Showing posts with label pesawat nir awak. Show all posts
Showing posts with label pesawat nir awak. Show all posts
Thursday, June 27, 2013
Sunday, June 9, 2013
Film dokumenter ingatkan perlawanan "perang kotor" Obama
Sebuah film dokumenter yang diluncurkan pada Jumat (7/6) waktu setempat menggambarkan penyerangan rahasia Amerika Serikat terhadap para tersangka teror sebagai sebuah kampanye pembunuhan salah sasaran dan justru menghasilkan musuh-musuh baru serta merusak citra negara.
Melalui film berjudul "Dirty Wars: The World is a Battlefield", jurnalis Jeremy Scahill mengutuk "pembunuhan bertarget" atas milisi terkait Al-Qaida dalam sebuah serangan peluru kendali dan penyerbuan malam hari berdasarkan perintah sebagai sesuatu yang menyenangkan, sebuah negara perang permanen yang "lepas kendali".
Film tersebut berupaya menyoroti operasi yang berlangsung di bawah bayangan semenjak serangan 11 September 2011 (kerap dikenal sebagai peristiwa 9/11), dengan berfokus pada penumpasan warga sipil di Afghanistan dan Yaman.
Film dokumenter itu menceritakan serangan gagal yang dilakukan pasukan operasi khusus di desa Gardez, Afghanistan, yang menewaskan lima orang termasuk dua perempuan hamil.
Film itu juga menyisipkan rekaman video pribadi yang diambil oleh keluarga Afghanistan, menampilkan sebuah acara kumpul-kumpul diselingi tari-tarian dan tawa hanya beberapa menit sebelum orang-orang terdekat mereka dihujani peluru panas.
Salah seorang korbannya belakangan diketahui sebagi seorang polisi Afghanistan yang dilatih oleh AS.
Para penghuni desa lantas murka, bersumpah memerangi komandan berjenggot yang mereka sebut sebagai "Taliban Amerika".
"Apabila orang Amerika melakukan ini lagi, kami siap menumpahkan darah untuk memerangi mereka," kata salah seorang warga Afghanistan.
Kabar tentang serangan tersebut tersebar namun pasukan AS bersikeras korban mereka adalah anggota Taliban, sebelum akhirnya meminta maaf untuk kesalahan tragis tersebut.
Dalam sebuah wawancara Scahill mengatakan operasi rahasia semacam itu kontraproduktif dan salah secara moral, menimbulkan lebih banyak sikap anti-Amerika.
"Saya mendapati kesimpulan setelah beberapa tahun melakukan pekerjaan ini, bahwa kita (AS) menciptakan lebih banyak musuh baru ketimbang menumpas teroris yang sesungguhnya," kata Scahill, yang juga sempat menulis buku tentang perusahaan penyedia jasa keamanan privat penuh skandal, Blackwater.
"Tujuan film ini bukan untuk mengarahkan bagaimana orang berpikir tentang hal semacam ini (operasi khusus), tetapi menyajikan narasi berbeda dibandingkan yang biasa didengar lewat televisi," ujarnya dikutip AFP. (AntaraNews).
Labels:
Drone,
LARs,
Obama,
perang kotor,
Pesawat,
pesawat nir awak,
Pesawat tanpa awak,
UAV
Wednesday, June 5, 2013
Pesawat Tanpa Awak, Kini Sebesar Nyamuk
![]() |
| Mosquito MAV. Gambar: networkworld.com |
Kemajuan teknologi semikonduktor telah memungkinkan manusia menyederhanakan ukuran fisik perangkat komputer dari sebesar almari pakaian menjadi hanya sebesar coin uang logam. Kemajuan yang sangat revolusioner ini dipicu oleh penemuan teknologi semikonduktor yang sangat spektakuler, sehingga perangkat teknologi pintar semakin lama semakin kecil dengan kemampuan yang semakin hebat.
Sejauh mana Indonesia menguasai teknologi semikonduktor ini ? Beberapa waktu yang lalu penulis pernah mem-posting artikel berjudul "Indonesia sanggup membangun industri semikonduktor". Jika Indonesia mampu membangun industri teknologi tinggi semikonduktor ini sendiri secara mandiri, maka ke depan kita akan sanggup membangun sistem pertahanan yang kuat yang ditopang oleh penguasaan teknologi tinggi ini untuk menciptakan alat-alaty canggih mikro untuk berbagai tujuan seperti untuk mata-mata (surveillance), sistem radar, pembuatan sistem avionik dan sistem sensor pesawat, dan lain-lain. Bahkan mungkin kita juga mampu membuat drone mikro (PUNA mikro) yang bisa disusupkan ke wilayah-wilayah hutan untuk mengawasi OPM, atau di perbatasan dan bahkan di pusat kota.
