Showing posts with label PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Show all posts
Showing posts with label PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Show all posts

Saturday, October 11, 2014

Sekarang RI Bisa Ekspor Senjata dan Kapal Perang

Feby Dwi Sutianto - detikFinance

Subang - Pemerintah memandang industri pertahanan Indonesia saat ini sudah mampu memproduksi barang berkualitas ekspor. Apalagi ada program transfer teknologi yang digagas oleh Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). 

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menyebut, industri pertahanan Indonesia bisa mengekspor produk pertahanan canggih, seperti kapal perang tipe Landing Platform Dock (LPD-125) ke Filipina.

"Contoh kapal LPD, yang dibangun di PAL. Sekarang ekspor ke Filipina. Timor Leste juga ingin beli," kata Purnomo di Kantor Pusat Dahana, Subang, Jawa Barat, Jumat (10/10/2014).

Ekspor yang dilakukan oleh PT PAL Indonesia (Persero), tidak lepas dari program transfer teknologi yang diberikan oleh Korea Selatan. Awalnya Kemenhan memberi order kepada Korsel, namun dengan melibatkan PAL.

"Partner mau transfer seperti Korsel untuk bikin kapal LPD 7 tingkat. Itu kapal markas bisa angkut tank," sebutnya.

Selain kapal perang, industri pertahanan Indonesia juga mengeskpor peralatan tempur, seperti senjata SS1 dan Panser ANOA buatan PT Pindad. Tidak hanya itu, Indonesia juga menjual baju militer hingga helm tahan peluru. 

Bahkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) juga telah menjual pesawat ke berbagai negara.

Saat ini, Indonesia juga sudah memasuki pengembangan pesawat tanpa awak, produksi propelan, jet tempur, kapal selam, hingga tank. 

Purnomo memandang produk pertahanan Indonesia berpotensi besar merangsek pasar Asia Tenggara. Apalagi anggaran militer negara ASEAN sangat tinggi, sehingga itu menjadi peluang.

"Negara-negara ASEAN rata-rata pengeluaran militer US$ 8-9 miliar. Kalau dikali 10 bisa US$ 80 miliar. Itu besar," terang. 


Thursday, August 29, 2013

Kemenhan Tertarik Pesawat Terbaru N 219 PT DI


JAKARTA--Pesawat komersil yang baru dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (DI), N 219 sangat diminati di dalam negeri. Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan beberapa gubernur di Indonesia menyatakan tertarik dengan pesawat berkapasitas 19 orang ini.

''Kemenhan, pesan untuk menggantikan Nomad angkatan laut,'' ujar Program Manager N219, Director of Technology and Development, PT DI, Budi Sampurno kepada wartawan di acara Pameran Ritech Expo 2013, Kamis (29/8). 

Menurut Budi, harga pembelian N219 tersebut bervariasi tergantung operasional yang akan dipasang di pesawat apa saja. Harga dasar pesawat tersebut berkisar 4,2 juta dolar Amerika. Sementara, untuk tipe operasional komplit harga bisa mencapai 5 juta dolar Amerika.

''N219 dengan Kemhan, baru MoU belum deal sampai kontrak. Pengerjaannya, jadi harus melihat dulu nanti,'' katanya. 

Budi mengatakan PT DI menargetkan pengerjaan N219 ini satu bulan bisa 2 pesawat. Meski, normalnya sekarang satu bulan menyelesaikan satu unit. ''Banyak pesanan, tentu kami akan meningkatkan kapasitas produksi per tahunnya jadi bisa dibuat 24 unit per tahun,'' katanya.

Kapan pesawat pesanan Kemhan akan dikerjakan? Budi mengatakan pengiriman untuk Kemhan masih model CN235 untuk angkatan laut. Tahun ini dijadwalkan pengiriman 3 unit dari total pesanan sebanyak 5 unit. (Republika.co.id)



Prof. Habibie Tegaskan R80 Dibuat Lebih Hebat


Jakarta  - Mantan Presiden BJ Habibie mengatakan pesawat Regio Prop 80 (R80) yang diproduksi PT Ragio Aviasi Industri (RAI) dalam tahap pembuatan awal dan dikembangkan lebih hebat dari pesawat N250. 

"Kita buat lebih hebat. It`s a surprise, you`ll see it, ok (Ini adalah kejutan, kamu akan melihatnya, ok)," kata Habibie usai berpidato di Rakornas Riset dan Teknologi (Rakornas Ristek) di Jakarta, Rabu. 

Menurut dia, pesawat R80 yang akan dibuat berdaya tampung 80 kursi dan ditargetkan terbang 2018 ini akan memanfaatkan pengalaman membuat pesawat N250.

Sebelumnya diberitakan bahwa pesawat R80, menurut Komisaris PT RAI Ilham A Habibie, merupakan The Next N250 yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara Indonesia. 

Ia mengatakan saat ini pembuatan R80 masih dalam tahap pembuatan awal atau 10 persen. Kemampuan, desain, dan teknologi pesawat ini mirip N250, meski dari segi ukuran akan lenih besar dan panjang.

Pesawat R80, menurut dia, tetap menggunakan baling-baling di bagian atas badan pesawat sebagai penggerak pesawat seperti N250. Dengan menggunakan baling-baling maka konsumsi bahan bakar akan jauh lebih irit.

R80 ini, lanjutnya, didesain untuk jarak tempuh kurang dari 600 km, karena itu dapat dipastikan akan semakin irit bahan bakar. Sedangkan untuk produksi tahap awal, menurut dia, diperlukan dana 400 juta dolar AS. (Antara News)



Saturday, August 24, 2013

TNI AU akan terima dua pesawat CN-295 bulan depan


Kupang - Kolonel dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan Gita Amperiawan mengatakan TNI Angkatan Udara akan kembali menerima pesawat transportasi teknis jenis CN-295 pada bulan depan.

"Dari sembilan pesawat CN-295 yang kita pesan untuk skuadron dua TNI AU tahun ini, sebanyak dua pesawat kan sudah datang, sudah dipakai. Dua lagi akan datang 35 hari mendatang, atau kira-kira bulan depan lah," kata Kolonel dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan Gita Amperiawan, kepada wartawan di sela-sela perjalanan dari Jakarta menuju Kupang menumpang pesawat CN-295, bersama rombongan Kementerian BUMN, Jumat (23/8) malam.

Pesawat CN-295 merupakan pesawat yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia, namun saat ini masih dirakit di Spanyol. 

Gita mengatakan meskipun dirakit di Spanyol, namun dua pesawat CN-295 yang telah datang, dilakukan pengecatan dan penyelesaian di Indonesia. Pesawat ketiga dan keempat yang diperkirakan tiba September, juga akan dicat dan diselesaikan di Indonesia. 

Kemudian pesawat kelima, keenam dan ketujuh yang datang selanjutnya, akan mulai dikustomisasi di Indonesia. Sedangkan pesawat kedelapan dan kesembilan sepenuhnya akan dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Indonesia.

