Showing posts with label industri pesawat indonesia. Show all posts
Showing posts with label industri pesawat indonesia. Show all posts

Thursday, August 29, 2013

Prof. Habibie Tegaskan R80 Dibuat Lebih Hebat


Jakarta  - Mantan Presiden BJ Habibie mengatakan pesawat Regio Prop 80 (R80) yang diproduksi PT Ragio Aviasi Industri (RAI) dalam tahap pembuatan awal dan dikembangkan lebih hebat dari pesawat N250. 

"Kita buat lebih hebat. It`s a surprise, you`ll see it, ok (Ini adalah kejutan, kamu akan melihatnya, ok)," kata Habibie usai berpidato di Rakornas Riset dan Teknologi (Rakornas Ristek) di Jakarta, Rabu. 

Menurut dia, pesawat R80 yang akan dibuat berdaya tampung 80 kursi dan ditargetkan terbang 2018 ini akan memanfaatkan pengalaman membuat pesawat N250.

Sebelumnya diberitakan bahwa pesawat R80, menurut Komisaris PT RAI Ilham A Habibie, merupakan The Next N250 yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara Indonesia. 

Ia mengatakan saat ini pembuatan R80 masih dalam tahap pembuatan awal atau 10 persen. Kemampuan, desain, dan teknologi pesawat ini mirip N250, meski dari segi ukuran akan lenih besar dan panjang.

Pesawat R80, menurut dia, tetap menggunakan baling-baling di bagian atas badan pesawat sebagai penggerak pesawat seperti N250. Dengan menggunakan baling-baling maka konsumsi bahan bakar akan jauh lebih irit.

R80 ini, lanjutnya, didesain untuk jarak tempuh kurang dari 600 km, karena itu dapat dipastikan akan semakin irit bahan bakar. Sedangkan untuk produksi tahap awal, menurut dia, diperlukan dana 400 juta dolar AS. (Antara News)



Sunday, July 7, 2013

PT DI Sasar Pasar Amerika Latin


Pesawat CN 295 versi militer buatan PT DI. Pesawat ini adalah pesawat canggih.
Hampir semua sistem avionics-nya computerized. Ia, antara lain, mampu terbang tanpa
dikendalikan oleh pilot, karena punya mode Autopilot.

BANDUNG – PT Dirgantara Indonesia (DI) memperluas pasar dengan menyasar Amerika Latin. Langkah itu tidak terlepas dari pemusatan seluruh produksi NC-212 di pabrik pesawat yang berbasis di Bandung tersebut.

Manager Pemasaran PT DI, Teguh Graito yang didampingi Jubir perusahaan, Sonny Saleh Ibrahim menyatakan perluasan pasar tersebut tidak terlepas dari minat sejumlah negara terhadap produk kerja sama dengan Airbus Military itu di kawasan tersebut.

“Ekuador dan Argentina sempat menyatakan ketertarikannya. Mereka butuh 3-5 pesawat tersebut. Ketika itu, kami tak bisa meresponnya karena pasar kawasan tersebut ditangani Airbus Military. Sekarang kami akan menangkap peluang tersebut,” katanya.

Dalam pertemuan pekan lalu, kata dia, Airbus telah memberikan persetujuan itu kepada BUMN Strategis. Area pemasaran terhadap pesawat sayap tetap yang diproduksi PT DI tak lagi dibatasi.

Selama ini, pabrik yang pernah memiliki nama IPTN dan Nurtanio itu hanya dipercaya menggarap pasar Asia Pasifik bersama produk lainnya seperti CN-235 dan menyusul belakangan CN-295. Bagi PT DI, kebebasan itu akan memberikan pengalaman sekaligus tantangan baru.

“Kami belum pernah menjual produk ke Amerika Latin. Lebih dari itu, kesempatan ini memberikan kami batu loncatan untuk menggarap pasar dunia,” katanya.

PT DI belum memetakan detail pasar di Amerika Latin. Hanya saja, mereka optimis kebutuhan pesawat angkut militer dan konfigurasi lainnya seperti NC-212, mereka juga akan menawarkan CN-235 dan CN-295 mempunyai celah terbuka.

“Yang sudah jelas di Asia Pasifik. Berdasarkan market analisis kami, kebutuhan di kawasan tersebut bisa mencapai 100 pesawat. Untuk pasar CN-235 saja bisa 75 unit sama halnya CN-295,” tandasnya. (www.indonesian-aerospace.com)

Wednesday, June 12, 2013

Membandingkan Pesawat CN 295 Buatan PT DI dan MA 60 Buatan China

"Soal Bikin Pesawat, Indonesia Masih di Atas China"- Ilham Habibie


Pesawat CN 295 Milik TNI AU buatan PT DI. Kuat, irit bahan bakar,
cepat, dan belum pernah mengalami kecelakaan

PM Malaysia, PM Pakistan, Pemimpin Turki, dan Presiden Korea Selatan merasa sangat puas menggunakan pesawat Buatan Bandung untuk kelas VVIP Mereka. Kepala Angkatan Udara Tentara Diraja Malaysia bahkan menyetir sendiri CN 235-220 miliknya.

Sebagai orang awam, saya agak bingung kenapa Merpati Airlines justru impor pesawat dari China berupa pesawat MA 60 turbo-prop yang saat ini digunakan, padahal soal kualitas pesawat Indonesia masih jauh di atas China.

Orang sekelas Ilham A. Habibie saja mengatakan demikian. 
Ilham A. Habibie, putra sulung mantan Presiden RI BJ Habibie, bukan orang sembarangan jadi beliau mengerti betul apa yang dikatakannya. Jika beliau berpendapat demikian, hampir pasti memang demikianlah adanya. Bahwa jika kita bicara soal membuat pesawat dan kualitas pesawat itu sendiri, Indonesia memang benar masih di atas China.

"Soal buat pesawat kita masih lebih bagus dan jauh di atas China, dari segi kualitas kita masih oke," kata Ilham ketika ditemui detikFinance pekan lalu di kantornya di Kawasan Mega Kuningan, seperti dikutip, Senin (18/3/2013).

Kata Ilham, saat ini China boleh bangga punya MA 60 yang saat ini digunakan Merpati.

"Tapi pada dasarnya desain MA 60 itu mesinnya memang digunakan untuk militer, namun karena digunakan untuk sipil mereka menurunkan sedikit kualitasnya, karena dasarnya untuk militer sehingga boros, militerkan ngak mikirin boros apa tidak yang penting tahan banting dan menang perang," ucapnya.

MA 60 sendiri kata Ilham diakui sendiri oleh Dirut Merpati Rudy Setyopurnomo kalau pesawat tersebut sangat boros.

"Ya saya pernah diskusi dengan Dirut Merpati Pak Rudy, pesawat itu boros, kalau sudah boros bahan bakar bagaimana mau bisa dapat money (uang). Lagi pula MA 60 dipakai bukan karena kualitas, tetapi karena Merpati saat itu kesulitan pendanaan dan tidak bisa pinjam ke bank, tapi China mau meminjamkan dana untuk membeli MA 60 buatan mereka," ungkapnya.

Lantas dari segi mana kita masih teratas dibandingkan China dari segi kualitas pesawat?

