Showing posts with label Teknologi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Indonesia. Show all posts

Saturday, July 6, 2013

JK: Teknologi Mutlak Dikuasai Untuk Pertahanan



JK: Teknologi Mutlak Dikuasai Untuk Pertahanan


JAKARTA - Di tengah perubahan zaman yang pesat, sudah seharusnya Indonesia memikirkan pertahanan dari serangan teknologi, ideologi, penguasaan ekonomi, dan politik. Walau demikian, bukan berarti mengabaikan pentingnya persenjataan militer, karena perekonomian bisa maju jika negra berwibawa.

"Kalau beli tank Leopard, negara mana yang akan kita serang? Juga, negara lain mana yang akan menyerang kita? Sekarang ini seharusnya fokusnya lebih ke penguasaan teknologi, ideologi, ekonomi, dan politik dari dalam," kata mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ketika menjadi pembicara utama dalam seminar Musyawarah Nasional I. Acara itu digelar Think anda Act for National Defense (Tandef) dan Ikatan SMU Taruna Nusantara dengan tema "Mewujudkan Masyarakat Sadar Pertahanan" di Gedung Perintis Kemerdekaan, Jakarta, Minggu (12/5/2013).

Hadir dalam diskusi tersebut selain Jusuf Kalla adalah mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, pengamat pertahanan dan militer Connie Rahakundini Bakrie, dan pengamat politik dan militer Kusnanto Anggoro, dengan moderator pakar komunikasi Effendi Gazali.
Menurut Jusuf Kalla, seharusnya kita sudah fokus untuk memikirkan pertahanan di bidang ideologi, ekonomi, dan politik dengan basis penguasaan teknologi. "Perang tak lagi perlu kekuatan besar. Zaman dulu tentara tewas 10.000 itu biasa, sekarang satu orang tewas bisa menjadi isu besar," kata Kalla.
Begitu mahal nyawa saat ini karena manusia adalah pengendali teknologinya. Namun, hingga saat ini, Indonesia belum masuk ke arah itu karena masih terseok-seok dengan pertahanan konvensional.
"Apa yang dibutuhkan dewasa ini adalah penguasaan teknologi, politik, diplomasi, dan ideologi," kata Kalla.

Amerika Serikat (AS) bisa saja menyerang negara mana saja, namun terbukti perang ideologi bisa membuat kalang kabut AS. Tak ada yang bisa mendefinisikan kapan ideologi itu akan menyerang, sehingga Bom Bostin pun pecah tanpa antisipasi.

Jepang membuktikan, dia bisa menguasai negara lain dengan kekuatan ekonomi atau teknologi. Ekonomi memang memegang peranan penting untuk bisa hidup tegak berwibawa, sejajar dengan bangsa lain dan sejahtera. "Sekarang uang kita habis untuk beli bensin, sehingga bagaimana kita bisa mewujudkan kesejahteraan?" kata Kalla.

Pertahanan itu juga terkait kemauan kita dalam penguasaan teknologi, termasuk kemauan kita untuk tidak korupsi. Namun, bukan berarti Kalla mengabaikan pertahanan militer. "Ekonomi bisa kuat kalau negara berwibawa. Kalau negara tak memiliki persenjataan kuat, bagaimana kita bisa menghalau pencuri ikan di lautan? TNI harus kuat, orangnya dan persenjataannya," papar Kalla.
Mempersenjatai tentara memang butuh ekonomi yang kuat. Namun sebenarnya, jika punya politik diplomasi yang canggih, bisa dilakukan dengan memakai hubungan strategis dengan negara lain. Dengan hubungan yang strategis dengan negara lain, Indonesia bisa mendapatkan persenjataan yang kuat dengan harga fleksibel.

Kalla juga mengingatkan, 10 dari 15 konflik yang terjadi itu akibat ketidakadilan ekonomi dan politik. "Papua disamping sparatisme ada ketidakadilan. Di Aceh, apa yang terjadi bukan soal agama tapi tentamg ketidakadilan," kata Kalla.

Untuk mengurai persoalan bangsa yang begitu pelik, menurut Kalla, kita membutuhkan pemimpin demokratis yang bisa memahami, punya visi ke depan, bertanggung jawab, bisa mempengaruhi orang, bisa menjalankan kebijakan populer maupun tan populer. Kalla mencontohkan, dulu ketika BBM naik 160 persen, tak ada protes yang berarti.