"Dan mulai tahun depan, mudah-mudahan PT Dirgantara Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri di Indonesia," kata dia.

Dia mengatakan TNI AU akan terus menambah pesawat jenis CN-295 hingga berjumlah 16 buah untuk memenuhi kebutuhan skuadron dua TNI AU di Halim Perdanakusuma, Jakarta. 

Dia menjelaskan, pesawat jenis CN-295 berkapasitas penumpang 79 orang (jika dimodifikasi dengan bangku model memanjang). Pesawat tipe medium itu memiliki kekuatan mesin dan kecepatan lebih besar dibandingkan tipe sebelumnya yakni CN-235.

"Kemampuan terbangnya sembilan jam jika bahan bakar penuh," ujar dia.

Menurut dia, CN-295 merupakan pesawat khusus transportasi baik untuk prajurit maupun logistik. Dalam kondisi perang, pesawat jenis tersebut harus dikawal oleh pesawat tempur, karena CN-295 tidak dirancang untuk bertempur.

"Pesawat ini tidak dipersenjatai dan memang tidak bisa dipasangkan senjata, hanya khusus untuk `dropping` pasukan dan logistik. Jadi dalam kondisi perang harus ada pesawat `escort` atau pendamping," kata dia. (ANTARA News)



Beli 100 N-219, Lion Air Rogoh Kocek Rp 5 Triliun


JAKARTA - Rencana Lion Air membeli 100 unit pesawat N-219 produksi BUMN PT Dirgantara Indonesia akan segera terwujud. Nota kesepahaman (MoU) pembelian pesawat perintis tersebut akan ditandatangani kedua belah pihak pada pekan depan.
Menteri Ristek Gusti Muhammad Hatta mengatakan, MoU pembelian pesawat akan ditandatangani dirut Lion Air dan dirut PT DI di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi di Jakarta 28 Agustus mendatang. "Nilai transaksinya belum diketahui karena baru akan disebutkan pada saat penandatanganan MoU," kata Gusti di kantornya kemarin (23/8).
Harga pesawat berkapasitas 19 penumpang tersebut diperkirakan USD 4,5 juta hingga USD 5 juta per unit. Dengan demikian, nilai transaksi untuk 100 unit pesawat diperkirakan akan mencapai sekitar Rp 5 triliun. Meski demikian, uang tersebut tidak akan langsung diterima, karena pengiriman tiga unit pesawat baru akan dilakukan mulai 2016 dan tahun berikutnya menyusul akan diserahkan tiga pesawat.
Pada tahap awal, PT DI baru menggunakan 30 persen komponen lokal dan pada tahap berikutnya ditargetkan komponen lokal akan meningkat jadi 60 persen. Komponen yang masih perlu diimpor antara lain mesin pesawat dan peralatan elektronik atau navigasi. Kedua komponen tersebut lebih ekonomis bila membeli dibandingkan membuat sendiri.
Gusti mengatakan, pesanan dari Lion mampu membangkitkan semangat PT DI yang telah merancang pesawat baling-baling tersebut sejak 2006. "Kalau tidak ada yang membeli maka tentu saja produksi dalam negeri tidak akan berkembang," katanya.
Pesawat N-219 merupakan pesawat penumpang yang ditujukan untuk melayani bandara-bandara perintis dan pulau-pulau terpencil. Pesawat ini mampu lepas landas dari landasan pacu sepanjang 600 meter dan berkontur tidak rata. Mesin yang digunakan juga kuat karena berkekuatan 850 shaft horse power.
Sejak tahun lalu, PT DI telah membuat pesawat prototipe senilai Rp 300 miliar untuk static test dan uji produksi mesin. Pesawat purwareka tersebut telah lolos tes aerodinamika di laboratorium Badan Pengkajian Penerapan Teknologi di Serpong serta ditargetkan memperoleh sertifikat laik terbang pada 2014. (JPPN.com)



Friday, August 16, 2013

Dahlan Iskan "Jualan" Pesawat PT DI Sampai ke Mekkah


JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengadakan pertemuan dengan Presiden Islamic Development Bank (IDB) Ahmed Mohammed Ali di Clock Tower depan Masjidil Haram, Makah.

Dalam pertemuan tersebut Dahlan meminta agar IDB bisa mendukung ekspor pesawat-pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia, Bandung, melalui fasilitas kredit ekspor IDB. Pasalnya, saat ini Industri pesawat terbang Indonesia tersebut sedang menawarkan pesawat untuk Bangladesh dan beberapa negara Afrika.

"Penjualan pesawat PT Dirgantara Indonesia akan lancar kalau bisa menggunakan kredit ekspor, karena negara pembeli biasanya minta sekalian pembiayaannya," kata Dahlan seperti dituturkan Kepala Humas Kementerian BUMN Faisal Halimi di Jakarta, Selasa (6/8/2013).

Dahlan menilai, Ahmed yang datang dari Jeddah didampingi Ahmed Saleh Hariri, pimpinan IDB devisi Asia Selatan dan Tenggara, sangat antusias menyambut menyambut usulan tersebut. Karena, IDB memang menyediakan kredit ekspor untuk negara-negara anggota, dan menurutnya Indonesia sebagai salah satu pendiri IDB 39 tahun lalu, memegang peran penting dalam IDB.

Dahlan mengatakan, IDB telah tertarik untuk memberikan fasilitas kredit ekspor bagi Bangladesh, dan kemungkinan untuk negara lain yang tertarik membeli pesawat PT Dirgantara Indonesia, namun terhalang masalah pembiayaan seperti Filipina.

Selama tiga tahun ke depan, IDB menyediakan fasilitas pendanaan sampai Rp30 triliun, dan pada akhir tahun ini akan segera membuka kantor di Jakarta sebab selam ini untuk Asia Tenggara IDB hanya berkantor di Kuala Lumpur.

"Ahmed mengatakan mengenal baik industri pesawat Indonesia, karena pernah diajak BJ Habibie ke Bandung di awal 1990-an," lanjut Dahlan seperti dijelaskan Faisal.

Dahlan mengatakan, Ahmed berharap IDB bisa mendukung ekspor pesawat-pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia  Bandung melalui fasilitas kredit ekspor IDB dan tetap bisa menjalin kerjasama dengan BUMN untuk mengembangkan perekonomian Indonesia.

"Ahmed menyatakan kegembiraannya mendengar paparan saya bahwa kini PT DI memperoleh kemajuan besar, dan untuk pertama kalinya tidak lagi rugi," tutur dia. (Okezone)





Lion Air Borong 100 Pesawat dari PT DI



JAKARTA - PT Dirgantara Indonesia (DI) menyatakan maskapai penerbangan swasta dalam negeri Lion Air telah memesan pesawat jenis N219 buatan Dirgantara Indonesia. Setelah memesan 50 unit pesawat jenis N219 pada pekan lalu, kali ini Lion Air kembali memesan 50 unit pesawat.

