Showing posts with label pengetahuan teknologi. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan teknologi. Show all posts

Saturday, July 6, 2013

JK: Teknologi Mutlak Dikuasai Untuk Pertahanan



JK: Teknologi Mutlak Dikuasai Untuk Pertahanan


JAKARTA - Di tengah perubahan zaman yang pesat, sudah seharusnya Indonesia memikirkan pertahanan dari serangan teknologi, ideologi, penguasaan ekonomi, dan politik. Walau demikian, bukan berarti mengabaikan pentingnya persenjataan militer, karena perekonomian bisa maju jika negra berwibawa.

"Kalau beli tank Leopard, negara mana yang akan kita serang? Juga, negara lain mana yang akan menyerang kita? Sekarang ini seharusnya fokusnya lebih ke penguasaan teknologi, ideologi, ekonomi, dan politik dari dalam," kata mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ketika menjadi pembicara utama dalam seminar Musyawarah Nasional I. Acara itu digelar Think anda Act for National Defense (Tandef) dan Ikatan SMU Taruna Nusantara dengan tema "Mewujudkan Masyarakat Sadar Pertahanan" di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jakarta, Minggu (12/5/2013).

Hadir dalam diskusi tersebut selain Jusuf Kalla adalah mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, pengamat pertahanan dan militer Connie Rahakundini Bakrie, dan pengamat politik dan militer Kusnanto Anggoro, dengan moderator pakar komunikasi Effendi Gazali.
Menurut Jusuf Kalla, seharusnya kita sudah fokus untuk memikirkan pertahanan di bidang ideologi, ekonomi, dan politik dengan basis penguasaan teknologi. "Perang tak lagi perlu kekuatan besar. Zaman dulu tentara tewas 10.000 itu biasa, sekarang satu orang tewas bisa menjadi isu besar," kata Kalla.
Begitu mahal nyawa saat ini karena manusia adalah pengendali teknologinya. Namun, hingga saat ini, Indonesia belum masuk ke arah itu karena masih terseok-seok dengan pertahanan konvensional.
"Apa yang dibutuhkan dewasa ini adalah penguasaan teknologi, politik, diplomasi, dan ideologi," kata Kalla.

Amerika Serikat (AS) bisa saja menyerang negara mana saja, namun terbukti perang ideologi bisa membuat kalang kabut AS. Tak ada yang bisa mendefinisikan kapan ideologi itu akan menyerang, sehingga Bom Bostin pun pecah tanpa antisipasi.

Jepang membuktikan, dia bisa menguasai negara lain dengan kekuatan ekonomi atau teknologi. Ekonomi memang memegang peranan penting untuk bisa hidup tegak berwibawa, sejajar dengan bangsa lain dan sejahtera. "Sekarang uang kita habis untuk beli bensin, sehingga bagaimana kita bisa mewujudkan kesejahteraan?" kata Kalla.

Pertahanan itu juga terkait kemauan kita dalam penguasaan teknologi, termasuk kemauan kita untuk tidak korupsi. Namun, bukan berarti Kalla mengabaikan pertahanan militer. "Ekonomi bisa kuat kalau negara berwibawa. Kalau negara tak memiliki persenjataan kuat, bagaimana kita bisa menghalau pencuri ikan di lautan? TNI harus kuat, orangnya dan persenjataannya," papar Kalla.
Mempersenjatai tentara memang butuh ekonomi yang kuat. Namun sebenarnya, jika punya politik diplomasi yang canggih, bisa dilakukan dengan memakai hubungan strategis dengan negara lain. Dengan hubungan yang strategis dengan negara lain, Indonesia bisa mendapatkan persenjataan yang kuat dengan harga fleksibel.

Kalla juga mengingatkan, 10 dari 15 konflik yang terjadi itu akibat ketidakadilan ekonomi dan politik. "Papua disamping sparatisme ada ketidakadilan. Di Aceh, apa yang terjadi bukan soal agama tapi tentamg ketidakadilan," kata Kalla.

Untuk mengurai persoalan bangsa yang begitu pelik, menurut Kalla, kita membutuhkan pemimpin demokratis yang bisa memahami, punya visi ke depan, bertanggung jawab, bisa mempengaruhi orang, bisa menjalankan kebijakan populer maupun tan populer. Kalla mencontohkan, dulu ketika BBM naik 160 persen, tak ada protes yang berarti.

Sementara ketika pemerintahan sekarang akan menaikkan BBM 30 persen, banyak demo terjadi di mana-mana. "Ini cara menjelaskan yang salah dan teknik mempengaruhi orang, enggak perlu diktator," kata Kalla.

Indonesia harus memiliki visi ke depan. Walaupun musuh bersama (common enemy) tak ada, kita perlu merumuskan common objective atau tujuan bersama yaitu kemajuan bangsa. Kalla mencontohkan keberhasilan dalam menggalang kampanye komodo sebagai bagian warisan dunia yang harus dilestarikan.

"Saat itu, 40 hari sebelum pengumuman, ada panitia yang datang meminta tolong dibantu karena suara untuk komodo baru mendapat 60.000-an," kata Kalla.

Kemudian Kalla menyanggupi terlibat dan menjelaskan kepada masyarakat bahwa komodo ini bukan hanya untuk kepentingan komodo saja, tapi bisa berimplikasi pada kesejahteraan Indonesia, misalnya dengan banyaknya turis yang datang sehingga ekonomi bisa berkembang.

Dengan penjelasan yang logis seperti itu, komodo akhirnya langsung mendapatkan 300 juta suara dalam tempo 40 hari. "Jadi, tak harus punya common enemy dulu, kita bisa buat common objective untuk tujuan bersama," kata Kalla.

Friday, July 5, 2013

Mahasiswa ITB Juara Dunia "Cyber Security"


Dokumentasi Suhono Harso SupangkatFirman Azhari (kiri), mahasiswa STEI ITB dan peneliti Blackberry Innovation Center yang menjadi juara dunia kompetisi Kaspersky Cyber Security, dan Prof Suhono Harso Supangkat, penyelia Firman di BlackBerry Innovation Center ITB

Mahasiswa ITB Juara Dunia "Cyber Security"


Firman Azhari, mahasiswa Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) sekaligus peneliti di BlackBerry Innovation Center, berhasil keluar sebagai pemenang kejuaraan dunia tingkat mahasiswa dalam kompetisi Cyber Security yang digelar Kaspersky.

Tahap final kompetisi ini dilaksanakan di Universitas Royal Holloway, London, tanggal 25-27 Juni 2013 dengan 14 peserta yang mewakili 10 negara.

