Showing posts with label Heli. Show all posts
Showing posts with label Heli. Show all posts

Thursday, April 25, 2013

Batal Beli Apache, Indonesia Beli Heli Buatan PTDI


Heli Serang AH64 Apache Long Bow

Pada hari Kamis, 18 April 2013 Tempo menurunkan berita sebagaimana judul di atas. Isi lengkapnya sebagai berikut : 
Komisi Pertahanan DPR menyatakan Indonesia batal membeli delapan unit helikopter serbu canggih dari Amerika Serikat, Apache Longbow. DPR beralasan harga Apache terlalu mahal. 
"Bukannya tidak mendukung TNI, tapi kami memprioritaskan anggaran," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, saat dihubungi Tempo, Kamis, 18 April 2013.
Untuk pembelian alat sistem pertahanan Angkatan Darat, dia menambahkan, diprioritaskan tank tempur utama Leopard. "Lagi pula tank ini kan baru, diprioritaskan."
Batalnya pembelian Apache bukan berarti Indonesia tak jadi membeli helikopter serbu. Indonesia kini mengalihkan pandangan kepada 16 helikopter Bell buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). 

Menurut Hasanuddin, ini karena harga Bell lebih murah ketimbang Apache. "Memang Bell tidak sehebat Apache, tapi kita belum mendesak untuk beli Apache," kata dia.
Saat ditanya apakah pembelian Apache dibatalkan karena ada kontrak dengan PT DI, politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menjawab tidak. Dia bersikeras masalah utamanya adalah harga yang kemahalan.
"Lagi pula kalau beli produk PT DI, kita ikut mengembangkan industri pertahanan dalam negeri," ujarnya.
Pemerintah Amerika Serikat pernah menawarkan untuk menjual delapan helikopter AH-64 D Longbow Apache kepada Indonesia. Produk tempur bikinan Boeing ini memang sudah termasyhur di dunia lantaran sukses dalam banyak misi Angkatan Darat Amerika Serikat.


Apakah ini berita baik atau buruk ? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya, itu bisa berita baik, atau berita yang tidak terlalu baik. Namun keputusan itu tentulah sudah melalui pertimbangan yang matang, jadi keputusan yang diambil oleh DPR, hampir pasti sudah yang terbaik untuk Indonesia sendiri.

Peralatan apapun dari AS, terlebih alat-alat tempur, harganya memang selangit. Hal itu disebabkan AS secara tradisional merasa sebagai penemu, inventor, sangat melindungi hak intelektual mereka, menunjung tinggi hak cipta, jadi bisa dipahami jika mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Sejauh menyangkut teknologi, AS tidak pernah menjualnya dengan harga rata-rata. Mereka selalu mematok harga sangat tinggi. Kita ingat, beberapa waktu lalu Komisi Perdagangan AS mengkritik China yang menjual komputer, tablet, dll dengan harga murah dengan mengatakan," Adalah bodoh menjual teknologi tinggi dengan harga murah". 

Heli AH64 Apache ini dijual dengan harga 18 juta US$ atau Rp 45 milyar rupiah per unit-nya belum termasuk persenjataan yang dibawa oleh Heli tersebut. Itu harga tahun 1996, yakni 17 tahun yang lalu sebelum krisis 1998, saat 1 $  = Rp 2.500. Dengan kurs sekarang, 1 $ = Rp 10.000, maka, hanya dengan dasar perhitungan faktor kurs mata Rupiah terhadap Dollar saja, harganya naik 400% menjadi lebih dari 180 milyar rupiah per buah. Belum lagi dari produsen AS sendiri sudah pasti menaikkan harga atas dasar kenaikan biaya produksi dan faktor inflasi. Kemungkinan bisa di atas 250 milyar rupiah per unitnya. 

Bandingkan dengan Heli pesaingnya dari Rusia yang hanya 64,5 milyar rupiah (harga tahun 2007) sudah termasuk peralatan dan senjata lengkap. Bahkan pembelian bisa dilakukan dengan kredit sangat lunak. Dari segi kualitas, Mi 35 tidak kalah dengan Apache, bahkan lebih unggul dalam beberapa aspek.

