Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Saturday, July 27, 2013

Radio Australia Bilang, SBY ingin militer Indonesia lebih kuat dari Australia

Menurut Radio Australia ABC (Australian Broadcasting), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan bahwa Indonesia harus berusaha keras untuk mempunyai militer yang lebih kuat dari Australia.

Sekitar 16,000 anggota TNI sedang bersiap-siap untuk mengadakan latihan militer gabungan di Jawa Timur.

Ketika menemui para komandan disana, Yudhoyono mengatakan kepada mereka, militer Indonesia seharusnya lebih besar dan lebih modern dari negara-negara seperti  Australia, Singapura dan Malaysia.

TNI mempunyai 470,000 tentara aktif, sedangkan Pasukan Pertahanan Australia hanya mempunyai sedikit diatas 80,000 personil penuh dan cadangan.

Indonesia juga telah memulai suatu program upgrade militer; membuat kapal perang dan pesawat tak berawak atau drone serta membeli sejumlah jet tempur dan roket. (Sumber : Radio Australia

Friday, July 26, 2013

DEFISIT PERDAGANGAN: Rusia Diajak Bangun Industri Militer di Indonesia



Jakarta- Guna mempersempit defisit neraca perdagangan dengan Rusia Indonesia mengajak industri di Negeri beruang Merah melakukan investasi bersama di bidang industri militer.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan industri militer di Rusia dapat melakukan kerja sama investasi (joint investment) dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan PT Pindad, mendirikan pabrik di Tanah Air.

Dengan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, impor dari Rusia dapat ditekan sehingga neraca perdagangan kedua negara akan seimbang.

Total perdagangan RI-Rusia pada 2012 US$3,37 miliar, dengan defisit di sisi Indonesia US$1,64 miliar. Pada Januari-Februari 2013, Indonesia mengalami defisit US$451,91 juta dari total perdagangan US$741,51 juta.

Defisit itu terjadi karena Indonesia lebih banyak mengimpor barang modal dari Rusia, seperti perlengkapan militer, mesin, alat berat, dan petrokimia.

 “Jangan sampai kita hanya membeli, tapi bagaimana bisa bekerja sama dengan PT DI dan PT Pindad kita,” katanya saat menerima kunjungan Presiden Tatarstan Rustam Nuegalievich Minnikhanov, Kamis (2/5).

Tatarstan merupakan negara bagian Federasi Rusia dengan industrialisasi dan produksi hasil industri mencakup 45% dari total produk domestik regional bruto (PDRB)  US$45 miliar pada 2011.

Menjadi negara federal terbesar ketiga di Rusia, Tatarstan merupakan sentra industri petrokimia, perakitan mesin, kendaraan berat dan penerbangan. Sejumlah produk terkenal diproduksi di negara bagian itu, seperti pesawat komersil tipe Tu-214 dan truk Kamaz.

Presiden Republik Tatarstan Rustam Nuegalievich Minnikhanov  menyatakan kalangan industri di negaranya berminat menjalin kerja sama dengan dunia usaha di Indonesia.

“Indonesia merupakan negara di dunia dengan kemajuan ekonomi yang sangat cepat,” ujarnya.

Selain mengundang kalangan industri Tatarstan bekerja sama investasi dan riset, Indonesia juga akan memacu ekspor produk halal mengingat 51,7% dari total populasi Tatarstan 3,79 juta merupakan Muslim.

Di samping itu, Indonesia akan mengandalkan ekspor karet, kopi, teh dan tekstil. Pemerintah menargetkan total perdagangan bilateral pada 2015 mampu mencapai US$5 miliar dengan posisi neraca dagang masing-masing seimbang.

Indonesia yang mengandalkan ekspor komoditas tentu tak sebanding dengan impor dari Tatarstan yang berupa barang modal. Namun, menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, upaya apapun harus dilakukan untuk mengejar peningkatan ekspor.

“Kalau menurut saya, sekarang bukan masalah sebanding atau tidak. Setiap dolar kenaikan ekspor, itu harus kita kejar, harus kita usahakan,” ujarnya.

