klausul kontrak yang diperbaiki dan lebih berpihak pada kepentingan nasional, hal itu mungkin bisa dilakukan. Mengapa ? Karena Freeport juga tak mungkin hengkang dan mengalihkan penambangannya ke Alaska atau Chichago sana. Beda dengan Bank atau pabrik mobil yang bisa begitu saja dipindahkan ke negara lain. Persoalannya adalah bunyi kontrak yang sudah ditandatangani waktu pemerintahan dulu begitu merugikan Indonesia. Indonesia bisa saja me-renegosiasi lagi atau 'memaksa' mereka untuk taat pada hukum juridiksi Indonesia. Lain kali hati-hati kalau buat kontrak dengan asing.
Cara kelima adalah cara efektif dan cepat dari Sang Menteri BUMN Dahlan Iskan. Menteri BUMN Dahlan Iskan mencari seantero dunia talenta-talenta hebat Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan raksasa yang bergerakdi bidang teknologi tinggi seperti pembuatan mobil listrik. Gagal import batteri secara massal dari China, Dahlan Iskan mencari cara lain. Beliau (Dahlan Iskan) memanggil pulang anak muda WNI yang pakar pembuatan batteri, yang berpengalaman pernah bekerja dalam pembuatan mobil Hybrid di Daimler Chrysler atau Ferrarri. Hasilnya, berdirilah pabrik batteri canggih di Indonesia untuk keperluan produksi massal mobil listrik nasional.
Dan masih banyak cara lain lagi yang bisa kita terapkan untuk 'mencuri' teknologi dari negara maju. Yang penting, berantas dulu korupsi, KKN yang menjadi hambatan utama dalam memajukan bangsa dan negara ini. Perbaikan manajemen SDM, khususnya sistem renumerasi dan merit system yang berbasis pada kinerja mutlak dilakukan. Jangan sampai misalnya, guru-guru yang bolos selama tahunan tak pernah mau mengajar, malah mendapat dana sertifikasi yang jumlahnya puluhan juta rupiah. Sementara, tenaga pendidik tidak tetap justru harus bekerja keras dengan upah secuil.
Dengan doa dan kerja keras, Insya Allah bisa terwujud.
Labels:
alutsista,
pengetahuan teknologi,
teknologi,
ToT,
Transfer Teknologi
AS, Korsel, Indonesia, dan Transfer Teknologi Militer
![]() |
| LVT 7A1 hibah dari Korsel. Pemerintah Korsel memberi hibah 10 unit LTV 7A1 ini untuk Indonesia. Tank ini adalah Tank Amfibi. |
Dalam suatu kesempatan di New York, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengungkapkan, transfer teknologi dalam kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan berbagai pihak asing adalah hal yang mudah diucapkan, namun pada kenyataannya sulit diwujudkan.
"Saya sadar, kalau itu hanya `technology sharing, technology transfer`, mudah diucapkan, tapi dalam prakteknya kandas," katanya di New York, Jumat, dalam jumpa pers dengan para wartawan Indonesia sebelum bertolak kembali menuju Jakarta.
Ungkapan Presiden RI sebagaimana tersebut di atas masuk akal, terlebih berharap Amerika atau perusahaan asal Amerika mau mengalihkan teknologinya ke Indonesia, adalah sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Jika pun persyaratan tinggi dari kemungkinan technological sharing itu bisa dipenuhi, misalnya Lion Air harus membeli lebih dari 200 unit pesawat dari Boeing, baru bisa dilakukan transfer teknologi. Pelaksanaannya mungkin sulit, meski Lion Air telah memborong lebih dari 230 unit pesawat, pada kenyataannya mereka (Boeing) tidak akan mudah memberikannya pekerjaan-pekerjaan vital itu pada PT DI sebagaimana yang diminta oleh pihak Lion Air.