Dalam prinsip pengadaan barang, pihak pembeli selalu memperhitungkan harga, kualitas barang, manfaat, dan kemudahan pembayaran. Jika untuk barang yang sama dihargai dengan harga yang sama dari dua penjual yang berbeda, maka penjual yang bisa memberi fasilitas kredit lunak akan lebih kompetitif ketimbang yang menuntut pembayaran tunai.

Pembatalan pemerintah atas rencana pembelian Heli Apache dan kemudian beralih ke pembelian Heli buatan PT DI adalah keputusan yang sangat tepat, bijaksana, dan positif. Manfaatnya bukan hanya jangka pendek, melainkan pula jangka panjang menyangkut dukungan terhadap perkembangan industri dalam negeri. Dengan dana yang sama, Dephankam akan memperoleh pesawat Helikopter Bell sebanyak dua kali lipat dari yang bisa diperolehnya berupa Apache. 

Bell 406 Combat Scout & Attack Helicopter
Lalu apa makna pembatalan Apache dan pengalihan ke industri dalam negeri ? 
Menurut penulis, ada banyak makna positif atas keputusan ini : 

1. Secara strategis, akan mendukung pengembangan PT DI untuk mencoba membuat Heli serang murni atau multifungsi dengan kelas lebih berat. 
2. Memberi proyek pada PT DI berarti memberi lapangan pekerjaan pada insinyur-insinyur kita sehingga menambah pengalaman, pengetahuan, dan keahlian yang lebih baik.
3. Mendorong industri penerbangan kita sedemikian rupa sehingga lambat laun semakin percaya diri, mampu menciptakan produk dengan tingkatan lebih baik. 
4. Saat ini PT DI membutuhkan proyek-proyek yang bisa dikerjakan agar keberlangsungan perusahaan tidak trerhambat. Pembelian ini akan sangat berarti bagi PT DI untuk memperkuat R & D, meremajakan mesin-mesin produksi, perolehan lisensi, dan lain-lain.
5. Pembatalan persetujuan DPR menunjukkan adanya komitmen wakil rakyat untuk ikut serta "mengarahkan" pemerintah agar lebih peduli pada industri alutsista dalam negeri. Ini bisa berarti banyak hal : berkurangnya dugaan kong kali kong antara pemerintah dengan produsen/perantara dalam hal ini pejabat Dephankan-pihak AS. Sudah jamak terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di India bahwa pengadaan alutsista yang sangat mahal menimbulkan kecurigaan korupsi.
6. Adanya perubahan cara pandang pihak Dephankam sendiri semenjak dialihkannya BUMN strategis seperti : PT PAL, PT PINDAD, PT DI, menjadi di bawah Dephankam dan bukan di bawah Kementerian BUMN lagi. 
7. Adanya perubahan signifikan peran Indonesia yang  semakin kuat di dunia Internasional dibanding sebelumnya di mana AS sudah tidak bisa "mendikte" lagi kebijakan luar negeri maupun pembangunan Alutsista nasional.  

Yang jelas, keputusan itu bermakna sangat positif. Makna strategis ini sangat penting agar kita bisa dengan cepat mandiri dalam pengadaan alutsista, sebagaimana Brazil telah mampu membuat pabrik mereka, Embraer, bisa berkembang dan semakin diakui oleh dunia, maka PT DI pun diharapkan bisa semakin dipercaya oleh dunia. 

File:Eurocopter EC-725 Cougar MkII.jpg
Helikopter  Cougar EC-725 lisensi dari Eurocopter yang akan dibuat oleh PT DI untuk produk berikutnya.
  