Dia berpendapat Tatarstan memegang kunci penting karena pengaruh politik negara tersebut yang kuat di Moskow. Pendekatan terhadap Tatarstan diharapkan dapat memengaruhi Rusia dalam mengambil kebijakan kerja sama perdagangan dengan Indonesia.

Rusia merupakan mitra dagang strategis yang mampu menjadi hub bagi produk Indonesia untuk masuk ke Kazakhstan dan Belarusia. Ketiga negara selama ini tergabung dalam kesatuan kepabeanan atau the Customs Union of Belarus, Kazakhstan and Rusia.(Bisnis.com)


Friday, July 19, 2013

Telah Lahir : Baterai Lithium Made in Indonesia



SATU lagi langkah maju untuk bisa segera merealisasikan mobil listrik nasional: sejak Sabtu, 13 Juli 2013, Indonesia telah mampu memproduksi baterai litium (lithium). Memang bukan BUMN yang memproduksinya, tapi BUMN ikut menjadi pendorongnya.

Tahun lalu, ketika mobil listrik generasi pertama diluncurkan tim Putra Petir BUMN, memang masih tersisa satu kegundahan ini: baterai (aki) mobil tersebut masih impor dari Tiongkok. Belum menggunakan baterai made in Indonesia.

Selama ini Indonesia baru mampu memproduksi baterai biasa. Padahal, untuk mobil listrik, tidak mungkin digunakan aki biasa. Karena ukurannya menjadi begitu besar dan beratnya begitu ampun-ampun.

Maka, tidak lama setelah peluncuran tiga mobil listrik jenis city car karya Dasep Ahmadi itu, saya mencari-cari siapa gerangan yang punya potensi mampu memproduksi baterai litium di dalam negeri. Tentu saya mengincar pabrik-pabrik baterai yang sudah ada. Lantas saya tawari siapa yang berminat memproduksi baterai litium.

Saya tidak menjanjikan apa-apa. Tidak berjanji membelinya, tidak memberikan fasilitas apa-apa, dan tidak mau ikut menanggung biaya investasi. Juga tidak ikut menanggung risiko. Saya hanya mengemukakan gagasan besar: bahwa sebaiknya Indonesia mulai memproduksi mobil listrik. Agar kelak kita tidak menyesal untuk kedua kalinya. Agar kita tidak hanya akan kembali menjadi pasar yang besar bagi mobil listrik dari luar negeri.

Saya sangat yakin masa depan mobil adalah mobil listrik. Seluruh dunia sudah sepakat seperti itu. Memang tidak bisa kesusu dan grusa-grusu. Pelan tapi pasti masa depan kita adalah mobil listrik.

Alhamdulillah, ada satu pabrik baterai terkemuka yang mendukung ide itu: PT Nipress Tbk di Bogor. Pengalamannya memproduksi baterai sudah puluhan tahun. Pasarnya tidak hanya di dalam negeri. Ekspornya sudah merambah dunia sampai Eropa.

Perusahaan publik ini tertantang untuk ambil bagian mewujudkan gagasan besar itu, dengan mengembangkan baterai litium. Jackson Tandiono, presiden direktur, dan Richard Tandiono, direktur operasional PT Nipress, menyatakan sanggup menanamkan investasi puluhan miliar rupiah dan sanggup meluncurkan produk baterai litium pertama pada Juli 2013.

Ini sesuai dengan perencanaan lahirnya mobil listrik Putra Petir generasi kedua. Yakni mobil listrik yang disiapkan untuk digunakan dalam forum APEC di Bali awal Oktober depan.

Komitmen PT Nipress benar-benar dipenuhi. Minggu lalu Richard menghubungi saya: apakah bersedia meluncurkan baterai litium pertama made in Indonesia. Tentu saya harus bersedia untuk memberikan penghargaan kepada orang yang memenuhi komitmen yang begitu tinggi. Saya terharu ada yang mau ikut mempertaruhkan uang puluhan miliar demi mobil listrik nasional.

