Showing posts with label TNI AU. Show all posts
Showing posts with label TNI AU. Show all posts

Saturday, August 24, 2013

TNI AU akan terima dua pesawat CN-295 bulan depan


Kupang - Kolonel dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan Gita Amperiawan mengatakan TNI Angkatan Udara akan kembali menerima pesawat transportasi teknis jenis CN-295 pada bulan depan.

"Dari sembilan pesawat CN-295 yang kita pesan untuk skuadron dua TNI AU tahun ini, sebanyak dua pesawat kan sudah datang, sudah dipakai. Dua lagi akan datang 35 hari mendatang, atau kira-kira bulan depan lah," kata Kolonel dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan Gita Amperiawan, kepada wartawan di sela-sela perjalanan dari Jakarta menuju Kupang menumpang pesawat CN-295, bersama rombongan Kementerian BUMN, Jumat (23/8) malam.

Pesawat CN-295 merupakan pesawat yang dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia, namun saat ini masih dirakit di Spanyol. 

Gita mengatakan meskipun dirakit di Spanyol, namun dua pesawat CN-295 yang telah datang, dilakukan pengecatan dan penyelesaian di Indonesia. Pesawat ketiga dan keempat yang diperkirakan tiba September, juga akan dicat dan diselesaikan di Indonesia. 

Kemudian pesawat kelima, keenam dan ketujuh yang datang selanjutnya, akan mulai dikustomisasi di Indonesia. Sedangkan pesawat kedelapan dan kesembilan sepenuhnya akan dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Indonesia.

"Dan mulai tahun depan, mudah-mudahan PT Dirgantara Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri di Indonesia," kata dia.

Dia mengatakan TNI AU akan terus menambah pesawat jenis CN-295 hingga berjumlah 16 buah untuk memenuhi kebutuhan skuadron dua TNI AU di Halim Perdanakusuma, Jakarta. 

Dia menjelaskan, pesawat jenis CN-295 berkapasitas penumpang 79 orang (jika dimodifikasi dengan bangku model memanjang). Pesawat tipe medium itu memiliki kekuatan mesin dan kecepatan lebih besar dibandingkan tipe sebelumnya yakni CN-235.

"Kemampuan terbangnya sembilan jam jika bahan bakar penuh," ujar dia.

Menurut dia, CN-295 merupakan pesawat khusus transportasi baik untuk prajurit maupun logistik. Dalam kondisi perang, pesawat jenis tersebut harus dikawal oleh pesawat tempur, karena CN-295 tidak dirancang untuk bertempur.

"Pesawat ini tidak dipersenjatai dan memang tidak bisa dipasangkan senjata, hanya khusus untuk `dropping` pasukan dan logistik. Jadi dalam kondisi perang harus ada pesawat `escort` atau pendamping," kata dia. (ANTARA News)



Saturday, July 20, 2013

Indonesia Mempromosikan Pesawat Transport di Kawasan ASEAN untuk Meningkatkan Kerjasama Internasional