Makna Politis

Ada hal khusus saat Barack Hussein Obama naik menjadi Presiden AS dalam hubungannya dengan Indonesia, yakni hibah 24 Jet Tempur F-16 yang akan diretrofit ke Block 50. Jumlah 24 adalah cukup banyak, belum pernah dalam sejarah politik hubungan AS-Indonesia mendapat hibah sebanyak itu, belum lagi persetujuan pembelian Heli AH64 Apache ini. Sangat mungkin karena Obama sendiri menilai istimewa Indonesia karena masa kecilnya pernah besar di negeri ini, dan di saat yang sama Indonesia di bawah Presiden SBY memiliki banyak kesamaan kebijakan dengan AS : keberhasilan pemberantasan terorisme, demokrasi yang semakin berkembang, dan tidak adanya peanggaran HAM oleh negara. 
Terlepas AS yang kini ditimpa krisis, dan Indonesia yang justru ekonominya tumbuh secara meyakinkan, pemulihan hubungan militer AS-Indonesia saat ini mengalami peningkatan pesat setelah sebelumnya mereka (AS) mengambargo bantuan militer Indonesia.
Diembargo AS, Indonesia tidak kehilangan akal. Indonesia justru semakin "mesra" dengan China dan Rusia, dan mulai mengarahkan radarnya untuk melakukan kerjasama militer dengan Brazil, Polandia, Jerman, dan negara-negara lain. Dari Jerman misalnya, Indonesia membeli Tank Berat dan Sedang Leopard. 

Seiring pulihnya ekonomi Indonesia dari krisis 1998 dan belum pulihnya krisis di AS, peran dan kekuatan Indonesia semakin tidak dianggap sebelah mata oleh dunia, termasuk oleh Barat. Ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan meminta pemerintah untuk berhenti menjual bahan-bahan mineral dan hasil tambang secara mentah ke luar negeri karena penjualan demikian tidak memberi nilai tambah apapun untuk kepentingan nasional, hal ini berimbas pada perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di sini. Indonesia berani "menasionalisasi" secara pelan-pelan perusahaan-perusahaan seperti Freeport agar menjaul sahamnya ke pemerintah RI dan dipaksa membangun smelter di sini. 

Pemerintah Indonesia mengancam, jika Freeport (perusahaan paling bandel di dunia untuk taat pada aturan lokal) tidak juga membangun Smelter di sini, mereka akan kehilangan peluang untuk mengekspor emas mentah ke luar negeri. Newmont juga demikian, jika mereka tidak taat pada undang-undang yang berlaku di sini, mereka tidak akan diberi ijin mengekspor mineral mentah ke luar negeri. 

Toyota, pabrik raksasa mobil asal Jepang, juga protes karena dengan kebijakan Indonesia itu berimbas ke mereka. Jepang tidak lagi bisa membeli bahan baku dari Indonesia secara langsung. Pemerintah Indonesia pun memberi solusi, misalnya dengan meminta pabrik mobil Toyota untuk membangun pabrik mobil di Indonesia. Toyota akhirnya bersedia, dan mereka pun membangun pabriknya di Cikarang. Banyak anak muda Indonesia pun mendapat peluang memperoleh pekerjaan, ekonomi semakin tumbuh, keahlian SDM Indonesia semakin terasah. Bukan hanya Toyota, General Motors (GM) dan Chevrolet pabrikan asal AS; lalu BMW dan VolksWagen (VW) pabrik otomotif asal Jerman, pun berencana membangun pabrik mobil mereka di Indonesia. Ini akan sangat berarti bagi SDM-SDM kita untuk mendapatkan pekerjaan, keahlian, tranfer teknologi, dan-lain-lain.

PT DI, Mi 35, dan Apache. 

Jika pemerintah membatalkan pembelian Apache lalu berganti membeli Heli dari PT DI, apakah teknologinya sepadan ?

Bisa saja sepadan jika masalahnya hanya pesawat itu sendiri. Inti dari Helikopter untuk jenis apapun pada dasarnya sama. Heli Apache maupun Heli Bell buatan PTDI punya bagian-bagian utama yang sama, yakni mesin, rotor, baling-baling utama, baling-baling ekor, ekor, dan body dari Heli.  Yang  berbeda antara satu Heli dengan heli yang lainnya dari organ utama ini adalah kapasitas angkut, daya mesin, panjang baling-baling, sayap, dan lain-lain yang berimbas pada kecepatan dan daya tahan. 
PTDI tentu tidak akan kesulitan menyesuaikan ini dengan memasang mesin ganda dengan daya yang lebih besar misalnya, atau membuat baling-baling dan rotor yang lebih besar atau menambahkan sayap seperti halnya Apache atau Mi 35. PT DI tentu mudah saja 'meniru' Apache atau Mi 35 jika soal berat-ringan.