"Ya R80 (Regio Prop 80) yang saat ini sedang kita selesaikan proses pembangunannya, kita akan memiliki pesawat dengan menggunakan baling-baling, yang didesain untuk jarak dekat, hemat bahan bakar, teknologi terbaru, kapasitas lebih banyak yakni mencapai 80 kursi, mesin lebih cepat dan yang terpenting jauh lebih murah dari pesawat ATR karena produksi dan suku cadang dibuat semua di Indonesia, dan yang lebih penting lagi kita punya Sumber Daya Manusia yang berpengalaman bahkan seperti di Boeing, Airbus, ATR, di PT DI dan banyak lagi," tandasnya.

Seperti diketahui Ilham bersama Mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah bersama-sama membentuk PT Ragio Aviasi Industri (RAI) untuk membangun pesawat new N-250 yang dulu pernah dibuat BJ Habibie.

Pesawat berkapasitas 80 kursi tersebut diberi nama R80 atau Regio Prop 80 diamana pesawat tersebut menggunakan baling-baling.

Pesawat CN 295 buatan dalam negeri

Pesawat ini adalah pesawat pengembangan dari pesawat CN-235 yang menangguk sukses di pasaran sejak diluncurkan tahun 1983, terbanyak digunakan di Turki, 61 pesawat. CN-235 merupakan proyek Casa, pabrikan pesawat Spanyol dan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Indonesia. Pesawat CN-295M merupakan pesawat angkut sedang taktis (medium airlifter) generasi terbaru yang sudah menggunakan full glass cockpit, digital avionic dan sepenuhnya kompatibel menggunakan night vision goggles (NVG), sehingga CN-295M merupakan pesawat angkut sedang versi militer yang dapat diandalkan di kelasnya. CN-295M mampu membawa sampai dengan total sembilan ton kargo atau kurang lebih 71 personel.

Pesawat ini juga mampu terbang sampai ketinggian 25 ribu kaki dengan kecepatan jelajah maksium 260 Knot (480 Km/Jam) serta dapat diterbangkan dan dikendalikan dengan aman dan sangat baik pada kecepatan rendah sampai dengan 110 Knots (203 Km/Jam). Dengan menggunakan 2 Mesin Turboprop Pratt & Whitney Canada (PW 127G), pesawat ini mampu melaksanakan lepas landas dan melaksanakan pendaratan pada landasan yang pendek (STOL/ Short Take Off & Landing) yaitu 670 m/2.200 kaki dengan berat tertentu. “Kemampuan Pesawat C-295 M dinilai sangat cocok dan ideal dikaitkan dengan tugas dan misi yang diemban oleh skadron Udara 2,” ujar Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb Silaen di sela-sela penyerahan pesawat tersebut dalam dalam siaran pers TNI AU, Kamis (4/4/2013).

CN 295 semenjak digunakan oleh TNI AU maupun negara-negara lain seperti Malaysia, Turki, Korea Selatan, belum pernah jatuh atau mengalami kecelakaan tragis maupun insiden ringan. Di luar sebab human error, pesawat CN 295 ini sangat tangguh dan tidak diragukan lagi, lebih baik ketimbang pesawat sejenis buatan Cina, yakni Ma 60. Pesawat ini sudah mendapat sertifikasi dari FAA sementara MA 60 belum. 

Pesawat buatan Indonesia ini sangat diperhitungkan kualitasnya oleh negara lain. Buktinya pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia yaitu CN235-220 digunakan oleh para pemimpin negara sebagai pesawat VIP.

"Kita punya pesawat CN235-220 itu pesawat multi missions platfrom, bisa untuk pribadi, maritime patrol, kargo dan lainnya," ucap Vice President Logistics & Costumer Support Division PT Dirgantara Indonesia, Mula W. Wangsaputra di The 12th Langkawi International Maritime & Aerospace (LIMA '13) Langkawi, Malaysia, Selasa (26/3/2013).

Salah satu bukti bahwa produk PT DI berkualitas yakni pesawat CN 235-220 digunakan oleh Perdana Menteri (PM) Malaysia, Presiden Korea Selatan dan Pakistan. "PM-nya Malaysia pakai, Korea Selatan pakai, Pakistan pakai punya kita juga," ucap Mula.


Pesawat CN 235 milik TUDM hasil produksi PT DI digunakan sebagai pesawat VVIP, tampak lebih kuat dan dinamis.
Pesawat CN235-220 dipesan oleh mereka untuk dijadikan pesawat VIP. "Jadi pesawat ini digunakan para pemimpin negara tersebut untuk pergi dinas di dalam negaranya sendiri," katanya. (Baca ulasan mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) TNI AU Indonesia yang sekaligus Chairman CSE Aviation terkenal, Marsekal TNI (Purn) Cheppy Hakim di postingan di blok ini berjudul : "Para Pemimpin Dunia Pakai Pesawat Made in Bandung, Bagaimana Indonesia ?

Jadi, pesawat yang dipesan oleh negara-negara asing dari PT DI itu ternyata dijadikan sebagai pesawat VVIP, bukan untuk penumpang biasa. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Merpati dan riwayat kecelakaan pesawat MA 60


MA 60 dalam kondisi mengenaskan, setelah mengalami hard landing.

Sejak 2009 hingga 2013 ini sudah terjadi tujuh kali kecelakaan pesawat MA 60 yang semuanya terjadi saat akan mendarat, masing- masing di Filipina, Bolivia, Myanmar, dan Indonesia. Tidak ada korban jiwa kecuali yang terjadi di Kaimana 7 Mei 2011, seluruh 22 penumpang dan 4 awak pesawat meninggal dunia. 

Sebagai catatan, pesawat MA 60 adalah sebuah pesawat yang telah menerima sertifikat dari Civil Aviation Administration of China pada 2000 dan hingga kini tidak atau belum memiliki sertifikat dari Federal Aviation Administration (FAA) otoritas penerbangan Amerika Serikat yang paling berpengaruh dan kredibel di dunia. 

Sejak diterbangkan Merpati Nusantara Airlines (MNA) tahun 2011,--MNA mengadakan sekitar 13 pesawat secara bertahap pada 2007 dengan harga per unitnya US$ 11 juta atau Rp 94,08 miliar,-- pesawat MA 60 buatan China mengalami beberapa insiden hingga kecelakaan. Pesawat yang tergelincir di Bandara El Tari Kupang, NTT, pada Senin (10/6/2013) lalu ternyata bukan insiden yang pertama. Dalam kecelakaan pesawat udara terdapat 3 kriteria tingkatan kecelakaan, yaitu incident (insiden), serious incident (insiden serius), dan accident (kecelakaan). Bila pesawat tergelincir, biasanya digolongkan ke insiden, bila pesawat itu mengalami deformasi atau perubahan bentuk, biasanya digolongkan ke dalam insiden serius. Namun bila insiden itu sudah menelan korban jiwa, maka kategorinya adalah accident. Berikut daftar insiden dan kecelakaan pesawat MA 60.

19 Februari 2011, Tergelincir di El Tari Kupang, NTT

Pesawat Merpati MA 60 tergelincir dan keluar dari landasan (runaway) Bandara El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejauh 15 meter. Namun, kondisi pesawat tersebut dilaporkan tidak mengalami kerusakan berarti.