Pesawat CN 295 Buatan PT DI milik TNI AD


CN 295 UNJUK KEMAMPUAN DI NEGARA – NEGARA ASEAN

Pada hari Kamis 30 Mei 2013, pesawat transport Militer CN295 mendarat di Bandara Sultan Abdul Aziz Kuala Lumpur, Malaysia, persinggahan terakhir dari rangkaian tour ke enam negara-negara ASEAN. Kementerian Pertahanan Indonesia memperkenalkan pesawat ini ke Philipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Malaysia sejak tanggal 22 sampai 31 Mei dalam rangka promosi mengenai kemampuan dan efisiensi pesawat transportasi hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Airbus Military. Pesawat CN295 adalah sebuah pesawat serba guna berukuran sedang untuk kepentingan sipil maupun militer.
Kunjungan ini juga merupakan kesempatan untuk menjelaskan kelebihan dari pesawat CN235 dan NC212i, yaitu hasil pengembangan dari varian C212 yang telah diluncurkan pada bulan November 2012 antara PTDI dan Airbus Military dengan menggunakan sistem avionic dan autopilot yang baru, kapasitas penumpang bertambah dan biaya operasi yang lebih efisien.
Pada kunjungan ke Kementerian Pertahanan Malaysia, Jum’at 31 Mei 2013, Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia yang juga sebagai Ketua Delegasi, Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsuddien mengatakan bahwa “Kami mempromosikan penggunaan sistem pertahanan yang serupa di antara sesama negara ASEAN dan CN295 merupakan pesawat yang layak dan tepat untuk kepentingan pertahanan tersebut. Kami yakin dengan penggunaan jenis pesawat yang sama di wilayah ASEAN akan memperkuat kerjasama diantara kita, pada waktu yang sama mengurangi biaya operasional dan perawatan pesawat secara signifikan. Dalam segmen pesawat kecil dan menengah, pesawat CN295, CN235 dan NC212i adalah solusi yang tepat untuk menjalankan misi di kawasan regional”.
Angkatan Udara Republik Indonesia saat ini telah mengoperasikan dua unit CN295 dari sembilan unit yang dipesan dari PTDI. Dan pada tahun 2014, seluruhnya sudah dapat dioperasikan di wilayah Indonesia oleh TNI AU, dengan penyerahan pesawat tersebut ke Kementerian Pertahanan RI yang berlangsung di delivery center dan final assemblyPTDI yang merupakan hasil nyata dari Kemitraan Strategis (Strategic Partnership) antara PTDI dan Airbus Military yang ditandatangani pada tahun 2011 lalu. Secara total lebih dari 120 unit C295 telah dipesan seluruh dunia dan hampir 100 unit pesawat telah dioperasikan di berbagai negara seperti Alzajair, Brazil, Chilie, Colombia, Republik Ceko, Mesir, Finlandia, Ghana, Yordania, Kazakhstan, Mexico, Polandia, Portugal dan Spanyol.
Sementara itu, CN235 dan NC212 masing-masing telah terjual lebih dari 270 unit dan 470 unit, serta telah beroperasi dengan sukses di lebih 50 negara. Para operator CN295, CN235, NC212 sangat puas dengan keandalan, kapabilitas  dan ketangguhan dari pesawat-pesawat tersebut, yang sangat mudah dioperasikan di dalam situasi yang bergejolak dan medan yang sulit. Dan hasilnya pesawat tersebut saat ini menduduki posisi terdepan dikelasnya.
Tentang C295
C295 adalah pesawat generasi baru yang ideal untuk misi-misi pertahanan dan sipil, seperti misi kemanusiaan, patroli maritim, misi pengawasan lingkungan, dan yang lainnya. Berkat ketangguhan dan keandalan, dan dengan sistem operasi yang mudah digunakan, pesawat taktis ukuran sedang ini memiliki banyak kelebihan dan fleksibel, yang diperlukan untuk angkut personil, pasukan, cargo,evakuasi korban, serta mempunyai kemampuan menurunkan logistik dari udara. Pesawat ini juga  perpaduan teknologi sipil dan militer yang mendukung suksesnya misi-misi taktis, berkemampuan untuk menambah peralatan-peralatan yang lebih maju di masa depan serta mempunyai kemampuan menyesuaikan diri di wilayah udara sipil.
Pesawat ini juga mampu  lepas landas dan mendarat dilandasan pendek atau Short Take Off and Landing (STOL) dan landasan yang tidak dipersiapkan (CBR 3), dapat terbang rendah dalam misi taktis, membawa beban sampai 9 ton dengan kecepatan jelajah normal 260 knots (480 km/jam).  Cabin C295 pressurized (bertekanan udara), dapat terbang dalam ketinggian 25.000 kaki, dan dapat beroperasi dalam wilayah yang sangat panas. Pesawat ini juga dilengkapi dengan perangkat pendaratan yang dapat dilipat (retractable).Ditenagai 2 mesin turboprop Pratt & Whitney PW 27 G Kanada.
CN 295 dilengkapi juga dengan HIAS (Highly Integrated Avionics System), yaitu suatu sistem avionik yang sangat terintegrasi dan modern berdasarkan Thales Topdeck Avionic Suite. Penggunaan perlengkapan pesawat dengan Konsep arsitektur yang fleksibel dan Penggunaan perlengkapan yang modern menjamin sukses misi taktis dan penggantian  perlengkapan di masa mendatang.
TENTANG PT DIRGANTARA INDONESIA
PTDI adalah badan usaha milik negara yang didirikan pada tahun 1976. Lokasi pabrik pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) terletak di Bandung, Indonesia.  Produk utama perusahaan ini adalah pesawat terbang, komponen struktur pesawat terbang, jasa perawatan pesawat terbang dan jasa rekayasa. Pabrik perakitan PTDI memproduksi berbagai jenis pesawat CN235 dengantype certificate untuk penumpang sipil, kargo, pembuat hujan, transportasi militer, patroli maritim dan pengawasan.  Selain itu PTDI memproduksi dibawah lisensi pesawat NC212-200, NAS332 Super Puma dan NBell412.  PTDI telah memproduksi lebih dari 340 pesawat terbang dan helikopter untuk 49 operator sipil dan militer.  PTDI memanufaktur dan memproduksi bagian-bagian, komponen-komponen,tools dan fixtures untuk pesawat Airbus A320/321/330/340/350/380, untuk Eurocopter EC225 dan EC725, untuk pesawat Airbus Military CN235/C212-400/C295. Untuk perawatan pesawat, PTDI melayani jasa pemeliharaan, overhaul, perbaikan, alterasi, kustomisasi dan dukungan logistik untuk CN235 berbagai seri, Bell412, BO-105, NC-212-100/200, NAS332 Super Puma, B737-200/300/400/500, A320, Fokker100 dan Fokker27. Enjinering PTDI melayani jasa rekayasa dan analisa serta flight simulators.
(Visited 108 times, 2 visits today)
Categories: Siaran Pers

Sunday, June 30, 2013

Pesawat Latih TNI Bertambah Lagi

Sistem Avionik pesawat Super Tucano


JAKARTA---Kualitas penerbang tempur TNI AU akan semakin baik.  Sebab, pesawat latih yang digunakan juga semakin canggih.  Mabes TNI AU memborong 16 pesawat latih Super Tucano dari Brasil yang akan datang bertahap ke Indonesia. 