Sekarang ini telah tercipta drone mikro sebesar nyamuk dan secara fisik menyerupai nyamuk. Nyamuk ini bukan nyamuk biasa. Ini adalah Mosquito Micro Air Vechile (MAV), yang merupakan jenis Unmanned Aerial Vehicles (UAV). Jika saya sederhanakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari, nyamuk ini adalah robot yang bisa terbang, yang masuk dalam kelompok pesawat terbang tanpa awak berukuran mikro. Pesawat terbang tanpa awak berukuran lebih besar yang sering kita dengar disebut-sebut, adalah Drone.
Mosquito MAV adalah salah satu dari Cyborg Insect Drones yang telah dikembangkan, dimana sebelumnya MAV yang berukuran lebih besar, seukuran lalat diperkenalkan oleh US Air Force pada tahun 2007.
.
Micro Drone. Gambar : networkworld.com
.
Unmaned Aerial Vehicles, sebagaimana namanya, adalah peralatan pesawat tanpa awak yang digunakan untuk mendukung kerja angkatan bersenjata. Biasanya dilengkapi dengan camera, microphone dan senjata.
Mosquito Drone pada gambar pertama, memiliki jarum suntik yang dapat mengambil sample DNA, secara bersamaan menyuntikkan RFID-chip (Radio Frequency Identification) ke dalam tubuh manusia. RFID adalah perangkat yang menggunakan frekwensi radio untuk mentransfer data, mengidentifikasi dan melacak objek. Jadi, sekali tubuh anda ditanami RFID, maka keberadaan anda dapat dipantau dari mana saja.
Dengan kemampuan mengambil sampel DNA dan menyuntik, maka micro drone dapat digunakan sebagai biological weapon.
Pengendalian jarak jauh micro drone juga dapat dilakukan dengan baik. Micro drone mampu terbang dengan berbagai formasi, dan dapat diterbangkan di medan yang sulit, tanpa bertabrakan atau menabrak objek rintangan. Perhatikan video berikut ini.
Ini inovasi yang mengagumkan. Jika diterapkan di bidang militer, teknologi ini bisa menjadi ancaman yang sangat serius dalam mengatasi mata-mata musuh. Teknologi ini bisa sangat berbahaya, tapi juga mengagumkan.
Dan yang ini adalah pesawat Nano yang lain :
Dan yang ini adalah pesawat Nano yang lain :
Labels:
Drone,
pengetahuan teknologi,
Pesawat,
pesawat nir awak,
Pesawat tanpa awak,
PUNA,
UAV
Tuesday, May 21, 2013
Kapal Induk dan Pesawat Nir Awak X-47B: Indonesia Akan Mampu Membuat Sendiri Nanti.
![]() |
| Pesawat tempur nir awak X-47B lepas landas dari Kapal Induk dalam percobaan beberapa waktu lalu |
Keberhasilan Angkatan Laut AS dalam uji coba lepas landas pesawat tempur tanpa awak X-47B dari kapal induk beberapa waktu lalu adalah awal baru dimulainya sistem pertahanan AL di dunia. Keberhasilan itu merupakan kemajuan tidak saja bagi AS, namun juga mampu memberi inspirasi untuk membangun peralatan tempur yang sama bagi negara-negara lain seperti Rusia dan Cina. Tak terkecuali, sang macan yang baru tumbuh di Asia : Indonesia.
Jangan dulu memandang rendah negara kita ini dengan segala macam kemampuannya untuk sejajar dengan negara-negara maju. Indonesia adalah anak macan, bukan anak ayam yang baru tumbuh.