Manajer Komunikasi PT DI Sonny Saleh Ibrahim mengatakan, pemesanan yang dilakukan pihak Lion Air terjadi pada saat liburan Hari Raya Lebaran tahun ini. Dimana, Direktur Utama PT DI Budi Santoso yang didampingi oleh Direktur Teknologi PT DI Andi Alisjahbana telah bertemu dengan CEO Lion Air Rusdi Kirana.

"Lion Air merencanakan akan memiliki 1.000 pesawat berbagai jenis, di mana 100 unit di antaranya adalah N219 pesawat multiguna 19 penumpang. PT DI sudah merintis pengembangannya sejak 2007," ucap Sonny ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Jumat (16/8/2013).

Sonny menyebutkan, pada 2015, PT DI akan segera merampungkan dua unit pesawat sebagai prototype. Begitu pula proses sertifikasi dua pesawat prototype yang akan diselesaikan pada 2015. Sedangkan, produksi serial pertama empat unit akan diselesaikan PT DI pada 2016.

Selain itu, lanjut Sonny, kapasitas produksi PT DI terkait pesawat perintis tersebut 12 unit per tahun. Yang otomatis unit ke 100 akan selesai pada tahun 2024. "Pesawat N219 dirancang untuk daerah perintis dengan landasan pendek dan bukan aspal serta harga terjangkau," tambahnya. (wdi) (okezone)




Thursday, August 15, 2013

Ini Alasan Lion Air Berniat Beli Pesawat Made In Bandung


Jakarta - Selama ini, maskapai penerbangan nasional Lion Air terkenal memborong pesawat Airbus dan Boeing buatan luar negeri. Namun kali ini, Lion Air berniat mengembangkan produk nasional dengan membeli pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan, pesawat N219 yang tengah dikembangkan oleh PTDI merupakan asli produk buatan Indonesia.
"Harapan kami adalah produk domestik akan berkembang dan bermanfaat bagi dunia penerbangan," ujar Edward kepada detikFinance, Senin (12/8/2013).

Edward belum mau menceritakan lebih panjang soal rencana pembelian ini. Namun rencananya bila pesawat ini jadi dibeli, maka akan digunakan untuk penerbangan perintis yang rencananya akan disasar oleh Lion Air.

"Pesawat ini kan kursinya terbatas. Saat ini masih banyak daerah-daerah yang masih harus diterbangi, tapi sarana bandara belum sebesar armada yang kami miliki," jelas Edward.

Sebelumnya, hari ini, Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana bertemu Menteri BUMN Dahlan Iskan di kantornya untuk membicarakan niat membeli 50 unit pesawat N219 yang prototype-nya sedang dibuat PTDI.

"Kami sepakat mengembangkan PTDI untuk menjadi kebanggaan nasional, beliau (Rusdi) ini kan beli pesawat banyak dari luar negeri, dia ingin ikut kembangkan PTDI dengan membeli pesawat PTDIDI yang orisinil PTDI, yang betul-betul kebanggan PTDI yang prototype-nya dalam setahun ini jadi, kemudian uji coba-uji coba dalam 2 tahun jadi, pesawat N219, 19 seat," tutur Dahlan.

Rencananya, ujar Dahlan, Lion Air akan membeli sekitar 50 unit pesawat buatan PTDI yang pabriknya berada di Bandung ini. Namun perundingan pembelian ini masih panjang. "Perundingannya masih panjang. Tidak seperti beli kerupuk," ujar Dahlan.

PTDI, ujar Dahlan, siap untuk memproduksi N219 dalam 2 tahun ke depan. Selain Lion Air, pesawat ini juga akan dipasarkan di luar negeri. Dahlan sudah bertemu dengan Direktur Utama PTDI terkait rencana pembelian oleh Lion Air ini. (DetikFinance)




Wednesday, August 14, 2013

Lion Air Bangunkan Industri Pesawat Indonesia yang Mati Suri

"Teknologi Avionic N219 adalah teknologi termodern sekarang ini."

Rusdi Kirana (duduk sebelah kiri), CEO Lion Air, bersama CEO Boeing saat 
penandatanganan transaksi pembelian 230 unit pesawat terbang, disaksikan
oleh Presiden AS, Barack Obama. Pembelian 230 pesawat dari berbagai jenis
oleh Lion Air ini adalah yang terbesar dalam sejarah penerbangan sipil.
Jakarta - PT Lion Mentari Airlines (Lion Air), berencana memborong 50 unit pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, Senin 12 Agustus 2013, menyatakan bahwa langkah perusahaannya untuk membeli N219 adalah untuk mendukung pengembangan rancangan pesawat karya anak bangsa itu.

"Kami ingin bekerjasama dengan PTDI," ujar Rusdi di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta.

Senin awal pekan ini, dengan menggunakan mobil Rolls Royce, Rusdi merupakan satu-satunya di petinggi perusahaan swasta yang datang bersilaturahmi setelah Lebaran ke kantor kementerian BUMN, Jakarta. Rusdi mengatakan tujuan kedatangannya ini adalah menyampaikan langsung kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan mengenai rencana pembelian N219 itu secepatnya.

Lion Air dengan reputasinya sebagai maskapai penerbangan murah (low cost carrier) ini tampaknya memang sedang gencar melakukan pembelian pesawat untuk menambah armada pelayanannya.

Pada Maret lalu, Lion Air memesan 234 unit pesawat Airbus tipe A320. Tak disebutkan berapa nilai transaksi dengan Airbus ini. Namun dua tahun  Sebelumnya, pada 2011, Lion Air sudah mengejutkan dunia penerbangan Indonesia dengan membeli 230 unit pesawat Boeing berbagai tipe dengan nilai transaksi sekitar US$14 miliar.
Seperti diketahui , di tengah krisis ekonomi Eropa, pembelian 234 pesawat Airbus oleh Lion Air ikut membantu membuat perekonomian Prancis berdenyut. Transaksi senilai US$24 miliar tersebut menjadi salah satu transaksi pembelian pesawat terbesar di dunia.

Presiden Prancis, Francois Hollande, menjelaskan transaksi ini menjadi yang terbesar dalam sejarah penerbangan sipil dan akan ikut menyelamatkan ekonomi Prancis yang sedang dihajar krisis. Bahkan, sangat kontras dengan apa yang terjadi di Eropa saat ini yang sedang dibayang-bayangi oleh kekhawatiran bailout Siprus.
"Saya harus berterima kasih karena dengan kontrak ini, Airbus akan mengamankan sekitar 5.000 pekerjaan selama 10 tahun," kata Hollande seperti dilansir Reuters, Selasa 19 Februari 2013.
Kepada wartawan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Senin 12 Maret 2013, menjelaskan bahwa pilihan Rusdi untuk memesan 50 unit N219 ini dalam rangka ingin mendukung pengembangan produk PTDI.

"Yang jelas, kami sepakat mengembangkan PTDI untuk menjadi kebanggaan nasional," kata Dahlan usai acara pertemuan dan silaturahmi setelah perayaan Lebaran di kantornya itu.

