Showing posts with label n 219. Show all posts
Showing posts with label n 219. Show all posts

Thursday, August 29, 2013

Kemenhan Tertarik Pesawat Terbaru N 219 PT DI


JAKARTA--Pesawat komersil yang baru dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (DI), N 219 sangat diminati di dalam negeri. Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan beberapa gubernur di Indonesia menyatakan tertarik dengan pesawat berkapasitas 19 orang ini.

''Kemenhan, pesan untuk menggantikan Nomad angkatan laut,'' ujar Program Manager N219, Director of Technology and Development, PT DI, Budi Sampurno kepada wartawan di acara Pameran Ritech Expo 2013, Kamis (29/8). 

Menurut Budi, harga pembelian N219 tersebut bervariasi tergantung operasional yang akan dipasang di pesawat apa saja. Harga dasar pesawat tersebut berkisar 4,2 juta dolar Amerika. Sementara, untuk tipe operasional komplit harga bisa mencapai 5 juta dolar Amerika.

''N219 dengan Kemhan, baru MoU belum deal sampai kontrak. Pengerjaannya, jadi harus melihat dulu nanti,'' katanya. 

Budi mengatakan PT DI menargetkan pengerjaan N219 ini satu bulan bisa 2 pesawat. Meski, normalnya sekarang satu bulan menyelesaikan satu unit. ''Banyak pesanan, tentu kami akan meningkatkan kapasitas produksi per tahunnya jadi bisa dibuat 24 unit per tahun,'' katanya.

Kapan pesawat pesanan Kemhan akan dikerjakan? Budi mengatakan pengiriman untuk Kemhan masih model CN235 untuk angkatan laut. Tahun ini dijadwalkan pengiriman 3 unit dari total pesanan sebanyak 5 unit. (Republika.co.id)



Saturday, August 24, 2013

Beli 100 N-219, Lion Air Rogoh Kocek Rp 5 Triliun


JAKARTA - Rencana Lion Air membeli 100 unit pesawat N-219 produksi BUMN PT Dirgantara Indonesia akan segera terwujud. Nota kesepahaman (MoU) pembelian pesawat perintis tersebut akan ditandatangani kedua belah pihak pada pekan depan.
Menteri Ristek Gusti Muhammad Hatta mengatakan, MoU pembelian pesawat akan ditandatangani dirut Lion Air dan dirut PT DI di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi di Jakarta 28 Agustus mendatang. "Nilai transaksinya belum diketahui karena baru akan disebutkan pada saat penandatanganan MoU," kata Gusti di kantornya kemarin (23/8).
Harga pesawat berkapasitas 19 penumpang tersebut diperkirakan USD 4,5 juta hingga USD 5 juta per unit. Dengan demikian, nilai transaksi untuk 100 unit pesawat diperkirakan akan mencapai sekitar Rp 5 triliun. Meski demikian, uang tersebut tidak akan langsung diterima, karena pengiriman tiga unit pesawat baru akan dilakukan mulai 2016 dan tahun berikutnya menyusul akan diserahkan tiga pesawat.
Pada tahap awal, PT DI baru menggunakan 30 persen komponen lokal dan pada tahap berikutnya ditargetkan komponen lokal akan meningkat jadi 60 persen. Komponen yang masih perlu diimpor antara lain mesin pesawat dan peralatan elektronik atau navigasi. Kedua komponen tersebut lebih ekonomis bila membeli dibandingkan membuat sendiri.
Gusti mengatakan, pesanan dari Lion mampu membangkitkan semangat PT DI yang telah merancang pesawat baling-baling tersebut sejak 2006. "Kalau tidak ada yang membeli maka tentu saja produksi dalam negeri tidak akan berkembang," katanya.
Pesawat N-219 merupakan pesawat penumpang yang ditujukan untuk melayani bandara-bandara perintis dan pulau-pulau terpencil. Pesawat ini mampu lepas landas dari landasan pacu sepanjang 600 meter dan berkontur tidak rata. Mesin yang digunakan juga kuat karena berkekuatan 850 shaft horse power.
Sejak tahun lalu, PT DI telah membuat pesawat prototipe senilai Rp 300 miliar untuk static test dan uji produksi mesin. Pesawat purwareka tersebut telah lolos tes aerodinamika di laboratorium Badan Pengkajian Penerapan Teknologi di Serpong serta ditargetkan memperoleh sertifikat laik terbang pada 2014. (JPPN.com)



Friday, August 16, 2013

Lion Air Borong 100 Pesawat dari PT DI



JAKARTA - PT Dirgantara Indonesia (DI) menyatakan maskapai penerbangan swasta dalam negeri Lion Air telah memesan pesawat jenis N219 buatan Dirgantara Indonesia. Setelah memesan 50 unit pesawat jenis N219 pada pekan lalu, kali ini Lion Air kembali memesan 50 unit pesawat.

Manajer Komunikasi PT DI Sonny Saleh Ibrahim mengatakan, pemesanan yang dilakukan pihak Lion Air terjadi pada saat liburan Hari Raya Lebaran tahun ini. Dimana, Direktur Utama PT DI Budi Santoso yang didampingi oleh Direktur Teknologi PT DI Andi Alisjahbana telah bertemu dengan CEO Lion Air Rusdi Kirana.

"Lion Air merencanakan akan memiliki 1.000 pesawat berbagai jenis, di mana 100 unit di antaranya adalah N219 pesawat multiguna 19 penumpang. PT DI sudah merintis pengembangannya sejak 2007," ucap Sonny ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Jumat (16/8/2013).

Sonny menyebutkan, pada 2015, PT DI akan segera merampungkan dua unit pesawat sebagai prototype. Begitu pula proses sertifikasi dua pesawat prototype yang akan diselesaikan pada 2015. Sedangkan, produksi serial pertama empat unit akan diselesaikan PT DI pada 2016.