Pesawat baling-baling dengan register PK-MZJ itu tergelincir ketika hendak take off pukul 06.00 WITA.

Seorang saksi mata, Robin, yang tengah berada di bandara tersebut mengatakan, kecelakan pesawat baling-baling itu terjadi pada pukul 06.20 WITA, Sabtu (19/2/2011).

"Pas mau ngangkat (take off) ke udara, nggak jadi. Pesawat tergelincir ke luar dari landasan," kata Robin, kepada detikcom.

9 Mei 2011, Jatuh di Teluk Kaimana Papua

Ini adalah kecelakaan pesawat MA 60 paling tragis dengan jumlah korban terbanyak, di mana seluruh penumpang dan kru pesawat tidak ada yang selamat. Menurut pakar, pesawat tampak terlalu mudah nyungsep begitu saja ke laut dan tampak terlalu mudah. Meskipun KNKT menyimpulkan karena kesalahan Pilot, namun banyak pihak meragukan kseimpulan itu. 
Pesawat MA 60 yang dioperasikan Merpati Nusantara Airways jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat. Menurut GM Corporate Secretary & Legal Merpati Imam Turidy, pesawat mengangkut 19 penumpang dan 6 kru. Pesawat nahas itu menghujam ke dalam laut sekitar 500 meter sebelum mendarat ke landasan pacu Bandara Utarom, Kaimana. Semua penumpang dan kru pesawat tewas.

KNKT akhirnya menyelesaikan investigasi terhadap kecelakaan pesawat Merpati bernomor registrasi PK-MZK tersebut yang terjadi 7 Mei 2011 silam. Hasilnya, kecelakaan itu disebabkan kelalaian pilot.

2 Desember 2011, Keluarkan Percikan Api


MA mengeluarkan percikan Api

Apakah insiden ini karena kesalahan pilot juga ? Mudah sekali menyalahkan bawahan atau seseorang yang dinilai tak punya pengaruh atau kekuasaan. Mengkambinghitamkan kopral lebih gampang ketimbang menunjuk Jenderal yang harus bertanggung jawab. Fenomena seperti ini terjadi di mana-mana. Kalau jari telunjuk mengarah pada kualitas pesawat yang jelek, maka sudah pasti itu kesalahan akan mengarah pada direktur atau CEO Merpati, atau Menperindak yang berkolaborasi dengan petinggi terkait.

Pesawat MA 60 mengalami insiden mengeluarkan percikan api di udara, saat terbang dari Bima ke Denpasar.  

Pesawat itu memiliki nomor registrasi PK MZG/MA 60 dan nomor penerbangan NZ 623. Saat pesawat berada di ketinggian 6.500 kaki, penumpang melihat api keluar dari mesin kiri pesawat.

"Engineer memberi tahu ke kapten bahwa engine kiri ada fire. Langsung engine di-shut dan fire extinguisher diaktifkan. Lalu fire mati dan pesawat return to base (RTB) ke Bima dan landing safe," tutur Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S Ervan.

Pilot pesawat tersebut adalah Kapten Dwi Wahyu. Sedangkan kopilotnya adalah Ari Dwi. Sedangkan teknisi yang ada dalam pesawat adalah Tri Nandang.

Dirut Merpati Sardjono Jhony bersyukur pilot pesawat itu telah melakukan prosedur yang tepat.

"Pilot melakukan prosedur yang tepat dan alhamdulillah mendarat dengan selamat di Bima," sambung Jhony.

8 Januari 2012, Terperosok di Lahan Gambut Sampit


Pesawat Merpati MA 60 bernomor registrasi PK-MZM dengan nomor penerbangan MZ 536 Surabaya-Sampit  terperosok di runway Bandara H Asan Sampit, Kalimantan Tengah. 

Pesawat yang terbang dari Bandara Juanda, Surabaya, sebenarnya mendarat dengan sangat sempurna pada pukul 15.30 WIB, Sabtu (7/1/2012), di Bandara H Hasan, Sampit. Sesuai prosedur pesawat taxi ke Apron 1500 dari Treshold 31.

"Namun Kapten Pilot Saptono, memutar terlalu ke tepi runway bandara, sehingga roda sebelah kiri pesawat masuk ke shoulder dan terjeblos. Karena tekstur tanahnya gambut, maka pesawat tidak bisa bergerak dan miring ke kiri," kata SVP Corporate Secretary & Legal Merpati, Imam T. Jakfar, dalam press release yang diterima detikcom, Senin (9/1/2012).

Pada pukul 16.30 WIB, seluruh penumpang berhasil dikeluarkan dengan baik, tanpa mengalami hambatan berarti. Sementara pesawat yang sempat mengganggu penerbangan di Bandara Haji Hasan, Sampit, juga sudah berhasil ditarik pada Minggu (8/1), dengan cara mengangkat roda pesawat tersebut.


1 Desember 2012, Tergelincir di Bandara Lombok

Pesawat Merpati Airlines Nomor penerbangan MZ 6063 tergelincir di Bandara Internasional Lombok (BIL), sesaat setelah mendarat. Sistem hidrolik ban kiri belakang pesawat tidak berfungsi, membuat pesawat terperosok. Namun seluruh penumpang selamat.

Pesawat jenis MA 60 buatan China itu mendarat di Bandara Lombok pukul 11.55 Wita. 

Desmi Indrayana, Humas Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok dihubungi detikcom, Senin (31/12/2012) mengatakan, pesawat itu tergelincir di taxiway bandara saat hendak menuju apron, sesaat setelah mendarat.

"Ban kiri keluar lintasan saat hendak berbelok menuju taxiway. Hasil pemeriksaan, karena sistem hidrolik pada roda kiri di belakang tidak berfungsi," kata Desmi.

Pesawat itu mengangkut 24 penumpang dari Bima. Seluruh penumpang selamat, dan dievakuasi dari tempat pesawat tergelincir.

10 Juni 2013, Tergelincir di Bandara El Tari Kupang, NTT

Pesawat MA 60 Milik Merpati tergelincir hingga patah menjadi dua bagian.

Pesawat Merpati jenis MA 60 buatan China bernomor registrasi PK MZO mengalami crash landing (pendaratan sangat keras) dan undershoot alias pesawat yang mendaratkan rodanya sebelum titik pendaratan yang diharapkan di landasan (runway) pada pukul 09.40 Wita. Pesawat ini membuat Bandara El Tari Kupang ditutup karena evakuasi pesawat yang nose wheel atau roda depannya tak tampak keluar ini membutuhkan waktu berjam-jam.

Dari 45 penumpang dewasa dan 1 bayi semuanya selamat. Dari jumlah itu, ada 9 orang sempat dirawat di RS di Kupang, terdiri dari seorang penumpang dirawat di RS AU Kupang, sedangkan 6 orang penumpang masih dirawat di RSUD Prof dr WZ Johannes dan 2 orang penumpang di rawat di RS Bhayangkara, Kupang.

37 Orang Penumpang sudah kembali ke keluarganya masing masing di kawasan Kupang. Semua biaya hotel dan biaya rumah sakit ditanggung sepenuhnya oleh Merpati.