Dengan berhasilnya Indonesia memproduksi baterai litium, hampir 50 persen persoalan mobil listrik nasional teratasi, 50 persennya lagi sebagian besar bisa diadakan di dalam negeri. Seperti pembuatan bodi dan interiornya. Motor listriknya pun sudah akan bisa diproduksi di dalam negeri.

Mobil listrik memang harus menggunakan baterai litium. Dengan litium, untuk kekuatan yang sama, hanya diperlukan ukuran yang kecil, hanya 30 persen baterai biasa. Beratnya pun hanya sepertiga berat baterai biasa. Dan yang lebih penting: dengan baterai litium proses charging-nya bisa cepat.

Waktu meluncurkan baterai litium pertama made in Indonesia itu, kepada saya dipamerkan seluruh proses pembuatannya, pengujiannya, laboratoriumnya, dan standardisasinya. Juga sistem modulnya. Ada modul untuk bus listrik, ada modul untuk mobil listrik jenis MPV, ada modul untuk city car, dan ada modul untuk mobil sport.

Modul itu ditentukan berdasar kesepakatan hasil diskusi ilmiah berkali-kali. Dasep Ahmadi, Ravi Desai, Ricky Elson, dan ahli baterai yang paling top di Indonesia Dr Ir Bambang Prihandoko dari LIPI dengan aktifnya merumuskan bersama ahli dari Nipress untuk menentukan modul-modul itu. Inilah modul baterai litium standar Indonesia!

Dengan ditentukannya modul baterai litium ini, siapa pun yang ingin memproduksi mobil listrik tidak perlu lagi bingung. Terutama dalam penempatan baterainya. Ikuti saja standar modul yang ditetapkan produsen baterai litium tersebut.

Kang Dasep lewat PT Sarimas Ahmadi Pratama sedang menyiapkan delapan bus VIP dan lima MPV yang baterainya sudah made in Indonesia. Ricky lewat PT Berkah Para Maestro sedang menyiapkan tiga MPV dan mobil sport. Ravi lewat partnernya di Surabaya sudah membangun pabrik mobil listrik dengan kapasitas 20.000 per tahun.

Maka, kelahiran mobil listrik nasional generasi kedua akhir Agustus nanti sudah lebih lega. Tidak saja sudah banyak belajar dari kekurangan-kekurangan generasi pertama, tapi juga made in Indonesianya sudah lebih "nendang". (*) Taken from manufacturing hope jppn.com


  Dahlan Iskan
 Menteri BUMN

Wednesday, July 10, 2013

Indonesia-China perluas kerja sama pertahanan



Indonesia China Perluas Kerjasama Pertahanan

Beijing - Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat memperluas kerja sama pertahanan untuk meningkatkan profesionalisme angkatan bersenjata kedua negara, hubungan lebih baik kedua pihak serta guna mendukung stabilitas keamanan kawasan khususnya di Asia.

Demikian pokok bahasan dalam Forum ke-5 Konsultasi Pertahanan Indonesia-China di Beijing, Kamis. Dalam forum itu, delegasi Indonesia dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sedangkan delegasi China dipimpin Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata China Letnan Jenderal Qi Jian Guo.

Dalam dokumen resmi yang diterima ANTARA di Beijing, dalam pertemuan tertutup itu dibahas berbagai kerja sama pertahanan yang telah dijalin dan akan dilakukan di masa depan oleh kedua negara.

Sejak Forum Konsultasi Pertahanan Indonesia-China dibentuk pada 2007 berbagai kerja sama telah dilakukan kedua negara seperti pendidikan perwira, latihan bersama pasukan khusus kedua negara, pelatihan pilot pesawat tempur Sukhoi TNI-Angkatan Udara, kerja sama industri pertahanan dan pembelian sejumlah alat utama sistem senjata.