Selain itu, lanjut Sonny, kapasitas produksi PT DI terkait pesawat perintis tersebut 12 unit per tahun. Yang otomatis unit ke 100 akan selesai pada tahun 2024. "Pesawat N219 dirancang untuk daerah perintis dengan landasan pendek dan bukan aspal serta harga terjangkau," tambahnya. (wdi) (okezone)




Thursday, August 15, 2013

Ini Alasan Lion Air Berniat Beli Pesawat Made In Bandung


Jakarta - Selama ini, maskapai penerbangan nasional Lion Air terkenal memborong pesawat Airbus dan Boeing buatan luar negeri. Namun kali ini, Lion Air berniat mengembangkan produk nasional dengan membeli pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan, pesawat N219 yang tengah dikembangkan oleh PTDI merupakan asli produk buatan Indonesia.
"Harapan kami adalah produk domestik akan berkembang dan bermanfaat bagi dunia penerbangan," ujar Edward kepada detikFinance, Senin (12/8/2013).

Edward belum mau menceritakan lebih panjang soal rencana pembelian ini. Namun rencananya bila pesawat ini jadi dibeli, maka akan digunakan untuk penerbangan perintis yang rencananya akan disasar oleh Lion Air.

"Pesawat ini kan kursinya terbatas. Saat ini masih banyak daerah-daerah yang masih harus diterbangi, tapi sarana bandara belum sebesar armada yang kami miliki," jelas Edward.

Sebelumnya, hari ini, Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana bertemu Menteri BUMN Dahlan Iskan di kantornya untuk membicarakan niat membeli 50 unit pesawat N219 yang prototype-nya sedang dibuat PTDI.

"Kami sepakat mengembangkan PTDI untuk menjadi kebanggaan nasional, beliau (Rusdi) ini kan beli pesawat banyak dari luar negeri, dia ingin ikut kembangkan PTDI dengan membeli pesawat PTDIDI yang orisinil PTDI, yang betul-betul kebanggan PTDI yang prototype-nya dalam setahun ini jadi, kemudian uji coba-uji coba dalam 2 tahun jadi, pesawat N219, 19 seat," tutur Dahlan.

Rencananya, ujar Dahlan, Lion Air akan membeli sekitar 50 unit pesawat buatan PTDI yang pabriknya berada di Bandung ini. Namun perundingan pembelian ini masih panjang. "Perundingannya masih panjang. Tidak seperti beli kerupuk," ujar Dahlan.

PTDI, ujar Dahlan, siap untuk memproduksi N219 dalam 2 tahun ke depan. Selain Lion Air, pesawat ini juga akan dipasarkan di luar negeri. Dahlan sudah bertemu dengan Direktur Utama PTDI terkait rencana pembelian oleh Lion Air ini. (DetikFinance)




Wednesday, August 14, 2013

Lion Air Bangunkan Industri Pesawat Indonesia yang Mati Suri

"Teknologi Avionic N219 adalah teknologi termodern sekarang ini."

Rusdi Kirana (duduk sebelah kiri), CEO Lion Air, bersama CEO Boeing saat 
penandatanganan transaksi pembelian 230 unit pesawat terbang, disaksikan
oleh Presiden AS, Barack Obama. Pembelian 230 pesawat dari berbagai jenis
oleh Lion Air ini adalah yang terbesar dalam sejarah penerbangan sipil.
Jakarta - PT Lion Mentari Airlines (Lion Air), berencana memborong 50 unit pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, Senin 12 Agustus 2013, menyatakan bahwa langkah perusahaannya untuk membeli N219 adalah untuk mendukung pengembangan rancangan pesawat karya anak bangsa itu.

"Kami ingin bekerjasama dengan PTDI," ujar Rusdi di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta.

Senin awal pekan ini, dengan menggunakan mobil Rolls Royce, Rusdi merupakan satu-satunya di petinggi perusahaan swasta yang datang bersilaturahmi setelah Lebaran ke kantor kementerian BUMN, Jakarta. Rusdi mengatakan tujuan kedatangannya ini adalah menyampaikan langsung kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan mengenai rencana pembelian N219 itu secepatnya.

Lion Air dengan reputasinya sebagai maskapai penerbangan murah (low cost carrier) ini tampaknya memang sedang gencar melakukan pembelian pesawat untuk menambah armada pelayanannya.

Pada Maret lalu, Lion Air memesan 234 unit pesawat Airbus tipe A320. Tak disebutkan berapa nilai transaksi dengan Airbus ini. Namun dua tahun  Sebelumnya, pada 2011, Lion Air sudah mengejutkan dunia penerbangan Indonesia dengan membeli 230 unit pesawat Boeing berbagai tipe dengan nilai transaksi sekitar US$14 miliar.
Seperti diketahui , di tengah krisis ekonomi Eropa, pembelian 234 pesawat Airbus oleh Lion Air ikut membantu membuat perekonomian Prancis berdenyut. Transaksi senilai US$24 miliar tersebut menjadi salah satu transaksi pembelian pesawat terbesar di dunia.

Presiden Prancis, Francois Hollande, menjelaskan transaksi ini menjadi yang terbesar dalam sejarah penerbangan sipil dan akan ikut menyelamatkan ekonomi Prancis yang sedang dihajar krisis. Bahkan, sangat kontras dengan apa yang terjadi di Eropa saat ini yang sedang dibayang-bayangi oleh kekhawatiran bailout Siprus.
"Saya harus berterima kasih karena dengan kontrak ini, Airbus akan mengamankan sekitar 5.000 pekerjaan selama 10 tahun," kata Hollande seperti dilansir Reuters, Selasa 19 Februari 2013.
Kepada wartawan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Senin 12 Maret 2013, menjelaskan bahwa pilihan Rusdi untuk memesan 50 unit N219 ini dalam rangka ingin mendukung pengembangan produk PTDI.

"Yang jelas, kami sepakat mengembangkan PTDI untuk menjadi kebanggaan nasional," kata Dahlan usai acara pertemuan dan silaturahmi setelah perayaan Lebaran di kantornya itu.

Menurut Dahlan, dengan pemesanan ini, Lion Air otomatis membantu pengembangan model N219 yang purwarupanya (protoype) sedang dalam proses pengembangan di PTDI. "Beliau (Rusdi) ini kan beli pesawat banyak dari luar negeri, jadi ingin ikut kembangkan PTDI dengan membeli pesawat PTDI," kata Dahlan.

Dahlan menjelaskan, realisasi produksi N219 ini masih harus menunggu prototype N219 diselesaikan dan telah melewati proses uji coba. Kementerian BUMN memberi batas waktu untuk penyelesaian prototype ini pada tahun ini, setelah itu masuk pada tahap uji coba. "Perundingannya masih panjang, tidak seperti beli kerupuk," kata Dahlan.