4 Kru yang terdiri dari Capt Adithya Prio Joewono, Co Pilot Au Yong Vun Pin serta 2 flight attendant Lanny Wulandari dan Anesa Purwanti dalam keadaan baik.

Evakuasi berlangsung sehari semalam hingga Bandara El Tari bisa dibuka hari ini pada pukul 07.00 Wita.

Kecelakaan di NTT merupakan yang ketujuh kalinya menimpa pesawat itu sejak pertama kali dipakai oleh Merpati Airlines dan keenam kalinya sejak dipakai oleh Sichuan Airlines. Pesawat yang sama juga pernah mengalami kecelakaan di Myanmar, Insiden di Kaimana merupakan yang paling buruk karena menewaskan seluruh penumpang yang berjumlah 27 orang.

Ironisnya lagi, 'musibah' itu sudah terjadi sejak pembelian pesawat tersebut. Awalnya pesawat ini akan dibeli sebanyak 15 unit dari Xian Industry. Namun, pada akhirnya hanya delapan unit yang dibeli. Xian tidak terima dengan perubahan ini lalu kemudian menggugat Merpati.

Skema pembayarannya pun bermasalah. Merpati Nusantara bersedia menandatangani kontrak dengan klausul di antaranya, bahwa Merpati sepekat dengan harga yang ditetapkan dalam kontrak tersebut. Termasuk Spesifikasi pesawat, cara pembayaran, bahkan skema pembelian pesawat.

Namun, pemerintah kemudian meminta bahwa sistem pengadaan pesawat MA-60 diubah menjadi leasing. Ketika itu, masalah ini membuat heboh karena ternyata Kementerian Keuangan belum menyetujui SLA untuk pembelian pesawat tersebut, namun pihak Merpati sudah menandatangani kontrak dengan Xian.

Pembelian nekat kalau boleh kita bilang. Ini bisa saja dipengaruhi oknum yang ingin mengeruk keuntungan dari pengadaan pesawat tersebut. Mereka merasa paling paham tentang pembelian itu sehingga melangkahi Kementerian Keuangan sekalipun.

Dalam pembelian itu sempat disebut-sebut adanya keterlibatan Jusuf Gunawan Wangkar, bekas Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi. Ia bahkan dituding terlibat dalam proyek pengadaan pesawat MA-60 yang juga dituding terjadi penggelembungan dana hingga US$40 juta.

Jusuf Wangkar tentu saja membantahnya dengan keras. Ia berani bersumpah tidak tahu menahu mengenai pengadaan itu. Keterlibatan Jusuf Wangkar disebut-sebut dalam sebuah siaran pers yang dikeluarkan sebuah serikat buruh sebagai staf khusus Presiden yang masih aktif di lingkungan Istana Presiden dan ikut terlibat pengadaan pesawat MA-60 untuk PT Merpati Nusantara Airlines.

Ketua Indonesia Development Monitoring Munatsir, ketika itu, menyebutkan yang menjadi broker pengadaan pesawat ini adalah bukan perusahaan yang profesional di bidangnya, yakni PT Pelangi Golf yang dipimpin Mulyadi. Perusahaan ini berkantor di kompleks Pergudangan Pluit Blok A.

"Untuk memuluskan proyek pengadaan pesawat Merpati itu, PT Pelangi Golf dibantu oleh staf khusus Presiden SBY yaitu, Jusuf Wangkar. Karena pengaruh itu, mereka bisa memenangkan pengadaan ini walaupun bisnis intinya sama sekali tidak berada di bidang penerbangan,” ungkap Munatsir.

Minus Sertifikat FAA

Persoalan MA-60 ternyata tidak berhenti sampai di sana. Belakangan diketahui bahwa pesawat ini tidak memiliki sertikat Federal Aviation Administration (FAA) atau semacam badan keselamatan penerbangan Amerika Serikat.

Sertifikat itu tentu penting karena menunjukkan kelayakan terbang sebuah pesawat. Tentu saja, kelayakan dalam versi FAA dan itu tidak menjadi syarat mutlak bagi pesawat untuk terbang. Sebab, FAA memang bukan dewa penerbangan.

Sehingga Merpati pun menganggap sertifikat itu tidak penting. Alasannya, pesawat MA-60 tidak digunakan di AS sehingga tidak perlu sertifikat itu.

Memang FAA bukan penentu. Namun, bagaimanapun badan itu berpengalaman dalam menentukan kelaikan terbang, sehingga akan lebih bagus jika MA-60 juga dinyatakan layak oleh mereka.

Persoalannya ketika itu adalah, sertifikat dari mana yang memberi kelayakan untuk terbang? Tentu saja, dari China dan Indonesia. "Sertifikasi sudah dilaksanakan oleh pemerintah China dan juga kita (Indonesia)," ujar Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti di Kementerian Perhubungan, Senin (10/6/2013) malam.

Cukup kredibel kah pemberi sertifikat itu? Inilah yang menjadi masalah. Sebab, jika Indonesia yang memberi sertifikat, maka itu perlu dipertanyakan. Sebab, negeri ini termasuk paling banyak mengalami kecelakaan pesawat sehingga tidak heran bila pesawat Indonesia sempat dilarang terbang ke Eropa.

Persoalan demi persoalan seharusnya menjadi pelajaran berharga, betapa sebuah kertas sertifikat bisa begitu berarti. Untuk urusan pesawat, menganggap sepele hal seperti itu sama saja dengan mempertaruhkan nyawa. Demi kepentingan segelintir pihak, jangan sampai membeli pesawat malah akhirnya membeli kendaraan maut. 


5 Negara Minati CN-295 Buatan PT DI

5 negara itu telah mengirimkan tim observasi ke PT DI.



Lima negara ASEAN menyatakan tertarik dan minat terhadap pesawat CN-295 buatan PT Dirgantara Indonesia. Hal itu dikatakan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Kementerian Pertahanan, Rabu 12 Juni 2013.

Kelima negara itu yakni Philipina, Vietnam, Myanmar, Malaysia, dan Thailand. Menurut Sjafrie, itu merupakan hasil dari kegiatan roadshow-nya yang telah mendapatkan respon konkrit. 

"Khusus introduksi pesawat CN-295 telah diperoleh minat dari lima negara untuk Angkatan Udara dan Kepolisian," kata Sjafrie.

Menurut Sjafrie, CN-295 dapat digunakan untuk operasi kemanusiaan dan kepentingan militer. Pesawat buatan tanah air ini dibandrol seharga US$ 30 juta.

Kelebihan CN-295 antara lain bisa mendarat di landasan rumput sepanjang runway 650 meter, memiliki daya muat 9 ton, dan mampu terbang 9 jam non stop.


"Pesawat ini bisa memuat 71 pelompat atau 50 penerjun, dan bisa mengangkut dua mobil jenis sedan," ungkap dia.

Pada akhir tahun 2014, Kementerian Pertahanan juga akan melakukan demo flight CN-295 di Brunei Darussalam.

"Untuk lima negara yang menyatakan minat dengan CN-295 akan mengirimkan tim observasi untuk untuk pembahasan teknis dan administrasi dengan PT DI," ujarnya.