Untuk bidang pendidikan dan pertukaran perwira, sejak 1967 sudah 107 personel militer Indonesia yang belajar di China. Saat ini tercatat 12 orang perwira militer Indonesia yang belajar di China, demikian dikutip dari dokumen itu.

Sedangkan China hingga kini telah mengirimkan delapan orang perwira militernya.

Untuk latihan bersama, Indonesia dan China telah dua kali menggelar latihan bersama antara Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat dengan Pasukan Khusus Angkatan Bersenjata China (People`s Liberation Army/PLA) dengan sandi "Sharp Knife". 

Kerja sama antarpasukan khusus dalam penanggulangan terorisme, akan terus ditingkatkan dan diperluas. Kedepan mungkin dapat dilakukan latihan bersama untuk menghadapi ancaman non tradisional seperti penanggulangan bencana alam, demikian sperti dikutip dalam dokumen itu.

Sedangkan dalam bidang industri pertahanan kedua negara telah sepakat untuk memproduksi bersama rudal C-705. Hingga kini Indonesia dan China masih membahas proses pelaksanaan alih teknologi dalam pembuatan rudal C-705.

Selain C-705 Indonesia dan China akan membahas lebih lanjut alih teknologi pesawat tanpa awak, serta sistem pertahanan elektronik

Forum ke-5 Konsultasi pertahanan Indonesia-China, yang berlangsung hingga Kamis petang juga dibahas berbagai perkembangan situasi keamanan regional khususnya di Asia Pasifik, termasuk isu di Laut China Timur dan Laut China Selatan.  (AntaraNews).

Wednesday, May 29, 2013

Pengamat : RI Bakal Kuat Secara Militer!

Kapal Selam TNI AL Cakra 401

Sebenarnya Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan produk bagi pemenuhan kebutuhan pertahanan na­­­si­onal, terutama pengadaan alat utama sis­tem persenjataan (alutsista). Saat ini saja Indonesia sudah mampu membuat sena­pan laras panjang canggih, panser, kapal patroli dan roket. Dengan dukungan besar dari pemerintah, Indonesia akan mam­­­pu membuat pesawat tempur hebat dan kapal perang mutakhir.

Bahkan beberapa pakar pertahanan dan teknologi, di antaranya, Direktur Pusat Pe­­­nelitian Sains dan Teknologi Universitas Indonesia Iwa Garniwa, pengamat dari Universitas Gadjah Mada Ari Sujito dan ahli ekonomi Revrisond Baswir, menge­mukakan bahwa Indonesia berpotensi un­­­tuk menghasilkan produk strategis di bidang pertahanan, karena penguasaan teknologi untuk menghasilkan produk tersebut cukup baik dikuasai, tinggal me­­­nunggu dukungan pemerintah yang be­­­lum optimal hingga kini.

Sejumlah industri yang dipandang stra­tegis antara lain PT Pindad (Persero) dan PT PAL Indonesia (Persero) di Surabaya. PT Pindad adalah perusahaan manufak­tur yang bergerak dalam penyediaan pro­­­duk mesin dan produk militer se­­dang­kan PT PAL kegiatan utamanya adalah mem­produksi kapal perang dan kapal niaga juga memberikan jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal.

Tinggal kita lihat pangsa pasarnya kemana dulu, kalau ke Amerika, Jepang atau China sepertinya belum sampai ke sana. Tetapi industri strategis seperti Pin­­dad, PT DI (Dirgantara Indonesia) dan PAL di Surabaya bisa berpotensi sebagai industri strategis dalam rangka penyedia­an alutsista.

Di samping itu Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), juga mam­­pu membuat roket. Tinggal bagai­ma­na kemauan Kementerian Pertahanan untuk menghasilkan produk pertahanan itu. Karena selama ini pendanaan me­­mang menjadi masalah klasik. Namun, kita tidak perlu pesimis, semua negara berkembang rata-rata memiliki persoalan yang sama yaitu keterbatasan anggaran, sehingga apabila pemerintah mau mem­berikan prioritas anggaran di bidang industri militer ini, saya ya­­­kin dalam 3 atau 4 tahun ke de­­­pan Indonesia sudah mampu mandiri di bidang persenjataan.