Meski masih dalam rancangan pengembangan, Dahlan melanjutkan, Rusdi telah tertarik untuk melakukan pembelian N219 untuk menambah armada Lion Air. "Pak Rusdi sudah lihat desainnya, beliau percaya, dan beliau akan membeli lima puluhan unit," kata Dahlan.
Jika kerjasama ini berhasil dan prototypeN219 diproduksi, Lion Air akan menjadi pelopor maskapai penerbangan swasta yang mengembangkan produk Indonesia. Dahlan berharap hal ini diikuti oleh maskapai penerbangan lainnya.

Pesawat N219, Dahlan menambahkan, akan digunakan oleh Lion Air untuk melayani penerbangan rute kawasan Indonesia Timur. Selama ini, penerbangan jalur tersebut didominasi oleh maskapai plat merah Merpati Airlines. "Tidak untuk menggantikan, cuma berapa rute, ini kan besar, bukan kecil. Merpati sekarang kan sedikit sekali," kata Dahlan.

Menurut Dahlan, selain Lion Air, banyak perusahaan maskapai penerbangan lain baik yang di Indonesia maupun di manca negara sudah menyatakan minat terhadap model N219.

Dahlan tak menjelaskan lebih rinci mengenai pihak lain yang bermninat itu. Namun, kata Dahlan, Rusdi menjanjikan akan mempromosikan pesawat buatan PTDI di pasar internasional. "Dia akan bantu pasarkan di luar," kata Dahlan.

Mati Suri

Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, dalam wawancara VIVAnews pada April 2013, menjelaskan bahwa setelah cukup lama mengalami 'mati suri' akibat pukulan krisis moneter 1998, perusahaan dirgantara ini kini mulai bisa bernafas lagi. Dua tahun belakangan PTDI berbenah. Revitalisasi, restukturisasi, meremajakan mesin dan merekrut insinyur. Namun lebih dari itu, PTDI pun mempersiapkan produksi pesawat baru: N219.

Memang tidak secanggih N250. N219 lebih bersahaja. Bahkan boleh dibilang sangat  sederhana. "Ini adalah yang termurah. Tapi, ada segmen pasarnya," kata Budi.
Huruf N dalam nama itu adalah Nusantara, menunjukkan bahwa desain, produksi dan seluruh perhitungan dikerjakan di Indonesia. Pesawat N219 merupakan pesawat baru, tidak meniru jenis pesawat manapun.

Bobot bersih pesawat ini 4,7 ton. Telah memenuhi unsur pesawat kecil menurut  standar FAR 23. Bisa menjangkau jarak maksimal 1.111 kilometer. Kurang lebih sama dengan jarak terbang Jakarta ke Balikpapan.

Meski mungil, daya tampung pesawat ini terbilang besar. Hingga tujuh ton. Sayap sepanjang 19,5 meter mampu membuat logam sepanjang 16,5 meter dan tinggi 6,1 meter ini melayang-layang di ketinggian maksimal 10.000 kaki dari permukaan laut.

Pesawat N219 sengaja didesain hanya untuk kebutuhan sipil, dengan kapasitas penumpang hanya 19 orang. Dengan begitu, pesawat ini bisa dioperasikan pada daerah dengan kondisi alam ekstrim dan tingkat kesulitan yang tinggi. Seperti landasan tak beraspal di wilayah pegunungan. Di wilayah kepulauan.

Sejumlah teknologi unik telah diadopsi. Konstruksi badan dan sayap dari aluminium. Mesinnya banyak digunakan dalam dunia penerbangan. Sistem teknologi di dalamnya sudah modern. Reliable, dan mudah dalam perawatan.

"Teknologi Avionic N219 adalah teknologi termodern sekarang ini. Menggunakan glass cockpit dengan fitur synthetic vision untuk membantu pilot mendapatkan informasi navigasi yang akurat meskipun cuaca buruk,” kata Direktur Teknologi Pengembangan Rekayasa Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana kepada VIVAnews pada April 2013 lalu.

Pesawat N219  asli 100 persen karya anak bangsa. N219 ini diharapkan bisa menggantikan pesawat Twin Otter yang sempat populer di era '70-80'an. Pesawat jenis itu telah usang. Tidak diproduksi lagi, meski beberapa kerap ditemui di Indonesia.
© VIVA.co.id




Monday, August 12, 2013

Lion Air Siap Beli 50 Pesawat N219 Buatan PT DI

"Kami ingin bekerjasama dengan PT DI," ujar Rusdi Kirana.

Rusdi Kirana, CEO Lion Air (berkumis), saat penandatanganan kesepakatan pembelian 234 pesawat terbang dari pabrik Airbus, bersama CEO Airbus disaksikan oleh Presiden Perancis,
Francois Hollande. Ini juga rekor pembelian terbesar setelah sebelumnya Rusdi mencatatkan
rekor pembelian terbesar dari pesaing utama Airbus, yaskni Boeing sebanyak 230 buah pesawat
produksi boeing. Transansaksi ini juga menyelamatkan Airbus dari PHK 5.000 karyawan akibat krisis ekonomi melanda daratan Eropa. Dengan pembelian spektakuler ini, Airbus terselamatkan dengan jaminan pekerjaan untuk 5.000 karyawannya selama 10 tahun. 

Presiden Direktur PT Lion Mentari Airlines (Lion Air), Rusdi Kirana, Senin 12 Agustus 2013, menyatakan bahwa perusahaannya berencana beli 50 unit pesawat perintis N219. Pesawat itu buatan PT Dirgantara Indonesia (DI).

Hari ini, dengan menggunakan Mobil Rolls Royce, Rusdi merupakan satu-satunya di petinggi perusahaan swasta yang datang bersilaturahmi setelah perayaan Lebaran ke kantor kementerian BUMN, Jakarta. Rusdi mengatakan tujuan kedatangannya ini adalah menyampaikan langsung kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan mengenai rencana pembelian N219 itu secepatnya.

"Kami ingin bekerjasama dengan PT DI," ujar Rusdi.