Enam puluh delapan tahun yang lalu, Indonesia baru merdeka dan kita hanya memiliki satu atau dua teknolog yang belum bisa membuat alat tempur apapun. Belanda melarang kaum pribumi untuk sekolah walau hanya di tingkat SD sekalipun kecuali mereka yang anak raja atau Bupati atau keturunan Timur asing seperti orang-orang Cina. Para warga pribumi tidak diberi kesempatan untuk sekolah, dibiarkan buta huruf, hidup dalam kemelaratan dan keterbelakangan. Tahun 1945, hampir 99,99 % warga pribumi Indonesia tidak mampu membeli sekilo beras atau sehelai baju. Mereka makan gaplek (singkong yang dikeringkan) setiap hari dan memakai baju dari bahan karung goni yang penuh dengan kutu. Kebodohan dan kemiskinan ada di mana-mana, mulai dari Aceh hingga Merauke, akibat dari penjajahan dan penindasan yang sangat lama.
Makan nasi adalah kemewahan saat itu, dan makan sebutir telur adalah hal yang hampir-hampir tidak mungkin. Kemiskinan melanda nusantara di mana-mana akibat penjajahan. Sedangkan orang Indonesia keturunan Tionghoa memperoleh keistimewaan yang tidak didapat oleh kaum pribumi, yakni mereka punya akses sekolah sampai perguruan tinggi, makan enak bergizi, diperbolehkan memiliki usaha sendiri dan bahkan menjabat beberapa posisi pemerintahan di tingkat atas. Ini adalah politik Belanda untuk memecah belah Indonesia dengan politik busuk mereka, devide et impera : pecah belah mereka niscaya mereka akan lemah. Itulah sebabnya para keturunan Tionghoa memiliki kemajuan ekonomi yang lebih dibandingkan kaum pribumi, karena perbedaan akses baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun kekuasaan telah tertinggal selama 350 tahun lebih.
Selama 350 tahun orang-orang pribumi Indonesia hidup dibawah telapak kaki Belanda, diinjak-injak, dipandang tak lebih dari orang-orang bermuka hitam yang hanya pantas untuk diludahi, diperlakukan sebagai warga kelas 3 (warga kelas 1 adalah orang-orang kulit putih, warga kelas 2 adalah keturunan timur asing seperti orang-orang Cina) dibuat miskin dan bodoh. Secara mental, kita telah dirusak : dikondisikan sedemikian rupa sehingga hidup dalam suasana inferior, tidak memiliki kepercayaan diri, merasa tak mampu dan dibiarkan secara sengaja hidup terbelakang.
Tentu saja mental inlander ini tidak mudah hilang begitu saja, sementara kita menyaksikan mereka yang lebih dulu mulai, melesat jauh di depan. Orang-orang pribumi mulai menunjukkan kemampuannya sedikit demi sedikit setelah kesempatan itu datang. Lahirlah pengusaha-penguasaha baik kecil, sedang, maupun besar dari kalangan pribumi untuk mengejar saudara-saudara mereka keturunan Tionghoa yang telah 'mencuri start', di-anak-emaskan Belanda selama 350 tahun lebih dulu.
Kita tidak hendak membenci orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa, namun sejarah masa lalu hendaknya dipahami bahwa warga Indonesia pribumi perlu proteksi sampai mereka menjadi sejajar dengan warga lainnya karena 'start' nya pun tidak sama. Penulis setuju dengan cara Malaysia dalam memberi kesempatan kaum pribumi tumbuh lebih kuat lebih dulu, baru dibiarkan untuk berkompetisi secara adil.
Secara logika, jika dalam perlombaan marathon Jakarta-Surabaya kaum pribumi harus mulai dengan berlari di atas dua kaki sendiri dari Lebak Bulus sementara kaum Tionghoa sudah mencuri start dari Solo dan mereka diperbolehkan naik motor, apakah perlombaan itu adil ?
Tidakkah lebih adil jika kaum pribumi diberi fasilitas lebih dahulu untuk mengejar ketertinggalannya hingga ke Solo, baru mereka sama-sama berlari dari start yang sama dan dengan cara yang sama pula menuju garis finish di Surabaya ?
Baiklah, kita kembali ke pembahasan kita.
Enam puluh delapan tahun adalah usia yang masih sangat muda untuk sebuah negara. Tahun 1945 kita hanya punya segelintir insinyur yang hanya tahu cara kerja mesin uap. Namun empat puluh tahun kemudian, siapa sangka, kita mampu membuat peswat dan kapal perang sendiri. Kita juga bisa membuat roket dan satelit sendiri.
Jika AS mampu melepas landaskan pesawat nir awak X-47B dari kapal induk mereka setelah 250 tahun lebih dulu merdeka, maka, 250 tahun dari sekarang, percayakah Anda, Indonesia tidak akan mampu membuat peralatan yang sama ?