"Sekarang sudah ada empat di Skadron 21 Lanud Abdul Rachman Saleh Malang. Bulan Agustus nanti akan datang empat lagi," ujar Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsekal Muda Henry B Sulistyo, Sabtu (29/6).

Jumat (28/06) lalu rombongan tim Kemhan yang dipimpin Wamenhan Sjafrie Sjamsoedin datang ke Malang melihat pemeliharaan Super Tucano sekaligus melakukan cek persiapan kedatangan armada baru. 

Menurut Sulistyo, TNI AU menargetkan 16 unit sudah bisa beroperasi secara full pada tahun depan. "Jadi delapan " delapan, tahun ini delapan, tahun depan paling lambat September sudah pas jumlahnya," katanya. 

Total nilai kontrak pembelian  16 buah Super Tucano itu mencapai Rp 2, 7 triliun rupiah. "Kita yakin para penerbang di Malang termasuk crew daratnya bisa menjaga asset negara yang cukup mahal ini," kata mantan Kadispen AU itu. 

TNI Angkatan Udara dan Embraer Brasil  menandatangani kontrak pembelian delapan Super Tucano di Pameran Dirgantara Farnborough, Inggris, pada 10 Juli 2011. Termasuk di dalam kontrak satu unit simulator untuk pelatihan para pilot Angkatan Udara.  Empat pesawat dengan cocor merah bergerigi yang sekarang sudah stand by di Malang  sudah memakai nomor regristrasi TT-3101, 3102, 3103 dan 3104. 

Sebelum dikirim ke Indonesia, tim gabungan Kementerian Pertahanan dan TNI AU yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Alit Erbawa tiba di fasilitas produksi Embraer untuk memeriksa pesawat pesanan. Pemeriksaan meliputi dokumen, pencocokan komponen pesawat, interior pesawat, pengecatan dan uji terbang. Khusus uji terbang dilaksanakan oleh pilot Embraer dan Komandan Skadron Udara 21 Mayor Penerbang James Yanes Singal. 

Pemeriksaan di darat mencakup kondisi fisik pesawat, pemeriksaan instrumen pesawat sebelum dan sesudah mesin dinyalakan, serta pemeriksaan kendali pesawat selama proses lepas landas dan mendarat. 

Uji terbang dilakukan di ketinggian 25.000 kaki untuk pemeriksaan beberapa sistem pesawat yang meliputi sistem bahan bakar, tekanan udara, auto pilot, mesin, navigasi, komunikasi, landing gear, serta pendaratan pesawat yang didahului dengan beberapa manuver.

Nama Super Tucano melejit sejak Operasi Phoenix Angkatan Udara Kolombia pada 2008. Pesawat Super Tucano milik Kolombia berhasil menewaskan pimpinan pemberontak FARC, Raul Reyes, dalam suatu serangan lintas perbatasan ke Venezuela.

Pesawat ini memang digunakan di sejumlah negara Amerika Latin. Misalnya, Republik Dominika, Kolombia, Ekuador, dan Chile. Selain Indonesia, Brasil pun mengekspor pesawat ini ke Angola, Burkina Faso, dan Mauritania.

Dilengkapi mesin tunggal turboprop, Super Tucano memiliki kemampuan mengenai target dengan sempurna.  Dua senapan mesin dipasangkan pabrikan Embraer  Brasil, pada sayap serta 5 hardpoint di sayap dan fuselage untuk mengangkut rudal, roket atau bom seberat 1,5 ton. Pesawat ini pun didesain untuk melakukan serangan anti-gerilya, pengintaian, dan patroli.

Pesawat tempur turboprop memiliki fungsi yang berbeda dengan pesawat jet seperti F 16 atau Sukhoi SU 30. Pesawat turboprop mampu terbang rendah dalam waktu yang lama, sehingga cocok untuk anti-gerilya. Biaya operasi tidak tinggi, perawatan murah, dan bisa mendarat di landasan pacu sederhana.(JPPN.com)

Tuesday, April 9, 2013

TNI-AU Tambah Tiga Skadron Udara


Pesawat Hawk TNI AU termasuk yang akan dimordernisasi dengan pesawat baru. 