Menurut Dahlan, dengan pemesanan ini, Lion Air otomatis membantu pengembangan model N219 yang purwarupanya (protoype) sedang dalam proses pengembangan di PTDI. "Beliau (Rusdi) ini kan beli pesawat banyak dari luar negeri, jadi ingin ikut kembangkan PTDI dengan membeli pesawat PTDI," kata Dahlan.

Dahlan menjelaskan, realisasi produksi N219 ini masih harus menunggu prototype N219 diselesaikan dan telah melewati proses uji coba. Kementerian BUMN memberi batas waktu untuk penyelesaian prototype ini pada tahun ini, setelah itu masuk pada tahap uji coba. "Perundingannya masih panjang, tidak seperti beli kerupuk," kata Dahlan.

Meski masih dalam rancangan pengembangan, Dahlan melanjutkan, Rusdi telah tertarik untuk melakukan pembelian N219 untuk menambah armada Lion Air. "Pak Rusdi sudah lihat desainnya, beliau percaya, dan beliau akan membeli lima puluhan unit," kata Dahlan.
Jika kerjasama ini berhasil dan prototypeN219 diproduksi, Lion Air akan menjadi pelopor maskapai penerbangan swasta yang mengembangkan produk Indonesia. Dahlan berharap hal ini diikuti oleh maskapai penerbangan lainnya.

Pesawat N219, Dahlan menambahkan, akan digunakan oleh Lion Air untuk melayani penerbangan rute kawasan Indonesia Timur. Selama ini, penerbangan jalur tersebut didominasi oleh maskapai plat merah Merpati Airlines. "Tidak untuk menggantikan, cuma berapa rute, ini kan besar, bukan kecil. Merpati sekarang kan sedikit sekali," kata Dahlan.

Menurut Dahlan, selain Lion Air, banyak perusahaan maskapai penerbangan lain baik yang di Indonesia maupun di manca negara sudah menyatakan minat terhadap model N219.

Dahlan tak menjelaskan lebih rinci mengenai pihak lain yang bermninat itu. Namun, kata Dahlan, Rusdi menjanjikan akan mempromosikan pesawat buatan PTDI di pasar internasional. "Dia akan bantu pasarkan di luar," kata Dahlan.

Mati Suri

Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, dalam wawancara VIVAnews pada April 2013, menjelaskan bahwa setelah cukup lama mengalami 'mati suri' akibat pukulan krisis moneter 1998, perusahaan dirgantara ini kini mulai bisa bernafas lagi. Dua tahun belakangan PTDI berbenah. Revitalisasi, restukturisasi, meremajakan mesin dan merekrut insinyur. Namun lebih dari itu, PTDI pun mempersiapkan produksi pesawat baru: N219.

Memang tidak secanggih N250. N219 lebih bersahaja. Bahkan boleh dibilang sangat  sederhana. "Ini adalah yang termurah. Tapi, ada segmen pasarnya," kata Budi.
Huruf N dalam nama itu adalah Nusantara, menunjukkan bahwa desain, produksi dan seluruh perhitungan dikerjakan di Indonesia. Pesawat N219 merupakan pesawat baru, tidak meniru jenis pesawat manapun.

Bobot bersih pesawat ini 4,7 ton. Telah memenuhi unsur pesawat kecil menurut  standar FAR 23. Bisa menjangkau jarak maksimal 1.111 kilometer. Kurang lebih sama dengan jarak terbang Jakarta ke Balikpapan.

Meski mungil, daya tampung pesawat ini terbilang besar. Hingga tujuh ton. Sayap sepanjang 19,5 meter mampu membuat logam sepanjang 16,5 meter dan tinggi 6,1 meter ini melayang-layang di ketinggian maksimal 10.000 kaki dari permukaan laut.

Pesawat N219 sengaja didesain hanya untuk kebutuhan sipil, dengan kapasitas penumpang hanya 19 orang. Dengan begitu, pesawat ini bisa dioperasikan pada daerah dengan kondisi alam ekstrim dan tingkat kesulitan yang tinggi. Seperti landasan tak beraspal di wilayah pegunungan. Di wilayah kepulauan.

Sejumlah teknologi unik telah diadopsi. Konstruksi badan dan sayap dari aluminium. Mesinnya banyak digunakan dalam dunia penerbangan. Sistem teknologi di dalamnya sudah modern. Reliable, dan mudah dalam perawatan.

"Teknologi Avionic N219 adalah teknologi termodern sekarang ini. Menggunakan glass cockpit dengan fitur synthetic vision untuk membantu pilot mendapatkan informasi navigasi yang akurat meskipun cuaca buruk,” kata Direktur Teknologi Pengembangan Rekayasa Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana kepada VIVAnews pada April 2013 lalu.

Pesawat N219  asli 100 persen karya anak bangsa. N219 ini diharapkan bisa menggantikan pesawat Twin Otter yang sempat populer di era '70-80'an. Pesawat jenis itu telah usang. Tidak diproduksi lagi, meski beberapa kerap ditemui di Indonesia.
© VIVA.co.id




Monday, August 12, 2013

Lion Air Siap Beli 50 Pesawat N219 Buatan PT DI

"Kami ingin bekerjasama dengan PT DI," ujar Rusdi Kirana.

Rusdi Kirana, CEO Lion Air (berkumis), saat penandatanganan kesepakatan pembelian 234 pesawat terbang dari pabrik Airbus, bersama CEO Airbus disaksikan oleh Presiden Perancis,
Francois Hollande. Ini juga rekor pembelian terbesar setelah sebelumnya Rusdi mencatatkan
rekor pembelian terbesar dari pesaing utama Airbus, yaskni Boeing sebanyak 230 buah pesawat
produksi boeing. Transansaksi ini juga menyelamatkan Airbus dari PHK 5.000 karyawan akibat krisis ekonomi melanda daratan Eropa. Dengan pembelian spektakuler ini, Airbus terselamatkan dengan jaminan pekerjaan untuk 5.000 karyawannya selama 10 tahun. 

Presiden Direktur PT Lion Mentari Airlines (Lion Air), Rusdi Kirana, Senin 12 Agustus 2013, menyatakan bahwa perusahaannya berencana beli 50 unit pesawat perintis N219. Pesawat itu buatan PT Dirgantara Indonesia (DI).

Hari ini, dengan menggunakan Mobil Rolls Royce, Rusdi merupakan satu-satunya di petinggi perusahaan swasta yang datang bersilaturahmi setelah perayaan Lebaran ke kantor kementerian BUMN, Jakarta. Rusdi mengatakan tujuan kedatangannya ini adalah menyampaikan langsung kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan mengenai rencana pembelian N219 itu secepatnya.

"Kami ingin bekerjasama dengan PT DI," ujar Rusdi.

Dahlan Iskan pun menjelaskan Rusdi berniat menggunakan N219 untuk armada Lion Air karena ingin mendukung pengembangan pesawat buatan anak bangsa itu.

"Beliau ini kan beli pesawat banyak dari luar negeri, jadi ingin ikut kembangkan PT DI dengan membeli pesawat PT DI di yang betul-betul menjadi kebanggan," kata Dahlan usai acara silaturahmi.