Untuk itu mari kita berikan apresiasi dan penghargaan kepada tenaga ahli dari dalam negeri yang telah mampu membu­at peralatan militer yang tidak kalah kehebatannya dengan produk dari luar.(Juf/Bsns.I) (RimaNews.com)

Indonesia Terus Bangun Industri Pertahanan



Beragam cerita pahit dimasa lalu telah menjadi pijakan pemerintah untuk menata kembali industri pertahanan nasional. Bisa dikatakan pemerintah kita sudah kapok dengan tingginya ketergantungan alutsista asing. Langkah ini juga seolah menjadi kilas balik niat tulus pemerintah untuk tak mengulang kesalahan yang sama dimasa lalu. Satu tujuan besar dan amat penting kemudian ditetapkan. Tujuan itu apalagi jika bukan untuk menuju kemandirian pembuatan alutsista yang mampu mendukung kebutuhan alutsista TNI.

Upaya bangkit itu mulai terlihat dalam beberapa tahun ini. Pemerintah mulai serius membangun industri pertahanan dalam negeri. Banyak cara dilakukan untuk membuat industri ini mekar kembali, mulai dari kerjasama produksi (joint production), lisensi, hingga membuat alutsista dengan kemampuan sendiri. Selain itu dengan adanya komitmen untuk mengutamakan pengadaan alutsista produksi industri dalam negeri akan dapat memacu perkembangan industri, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan penguasaan. Komitmen pemerintah tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah Atas Rancangan Undang-Undang Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 Beserta Nota Keuangannya di Depan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, tanggal 16 Agustus 2011.

Buah dari hasil kerja keras ini bisa dilihat dari kondisi industri pertahanan yang mulai mengalami kemajuan berarti. Hal ini bisa ditengok dari makin menjamurnya produk alutsista buatan industri pertahanan dalam negeri. Alutsista yang muncul tak hanya terbatas pada alutsista matra udara, tetapi juga diikuti dengan kemunculan alutsista matra darat dan laut,k yang juga tak kalah seru meramaikan kebangkitan alutsista buatan dalam negeri.

Kementerian Pertahanan sebagai institusi yang berkewenangan menyelenggara-kan fungsi pembinaan potensi nasional dalam upaya mendukung pertahanan negara, berkewajiban untuk memberdayakan seluruh potensi yang ada, salah satu di dalamnya adalah “Pemberdayaan Industri Strategis Pertahanan”. Industri strategis pertahanan dibangun untuk kepentingan orang banyak untuk memenuhi kebutuhan pertahanan yang menyangkut kedaulatan negara. Industri pertahanan mempunyai peran strategis dalam penyelenggaraan pertahanan sehingga perlu didorong dan ditumbuhkembangkan agar mampu memenuhi kebutuhan peralatan yang mendukung pertahanan.

Indonesia mempunyai rencana strategis untuk membangun industri pertahanan, namun yang terpenting komitmen yang kuat untuk membangun dan mewujudkan rencana tersebut, yaitu memanfaatkan industri pertahanan dalam negeri untuk sistem pertahanan militer. Untuk itu guna mendorong peningkatan produksi industri pertahanan dalam negeri melalui kebijakan yang makro, pemerintah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). KKIP terdiri dari Menteri Pertahanan, Meneg BUMN, Wakil Menteri Pertahanan. Panglima TNI, Kapolri, Menteri Perindustrian, dan Menristek. Salah satu yang menjadi tugas pokok adalah membangun industri pertahanan dengan mengutamakan produksi dalam negeri sesuai dengan tingkat perkembangan dan pertumbuhan ekonomi bangsa.


