Sunday, October 13, 2013

BJ Habibie: Harga 1 Kg Pesawat Terbang Setara 450 Ton Beras


Jakarta - Mantan Presiden BJ Habibie punya pemikiran bahwa masalah mendasar yang dihadapi Indonesia saat ini dan ke depan adalah persoalan ketidakadilan dan kemiskinan. Untuk mengatasi satu dari dua masalah itu yaitu kemiskinan maka perlu upaya penciptaan lapangan kerja diantaranya dari sektor industri kedirgantaraan.

Bahkan Habibie menyebutkan, nilai tambah industri kedirgantaraan sangat luar biasa. Ia mengilustrasikan harga satu pesawat terbang bisa setara dengan jutaan ton beras.

"Saya mikir, saya mau menang lawan kemiskinan. Caranya kasih dong pekerjaan, kasih jam kerja. Satu kilogram pesawat terbang penumpang harganya sama dengan 450 ton beras," kata BJ Habibie kepada detikFinance pekan lalu.

Untuk mewujudkan keinginannya memerangi kemiskinan, pada masa lalu ia mengirim banyak putra-putra terbaik Indonesia ke luar negeri untuk mengembangkan industri kedirgantraan di Tanah A‏ir. Menurutnya Indonesia tak boleh terus bergantung dengan pesawat impor dan harus mandiri membuat pesawat penumpang di dalam negeri. 

"Saya bilang orang-orang yang saya bimbing dengan kasih sayang dikirim ke luar. Belajar N250 sudah terbang, N2130 baru mau terbang. N250 sudah ETA certified, 80 persen. Tahun 2000 masuk market, assembly line di Alabama sudah ada dan di Stuttgart untuk Eropa," katanya.

Namun krisis 1998 lalu membuat segala rencananya kandas, waktu itu IPTN yang kini PTDI tak lagi mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah. Akhirnya para sumber daya manusia yang ia didik tidak bisa kerja di dalam negeri. 

"Dibubarkan. Ke mana mereka? Boeing, Airbus, Brasil, Turki, semua," katanya.

Saat ini Habibie kembali mengembangkan pesawat penumpang baling-baling penerus dari N250, yaitu R80 dengan kapasitas 80 penumpang. Pesawat ini kini masih dalam studi, harapannya 2016 nanti sudah bisa diproduksi massal, bahkan maskapai Sriwijaya A‏ir sudah memesan untuk anak usahanya NAM Air.

http://m.detik.com/finance/read/2013/10/11/124617/2384508/1036/




No comments: