Showing posts with label industri kapal indonesia. Show all posts
Showing posts with label industri kapal indonesia. Show all posts

Monday, August 12, 2013

Kerjasama Pembangunan Kapal Selam Ke-3 Indonesia-Korsel Semakin Meningkat


Jakarta, Proyek kerjasama pertahanan antara RI dan Korea Selatan khususnya dalam rangkaian pengadaan Alutsista jenis Kapal Selam mengalami perkembangan yang semakin meningkat. Indonesia telah memesan tiga Unit Kapal Selam kelas Changbogo dari Korea Selatan dengan proses alih teknologi kepada Indonesia. Rencananya dua kapal selam ini akan diproduksi di galangan Daewoo Shipbuilding Marine Engineering co.ltd, dan kapal selam ke tiga akan dikerjakan oleh ahli Indonesia di galangan PT PAL.

Asisten Kerjasama Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) sekaligus komisaris PT PAL, Silmy Karim, Selasa (2/7) di Kantor Kemhan mengatakan kepada wartawan, bahwa rencana pembangunan kapal selam ke tiga di galangan PT PAL sudah sesuai dengan rencana dan terdapat kemajuan dalam proses persetujuannya.

Kemajuan rencana menjadi salah satu pembahasan pada forum pertemuan Defence Industry Coorporation Commiittee (DICC) RI - Korea ke 2 yang diselenggarakan belum lama ini di Korea Selatan. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sekjen Kemhan RI Letjen TNI Budiman menghadiri pertemuan tersebut guna membahas perkembangan kerjasama pertahanan RI – Korea Selatan khususnya pengadaan Alutsista.

Terkait beberapa kemajuan rencana produksi kapal selam ke 3 RI – Korea, Silmy Karim menjelaskan saat ini kedua negara sedang dalam tahap penyiapan design, pengiriman personel ahli Indonesia ke Korea dan penyediaan fasilitas pembangunan kapal selam di galangan PT PAL Surabaya.

Ditambahkan Silmy Karim, guna melaksanakan langkah awal proyek pembangunan Kapal Selam ke 3 dari Korea Selatan, Pemerintah Indonesia mengirimkan sekitar 190 personel yang terdiri dari user (Pengguna), TNI AL, perwakilan SDM Riset dan Teknologi (Ristek), Tim Akademisi, serta pihak industri pertahanan dalam negeri yang terkait.

“ Dengan pengiriman 190 personel tersebut, menandakan Korea Selatan lebih membuka diri kepada Indonesia dalam hal Transfer of Technology (ToT),” Ujar Silmy Karim.

Selama personel Indonesia berada di Korsel akan mendapatkan Alih Teknologi (ToT) kapal selam yang tergolong kompleks dan rumit, serta harus dapat dipelajari baik melalui metode Learning by Seeing, maupun Learning by Doing sesuai dengan kesepakatan negara maupun peraturan-peraturan yang di berlakukan oleh Pemerintah Korsel.

Menurut Silmy Karim, fasilitas galangan dijadwalkan akan selesai dbangun pada Desember 2014, dan Januari 2015 pembangunan kapal selam "steel cutting" tersebut dapat dilaksanakan. Pembangunan kapal selam ini membutuhkan waktu sekitar 40 bulan atau tiga tahun maka di perkirakan kapal selam ke 3 dari hasil produksi Indonesia akan selesai pada tahun 2018. (DMC--Defence Media Center)

Thursday, August 1, 2013

Indonesia Akan Membuat Kapal Selam dan Jet Tempur Buatan Dalam Negeri


Kapal Selam milik TNI AL, KRI Cakra

Indonesia akan segera membangun infrastruktur pembuatan kapal selam di Surabaya melalui PT PAL. Paling lambat, infrastruktur industri pembuatan kapal selam itu akan terbangun dalam 2 tahun ke depan. "Rencananya infrastruktur pembuatan kapal selam akan dibuat di Surabaya melalui PT PAL. Karena itu, dibutuhkan infrastruktur untuk pembangunan kapal selam," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Skuadron Pesawat tempur milik TNI AU
Tak hanya infrastruktur industri kapal selam, pemerintah juga berencana membangun industri jet tempur. Menurut Purnomo, pembangunan infrastruktur kapal selam dan jet tempur itu akan dijadikan proyek nasional. Hal itu sudah dibicarakan dalam sidang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ke 9.

Oleh karena itu, agar tidak menemui hambatan, diperlukan payung hukum untuk program ini. "Butuh dukungan parlemen karena program ini pasti akan melalui lintas parlemen. Dibutuhkan payung hukum agar menjadi proyek nasional," ucap Purnomo. Sebagai negara kepulauan, kata dia, keberadaan kapal selam dan jet tempur sangat diperlukan untuk menjaga kedaulatan Indonesia hingga batas luar. Jika infrastruktur ada, pembuatan kapal selam bisa dilakukan di Indonesia.

Untuk membangun infrastruktur pembuatan kapal selam, Indonesia akan bekerjasama secara khusus dengan Korea Selatan. Kerjasama kedua negara akan dilakukan mulai dari kesepakatan lisensi, enginering manufacturing development, hingga prototipe.

Sementara, dalam pembuatan Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment bersama Korsel, tahap yang sudah selesai dilaksanakan mencakup tahap teknologi desain. Dua tahun ke depan, ditargetkan akan mencapai tahap enginering manufacturing development dan prototipe.

"Dari sisi teknis, kita juga sudah kirim 52 ahli untuk belajar teknologi design," ucap Purnomo. Pramono menambahkan, pada tahun 2012, KKIP juga telah menghasilkan sejumlah produk kebijakan. Dalam hal penyusunan regulasi, di antaranya disahkannya UU No 16 tahun 2012 tentang industri pertahanan. Sumber : EBY (Edhie Baskoro Yudhoyono)




Monday, May 6, 2013

Indonesia Akan Segera Miliki Pabrik Kapal Selam Modern

Kapal Selam Angkatan Laut Korea Selatan kelas Changbogo. Kapal selam jenis ini yang dibeli oleh Indonesia melalui mekanisme transfer teknologi. PT PAL akan membangun pabrik kapal selam kelas ini pula pada 2017.

Sebuah negara akan menjadi sangat kuat pertahanannya jika memiliki industri pertahanan yang integratif atau terpadu. AS misalnya, militernya sangat kuat karena mereka memiliki semuanya : pabrik pesawat, pabrik kapal, pabrik kapal selam, pabrik senjata, dan teknologi elektronika yang sangat maju.

Di Asia, Korea Selatan dan China tengah membangun industri pertahanan juga secara terpadu. Korea Selatan punya pabrik pesawat tempur, kapal, kapal selam, dan teknologi digital yang sangat maju.

Di Asia Tenggara, hanya Indonesia yang punya hal serupa, yakni industri lengkap untuk ketiga matra pertahanan : laut, udara, dan darat. Indonesia memiliki semuanya, yakni pabrik pesawat (PT DI), pabrik kapal (PT PAL untuk kapal besar dan beberapa pabrik kapal untuk ukuran lebih kecil), PT PINDAD (pabrik kendaraan tempur darat seperti panser dan Tank), LAPAN (untuk pengembangan roket dan senjata rudal balistik), dan teknologi tinggi digital (semi konduktor) (yakni PT LEN dan PT INTI), dan PT INKA untuk pengembangan transport darat seperti kereta api cepat dan mobil.

Semua industri tersebut harus bersinergi. LAPAN konsentrasi dalam pengembangan roket dan satelit, teknologi penginderaan terkait RADAR dan teknoilogi komunikasi. PT DI bisa diarahkan sebagai industri pesawat tempur dan komersil. PT PAL bisa diarahkan untuk kapal-kapal militer untuk berbagai ukuran, sampai pada kapal besar untuk kapal induk.

Satu lagi pabrik akan dibangun untuk melengkapi pabrik PT PAL yang sudah ada sebagai penghasil kapal permukaan laut, yakni pabrik kapal selam. TNI AL sangat optimis mampu merealisasikan pembangunan pabrik kapal selam secara mandiri pada tahun 2017, jadi sebentar lagi.