Di luar hubungan bisnis, Indonesia bukanlah sekutu tradisional AS. Dalam konteks percaturan politik di dunia dan hubungan internasional, Indonesia bahkan secara teori tidak akan pernah menjadi sekutu AS. Indonesia yang saat ini menjadi negara demokrasi sebagaimana AS yang juga negara demokrasi (bahkan seringkali memaksakan ke negara lain dengan mengirim tentara atau menjatuhkan bom), tidaklah menjadi basis pokok untuk dengan sendirinya transfer teknologi itu menjadi mudah. Demokrasi memang sering menjadi alasan untuk menjadi perekat hubungan antara negara satu dengan yang lain, namun faktanya, ada nilai-nilai lain yang lebih substansial dan lebih dalam lagi agar hubungan itu bisa menjadi saling percaya satu sama lain, hubungan dekat dari hati ke hati.
Hubungan pemerintah RI-AS cukup baik, namun harus diakui bahwa di tingkat masyarakat Indonesia misalnya, jutaan kaum Muslim tak percaya kebaikan AS itu tulus. Hal itu tak lepas dari sepak terjang AS sendiri yang begitu agresif menyerang negara-negara lain seperti Irak, Afganistan, Pakistan, dan selalu menerapkan standard ganda menyangkut konflik Palestina-Israel. AS, atau setidaknya media AS dan Barat, hampir selalu bersikap memusuhi Islam dan Muslim.
Tidak hanya itu, AS juga banyak melakukan operasi rahasia (CIA) di hampir seluruh dunia, baik itu di Timur Tengah, di Nikaragua, Chile, Brazil, Argentina, Venezuela, Bolivia, Vietnam, dan lain-lain tak terkecuali di Indonesia menggunakan segala cara, termasuk pembunuhan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak dia (AS) sukai.
Sejarah Amerika Serikat dipenuhi dengan darah. Negara AS didirikan oleh orang-orang kulit putih dari Inggris yang datang ke Benua Amerika lalu merampas tanah-tanah orang Indian, menindas penduduk asli di sana, dan menyita tanah-tanah mereka, lalu mengusir mereka. Cerita yang sama juga terjadi dalam proses pendirian negara Australia, oleh pelaku yang sama : Inggris. Kali ini yang diusir dan ditindas adalah orang-orang Aborigin.
Penjajahan faktanya tidaklah hilang. Imperialisme yang telah menyebabkan jutaan nyawa manusia melayang selama ratusan tahun, dan milyaran manusia menderita karenanya, hanya bentuknya saja yang berubah, namun hakekatnya tetap sama. Penjajahan yang dilakukan oleh Barat terhadap negara-negara lain di benua lain belumlah usai. Ini terlihat dari perilaku NATO (yang dimotori oleh AS) yang arogan, adigang adigung adiguna, merasa benar sendiri dan cenderung ingin menang sendiri seperti tengah membangun imperium dunia, telah melekat di alam bawah sadar masyarakat negara-negara berkembang. Ini yang menyebabkan AS memiliki banyak musuh di dunia seperti Iran, Bolivia, Nikaragua, Venezuela, Korea Utara, Cuba, dan bahkan Rusia-China.
Hal demikian menjadikan AS paranoid, selalu curiga pada negara lain, sulit mempercayai negara lain termasuk Indonesia, karena 'dosa-dosa'-nya sendiri, kejahatan yang mereka lakukan terhadap negara-negara lain. AS selalu merasa 'takut', was-was, jika negara lain seperti China mampu menyaingi mereka secara ekonomi dan teknologi, apalagi teknologi militer. China pasti tidak akan melupakan begitu saja bahwa negaranya pernah diserang dan dijajah oleh Inggris. China juga pasti ingat dukungan AS atas Taiwan. Meski ada upaya membangun hubungan baik, namun pada dasarnya mereka selalu khawatir kebangkitan militer China.