Sementara ketika pemerintahan sekarang akan menaikkan BBM 30 persen, banyak demo terjadi di mana-mana. "Ini cara menjelaskan yang salah dan teknik mempengaruhi orang, enggak perlu diktator," kata Kalla.

Indonesia harus memiliki visi ke depan. Walaupun musuh bersama (common enemy) tak ada, kita perlu merumuskan common objective atau tujuan bersama yaitu kemajuan bangsa. Kalla mencontohkan keberhasilan dalam menggalang kampanye komodo sebagai bagian warisan dunia yang harus dilestarikan.

"Saat itu, 40 hari sebelum pengumuman, ada panitia yang datang meminta tolong dibantu karena suara untuk komodo baru mendapat 60.000-an," kata Kalla.

Kemudian Kalla menyanggupi terlibat dan menjelaskan kepada masyarakat bahwa komodo ini bukan hanya untuk kepentingan komodo saja, tapi bisa berimplikasi pada kesejahteraan Indonesia, misalnya dengan banyaknya turis yang datang sehingga ekonomi bisa berkembang.

Dengan penjelasan yang logis seperti itu, komodo akhirnya langsung mendapatkan 300 juta suara dalam tempo 40 hari. "Jadi, tak harus punya common enemy dulu, kita bisa buat common objective untuk tujuan bersama," kata Kalla.

Friday, July 5, 2013

Penjara Teknologi Nasional itu Bernama Kepentingan Politik dan Korupsi


Pesawat buatan PT DI. Teknologi Indonesia tengah terpenjara oleh kepentingan politik dan korupsi. 

Penjara Teknologi Nasional itu Bernama Kepentingan Politik dan Korupsi 


Kemajuan teknologi Indonesia sedang berproses, dan proses itu seperti orang tengah berjalan ke depan, namun perjalanan itu tidak mudah. Hal tersulit dari sebuah perjalanan adalah manakala ia harus berada di dalam sebuah penjara, sehingga ia tidak bisa kemana-mana kecuali berputar-putar di dalam ruangan di balik jeruji besi.

Jika kemajuan dan perkembangan teknologi Indonesia ibarat orang yang tengah mengadakan perjalanan jauh ke depan, maka sayangnya, orang itu sedang dipenjara. Penjara itu bernama Kepentingan politik dan korupsi.   

Ini terlihat dari berbagai berita yang menunjukkan hal itu, mulai dari sebab persaingan antar menteri untuk mendapatkan simpati masyarakat, dengan berbagai cara, hingga saling menjegal satu sama lain. Masalah menjadi lebih rumit karena bukan saja persaingan antar menteri dan lembaga, namun juga didorong oleh persaingan antar partai politik untuk menuju kekuasaan. Ada juga menteri yang terlihat murni untuk berjuang demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia, namun menteri yang jujur pun terpaksa terseret arus yang membuat dirinya lelah menghadapi 'tackling' keras manakala mencoba untuk berlari untuk mengejar target. 

Mengapa ? Karena mereka berada dalam sistem yang korup dan harus berhadapan dengan rekan kerja yang punya mental korup juga, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi / partai, sehingga orang jujur ini pun mau tidak mau harus menghadapi tembok tebal. Tembok tebal itu adalah birokrasi rumit yang sengaja dipasang agar si pejabat jujur ini idak bisa berlari terlalu kencang sendirian. 

Kita, orang awam yang berada di luar struktur pemerintahan tidak tahu itu, namun kita bisa membaca dari gelagat yang muncul lewat pemberitaan. Misalnya, dari media sosial di internet ada status berupa rangkuman berita oleh fans page yang isinya seperti berikut ini :  

Para engineer yang selama ini bekerja di perusahaan-perusahaan BUMN sakit hati ketika kemampuan mereka diremehkan. Padahal kemampuan mereka luar biasa. Asal ada yang mempersatukan dan mengkoordinasikan.