Yang membedakan adalah aksesoris yang dipasang pada Heli tersebut. Sebagai Heli Serang, perlengkapan utama yang sangat penting dan ini sangat ditentukan oleh kecanggihan teknologi adalah sistem persenjataan yang meliputi : senjata itu sendiri (senapan mesin/Canon, rudal, peluncur roket jamak, dan bom), sistem avionik dan sistem targeting mereka.
     
Heli buatan PTDI tidak akan sepadan dengan Apache jika teknologinya tidak dimutakhirkan sehingga standarnya sama dengan AH64 Apache Long Bow. Namun Bell pada umumnya sudah sesuai dengan standard Heli Serang NATO. Jika Indonesia menjatuhkan pilihannya pada jenis Bell, maka paling tidak sistem Avionik dan Targetingnya harus dibuat setingkat dengan Apache. 

Kelebihan Helikopter asal AS ini adalah teknologi penginderaan dan keakuratan dalam menentukan target serang secara presisi. Jika Indonesia ingin bisa mendekati Apache, maka solusinya bisa mengimpor alat-alat seperti sistem avionik dan targeting yang sangat canggih itu jika belum bisa buat sendiri, 

Salah satu fitur revolusioner yang mereka klaim ada pada Apache adalah adanya helmet mounted display, yakni sebuah helm yang terintegrasi dengan Sistem Penglihatan (IHADSS) di antara kemampuan lain yang diperlengkapkan pada pilot maupun operator senjata sehingga bisa terus memfokuskan senjata pada target secara presisi saat Heli bergerak maju. Heli ini dilengkapi dengan senapan mesin dan balistik sebagai senjata serang standard. Kelebihan lain adalah adanya alternatif sistem kendali TADS, Targeting Acquisition and Designation System untuk menetapkan sasaran dan mengunci posisi tembakan ke depan.  
Sementara kekuatan dan daya jelajah yang sangat kuat bisa mengadopsi teknologi Mi 35. Namun Bell adalah lisensi, perlu dicermati dulu aturan-aturan yang mengikatnya. Kemungkinan lain adalah pembuatan Heli serang  Cougar EC 725 dari Eurocopter.

Dapat uang melalui internet

Monday, April 22, 2013

Heli Serang AH64 Apache dan Mil Mi 35 Hind Gunship, Bagaimana Jika RI Punya Keduanya ?

Mil Mi 35 Hind Attack Gunship
AH64 Apache Long Bow
Jika Dephankam jadi membeli Heli serang AH64 Apache Long Bow dari AS, maka heli ini akan melengkapi Heli Serang Mil Mi 35 Hind Attack Gunship yang sudah ada. Ini akan sangat menarik, dua produk dari negara blok barat dan timur disatukan.

Seperti halnya Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi 27 yang kita punya, skuadron ini akan menjadikan peralatan tempur kita lebih variatif, dan tentu menjadi lebih kuat.