Indonesia telah belajar dari Korea Selatan dalam membuat kapal selam ini, dan Korea Selatan adalah salah satu sahabat terbaik Indonesia setelah Jerman yang cukup dekat dengan Indonesia yang cukup 'trust" pada kita. Di samping itu, Indonesia juga belajar dari China dalam membuat rudal balistik untuk jarak menengah. Sedangkan Amerika Serikat....   ?  Lupakan Sang Paman Sam itu karena dia tak akan pernah mau melakukan transfer teknologi ke Indonesia. AS hanya mau melakukan transfer ilmu-ilmu sosial seperti Ekonomi, Sosiologi, Hukum, dan lain-lain untuk mencuci otak ekonom-ekonom kita agar pro-liberalisasi, memuluskan niat mereka membangun kelompok elit "Mafia Berkeley". Mereka mau kasih beasiswa bidang hukum untuk memuluskan pembangunan infrastruktur hukum guna memuluskan Freeport, Newmont, dan lain-lain menancapkan kakinya lewat klausul perjanjian yang tidak adil, merugikan Indonesia. Undang-undang penanaman modal yang pro asing.

Ok, kita lupakan negeri Yankee. Kita kembali fokus ke informasi menyenangkan ini : Indonesia akan segera memiliki pabrik kapal Selam.


Pembangunan pabrik modern untuk pembuatan kapal selam TNI Angkatan Laut di Indonesia ditargetkan dapat direalisasikan tahun 2016 atau 2017. Sebab, kapal selam pertama yang dibuat oleh Korea Selatan baru selesai tahun 2014.

"Pembangunan pabrik semua tergantung komitmen pemerintah. Pemerintah mutlak menyokong pendanaannya. Tanpa itu saya kira sangat sulit pembangunan kapal selam bisa direalisasikan di Indonesia," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati di sela seminar tentang "Teknologi Perkapalan sebagai Bagian dari Peradaban Maritim Indonesia", di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Rabu.

Ia berharap sudah ada perencanaan dari sekarang agar pada waktunya nanti pengerjaan kapal selam ketiga itu lancar tanpa kendala.

"Keberadaan pabrik modern untuk membuat kapal selam menjadi kendala serius kita saat ini," kata Untung.

Pembangunan pabrik modern ini, tambah dia, bukan persoalan sederhana karena selain membutuhkan banyak sumber daya manusia yang andal. Pemerintah pun harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, ia berharap sumber daya manusia yang sudah dikirim ke Korea benar-benar menyerap ilmu secara komprehensif.

"Ketika secara keilmuan sudah memenuhi syarat, baru kemudian pemerintah mempersiapkan pabriknya," katanya.

Indonesia sudah sepakat melakukan transfer teknologi kapal selam dengan Korea Selatan, dimana akan dibuat tiga unit kapal selam. Untuk kapal selam pertama, pihak Indonesia hanya memantau pengerjaannya di Korea Selatan.

Selanjutnya, kata dia, pada pembuatan kapal kedua, teknisi di Indonesia dilibatkan dalam membuat kapal selam. Namun, pembuatannya tetap dilakukan di Korea Selatan.

Sementara untuk kapal selam ketiga, Indonesia akan membuat sendiri kapal itu di galangan kapal PT PAL. "Pada tahap inilah Indonesia harus mempersiapkan peralatannya. Termasuk membuat pabrik baru untuk mendukung pembangunannya," jelas Untung.

Ia juga memastikan Pangkalan Kapal Selam yang disiapkan di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, bisa diresmikan pada akhir tahun 2013.

"Hingga kemarin (minggu lalu) saat Kepala Staf Angkatan Laut (Laksamana Marsetio) berkunjung ke sana, pangkalan sudah rampung lebih dari 90 persen. Diharapkan akhir tahun ini diresmikan," katanya menjelaskan.

Pangkalan seluas 13 hektare inilah yang nantinya digunakan untuk menyimpan semua kapal selam yang dimiliki Indonesia, termasuk untuk menyimpan kapal selam baru yang saat ini dibuat di Korea Selatan. (Investor Daily)

Dapat uang melalui internet

Monday, April 15, 2013

Pembangunan Pabrik Kapal Selam 2017



Pembangunan Pabrik Kapal Selam Ditargetkan 2017
Rabu, 10 April 2013 | 20:10


JAKARTA - Pembangunan pabrik modern untuk pembuatan kapal selam TNI Angkatan Laut di Indonesia ditargetkan dapat direalisasikan tahun 2016 atau 2017. Sebab, kapal selam pertama yang dibuat oleh Korea Selatan baru selesai tahun 2014.
Sekitar 2/3 negara kita merupakan wilayah laut, sehingga perlu dijaga kapal selam. Jumlah kapal selam yang ditargetkan lebih dari 10 kapal selam
Sekitar 2/3 negara kita merupakan wilayah laut,
sehingga perlu dijaga kapal selam. Jumlah
kapal selam yang ditargetkan lebih dari 10 kapal selam

