Showing posts with label BJ Habibie. Show all posts
Showing posts with label BJ Habibie. Show all posts

Thursday, August 29, 2013

Prof. Habibie Tegaskan R80 Dibuat Lebih Hebat


Jakarta  - Mantan Presiden BJ Habibie mengatakan pesawat Regio Prop 80 (R80) yang diproduksi PT Ragio Aviasi Industri (RAI) dalam tahap pembuatan awal dan dikembangkan lebih hebat dari pesawat N250. 

"Kita buat lebih hebat. It`s a surprise, you`ll see it, ok (Ini adalah kejutan, kamu akan melihatnya, ok)," kata Habibie usai berpidato di Rakornas Riset dan Teknologi (Rakornas Ristek) di Jakarta, Rabu. 

Menurut dia, pesawat R80 yang akan dibuat berdaya tampung 80 kursi dan ditargetkan terbang 2018 ini akan memanfaatkan pengalaman membuat pesawat N250.

Sebelumnya diberitakan bahwa pesawat R80, menurut Komisaris PT RAI Ilham A Habibie, merupakan The Next N250 yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara Indonesia. 

Ia mengatakan saat ini pembuatan R80 masih dalam tahap pembuatan awal atau 10 persen. Kemampuan, desain, dan teknologi pesawat ini mirip N250, meski dari segi ukuran akan lenih besar dan panjang.

Pesawat R80, menurut dia, tetap menggunakan baling-baling di bagian atas badan pesawat sebagai penggerak pesawat seperti N250. Dengan menggunakan baling-baling maka konsumsi bahan bakar akan jauh lebih irit.

R80 ini, lanjutnya, didesain untuk jarak tempuh kurang dari 600 km, karena itu dapat dipastikan akan semakin irit bahan bakar. Sedangkan untuk produksi tahap awal, menurut dia, diperlukan dana 400 juta dolar AS. (Antara News)



Friday, March 22, 2013

PROSPEK PESAWAT N-250 DINILAI CERAH


PROSPEK PESAWAT N-250 DINILAI CERAH



BANDUNG-(IDB) :Pemerintah diminta mengimbau maskapai penerbangan nasional untuk membeli pesawat N-250.

Pengembangan kembali proyek pesawat komersial tipe N-250 dinilai memiliki prospek cerah. Di samping harga yang tidak mahal, pesawat kecil itu sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Pengamat penerbangan Universitas Gadjah Mada Arista Atmadjati menilai pesawat yang pernah menjadi produk primadona Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)--kini bernama PT Dirgantara Indonesia (PT DI)--tersebut ideal bagi pasar Indonesia.

"Harganya terjangkau oleh maskapai-maskapai nasional mulai dari kelas besar, menengah, hingga kecil. Ukurannya pun cocok untuk menerbangi pulau-pulau kecil di Tanah Air," kata Arista, kemarin.

Arista menuturkan, N-250 yang bermain di kapasitas 50-70 tempat duduk sangat cocok untuk mendukung transportasi komuter pulau-pulau kecil atau antarkabupaten. Sebab kebanyakan bandara di sana berlandasan pacu pendek, sekitar 900 meter hingga 1.400 meter. Apalagi, saat ini rute-rute penerbangan antarkabupaten tengah berkembang. Misalnya, rute Bandung-Pangandaran, Halim Perdanakusuma-Tasikmalaya, Yogyakarta-Bandung, atau di luar Pulau Jawa seperti Kendari-Wakatobi dan Raja Ampat-Nabire.

Pesawat N-250, diyakini Arista, akan mampu bersaing dengan pesawat-pesawat sekelas produk perusahaan ternama dunia seperti Fokker, Bombardier, atau Avions de Transport Regional (ATR).

Persaingan


Namun, agar mampu bersaing, pemerintah dinilai perlu mendukung dengan mengimbau maskapai penerbangan nasional untuk membeli N-250. Selama ini, minimnya produksi pesawat terbang domestik membuat maskapai penerbangan nasional terus menggunakan pesawat buatan asing, khususnya Boeing dan Airbus.

Bahkan, Merpati Airlines lebih memilih pesawat tipe MA-60 buatan Xian Aircraft Industry Ltd, China, menggantikan CN-235 buatan PT DI yang telah memiliki lisensi dari otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA). "Tanpa campur tangan pemerintah dan dukungan industri penerbangan domestik, pesawat sebagus N-250 pun tidak akan bisa bertahan," kata Arista.

Senada dengan Arista, pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang meminta pemerintah mempromosikan N-250 melalui imbauan Presiden atau Menteri BUMN Dahlan Iskan agar maskapai penerbangan pelat merah menggunakan N-250 bagi penerbangan skala kecil mereka.