Ke-14 peserta dipilih setelah melewati babak penyisihan di benua masing-masing. Sebelum maju ke final, Firman lebih dulu menjuarai babak penyisihan wilayah Asia Pasifik pada bulan Maret lalu di National University of Singapore, Singapura.

Dokumentasi Suhono Harso SupangkatFirman Azhari melakukan presentasi di kompetisi Kaspersky Cyber Security, London

Dewan juri berasal dari kalangan universitas dan praktisi bidang keamanan teknologi informasi, di antaranya Delft University of Technology di Belanda, dan Plymouth University di Inggris.

Firman menjadi juara lewat tema karya "Analisis Sistem Pembayaran dan Identitas Elektronik berbasis Near Field Communication (NFC)". Penelitian ini dimulai sejak Firman bergabung dalam BlackBerry Innovation Center ITB. Kala itu, ia meneliti smart payment di dalamsmart transportation.

Di pusat inovasi yang dipimpin oleh Profesor Suhono Harso Supangkat ini, penelitian dilakukan dengan topik utama "Smart Mobile Computing untuk Smart Society". Tema riset dibagi menjadi 5 bidang, yaitu smart transportation, smart energy, smart health, smart education,dan smart payment/commerce.
Saat ini Firman juga ikut serta dalam penelitian dan pengembangan smart identity dan payment untuk kasus Bandung Smart City.(Kompas)

Thursday, June 20, 2013

Australia Minta Saran BNPB Atasi Banjir dengan Modifikasi Cuaca


Jakarta - Australia rupanya terkesan dengan cara Indonesia dalam mengendalikan hujan dengan teknologi modifikasi cuaca. Jika begitu, mestinya kita patut bangga menjadi referensi

Wednesday, June 5, 2013

Mengenal Cara Kerja Teknologi Canggih Pesawat Siluman



Kemajuan zaman membuat teknologi dirgantara semakin pesat perkembangannya, pada saat ini ada tiga kubu kuat di dunia dengan teknologi pesawatnya yang sangat maju.

Yang pertama tentunya Amerika serikat, kedua adalah Eropa dan yang terakhir adalah Russia. Ketiganya berlomba membuat pesawat tempur dengan teknologi yang lebih maju dari yang lainnya.

Untuk urusan stealth yang memimpin tetap Amerika serikat, sedangkan Russia tak bisa diangap enteng dengan kelebihan-kelebihan manuvernya.

Meskipun Amerika juga telah mengembangkan teknologi manuver yang tak kalah gesitnya dengan Russia seperti penerapan Thrust Vectoring, yang mana “knalpot” pesawat bisa berbelok-belok ke segala arah.tapi diantara semua teknologi tersebut yang akan dibahas disini adalah mengenai bagaimana pesawat mendapat julukan Stealth (indonesia: Siluman, bisa menghilang).

Pesawat siluman buatan Rusia 


Ada beberapa pesawat mutakhir milik Amerika yang masuk kategori ini, yaitu pesawat F-117, F-22, JSF F-35, dan B-2.

Untuk urusan Stealth sendiri bisa di akali pihak pabrikan dengan membuat design pesawat yang minus lekukan yang fungsinya adalah memperkecil sudut-sudut tajam yang bisa ditangkap oleh radar dan muncul pada RCS (radar cross section).

Selain itu ada pula pesawat-pesawat yang sudah agak uzur seperti F/A-18 Hornet (walaupun tidak benar-benar uzur karena telah mengalami upgrade lebih dari 30 persen) yang melapisi beberapa bagian pada pesawat nya dengan lapisan anti radar seperti pada ujung-ujung sayap utama dan bagian ruder nya.

Cara Kerja Pesawat yang Menggunakan Sistem Stealth (siluman) 



Pada gambar diatas Sebuah pesawat F-117 dapat menghindari radar karena pada desain pesawat tersebut memiliki minus lekukan sehingga radar yang datang dari musuh akan di pantulkan sehingga yang muncul pada monitor RCS musuh hanyalah dot-dot (titik-titik) yang sangat kecil yang bisa dianggap sebagai gerombolan burung dan bukanlah pesawat yang sedang menyelinap.


 
 Mirip cara kerja Burung Walet

 
Pesawat tanpa sistem stealth (siluman)



Gambar kedua ini adalah sebuah F-15 Eagle yang dalam desainnya banyak memiliki lekukan-lekukan tajam pada body nya sehingga dapat di tangkap oleh radar dengan baik dan muncul dalam monitor RCS sebagai dot-dot pesawat tempur yang menyusup.

Mungkin seperti itulah gambaran mudahnya mengapa sebuah pesawat bisa lolos dari monitor pengawas musuh, namun begitu, pesawat F-117 ternyata memiliki kelemahan juga, pada saat konflik Yugoslavia, pesawat ini tertangkap radar dan tertembak jatuh oleh misil SA-3 SAM buatan Russia.

Ternyata jatuhnya pesawat itu pada saat bom bay nya (pintu bom) dalam keadaan terbuka sehingga mungkin sudut-sudut tajam itulah yang tertangkap oleh radar kemudian di seranglah dengan misil darat ke udara tersebut (surface to air missile).

Kesimpulannya, akan perlu penyempurnaan pada setiap generasi pesawat tempur, dengan penyempurnaan tersebutlah pihak suatu negara memperkecil jumlah korban jiwa yang berjatuhan.


Pesawat Siluman Buatan Amerika










Untuk mencapai 'stealth' ada 3 metode yang saat ini dikenal :


  1. Rekayasa bentuk (shape) seperti bentuk pada F117.
  2. Rekayasa material (Radar Absorbant Material) seperti pada U2 (generasi awal).
  3. Rekayasa teknologi lainnya : plasma stealth, efek pertama kali muncul di satelit sputnik Rusia, namun untuk pesawat sepertinya masih dirahasiakan.
Namun, ultimate goal nya stealth yang ingin dicapai selain tak tampak di radar, juga kasat mata (seperti bunglon) dan saat ini juga sedang dalam penelitian.

Kalau tidak salah pernah muncul di acara TV National Geographic tentang hal ini, menggunakan teknologi laser dan rekayasa material untuk membelokkan cahaya yang seharusnya dipantulkan sehingga objek dibelakang benda menjadi tidak tampak (benda jadi transparan).

Seiring dengan waktu, teknologi radar pun berkembang untuk dapat mendeteksi pesawat stealth, antara lain radar 'radio', akustik, radar infra merah, radar thermal (panas), radar cuaca (setidaknya bisa mendeteksi tubulensi udara ketika pesawat melintas).