"Pembangunan pabrik semua tergantung komitmen pemerintah. Pemerintah mutlak menyokong pendanaannya. Tanpa itu saya kira sangat sulit pembangunan kapal selam bisa direalisasikan di Indonesia," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati di sela seminar tentang "Teknologi Perkapalan sebagai Bagian dari Peradaban Maritim Indonesia", di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Rabu.

Ia berharap sudah ada perencanaan dari sekarang agar pada waktunya nanti pengerjaan kapal selam ketiga itu lancar tanpa kendala.

"Keberadaan pabrik modern untuk membuat kapal selam menjadi kendala serius kita saat ini," kata Untung.

Pembangunan pabrik modern ini, tambah dia, bukan persoalan sederhana karena selain membutuhkan banyak sumber daya manusia yang andal. Pemerintah pun harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, ia berharap sumber daya manusia yang sudah dikirim ke Korea benar-benar menyerap ilmu secara komprehensif.

"Ketika secara keilmuan sudah memenuhi syarat, baru kemudian pemerintah mempersiapkan pabriknya," katanya.

Indonesia sudah sepakat melakukan transfer teknologi kapal selam dengan Korea Selatan, dimana akan dibuat tiga unit kapal selam. Untuk kapal selam pertama, pihak Indonesia hanya memantau pengerjaannya di Korea Selatan.

Selanjutnya, kata dia, pada pembuatan kapal kedua, teknisi di Indonesia dilibatkan dalam membuat kapal selam. Namun, pembuatannya tetap dilakukan di Korea Selatan.

Sementara untuk kapal selam ketiga, Indonesia akan membuat sendiri kapal itu di galangan kapal PT PAL. "Pada tahap inilah Indonesia harus mempersiapkan peralatannya. Termasuk membuat pabrik baru untuk mendukung pembangunannya," jelas Untung.

Ia juga memastikan Pangkalan Kapal Selam yang disiapkan di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, bisa diresmikan pada akhir tahun 2013.

"Hingga kemarin (minggu lalu) saat Kepala Staf Angkatan Laut (Laksamana Marsetio) berkunjung ke sana, pangkalan sudah rampung lebih dari 90 persen. Diharapkan akhir tahun ini diresmikan," katanya menjelaskan.

Pangkalan seluas 13 hektare inilah yang nantinya digunakan untuk menyimpan semua kapal selam yang dimiliki Indonesia, termasuk untuk menyimpan kapal selam baru yang saat ini dibuat di Korea Selatan. (Investor Daily/tk/ant)


Kata duta Besar Rusia Alexander A. Ivanov :
"Indonesia telah membeli kapal selam tipe BNV dengan tipe terbaru dengan teknologi termodern dari Rusia. Kapal selam ini antara lain mampu mengejar target dalam posisi di dalam laut ataupun di permukaan laut. Bentuk kerja sama lainnya, ujar Ivanov, adalah pembentukan pusat pelayanan kapal selam tersebut dan akan dikelola oleh Angkatan Laut Indonesia. “Ini langkah lebih maju dari kerja sama untuk transfer teknologi dari Rusia ke Indonesia"



Saturday, April 6, 2013

ITS "panen" pesanan kapal

Kapal Timaran yang sistem dan prosedur bakunya akan diuji secara laboratoris oleh ITS untuk mencegah kebakaran dalam kelanjutan program. Anggota konsorsium kapal perang ITS, Dr Subchan mengatakan, "Program itu harus terus dilanjutkan, apalagi teknologi yang dimiliki KRI Klewang itu hanya dimiliki oleh 3-4 negara saja di dunia." SOP penting sejak dari tahap desain, pemilihan material, pengerjaan, hingga uji coba kapal secara laboratoris..Kebakaran Klewang beberapa waktu yang lalu menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa material kapal harus diuji dulu di laboratorium sebelum dibuat permanen.   