TNI-AU Tambah Tiga Skadron Udara

Senin, 08 April 2013, 03:46 WIB 



Dua Pesawat Sukhoi SU-MK2  milik TNI AU sedang lepas landas.
TNI Angkatan Udara berencana menambah tiga skadron udara, yakni skadron udara tempur, angkut, dan pesawat intai menyusul program pembelian 102 unit pesawat berbagai jenis. TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, sebagai bagian dari rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014.

"Saat ini tengah disiapkan skadron udara 16 di Pekanbaru (Riau), pembangunan skadron udara di Makassar, Sulawesi Selatan dan skadron udara Pontianak, Kalimantan Barat," kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, skadron udara 16 akan dipakai sebagai home base pesawat tempur F-16 yang merupakan hibah dari Amerika Serikat.

"Sekarang ini sudah mulai bangun selter untuk pesawat. Tahun depan akan datang 8 unit (dari 24 unit)," katanya.

Pembangunan skadron udara untuk pesawat angkut di Makassar, Sulawesi Selatan, kemungkinan akan diisi Hercules C-130 pembelian teranyar dan hibah dari Australia yang totalnya 10 unit.

Sementara skadron udara Pontianak akan menjadi markas pesawat tanpa awak (UAV). "Skadron UAV di Pontianak sudah disiapkan, tinggal menunggu pesawatnya saja. Mudah-mudahan segera datang," kata Ida Bagus.

Ia mengatakan, untuk pencapaian Minimum Essential Forces (MEF) ada tiga rencana strategis pembangunan TMI AU, yakni renstra 2010-2014, 2015-2019 dan 2020-2024. Namun, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pencapaian kekuatan pokok minimum dapat tercapai pada dua renstra saja.

Penambahan Alutsista Baru

TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, diluar 102 alutsista baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal dapat dilakukan pada 2019 atau lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan pada 2024.

"Pada awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019). Saya yakin MEF bisa tercapai pada 2019," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan itu merupakan sebuah terobosan dan keberhasilan berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan, meski pada 2012 lalu pencapaian MEF tak sesuai rencana.

"Kemhan akan melakukan percepatan pembelanjaan anggaran pada 2013 ini, ujarnya.

Menhan pun meyakini kekuatan alutsista TNI AU hingga semester I 2014 mendatang dalam rangka kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF) akan mencapai 40 persen.

"Hadirnya pesawat tempur F-16, pesawat angkut dan pesawat tempur lainnya akan memercepat dan menambah prosentasi kekuatan pertahanan kita, khususnya TNI AU," kata Purnomo.

Alutsista baru tersebut meliputi pesawat tempur F-16, T-50, Sukhoi, Super Tucano, CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500 dan radar, kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia usai geladi bersih pelaksanaan HUT ke-67 TNI AU, di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu.

Menurut dia, hingga 2014 mendatang pada akhir masa kabinet ini, diperkirakan ada sekitar 45 alutsista bergerak, baik untuk TNI AU, TNI Angkatan Laut maupun TNI Angkatan Darat.

"Sebanyak 45 alutsista bergerak ini termasuk pesawat tempur maupun angkut, yang tiba di Indonesia," ujarnya.

TNI AU memprogramkan pembelian total 102 pesawat guna mencapai target kekuatan pokok minimal (MEF). Apa saja pesawat-pesawat tempur tersebut ?

1. Skuadron Udara Pekanbaru (Riau)


Hibah 24 pesawat tempur jenis F-16 dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI Angkatan Udara.


Amerika menghibahkan sebanyak 24 unit pesawat F-16 yang akan dilakukan secara bertahap dalam empat tahun. "24 unit sesuai rencana, per tahunnya sesuai kemampuan retrofit atau pemeliharaan peningkatan kemampuan, kalau tidak salah setiap tahun delapan unit," kata Agus.

TNI AU membentuk skudron tersendiri untuk seluruh pesawat F-16 ini, yakni di Pekanbaru, Riau. Ini akan melengkapi dua skuadron F-16 yang saat ini telah dimiliki TNI AU di Lapangan Udara Iswahjudi Madiun. 

Dua Pesawat F-16  TNI AU sedang lepas landas.
Panglima TNI menepis keraguan banyak kalangan tentang sulitnya mendapatkan suku cadang jika nantinya F-16 tersebut telah dihibahkan ke Indonesia. "Sekarang kita sudah punya F-16, semua berjalan dengan baik dan lancar. Suku cadang juga didukung karena kita punya kerja sama," katanya.

Agus menambahkan, proses hibah 24 pesawat tempur tersebut masih dalam tahap upgrading sebelum benar-benar diserahkan ke Indonesia. Tak hanya itu, setelah penyerahan hibah ini, F-16 yang telah dimiliki TNI AU juga akan menyusul di-upgrade (ditingkatkan) dengan teknologi dan kemampuan terkini pesawat tersebut.