Sumber : kaskus.us

Pesawat Tanpa Awak, Kini Sebesar Nyamuk

Mosquito MAV. Gambar: networkworld.com
Kemajuan teknologi semikonduktor telah memungkinkan manusia menyederhanakan ukuran fisik perangkat komputer dari sebesar almari pakaian menjadi hanya sebesar coin uang logam. Kemajuan yang sangat revolusioner ini dipicu oleh penemuan teknologi semikonduktor yang sangat spektakuler, sehingga perangkat teknologi pintar semakin lama semakin kecil dengan kemampuan yang semakin hebat. 

Sejauh mana Indonesia menguasai teknologi semikonduktor ini ? Beberapa waktu yang lalu penulis pernah mem-posting artikel berjudul "Indonesia sanggup membangun industri semikonduktor". Jika Indonesia mampu membangun industri teknologi tinggi semikonduktor ini sendiri secara mandiri, maka ke depan kita akan sanggup membangun sistem pertahanan yang kuat yang ditopang oleh penguasaan teknologi tinggi ini untuk menciptakan alat-alaty canggih mikro untuk berbagai tujuan seperti untuk mata-mata (surveillance), sistem radar, pembuatan sistem avionik dan sistem sensor pesawat, dan lain-lain. Bahkan mungkin kita juga mampu membuat drone mikro (PUNA mikro) yang bisa disusupkan ke wilayah-wilayah hutan untuk mengawasi OPM, atau di perbatasan dan bahkan di pusat kota.  

Sekarang ini telah tercipta drone mikro sebesar nyamuk dan secara fisik menyerupai nyamuk. Nyamuk ini bukan nyamuk biasa. Ini adalah Mosquito Micro Air Vechile (MAV), yang merupakan jenis Unmanned Aerial Vehicles (UAV). Jika saya sederhanakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari, nyamuk ini adalah robot yang bisa terbang, yang masuk dalam kelompok pesawat terbang tanpa awak berukuran mikro. Pesawat terbang tanpa awak berukuran lebih besar yang sering kita dengar disebut-sebut, adalah Drone.

Mosquito MAV adalah salah satu dari Cyborg Insect Drones yang telah dikembangkan, dimana sebelumnya MAV yang berukuran lebih besar, seukuran lalat diperkenalkan oleh US Air Force pada tahun 2007.
.
13703244791498268835
Micro Drone. Gambar : networkworld.com
.
Unmaned Aerial Vehicles, sebagaimana namanya, adalah peralatan pesawat tanpa awak yang digunakan untuk mendukung kerja angkatan bersenjata. Biasanya dilengkapi dengan camera, microphone dan senjata.

Mosquito Drone pada gambar pertama, memiliki jarum suntik yang dapat mengambil sample DNA, secara bersamaan menyuntikkan RFID-chip (Radio Frequency Identification) ke dalam tubuh manusia. RFID adalah perangkat yang menggunakan frekwensi radio untuk mentransfer data, mengidentifikasi dan melacak objek. Jadi, sekali tubuh anda ditanami RFID, maka keberadaan anda dapat dipantau dari mana saja.

Dengan kemampuan mengambil sampel DNA dan menyuntik, maka micro drone dapat digunakan sebagai biological weapon.

Pengendalian jarak jauh micro drone juga dapat dilakukan dengan baik. Micro drone mampu terbang dengan berbagai formasi, dan dapat diterbangkan di medan yang sulit, tanpa bertabrakan atau menabrak objek rintangan. Perhatikan video berikut ini.




Ini inovasi yang mengagumkan. Jika diterapkan di bidang militer, teknologi ini bisa menjadi ancaman yang sangat serius dalam mengatasi mata-mata musuh. Teknologi ini bisa sangat berbahaya, tapi juga mengagumkan.  

Dan yang ini adalah pesawat Nano yang lain : 

Sunday, May 5, 2013

Transfer Teknologi Alat-Alat Tempur: Fakta Atau Utopia ?


MLRS Astross II yang dibeli TNI dari Brazil beberapa waktu lalu. Akankah Brazil melakukan Transfer teknologi (ToT) untuk Indonesia dalam pembuatan Rudal Multi laras ini ? 

Transfer teknologi, terlebih lagi di bidang militer, adalah kisah yang hampir-hampir menjadi dongeng. Dongeng yang enak di dengar, mudah di ucapkan, namun nyatanya selalu sulit diwujudkan. Mungkin istilah itu harus diganti, agar terminologi itu tidak terasa 'menakutkan' bagi negara-negara maju, yang dalam hal ini terkandung makna harus memberikan ilmunya kepada negara-negara berkembang. Jika dalam green technology saja transfer teknologi begitu sulit, apalagi di bidang militer, tentu lebih sulit lagi. Jangan berharap mereka (negara maju) itu mau menularkan ilmunya begitu saja.

Tapi jika memang transfer teknologi itu sesuatu yang mustahil dilakukan, kenapa Jerman mau berbaik hati membantu Indonesia mendirikan pabrik pesawat terbang bernama IPTN ketika itu ?
Ya, itulah kelihaian BJ Habibie dalam memboyong ahli-ahli pesawat Jerman ke Indonesia, dan kepandaian beliau juga dalam meyakinkan Presiden Soeharto ketika itu agar mau tanda tangan mengalokasikan trliunan rupiah untuk proses pendirian dan pendidikan ahli-ahli aeronetika Indonesia.

Transfer teknologi memang sulit, tapi bukan berarti mustahil. Terbukti kita juga bisa menguasai teknologi tinggi yang tidak mampu dikuasai oleh negara tetangga, berkat 'transfer teknologi' dari negara maju seperti Jerman. Persoalannya tidak terletak pada keengganan sang penguasa teknologi untuk memberikan ilmu dan pengalamannya pada negara penerima, melainkan 'cara' mendapatkannya.

Ya, cara atau strategi negara berkembang agar bisa mendapatkan ilmu dari negara maju itulah yang menentukan. Hampir pasti mereka tidak akan sudi memberikan begitu saja pada negara dan bangsa lain, namun mereka bisa 'dipaksa' dengan satu atau lain cara agar mau 'menularkan' ilmunya ke negara-negara berkembang.

Seperti yang tengah dan sudah kita lakukan, kita bisa saja merekrut tenaga ahli dari mereka (negara-negara maju) untuk bekerja di perusahaan yang kita dirikan dengan menawarkan bayaran yang lebih tinggi di bandingkan di negara asalnya. Ekspatriat itu dikontrak dalam jangka waktu tertentu, dan diberi target dalam waktu tertentu pula agar bisa mendidik anak buahnya yang orang Indonesia untuk menguasai keahlian mereka. Itu yang dilakuka PT DI dulu.

Cara kedua adalah dengan riset dan pengembangan bersama dengan negara-negara lain. Misalnya program pembuatan kapal selam Indonesia-Korsel dan proyek pembuatan pesawat tempur KFX/IFX juga antara Korsel-Indonesia.