Dahlan Iskan pun menjelaskan Rusdi berniat menggunakan N219 untuk armada Lion Air karena ingin mendukung pengembangan pesawat buatan anak bangsa itu.

"Beliau ini kan beli pesawat banyak dari luar negeri, jadi ingin ikut kembangkan PT DI dengan membeli pesawat PT DI di yang betul-betul menjadi kebanggan," kata Dahlan usai acara silaturahmi.

Dahlan menjelaskan, saat ini model yang menjadi contoh atau prototipe N219 sedang dikembangkan. Ditargetkan selama 2 tahun pesawat ini sudah diproduksi.

"Perundingannya masih panjang tidak seperti beli kerupuk," kata Dahlan.

Indonesia Timur

Jika niatan ini terealisasi, Dahlan melanjutkan, Lion Air akan menjadi pelopor maskapai penerbangan swasta yang mengembangkan produk Indonesia. Dahlan berharap hal ini diikuti oleh maskapaipenerbangan lainnya.

Pesawat perintis ini, Dahlan menambahkan, akan digunakan oleh Lion Air untuk melayanipenerbangan rute kawasan Indonesia Timur. Selama ini, penerbangan jalur tersebut didominasi oleh maskapai plat merah Merpati Airlines.

"Tidak untuk menggantikan, cuma berapa rute, ini kan besar, bukan kecil. Merpati sekarang kan sedikit sekali," kata Dahlan.

menurut Dahlan, Rusdi pun menjanjikan akan menpromosikan pesawat PT DI di pasar Internasional. "Dia akan bantu pasarkan di luar," kata Dahlan. (ren)
© VIVA.co.id




Saturday, May 25, 2013

Pesawat militer buatan PT DI dipasarkan ke enam negara ASEAN

Sebuah pesawat CN 212 milik TNI AU produksi PT DI sedang mengudara.


Kementerian Pertahanan Indonesia memperkenalkan pesawat transportasi militer CN295 ke Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Malaysia.

Pesawat ini mendarat di Bandara Ninoy Aquino Manila, Filipina dua hari lalu sebagai persinggahan pertama dari rangkaian tur ke enam negara-negara ASEAN.

Perjalanan ini dalam rangka promosi mengenai kemampuan dan efisiensi pesawat transportasi hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (DI) dengan Airbus Military, Perancis. CN295 masuk kategori pesawat serba guna berukuran sedang untuk kepentingan sipil maupun militer.

Pada kunjungan ke Kementerian Pertahanan Filipina, Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang juga sebagai Ketua Delegasi, Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsuddien mengatakan bahwa pesawat buatan PT DI ini sangat pas memenuhi kebutuhan transportasi negara Asia Tenggara.

"Kami mempromosikan penggunaan sistem pertahanan yang serupa di antara sesama negara ASEAN dan CN295 merupakan pesawat yang layak dan tepat untuk kepentingan pertahanan tersebut," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima merdeka.com, Sabtu (25/5).

Selain mempromosikan CN295, Kemenhan juga menawarkan CN235 dan NC212i kepada militer Filipina. Kedua varian itu sudah diluncurkan pada sejak November tahun lalu dilengkapi sistem avionic dan autopilot yang baru, serta kapasitas penumpang lebih banyak dengan biaya operasi yang lebih efisien.

Secara total lebih dari 120 unit C295 telah dipesan seluruh dunia dan hampir 100 unit pesawat telah dioperasikan di berbagai negara seperti Aljazair, Brazil, Cile, Kolombia, Republik Ceko, Mesir, Finlandia, Ghana, Yordania, Kazakhstan, Meksiko, Polandia, Portugal dan Spanyol. Angkatan Udara Indonesia sendiri memesan 9 unit. Karena itulah, PT DI dan Kemenhan berharap ASEAN bisa menjadi pasar selanjutnya.

Seiring membaiknya kondisi keuangan PT DI, ragam pesawat yang dihasilkan pun kembali menggeliat. Kini perusahaan pelat merah yang terletak di Bandung itu juga bakal mendapat dana dari Kementerian Perindustrian untuk merancang pesawat kecil N 219 berkapasitas 19 penumpang.

Tahun lalu, PT DI mendapatkan banyak kontrak pembuatan sayap pesawat dan helikopter. Perusahaan pelat merah itu juga menjual komponen dan menawarkan jasa perbaikan pesawat. Alhasil, kas perusahaan menghijau dengan pemasukan sepanjang 2012 mencapai Rp 2,9 triliun.

Saturday, April 20, 2013

Agar di Langit Kita Jaya

Pesawat 219 adalah pesawat spesial. Pesawat ini mampu menjangkau daerah-daerah  sangat sulit.  Canggih dan modern.

Agar di Langit Kita Jaya

Pesawat N 219 adalah 100 % karya anak-anak Indonesia.  Nyawa baru PT DI.
Prototipe mengelaborasi teknologi sistem pesawat paling modern.
Hari sudah tengah malam. 10 Agustus 1995. Larut malam begitu, sudah banyak orang terlelap. Tapi laki-laki ini baru bergegas. Dia menyalakan mobil di garasi. Lalu menginjak pedal gas. Sendirian dari Bandung melaju ke Jakarta. Meliuk melewati bukit dan lembah. Saat itu Padalarang belum bersambung.


Rakhendi Priyatna, begitu nama pria ini, harus cepat sampai di Jakarta. Subuh hari, dia harus menyambut 40 wartawan di Halim Perdanakusumah.  Dan banyak wartawan dari manca negara. Hari itu, kawasan Halim memang membetot mata Indonesia, bahkan Asia.



Dan itu karena Gatotkaca. Sebuah pesawat N250 buatan Indonesia yang namanya dicuplik dari tokoh pewayangan yang dicintai banyak orang itu. Hari itu, si Gatotkaca ini terbang perdana. Dan acara ini lebih dari sekedar menerbangkan pesawat, tapi juga tanda kedigdayaan ekonomi Indonesia. Di udara kita jaya. 



Rakhendi berkisah. Pukul 8 pagi, menjelang lepas landas, semua orang gelisah. Terutama mereka yang bekerja keras di balik layar Gatotkaca. Para insinyur PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang menciptakan pesawat ini. Jika gagal seribu malu dipikul bangsa.