Saya kira tidak, kita tidak butuh waktu 250 tahun lagi untuk mampu membuat hal yang sama. Kita, mungkin saja, hanya butuh waktu kurang dari 70 tahun untuk mencapainya. Bahkan bisa lebih cepat lagi.
Pesawat nir awak X-47B ini lepas landas dari kapal induk setelah dilepas dengan ketapel dari dek kapal induk pada hari Selasa, minggu lalu. Pesawat, yang merupakan Unmanned Combat Aerials System (UCAS), terbang dari dek kapal induk USS George H.W. Bush, lalu melakukan pendaratan di dek kapal induk itu lagi dan lepas landas lagi secara berulangkali sebelum akhirnya terbang ke pangkalan terdekat di daratan.
X-47B adalah pesawat demonstrator, pesawat nir awak modern pertama dengan sayap-tetap (fixed-wing), sebelum akhirnya dibuat pesawat yang memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara penuh di kapal induk.
Ke depan, X-47B diharapkan akan mampu berperan sebagai jet tempur otonom (Unmanned Carrier Launched Airborne Surveillance and Strike system, or UCLASS) untuk angkatan laut AS. Aspek yang perlu dibenahi adalah tingkat keakurasian dari GPS dan teknologi navigasi baik di pesawat nir awak itu sendiri maupun di kapal induknya. Hal tersulit adalah melakukan kalibrasi teknologi GPS hingga ke tingkat ketelitian sampai sekecil-kecilnya dari sistem kendali di peswat induk dan di pesawat itu sendiri. Perhatikan video di bawah ini.
Di dalam video di atas terlihat bahwa pesawat X-47B sempat dua kali terbang melintasi kapal untuk mendekati landasan sebelum akhirnya dua kali menyentuh landasan dek dan melaluinya. Pendekatan pendaratan adalah hal yang tersulit. Mendekati landasan yang amat pendek di atas kapal induk, melaluinya, dan lepas landas lagi saat gagal berhenti mendarat. Seperti pilot sedang melakukan latihan pendaratan. Di atas geladak kapal induk, manuver sangat signifikan menentukan, lepas landas secara cepat, jika mereka gagal menyentuh kabel penahan di dek kapal induk saat mendarat.
Dua kali penerbangan di atas kapal bukan sekedar untuk pertunjukan, melainkan bagian penting dan menarik dari video tersebut tentang upaya pendekatan pendaratan secara benar. Dalam dua kali percobaan mendekati dek di mana X-47B tidak menyentuh landasan, pada dasarnya adalah latihan bagi staf sinyal pendaratan (Landing Signal Officer) dalam penerbangan di atas dek dan bagi pesawat itu sendiri dalam memutuskan pendaratan aman/belum. Ini bisa terjadi lantaran dek terlihat belum aman (seseorang atau kendaraan sedang ada di atas area landing, misalnya) atau karena komputer yang ada pada pesawat nir awak X-47B masih mendeteksi sesuatu yang belum beres di jalur pesawat atau sudut pendekatan dan kecepatan yang belum pas.
Dengan kata lain, dua kali penerbangan adalah test kemampuan bagi kapal induk dan pesawat itu sendiri dalam berbagi data yang super cepat itu dalam sistem secara keseluruhan.
Momen-momen sentuhan antara pesawat dan kapal serta tinggal landasnya UAV menunjukkan sistem telah bekerja secara spektakuler, meletakkan X-47B di atas dek dan kemudian mengirimkan kembali terbang ke atas udara hingga manuver selesai. Pihak AL masih perlu mensertifikasi kapabilitas pendaratan dalam simulator yang identik datanya (terrestrial carrier simulator) dengan percobaan tersebut di stasiun terdekat, Markas Angkatan Laut Patuxent River di Maryland’s Chesapeake Bay. Masih banyak hal yang harus disempurnakan agar pesawat itu mampu menjalankan misinya sebagaimana yang dikehendaki.
Ke depan, perkiraan saya, pertarungan antar drone antara satu negara dengan negara lainnya bukan pada saling tembak antara satu UAV dengan UAV lainnya, melainkan antar programmer di depan monitor dengan programmer musuh di monitor komputer lainnya seperti layaknya permainan Games Online. Mengapa ?