ITS "panen" pesanan kapal

Minggu, 19 Februari 2012 07:20 WIB | 4953 Views


Ilustrasi (ANTARA/Feri)
Surabaya (ANTARA News) - ITS yang dikenal sebagai universitas teknologi dengan keahlian teknologi perkapalan, energi, dan kelautan kini "panen" pesanan kapal dari berbagai kalangan, di antaranya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), dan bahkan sejumlah kalangan asing.

"PGN memesan kapal untuk mendukung `Floating Storage and Regasification Unit (FSRU)` PGN dan ITS terlibat mulai tahap perancangan hingga mengawasi pembangunan kapal-kapal pendukung FSRU itu," kata Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Prof Eko Budi Djatmiko, di Surabaya, Minggu.

Pesanan itu sendiri merupakan salah satu bagian dari serangkaian kerja sama yang tertuang dalam "Memorandum of Understanding" (MoU) PGN-ITS yang meliputi bidang jasa konsultasi, pendidikan, penelitian dan pengembangan rancang bangun dan rekayasa.

"Jadi, PGN akan melibatkan ITS dalam mendukung distribusi dan transportasi gas domestik. Itu penting bagi ITS guna mendukung strategi ITS untuk meraih `international recognition` di bidang kelautan dan perkapalan," katanya.

Saat ini, katanya, PGN sendiri telah mengoperasikan FSRU di Sumatera Utara, Labuhan Maringgai, dan Belawan, namun pemerintah juga menuntut PGN untuk mengembangkan fasilitas LNG dan memperbanyak unit FSRU.

Oleh karena itu, PGN memesan kapal kepada ITS, karena FSRU itu memerlukan kapal-kapal pendukung dalam operasionalnya, seperti "tug boat", "crew boat", dan "mooring boat".

"PGN yang diwakili Direktur Teknologi dan Pengembangan, Jobi Trinanda Hasjim, telah menandatangani kerja sama PGN-ITS itu pada 17 Februari lalu. Kerja sama untuk kurun waktu 36 bulan itu akan menjadi langkah awal yang baik untuk PGN dan ITS," katanya.

Tidak hanya itu, Pembantu Rektor IV ITS Surabaya Prof Dr Darminto MSc menyatakan Kemenristek juga memesan desain kapal patroli rudal kepada ITS.

"Ada 16 konsorsium yang terlibat dalam proyek kapal patroli rudal itu dan ITS diminta untuk membantu dalam desain atau perancangan, tapi ITS juga diminta untuk mengawasi sampai kapal itu benar-benar terwujud," katanya.

Ia menilai kepercayaan pemerintah itu menunjukkan adanya pengakuan atas kemampuan bangsa sendiri dalam merancang dan memproduksi kapal sesuai kebutuhan.

"Itu bagus, karena Indonesia merupakan kawasan bahari dengan 2/3 merupakan kawasan laut, sehingga orientasi ke laut itu penting, terutama kapal-kapal sederhana untuk mewujudkan `connecting` antar-pulau," katanya.

Apalagi, tenaga ahli lokal cukup tersedia di ITS, termasuk tenaga ahli yang berstandar RINA, bukannya justru membayar tenaga ahli asing dengan biaya mahal.

Hal itu dibenarkan seorang ahli perkapalan dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) ketika dikonfirmasi ANTARA tentang keahlian lokal dalam bidang pembuatan kapal, baik kapal sederhana maupun kapal besar.

"Kalangan asing saja pesan kapal kepada kami, kok. Tapi, pesanan itu lucu, karena pesanan itu berasal dari institusi di Indonesia, lalu mereka (asing) memberikan proyek itu kepada PPNS dan hasilnya dijual lagi kepada institusi dari Indonesia yang memesannya itu," katanya, enggan disebut namanya.