Sekedar kilas balik, beberapa tahun yang lalu Enam helikopter MI-17 buatan Rusia diserahterimakan dari pihak Rusia ke Departemen Pertahanan (Tempo, 2011). 
Enam helikopter ini akan melengkapi 5 helikopter serbu MI-35 dan 6 helikopter MI-17 yang telah dimiliki Indonesia. Rencananya akan tiba 6 unit lagi pesawat yang sama.
"Sehingga genap 18 heli MI-17," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam sambutan serah terima di Hanggar Skuadron 26 Pondok Cabe, Jakarta Selatan, Jumat, pada 26 Agustus 2011.
Serah terima ini dilakukan dari pihak JSC Rosoboronexport Rusia kepada Kementerian Pertahanan. Penyerahan ini dilakukan oleh perwakilan JSC Rosoboronexport Rusia Vadim V Varaksin kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo.
Pada acara itu diserahkan enam helikopter MI-17 warna hijau dof. Heli ini merupakan buatan Rusia. Tahun lalu, Indonesia juga telah mendatangkan 6 heli MI-17. Hadir dalam acara serah terima ini, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhi Wibowo, dan Duta Besar Rusia Alexander Ivanov. 
Purnomo mengatakan helikopter MI-17 merupakan helikopter yang multipurpose sehingga bisa dimanfaatkan dalam semua kegiatan. Kondisi geografis Indonesia dengan banyak kepulauan dan kondisi daerah yang minim lapangan terbang, dibutuhkan alutsista MI-17. "Indonesia terdiri banyak pulau, belum punya lapangan terbang, dan memiliki ancaman tradisional dan non-tradisional memang diperlukan alutsista seperti heli," katanya.
Ia berharap helikopter ini dirawat dengan baik, mengingat anggaran pembelian alutsista cukup besar. Anggaran untuk pembelian alutsista ini mencapai US$ 56 juta. Dalam kesempatan itu, Purnomo berharap anggaran pembelian alutsista terus meningkat, mengingat perekenomian Indonesia semakin membaik dan APBN sudah mencapai 1.400 triliun. Hal ini dilakukan dalam reformasi jilid II dalam modernisasi alutsista. "Kita sampaikan paparan peningkatan anggaran kita 5 tahun ke depan pencapaian essensial forces," katanya.
Indonesia sejak tahun 1997 sudah jarang melakukan penambahan maupun pembaruan alutsista. Pada 1997, Indonesia sedang mengalami krisis sehingga tidak mungkin melakukan penambahan alutsista. Saat itu, TNI telah melakukan reformasi jilid I dalam bidang organisasi, depolitisasi, dan debisnisasi. Purnomo juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Rusia.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo mengatakan pemilihan helikopter ini karena memang memiliki kemampuan yang serbaguna dan daya angkut sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan total 18 heli MI-17, maka sekali angkut bisa membawa pasukan satu kompi. "Ini akan mendukung pengamanan perbatasan dan pengangkutan logistik," ujarnya.
Duta Besar Rusia Alexander Ivanov mengatakan pemerintah telah memberikan komitmen untuk membantu Indonesia. Pengadaan heli ini menggunakan kredit negara Rusia, melalui penerapan syarat yang ringan. "Pemerintah Rusia ingin kerja sama dengan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanan," katanya.

Berita di atas sangat menarik bukan saja bagi analis pertahanan nasional Indonesia sendiri, melainkan juga para analis di Washington DC. Pengalihan Indonesia ke Rusia membuat AS seperti 'kebakaran jenggot', khawatir pengaruhnya di Asia Tenggara tergeser oleh Rusia dan China. Maka, buru-buru Parlemen AS segera menyetujui penjualan Heli Serang Apache AH 64 Long Bow untuk Angkatan Bersenjata Indonesia, di luar hibah 24 unit F-16 Block 50. 


Belum pasti, namun kemungkinan menyandingkan dua heli serang canggih dari dua kutub yang berbeda akan sangat bagus. 


Indonesia, negara pendiri Non Blok, sejak awal berprinsip "Having much friends without enemy", bebas ke mana saja menjalin kerjasama militer. Memang seharusnya demikian. Kita boleh saja dekat dengan AS, namun jangan sampai 'terikat' dan bergantung pada mereka. Kita pun tidak perlu ragu untuk dekat dengan Rusia dan China, karena ketika zaman Presiden Soekarno pun jalinan kerjasama dengan 'blok Timur' sangat erat. Dan Indonesia, sebagai negara merdeka, juga menjalin kerjasama dengan Iran, Venezuela, maupun kelompok negara-negara Amerika Latin termasuk Brazil dan Argentina.


Kembali ke topik kita : dua heli serbu asal Rusia dan Amerika Serikat. Analis Barat cenderung mengunggulkan Apache atas Mi 35, sama seperti mereka memberi peringkat lebih baik pada Jet Fighter F-16 ketimbang Sukhoi Su 27. Pendapat itu mungkin benar, tapi mungkin juga tidak. Dalam beberapa momen latihan bersama baik latihan bilateral antara Indonesia-Australia maupun latihan trilateral antara Indonesia-Australia-Amerika Serikat beberapa waktu lalu, di mana kedua jenis pesawat tempur itu terlibat, justru menunjukkan Su 27 lebih hebat ketimbang F 16 bahkan masih lebih unggul jika dibandingkan dengan Jet Fighter F/A-18 Super Hornets sekalipun. Ini sempat mencemaskan Australia, saat niat mereka untuk mendatangkan F35 Lingthning II sebagai penyeimbang kekuatan udara Indonesia terkendala oleh harga yang terbang tinggi.