"Harus maskapai kita sendiri yang pertama kali menggunakan N-250 untuk menunjukkan kepada dunia luar betapa baiknya produk yang kita hasilkan," tegasnya.

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo juga berharap upaya mantan Presiden BJ Habibie itu didukung penuh pemerintah. "Karena mulai 2015, seluruh produk asing akan membanjiri Indonesia termasuk pesawat. Apakah kita akan terus memakai produk asing, sedangkan SDM kedirgantaraan dalam negeri sudah ada dan berpengalaman," tegasnya.

Sebelumnya, seusai peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Bandung, Jumat (10/8), Habibie menyatakan tekad mewujudkan kembali mimpinya agar pesawat komersial tipe N-250 yang pernah terbang 17 tahun silam, tetapi kemudian kandas lantaran krisis ekonomi, bisa mengangkasa kembali. 

Sumber : MediaIndonesia

BJ Habibie Rancang N-2130, Boeing dan Airbus 'Ketar-ketir'


Pabrik Pesawat Indonesia

BJ Habibie Rancang N-2130, Boeing dan Airbus 'Ketar-ketir'

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Senin, 18/02/2013 12:40 WIB



Bandung - Setelah sukses melahirkan N-250 Gatotkaca dan Krincing Wesi pada Agustus 1996, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di bawah besutan BJ Habibie pernah berencana melahirkan prototipe pesawat lebih maju. 

Habibie mendesain pesawat penumpang komersial bermesin jet asli karya Indonesia, yakni N-2130 yang rencananya beroperasi mulai 2005 lalu. Pesawat N-2130 berpenumpang 130 orang ini dikonsep memiliki pasar serupa dengan pesawat Boeing seri 737-500 atau Airbus seri A320. 

Direktur Utama PT DI Budi Santoso bercerita, rencana BJ Habibie kala itu membuat raksasa produsen pesawat dunia yaitu Boeing dan Airbus ketar-ketir.

"Dikembangkan pasca N-250. Mungkin kesalahan ini mengembangkan N-2130. Mulai masuk pasarnya Boeing. Mungkin waktu IMF masuk ke sini, pesan sponsor di sana tolong matikan," tutur Budi di Kantor Pusat PTDI, Jalan Pajajaran, Bandung, Jumat (15/2/2013).

Budi memprediksi, Seandainya waktu itu proyek pesawat jet N-2130 tidak dikembangkan, pesawat penumpang bermesin propeler yakni N-250, mungkin tidak akan mangkrak seperti saat ini.

"Kalau ini (Boeing dan Airbus) terganggu pasarnya. Mulai gunakan politik mematikan. Mungkin kita kalau nggak bikin N-2130, N-250 bisa jadi (berhasil) karena itu (N-250) bukan pasarnya perusahaan besar. Bukan pasar Airbus dan Boeing," cetusnya.

Hari ini, proyek N-2130 hanya tinggal secarik kertas yang tak pernah terwujud barangnya. Di ruang pamer pesawat PT DI terdapat prototipe N-2130 yang belum selesai dikembangkan. 

Budi menuturkan, dengan nilai uang saat ini, biaya mengembangkan N -2130 versi terbaru setidaknya mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 10 miliar.

"N-2130 hanya jadi kertas saja. Bikin baru seperi ini (N 2130) perlu US$ 6 miliar-US$ 10 miliar. Itu harga tahun ini, kalau harga tahun itu berbeda (dulu senilai US$ 2 miliar)," cetusnya. (Detik.com)

Tuesday, March 19, 2013

Pesawat R80, The Next N-250 yang Siap Ungguli ATR

Pesawat Jet N 2130 berkapasitas 80-130 penumpang. Pesawat seperti ini kira-kira R-80 yang 
akan dikembangkan lagi menjadi lebih canggih oleh Ilham Habibie, antara lain digitalisasi perangkat.

Wawancara Anak Sulung BJ Habibie

Pesawat R80, The Next N-250 yang Siap Ungguli ATR

Rista Rama Dhany - detikfinance
Senin, 18/03/2013 08:10 WIB



Jakarta - Anak sulung mantan Presiden Republik Indonesia BJ Habibie, Ilham Habibie mempunyai ambisi untuk melanjutkan impian ayahnya yakni memproduksi pesawat Regio Prop 80 (R80).

Seperti diketahui, proyek pesawat N-250 yang dikomandani BJ Habibie dihentikan oleh International Monetary Fund (IMF) pada 1998 akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Jadi bagaimana R80 dibangun, bagaimana prospeknya? Apakah pesawat R80 sama dengan N-250? Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Ilham ketika ditemui di kantornya di Kawasan Mega Kuningan, akhir pekan lalu.