"Rasanya bercampur aduk. Panas dingin. Semua orang khawatir pesawat itu gagal terbang atau trouble di udara,” kisah Rakhendi kepada VIVAnews. Apalagi Presiden Soeharto dan para petinggi bangsa sudah berdiri gagah di panggung kehormatan. Kamera para wartawan asing sudah membidik.


Tepuk tangan bergemuruh.  Erwin Danuwinata, pilot penguji N250 Gatotkaca berkapasitas 70 penumpang itu sukses mendaratkan pesawat dengan mulus. Semua bersorak-sorai. Gembira campur rasa haru. Indonesia terselamatkan. Industri dirgantara Indonesia sontak menjadi sorotan dunia.



Hari gembira itu tinggal kenangan. Pernah dikagumi negeri tetangga, pabrik pesawat itu lama mati suri. Ada dua pesawat tersisa. N250 dan N250-100.  Diparkir di halaman kantor IPTN, yang kini berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Bandung Jawa Barat. 
***

Lama mati suri, perusahaan itu kini bernafas lagi.  Dua tahun belakangan dia berbenah. Revitalisasi. Restukturisasi. Meremajakan mesin. Merekrut insinyur. Kini perusahaan itu sedang mempersiapkan sebuah pesawat baru: N219.


N219. Inilah nyawa baru PT DI. Prototipe pesawat multi guna ini berkapasitas 19 penumpang. Mengelaborasi teknologi sistem pesawat paling modern. Dibangun dengan konstruksi logam pesawat. Kokoh.



Memang tidak secanggih N250. Bersahaja. Bahkan boleh dibilang sangat  sederhana. Direktur utama perusahaan itu, Budi Santoso, kepada VIVAnews menyebutkan, "Ini adalah yang termurah. Tapi, ada segmen pasarnya.” 



Selain untuk bisnis, pesawat ini adalah wahana belajar  para insinyur baru.  Agar mereka tahu bagaimana membuat pesawat dalam satu siklus. Dari nol sampai terbang.
Kendati sederhana, menurut Direktur Aerostruktur perusahaan itu,  Andi Alisyahbana, pesawat N219  asli 100 persen karya anak bangsa. "Ini penting karena sampai saat ini jarang sekali ada produk industri dan rekayasa yang benar-benar dirancang oleh anak bangsa," tuturnya kepada VIVAnews.



Pesawat ini, lanjutnya, bisa memaksa generasi yang hampir hilang. Generasi N250. Agar segera menurunkan ilmunya kepada generasi baru.



Inilah N219 Itu



N dalam nama itu adalah Nusantara. Menunjukkan bahwa desain, produksi, dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia. Meski baru prototipe, pesawat ini akan segera disertifikasi CSAR (Certified Specialist in Asset Recovery) 23. Artinya, sudah teruji sebagai produk mekanik berdasarkan standar Amerikat Serikat dan Kanada.



Rancangan pesawat ini telah lulus uji aerodinamika. Ketika itu, PTDI menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai penguji. Jika sudah siap, pesawat ini akan diterbangkan ke daerah terpencil. Menjadi perintis.



Pesawat N219 merupakan pengembangan dari pesawat CASA C-212 Aviocar. Termasuk desain dan semua konstruksi logam. Volume kabin terbesar di kelasnya. Lengkap dengan sistem pintu fleksibel. Bisa memuat penumpang secara lebih efisien. Bisa menjadi alat transportasi kargo. 



Bobot bersih pesawat ini 4,7 ton. Telah memenuhi unsur pesawat kecil menurut  standar FAR 23. Bisa menjangkau jarak maksimal 1.111 kilometer. Kurang lebih sama dengan jarak terbang Jakarta ke Balikpapan.



Meski mungil, daya tampung pesawat ini terbilang besar. Hingga tujuh ton. Sayap sepanjang 19,5 meter mampu membuat logam sepanjang 16,5 meter dan tinggi 6,1 meter ini melayang-layang di ketinggian maksimal 10.000 kaki dari permukaan laut.



Berbeda dengan pesawat populer PTDI, CN235, yang dirancang untuk kebutuhan militer dan sipil, pesawat N219 sengaja didesain hanya untuk kebutuhan sipil. Jika CN235 bisa menampung 42 penumpang, N219 hanya 19 penumpang. Dengan begitu dia bisa dioperasikan pada daerah dengan kondisi alam ekstrim dan tingkat kesulitan yang tinggi. Seperti landasan tak beraspal di wilayah pegunungan. Di wilayah kepulauan.



Sejumlah teknologi unik telah diadopsi. Konstruksi badan dan sayap dari aluminium. Mesin off the shelf  yang banyak digunakan dalam dunia penerbangan. Sistem teknologi di dalamnya sudah modern. Reliable, dan mudah dalam perawatan.



"Teknologi Avionic N219 adalah teknologi termodern sekarang ini. Menggunakan Glass Cockpit dengan fitur synthetic vision untuk membantu pilot mendapatkan informasi navigasi yang akurat meskipun cuaca buruk,” kata Andi Alisjahbana. Sangat membantu ketika ingin terbang ke daerah terpencil.



N219 ini diharapkan bisa menggantikan pesawat Twin Otter. Sempat populer di era '70-'80an, pesawat jenis ini telah usang. Tidak diproduksi lagi, meski beberapa kerap ditemui di Indonesia.
Satu-satunya kelemahan pesawat ini, kata Andi, adalah urusan psikologis.  PTDI bukan lagi IPTN. Dia dan tim merasa perlu mempopulerkan nama dan reputasi PTDI di kalangan masyarakat luas.



Cerah atau Suram?



Sejatinya, rancangan pesawat ini sudah jauh. Sudah melewati Preliminary Design. Beberapa uji wind tunnel sudah dilakukan. Kini urusannya tinggal dana. Perusahaan itu memang tengah mengumpulkan uang untuk megaproyek ini.



Mestinya tak sulit. Sebab pasar terbuka lebar. Untuk 20 tahun ke depan kebutuhan pasar pesawat kelas 9-20 kursi di dunia diproyeksi mencapai 5.350 unit. Dari jumlah itu, kebutuhan di Asia Pasifik 549 unit. Itu sebabnya diperlukan komitmen jangka panjang. Jangan berpikir bikin hari ini, besok untung.