Ini mirip perbandingan senjata legendaris AK47 (Rusia) dan M16 (AS). AK47 terkenal sebagai senjata handal, demikian juga M16. AK47, menurut prajurit Kopassus yang pernah menggunakannya, sangat bandel dan kuat. Senjata ini tidak akan macet meskipun ditenggelamkan di dalam lumpur. 



AK 47 Guns Rusia
Sebaliknya, M16 akan macet jika digunakan dalam medan ganas seperti itu. M16 harus ditenteng tinggi-tinggi agar tidak terkena air atau lumpur manakala digunakan, jadi rentan terhadap kendala alam. Namun M16 memiliki fokus yang lebih akurat dan tembakan lebih presisi.

M16 Guns, US.
Indonesia akhirnya memproduksi sendiri senjata serbu SS-1 dan kemudian disempurnakan lagi menjad SS-2, SS-3, lalu SS-4. Senjata ini, merupakan gabungan keunggulan dari AK47 dan M16 : sebandel dan sekuat AK47, dan seakurat dan sepresisi seperti M16. Senjata ini adalah perpaduan antara Rusia dan AS. Inspirasinya dari sana. Senjata SS2 bahkan sekarang menjadi pesaing utama AK47 dan M16 di dunia.
Senapan Serbu SS2 Indonesia

Jika Indonesia bisa menciptakan senjata terhebat di dunia berkat belajar dari dua kekuatan dunia Rusia dan AS, maka kita juga bisa berbuat hal yang sama untuk teknologi peralatan lainnya. Pengalaman memiliki dan memakai AK47 dan M16 telah memberi inspirasi sehingga tercipta SS-2, maka sangat mungkin kita juga bisa buat Heli Tempur yang mengawinkan dua keunggulan dari masing-masing : Mil Mi 35 Hind Attack Gunship dan AH64 Apache Long Bow.
Hal serupa sama juga bisa kita lakukan untuk belajar membuat pesawat tempur yang memadukan keunggulan dari F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi Su 30 MK2. Potensi ke arah itu ada, sangat mungkin terjadi, karena kita mempunyai akses untuk kedua-duanya. Mudah-mudahan proyek IFX bisa terwujud sehingga Indonesia mampu segera membuat pesawat tempur sendiri generasi ke-5, lebih hebat dari F-16 dan lebih digdaya dari Su 30. 

Posisi Indonesia yang netral bisa memberi keuntungan tersendiri,--tidak seperti Australia yang 100% terikat dengan AS dan Inggris, atau Korut/China yang dekat dengan Rusia, yang oleh karenanya hampir tak mungkin membeli peralatan tempur dari AS/NATO,--kita bisa memanfaatkan dua negara adidaya itu, AS dan Rusia, untuk berkembang ke arah depan yang lebih baik. 


Ketika AS enggan memberikan teknologi roket mereka untuk Indonesia, kita bisa memperolehnya dari sahabat Timur kita, China. Ketika China belum memiliki teknologi pembuatan pesawat terbang secanggih AS, kita bisa memperolehnya dari Jerman, guru Amerika waktu dulu dalam hal penerbangan. 


Ketika transfer teknologi mensyaratkan pembelian mahal dari negara-negara maju untuk Kapal Selam dan Jet Tempur, kita malah bisa mendapatkan itu dari Korea Selatan. AS tidak mau mengalihkan teknologi itu ke Indonesia, tetapi mereka mau memberikannya pada Korea Selatan. Hubungan Indonesia-Korea Selatan sangatlah dekat, saling percaya,  dan bersahabat. Namun Indonesia juga 'dekat' dengan Korea Utara, dan hal ini sempat diakui oleh pemerintah Korea Selatan sendiri yang sempat meminta Indonesia agar mau lebih aktif membantu krisis kedua Korea.   