Semenjak kejadian penyusupan virus komputer di dalam 'otak' drone milik AS beberapa waktu yang lalu, membuat orang berpikir : drone bisa direbut kendalinya oleh musuh dengan menggunakan malware canggih. Jadi ketika Indonesia misalnya, bisa merebut kendali atas drone-drone AS dengan memperdayakan progrtammer handal kita, maka para pengendali kita akan mampu megarahkan drone AS itu untuk menembaki kapal mereka sendiri.
Bagaimana dengan Indonesia ?
Seperti yang penulis katakan di atas, Indonesia punya potensi untuk maju. Beberapa teknologi yang harus dikuasai Indonesia agar bisa membuat kapal induk setara dengan kapal induk George HW Bush dan pesawat nir awak secanggih X-47B adalah :
1. Pengembangan galangan kapal PT PAL dan kapasitas pabrik untuk membuat kapal yang lebih besar, sekelas kapal induk. Ini berarti PT PAL harus memperbaiki manajemen agar lebih efektif dan efisien secara keseluruhan, memperkuat R & D dan memperluas pasar untuk meningkatkan order proyek di luar proyek dari Dephankam.
2. Meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi software untuk Sistem informasi seperti programmer, ahli-ahli semikonduktor, dan penerbangan.
3. Meningkatkan kemampuan peneliti dan ahli di bidang satelit dan radar.
4. Meningkatkan kemampuan PT DI agar bisa mengembangkan teknologi pesawat nir awak bersama dengan BPPT.
5. Secara keseluruhan, pemerintah harus memperbaiki manajemen perusahaan BUMN di bawah BPIS agar bisa berlari lebih cepat dan tanggap pada perubahan dan perkembangan teknologi di luar negeri.
6. Dan yang terakhir, satu hal musuh terbesar kemajaun yang harus dibantai habis-habisan : korupsi ! Korupsi adalah musuh utama Indonesia, bukan Malaysia, Philipina, Thailand dan semacamnya. Jangan dikira korupsi itu murni karena orang-orang Indonesia saja. Korupsi terjadi karena lobby-lobby agen CIA untuk meng-goal-kan UU Migas, USAID yang menggelontorkan dana milyaran dollar untuk membantu mendanai penyusunan UU Migas dan mineral lewat kamuflase pelatihan orang-orang ESDM dan stake holder yang lain.
Ini analog dengan pengembangan mobil listrik nasional. Saat Bosch, perusahaan asal Jerman mengatakan bahwa Indonesia masih butuh 20 tahun lagi untuk bisa mengembangkan mobil listrik yang siap dipasarkan.
Dahlan Iskan dan Kemenristek tidak percaya ucapan orang-orang Bosch itu, dan tidak mau tahu omongan orang asing yang melemahkan. Pak Dahlan dan Kemenristek jalan saja, "just do it", kerjakan saja .... maka terwujudlah dalam waktu kurang dari 1 tahun bus listrik Elvina untuk melayani trayek umum di Yogyakarta. Sekali lagi penulis ulangi, kurang dari 1 tahun ! Bus ini akan dijadikan kendaraan umum untuk melayanai masyarakat Yogya yang bergerak dalam satu jalur antara dua titik, sambil terus dibenahi kekuarangannya, dan disempurnakan dari waktu ke waktu sebelum akhirnya siap untuk diproduksi secara besar-besaran.
Ya, begitulah seharusnya kita bekerja. Just Do it ! Tidak usah pedulikan kritikan dan omongan orang asing yang menyurutkan langkah kita, men-demotivasi diri kita, dan hendaknya kita selalu optimis. Bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dengan lebih dahulu memperbaiki mental buruk mudah menyerah, pesimis, dan melemahkan diri sendiri. Cukup sudah kita diinjak-injak oleh Belanda selama berabad-abad, dan kita coba menatap ke depan bahwa kita mampu menjadi bangsa yang kuat dan hebat. Penguasaan teknologi maju bukan hak eksklusif bangsa kulit putih semata, melainkan hak semua bangsa di dunia tanpa kecuali, termasuk bangsa Indonesia.
Labels:
Drine X-47B,
Drone,
GPS,
kapal induk,
pesawat nir awak,
Pesawat tanpa awak,
PUNA,
UAV,
UCLASS
Monday, May 6, 2013
RI Siap Produksi Pesawat Pengintai Tanpa Awak
![]() |
| PUNA Wulung |
Menyusul rencana memproduksi pesawat pengintai tak berawak, Kementerian Pertahanan RI menyatakan semua pesawat itu tidak bersenjata. Meski begitu, Kementrian Pertahanan Indonesia mengatakan sudah punya rencana jangka panjang untuk mempersenjatai model yang bisa menembakkan misil atau menjatuhkan bom-bom.