Sejak digelarnya Sidang Pleno Perdana awal 2011 lalu hingga Sidang Pleno yang keempat (November 2011). KKIP telah menetapkan beberapa kebijakan strategis, di antaranya penetapan alutsista, memverifikasi kemampuan industri pertahanan, revitalisasi manajemen industri pertahanan BUMNIP dan proses pengadaan Alutsista. Pada tanggal 6 Maret 2012, KKIP mengadakan sidang kelimanya. Tujuan dan agenda sidang tersebut adalah melakukan refleksi dan memproyeksikan tugas-tugas/program KKIP ke depan dengan dua agenda utama, yaitu Kemajuan Kerja KKIP TA. 2011  dan Sasaran Kerja yang akan dicapai pada TA.2012. Hasil sidang Kelima KKIP menghasilkan beberapa poin, sebagai berikut:

a. Menhan menekankan bahwa tugas-tugas/program KKIP untuk penguasaan teknologi pertahanan, membangun dan memperkuat industri pertahanan dalam rangka mewujudkan kemandirian pemenuhan alutsista TNI dan almatsus Polri agar senantiasa selaras/sejalan dengan Master Plan Revitalisasi Industri Pertahanan dan Grand Strategy KKIP.

b. Kerangka pokok/program kerja lima tahunan (2010 s.d 2014) KKIP sebagai berikut:
  1) Penyiapan Regulasi Industri Pertahanan,
  2) Penetapan Kebijakan Nasional Dalam Rangka Stabilisasi dan Optimalisasi Industri
          Pertahanan,
  3) Formulasi dan Penetapan Program Kerja KKIP,
4) Penyiapan Produk/Industri Pertahanan Masa Depan (New Future Products/Defence
          Industry).

c. Hasil diskusi dari penyampaian Laporan Kemajuan Kerja KKIP TA. 2011 dan Sasaran Kerja KKIP TA. 2012, sebagai berikut;

  1) Dalam hal upaya pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI dan Almatsus Polri melalui BUMNIP, Kementerian BUMN akan menggalang kesepakatan dengan BUMNIP dan akan membenahi manajemen BUMNIP termasuk menjembatani adanya pinjaman oleh Perbankan Nasional agar BUMNIP dapat bekerja sebelum dana/anggaran riil dari belanja Kemhan/TNI didapatkan. Dengan langkah ini diharapkan BUMNIP benar-benar siap memenuhi pesanan secara tepat waktu dan tepat kualitas.

  2) Menanggapi peran konsultan dalam program Transfer of Technology, Kemenristek menyarankan agar memperioritaskan penggunaan konsultan dalam negeri yang dalam hal ini bisa memberdayakan BPPT, mengingat BPPT juga selama ini mempunyai kompetensi dan pengalaman dalam audit teknologi.

  3) Pemerintah RI telah melakukan negosiasi akhir penjualan Panser APC 6X6 ANOA ke Malaysia sebanyak 32 Unit senilai total 40 juta dollar AS. Malaysia meminta pihak Indonesia melakukan imbal beli (counter trade/offset) dengan produk militer atau produk komersil Malaysia senilai 15 juta dollar AS. Untuk menindaklanjutinya, PT. Pindad diminta melakukan koordinasi dengan kementerian terkait dan dengan Tim Pokja atau Tim Asisten KKIP dan tetap melaporkan hasilnya kepada KKIP.

  4) Menanggapi tentang trade off terkait produk yang akan dibeli oleh Malaysia, Kementerian BUMN menyarankan agar sedapat mungkin tidak mengganggu program unggulan yang akan dikembangkan oleh Kementerian Perindustrian.

  5) Perihal penyiapan produk masa depan (new future products), Panglima TNI menyarankan untuk memasukkan peralatan sensor (sensor systems) untuk sistem senjata terpadu (SST) kapal selam.

  6) Panglima TNI menekankan tentang perlunya regulasi yang mengatur tentang produsen dalam negeri yang memiliki kemampuan memproduksi barang militer yang sama/sejenis seperti helm, rompi dan payung udara.

  7) Menanggapi tentang produk Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang dihasilkan oleh industri dalam negeri dan akan dijadikan komoditi ekspor keluar negeri, Kapolri menekankan tentang perlunya regulasi yang mengatur tentang perizinan produksi, ekspor maupun impor.