Cara ketiga adalah 'mencontek' teknologi itu dengan membongkar pasang barang yang kita beli dari mereka. Jepang mungkin berhasil melakukan dengan cara ini, mencontek teknologi AS lalu mereka kembangkan sendiri menjadi teknologi yang lebih marketable. Indonesia bisa saja membongkar satu Tank Tempur Utama Leopard, mempretelinya satu demi satu, dipelajari, lalu dicontek model dan bentuknya. Juga cara kerjanya. Tapi cara ini sangat sulit, perlu berpuluh-puluh tahun. Tapi yang namanya manusia, tetap saja bisa belajar dan melakukan hal itu dengan sukses.

Cara keempat adalah dengan pendirian perusahaan Joint Venture, yakni perusahaan patungan antara perusahaan nasional baik swasta/BUMN dengan perusahaan asing yang memiliki teknologi itu. Contohnya, adalah rencana pendirian perusahaan Foxconn dengan PT LEN dan PT INTI untuk memproduksi tablet canggih dan smarphone high-end.

Pemerintah untuk itu perlu mengatur dalam suatu UU penanaman modal asing, agar transfer teknologi bisa berjalan mulus tanpa hambatan. Misalnya, mengharuskan PT Freeport untuk joint venture dengan perusahaan domestik dalam proses pemurnian emas dan penambangan. Atau mengharuskan Exxon dalam ijin kontraknya dengan Pertamina dalam teknologi eksplorasi dan idenfiikasi sumber-sumber minyak baru. Dengan klausul kontrak yang diperbaiki dan lebih berpihak pada kepentingan nasional, hal itu mungkin bisa dilakukan. Mengapa ? Karena Freeport juga tak mungkin hengkang dan mengalihkan penambangannya ke Alaska atau Chichago sana. Beda dengan Bank atau pabrik mobil yang bisa begitu saja dipindahkan ke negara lain. Persoalannya adalah bunyi kontrak yang sudah ditandatangani waktu pemerintahan dulu begitu merugikan Indonesia. Indonesia bisa saja me-renegosiasi lagi atau 'memaksa' mereka untuk taat pada hukum juridiksi Indonesia. Lain kali hati-hati kalau buat kontrak dengan asing.

Cara kelima adalah cara efektif dan cepat dari Sang Menteri BUMN Dahlan Iskan. Menteri BUMN Dahlan Iskan mencari seantero dunia talenta-talenta hebat Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan raksasa yang bergerakdi bidang teknologi tinggi seperti pembuatan mobil listrik. Gagal import batteri secara massal dari China, Dahlan Iskan mencari cara lain. Beliau (Dahlan Iskan) memanggil pulang anak muda WNI yang pakar pembuatan batteri, yang berpengalaman pernah bekerja dalam pembuatan mobil Hybrid di Daimler Chrysler atau Ferrarri. Hasilnya, berdirilah pabrik batteri canggih di Indonesia untuk keperluan produksi massal mobil listrik nasional.

Dan masih banyak cara lain lagi yang bisa kita terapkan untuk 'mencuri' teknologi dari negara maju. Yang penting, berantas dulu korupsi, KKN yang menjadi hambatan utama dalam memajukan bangsa dan negara ini. Perbaikan manajemen SDM, khususnya sistem renumerasi dan merit system yang berbasis pada kinerja mutlak dilakukan. Jangan sampai misalnya, guru-guru yang bolos selama tahunan tak pernah mau mengajar, malah mendapat dana sertifikasi yang jumlahnya puluhan juta rupiah. Sementara, tenaga pendidik tidak tetap justru harus bekerja keras dengan upah secuil.

Dengan doa dan kerja keras, Insya Allah bisa terwujud. 

Dapat uang melalui internet

AS, Korsel, Indonesia, dan Transfer Teknologi Militer

LVT 7A1 hibah dari Korsel. Pemerintah Korsel memberi hibah 10 unit LTV 7A1 ini untuk Indonesia. Tank ini adalah Tank Amfibi.

Dalam suatu kesempatan di New York, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengungkapkan, transfer teknologi dalam kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan berbagai pihak asing adalah hal yang mudah diucapkan, namun pada kenyataannya sulit diwujudkan. 

"Saya sadar, kalau itu hanya `technology sharing, technology transfer`, mudah diucapkan, tapi dalam prakteknya kandas," katanya di New York, Jumat, dalam jumpa pers dengan para wartawan Indonesia sebelum bertolak kembali menuju Jakarta. 


Hal tersebut dikatakan Presiden Yudhoyono menjawab pertanyaan tentang keuntungan yang bisa dinikmati Indonesia dari pembelian pesawat bernilai miliaran dolar AS oleh Indonesia dari Boeing, termasuk kemungkinan keuntungan dalam hal transfer teknologi dan pengetahuan dari perusahaan raksasa pembuat pesawat Amerika itu. 


"Kalau berbicara tentang `transfer of technology`, itu sangat tidak mudah. Saya sudah kenyang delapan tahun bertemu dengan para pemimpin dunia dalam forum G-20, APEC, ASEAN Summit, negosiasi `climate change`. `Technology transfer` dari negara yang menguasai teknologi tidak mudah dilakukan," kata Presiden. 


"Mengapa? Puluhan tahun mereka mengembangkan untuk menguasai suatu teknologi tertentu. Puluhan tahun, dengan sumber daya yang besar, dengan segala yang dia lakukan, tidak begitu saja bisa ditransfer dan dialihkan ke negara lain," tambahnya. 


Ungkapan Presiden RI sebagaimana tersebut di atas masuk akal, terlebih berharap Amerika atau perusahaan asal Amerika mau mengalihkan teknologinya ke Indonesia, adalah sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Jika pun persyaratan tinggi dari kemungkinan technological sharing itu bisa dipenuhi, misalnya Lion Air harus membeli lebih dari 200 unit pesawat dari Boeing, baru bisa dilakukan transfer teknologi. Pelaksanaannya mungkin sulit, meski Lion Air telah memborong lebih dari 230 unit pesawat, pada kenyataannya mereka (Boeing) tidak akan mudah memberikannya pekerjaan-pekerjaan vital itu pada PT DI sebagaimana yang diminta oleh pihak Lion Air. 

Tank Amfibi TNI AL sedang dalam tugas. Indonesia membeli 37 unit Tank Amfibi BMP 3F dari Rusia. Indonesia mendapat transfer teknologi dari pembelian ini berupa cara perawatan Tank dengan baik dan benar.  