Program membangun pesawat bukanlah program tiga tahun. “Tetapi 20 tahun lebih hingga pesawat itu diproduksi,” kata Andi. Di negara mana pun, program pesawat terbang adalah usaha yang besar. Perlu dukungan pemerintah. Juga masyarakat.


Mewujudkan mimpi besar ini, PT DI tak bisa sendirian.  Instansi lain perlu terlibat. Seperti Kementerian Riset dan Teknologi untuk pengembangan. Kementerian Perindustrian untuk persiapan industri nasional pendukung. Serta Kementerian Perhubungan untuk sertifikasi dan operasi. 



“Integrasi semua instansi menjadi harga mati. Jika tidak, industri dirgantara akan tetap tertidur lelap,” kata Andi.  Dari segi teknis proyek ini sudah siap. Tinggal menunggu dana dari konsorsium kementerian. 



Dana yang diperlukan sekitar Rp600 miliar. PTDI sendiri telah membenam uang  Rp100 miliar untuk mendesain dan menyiapkan banyak hal. Perusahaan ini juga telah menyiapkan dana Rp100 miliar agar proyek terus menyala. 



Tapi para petinggi perusahaan itu masih hati-hati. Terutama dalam soal uang. Jika dana sudah dikucurkan, dan ternyata Konsorsium Kementerian tidak mendukung, maka tamatlah proyek ini. “Gagal seperti N-250," kata Budi Santoso.