Ketika kita kekurangan minyak dan tak mungkin mengimpor dari China/Rusia apalagi AS atau Eropa Barat, kita bisa memperolehnya dari Irak atau Venezuela, atau bahkan Iran. Strategi pemimpin kita untuk bersikap 'cair' memberikan keuntungan tersendiri, tidak dicurigai oleh AS seperti mereka curiga pada Iran, tidak dimusuhi AS sebagaimana mereka memusuhi Cuba, Venezuela, atau Bolivia. Kita berprinsip : Having much friends with no enemy. Ini terlihat ketika Presiden SBY berkunjung ke Jerman dan kembali dengan pengamanan maksimal, dikawal oleh tiga pesawat tempur Eurofighter milik Angkatan Udara Jerman, betapa mereka menghormati kita. 


Ketika dalam Forum Demokrasi di Bali pemimpin Iran Presiden Mahmoud Ahmadinejad tampak tampil di podium berdiri bersama Presiden Indonesia, SBY, dan PM Australia, Julia Gillard--memperlihatkan bagaimana cairnya hubungan antar kawasan bersama Indonesia.



Bagaimanapun juga, ada hal yang membanggakan dari negeri ini yang dalam sejarahnya selalu mengedepankan perdamaian dan persahabatan. Ini sangat penting bagi Indonesia ketimbang terlibat konflik yang melelahkan dan saling curiga seperti yang terjadi di kawasan lain. Di bawah kepemimpinan Indonesia, ASEAN semakin solid dan dipandang memiliki DNA yang sama dengan Uni Eropa. Indonesia berperan penting dalam mendamaikan perang Kamboja-Vietnam beberapa waktu lalu. 

Pertahanan Indonesia semakin kuat namun di saat yang sama tumbuh perasaan saling percaya antara Indonesia-Malaysia, Indonesia-Singapura, sehingga terhindar dari perlombaan senjata nuklir di kawasan. Tidak seperti Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Semenanjung Korea, dan Amerika sendiri yang telah menjadi kawasan nuklir, ASEAN sejauh ini masih steril dari senjata pemusnah massal mematikan itu. Ketenangan dan kedamaian sangat penting agar kita bisa lebih fokus untuk tumbuh dan maju.  

Kembali ke inti pembahasan kita : Heli Serang AH64 Apache dan Mil Mi 35 Hind Gunship. Akan lebih lengkap lagi, jika ada dana kita bisa memiliki Eurocopter EC 665 Tiger Attack Helicopter buatan Jerman. Jadi kita bisa memadukan ketiga heli serang itu masing-masing dalam satu produk unggul kita sendiri ke depan oleh PT DI. 

Dengan kemampuan kita membuat Helikopter kelas multifungsi Super Puma, Bell 412 EP, dan pabrik di Bandung yang kita punya, rasanya tidak terlalu sulit mewujudkan impian itu. Dibandingkan tahun kondisi kita di 1960-an, impian itu hanya berjarak beberapa langkah ke depan. Heli serang buatan Indonesia, sehebat Mi 35 dan setangguh AH-64 Apache, bisa menjelajah wilayah udara nusantara, bahkan dunia.    
Dapat uang melalui internet




Saturday, March 30, 2013

PT DI Buat Helikopter Berteknologi Tinggi : EC-725-Cougar

Helikopter Cougar EC 725 : produk PT DI berikutnya.

Tinggalkan Super Puma, PT DI Buat Helikopter Berteknologi Tinggi

Rista Rama Dhany - detikfinance
Rabu, 27/03/2013 13:02 WIB


Helikopter kelas Heavy seperti ini
yang akan dibuat PT DI pada 2014
Langkawi - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tidak lagi memproduksi helikopter mewah dan canggih Super Puma NAS332C1. BUMN ini sedang memproduksi helikopter berteknologi tinggi dan lebih canggih yakni EC-725-Cougar.

"Kita tidak lagi produksi Super Puma, kita tinggalkan itu. Memang Super Puma ini saja helikopternya canggih, sekelas Mercy kalau di merek mobil," ucap Direktur Utama PT DI Budi Santoso ditemui di 12th Langkawi International Maritime & Exhibition 2013 (LIMA '13), Malaysia, Selasa (26/3/2013).

Dikatakan Budi, saat ini sudah ada helikopter bertekonolgi yang lebih baru lagi yakni Helikopter Cougar yang jauh lebih canggih.