Di luar hubungan bisnis, Indonesia bukanlah sekutu tradisional AS. Dalam konteks percaturan politik di dunia dan hubungan internasional, Indonesia bahkan secara teori tidak akan pernah menjadi sekutu AS. Indonesia yang saat ini menjadi negara demokrasi sebagaimana AS yang juga negara demokrasi (bahkan seringkali memaksakan ke negara lain dengan mengirim tentara atau menjatuhkan bom), tidaklah menjadi basis pokok untuk dengan sendirinya transfer teknologi itu menjadi mudah. Demokrasi memang sering menjadi alasan untuk menjadi perekat hubungan antara negara satu dengan yang lain, namun faktanya, ada nilai-nilai lain yang lebih substansial dan lebih dalam lagi agar hubungan itu bisa menjadi saling percaya satu sama lain, hubungan dekat dari hati ke hati. 

Hubungan pemerintah RI-AS cukup baik, namun harus diakui bahwa di tingkat masyarakat Indonesia misalnya, jutaan kaum Muslim tak percaya kebaikan AS itu tulus. Hal itu tak lepas dari sepak terjang AS sendiri yang begitu agresif menyerang negara-negara lain seperti Irak, Afganistan, Pakistan, dan selalu menerapkan standard ganda menyangkut konflik Palestina-Israel. AS, atau setidaknya media AS dan Barat, hampir selalu bersikap memusuhi Islam dan Muslim. 

Tidak hanya itu, AS juga banyak melakukan operasi rahasia (CIA) di hampir seluruh dunia, baik itu di Timur Tengah, di Nikaragua, Chile, Brazil, Argentina, Venezuela, Bolivia, Vietnam, dan lain-lain tak terkecuali di Indonesia menggunakan segala cara, termasuk pembunuhan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak dia (AS) sukai. 

Sejarah Amerika Serikat dipenuhi dengan darah. Negara AS didirikan oleh orang-orang kulit putih dari Inggris yang datang ke Benua Amerika lalu merampas tanah-tanah orang Indian, menindas penduduk asli di sana, dan menyita tanah-tanah mereka, lalu mengusir mereka. Cerita yang sama juga terjadi dalam proses pendirian negara Australia, oleh pelaku yang sama : Inggris. Kali ini yang diusir dan ditindas adalah orang-orang Aborigin.

Penjajahan faktanya tidaklah hilang. Imperialisme yang telah menyebabkan jutaan nyawa manusia melayang selama ratusan tahun, dan milyaran manusia menderita karenanya, hanya bentuknya saja yang berubah, namun hakekatnya tetap sama. Penjajahan yang dilakukan oleh Barat terhadap negara-negara lain di benua lain belumlah usai. Ini terlihat dari perilaku NATO (yang dimotori oleh AS) yang arogan, adigang adigung adiguna, merasa benar sendiri dan cenderung ingin menang sendiri seperti tengah membangun imperium dunia, telah melekat di alam bawah sadar masyarakat negara-negara berkembang. Ini yang menyebabkan AS memiliki banyak musuh di dunia seperti Iran, Bolivia, Nikaragua, Venezuela, Korea Utara, Cuba, dan bahkan Rusia-China.

Hal demikian menjadikan AS paranoid, selalu curiga pada negara lain, sulit mempercayai negara lain termasuk Indonesia, karena 'dosa-dosa'-nya sendiri, kejahatan yang mereka lakukan terhadap negara-negara lain. AS selalu merasa 'takut', was-was, jika negara lain seperti China mampu menyaingi mereka secara ekonomi dan teknologi, apalagi teknologi militer. China pasti tidak akan melupakan begitu saja bahwa negaranya pernah diserang dan dijajah oleh Inggris. China juga pasti ingat dukungan AS atas Taiwan. Meski ada upaya membangun hubungan baik, namun pada dasarnya mereka selalu khawatir kebangkitan militer China. 

Indonesia memang tidak pernah dijajah oleh Inggris atau AS, namun sikap permusuhan AS terhadap negara-negara Islam menjadi penghalang tumbuhnya saling 'trusting' tadi. Khawatir Indonesia maju dan menguasai teknologi yang mereka kuasai. Khawatir Timur Tengah menguasai teknologi pesawat tempur, teknologi nuklir, dan lain-lain. Khawatir Indonesia terlalu dekat dengan China dan Rusia yang seaktu-waktu negara itu bisa menularkan ilmu 'horor-nya ke Indonesia. Secara teori, AS hanya percaya 100 % pada Inggris, Australia, dan Israel.

AS, sebagai sesama Anglo Saxon Inggris dan Australia, adalah bangsa yang dalam sejarahnya penuh catatan hitam. Hampir 90 persen negara bangsa di dunia ini pernah dijajah oleh Inggris. Jika semua bangsa di dunia ini harus "trusted" pada mereka, rasanya sulit. Sepak terjang mereka sebagai bangsa yang penuh kejahatan tidak bisa begitu saja serta merta hilang dengan adanya lembaga bantuan seperti USAID, AusAID, atau sejenisnya dari Inggris. Maka, Indonesia jangan berharap dari negara-negara itu akan sudi mentransfer teknologi tinggi ke negara lain. Mereka akan memproteksi dengan segala cara agar superioritasnya tidak terganggu. Jadi, sebaiknya lupakan itu. Berhati-hatilah jika diajak kerjasama, perlu dicermati apakah akan merugikan Indonesia atau tidak. Contohnya, kerjasama di bidang kesehatan. Mereka (AS dan Inggris) melakukan penelitian penyakit tropis. Mereka bawa sampel virus segala macam untuk diteliti di sana, tanpa melakukan sharing pengetahuan apapun hasil penelitian itu dengan negara di mana sampel itu diambil. Tiba-tiba mereka bikin saja vaksin, obat, dan lain-lain untuk penyakit tropis lalu dijual dengan harga sangat mahal. Jadilah Indonesia hanya dibodohi, selain hanya dijadikan pasar obat-obatan industri framasi mereka, kita tidak mendapat manfaat apa-apa dari kerjasama ini. 

Atau, kasus yang baru-baru ini terjadi. Beberapa perusahaan pertambangan swasta nasional melakukan 'listing' di bursa saham London, bekerjasama dengan mitra perusahaan asing dari Eropa (Inggris). Perusahaan asing partner ini selanjutnya melakukan taktik licik dengan 'me-reset' perusahaan patungan sedemikian rupa sehingga harga saham jatuh terjun bebas. Mereka melakukan black campaign bahwa manejemen prusahaan Indonesia yang mereka jadikan partner ternyata kinerjanya buruk, manjemen keuangannya amburadul, dan lain-lain agar harga saham terus merosot tajam. Padahal mereka (asing) hanya pemilik minoritas.