Seperti diungkap Samudro, Direktur Badan Penerapan Riset dan Teknologi yang ikut merancang prototype itu, pesawat pengintai tak berawak Wulung mengirim video langsung kepada stasiun-stasiun pengendali di darat tapi hanya bisa terbang sampai empat jam dan sejauh 73 kilometer dari pusat pengendaliannya di darat.
Sebagai perbandingan, beberapa pesawat pengintai Amerika bisa terbang lebih dari satu hari tanpa mengisi bahan bakar dan bisa dikendalikan lewat satelit dari jarak ribuan kilometer jauhnya.
Dengan teknologi canggih dan didukung infrastruktur rumit, pesawat pengintai tak berawak yang bersenjata telah menjadi bentuk alat perang baru yang sangat modern, seperti dilansir situs voa.
Dalam upaya menyaingi kemampuan senjata global, pembuatan pesawat pengintai Indonesia harus dimulai dari sekarang. Tidak masalah jika harus dimulai dari jangkauan puluhan kilometer dahulu karena lama kelamaan bisa ditingkatkan dengan jangkauan yang jauh lebih besar. BPPT bisa menjadi semacam litbang untuk merekayasa pesawat tanpa awak yang lebih canggih yang dikendalikan dengan menggunakan satelit. Sementara LAPAN sedang mengembangkan satelit sendiri untuk diluncurkan dengan roket milik sendiri nanti, pesawat tanpa awak Indonesia bisa siap untuk mengudara dengan jangkauan ribuan kilometer.
Yang penting titik awal itu telah kita mulai dan perjalanan jauh sedang dilaksanakan. Jika negara-negara lain terutama angkatan bersenjata negara-negara besar menggunakan beberapa jenis pesawat pengintai tak berawak yang dibeli dari pemasok utama seperti Israel dan Amerika, I
Indonesia bisa saja membeli dari AS untuk dipreteli / dipelajari jika AS mau menjualnya ke Indonesia. Tapi jika mereka tidak bersedia, mau tidak mau Indonesia harus melakukan pengembangan sendiri ke depan.
Perjalanan panjang ribuan kilometer selalu dimulai dari satu langkah awal. Yang penting Indonesia harus konsisten dengan rencana itu, dan jangan pedulikan kritikan orang-orang yang hanya pintar melontarkan cemoohan.
Tantangan Ke depan
Tantangan pengembangan ke depan dari sisi teknis adalah Indonesia belum pernah meluncurkan satelit sendiri dengan menggunakan roket milik sendiri. LAPAN memperkirakan lima tahun lagi Indonesia sudah bisa membuat roket pembawa satelit ke luar angkasa, sementara satelitnya sendiri sejauh ini LAPAN sudah mampu membuatnya atas bantuan Jerman.
Namun LAPAN tampaknya sedang mengembangkan satelit yang lebih canggih untuk keperluan pengintaian, dengan teknologi yang lebih rumit dari pada teknologi satelit untuk pengamatan cuaca dan sistem komunikasi.
Jika sudah pada tahap itu, tampaknya BPPT dan konsorsium tidak akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan pesawat tanpa awak itu hingga mampu terbang ribuan kilometer. PT DI tentunya juga sudah mulai memikirkan bagaimana pesawat itu bisa terbang selama berhari-hari dari sisi bahan bakarnya. Bersama LEN, sangat mungkin konsorsium mampu menghasilkan pesawat terbang bertenaga surya atau dengan bahan bakar lainnya.
Tantangan yang lain adalah dari segi pengembangan software dari pesawat tanpa awak tersebut. Konsorsium BPPT, PT DI, LAPAN, dan PT LEN perlu menggandeng ITB atau UI atau ITS untuk mengembangkan perangkat lunak yang sesuai dengan tujuan. Indonesia memiliki ribuan programmer handal yang mampu mewujudkan rencana itu yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di dalam negeri maupun di luar negeri.