Dahlan menjelaskan, saat ini model yang menjadi contoh atau prototipe N219 sedang dikembangkan. Ditargetkan selama 2 tahun pesawat ini sudah diproduksi.

"Perundingannya masih panjang tidak seperti beli kerupuk," kata Dahlan.

Indonesia Timur

Jika niatan ini terealisasi, Dahlan melanjutkan, Lion Air akan menjadi pelopor maskapai penerbangan swasta yang mengembangkan produk Indonesia. Dahlan berharap hal ini diikuti oleh maskapaipenerbangan lainnya.

Pesawat perintis ini, Dahlan menambahkan, akan digunakan oleh Lion Air untuk melayanipenerbangan rute kawasan Indonesia Timur. Selama ini, penerbangan jalur tersebut didominasi oleh maskapai plat merah Merpati Airlines.

"Tidak untuk menggantikan, cuma berapa rute, ini kan besar, bukan kecil. Merpati sekarang kan sedikit sekali," kata Dahlan.

menurut Dahlan, Rusdi pun menjanjikan akan menpromosikan pesawat PT DI di pasar Internasional. "Dia akan bantu pasarkan di luar," kata Dahlan. (ren)
© VIVA.co.id




Tuesday, August 6, 2013

Dahlan Iskan : IDB Akan Fasilitasi Kredit Ekspor Pesawat PT DI


JAKARTA--Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta dukungan Islamic Development Bank (IDB) untuk membantu ekspor pesawat-pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia Bandung, melalui fasilitas kredit ekspor lembaga tersebut.qe

"IDB tertarik untuk memberikan fasilitas kredit ekspor bagi sejumlah negara yang ingin membeli pesawat PT DI," kata Dahlan melalui layanan pesan singkat (SMS) kepada Antara, di Jakarta, Senin malam.

Menurut Dahlan, penjualan pesawat PT DI akan lancar kalau menggunakan kredit ekspor, karena selama ini negara yang ingin membeli pesawat PT DI biasanya sekaligus meminta skema pembiayaannya.

Dahlan yang sedang berada di Arab Saudi dalam rangka kegiatan perjalanan umroh, tetap menyempatkan dirinya mempromosikan pesawat PT DI.

Dahlan bertemu dengan Presiden IDB Dr. Ahmed Mohammed Ali, di Clock Tower, Masjidil Haram, Mekkah, yang didampingi Dr. Ahmed Saleh Hariri pimpinan IDB devisi Asia Selatan dan Tenggara.

Pada pembicaraan itu, Dahlan menjelaskan bahwa PT DI sedang menawarkan pesawat untuk Bangladesh dan kepada beberapa negara Afrika. "IDB tertarik untuk memberikan fasilitas kredit ekspor bagi Bangladesh. Saya juga ditanya negara mana saja yang sudah menyatakan minatnya tapi terhalang masalah pembiayaan," ujar Dahlan.

Mantan Dirut PT PLN ini langsung menyebutkan sederet negara-negara yang berminat mengimpor pesawat PT DI, termasuk Filipina.

Dr. Ahmed Mohammed Ali sangat antusias menyambut keinginan Dahlan, karena IDB memang menyediakan kredit ekspor untuk negara-negara anggota. Pada kesempatan itu, Dr. Ahmed mengaku mengenal baik industri pesawat Indonesia karena pernah diajak Prof. Habibie ke Bandung di awal tahun 1990-an. Menurut Ahmed, sebagai salah satu pendiri IDB pada 39 tahun lalu Indonesia memegang peran penting dalam IDB.

Dikemukakannya, bahwa IDB sudah berkembang pesat dan sejak beberapa tahun terakhir selalu memperoleh rating tertinggi AAA. Untuk itu, diharapkan Ahmed, IDB bisa menjalin kerja sama dengan BUMN Indonesia untuk mengembangkan perekonomian Indonesia.

Antusias IDB terhadap Indonesia, ditandai dengan segera dibukanya kantor IDB di Jakarta akhir 2013, yang selama ini IDB untuk Asia Tenggara berkantor di Kuala Lumpur.

Dahlan berada di Arab Saudi selama sepekan, sejak Sabtu, 3 Agustus 2013 dan akan kembali ke Tanah Air pada Rabu, 7 Agustus 2013.(Republika).





Thursday, August 1, 2013

Indonesia Akan Membuat Kapal Selam dan Jet Tempur Buatan Dalam Negeri


Kapal Selam milik TNI AL, KRI Cakra

Indonesia akan segera membangun infrastruktur pembuatan kapal selam di Surabaya melalui PT PAL. Paling lambat, infrastruktur industri pembuatan kapal selam itu akan terbangun dalam 2 tahun ke depan. "Rencananya infrastruktur pembuatan kapal selam akan dibuat di Surabaya melalui PT PAL. Karena itu, dibutuhkan infrastruktur untuk pembangunan kapal selam," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Skuadron Pesawat tempur milik TNI AU
Tak hanya infrastruktur industri kapal selam, pemerintah juga berencana membangun industri jet tempur. Menurut Purnomo, pembangunan infrastruktur kapal selam dan jet tempur itu akan dijadikan proyek nasional. Hal itu sudah dibicarakan dalam sidang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) ke 9.

Oleh karena itu, agar tidak menemui hambatan, diperlukan payung hukum untuk program ini. "Butuh dukungan parlemen karena program ini pasti akan melalui lintas parlemen. Dibutuhkan payung hukum agar menjadi proyek nasional," ucap Purnomo. Sebagai negara kepulauan, kata dia, keberadaan kapal selam dan jet tempur sangat diperlukan untuk menjaga kedaulatan Indonesia hingga batas luar. Jika infrastruktur ada, pembuatan kapal selam bisa dilakukan di Indonesia.

Untuk membangun infrastruktur pembuatan kapal selam, Indonesia akan bekerjasama secara khusus dengan Korea Selatan. Kerjasama kedua negara akan dilakukan mulai dari kesepakatan lisensi, enginering manufacturing development, hingga prototipe.

Sementara, dalam pembuatan Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment bersama Korsel, tahap yang sudah selesai dilaksanakan mencakup tahap teknologi desain. Dua tahun ke depan, ditargetkan akan mencapai tahap enginering manufacturing development dan prototipe.

"Dari sisi teknis, kita juga sudah kirim 52 ahli untuk belajar teknologi design," ucap Purnomo. Pramono menambahkan, pada tahun 2012, KKIP juga telah menghasilkan sejumlah produk kebijakan. Dalam hal penyusunan regulasi, di antaranya disahkannya UU No 16 tahun 2012 tentang industri pertahanan. Sumber : EBY (Edhie Baskoro Yudhoyono)




Friday, July 26, 2013

DEFISIT PERDAGANGAN: Rusia Diajak Bangun Industri Militer di Indonesia



Jakarta- Guna mempersempit defisit neraca perdagangan dengan Rusia Indonesia mengajak industri di Negeri beruang Merah melakukan investasi bersama di bidang industri militer.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan industri militer di Rusia dapat melakukan kerja sama investasi (joint investment) dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT Pindad, mendirikan pabrik di Tanah Air.