Langkah selanjutnya adalah mereka berupaya agar perusahaan patungan ini bisa dijual dengan harga seadanya, sangat murah, atau diambil alih kendalinya dengan berbagai macam manuver penguasaan saham. Mereka sangat berpengalaman dalam melakukan ini dengan memanfaat celah hukum dan jaringan internasionalnya untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan domestik di Indonesia lewat "kerjasama" ini. Misalnya, perusahaan pertambangan milik Ilham Habibie yang dia dirikan susah payah dan berkembang; tiba giliran menggaet mitra asing, kini beralih ke Italia dan berkantor di sana setelah peristiwa serupa. Atau yang baru gencar jadi berita, konflik Bakrie-Rothscild. Masih banyak perusahaan lain lagi yang jadi korban yang tidak diberitakan oleh media massa Indonesia.   

Korsel-AS, Korsel-Indonesia, dan Transfer Teknologi

Hubungan Korsel-AS lebih dekat ketimbang hubungan AS-Indonesia. Ini terlihat dari sikap AS dalam konflik Korsel-Korut di mana AS terang-terangan menjadi sekutu Korsel dan Jepang. Korsel-AS memiliki pakta perjanjian pertahanan bilateral, sedang Indonesia-AS tidak. 


Indonesia tentu tidak perlu membuat pakta serupa dengan AS, karena Indonesia tidak butuh perlindungan militer dari AS. Prinisip non blok yang dicanangkan Presiden Soekarno harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan, yakni dengan politik bebas aktif, "having much friends with no enemy".  Kita bebas bergaul dengan siapa saja. Karena jika kita satu musuh saja, misalnya dengan negara tentangga, maka akan mereka jadikan lahan eksploitasi untuk memecah belah kawasan, pasar senjata, dan instabilitas kawasan agar konflik itu terus berlanjut sehingga kita jadi lemah. Kalau kita dan tetangga kita lemah dan tidak akur, maka mudah bagi mereka untuk membuat kita tidak tenang, hidup dalam kecemasan, dan inverstor akan pergi dari sini sehingga ekonomi kita guncang. Kekacauan akan terjadi.

Jadi, cara Indonesia dalam membangun 'trusting' dengan negara tetangga sehingga saling percaya satu sama lain, hidup damai nan rukun dalam satu wadah ASEAN sangat bisa dibanggakan. AS patut mencontoh cara Indonesia ini dalam cara mereka membangun kebersamaan dengan tetangga mereka Cuba, Nikaragua, Meksiko, dan lain-lain.  

Sedangkan hubungan Indonesia-Korsel boleh dibilang sangat dekat, dari hati ke hati. Mungkin karena kita tidak pernah punya konflik kepentingan dengan mereka, dan sama-sama pernah menjadi korban penjajahan. Hal ini pernah ditegaskan oleh Presiden Korsel sendiri di periode sebelumnya, Lee Myung Bak, bahwa hubungan perhabatan Korsel-Indonesia adalah sangat dekat, heart to heart. Korea Selatan banyak melakukan investasi bersama dalam membangun technological Sharing dengan Indonesia. Contohnya, mereka mau berbaik hati melakukan transfer teknologi Kapal Selam padahal kita cuma membeli tiga biji kapal selam. 
      
Namun tetaplah cara terbaik adalah melakukan Riset dan pengembangan bersama-sama seperti halnya proyek KFX/IFX. Indonesia, kata Presiden SBY, lebih mengembangkan kebijakan yang bersifat penelitian dan pengembangan bersama, investasi bersama dan produksi bersama seperti yang dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan sejumlah industri strategis Indonesia dengan negara-negara asing. 

"Itu yang paling baik, akhirnya setelah bersama-sama lima, sepuluh, lima belas tahun, teknologi akan beralih. Itu masuk akal dan mereka juga tidak merasa diambil jerih payahnya selama puluhan tahun untuk mengembangkan teknologi," kata Yudhoyono. 

Berkaitan dengan Boeing, ia mengatakan Indonesia berjuang untuk mendapatkan porsi keuntungan dari nilai pembelian miliaran dolar AS. 

"Perjuangan kita adalah bisa mendapatkan porsi keuntungan itu untuk bangsa kita, untuk industri strategis kita, untuk komponen dalam negeri kita," ujarnya. 

"Kalau bisa dipenuhi akan bagus sekali. Dan itu `direct benefit` yang kita terima dari kerjasama dengan Boeing," tambahnya. 

Terkait kerjasama Indonesia-AS, pemerintah Indonesia dan pihak Boeing Amerika Serikat pada awal pekan ini menandatangani nota kesepahaman kerjasama bidang industri. 

Penandatangan dilakukan di sela-sela Indonesia Investment Day di New York, oleh Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal dan Wakil Presiden Boeing Stanley Rooth, disaksikan oleh Presiden Yudhoyono. 

Maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, dan Boeing tahun lalu menyepakati pembelian pesawat senilai 23 miliar dolar. 

Dengan pembelian itu, Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya --baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan, setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unitpesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900.

Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi suatu bangsa tergantung kemampuan inovasi dari bangsa itu sendiri. Jika kita berhasil memperoleh transfer teknologi dari negara lain yang lebih maju, itu bagus namun jika tidak, ya.. memang begitulah, sulit. 

Jadi baiknya ya kembangkan sendiri, melakukan riset dan pengembangan sendiri, atau mencontek dari alat canggih yang kita beli dari mereka. Jepang saja bisa menjadi pencontek yang sukses dan menguasai dunia, kenapa kita tidak ? Apakah Jepang melakukan penemuan bola lampu ? Mobil ? Pesawat ? Kamera ? Radio ? 

Sama sekali tidak. Yang menemukan cara kerja mobil itu orang Amerika. Yang menemukan pesawat itu Oliver Wirght dan Wilbur Wright, juga orang Barat. Tapi siapa penguasa otomotif di dunia ? dan di Asia ? 
Jawabnya adalah Jepang. Penemu kamera juga bukan orang Jepang, tapi penguasa pasar Kamera digital di dunia adalah Nikon, Canon, Sony, dan lain-lain juga dari Jepang. Korea juga sama, bukan penemu tapi mencontoh dari teknologi Jepang dan AS. Tapi Korea menguasai produk lemari es, smartphone, mobil, dan lain-lain. 

Indonesia tidak harus jadi penemu. Indonesia bisa mencontoh terknologi dari negara lain dan mengembangkan sendiri. Terbukti, kita ternyata juga bisa buat pesawat terbang dengan belajar dari Jerman. Kita juga bisa buat Kapal perang canggih juga berasal dari Korsel dan Belanda. Tapi orang Indonesia juga ada yang jadi penemu, misalnya penemu pengkayaan uranium dengan tingkat rendah. Dan masih banyak lagi. 

Jelas Indonesia punya potensi untuk maju. Siswa SMK saja bisa membuat mobil, tablet, laptop, dan lain-lain jadi kita bisa maju. Tinggal pemerintah saja mau mendukung atau tidak. 

Dapat uang melalui internet

Monday, April 22, 2013

Heli Serang AH64 Apache dan Mil Mi 35 Hind Gunship, Bagaimana Jika RI Punya Keduanya ?

Mil Mi 35 Hind Attack Gunship
AH64 Apache Long Bow
Jika Dephankam jadi membeli Heli serang AH64 Apache Long Bow dari AS, maka heli ini akan melengkapi Heli Serang Mil Mi 35 Hind Attack Gunship yang sudah ada. Ini akan sangat menarik, dua produk dari negara blok barat dan timur disatukan.

Seperti halnya Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi 27 yang kita punya, skuadron ini akan menjadikan peralatan tempur kita lebih variatif, dan tentu menjadi lebih kuat.


Sekedar kilas balik, beberapa tahun yang lalu Enam helikopter MI-17 buatan Rusia diserahterimakan dari pihak Rusia ke Departemen Pertahanan (Tempo, 2011). 
Enam helikopter ini akan melengkapi 5 helikopter serbu MI-35 dan 6 helikopter MI-17 yang telah dimiliki Indonesia. Rencananya akan tiba 6 unit lagi pesawat yang sama.
"Sehingga genap 18 heli MI-17," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam sambutan serah terima di Hanggar Skuadron 26 Pondok Cabe, Jakarta Selatan, Jumat, pada 26 Agustus 2011.
Serah terima ini dilakukan dari pihak JSC Rosoboronexport Rusia kepada Kementerian Pertahanan. Penyerahan ini dilakukan oleh perwakilan JSC Rosoboronexport Rusia Vadim V Varaksin kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo.
Pada acara itu diserahkan enam helikopter MI-17 warna hijau dof. Heli ini merupakan buatan Rusia. Tahun lalu, Indonesia juga telah mendatangkan 6 heli MI-17. Hadir dalam acara serah terima ini, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhi Wibowo, dan Duta Besar Rusia Alexander Ivanov. 
Purnomo mengatakan helikopter MI-17 merupakan helikopter yang multipurpose sehingga bisa dimanfaatkan dalam semua kegiatan. Kondisi geografis Indonesia dengan banyak kepulauan dan kondisi daerah yang minim lapangan terbang, dibutuhkan alutsista MI-17. "Indonesia terdiri banyak pulau, belum punya lapangan terbang, dan memiliki ancaman tradisional dan non-tradisional memang diperlukan alutsista seperti heli," katanya.
Ia berharap helikopter ini dirawat dengan baik, mengingat anggaran pembelian alutsista cukup besar. Anggaran untuk pembelian alutsista ini mencapai US$ 56 juta. Dalam kesempatan itu, Purnomo berharap anggaran pembelian alutsista terus meningkat, mengingat perekenomian Indonesia semakin membaik dan APBN sudah mencapai 1.400 triliun. Hal ini dilakukan dalam reformasi jilid II dalam modernisasi alutsista. "Kita sampaikan paparan peningkatan anggaran kita 5 tahun ke depan pencapaian essensial forces," katanya.
Indonesia sejak tahun 1997 sudah jarang melakukan penambahan maupun pembaruan alutsista. Pada 1997, Indonesia sedang mengalami krisis sehingga tidak mungkin melakukan penambahan alutsista. Saat itu, TNI telah melakukan reformasi jilid I dalam bidang organisasi, depolitisasi, dan debisnisasi. Purnomo juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Rusia.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan pemilihan helikopter ini karena memang memiliki kemampuan yang serbaguna dan daya angkut sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan total 18 heli MI-17, maka sekali angkut bisa membawa pasukan satu kompi. "Ini akan mendukung pengamanan perbatasan dan pengangkutan logistik," ujarnya.
Duta Besar Rusia Alexander Ivanov mengatakan pemerintah telah memberikan komitmen untuk membantu Indonesia. Pengadaan heli ini menggunakan kredit negara Rusia, melalui penerapan syarat yang ringan. "Pemerintah Rusia ingin kerja sama dengan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanan," katanya.

Berita di atas sangat menarik bukan saja bagi analis pertahanan nasional Indonesia sendiri, melainkan juga para analis di Washington DC. Pengalihan Indonesia ke Rusia membuat AS seperti 'kebakaran jenggot', khawatir pengaruhnya di Asia Tenggara tergeser oleh Rusia dan China. Maka, buru-buru Parlemen AS segera menyetujui penjualan Heli Serang Apache AH 64 Long Bow untuk Angkatan Bersenjata Indonesia, di luar hibah 24 unit F-16 Block 50. 


Belum pasti, namun kemungkinan menyandingkan dua heli serang canggih dari dua kutub yang berbeda akan sangat bagus. 


Indonesia, negara pendiri Non Blok, sejak awal berprinsip "Having much friends without enemy", bebas ke mana saja menjalin kerjasama militer. Memang seharusnya demikian. Kita boleh saja dekat dengan AS, namun jangan sampai 'terikat' dan bergantung pada mereka. Kita pun tidak perlu ragu untuk dekat dengan Rusia dan China, karena ketika zaman Presiden Soekarno pun jalinan kerjasama dengan 'blok Timur' sangat erat. Dan Indonesia, sebagai negara merdeka, juga menjalin kerjasama dengan Iran, Venezuela, maupun kelompok negara-negara Amerika Latin termasuk Brazil dan Argentina.


Kembali ke topik kita : dua heli serbu asal Rusia dan Amerika Serikat. Analis Barat cenderung mengunggulkan Apache atas Mi 35, sama seperti mereka memberi peringkat lebih baik pada Jet Fighter F-16 ketimbang Sukhoi Su 27. Pendapat itu mungkin benar, tapi mungkin juga tidak. Dalam beberapa momen latihan bersama baik latihan bilateral antara Indonesia-Australia maupun latihan trilateral antara Indonesia-Australia-Amerika Serikat beberapa waktu lalu, di mana kedua jenis pesawat tempur itu terlibat, justru menunjukkan Su 27 lebih hebat ketimbang F 16 bahkan masih lebih unggul jika dibandingkan dengan Jet Fighter F/A-18 Super Hornets sekalipun. Ini sempat mencemaskan Australia, saat niat mereka untuk mendatangkan F35 Lingthning II sebagai penyeimbang kekuatan udara Indonesia terkendala oleh harga yang terbang tinggi.


Ini mirip perbandingan senjata legendaris AK47 (Rusia) dan M16 (AS). AK47 terkenal sebagai senjata handal, demikian juga M16. AK47, menurut prajurit Kopassus yang pernah menggunakannya, sangat bandel dan kuat. Senjata ini tidak akan macet meskipun ditenggelamkan di dalam lumpur. 