2. Skuadron Udara Makassar (Sulawesi Selatan)


Tak lengkap rasanya TNI AU punya pesawat tempur F-16 jika belum punya Sukhoi. Pesawat buatan AS akan lebih hebat jika disandingkan dengan pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi Su 30MK2. Kedua kompetiror ini memiliki keunggulan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tiap-tiap pihak. F-16 Fighting Falcon lebih kecil, dengan jangkauan terbang lebih pendek dibandingkan Sukhoi, tetapi lebih lincah. Sedangkan pesawat tempur buatan Rusia lebih besar, mampu menjalankan misi terbang lebih jauh tanpa pendukung kapal induk maupun pengisian bahan bakar di udara. Sukhoi lebih handal melakukan serangan udara untuk jarak jauh, mampu pulang pergi secara mandiri, dengan kecepatan lebih tinggi. Sedang F-16 barangkali lebih efektif untuk melakukan serangan udara yang mengandalkan kelincahan manuver. 

Pesawat Sukhoi Su MK2 milik TNI AU. Enam pesawat baru telah memperkuat pangkalan di Makassar.
Tahun ini 6 buah pesawat Su 30MK2 akan memperkuat TNI AU, dan akan ditempatkan di Makassar, Sulawesi Selatan.

3. Skuadron Udara Pontianak

Di Pontianak akan dibentuk 2 skuadron baru, yang berbeda sama sekali dengan skuadron-skuadron yang sudah ada, yakni pesawat tanpa Awak atau UAV.



Dephankam telah membentuk tim di bawah koordinasi BPPT untuk membentuk dua skuadron UAV itu, di mana BPPT akan mewujudkannya untuk kepentingan militer.

"Sekarang kami sedang finalisasi pesawat itu untuk kepentingan pengintaian dan operasi," kata Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar, usai penganugerahan BJ Habibie Technology Award 2012 di Aula BPPT, Jakarta, Rabu 12 September 2012.

Marzan menambahkan pesawat tanpa awak tersebut selain untuk kepentingan pertahanan juga dapat digunakan untuk pengamatan wilayah (survailence) dan kebakaran hutan.

"Pada waktu lalu, pesawat ini digunakan untuk mendukung pembuatan hujan buatan," tambahnya.

Pesawat dengan kemampuan tinggi terbang mencapai 8.000 kaki ini dioperasikan secara otomatis melalui pusat kendali. "Langsung bisa kirim data secara real time ke pusat kontrol," ujarnya.

Bulan September ini, lanjut Marzan, akan dilakukan ujicoba bersama dengan Kementerian Pertahanan. Setelah ujicoba baru kemudian akan dilanjutkan ke tahap produksi.

Beberapa pesawat baru yang akan menempati skuadron yang sudah ada seperti :

1. Super Tucano

Pesawat Super Tucano buatan Embraer, Brazil.

TNI AU telah menerima empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano. Diharapkan pada 2014 nanti 14 jenis alutsista akan menambah kekuatan TNI AU, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat latih, pesawat intaidan pesawat tempur lainnya.

"Saat ini TNI AU telah menerima empat unit pesawat Super Tucano. Diharapkan pada akhir 2013 atau awal 2014 akan tiba delapan unit lagi, sehingga tercapai satu skadron atau 16 unit," katanya.

Saat ini, TNI AU telah memiliki empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano, sehingga diharapkan TNI AU memiliki satu skadron pesawat Super Tucano yang ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.

Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Pangkalan Udara Abd Saleh, Kolonel Pnb Novianto Widadi, Minggu, mengatakan, secara umum Lanud Abd Saleh siap menyambut kedatangan pesawat tempur itu, dan akan menggantikan posisi pesawat tempur Oviten-10F Bronco yang sudah memasuki masa "grounded".

Kesiapan yang sudah dilakukan, meliputi sejumlah fasilitas pendukung di Lanud Abd Saleh, seperti shelter atau tempat lokasi parkir pesawat, serta 12 pilot khusus yang telah dilatih untuk menukangi pesawat tersebut.

"Kami terus menyiapkan pendukung lainnya untuk kedatangan pesawat tempur canggih itu, termasuk pilot khusus yang berusia minimal 24 hingga 35 tahun dan ahli dalam berbahasa inggris," katanya.

Dengan tibanya pesawat pada bulan Maret, diharapkan nantinya bisa dipertunjukan kepada masyarakat pada peringatan HUT TNI AU tanggal 9 April 2012.

Sementara itu, rencananya pesawat tersebut akan digunakan untuk misi operasi taktis dalam membantu pasukan di darat, sebab pesawat itu memiliki keunggulan "close air support".