Jika konsorsium mau mengikuti langkah Dahlan Iskan dalam merekrut orang-orang Indonesia terbaik dari seluruh dunia, maka itu akan bisa mempercepat langkah itu. Penulis pernah membaca di Jawa Pos ada seorang ahli RADAR Indonesia yang bekerja di pusat pengembangan RADAR NATO di Eropa, dan dia adalah pakarnya di sana. Indonesia perlu memanggil pulang orang-orang seperti ini agar bisa berkarya membangun Indonesia.
Monday, April 29, 2013
PUNA Wulung, Pesawat Tanpa Awak Asli Buatan Indonesia
Pesawat ini akan memperkuat sistem pertahanan dan keamanan nasional.
Sejak tahun 2004, Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) telah mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau tanpa awak.
Di tahun 2013 ini, BPPT mulai menyiapkan program perintis industrialisasi untuk memproduksi PUNA secara massal.
Menurut Kepala BPPT, Marzan A Iskandar, untuk mendukung program PUNA perlu kerja sama antara regulator, industri, dan pengguna.
"BPPT telah berkerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI), PT LEN Industri, dan Kementerian Pertahanan (Kemhan)," kata Marzan, saat ditemui di acara MoU kerja sama pengembangan dan Penerapan Teknologi Kedirgantaraan, di BPPT, Jakarta, hari ini.
Ia menjelaskan, BPPT bertindak sebagai pembuat teknologi, sementara PT DI sebagai yang memproduksi, PT LEN Industri bertugas untuk penerapan teknologi sistem kontrol. Sedangkan, Kemhan sebagai penggunanya.
"PUNA terbaru ini diberi nama PUNA BPPT01A-200-PA7 Wulung. Pesawat nirawak ini nantinya memiliki misi militer dalam pengawasan sistem pertahanan dan keamanan nasional," ujar Marzan.
Berbangga
Sementara itu, Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan pengembangan Rekayasa PT Dirgantara Indonesia mengatakan, kerja sama ini sangat penting untuk kemajuan sistem inovasi nasional.
"Kerja sama ini akan memiliki program kelanjutan. Ke depan kami akan melakukan perluasan di bidang teknologi pertahanan, teknologi dirgantara, dan teknologi energi," kata Andi.
Ia pun menegaskan, PT DI akan selalu siap memproduksi barang-barang yang dibuat berdasarkan penerapan teknologi BPPT, sehingga manfaatnya dapat diperluas kepada masyarakat. "Ini adalah kolaborasi antara peneliti, industri, dan pengguna," ujar Andi.
Respons baik pun diberikan oleh Kemhan terhadap pembuatan PUNA Wulung. Menurut Darlis Pangaribuan, Direktur Teknik Industri Pertahan Kemenhan, selama ini penciptaan teknologi BPPT sangat jarang digunakan oleh Kemhan.
"Pasca ujicoba PUNA Wulung di Bandara Halim Perdana Kusuma pada Oktober tahun 2012, Kemenhan pun tertarik untuk menggunakan pesawat nirawak itu kebutuhan pengawasan oleh TNI," kata Darlis.
Meskipun teknologi PUNA Wulung masih kalah canggih dari pesawat nirawak buatan luar negeri, dia mengatakan, Kemenhan sangat bangga menggunakan produk buatan anak negeri.
"Ini untuk mendukung kemandirian produksi dalam negeri. Kami berharap ke depan, BPPT terus mengembangkan teknologi PUNA Wulung agar dapat digunakan secara maksimal oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Republik Indonesia," kata Darlis.
Sampai akhir tahun, PUNA Wulung akan diproduksi sebanyak tiga unit. "Tahun depan, pesawat ini akan diproduksi lebih banyak lagi, untuk memenuhi permintaan dari Kemhan sebanyak satu skuadron," kata Marzan. (eh). Sumber : ViVANews
ddd
Senin, 29 April 2013, 16:25Muhammad Chandrataruna, Tommy Adi Wibowo
Sejak tahun 2004, Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) telah mengembangkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau tanpa awak.
Di tahun 2013 ini, BPPT mulai menyiapkan program perintis industrialisasi untuk memproduksi PUNA secara massal.
Menurut Kepala BPPT, Marzan A Iskandar, untuk mendukung program PUNA perlu kerja sama antara regulator, industri, dan pengguna.
"BPPT telah berkerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI), PT LEN Industri, dan Kementerian Pertahanan (Kemhan)," kata Marzan, saat ditemui di acara MoU kerja sama pengembangan dan Penerapan Teknologi Kedirgantaraan, di BPPT, Jakarta, hari ini.