Indonesia memang tidak pernah dijajah oleh Inggris atau AS, namun sikap permusuhan AS terhadap negara-negara Islam menjadi penghalang tumbuhnya saling 'trusting' tadi. Khawatir Indonesia maju dan menguasai teknologi yang mereka kuasai. Khawatir Timur Tengah menguasai teknologi pesawat tempur, teknologi nuklir, dan lain-lain. Khawatir Indonesia terlalu dekat dengan China dan Rusia yang seaktu-waktu negara itu bisa menularkan ilmu 'horor-nya ke Indonesia. Secara teori, AS hanya percaya 100 % pada Inggris, Australia, dan Israel.
AS, sebagai sesama Anglo Saxon Inggris dan Australia, adalah bangsa yang dalam sejarahnya penuh catatan hitam. Hampir 90 persen negara bangsa di dunia ini pernah dijajah oleh Inggris. Jika semua bangsa di dunia ini harus "trusted" pada mereka, rasanya sulit. Sepak terjang mereka sebagai bangsa yang penuh kejahatan tidak bisa begitu saja serta merta hilang dengan adanya lembaga bantuan seperti USAID, AusAID, atau sejenisnya dari Inggris. Maka, Indonesia jangan berharap dari negara-negara itu akan sudi mentransfer teknologi tinggi ke negara lain. Mereka akan memproteksi dengan segala cara agar superioritasnya tidak terganggu. Jadi, sebaiknya lupakan itu. Berhati-hatilah jika diajak kerjasama, perlu dicermati apakah akan merugikan Indonesia atau tidak. Contohnya, kerjasama di bidang kesehatan. Mereka (AS dan Inggris) melakukan penelitian penyakit tropis. Mereka bawa sampel virus segala macam untuk diteliti di sana, tanpa melakukan sharing pengetahuan apapun hasil penelitian itu dengan negara di mana sampel itu diambil. Tiba-tiba mereka bikin saja vaksin, obat, dan lain-lain untuk penyakit tropis lalu dijual dengan harga sangat mahal. Jadilah Indonesia hanya dibodohi, selain hanya dijadikan pasar obat-obatan industri framasi mereka, kita tidak mendapat manfaat apa-apa dari kerjasama ini.
Atau, kasus yang baru-baru ini terjadi. Beberapa perusahaan pertambangan swasta nasional melakukan 'listing' di bursa saham London, bekerjasama dengan mitra perusahaan asing dari Eropa (Inggris). Perusahaan asing partner ini selanjutnya melakukan taktik licik dengan 'me-reset' perusahaan patungan sedemikian rupa sehingga harga saham jatuh terjun bebas. Mereka melakukan black campaign bahwa manejemen prusahaan Indonesia yang mereka jadikan partner ternyata kinerjanya buruk, manjemen keuangannya amburadul, dan lain-lain agar harga saham terus merosot tajam. Padahal mereka (asing) hanya pemilik minoritas.
Langkah selanjutnya adalah mereka berupaya agar perusahaan patungan ini bisa dijual dengan harga seadanya, sangat murah, atau diambil alih kendalinya dengan berbagai macam manuver penguasaan saham. Mereka sangat berpengalaman dalam melakukan ini dengan memanfaat celah hukum dan jaringan internasionalnya untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan domestik di Indonesia lewat "kerjasama" ini. Misalnya, perusahaan pertambangan milik Ilham Habibie yang dia dirikan susah payah dan berkembang; tiba giliran menggaet mitra asing, kini beralih ke Italia dan berkantor di sana setelah peristiwa serupa. Atau yang baru gencar jadi berita, konflik Bakrie-Rothscild. Masih banyak perusahaan lain lagi yang jadi korban yang tidak diberitakan oleh media massa Indonesia.
Hubungan Korsel-AS lebih dekat ketimbang hubungan AS-Indonesia. Ini terlihat dari sikap AS dalam konflik Korsel-Korut di mana AS terang-terangan menjadi sekutu Korsel dan Jepang. Korsel-AS memiliki pakta perjanjian pertahanan bilateral, sedang Indonesia-AS tidak.