Selain itu, pesawat yang memiliki mesin tunggal buatan "Empresa Braziliera de Aeronautica", juga memiliki kemampuan menembakan asap ke darat secara cepat untuk menunjukkan posisi musuh.

Pesawat itu nantinya tidak hanya digunakan sebagai pesawat latih, namun juga digunakan misi pengamanan wilayah perbatasan, untuk memastikan tidak adanya pelanggaran batas negara oleh pihak lain.

"Total pesawat yang kita pesan sebanyak 16 unit, dan pengiriman akan dilakukan secara bertahap, diawali dengan kedatangan empat unit pada Maret 2012, dan akan ditempatkan pada Skuadron 21 Lanud Abd Saleh," katanya.

Super Tucano TNI AU yang ditempatkan di Malang.
Pesawat jenis turboprop asal Brazil tersebut, akan difungsikan sebagaipesawat serang ringan, pengawasan, air-to-air interception dan counter-insurgency.

2. T-50 Golden Eagle

Hubungan Indonesia-Korea Selatan adalah ibarat sahabat dekat. Kedua negara ini telah lama bekerjasama saling menguntungkan dan saling mendukung satu sama lain. Indonesia membeli pesawat tempur T-50 Eagle produksi Korsel dan sebaliknya, Korsel membeli peswat CN 235 produksi PT DI yang akan digunakan sebagai pesawat penjaga pantai atau Cost Guards.

Pesawat T-50 Golden Eagle. 

South Korean Defense Minister Kim Kwan-jin holds a model plane CN-235, right, and Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro holds a model plane T-50 Golden Eagle after a meeting in Jakarta, Indonesia, Friday. (AP/Achmad Ibrahim)


Display kokpit Pesawat T-50 Golden Eagle
T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea. Pesawat ini berjenis pesawat latih lanjut serang ringan. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries bekerjasama dengan Lockheed Martin.[5] Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan.[1]

Pengembangan pasawat ini 13% dibiayai oleh Lockheed Martin, 17% oleh Korea Aerospace Industries, dan 70% oleh pemerintah Korea Selatan.[9] KAI dan Lockheed Martin saat ini melakukan program kerjasama untuk memasarkan T-50 untuk pasar internasional.
Indonesia membeli 16 pesawat T-50 Golden Eagle ini untuk pelatihan pilot pesawat tempur bermesin jet supersonik.

Sebaliknya, Korea Selatan juga membeli pesawat dari PT DI yakni pesawat angkut untuk militer mereka dan untuk keperluan Penjagaan Pantai. Kerjasama teknologi Indonesia Korsel tidak hanya itu, mereka juga membantu Indonesia melalui transfer technology dalam pembuatan Kapal selam di PT PAL, Surabaya.


3. Hercules C-130

Pesawat Hercules C-130 milik Australia yang dihibahkan untuk Indonesia.
Pesawat ini berjenis H, yang artinya termasuk keluaran baru.
Dalam sejarah penerbangan militer Indonesia, pesawat angkut Hercules berjenis B adalah yang paling sering jatuh karena faktor usia dan ketiadaan biaya perawatan saat itu. Tetapi kini Indonesia tumbuh lebih kaya dibandingkan dulu, jadi punya cukup uang untuk melakukan perbaikan atau upgrade pesawat-pesawat tersebut.
TNI menerima empat buah pesawat Hercules berjenis H hasil hibah pemerintah Australia, dan keempat pesawat tersebut telah datang pada tahun 2012 lalu.

"Pemerintah akan merenovasi dan meremajakan atau retrofit empat pesawat C-130 Hercules hibah dari Australia," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

"Biasanya kalau dapat hibah, atau dapat pesawat, selalu kami cek, renovate, retrofit, kami betul yakinkan bahwa pesawat itu layak terbang," kata Purnomo ketika ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.

Hercules C-130 TNI AU
Pesawat C-130H A-1303 Hercules milik TNI AU hasil Retrofit oleh ARINC, LCC, USA. Ada lima buah pesawat
Hercules milik TNI AU yang diretrofit agar tidak jatuh seperti yang lainnya.  

Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo, mengatakan pesawat Hercules yang diperlukan TNI-AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI-AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.

"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Ke-30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalion sebanyak 26 unit," kata Suprasodjo.

Dia menambahkan, pesawat tipe H yang akan dihibahkan Australia akan digunakan TNI-AU untuk menggantikan tipe B yang sudah sangat tua. Selain Angkatan Udara Amerika Serikat, Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menerima C-130 dari pabriknya.


4. Pesawat C 295 dan CN 295

Indonesia khususnya TNI AD dan TNI AU telah menerima dua dari 9 pesawat C 295 dari Air Bus Militery, Spanyol. Demikian Air Bus Military melaporkan. Dua pesawat diproduksi di pabrikan San Pablo, Sevilla, Spanyol lalu sisanya diproduksi di Bandung, oleh PT DI sebagai bagian dari kerjasama Airbus Military-PT DI. PEsawat ini akan digunakan sebagai pesawat angkut militer untuk menggantikan pesawat-pesawat tua Fokker 27 yang segera akan dipensiunkan.