Apa bedanya Gatotkaca N-250 dari BJ Habibie dengan Regio Prop 80 dari seorang Ilham Habibie dan kawan-kawan?

Beda, N-250 dengan R80 sangat berbeda sekali. Perbedaanya di antaranya dari ukuran, R80 jauh lebih besar dari pada N-250, karena R80 memiliki daya tampung hingga 80 kursi sementara N-250 hanya 50 kursi.

Sayap pesawat jauh lebih besar dan panjang, karena ukurannya lebih besar jadi diperlukan sayap yang besar untuk mengangkat beban. Landing Gear juga jauh lebih besar dikarenakan badan pesawat lebih besar dari pada N-250.

Kemudian teknologi kokpit, Aircraft flight control system juga berbeda, ya bisa dibayangkan proyek N-250 dimulai sejak 15 tahun lalu tentunya teknologi sekarang berubah, komputer saja berapa kali kita ganti, handphone sudah berapa kali berubah, pastinya teknologi di pesawat N-250 dan R80 akan jauh berbeda.

Namun ada sedikit persamaan antara N-250 dengan R80, yakni sayap yang berada di atas badan pesawat, tetap menggunakan baling-baling sebagai penggerak pesawat dan jika dibelah badan pesawatnya lekukan atau konturnya hampir sama dengan N-250.

Anda tetap mempertahankan mesin pesawat dengan baling-baling. Sebagian masyarakat masih ragu menggunakan pesawat yang menggunakan baling-baling?

Ya kita pakai baling-baling. Itu lah yang sebenarnya, masyarakat harus banyak diberi penjelasan. Simpelnya saya mau tanya, awalnya pesawat menggunakan baling-baling atau mesin jet? baling-baling kan, ya secara teknologi baling-baling lebih matang, jika matang artinya lebih aman dong, begitu cara berpikirnya.

Pesawat sekarang banyak yang memakai mesin jet dikarenakan pesawat bermesin jet memang dikhususkan untuk jarak jauh. Tapi sebenarnya antara mesin jet dengan mesin baling-baling pada pesawat sama saja, tidak terlalu berbeda karena mesinnya sama.

Kalau Jet namanya Turbo Jet, kalau baling-baling namanya turbo prop. Jet lebih cepat karena dorongan jet memang lebih cepat karena dihembuskan dari belakang namun konsekuensinya konsumsi bahan bakar jauh lebih boros, bahkan sangat boros.

Mengapa anda memilih R80 tetap menggunakan baling-baling?

Pesawat baling-baling didesain untuk jarak tempuh yang pendek. Mengapa? dengan baling-baling konsumsi bahan bakar akan jauh lebih irit. Bandingkan jika maskapai menggunakan pesawat jet untuk jarak pendek, waduh itu luar biasa borosnya.

Selain itu melihat luasnya negara kita dari Sabang-Marauke, yang terdiri banyak pulau dan jarak antara satu kota ke kota lainnya cukup dekat jika menggunakan pesawat. Asal tahu saja, saat ini semua maskapai sangat terbebani jika harga minyak (Avtur) naik, mereka pusing tujuh keliling, kenapa? Karena konsumsi avtur mencapai 50% lebih dari seluruh ongkos operasi.

Beberapa negara juga saat ini menerapkan aturan, bahwa pesawat terbang harus irit bahan bakar, karena ini menyangkut dengan emisi dan lingkungan hidup, banyak orang bilang emisi di atas (pesawat) lebih berbahaya 8 kali bagi lapisan ozon dari pada yang dari daratan. Bahkan perusahaan pesawat memang diwajibkan produksi pesawat yang irit bahan bakar karena jika tidak mereka bisa kena pinalti atau denda pajak yang sangat tinggi.

Dan R80 memang didesain untuk jarak tempuh yang kurang dari 600 km atau jarak pendek. Sehingga sudah pastinya R80 ini akan sangat irit bahan bakar. Makanya maskapai seperti Citilink, Wingsair memilih rute-rute pendek dengan menggunakan pesawat bermesin baling-baling seperti ATR.

Anda terkesan sangat ambisius untuk bisa memproduksi pesawat? Punyakah anda uang?

Ambisius? saya yakin masih banyak orang di Indonesia ini yang mempunyai semangat. Dirgantara dan saya salah satunya.

Uang? saat ini dalam tahap awal diperlukan US$ 400 juta dolar. Tapi itu bukan dana dari pribadi saja sendiri, ada beberapa modal dari beberapa kalangan tetapi juga pribadi bukan dana perusahaan.

Dan nanti suatu saat, ketika perusahaan atau R80 ini berkembang dan memerlukan dana besar, kita bisa melepas saham ke publik.