Kokpit Pesawat CN 295

2 Proyek Nasional

Kementerian Pertahanan saat ini juga sedang membahas perkembangan alih teknologi kapal selam dan pesawat tempur KF-X/IF-X.

Saat ini Indonesia telah memiliki dua kapal selam. Ke depan, Indonesia akan bekerjasama dengan Korea Selaran untuk membuat tiga kapal selam.

"Dari tiga yang kita buat bekerja sama dengan Korsel, satu kapal selam akan dibuat di Indonesia yakni di PT PAL Surabaya," ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Purnomo berharap 1-2 tahun mendatang kapal selam itu dapat dibuat di Indonesia. Untuk itu, pemerintah sedang mempersiapkan infrastrukturnya.

Sementara untuk pesawat tempur KF-X/IF-X, pemerintah akan bekerjasama dengan Korea. KF-X/IF-X merupakan pesawat tempur generasi 4,5.

"Ini lebih canggih dari F16 dan Sukhoi," kata Purnomo dengan bangga. (VivaNews.co.id)

Friday, June 7, 2013

Pemerintah Dukung Penuh Pengembangan PT DI

Prototipe Pesawat N 2130, pesawat turbo jet canggih IPTN (sekarang PT DI). 
Jika bukan karena penghentian proyek oleh pemerintah atas permintaan
IMF di tahun 1998,pesawat ini seharusnya sudah mengudara melayani
penerbangan sipil sejak 2005 lalu. Pesawat ini semula menjadi pesaing
Boeing dan AirBus, dan sekelas SuperJet 100 buatan Rusia.

Wakil Presiden Boediono mengatakan pemerintah mendukung pengembangan PT Dirgantara Indonesia dengan model bisnis yang tepat dan saling menguntungkan.

"Kami serius ingin mengembangkan industri kedirgantaraan di Tanah Air seperti harapan Pak
Habibie," kata Boediono di Kantor Wapres Jakarta, Rabu.

Hal itu disampaikan saat Wapres menerima kunjungan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso dan CEO European Aeronautic Defence and Space (EADS) Thomas Enders. Dikatakan Wapres, Indonesia adalah pasar yang potensial bagi bisnis kedirgantaraan sehingga kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia (DI) dan European Aeronautic Defence and Space (EADS) harus saling  menguntungkan dan berkesinambungan.

"Kerja sama ini jangan hanya lima tahun atau hanya seumur satu kabinet, tetapi untuk jangka panjang,"
kata Wakil Presiden Boediono. Kerja sama yang dilakukan, lanjutnya, tidak hanya sekedar memproduksi pesawat bersama, tetapi juga menggunakan kandungan lokal yang lebih banyak dan meningkatkan kapasitas produksi.

Budi Santoso menyampaikan bahwa kedatangan CEO EADS ke Bandung untuk melihat langsung  kerjasama yang telah berlangsung dan juga untuk melakukan kontrak kerjasama baru. Beberapa kerja sama yang dilakukan oleh PT DI dengan EADS adalah kerjasama desain dan kerjasama produksi CN 235, program underlicences untuk produksi helikopter BO105, helikopter Puma dan Super Puma.

Bahkan, menurut Budi, Airbus percaya terhadap komponen yang diproduksi di PT DI. 
"Kami merupakan pemasok tunggal untuk Airbus," katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa kerja sama yang dilakukan dengan CASA tidak hanya dalam memproduksi pesawat, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi dan menjadikan PT DI sebagai perusahaan yang efisien.

CEO EADS Thomas Enders menjelaskan kepada Wapres bahwa kerja sama yang dijalin dengan PT DI
sudah lebih dari 30 tahun. "Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan PT DI. Kami berharap dapat melanjutkan kerjasama untuk memproduksi berbagai macam pesawat dan helikopter, serta produk-produk lain dari industri kedirgantaraan," kata Enders.

EADS adalah sebuah badan usaha milik Uni Eropa yang bergerak dalam bidang industri dirgantara dan pertahanan, antara lain membawahi perusahaan-perusahaan seperti Airbus Industrie (industri pesawat terbang), Eurocopter (industri helikopter) yang merupakan gabungan dari MBB dan Aerospatiale, MBDA (industri persenjataan), Astrium (industri satelit), dan Airbus Military (d/h CASA) yang bergerak dalam industri pesawat militer dan pesawat turbo propeller.

Sunday, June 2, 2013

PT DI Akan Mengerjakan Pesawat Pesanan Vietnam

Pesawat CN 295 TNI AU saat tiba di Vietnam.
NAY PYI TAY-  PT Dirgantara Indonesia berharap, pesanan Vietnam terhadap tiga unit pesawat jenis CN-295 dari Airbus Military, dapat dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia.
Langkah ini juga akan menguntungkan Vietnam.

"Vietnam telah memesan lima unit CN-295 dari Airbus Military, namun belakangan dikurangi jadi tiga. Sampai sekarang pesanan itu belum dikerjakan oleh Airbus Military," kata Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia, Budiman Saleh, Selasa (28/5/2013) di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Budiman menjadi salah satu anggota rombongan road show CN 295 yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke enam negara Asean.

Setelah kemarin di Vietnam, hari ini rombongan berada di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Ketika bertemu dengan Sjafrie pada Senin (27/5/2013) di Hanoi, Vietnam, Menteri Pertahanan Vietnam Jenderal Phung Quang Thanh, menyatakan, negaranya membutuhkan pesawat terbang yang mampu menerjunkan pasukan, mengangkut pasukan, punya daya angkut maksimal 10 ton, dan memiliki pintu di bagian belakang.

Secara eksplisit, Phung Quang lalu menyatakan ketertarikannya dengan CN-295 yang memenuhi kualifikasi pesawat yang dibutuhkan negaranya tersebut.

Menurut Budiman, pengalihan produksi pesawat CN-295 pesanan Vietnam dari Airbus Military ke PT Dirgantara Indonesia amat dimungkinkan karena sudah ada kolaborasi antara Airbus Military dan PT Dirgantara Indonesia untuk memproduksi pesawat tersebut.
Indonesia juga ditunjuk sebagai main dealer pesawat itu untuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.

Ada sejumlah keuntungan bagi Indonesia dan Vietnam jika pesawat itu diproduksi di PT Dirgantara Indonesia.

"Jika dibuat di Indonesia, 50 persen dari komponen pesawat tersebut, yaitu bagian sayap, dibuat di Indonesia. Untuk Vietnam, mereka juga akan dimudahkan dalam pemeliharaan karena kami punya pusat pemeliharaan CN-295 di Bandung. Jika ada kebutuhan suku cadang, hanya butuh waktu sekitar empat jam untuk mengirimkannya ke Vietnam," jelas Budiman. (Kompas).

Sunday, May 19, 2013

DPR: Senegal Tertarik Pesawat CN-235



Pemerintah Senegal berminat membeli dua pesawat CN-235 versi 220 produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Pesawat itu akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan VIP dan transportasi udara.

"Hal itu ditegaskan Menteri Angkatan Bersenjata Senegal Augustine Tine saat bertemu delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) antara DPR dan Parlemen Senegal di Kantor Kementerian Angkatan Bersenjata Senegal," kata Pimpinan Delegasi DPR Tantowi Yahya, Sabtu (18/5) malam.
Pemerintah Senegal juga ingin memulai kerja sama di bidang pertahanan. Yelalui pelatihan bagi perwira militer dan polisi. Selain juga upaya penguatan kerja sama di bidang politik terkait pemilu dan peran parlemen.