"Kita sekarang memproduksi Cougar EC-725, tekonologi dan peralatannya jauh lebih bagus dibandingkan Super Puma. Ya seperti mobil kijang, kan dari kapsul makin tahun ada pembaruan. Nah Cougar ini generasi terbaru helikopter di kelas heavy," ungkap Budi.

Diakui Budi, helikopter Cougar ini memang tidak 100% buatan PT DI sendiri. "Justru Cougar ini lisensinya dan desainnya punya EuroCopter, sama seperti Super Puma yang punya Eurocopter, tapi dari desain menuju produksi kami yang melakukan, seperti pembuatan hampir seluruh bagian badan helikopter seperti fuselage and tail boom," terangnya.

Saat ini PT DI sedang mengerjakan 6 helikopter Cougar pesanan TNI yang rencananya akan selesai dikerjakan pada 2014.

Saturday, March 16, 2013

PT DI serahkan 6 helikopter Bell-412 EP pesanan TNI AD

Reporter : Andrian Salam Wiyono

PT DI serahkan 6 helikopter Bell-412 EP pesanan TNI AD
Penyerahan helikopter Bell. ©2013 Merdeka.com

PT DI serahkan 6 helikopter Bell-412 EP pesanan TNI AD

Reporter : Andrian Salam Wiyono



Merdeka.com : PT Dirgantara Indonesia (DI) secara resmi menyerahkan enam unit Helikopter Bell-412 EP ke TNI AD. Enam Pesawat berkapasitas 13 penumpang ini diserahkan di Hanggar Rotary, Jalan Pajajaran, Bandung.

Serah terima ini langsung ditandatangani Direktur PT DI Budi Santoso, Kepala Barahanan Kemhan Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, untuk kemudian diserahkan ke Brigadir Jenderal Mochammad Afifuddin selaku pengguna.

Adapun penyerahan enam unit Helikopter Angkut Type Bell-412 EP didasarkan pada kontrak jual beli sebesar USD 65 juta dolar pada tahun ini antara Kementerian Pertahanan dengan PT DI dengan sumber dana dari fasilitas kredit ekspor TA 2009.

Direktur PT DI Budi Santoso berharap dengan penyerahan enam pesawat ini mampu membawa pengaruh besar untuk pertahanan Indonesia, khususnya TNI AD dalam mengemban tugasnya.

"Industri pertahanan ini bagian dari integral. Kami PT DI dengan kerja sama yang berkesinambungan dapat memiliki nilai kompetitif dan bersaing," katanya Jumat (15/3).

Dengan kerja sama ini, kata dia PT DI juga selalu berupaya memenuhi kebutuhan yang diminta untuk Indonesia. Disadari PT DI, kebutuhan alut sista bagi TNI akan terus meningkat. "Jadi kami selalu berupaya untuk memenuhi tuntutan yang dimitna," ujarnya.

Menurutnya TNI AD selama ini merupakan pengguna terbesar helikopter produksi PT DI. "Saya harap ke depan TNI AD tetap mempercayakan dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan," jelasnya.

Atas upaya itu juga semula yang di mana enam pesawat ditargetkan pada September mendatang, bisa dipenuhi hingga hari ini enam pesawat resmi diserah terima kan.

Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis mengatakan dasar kerja sama yang berkesinambungan dengan PT DI bagian dari upaya pemerintah dan komitmen menggunakan produksi dalam negeri.

"Saat ini Jumlah Heli TNI AD ada 23 unit dengan ditambah tentu semakin memperkuat pertahanan. Saya yakin bahwa PT DI berupaya maksimal untuk produksi alutitsta. Bahkan PT DI membuktikan prestasinya," ungkapnya.

Helikopter type bell 412 EP ini sendiri merupakan helikopter serbaguna yang ditenagai oleh sepasang engine, pratt dan whitney PT6T-3D dengan empat bilah rotor utama dan dua bilah rotor ekor. Helikopter ini termasuk kelas menengah diawaki 2 pilot dan co pilot serta 13 penumpang.

Keandalannya dalam operasi baik di Indonesia maupun negara lain, Heli ini mampu melaksanakan misi militer juga penerbangan sipil, operasi SAR, dan pemadam kebakaran.
[bal]