PT DI selanjutnya akan memproduksi pesawat jenis itu dengan nama CN 295, di bawah lisensi Air Bus Military. Peswat ini akan dioperasikan oleh baik TNI AD maupun TNI AU untuk berbagai operasi, seperti pengangkutan personel militer, logistik, misi-misi kemanusiaan dan evakuasi medis seerti untuk bencana alam untuk seluruh teritori wilayah Indonesia yang meliputi 17.000 pulau. Total pengiriman akan selesai pada tahun 2014.

Prosesi penyerahan peswat CN 295 hasil produksi  bersama Air Bus Military-PT DI di Bandung pada 2012 lalu.





5. Grob G 120TP


Grob adalah pesawat latih buatan perusahaan Jerman, Grob Aircraft AG. TNI AU memilih pesawat ini karena memiliki teknologi terbaru dan revolusioner, turbo-prop powered, dan aman. Pesawat jenis ini dibutuhkan untuk pelatihan pilot pesawat TNI AU ke depan, yang dari waktu ke waktu semakin banyak pilot diperlukan.


Grob G 120TP, saat ini dipandang sebagai 'pilihan terbaik pelatih' pilot militer angkatan Udara Indonesia karena kemajuan dan efektivitas biaya untuk abad 21.

Perusahaan Grob Aircraft telah mendapatkan pembeli untuk pesawat jenis G120TP-nya. Angkatan udara Indonesia berencana akan menambahkan pesawat G120TP tersebut kedalam armadanya, yang nantinya akan difungsikan sebagai pesawat latih dasar.

Grob Aircraft mengatakan, "G120TP turboprop telah dipilih setelah menghadapi persaingan ketat dari Finmeccanica [Alenia Aermacchi] SF-260TP dan Pasifik Aerospace CT-4".

Pengiriman akan dimulai pada tahun 2012, dan perusahaan ini juga akan menyediakan sistem pelatihan darat berbasis komputer, perlengkapan untuk briefing misi dan pembekalan, simulasi kokpit dan paket penuh untuk dukungan pemeliharaan.


Kesepakatan ini, kemungkinan untuk sekitar 18 pesawat, dan Grob Aircraft mengharapkan penanda-tanganan kontrak dapat dilakukan dalam beberapa minggu ke depan.

"Asia dinilai oleh Grob Aircraft sebagai salah-satu wilayah kunci, karena Asia memiliki beberapa Angkatan Udara yang berpotensi untuk mengikuti langkah AU Indonesia," kata perusahaan itu. Grob Aircraft saat ini juga tengah menawarkan G120TP ke beberapa negara lain, termasuk Inggris.

Selain menambah skadron udara baru, TNI AU juga terus menambah penerbang untuk mengawaki alat utama sistem senjata baru itu. "Kita butuh penerbang banyak, kita sudah membuat perencanaannya," tutur Ida Bagus.

Diolah dari berbagai sumber. Republika, Antara, dll.


Saturday, March 30, 2013

PT DI Serahkan 6 Helikopter Serbu Canggih


PT DI Serahkan 6 Helikopter Serbu Canggih

Helikopter serbu bikinan RI ini bisa digunakan untuk penyelamatan.

ddd
Jum'at, 15 Maret 2013, 13:44Hadi Suprapto, Riefki Farandika Pratama (Bandung)


Sejumlah anak-anak melihat dari dekat persenjataan yang ada di pesawat helikopter Bell 412 pada pameran Alutsista di Jayapura, Papua, Senin(4/3/2013).
Sejumlah anak-anak melihat dari dekat persenjataan yang ada di pesawat helikopter Bell 412 pada pameran Alutsista di Jayapura, Papua, Senin(4/3/2013).(ANTARA/Anang Budiono)
VIVAnews - PT Dirgantara Indonesia menyerahkan enam unit helikopter angkut tipe Bell-412 EP kepada Kementerian Pertahanan yang kemudian diserahkan ke TNI AD. Penyerahan ini berdasarkan kontrak jual beli pada 6 Maret 2012  dengan sumber dana dari Fasilitas Kredit Ekspor tahun anggaran 2009.

Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, mengatakan bahwa dengan pemberian helikopter ini diharapkan dapat membawa pengaruh besar yang positif kepada kemampuan TNI khususnya TNI AD dalam menghadapi tugas-tugasnya.

"Dengan helikopter jenis Bell generasi baru diharapkan dapat memberikan pengaruh besar bagi kemampuan TNI," kata Budi di Bandung, Jumat 15 Maret 2013.