Pertemuan tersebut juga membahas mengenai rencana pembukaan kantor perwakilan pemerintah Senegal di Indonesia. Ini sebagai bentuk penguatan kerja sama setelah KBRI dibuka di Dakar pada 1982.

Kedua negara juga sedang melakukan proses finalisasi naskah nota kesepahaman mengenai Pembentukan Komisi Bersama. Ini dalam rangka mewujudkan hubungan bilateral saling menguntungkan.

Delegasi DPR melakukan kunjungan kerja ke Senegal selama tiga hari, 14--17 Mei. Kunker ini diikuti oleh lima anggota dari fraksi Demokrat, Golkar dan PDI Perjuangan. (Republika)

Dapat uang melalui internet

Saturday, May 11, 2013

PT DI focusing on ASEAN/Asia-Pacific Aircraft Market

CN 235 made by PT DI for the US Coast Guard was flying. ASEAN open sky become a new challenge and opportunity aircraft market for PT DI.

PT Dirgantara Indonesia plans to offer the Casa 212 aircraft to Myanmar in visits by 15 State Owned Enterprises to the country in early April 2013. "Its numbers has not been determined because there are still obstacles. Marketing Director of PT Dirgantara Indonesia who will offer the aircraft to Myanmar," said Main Director of PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, Saturday, March 30, 2013.


Constraints in question is the problem of providing components. "There are still enforced embargo on American-made components such as engines and avionics," he said. Even so, Indonesia PT DI will still try to offer a homemade aircraft. "I heard, America also offers its products."

A total of 15 State Owned Enterprises will travel to Myanmar to explore business cooperation opportunities in the country. Deputy of Businesses and Services the Ministry of State Owned Enterprises, Gatot Trihargo, said that the delegation will be accompanied by the Minister of Economy Coordinating, Hatta Rajasa, and Minister of State Owned Enterprises, Dahlan Iskan.

Budi said that some of the companies that participated include: PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PT Timah (Persero), PT Garuda Maintenance Facilities (GMF), PT Bukit Asam (Persero), Perum Bulog, PT Bank BNI (Persero) Tbk , PT Pupuk indonesia, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, PT WIKA (Persero) Tbk. "The meeting will be mainly on G to G (intergovernmental meetings.) Bank Negara Indonesia (BNI) will act as the coordinator of a local bank. And we will make the office that coordinated by BNI, PT WIKA, and PT Pertamina (Persero)," he says.

Casa C-212 Aviocar is a medium-sized aircraft and turboprop engine designed and manufactured in Spain for civil and military uses. This aircraft has been produced by PT Dirgantara Indonesia, as the only company that holds the license manufacture of the aircraft outside its main plant manufacturers. In January 2008, EADS CASA decided to move the entire production facility C-212 aircraft to PT. Indonesian Aerospace in Bandung, West Java. (Nusantara)

Dapat uang melalui internet

Monday, May 6, 2013

RI Siap Produksi Pesawat Pengintai Tanpa Awak

PUNA Wulung

Menyusul rencana memproduksi pesawat pengintai tak berawak, Kementerian Pertahanan RI menyatakan semua pesawat itu tidak bersenjata. Meski begitu, Kementrian Pertahanan Indonesia mengatakan sudah punya  rencana jangka panjang untuk mempersenjatai model yang bisa menembakkan misil atau menjatuhkan bom-bom.

Seperti diungkap Samudro, Direktur Badan Penerapan Riset dan Teknologi yang ikut merancang prototype itu, pesawat pengintai tak berawak Wulung mengirim video langsung  kepada stasiun-stasiun  pengendali di darat tapi hanya bisa terbang sampai empat jam dan sejauh 73 kilometer dari pusat pengendaliannya di darat.

Sebagai perbandingan, beberapa pesawat pengintai Amerika bisa terbang lebih dari satu hari tanpa mengisi bahan bakar dan bisa dikendalikan lewat satelit dari jarak ribuan kilometer jauhnya.
Dengan teknologi canggih dan didukung infrastruktur rumit, pesawat pengintai tak berawak yang bersenjata telah menjadi bentuk alat perang baru yang sangat modern, seperti dilansir situs voa.

Dalam upaya menyaingi kemampuan senjata global, pembuatan pesawat pengintai Indonesia harus dimulai dari sekarang. Tidak masalah jika harus dimulai dari jangkauan puluhan kilometer dahulu karena lama kelamaan bisa ditingkatkan dengan jangkauan yang jauh lebih besar. BPPT bisa menjadi semacam litbang untuk merekayasa pesawat tanpa awak yang lebih canggih yang dikendalikan dengan menggunakan satelit. Sementara LAPAN sedang mengembangkan satelit sendiri untuk diluncurkan dengan roket milik sendiri nanti, pesawat tanpa awak Indonesia bisa siap untuk mengudara dengan jangkauan ribuan kilometer.

Yang penting titik awal itu telah kita mulai dan perjalanan jauh sedang dilaksanakan. Jika negara-negara lain terutama angkatan bersenjata  negara-negara besar menggunakan beberapa jenis pesawat pengintai tak berawak yang dibeli dari pemasok utama seperti Israel dan Amerika, I
Indonesia bisa saja membeli dari AS untuk dipreteli / dipelajari jika AS mau menjualnya ke Indonesia. Tapi jika mereka tidak bersedia, mau tidak mau Indonesia harus melakukan pengembangan sendiri ke depan.

Perjalanan panjang ribuan kilometer selalu dimulai dari satu langkah awal. Yang penting Indonesia harus konsisten dengan rencana itu, dan jangan pedulikan kritikan orang-orang yang hanya pintar melontarkan cemoohan.

Tantangan Ke depan

Tantangan pengembangan ke depan dari sisi teknis adalah Indonesia belum pernah meluncurkan satelit sendiri dengan menggunakan roket milik sendiri.  LAPAN memperkirakan lima tahun lagi Indonesia sudah bisa membuat roket pembawa satelit ke luar angkasa, sementara satelitnya sendiri sejauh ini LAPAN sudah mampu membuatnya atas bantuan Jerman.

Namun LAPAN tampaknya sedang mengembangkan satelit yang lebih canggih untuk keperluan pengintaian, dengan teknologi yang lebih rumit dari pada teknologi satelit untuk pengamatan cuaca dan sistem komunikasi.

Jika sudah pada tahap itu, tampaknya BPPT dan konsorsium tidak akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan pesawat tanpa awak itu hingga mampu terbang ribuan kilometer. PT DI tentunya juga sudah mulai memikirkan bagaimana pesawat itu bisa terbang selama berhari-hari dari sisi bahan bakarnya. Bersama LEN, sangat mungkin konsorsium mampu menghasilkan pesawat terbang bertenaga surya atau dengan bahan bakar lainnya.