Bangkitnya Kembali Pabrik Pesawat Indonesia



Bangkitnya Kembali Pabrik Pesawat RI
Dulu sempat produksi panci, sekarang bersiap bangkit
PT DI menyiapkan Pesawat N 219 untuk melatih insinyur-insinyur muda guna mendapatkan pengalaman siklus pembuatan satu pesawat hingga bisa terbang. Regenerasi SDM penting dilakukan oleh PT DI agar tidak mengalami 'lost generation', orang-orang baru dilatih oleh engineer berpengalaman mereka yang akan memasuki masa pensiun.  N 219 adalah pesawat bekapasitas 19 penumpang yang  amat dibutuhkan oleh pasar dalam negeri dengan konsep : murah tapi kuat dan canggih. 
Sebuah pesawat CN 235 Maritime Patrol (MPA) pesanan TNI Angkatan Laut terparkir di hanggar PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Berkelir hijau, pesawat itu baru saja lulus uji coba terbang selama satu jam di langit Jawa Barat awal April 2013 lalu.
Para teknisi PTDI berkerubung di pesawat seharga US21,5 juta per buahnya itu. Burung besi produksi PTDI bekerjasama Airbus Military itu hendak diperkuat dengan radar pengintai lautan, dan kamera beresolusi tinggi.
“Radar itu dapat melihat hingga 200 meter di bawah permukaan laut,” kata mantan Kepala Humas PTDI, Rakhendi Priatna yang menemani VIVAnews berkeliling di pabrik pembuatan pesawat PTDI, di lahan seluas 80 hektar, awal April 2013 lalu.
Di belakang CN 235 MPA, tampak antri dua pesawat lainnya.  Semua menunggu kelihaian tangan para teknisi. PTDI memang saat ini tengah kebanjiran berbagai pesanan pesawat, khususnya CN 235. Pada 2012, PTDI berhasil membuat empat unit CN 235, dua unit NC 212, dua unit Super Puma, satu unit CN 195 dan 12 unit Bell 412.
Setelah terpuruk dihajar badai krisis moneter 1997,  perusahaan itu kini mencoba bangkit. Hanggar yang dulu sempat sepi, kini ramai dengan beragam pekerjaan.  Order mengalir, dan rezeki pun tumpah. Setelah merugi sembilan tahun, baru pada 2012 perusahaan menangguk laba.
Terakhir, rapor keuangannya biru pada 2002, dengan laba bersih Rp11,26 miliar. Setelah itu, kantong PTDI pun kempis.   Hutangnya seawan, dan nyaris kolaps. Sekitar 16 ribu karyawan dipecat, dan hanya  tersisa 4.000.  Para insinyur terbaik pun hengkang ke berbagai pabrik pesawat dunia.
Lebih tragis lagi, perusahaan perakit pesawat itu sampai terpaksa membuat panci agar bisa bertahan hidup. “Sepanjang 2003 hingga 2007 PTDI ini tak pernah tutup buku. Sehingga kami harus mulai tutup buku 2003-2007,” kenang Direktur Utama PTDI, Budi Santoso.
Budi bukanlah orang baru di PTDI. Ia bergabung sejak 1987, saat masih bernama IPTN. Pada 1998 lalu, ia pindah menjadi Direktur Utama PT Pindad, dan berhasil. Pada 2007 lalu, doktor ilmu robotika dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, ini diminta pemerintah membenahi PTDI.
Saat ia baru memimpin, Budi dicegat oleh banyak persoalan. Ribuan bekas karyawan berdemonstrasi menuntut pesangon. Dan soal itu terus menguras energinya. Ditambah beban hutang, khususnya hutang kepada pemerintah yang mencapai Rp3,8 triliun. Kas  keuangan PTDI kandas saat itu.
Dia lalu membereskannya tahap demi tahap. Pada 2009, semua urusan masa lalu itu kelar. Setelah diaudit BPK, instansi pajak, dan berbagai lembaga, utang ke pemerintah itu pun beres. “Kami minta utang kepada pemerintah dikonversi menjadi modal. Duitnya sih tidak ada, hanya di atas kertas. Tapi ia tidak menjadi beban keuangan PTDI,” katanya.
Tangan dingin Budi Santoso perlahan menuai hasil. Pada 2012 lalu,  perusahaan membukukan laba bersih sekitar Rp40 miliar, dengan pendapatan Rp2,68 triliun. Pendapatan terbesar disumbang oleh pembuatan pesawat sebesar Rp2,3 triliun, manufaktur komponen Rp236 miliar, jasa teknisi dan alutsista Rp65 miliar, dan dari perawatan pesawat Rp104 miliar.
Tiga  langkah
Beresnya utang masa lalu itu, kata Budi Santoso, menjadi titik balik PTDI. Pada akhir 2011, mendapatkan kucuran dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp2,06 triliun. Direksi tidak menyia-nyiakan dana itu, dan langsung memakainya untuk modernisasi mesin, hanggar dan sumber daya manusia.
Direktur Niaga dan Restrukturisasi, Budiman Saleh menjelaskan PTDI telah mengalokasikan Rp270 miliar membeli berbagai mesin produksi serta membenahi dan membangun hanggar baru senilai Rp140 miliar. Nantinya, PTDI akan mempunyai dua hanggar perakitan pesawat.
Satu hanggar baru tersebut baru akan beroperasi pada Semester I 2014, dan mampu merakit pesawat besar seperti CN 295. (Lihat Bagian 3: Agar di Langit Kita Jaya)
Tiga langkah restrukturisasi pun  dilakukan. Pertama, pada fase darurat, selama 2011-2012, dibenahi kondisi internal. Kedua, adalah tahap stabilisasi pada 2012-2013. Pada fase ini perusahaan melakukan berbagai investasi dan revitalisasi. Terakhir, diharapkan pada 2015 ke atas, PTDI diharapkan lepas dari ketergantungan pada pemerintah.
“Saat ini kami sedang dalam tahap fase kedua. Kita lakukan pencarian pendanaan untuk permodalan, pemetaan pasar dan persiapan produk baru seperti N 219,” kata Budiman.
Saat ini, untuk bergerak perusahaan memang tergantung pada rezeki dari pemerintah. Misalnya, PTDI meraup kontrak hingga Rp7 triliun hingga tiga tahun mendatang, sebagian besar dari Kementerian Pertahanan. Tapi setelah itu, PTDI diminta untuk mandiri.
“Kami perlu hidup. Bisnis pesawat terbang bukan sesuatu yang instan,” kata Budi Santoso.
Bantuan itu, kata Budi, penting. Ia seperti efek bola salju. Konsumen melihat perusahaan mulai bangkit, dan tanpa diundang, mereka datang ke pabrik dan melakukan kerjasama. “Lima tahun lalu, saat saya pertama kali menjadi Direktur Utama, hal ini tidak pernah saya bayangkan,” katanya.
Menggandeng Airbus
Salah satu kunci keberhasilan PTDI adalah belajar dari kesalahan masa lalu. Sewaktu masih bernama IPTN, perusahaan ini “jor-joran” mengembangkan berbagai macam pernik pesawat walaupun tidak ekonomis.  Insinyur mereka waktu itu sangat menguasai teknologi, tapi tidak mengerti ilmu marketing.
“Ternyata, mengerti teknologi saja tidak cukup. Bagian lain adalah menguasai pasar, kami tidak pernah pelajari hal tersebut,” kata Budi.
Jalan lain mendongkrak kembali perusahaan yang  “pingsan” sejak krisis 1997 lalu adalah usaha  menggandeng industri penerbangan lain yang telah berkibar, yaitu Airbus dan Boeing. “Dua-duanya kami jajaki,” ujar Budi.
Namun, yang terdekat adalah EADS, perusahaan yang termasuk grupnya Airbus. Secara sejarah, PTDI lebih dekat, meskipun dulu mereka pernah punya hubungan dengan Boeing.
Cara ini, kata Budi, lebih efektif. Soalnya, membuat pasar baru membutuhkan waktu hingga puluhan tahun. PTDI tidak mungkin menanti selama itu, bisa keburu mati. Cara PTDI mirip seperti yang dilakukan Lenovo dan IBM. “Lenovo dahulu menggunakan merek IBM hingga orang-orang sadar IBM itu Lenovo. Sekarang Lenovo tidak memakai nama IBM namun tetap laku,” katanya.
Cara ini mulai membuahkan hasil. PTDI kini menerapkan standar administrasi hingga membuat pesawat, yang sesuai standar Airbus, baik EADS Airbus dan Airbus Military, membantu dari teknik hingga non teknik. Per tahun, PTDI mendapatkan kontrak Rp180-200 miliar. Dengan bekal inilah, PTDI bertekad membuat pesawat asli Indonesia.
Selain dengan EADS, PTDI juga menjalin kerjasama dengan Eurocopter Family yang juga dibawah EADS untuk membuat body helikopter MK II, yaitu tailboom dan fuselage senilai Rp5 miliar. Selain itu PTDI juga menjadi subkontrak CTRM dan Korean Air senilai Rp10 miliar.
Berbagai pesanan inilah yang membuat para karyawan PTDI bergairah. Saat ini, pabrik PTDI berjalan dua shift. Pada shift malam mereka akan mengejar produksi jika terjadi masalah di dua shift sebelumnya. Saking penuhnya order, PTDI tidak berani mengambil pekerjaan lagi. Kapasitas produksi perusahan itu sudah penuh.
“Maka, kalau ada yang bilang kami menganggur, itu salah. Dengan modernisasi saat ini, PTDI 2-3 kali lebih produktif dari yang lama,” katanya.
Jet tempur
Mesin-mesin buatan Jerman, Italia dan Taiwan terbaru sejak 2012 lalu telah hadir di pabrik PTDI. Mesin CNC (Computerized Numerical Control), di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU 100 mB, dan mesin Gantry Jobs LINX30 serta Gantry Matec 30 P membuat semangat baru bagi para teknisi. Urusan produksi menjadi lebih cepat.
Meski begitu, kapasitasnya belum setara dengan pabrik besar seperti Airbus. Untuk membuat sebuah pesawat dari nol hingga bisa terbang PTDI membutuhkan waktu 8-12 bulan. Sementara Airbus dan Boeing, rata-rata hanya butuh dua pekan. Dengan mesin baru, waktu produksi diharapkan bisa diringkas menjadi dua bulan.
Bermodal mesin itu pula, perusahaan yakin dapat meraup laba lebih besar. Pada 2013 ini PTDI menargetkan pendapatan sebesar Rp3 triliun,  dengan target laba bersih Rp60 miliar. Pada 2012 laba tercatat Rp40 miliar. Perusahaan kini mulai percaya diri, misalnya meminjam dana ke Bank sebagai modal kerja.
Secara potensial, PTDI masih bisa mengembangkan CN-235 menjadi CN-234 Next Generation.  CN-235 adalah proyek bersama antara PTDI dengan CASA. PTDI diberikan kebebasan oleh CASA untuk memberikan berbagai inovasi pada CN-235. Salah satunya menambahkan wing tips untuk menambah kestabilan pesawat.
Selain itu, C-212 versi improvement, harganya lebih murah, dan kapasitasnya juga bertambah. “Kami juga menargetkan pusat perawatan PTDI dapat merawat Airbus A320 di Indonesia,” ujar Budi.
Agar makin tokcer di masa depan, perusahaan itu akan merekrut generasi muda. Penerimaan besar-besaran insinyur PTDI terjadi pada 1982-1986. Setelah itu, tidak ada lagi. Kini sekitar 45 persen sumber daya ahli di perusahaan itu, khususnya para engineer, telah memasuki masa pensiun.
Kini, pegawai baru direkrut secara bertahap. “Yang pensiun, akan kami pertahankan 1-2 orang sebagai pelatih engineer baru. Cara ini kami gunakan mengatasi lost generation di PTDI,” kata Budiman.
Sebagai bahan latihan bagi para insinyur muda, PTDI menyiapkan N 219. Pesawat berkapasitas 19 orang ini akan dijadikan model agar para insiyur muda mengetahui satu siklus pembuatan pesawat.
Dari produk N 219 inilah, tenaga ahli muda itu dapat mengembangkan beragam jenis pesawat. Bukan tak mungkin suatu saat mereka menciptakan pesawat jet komersial seperti N2130 yang mati suri. Atau pesawat tempur IF-X/K-FX, kolaborasi PTDI dengan Korea Selatan.
Proyek terakhir itu kini memang tidak jelas nasibnya. Sebab, Korea Selatan memotong anggaran riset, serta pemerintah Turki mengundurkan diri dari program itu. (np)
Sumber : ViVINews.