Dengan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, impor dari Rusia dapat ditekan sehingga neraca perdagangan kedua negara akan seimbang.

Total perdagangan RI-Rusia pada 2012 US$3,37 miliar, dengan defisit di sisi Indonesia US$1,64 miliar. Pada Januari-Februari 2013, Indonesia mengalami defisit US$451,91 juta dari total perdagangan US$741,51 juta.

Defisit itu terjadi karena Indonesia lebih banyak mengimpor barang modal dari Rusia, seperti perlengkapan militer, mesin, alat berat, dan petrokimia.

 “Jangan sampai kita hanya membeli, tapi bagaimana bisa bekerja sama dengan PT DI dan PT Pindad kita,” katanya saat menerima kunjungan Presiden Tatarstan Rustam Nuegalievich Minnikhanov, Kamis (2/5).

Tatarstan merupakan negara bagian Federasi Rusia dengan industrialisasi dan produksi hasil industri mencakup 45% dari total produk domestik regional bruto (PDRB)  US$45 miliar pada 2011.

Menjadi negara federal terbesar ketiga di Rusia, Tatarstan merupakan sentra industri petrokimia, perakitan mesin, kendaraan berat dan penerbangan. Sejumlah produk terkenal diproduksi di negara bagian itu, seperti pesawat komersil tipe Tu-214 dan truk Kamaz.

Presiden Republik Tatarstan Rustam Nuegalievich Minnikhanov  menyatakan kalangan industri di negaranya berminat menjalin kerja sama dengan dunia usaha di Indonesia.

“Indonesia merupakan negara di dunia dengan kemajuan ekonomi yang sangat cepat,” ujarnya.

Selain mengundang kalangan industri Tatarstan bekerja sama investasi dan riset, Indonesia juga akan memacu ekspor produk halal mengingat 51,7% dari total populasi Tatarstan 3,79 juta merupakan Muslim.

Di samping itu, Indonesia akan mengandalkan ekspor karet, kopi, teh dan tekstil. Pemerintah menargetkan total perdagangan bilateral pada 2015 mampu mencapai US$5 miliar dengan posisi neraca dagang masing-masing seimbang.

Indonesia yang mengandalkan ekspor komoditas tentu tak sebanding dengan impor dari Tatarstan yang berupa barang modal. Namun, menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, upaya apapun harus dilakukan untuk mengejar peningkatan ekspor.

“Kalau menurut saya, sekarang bukan masalah sebanding atau tidak. Setiap dolar kenaikan ekspor, itu harus kita kejar, harus kita usahakan,” ujarnya.

Dia berpendapat Tatarstan memegang kunci penting karena pengaruh politik negara tersebut yang kuat di Moskow. Pendekatan terhadap Tatarstan diharapkan dapat memengaruhi Rusia dalam mengambil kebijakan kerja sama perdagangan dengan Indonesia.

Rusia merupakan mitra dagang strategis yang mampu menjadi hub bagi produk Indonesia untuk masuk ke Kazakhstan dan Belarusia. Ketiga negara selama ini tergabung dalam kesatuan kepabeanan atau the Customs Union of Belarus, Kazakhstan and Rusia.(Bisnis.com)


Indonesia Mulai Berbicara di Industri Militer Dunia



Jakarta - Indonesia kini sudah jauh berkembang. Bahkan sudah mulai dilirik sektor industri militer dunia. Bukan sebagai konsumen, melainkan produsen. Benarkah?
Teknologi militer untuk pertahanan dan keamanan tidak lagi didominasi Amerika dan Eropa. Kini Indonesia pun sudah memproduksi persenjataan militer buatan anak bangsa.
Di penghujung Maret 2012 lalu, sebanyak 50 roket R-Han 122 diluncurkan di Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.
Wakil Menteri Pertahanan dan Keamanan Sjafrie Sjamsoeddin, Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Riset Kementerian Ristek Iptek Teguh Rahardjo, Wakil Gubernur Sumatra Selatan Eddy Yusuf, Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal Nugroho Widyotomo, dan Komandan Kodiklat TNI-AD Letnan Jenderal Gatot Numantyo ikut hadir dalam peristiwa bersejarah itu karena untuk pertama kalinya diluncurkan roket militer buatan Indonesia.
Peluncuran roket berlangsung mulus. Roket R-Han 122 ini merupakan pengembangan roket sebelumnyam D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi, yang memiliki kecepatan maksimum 1,8 mach.
Perjalanan lahirnya roket militer R-Han 122 ini pun cukup panjang. Berawal pada 2007 saat Kementerian Riset dan Teknologi membentuk Tim D230 untuk mengembangkan roket berdiameter 122 mm dengan jarak jangkau 20 kilometer.
Prototipe roket D-230 ini dibeli Kementerian Pertahanan dan Keamanan untuk memperkuat program seribu roket. Maka pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketua konsorsium PT Dirgantara Indonesia (DI), sebagai wadah memasuki bisnis massal.
Ketua Program Roket Nasional Sonny R Ibrahim menjelaskan rencana pembuatan roket secara massal sudah ada sejak 2005. Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut.
Dalam konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket.
"Kami ditunjuk sebagai ketua konsorsium. Kami tinggal meminta kepada perusahaan-perusahaan itu untuk membuat ini itu untuk komponen roket. Kemudian dirancang di PT DI," jelas Sonny.
Disebutkannya di dalam konsorsium terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan menggunakan platform GAZ, Nissan, dan Perkasa yang sudah dimodifikasi dengan laras 16/ warhead dan mobil launcher(hulu ledak).
Kemudian PT Dahana menyediakan propellant. PT Krakatau Steel mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT Dirgantara Indonesia membuat desain dan menguji jarak terbang. Pendukung lainnya seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mendukung dengan menyediakan alat penentu posisi jatuh roket.
ITB menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Sejumlah perguruan tinggi lainnya, yakni UGM, ITS, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Suryadharma, ikut terlibat di dalam pengembangan roket tersebut. Nama D-230 kemudian diganti menjadi R-Han 122 karena sudah dibeli Kementerian Pertahanan.
Sistem isolasi termal untuk membuat roket militer tidaklah mudah. Para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122 itu.
Dijelaskan Sonny, pada 2003 para periset menggunakan material kritis dengan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi produk justru cepat jebol. "Tahun itu tahun jebol karena roket-roket yang diuji rusak atau jebol."
Kemudian para peneliti mulai memperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 derajat Celcius. Pembakaran dengan menghasilkan suhu tinggi bisa berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas.
Untuk material roket, dipilih bahan yang ringan, yakni aluminium, karena bisa menghambat panas. Perubahan-perubahan itu ternyata menghasilkan roket yang tidak pernah rusak saat diujicobakan.
"Karena termalnya bekerja cukup baik, roket itu bisa terbang tepat sasaran dan tidak pernah rusak selama uji roket," imbuh Sonny.
R-Han 122 berfungsi sebagai senjata berdaya ledak optimal dengan sasaran darat dan jarak tembak sampai 15 km.
Sebelumnya PT Pindad telah memproduksi panser yang merupakan hasil pengembangan riset dari BPPT sejak 2003. PT Pindad meneruskan hasil riset BPPT khususnya untuk panser Angkut Personel Sedang (APS). PT Pindad dan BPPT akhirnya mengembangkan riset APS-1 sampai ke APS-3. Pada APS-3 ini punya kemampuan bermanuver di darat, perairan dangkal dan danau.
Pengembangan riset tersebut akhirnya menghasilkan varian 4X4 dan disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya pada varian 6x6. Ujicoba panser APS-3 ini dilakukan awal 2007 dan pada 10 Agustus 2008 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.
Kementerian Pertahanan memberi nama APS3-ANOA. Sejak itu Pindad memproduksi 10 panser pertama APS-3 ANOA. Dalam perkembangannya, Pindad terus mengeluarkan seri-seri terbaru APS-3 ANOA ini.
Selain varian kombatan, ANOA juga memiliki varian lain seperti untuk angkut medis, logistik, armored recovery vehicle (penderek ranpur yang sedang mogok) dan varian mortir.
Saat ini Kementerian Pertahanan telah memesan 100 panser ANOA yang ternyata disukai negara-negara tetangga. Salah satunya Malaysia yang sudah berminat membeli sejumlah panser ANOA dari PT Pindad.
Dan tak kalah penting, panser buatan Indonesia ini juga dipakai untuk kelengkapan persenjataan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon. [Inilah.com-mor]