Tantangan yang lain adalah dari segi pengembangan software dari pesawat tanpa awak tersebut. Konsorsium BPPT, PT DI, LAPAN, dan PT LEN perlu menggandeng ITB atau UI atau ITS untuk mengembangkan perangkat lunak yang sesuai dengan tujuan. Indonesia memiliki ribuan programmer handal yang mampu mewujudkan rencana itu yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri maupun di luar negeri.

Jika konsorsium mau mengikuti langkah Dahlan Iskan dalam merekrut orang-orang Indonesia terbaik dari seluruh dunia, maka itu akan bisa mempercepat langkah itu. Penulis pernah membaca di Jawa Pos ada seorang ahli RADAR Indonesia yang bekerja di pusat pengembangan RADAR NATO di Eropa, dan dia adalah pakarnya di sana. Indonesia perlu memanggil pulang orang-orang seperti ini agar bisa berkarya membangun Indonesia.

Dapat uang melalui internet

Sunday, May 5, 2013

Akankah Pabrik Pesawat RI Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri ?

Andai PT DI tidak "dimatikan" oleh IMF, Indonesia sudah memproduksi pesawat N 2130 saingan Boeing 737-500 ini pada tahun 2005 lalu. Pesawwat ini sama canggihnya dengan Sukhoi SuperJet 100 buatan Rusia.


Pada hari Jum'at, 3 Mei 2013, Tempo menurunkan laporan sebagai berikut : 
PT DI dan Aviasi Kembangkan Pesawat Turbotrop
PT Dirgantara Indonesia (Persero) meneken kerjasama dengan PT Regio Aviasi Indonesia untuk mengembangkan pesawat terbang turbotrop modern berkapasitas 70-90 orang penumpang bernama Regioprop, di kantor PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jumat, 3 Mei 2013.
Direktur Utama PT Regio Aviasi Indonesia Agung Nugroho mengatakan, kerjasama tersebut bertujuan untuk mengembalikan kejayaan PT DI sebagai pembuat pesawat terbang dari ujung sampai ujung mulai dari desain hingga pemasaran. Selain itu untuk memberdayakan industri pesawat terbang asli produk Indonesia. 
“PT Regio Aviasi Indonesia posisinya sebagai sponsor dan PT DI sebagai strategi partner dan main contractor,” kata Agung kepada Tempo, Jumat, 3 Mei 2013.
PT Dirgantara Indonesia berfungsi sebagai strategi partner dan main contractor untuk menangani program sejak awal, perancangan, sertifikasi sampai dengan pembuatan pesawat serta serial dan melakukan pemasaran bersamda. Sementara PT Regio Aviasi Indonesia sebagai sponsor, marketing dan pengambangan program.
Program pengembangan akan dilakukan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah pleminary design dan feasibility study, yang akan berlangsung selama kurang lebih satu tahun untuk definisiawal pesawat dan menyerap keinginan atau persyaratan customer. Tahap ke-dua, full scale development atau pengembangan skala penuh, terdiri dari detail design, prototype manufacturing dan sertifikasi. Tahap tersebut berlangsung sekitar empat tahun terhitung mulai 2014-2017 untuk mendapatkan sertifikasi nasional Kementrian Perhubungan. 
“Semoga di tahun 2018 sertifikasi turun dan bisa berlanjut ke tahap tiga yaitu serial production, penjualan dan layanan purna jual,” kata Agung.
Program yang ditargetkan rampung dalam lima tahun itu akan memanfaatkan pengalaman rancang bangun anak bangsa dalam mengembangkan pesawat terbang sejak 1979 – 1982 (CN35) dan 1989 – 1996 (N250), yang disesuaikan dengan tantangan kebutuhan pesawat di masa depan, akan transportasi dengan efisiensi dan keekonomian yang lebih baik, kenyamanan penumpang dan keandalan yang lebih tinggi serta ramah lingkungan. 

Selain itu, program tersebut juga dimanfaatkan untuk mengisi kebutuhan pasar di sektor pesawat regional (regional aircraft) pada kurun waktu 2018-2037 dan untuk mengambalikan kemampuan rancang bangun pesawat terbang di Indonesia. 
“Indonesia punya potensi untuk mengembangkan industri pesawat di Negara sendiri. Baiknya ya bangsa ini membuat pesawat untuk bangsanya sendiri untuk kebangkitan dirgantara nasional,” ujar Agung.
Program tersebut merupakan satu wadah untuk meneruskan cita-cita yang telah dirintis oleh PT DI dalam mengembangkan pesawat terbang secara bertahap, baik dari segi kapasitas, daya jangkau dan kandungan teknologi. Seperti program-program sebelumnya yakni,  NC212, CN235, N250, dan N2130. 
Melihat perkembangan di atas, ada harapan bahwa Industri penerbangan Indonesia akan bangkit pada saat yang tepat, yakni ketika pertumbuhan bisnis penerbangan di Asia Pasifik khususnya Indonesia sedang naik pesat.

Indonesia adalah negara besar, dalam arti luas wilayah dan jumlah penduduk kelas menengah yang terus naik yang saat ini berjumlah lebih dari 130 juta jiwa adalah jumlah yang luar biasa banyak dan sangat potensial. Pertumbuhan kelas menengah yang sangat signifikan tersebut menjadikan Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia bersama China, India, dan Brazil. 

Tak ada momen yang lebih baik dari sekarang, bagi industri / pabrik pesawat Indonesia seperti PT DI untuk segera mempersiapkan diri menyambut kebutuhan jumlah pesawat domestik dan di kawasan regional Asia Tenggara.

CEO Lion Air, Rusdy Kirana, beberapa waktu lalu menyatakan bahwa "mereka yang mengkritik langkah Lion Air adalah mereka yang tidak paham akan pertumbuhan industri penerbangan di Asia Pasifik." Lion Air beberapa waktu lalu melakukan transaksi spektakuler yakni pembelian 230 unit pesawat dari Boeing (rekor sejarah untuk Boeing), dan beberapa bulan kemudian Lion Air melakukan hal yang sama dan kali ini membeli 234 unit pesawat dari Air Bus (rekor dalam sejarah Air Bus).

Pembelian gila-gilaan ini, kata sejumlah pengamat penerbangan, merupakan refleksi dari tuntutan kebutuhan pasar pesawat yang juga "gila" di Indonesia dan Asia Tenggara.

Situasi ini bukan tidak diperkirakan sebelumnya oleh pioneer industri penerbangan kita, Prof. Dr. BJ Habibie, bahwa ke depan potensi kebutuhan jumlah pesawat komersial akan naik secara signifikan. Habibie menyatakan hal itu 25 tahun yang lalu, ketika beliau merencanakan pembuatan pesawat N 2130 pada tahun 1996.  DetikFinance melaporkan sebagai berikut :

BJ Habibie Rancang N-2130, Boeing dan Airbus 'Ketar-ketir'
Setelah sukses melahirkan N-250 Gatotkaca dan Krincing Wesi pada Agustus 1996, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di bawah besutan BJ Habibie pernah berencana melahirkan prototipe pesawat lebih maju sekelas Sukhoi SuperJet 100.
Habibie mendesain pesawat penumpang komersial bermesin jet asli karya Indonesia, yakni N-2130 yang rencananya beroperasi mulai 2005 lalu. Pesawat N-2130 berpenumpang 130 orang ini dikonsep memiliki pasar serupa dengan pesawat Boeing seri 737-500 atau Airbus seri A320. 