  8) Wamenhan menekankan bahwa tugas KKIP selain melaksanakan pembinaan dan percepatan revitalisasi BUMNIP, KKIP perlu juga fokus terhadap pembinaan BUMS industri pertahanan dalam negeri sebagai bagian dari upaya percepatan secara menyeluruh terhadap pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI dan Almatsus Polri.

  9) Kementerian Perindustrian telah menyiapkan dan menyusun kajian teknis tentang konsep pembangunan industri Propellant dalam negeri yang perlu tindak lanjut dan persetujuan/keputusan KKIP.

Dilihat dari hasil sidang kelima KKIP tersebut dapat kita lihat bahwa Indonesia sedang mendorong, membangun dan mengembangkan  industri pertahanan yang lebih baik di masa mendatang. Untuk itu maka yang harus dilakukan ke depannya adalah:

a. Setiap kebijakan yang telah ditetapkan harus benar-benar diimplementasikan dalam bentuk program kerja yang lebih terencana, terukur, terkoordinir dan dapat dipertanggungjawabkan.

b. Penting adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan supervisi pada pelaksanaan pencapaian sasaran sebagaimana yang telah ditetapkan sesuai masterplan revitalisasi industri pertahanan tahun 2010-2014.

c. Diperlukan kesamaan pola pikir, pola sikap dan pola tindak dari semua pemangku kepentingan dalam rangka memberdayakan industri pertahanan dalam negeri.

d. Perlu adanya sosialisasi kebijakan nasional secara terus menerus dan dijadikan pedoman oleh pejabat perumus kebijakan pada tingkat kementerian/lembaga, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia dan kalangan industri dalam rangka merealisasikan proses revitalisasi, membangun dan memberdayakan industri pertahanan dalam negeri sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing.

Revitalisasi industri pertahanan nasional yang sudah diinisiasi pemerintah tampaknya tidak boleh hanya dianggap sebagai proyek nasional semata. Tumbuh kembangnya industri pertahanan sebuah negara membutuhkan komitmen yang kuat serta kepemimpinan yang konsisten dan berkesinambungan.(Deputi Politik, Hukum, dan Keamanan, Setkab)

Thursday, May 23, 2013

Selamat Datang Teknologi GPS Tracking Buatan Asli Indonesia


Aetrax GPS Tracking, Layanan Pelacak Kendaraan dari Indonesia Siap Bersaing dengan Produk Manca Negara


LAPAN telah meluncurkan satelit A2 untuk melacak dan mengawasi pergerakan kapal-kapal di wilayah lautan Indonesia. Dengan teknologi GPS, hal itu dimungkinkan dan akan lebih mudah memonitor kapal-kapal illegal pencuri ikan dan lain-lain oleh pemerintah. 

Satelit A2 menjadi lebih efektif dan efisien jika dipadukan dengan teknologi GPS kita, yang ternyata sudah berkembang dengan sangat baik dan mampu bersaing dengan produk-produk dari luar negeri. 

Teknologi GPS sangat banyak berguna untuk berbagai macam tujuan, misalnya untuk operasi intelijen atau pengamatan oleh KPK. Penggunaan lain di bidang militer misalnya, teknologi GPS mutlak diperlukan untuk melengkapi perkembangan teknologi pesawat nir awak kita untuk survellence maupaun sebagai pesawat tempur. GPS sangat berguna untuk keperluan pertahanan. Misalnya, drone-drone AS yang beroperasi di Afganistan dibantu menemukan sasarannya dengan teknologi GPS ini, dengan cara menyusupkan mata-mata untuk meletakkan chip kecil sebesar SIM card di rumah-rumah atau di kantong baju seseorang yang akan menjadi target tembak drone pembunuh tersebut. Drone ini mengindentifikasi sinyal penerima yang dipancarkan oleh SIM Card tersebut. Atau Anda yang biasa memakai smartphone, Kamera Digital, atau tablet yang ada fitur GPS ini, lokasi Anda secara aktual akan mudah discanning oleh Google Maps detik itu juga keberadaan diri Anda di manapun berada di muka bumi ini, meski di kolong selokan sekalipun. Lewat satelit, dan lewat software yang ditanamkan ke dalam chip smarphone Anda, Google bahkan bisa melihat Anda sedang melakukan aktivitas apa saja di tempat tersembunyi dengan menggunakan kamera telepon anda sendiri sebagai 'mata'.   