AK 47 Guns Rusia
Sebaliknya, M16 akan macet jika digunakan dalam medan ganas seperti itu. M16 harus ditenteng tinggi-tinggi agar tidak terkena air atau lumpur manakala digunakan, jadi rentan terhadap kendala alam. Namun M16 memiliki fokus yang lebih akurat dan tembakan lebih presisi.

M16 Guns, US.
Indonesia akhirnya memproduksi sendiri senjata serbu SS-1 dan kemudian disempurnakan lagi menjad SS-2, SS-3, lalu SS-4. Senjata ini, merupakan gabungan keunggulan dari AK47 dan M16 : sebandel dan sekuat AK47, dan seakurat dan sepresisi seperti M16. Senjata ini adalah perpaduan antara Rusia dan AS. Inspirasinya dari sana. Senjata SS2 bahkan sekarang menjadi pesaing utama AK47 dan M16 di dunia.
Senapan Serbu SS2 Indonesia

Jika Indonesia bisa menciptakan senjata terhebat di dunia berkat belajar dari dua kekuatan dunia Rusia dan AS, maka kita juga bisa berbuat hal yang sama untuk teknologi peralatan lainnya. Pengalaman memiliki dan memakai AK47 dan M16 telah memberi inspirasi sehingga tercipta SS-2, maka sangat mungkin kita juga bisa buat Heli Tempur yang mengawinkan dua keunggulan dari masing-masing : Mil Mi 35 Hind Attack Gunship dan AH64 Apache Long Bow.
Hal serupa sama juga bisa kita lakukan untuk belajar membuat pesawat tempur yang memadukan keunggulan dari F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi Su 30 MK2. Potensi ke arah itu ada, sangat mungkin terjadi, karena kita mempunyai akses untuk kedua-duanya. Mudah-mudahan proyek IFX bisa terwujud sehingga Indonesia mampu segera membuat pesawat tempur sendiri generasi ke-5, lebih hebat dari F-16 dan lebih digdaya dari Su 30. 

Posisi Indonesia yang netral bisa memberi keuntungan tersendiri,--tidak seperti Australia yang 100% terikat dengan AS dan Inggris, atau Korut/China yang dekat dengan Rusia, yang oleh karenanya hampir tak mungkin membeli peralatan tempur dari AS/NATO,--kita bisa memanfaatkan dua negara adidaya itu, AS dan Rusia, untuk berkembang ke arah depan yang lebih baik. 


Ketika AS enggan memberikan teknologi roket mereka untuk Indonesia, kita bisa memperolehnya dari sahabat Timur kita, China. Ketika China belum memiliki teknologi pembuatan pesawat terbang secanggih AS, kita bisa memperolehnya dari Jerman, guru Amerika waktu dulu dalam hal penerbangan. 


Ketika transfer teknologi mensyaratkan pembelian mahal dari negara-negara maju untuk Kapal Selam dan Jet Tempur, kita malah bisa mendapatkan itu dari Korea Selatan. AS tidak mau mengalihkan teknologi itu ke Indonesia, tetapi mereka mau memberikannya pada Korea Selatan. Hubungan Indonesia-Korea Selatan sangatlah dekat, saling percaya,  dan bersahabat. Namun Indonesia juga 'dekat' dengan Korea Utara, dan hal ini sempat diakui oleh pemerintah Korea Selatan sendiri yang sempat meminta Indonesia agar mau lebih aktif membantu krisis kedua Korea.   

Ketika kita kekurangan minyak dan tak mungkin mengimpor dari China/Rusia apalagi AS atau Eropa Barat, kita bisa memperolehnya dari Irak atau Venezuela, atau bahkan Iran. Strategi pemimpin kita untuk bersikap 'cair' memberikan keuntungan tersendiri, tidak dicurigai oleh AS seperti mereka curiga pada Iran, tidak dimusuhi AS sebagaimana mereka memusuhi Cuba, Venezuela, atau Bolivia. Kita berprinsip : Having much friends with no enemy. Ini terlihat ketika Presiden SBY berkunjung ke Jerman dan kembali dengan pengamanan maksimal, dikawal oleh tiga pesawat tempur Eurofighter milik Angkatan Udara Jerman, betapa mereka menghormati kita. 


Ketika dalam Forum Demokrasi di Bali pemimpin Iran Presiden Mahmoud Ahmadinejad tampak tampil di podium berdiri bersama Presiden Indonesia, SBY, dan PM Australia, Julia Gillard--memperlihatkan bagaimana cairnya hubungan antar kawasan bersama Indonesia.



Bagaimanapun juga, ada hal yang membanggakan dari negeri ini yang dalam sejarahnya selalu mengedepankan perdamaian dan persahabatan. Ini sangat penting bagi Indonesia ketimbang terlibat konflik yang melelahkan dan saling curiga seperti yang terjadi di kawasan lain. Di bawah kepemimpinan Indonesia, ASEAN semakin solid dan dipandang memiliki DNA yang sama dengan Uni Eropa. Indonesia berperan penting dalam mendamaikan perang Kamboja-Vietnam beberapa waktu lalu. 

Pertahanan Indonesia semakin kuat namun di saat yang sama tumbuh perasaan saling percaya antara Indonesia-Malaysia, Indonesia-Singapura, sehingga terhindar dari perlombaan senjata nuklir di kawasan. Tidak seperti Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Semenanjung Korea, dan Amerika sendiri yang telah menjadi kawasan nuklir, ASEAN sejauh ini masih steril dari senjata pemusnah massal mematikan itu. Ketenangan dan kedamaian sangat penting agar kita bisa lebih fokus untuk tumbuh dan maju.  

Kembali ke inti pembahasan kita : Heli Serang AH64 Apache dan Mil Mi 35 Hind Gunship. Akan lebih lengkap lagi, jika ada dana kita bisa memiliki Eurocopter EC 665 Tiger Attack Helicopter buatan Jerman. Jadi kita bisa memadukan ketiga heli serang itu masing-masing dalam satu produk unggul kita sendiri ke depan oleh PT DI. 

Dengan kemampuan kita membuat Helikopter kelas multifungsi Super Puma, Bell 412 EP, dan pabrik di Bandung yang kita punya, rasanya tidak terlalu sulit mewujudkan impian itu. Dibandingkan tahun kondisi kita di 1960-an, impian itu hanya berjarak beberapa langkah ke depan. Heli serang buatan Indonesia, sehebat Mi 35 dan setangguh AH-64 Apache, bisa menjelajah wilayah udara nusantara, bahkan dunia.    
Dapat uang melalui internet