Banyak orang salah paham juga, bahwa perusahaan yang kami dirikan yakni PT Ragio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan perusahaan gabungan dari perusahaan miliknya yakni PT Ilthabie Rekatama dengan PT Eagle Cap adalah perusahaan miik Erry Firmansyah yang merupakan mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mendirikan pabrik pesawat menyaingi PT Dirgantara Indonesia (DI).

Tidak, yang benar R80 akan produksi menggunakan pabrik PT DI, dan nantinya PT DI juga akan menjadi salah satu pemegang saham di PT RAI.

R80 nanti kelasnya di mana? Menyaingi Airbus, Boeing atau ATR?

Patokan kita harus di atas ATR. Acuan kita pasarnya ATR, sama-sama menggunakan baling-baling. Namun R80 akan di atas ATR, mengapa? Pertama kapasitas penumpang kita akan lebih besar yakni 80 kursi sementara ATR maksimal hanya 70 kursi, ATR sampai saat ini belum bisa memproduksi lebih dari 70 kursi.

Kelebihan R80 lagi dari pada ATR, mesin kita lebih cepat namun lebih irit bahan bakar, tapi tidak lebih cepat dari pada jet, karena kalau sama kecepatannya dengan jet artinya sangat boros bahan bakar.

Jadi patokan R80 harus di atas ATR namun harganya jauh lebih murah dari pada ATR. Lebih murah itu wajib karena produksi kita ada di Indonesia, suku cadang juga dibuat di Indonesia.

Akankah R80 ini bisa bersaing dengan produsen pesawat di dunia? Akankah laris manis di pasar dalam negeri, tunggu pada 2018 nanti.

Ya target kami R80 sudah bisa produksi pada 2018 nanti.


"Soal Bikin Pesawat, Indonesia Masih di Atas China"



"Soal Bikin Pesawat, Indonesia Masih di Atas China"

Rista Rama Dhany - detikfinance
Senin, 18/03/2013 08:34 WIB


Jakarta - China boleh bangga bisa produksi pesawat MA 60 yang saat ini digunakan Merpati Nusantara Airlines, namun soal kualitas pesawat Indonesia masih jauh di atas China.

Seperti kata Ilham A. Habibie, anak sulung mantan Presiden RI BJ Habibie mengatakan soal membuat pesawat dan kualitas pesawat itu sendiri, Indonesia masih di atas China.

"Soal buat pesawat kita masih lebih bagus dan jauh di atas China, dari segi kualitas kita masih oke," kata Ilham ketika ditemui detikFinance pekan lalu di kantornya di Kawasan Mega Kuningan, seperti dikutip, Senin (18/3/2013).

Kata Ilham, saat ini China boleh bangga punya MA 60 yang saat ini digunakan Merpati.

"Tapi pada dasarnya desain MA 60 itu mesinnya memang digunakan untuk militer, namun karena digunakan untuk sipil mereka menurunkan sedikit kualitasnya, karena dasarnya untuk militer sehingga boros, militerkan ngak mikirin boros apa tidak yang penting tahan banting dan menang perang," ucapnya.

MA 60 sendiri kata Ilham diakui sendiri oleh Dirut Merpati Rudy Setyopurnomo kalau pesawat tersebut sangat boros.

"Ya saya pernah diskusi dengan Dirut Merpati Pak Rudy, pesawat itu boros, kalau sudah boros bahan bakar bagaimana mau bisa dapat money (uang). Lagi pula MA 60 dipakai bukan karena kualitas, tetapi karena Merpati saat itu kesulitan pendanaan dan tidak bisa pinjam ke bank, tapi China mau meminjamkan dana untuk membeli MA 60 buatan mereka," ungkapnya.

Lantas dari segi mana kita masih teratas dibandingkan China dari segi kualitas pesawat?

"Ya R80 (Regio Prop 80) yang saat ini sedang kita selesaikan proses pembangunannya, kita akan memiliki pesawat dengan menggunakan baling-baling, yang didesain untuk jarak dekat, hemat bahan bakar, teknologi terbaru, kapasitas lebih banyak yakni mencapai 80 kursi, mesin lebih cepat dan yang terpenting jauh lebih murah dari pesawat ATR karena produksi dan suku cadang dibuat semua di Indonesia, dan yang lebih penting lagi kita punya Sumber Daya Manusia yang berpengalaman bahkan seperti di Boeing, Airbus, ATR, di PT DI dan banyak lagi," tandasnya.

Seperti diketahui Ilham bersama Mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah bersama-sama membentuk PT Ragio Aviasi Industri (RAI) untuk membangun pesawat new N-250 yang dulu pernah dibuat BJ Habibie.

Pesawat berkapasitas 80 kursi tersebut diberi nama R80 atau Regio Prop 80 diamana pesawat tersebut menggunakan baling-baling.