Saturday, July 20, 2013

Indonesia Mempromosikan Pesawat Transport di Kawasan ASEAN untuk Meningkatkan Kerjasama Internasional

Pesawat CN 295 Buatan PT DI milik TNI AD


CN 295 UNJUK KEMAMPUAN DI NEGARA – NEGARA ASEAN

Pada hari Kamis 30 Mei 2013, pesawat transport Militer CN295 mendarat di Bandara Sultan Abdul Aziz Kuala Lumpur, Malaysia, persinggahan terakhir dari rangkaian tour ke enam negara-negara ASEAN. Kementerian Pertahanan Indonesia memperkenalkan pesawat ini ke Philipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Malaysia sejak tanggal 22 sampai 31 Mei dalam rangka promosi mengenai kemampuan dan efisiensi pesawat transportasi hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Airbus Military. Pesawat CN295 adalah sebuah pesawat serba guna berukuran sedang untuk kepentingan sipil maupun militer.
Kunjungan ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan kelebihan dari pesawat CN235 dan NC212i, yaitu hasil pengembangan dari varian C212 yang telah diluncurkan pada bulan November 2012 antara PTDI dan Airbus Military dengan menggunakan sistem avionic dan autopilot yang baru, kapasitas penumpang bertambah dan biaya operasi yang lebih efisien.
Pada kunjungan ke Kementerian Pertahanan Malaysia, Jum’at 31 Mei 2013, Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang juga sebagai Ketua Delegasi, Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsuddien mengatakan bahwa “Kami mempromosikan penggunaan sistem pertahanan yang serupa di antara sesama negara ASEAN dan CN295 merupakan pesawat yang layak dan tepat untuk kepentingan pertahanan tersebut. Kami yakin dengan penggunaan jenis pesawat yang sama di wilayah ASEAN akan memperkuat kerjasama diantara kita, pada waktu yang sama mengurangi biaya operasional dan perawatan pesawat secara signifikan. Dalam segmen pesawat kecil dan menengah, pesawat CN295, CN235 dan NC212i adalah solusi yang tepat untuk menjalankan misi di kawasan regional”.
Angkatan Udara Republik Indonesia saat ini telah mengoperasikan dua unit CN295 dari sembilan unit yang dipesan dari PTDI. Dan pada tahun 2014, seluruhnya sudah dapat dioperasikan di wilayah Indonesia oleh TNI AU, dengan penyerahan pesawat tersebut ke Kementerian Pertahanan RI yang berlangsung di delivery center dan final assemblyPTDI yang merupakan hasil nyata dari Kemitraan Strategis (Strategic Partnership) antara PTDI dan Airbus Military yang ditandatangani pada tahun 2011 lalu. Secara total lebih dari 120 unit C295 telah dipesan seluruh dunia dan hampir 100 unit pesawat telah dioperasikan di berbagai negara seperti Alzajair, Brazil, Chilie, Colombia, Republik Ceko, Mesir, Finlandia, Ghana, Yordania, Kazakhstan, Mexico, Polandia, Portugal dan Spanyol.
Sementara itu, CN235 dan NC212 masing-masing telah terjual lebih dari 270 unit dan 470 unit, serta telah beroperasi dengan sukses di lebih 50 negara. Para operator CN295, CN235, NC212 sangat puas dengan keandalan, kapabilitas  dan ketangguhan dari pesawat-pesawat tersebut, yang sangat mudah dioperasikan di dalam situasi yang bergejolak dan medan yang sulit. Dan hasilnya pesawat tersebut saat ini menduduki posisi terdepan dikelasnya.
Tentang C295
C295 adalah pesawat generasi baru yang ideal untuk misi-misi pertahanan dan sipil, seperti misi kemanusiaan, patroli maritim, misi pengawasan lingkungan, dan yang lainnya. Berkat ketangguhan dan keandalan, dan dengan sistem operasi yang mudah digunakan, pesawat taktis ukuran sedang ini memiliki banyak kelebihan dan fleksibel, yang diperlukan untuk angkut personil, pasukan, cargo,evakuasi korban, serta mempunyai kemampuan menurunkan logistik dari udara. Pesawat ini juga  perpaduan teknologi sipil dan militer yang mendukung suksesnya misi-misi taktis, berkemampuan untuk menambah peralatan-peralatan yang lebih maju di masa depan serta mempunyai kemampuan menyesuaikan diri di wilayah udara sipil.
Pesawat ini juga mampu  lepas landas dan mendarat dilandasan pendek atau Short Take Off and Landing (STOL) dan landasan yang tidak dipersiapkan (CBR 3), dapat terbang rendah dalam misi taktis, membawa beban sampai 9 ton dengan kecepatan jelajah normal 260 knots (480 km/jam).  Cabin C295 pressurized (bertekanan udara), dapat terbang dalam ketinggian 25.000 kaki, dan dapat beroperasi dalam wilayah yang sangat panas. Pesawat ini juga dilengkapi dengan perangkat pendaratan yang dapat dilipat (retractable).Ditenagai 2 mesin turboprop Pratt & Whitney PW 27 G Kanada.
CN 295 dilengkapi juga dengan HIAS (Highly Integrated Avionics System), yaitu suatu sistem avionik yang sangat terintegrasi dan modern berdasarkan Thales Topdeck Avionic Suite. Penggunaan perlengkapan pesawat dengan Konsep arsitektur yang fleksibel dan Penggunaan perlengkapan yang modern menjamin sukses misi taktis dan penggantian  perlengkapan di masa mendatang.
TENTANG PT DIRGANTARA INDONESIA
PTDI adalah badan usaha milik negara yang didirikan pada tahun 1976. Lokasi pabrik pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) terletak di Bandung, Indonesia.  Produk utama perusahaan ini adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. Pabrik perakitan PTDI memproduksi berbagai jenis pesawat CN235 dengantype certificate untuk penumpang sipil, kargo, pembuat hujan, transportasi militer, patroli maritim dan pengawasan.  Selain itu PTDI memproduksi dibawah lisensi pesawat NC212-200, NAS332 Super Puma dan NBell412.  PTDI telah memproduksi lebih dari 340 pesawat terbang dan helikopter untuk 49 operator sipil dan militer.  PTDI memanufaktur dan memproduksi bagian-bagian, komponen-komponen,tools dan fixtures untuk pesawat Airbus A320/321/330/340/350/380, untuk Eurocopter EC225 dan EC725, untuk pesawat Airbus Military CN235/C212-400/C295. Untuk perawatan pesawat, PTDI melayani jasa pemeliharaan, overhaul, perbaikan, alterasi, kustomisasi dan dukungan logistik untuk CN235 berbagai seri, Bell412, BO-105, NC-212-100/200, NAS332 Super Puma, B737-200/300/400/500, A320, Fokker100 dan Fokker27. Enjinering PTDI melayani jasa rekayasa dan analisa serta flight simulators.
(Visited 108 times, 2 visits today)
Categories: Siaran Pers