Selama ini mereka kurang diberi kesempatan sehingga kapasitas itu tercerai-berai di berbagai BUMN. Mereka bukan saja tidak bersinergi, bahkan sering saling jegal ! Ketika kesempatan itu disediakan, kepercayaan itu diberikan oleh Pak Dahlan, hasilnya adalah royek-proyek MERAH PUTIH BUMN !

30 PLTU "Merah Putih".


PT Boma Bisma Indra (BBI)- mampu membuat kondensor. Alat yang menjadi bagian sangat penting dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). BUMN yang sekarat karena hutang menggunung itu ternyata tetap melayani pesanan kondensor pabrikan besar di Eropa. Untuk dipasang di PLTU di seluruh dunia. 

Ketika kondensor BBI itu disinergikan dengan turbin bikinan PT NTP Bandung, anak perusahaan PT Dirgantara Indonesia. Generatornya oleh PT Pindad Bandung. Boilernya dibuat PT Barata Surabaya. Dan PT Wika membangun sipilnya. Hasilnya adalah 30 unit PLTU punya PLN di seluruh Indonesia, terutama yang ukurannya 20 MW ke bawah. 

Pabrik Gula "Merah Putih".

Nyaris semua pabrik gula BUMN adalah pabrik peninggalan Belanda. Pantas saja kita menjadi importir gula. Tapi sinergi BUMN menghasilkan "Pabrik Gula Merah Putih”. BUMN akan membangun pabrik gula baru di Glenmore, Banyuwangi. Pabrik baru yang akan menjadi yang terbesar di Jawa itu, 100 persen akan made in Indonesia !

Kalau proyek ini sukses maka revitalisasi pabrik-pabrik gula tua di seluruh Indonesia akan dikerjakan sendiri oleh putra-putra bangsa.

Pertanyaannya, ada atau tidak adakah resistensi dari Pemda misalnya Bupati atau Gubernur tempat di mana pabrik gula tersebut berada, untuk revitalisasi ?

Monorel "Merah Putih"

Monorel berwarna merah putih yang dipamerkan di monas memang buatan INKA Madiun. Tapi sipilnya dikerjakan Adhi Karya, PT LEN dan Telkom untuk sistem elektronik dan komunikasinya. Sayang proyek monorel cibubur-kuningan dan manggarai-bandara soeta masih terganjal ijin sampai hari ini.


Konsorsium BUMN telah membuktikan diri mereka bisa membuat monorail sendiri tanpa harus impor dari China. Konsorsium juga menawarkan solusi pembangunan sistem transportasi murah ini tanpa harus menggunakan APBN maupun APBD. Tapi pemerintah pusat masih enggan memberi ijin proyek ini, dan melemparkannya ke Pemda. Pemda merasa tidak berani mengeluarkann ijin karena itu wewenang pusat. Ujung-ujungnya, proyek seperti ini mandeg, dan akhirnya akan ditawarkan ke asing untuk digarap oleh kontraktor asing, dengan mesin-mesin juga impor dari asing. Baik Menko Ekuin dan Kementerian Perhubungan selaku otoritas pemegang ijin proyek ini maupun Pemda tampaknya masih tersandera dengan kepentingan pribadi/politik : kalau proyek BUMN ini sukses, Kementerian BUMN itu yang mendapat sorotan, diliput oleh banyak media. Sedangkan Gubernur, Menko Ekuin, Menhub, dan Partai Demokrat tenggelam oleh kesuksesan Kementerian BUMN tersebut. Jadi secara publisitas, Partai Demokrat tidak mendapat manfaat langsung dari model proyek seperti ini,--yang gagasannya murni dari ide pemikiran pemecahan problem transportasi dan kemajuan teknologi anak bangsa, juga agar perusahaan BUMN seperti Adhi Karya, PT LEN, PT INKA, dan sebagiainya bisa terus berputar,--tidak bisa memainkannya sebagai kartu truf yang bisa diklaim sebagai keberhasilan orang-orang Partai Demokrat. Apalagi mereka tidak bisa mendapat satu rupiah pun 'fee proyek' ini dari komisi dan mark up sebagaimana proyek Hambalang yang penggelembungannya mencapai 300 milyar lebih yang bisa digunakan untuk biaya kampanye. Buat apa meloloskan proyek yang secara finansial tidak bisa dikorup, secara publisitas partai dan pejabat dari partai penguasa juga tidak mendapat keuntungan langsung kecuali hanya melambungkan nama Dahlan Iskan seorang ? 
Bahwa Kemajuan teknologi karya anak bangsa, kemajuan  BUMN-BUMN yang bisa mengurangi problem pengangguran anak-anak muda Indonesia, dan bahwa inovasi itu bisa mensejahterakan rakyat kebanyakan itu memang benar, tapi itu tidak menjadi penting manakala tidak termasuk dalam program proyek yang kepentingannya tidak langsung bermanfaat untuk masa depan Partai dan pejabat-pejabat tertentu. Itu menjadi urusan belakangan. Yang penting, pertanyaannya, apa manfaatnya secara pribadi buat Menko Ekuin  atau PAN ? Menhub atau Demokrat ? Gubernur atau PDIP ? Menperindag sebagai Capres yan g akan ikut konvesi Demokrat ? 
Gubernur Jawa Barat misalnya, lebih memilih bekerjasama dengan China dan megimpor monorail dari perusahaan asing asal China juga ketimbang melibatkan kontraktor lokal seperti Adhi karya dan menggunakan monoral buatan lokal seperti PT INKA dan konsorsium. Saya menduga, persoalan utamanya adalah bahwa asing lebih bisa diajak sekongkol dan memberi fee lebih banyak untuk bisa dikorup ketimbang Dahlan Iskan yang bermodal transparansi dan kejujuran.      