Dia mengatakan, Bell 412 EP merupakan helikopter generasi baru yang serbaguna ditenagai sepasang mesin Pratt & Whitney Canada PT6T, dengan empat bilah rotor utama dan dua bilah rotor ekor.

Selain itu helikopter tipe Bell-412 EP ini termasuk helikopter kelas menengah dengan diawaki dua pilot dan co-pilot serta dapat mengangkut 13 orang penumpang.

"Helikopter tipe Bell-412EP ini dapat diandalkan, karena sebelumnya sudah membuktikan kehandalannya dalam berbagai operasi baik di Indonesia maupun negara-negara lain," katanya.
"Selain mampu melaksanakan misi-misi militer, helikoper ini mampu melaksanakanpenerbangan sipil, operasi SAR, dan pemadam kebakaran."

Budi menuturkan bahwa PTDI sebagai salah satu penyedia produk alat utama sistem persenjataan akan berupaya memenuhi tuntutan TNI.

Sementara itu, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksana Muda TNI Rachmad Lubis, mengatakan helikopter ini akan digunakan untuk misi serbu. 
Rachmad berharap helikop

Saturday, March 16, 2013

Alutsista TNI Membaik Tiga Tahun Kedepan


Selasa, 29 Januari 2013 | 10:40


Menhankam  RI Purnomo Yusgiantoro mencoba 
senapan mesin canggih buatan PT PINDAD.

Alutsista TNI Membaik Tiga Tahun Kedepan
Rapim TNI 2013 dimaksudkan sebagai sarana komunikasi bertukar informasi para pimpinan agar tercapai satu tujuan, tindakan serta evaluasi program kerja kinerja organisasi TNI.

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro optimis penyehatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) Indonesia akan membaik paling lambat dalam jangka waktu tiga tahun kedepan. Penyehatan alutsista dilakukan berdasarkan Undang-undang (UU) Industri Pertahanan Negara.

"Penyehatan akan dilakukan berdasarkan Industri pertahanan dan akan kita lakukan dalam waktu tiga tahun. Saya optimis semua itu akan bisa kita lakukan," kata Purnomo Yusgiantoro, sesaat setelah menghadiri Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2013 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (29/1).

Untuk mencapai semua itu, Purnomo berharap adanya kesatuan persepsi dari seluruh pimpinan TNI dalam pelaksanaan tugas 2013. Dengan demikian, penguatan alutsista dapat berjalan sesuai dengan arah kebijakan dan mendapat hasil yang optimal.

Dalam Rapim TNI 2013 yang berlangsung mulai 28 sampai 30 Januari sebagai bentuk sarana komunikasi bertukar informasi para pimpinan agar tercapai satu tujuan dan kesatuan, tindakan serta evaluasi program kerja kinerja organisasi TNI.

Selama hasil evaluasi Rapim TNI sebelumnya, yang menonjol diantaranya adalah belum terlengkapinya alat utama sistem senjata (alutsista) pengganti dari sebagian alutsista lama, penggelaran kekuatan TNI yang relatif masih bertumpu di pulau Jawa, serta keterbatasan dukungan anggaran yang belum mencukupi dalam mewujudkan kekuatan pokok minimun TNI.

Tujuan Rapim TNI untuk mengevaluasi pelaksanaan pembinaan kekuatan dan kemampuan serta gelar TNI 2012, menambah wawasan pengetahuan unsur pimpinan TNI tentang kondisi dan ketentuan yang berlaku berkaitan dengan pelaksanaan tugas TNI 2013

Rapim sendiri diikuti oleh 165 peserta terdiri dari 4 pimpinan TNI, 47 pejabat Mabes TNI, 47 pejabat TNI AD, 35 pejabat TNI AL, 22 pejabat TNI AU dan 10 peninjau.

Disamping pelaksanaan Rapim TNI, dalam kesempatan tersebut juga diadakan static show alat pertahanan dalam negeri di lapangan apel gedung BIII Mabes TNI Cilangkap. Peserta yang terlibat terbagi 38 perusahaan.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dalam amanat pembukaan Rapim TNI, menegaskan, kondisi lingkungan strategis kawasan saat ini penuh dengan ancaman yang bersumber dari aktor negara maupun non negara.

"Bentuk ancaman dan tantangannya beragam. Secara garis besar dapat dikelompokkan dalam rupa simetriis dan asimetris," kata Agus.

Namun demikian, yang perlu menjadi catatan bahwa ancaman simetris tidak dapat dibatasi pada organisasi aktornya, namun juga bagaimana kekuatan, kesenjataan dan moralnya.

Dijelaskanya, ancaman dan tantangan simetris muncul dari kasus seperti sengketa perbatasan antar negara, perlombaan senjata dan masalah kebebasan penggunaan laut. Sebaliknya, ancaman asimetris secara umum muncul berupa perompakan, pembajakan, terorisme, dan lain sebagainya. 
Penulis: /WBP
Dapat uang melalui internet