Kita semua mengetahui banyak sekali beredar di pasaran alat-alat pelacak GPS atau GPS tracking yang diimpor dari luar negeri. Melihat ribuan kepulauan dengan jumlah kendaraan yang tersebar di seluruh nusantara, keberadaan alat pelacak GPS untuk kendaraan dan armada bergerak  sangatlah penting baik di sektor swasta maupun pemerintahan. Terkadang kita bertanya, apakah dari sekian banyak merek dan model alat pelacak GPS, tidak ada satu pun yang merupakan produk dalam negeri buatan bangsa Indonesia? Ternyata setelah sekian tahun didominasi oleh produk luar negeri, akhirnya pasar alat pelacak GPS di Indonesia diramaikan oleh sebuah layanan dan produk dari dalam negeri berstandar internasional yang dapat dibanggakan karena dibuat di fasilitas manufaktur yang telah bersertifikat ISO 9001 dan 14001.

Aetrax GPS Tracking merupakah salah satu solusi dan layanan yang disediakan oleh perusahaan PT Aetherica Itanusa Persada ( www.aetherica.com ), sebuah perusahaan solusi teknologi dan pemasaran yang berbasis di Jakarta Indonesia, bekerja sama dengan PT Panggung Electric Citrabuana, perusahaan manufaktur nasional yang telah bertahun-tahun memproduksi peralatan elektronik seperti Audio SystemColor TVAudio Cassette TapePlastic injection, dan sebagainya, dengan merek-merek antara lain AkariPanarec, dan Davanti

Kerjasama kedua perusahaan ini membuahkan sebuah solusi pelacak mobil, kendaraan menengah dan besar, serta armada bergerak lainnya. Dengan menggunakan alat pelacak buatan dalam negeri, Aetrax GPS Tracking siap bersaing dengan produk-produk pelacak GPS manca negara yang beredar di pasar Indonesia. Solusi GPS Tracker dari Aetrax juga menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi para pengguna layanan GPS tracking dengan produk-produk impor yang belum memiliki layanan dukungan support yang memadai di berbagai daerah di Indonesia.

Adanya solusi tracker kendaraan dan armada dari Aetrax GPS Tracking dengan menggunakan produkdevice dari dalam negeri merupakan merupakan sebuah perkembangan yang sangat menggembirakan di dalam dunia teknologi GPS tracking di Indonesia. Tidak saja hal ini membuktikan bahwa produk dalam negeri tidak kalah dengan produk luar negeri, tapi juga menunjukkan pesatnya kemajuan research & development yang dilakukan oleh para pelaku industri nasional yang mampu mengantisipasi permintaan dan pertumbuhan pasar sejalan dengan perkembangan teknologi yang ada. 

Teknologi GPS Indonesia akan semakin maju dengan adanya pelaku bisnis dalam negeri yang aktif berpartisipasi dalam mengembangkan teknologi pelacak mobil, kendaraan, dan semua armada bergerak, mengingat besar wilayah Indonesia beserta jumlah kendaraan dan penduduk yang merupakan salah satu yang terbesar di Asia dan dunia. Perkembangan ini juga didukung oleh kemajuan teknologi telematika yang menggabungkan teknologi informasi dengan telekomunikasi. Dalam beberapa tahun mendatang, kita akan melihat semakin tingginya pemanfaatan dan penerapan teknologi GPS dalam aspek kehidupan sehari-hari di Indonesia.

[ Tim Liputan Teknologi GPS Tracking Indonesia - Jakarta ]