Indonesia tentu tidak perlu membuat pakta serupa dengan AS, karena Indonesia tidak butuh perlindungan militer dari AS. Prinisip non blok yang dicanangkan Presiden Soekarno harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan, yakni dengan politik bebas aktif, "having much friends with no enemy". Kita bebas bergaul dengan siapa saja. Karena jika kita satu musuh saja, misalnya dengan negara tentangga, maka akan mereka jadikan lahan eksploitasi untuk memecah belah kawasan, pasar senjata, dan instabilitas kawasan agar konflik itu terus berlanjut sehingga kita jadi lemah. Kalau kita dan tetangga kita lemah dan tidak akur, maka mudah bagi mereka untuk membuat kita tidak tenang, hidup dalam kecemasan, dan inverstor akan pergi dari sini sehingga ekonomi kita guncang. Kekacauan akan terjadi.
Jadi, cara Indonesia dalam membangun 'trusting' dengan negara tetangga sehingga saling percaya satu sama lain, hidup damai nan rukun dalam satu wadah ASEAN sangat bisa dibanggakan. AS patut mencontoh cara Indonesia ini dalam cara mereka membangun kebersamaan dengan tetangga mereka Cuba, Nikaragua, Meksiko, dan lain-lain.
Sedangkan hubungan Indonesia-Korsel boleh dibilang sangat dekat, dari hati ke hati. Mungkin karena kita tidak pernah punya konflik kepentingan dengan mereka, dan sama-sama pernah menjadi korban penjajahan. Hal ini pernah ditegaskan oleh Presiden Korsel sendiri di periode sebelumnya, Lee Myung Bak, bahwa hubungan perhabatan Korsel-Indonesia adalah sangat dekat, heart to heart. Korea Selatan banyak melakukan investasi bersama dalam membangun technological Sharing dengan Indonesia. Contohnya, mereka mau berbaik hati melakukan transfer teknologi Kapal Selam padahal kita cuma membeli tiga biji kapal selam.
Namun tetaplah cara terbaik adalah melakukan Riset dan pengembangan bersama-sama seperti halnya proyek KFX/IFX. Indonesia, kata Presiden SBY, lebih mengembangkan kebijakan yang bersifat penelitian dan pengembangan bersama, investasi bersama dan produksi bersama seperti yang dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan sejumlah industri strategis Indonesia dengan negara-negara asing.
"Itu yang paling baik, akhirnya setelah bersama-sama lima, sepuluh, lima belas tahun, teknologi akan beralih. Itu masuk akal dan mereka juga tidak merasa diambil jerih payahnya selama puluhan tahun untuk mengembangkan teknologi," kata Yudhoyono.
Berkaitan dengan Boeing, ia mengatakan Indonesia berjuang untuk mendapatkan porsi keuntungan dari nilai pembelian miliaran dolar AS.
"Perjuangan kita adalah bisa mendapatkan porsi keuntungan itu untuk bangsa kita, untuk industri strategis kita, untuk komponen dalam negeri kita," ujarnya.
"Kalau bisa dipenuhi akan bagus sekali. Dan itu `direct benefit` yang kita terima dari kerjasama dengan Boeing," tambahnya.
Terkait kerjasama Indonesia-AS, pemerintah Indonesia dan pihak Boeing Amerika Serikat pada awal pekan ini menandatangani nota kesepahaman kerjasama bidang industri.
Penandatangan dilakukan di sela-sela Indonesia Investment Day di New York, oleh Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal dan Wakil Presiden Boeing Stanley Rooth, disaksikan oleh Presiden Yudhoyono.
Maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, dan Boeing tahun lalu menyepakati pembelian pesawat senilai 23 miliar dolar.
Dengan pembelian itu, Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya --baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan, setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unitpesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900.
Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi suatu bangsa tergantung kemampuan inovasi dari bangsa itu sendiri. Jika kita berhasil memperoleh transfer teknologi dari negara lain yang lebih maju, itu bagus namun jika tidak, ya.. memang begitulah, sulit.
Jadi baiknya ya kembangkan sendiri, melakukan riset dan pengembangan sendiri, atau mencontek dari alat canggih yang kita beli dari mereka. Jepang saja bisa menjadi pencontek yang sukses dan menguasai dunia, kenapa kita tidak ? Apakah Jepang melakukan penemuan bola lampu ? Mobil ? Pesawat ? Kamera ? Radio ?
Sama sekali tidak. Yang menemukan cara kerja mobil itu orang Amerika. Yang menemukan pesawat itu Oliver Wirght dan Wilbur Wright, juga orang Barat. Tapi siapa penguasa otomotif di dunia ? dan di Asia ?
Jawabnya adalah Jepang. Penemu kamera juga bukan orang Jepang, tapi penguasa pasar Kamera digital di dunia adalah Nikon, Canon, Sony, dan lain-lain juga dari Jepang. Korea juga sama, bukan penemu tapi mencontoh dari teknologi Jepang dan AS. Tapi Korea menguasai produk lemari es, smartphone, mobil, dan lain-lain.
Indonesia tidak harus jadi penemu. Indonesia bisa mencontoh terknologi dari negara lain dan mengembangkan sendiri. Terbukti, kita ternyata juga bisa buat pesawat terbang dengan belajar dari Jerman. Kita juga bisa buat Kapal perang canggih juga berasal dari Korsel dan Belanda. Tapi orang Indonesia juga ada yang jadi penemu, misalnya penemu pengkayaan uranium dengan tingkat rendah. Dan masih banyak lagi.
Jelas Indonesia punya potensi untuk maju. Siswa SMK saja bisa membuat mobil, tablet, laptop, dan lain-lain jadi kita bisa maju. Tinggal pemerintah saja mau mendukung atau tidak.
Labels:
alutsista,
panser,
pengetahuan teknologi,
Tank,
teknologi,
ToT,
Transfer Teknologi
Thursday, May 2, 2013
JET TEMPUR KFX-IFX: Kemhan Lanjutkan Alokasi Dana Proyek

Kementerian Pertahanan akan memanfaatkan alokasi dana untuk meneruskan proyek pengembangan Korean Fighter Xperiment (KFX) - Indonesian Fighter Xperiment (IFX) yang merupakan kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan melalui Defense Acquisition Program Administration (DAPA).
“Dana KFX/IFX itu untuk pengembangan pesawat pada generasi 4,5. Dana itu ada sebagian tetap kami manfaatkan di dalam sendiri untuk pengembangan dan pemanfaatan lainnya,” jelas Sekjen Kementerian Pertahanan Letjen TNI Budiman seusai acara 2013 ROK-RI Security and Defense Seminar, di Jakarta, Kamis (2/5/2013).
Seperti diketahui, pemerintah telah menunda perencanaan proyek proyek pengembangan pesawat jet tempur tersebut hingga September 2014.
Penundaan tersebut disebabkan oleh belum adanya kesepakatan Korsel untuk menyediakan anggaran guna mendukung terlaksananya tahapan kedua, yaitu fase Engineering and Manufacturing Development Phase ( EMD Phase).
Budiman menegaskan pihaknya hingga kini tetap memeritahkan sebanyak 37 teknisi untuk melakukan riset tersendiri hingga menunggu keputusan dari pemerintah Korsel.
Dia mengharapkan penundaan tersebut akan mendorong Indonesia lebih siap dan matang untuk mengembangkan proyek selanjutnya.
“Program kerjasama KFX/IFX adalah salah satu model kerjasama pertahanan yang dikembangkan dalam kerangka saling mendapatkan manfaat dan menguntungkan,” katanya. (ra) Sumber : Bisnis
Subscribe to:
Comments (Atom)