Direktur Utama PT DI Budi Santoso bercerita, rencana BJ Habibie kala itu membuat raksasa produsen pesawat dunia yaitu Boeing dan Airbus ketar-ketir.
"Dikembangkan pasca N-250. Mungkin kesalahan ini mengembangkan N-2130. Mulai masuk pasarnya Boeing. Mungkin waktu IMF masuk ke sini, pesan sponsor di sana tolong matikan," tutur Budi kepadadetikFinance di Kantor Pusat PTDI, Jalan Pajajaran, Bandung, Jumat (15/2/2013).

Budi memprediksi, Seandainya waktu itu proyek pesawat jet N-2130 tidak dikembangkan, pesawat penumpang bermesin propeler yakni N-250, mungkin tidak akan mangkrak seperti saat ini.

"Kalau ini (Boeing dan Airbus) terganggu pasarnya. Mulai gunakan politik mematikan. Mungkin kita kalau nggak bikin N-2130, N-250 bisa jadi (berhasil) karena itu (N-250) bukan pasarnya perusahaan besar. Bukan pasar Airbus dan Boeing," cetusnya.

Hari ini, proyek N-2130 hanya tinggal secarik kertas yang tak pernah terwujud barangnya. Di ruang pamer pesawat PT DI terdapat prototipe N-2130 yang belum selesai dikembangkan. 

Budi menuturkan, dengan nilai uang saat ini, biaya mengembangkan N -2130 versi terbaru setidaknya mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 10 miliar.
"N-2130 hanya jadi kertas saja. Bikin baru seperi ini (N 2130) perlu US$ 6 miliar-US$ 10 miliar. Itu harga tahun ini, kalau harga tahun itu berbeda (dulu senilai US$ 2 miliar)," cetusnya.

Perlu Anda ketahui bahwa pesawat N 2130 ketika itu adalah lebih modern dan lebih unggul dibandingkan dengan Boeing 737-500.

BJ Habibie merencanakan ketika itu, seandainya proyek itu tetap dipertahankan, PT DI sudah memproduksi pesawat N 2130 sekelas Sukhoi Superjet 100 pada tahun 2005 lalu. Itu artinya, Lion Air mungkin tidak akan 100% berpaling pada Boeing dan Airbus untuk memenuhi kebutuhan pesawat domestik dan regional Asia Pasifik. Boleh jadi, Lion Air akan memesan setidaknya 30 pesawat dari PT DI yang sekelas 737-500.

BJ Habibie Sempat Akan Bikin Pesawat Penumpang Saingan Boeing 737-500
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) ternyata pernah berencana mengembangkan pesawat penumpang bermesin jet, N-2130. Pesawat komersial berkapasitas 130 penumpang itu, awalnya akan dikembangkan setelah N-250, berhasil diuji coba sekitar 1996. 
Direktur Utama PT DI Budi Santoso menuturkan, pesawat tersebut oleh BJ Habibie kala itu, siap dikembangkan dengan dana US$ 2 miliar. Bahkan spesifikasi rancangan mesin dan desain pesawat kala itu telah mengungguli atau lebih moderen serta efisien dibandingkan pesawat penumpang asal pabrikan Amerika Serikat yakni Boeing 737-500 seri klasik.
"Itu (N-2130) di atas kertas lebih baik dari Boeing 737-500," tutur Budi kepada detikFinance di Kantor Pusat Dirgantara Indonesia, Jalan Pajajaran Bandung, Jumat (15/2/2013).
Kala itu, N-2130 diproyeksikan siap beroperasi dan terbang melayani masyarakat mulai 2005. Budi menuturkan, seandainya proyek N-2130 berjalan, maka maskapai penerbangan komersial di tanah air seperti Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, Mandala, Sriwijaya, Merpati Nusantara, dan maskapai lainnya akan menggunakan pesawat N-2130 tersebut.
"Sebelum 2005-2006 sudah terbang (di rencana). Ini (N-2130) bisa menguasai pasar Indonesia. Jadi ini (Boeing seri 737) nggak akan merajalela di sini (Indonesia),” tambah Budi sambil menunjuk miniatur N-2130 di ruangannya.
Namun rencana itu harus pupus karena Presiden Soeharto mengehentikan kucuran dana PT DI saat krisis ekonomi 1998. Hal itu dilakukan berdasarkan desakan International Monetary Fund (IMF) yang bertindak sebagai kreditor ke Indonesia. (Detikfinance).
Sekarang, mimpi-mimpi itu bukannya hilang, melainkan akan dilanjutkan oleh PT DI bekerja sama dengan PT Aviasi untuk mengembangkan pesawat Jet Turboprop yang lebih canggih. Kali ini PT DI akan membuat pesawat itu berdasarkan riset kebutuhan pasar, untuk memenuhi pertumbuhan jumlah pesawat penumpang dengan kapasitas kursi 130 orang.

Beberapa maskapai penerbangan nasional telah menyatakan minatnya untuk membeli pesawat buatan PT DI ini. Pemerintah harus mendukung program ini yakni membuat pesawat baru yang lebih canggih untuk menerusakan N 2130 yang sempat terhenti. Disain dan prototipe pesawat itu sudah dibuat, data-datanya sudah ada, tinggal melanjutkan saja. Kebutuhan investasinya sekitar 600 milyar rupiah. Jika tagihan pajak pemerintah ke Asian Agri saja sebesar 2,5 triliun Rupiah dari pajak yang mereka kemplang, jumlah 600 milyar Rupiah terasa kecil. Apalagi dibandingkan dana BLBI yang dicolong Djoko Tjandra sebesar 164 Triliun Rupiah, uang setengah triliun hampir-hampir tiada artinya.

Jika pemerintah mendukung proyek tersebut, maka soal apakah pabrik pesawat kita akan menjadi tuan rumah di tanah sendiri akan terjawab : "Ya, insya Allah akan terwujud lebih cepat." PT DI akan mencari cara agar proyek ini bisa terwujud bersama Aviasi dan ini sebuah tindakan yang patut dihargai dan didorong realisasinya.

Rakyat Indonesia sudah bosan negara bangsa kita hanya dijadikan bulan-bulanan produk asing. Lihatlah pasar mobil dan motor yang sedemikian besar, hanya dikuasai oleh mobil-mobil Jepang dan Eropa. Seharusnya 230 Juta rakyat negara ini bisa merasakan mobil buatan dalam negeri sendiri, karya-karya anak bangsa. Baru mobil Esemka saja yang serius. Departemen Perindustrian dan perdagangan harus mendukung 100% upaya bangkitnya industri dalam negeri. Industri bayi dalam negeri jangan diperlakukan sama dengan asing di negeri sendiri. Mereka harus diproteksi lebih dahulu.

Melihat bangsa ini dalam sejarahnya selalu bisa lolos dari situasi sulit, penulis optimis bahwa PTDI dan Aviasi akan berhasil mewujudkan impiannya, bahkan impian Indonesia agar pabrik pesawat nasional bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Insya Allah, dengan usaha keras dan doa, tidak ada yang tidak mungkin. Cepat atau lambat Insya Allah akan terwujud.  

Dapat uang melalui internet