Wednesday, December 26, 2012

PT DI LUNCURKAN N-219 PADA 2017

PT DI LUNCURKAN N-219 PADA 2017


Model N-219
Model N-219. Foto: Wikipedia
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) akan menginvestasikan dana sebesar 16 juta dolar AS untuk 4 tahun guna merealisasikan proyek pengembangan pesawat perintis N-219. Pesawat kecil berpenumpang 19 orang ini rencananya akan diproduksi secara massal pada tahun 2017. Pesawat ini akan menambah produk andalan dari PT DI di pasaran, antara lain CN-235 dan CN-295.
Dana 16 juta yang akan diinvestasikan PT DI ini memang masih jauh dari mencukupi, namun ini akan menjadi langkah awal yang positif bagi pengembangan N-219. PT DI tidak serta merta menginvestasikan dana ini secara langsung, namun dengan cara disisihkan dari laba yang diperoleh PT DI dan tidak menutup kemungkinan PT DI akan menambah dari pinjaman bank.

Rencananya PT DI akan menginvestasikan dana pengembangan N-219 ini segera pada 2013. Mulai dari preliminary design (desain awal) sampai dengan pembuatan prototype. Besarnya dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan N-219 dan belum adanya kucuran dana dari pemerintah, membuat PT DI mengambil "jalannya" sendiri. Namun untuk membuat sebuah prototype N-219, PT DI menyatakan butuh dukungan dari pemerintah karena dibutuhkan dana yang lebih besar sekitar 30-40 juta dolar.

Pesawat N-219 ini pertama kali dirintis pada 2004, namun terkendala krisis sehingga tertunda pada tahapan desain dan uji materil. Namun harapan untuk memproduksi N-219 kini kembali terbuka dan sudah ada pihak yang siap menggunakan pesawat itu.

PT DI akan memfokuskan N-219 untuk memenuhi kebutuhan pesawat perintis untuk dioperasikan di wilayah Timur Indonesia. Pesawat kecil yang digerakan dengan propeler atau baling-baling ini cocok untuk menerbangi kawasan pegunungan dan bercelah seperti di Papua. Artinya pesawat ini mampu menjangkau daerah terpencil dengan kondisi geografis yang sulit.

PT DI juga menyatakan bahwa sebuah maskapai penerbangan telah menandatangani "letter of interest" untuk membeli 20 pesawat N-219 yang nantinya akan dioperasikan di wilayah Indonesia Timur. Produk unggulan ini nantinya akan dijual dengan kisaran harga 4 juta dolar per unit.

Selain akan mengembangkan proyek N-219, PT DI saat ini juga fokus untuk menyelesaikan pesawat pesanan antara lain CN-235/MPA pesanan TNI AL, kemudian pesawat pesanan TNI AU termasuk pesawat varian baru N-259 dimana PT DI menjadi pemegang lisensi pemasaran di Asia Pasifik. PT DI juga melakukan revitalisasi mesin produksi, dan diharapkan akan meningkatkan produktifitas, dan itu pasti berdampak positif pada kinerja PT DI ke depan.

Kontrak PT DI Selama 2012 Capai 8,2 Triliun

Selama kurun waktu 2012, PT DI mendapatkan kontrak sebesar Rp.8,2 triliun dengan penerimaan sebesar Rp.3,1 triliun. PT DI juga optimis bahwa angka kontrak ini di akhir tahun 2012 nanti bisa menembus Rp.9,5 triliun. Ini merupakan tahun yang istimewa bagi PT DI. Pencapaian yang cukup besar setelah mengalami masa-masa yang sulit beberapa tahun lalu. Biasanya penerimaan PT DI palingbanter Rp.2 triliun.

Penerimaan sebesar Rp.3,1 triliun ini diperoleh PT DI dari kontrak-kontrak dari dalam dan luar negeri, antara lain pembayaran pesawat terbang terbang sebesar Rp.2,65 triliun, pembuatan komponen pesawat Rp.200 miliar, perawatan pesawat Rp.170 miliar dan alutsista sebesar Rp.80 miliar. Pesawat terbang yang dikerjakan PT DI pada 2012 antara lain CN-235, CN-295, CN-212 dan helikopter. Sementara untuk alutsista, PT DI juga memproduksi roket dan torpedo.

Untuk tahun 2013 dan 2014 mendatang PT DI telah mencatat penerimaan minimal sebesar Rp 3 triliun yang diperoleh dari kontrak pada 2012. PT DI juga berharap kerjasama dengan Sukhoi bisa terealisasi pada 2013.

Sumber: Antara/Detik