Ia menambahkan PPNS justru mendidik mahasiswa untuk menjadi tenaga ahli, karena itu PPNS yang setiap tahunnya menerima pesanan 6-7 kapal antar-pulau dari sejumlah pemerintah daerah itu selalu menyerahkan proses pengerjaannya kepada para mahasiswa dengan bimbingan dosen. (ANT)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012

Monday, March 18, 2013

Dahlan: PT PAL Fokus Bangun Kapal Militer


Kapal Perang KRI Banjarmasin - 592, buatan PT PAL Indonesia
Kapal Perang KRI Banjarmasin - 592, buatan PT PAL Indonesia(Antara/ Widodo S Jusuf)

Dahlan: PT PAL Fokus Bangun Kapal Militer

Sebab, Kementerian Pertahanan banyak memberikan order pembuatan kapal ke PT PAL.

ddd
Kamis, 23 Februari 2012, 16:36Antique, Iwan Kurniawan

Pembuatan Kapal PKR dari Belanda dan Kapal Selam dari Korea ditargetkan selesai 2016, setelah itu PT PAL akan membuat unit lainnya (photo : Schelde)
VIVAnews - Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, melarang PT Penataran Angkatan Laut (PAL) untuk menerima order pembuatan kapal-kapal niaga, dan diminta fokus untuk menggarap industri perkapalan militer.

Pelarangan ini disebabkan pada tahun ini hingga yang akan datang, Kementerian Pertahanan banyak memberikan order pembuatan kapal ke PT PAL.

"Di masa lalu, order kapal niaga membuat PAL kesulitan luar biasa. Sebab, ada order kontrak kurang bagus, kapal hampir jadi dibatalkan," kata Dahlan di Jakarta, Kamis, 23 Februari 2012.

Yang terpenting bagi Dahlan adalah PT PAL harus hidup dahulu dari pesanan pembuatan kapal militer oleh Kementerian Pertahanan. Apalagi, anggaran dari Kementerian Pertahanan sangat besar dan pasti turun.

Selain itu, Dahlan telah merombak jajaran direksi PT PAL. Salah satunya adalah mengganti dirutnya dari Harsusanto menjadi M Firmansyah Arifin. Perombakan direksi PT PAL ini karena dirinya menganggap direksi PT PAL yang lama tidak mencerminkan dream team.

Penunjukan Firmansyah karena dipandang berpengalaman di bidang perkapalan, terutama saat dia memimpin PT Dok Perkapalan Surabaya.
Manajemen Dok Perkapalan Surabaya, Dahlan melanjutkan, telah sukses membangkitkan salah satu BUMN duafa, PT Industri Kapal Indonesia yang mati suri setelah manajemen masuk.

Dua tahun ke depan, direksi PT PAL diminta untuk fokus melayani Kementerian Pertahanan. Setelah manajemen baru teruji dengan baik, direksi dapat melebarkan sayap ke bisnis perkapalan yang lain. (art)

PT PAL Bikin Kapal Selam Sendiri


Kapal selam

PT PAL Bikin Kapal Selam Sendiri

Saat ini PT PAL tengah mentransfer teknologi dari Korea Selatan.

ddd
Minggu, 17 Maret 2013, 18:41Hadi Suprapto, Tudji Martudji (Surabaya)


VIVAnews - PT PAL Indonesia optimistis lima tahun ke depan mampu merenovasi dan membangun kapal selam sendiri. Tekad itu dibuktikan dengan diikutkannya karyawan PT PAL Indonesia dalam Transfer of Technology (ToT) di Korea Selatan.

Direktur Utama PT PAL Indonesia, Firmansyah Arifin, menyebut saat ini karyawannya tengah mengikuti seleksi internal. "Tahun lalu kami sudah mengikuti ToT di Belanda, dan tahun ini ke Korea," kata Firmansyah.

Sebelumnya PT PAL Indonesia ditunjuk Kementerian Pertahanan membangun kapal militer dengan dua negara tersebut. Kerjasama membangun Kapal Cepat Rudal (KCR) dengan Belanda telah selesai. Kini giliran dengan Korea untuk membangun kapal selam.

Optimisme bisa membangun kapal selam di dalam negeri itu dikuatkan dengan program pemerintah yang mengucurkan anggaran melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) pembangunan kapal. Anggaran US$150 juta itu tidak hanya untuk membangun kelengkapan militer, tetapi juga doking untuk kapal militer.

"Selama ini untuk overhoul kapal selam harus dilakukan di Korea, setiap lima tahun sekali dengan biaya yang cukup besar," kata mantan Direktur Utama PT Dok Perkapalan Surabaya itu.

Dia optimistis langkah PT PAL sudah tepat. Usai pegawainya selesai mengikuti ToT di Korea, PT PAL mampu mandiri mendukung langkah strategis pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan kapal, termasuk mencegah perputaran uang ke luar negeri. (umi)