Sunday, July 7, 2013

PT DI Sasar Pasar Amerika Latin


Pesawat CN 295 versi militer buatan PT DI. Pesawat ini adalah pesawat canggih.
Hampir semua sistem avionics-nya computerized. Ia, antara lain, mampu terbang tanpa
dikendalikan oleh pilot, karena punya mode Autopilot.

BANDUNG – PT Dirgantara Indonesia (DI) memperluas pasar dengan menyasar Amerika Latin. Langkah itu tidak terlepas dari pemusatan seluruh produksi NC-212 di pabrik pesawat yang berbasis di Bandung tersebut.

Manager Pemasaran PT DI, Teguh Graito yang didampingi Jubir perusahaan, Sonny Saleh Ibrahim menyatakan perluasan pasar tersebut tidak terlepas dari minat sejumlah negara terhadap produk kerja sama dengan Airbus Military itu di kawasan tersebut.

“Ekuador dan Argentina sempat menyatakan ketertarikannya. Mereka butuh 3-5 pesawat tersebut. Ketika itu, kami tak bisa meresponnya karena pasar kawasan tersebut ditangani Airbus Military. Sekarang kami akan menangkap peluang tersebut,” katanya.

Dalam pertemuan pekan lalu, kata dia, Airbus telah memberikan persetujuan itu kepada BUMN Strategis. Area pemasaran terhadap pesawat sayap tetap yang diproduksi PT DI tak lagi dibatasi.

Selama ini, pabrik yang pernah memiliki nama IPTN dan Nurtanio itu hanya dipercaya menggarap pasar Asia Pasifik bersama produk lainnya seperti CN-235 dan menyusul belakangan CN-295. Bagi PT DI, kebebasan itu akan memberikan pengalaman sekaligus tantangan baru.

“Kami belum pernah menjual produk ke Amerika Latin. Lebih dari itu, kesempatan ini memberikan kami batu loncatan untuk menggarap pasar dunia,” katanya.

PT DI belum memetakan detail pasar di Amerika Latin. Hanya saja, mereka optimis kebutuhan pesawat angkut militer dan konfigurasi lainnya seperti NC-212, mereka juga akan menawarkan CN-235 dan CN-295 mempunyai celah terbuka.

“Yang sudah jelas di Asia Pasifik. Berdasarkan market analisis kami, kebutuhan di kawasan tersebut bisa mencapai 100 pesawat. Untuk pasar CN-235 saja bisa 75 unit sama halnya CN-295,” tandasnya. (www.indonesian-aerospace.com)

Friday, July 5, 2013

Merasa Puas, Senegal Tertarik Tambah Pesawat CN 235



Merasa Puas, Senegal Siap Beli Lagi Pesawat RI

Dakar, Senegal - Menteri Pertahanan Senegal Augustine Tine memuji kinerja pesawat CN 235 buatan Indonesia dan berminat untuk menambah pesawat angkut militer buatan PT Dirgantara Indonesia tersebut.

"Kami menggunakan pesawat itu untuk berbagai keperluan dan saya puas dengan kemampuannya," kata Augustine seusai pertemuan dengan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Dakar, Senegal, Kamis.

Angkatan Bersenjata Senegal memiliki satu unit pesawat angkut militer CN 235 yang dibeli secara kredit dari penjamin di Belgia. Tingkat penggunaan pesawat tersebut sangat tinggi.

"Besok saya akan naik pesawat itu ke daerah. Kadang digunakan untuk ke negara tetangga seperti Mali atau Benin," kata Augustine.

Sjafrie yang didampingi Dirjen Strategi Pertahanan Sonny Prasetyo dan Direktur Pemasaran PT DI Budiman Saleh menawarkan tambahan pesawat CN 235 dan generasi terbarunya CN 295 yang lebih canggih.

"Saya berharap bisa tambah satu yang generasi baru, adakah diberikan fasilitas kreditnya?" tanya Augustine.

Sjafrie menjawab bahwa kemungkinan fasilitas kredit itu bisa diberikan, namun akan tanya dulu kepada Menteri Keuangan.

"Soal kredit bukan wewenang saya, tapi Menteri Keuangan," katanya.

Wamenhan mengundang Augustine datang ke Indonesia untuk melihat sendiri produk industri pertahanan Indonesia.

"Saya ingin datang namun saya harus minta izin dulu ke Perdana Menteri," katanya seraya mengatakan Senegal juga membutuhkan peralatan militer seperti senapan dan amunisinya.

Sebelumnya, Sjafrie mengatakan kunjungan ke Afrika untuk meningkatkan kerja sama militer dan menjajaki peluang kerja sama produk industri pertahanan.

Indonesia, katanya, ikut ambil bagian dalam pasukan penjaga perdamaian di Afrika.

"Terimakasih Senegal sudah menggunakan CN 235, kami tawarkan produk lain seperti senjata dan nonsenjata," kata Sjafrie yang memberikan contoh produk dari mulai helm, rompi, dan makanan prajurit.

Menhan Senegal setuju memperkuat kerja sama dengan Indonesia. Senegal juga ikut pasukan penjaga perdamaian PBB. 

Senegal juga sepakat untuk kerja sama melawan terorisme.

Sjafrie menyatakan setuju dengan kerja sama membasmi terorisme yang menjadi kejahatan internasional.  (ANTARA News)