Solar Cell "Merah Putih"

Negara tropis dengan sinar matahari melimpah ini ternyata tidak mempunyai pabrik solar cell!!!!! Yang ada 8 pabrik perakitan dengan bahan yang diimpor dari cina. Konsorsium BUMN dipimpin PT LEN membuat gebrakan membangun pabrik solar cell pertama. Prototype solar cell 'merah putih " ini dikerjakan oleh Dr Ir Ennya Lestyani Dewi yang sekolah S1 sampai S3-nya di Jepang atas biaya BJ Habibie. Pabrik ini ditargetkan mulai berproduksi tahun 2014.

Ke depan, pasti akan banyak lagi proyek "merah putih" yang lain. Mobil listrik "Putra Petir" misalnya. Budaya percaya pada kemampuan anak bangsa ini coba terus dibangun oleh Pak Dahlan. Kalau ada yang tidak mendukung, entah akal sehatnya kemana...

Wednesday, February 13, 2013

Finlandia: Teknologi Indonesia Sangat Maju


Ilustrasi. (Foto: Corbis)

Finlandia: Teknologi Indonesia Sangat Maju

Yuni Astutik - Okezone
Selasa, 17 April 2012 12:26 wib
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
JAKARTA - Komite Perdagangan Finlandia dijadwalkan mengunjungi Indonesia dari 15-18 April mendatang. Dalam lawatannya ke Indonesia, Finlandia sempat bertamu ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ketua delegasi Komite Perdagangan Finlandia Mauri Pekkarinen mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia memang sangat bagus dan kuat. Menurutnya, salah satu alasan kedatangan Komite Perdagangan Perlemen Finlandia ke BEI karena Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

"Selain perkembangan teknologi yang kuat, Indonesia sudah menggunakan teknologi yang sangat maju dan itu sangat menarik," katanya saat ditemui di sela-sela kunjungannya ke Gedung BEI, Jakarta, Selasa (17/4/2012).

Menurutnya, Indonesia juga memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang banyak dan dapat memiliki kemungkinan untuk melakukan kerja sama dengan Finlandia ke depannya.

Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Kai Sauer mengungkapkan, pasar modal Indonesia merepresentasikan fundamental Indonesia yang sangat kuat.

"Volume trading di pasar modal Indonesia sangat tinggi, bahkan selalu berada di level hijau dan jarang berada di level merah. Kami menganggap pasar modal Indonesia merepresentasikan ekonomi Indonesia juga," katanya.

Menurutnya, perwakilan komite akan membawa pesan kepada Komite Ekonomi Finlandia mengenai hal-hal menarik yang ada di Indonesia untuk mewacanakan kerja sama lebih lanjut. "Perwakilan delegasi ini akan membawa pesan di mana mereka akan memaparkan memiliki potensi ekonomi yang besar," pungkasnya. (mrt)