Ia menjelaskan, BPPT bertindak sebagai pembuat teknologi, sementara PT DI sebagai yang memproduksi, PT LEN Industri bertugas untuk penerapan teknologi sistem kontrol. Sedangkan, Kemhan sebagai penggunanya.
"PUNA terbaru ini diberi nama PUNA BPPT01A-200-PA7 Wulung. Pesawat nirawak ini nantinya memiliki misi militer dalam pengawasan sistem pertahanan dan keamanan nasional," ujar Marzan.
Berbangga
Sementara itu, Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan pengembangan Rekayasa PT Dirgantara Indonesia mengatakan, kerja sama ini sangat penting untuk kemajuan sistem inovasi nasional.
"Kerja sama ini akan memiliki program kelanjutan. Ke depan kami akan melakukan perluasan di bidang teknologi pertahanan, teknologi dirgantara, dan teknologi energi," kata Andi.
Ia pun menegaskan, PT DI akan selalu siap memproduksi barang-barang yang dibuat berdasarkan penerapan teknologi BPPT, sehingga manfaatnya dapat diperluas kepada masyarakat. "Ini adalah kolaborasi antara peneliti, industri, dan pengguna," ujar Andi.
Respons baik pun diberikan oleh Kemhan terhadap pembuatan PUNA Wulung. Menurut Darlis Pangaribuan, Direktur Teknik Industri Pertahan Kemenhan, selama ini penciptaan teknologi BPPT sangat jarang digunakan oleh Kemhan.
"Pasca ujicoba PUNA Wulung di Bandara Halim Perdana Kusuma pada Oktober tahun 2012, Kemenhan pun tertarik untuk menggunakan pesawat nirawak itu kebutuhan pengawasan oleh TNI," kata Darlis.
Meskipun teknologi PUNA Wulung masih kalah canggih dari pesawat nirawak buatan luar negeri, dia mengatakan, Kemenhan sangat bangga menggunakan produk buatan anak negeri.
"Ini untuk mendukung kemandirian produksi dalam negeri. Kami berharap ke depan, BPPT terus mengembangkan teknologi PUNA Wulung agar dapat digunakan secara maksimal oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara Republik Indonesia," kata Darlis.
Sampai akhir tahun, PUNA Wulung akan diproduksi sebanyak tiga unit. "Tahun depan, pesawat ini akan diproduksi lebih banyak lagi, untuk memenuhi permintaan dari Kemhan sebanyak satu skuadron," kata Marzan. (eh). Sumber : ViVANews
Labels:
Drone,
pesawat nir awak,
Pesawat tanpa awak,
PUNA,
UAV
Thursday, April 11, 2013
Di Asia Tenggara, Teknologi Pesawat Tanpa Awak Indonesia Lebih Maju
| Ilustrasi |
Di Asia Tenggara, Teknologi Pesawat Tanpa Awak Indonesia Lebih Maju
Iman Herdiana - Okezone
![]() |
| UAV buatan PT Aviator Teknologi Indonesia (ATI) diperlihatkan dalam sebuah pameran Indo-Defense 2008 lalu. |
Teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia diklaim paling maju di kawasan Asia Tenggara. Misalnya dibandingkan dengan negara Malaysia dan Singapura.
"Malaysia masih di bawah kita. Bahkan dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya seperti, Singapura, kita masih lebih bagus," ungkap Ketua Jurusan Aeronautika dan Astronautika Fakultas Teknik Mesin Penerbangan (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Taufiq Mulyanto, kepada Okezone, Sabtu (3/11/2012).
Sejak kemarin Jumat 2 November hingga Minggu 4 November mendatang, FTMD ITB menggelar kontes pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) lewat Indonesia Aerial Robot Contest (IARC) 2012 di Lanud Sulaeman, Soreang, Kabupaten Bandung.
Menurut Taufiq, Singapura memang memiliki resource yang bagus. Namun jika ditelusuri, SDM-nya justru dari Indonesia, misalnya dari ITB. "Malaysia juga belum (UAV-nya belum maju), dapurnya di kita," tambahnya.
| Mahasiswa peserta kontes UAV (pesawat tanpa awak) di ITB sedang bekerja (Foto: Iman Herdiana/Okezone) |
Makanya dengan dihelatnya IARC 2012, semangat untuk mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak di Indonesia makin meningkat. "Lewat event ini bendera kita harus terus berkibar," ujarnya.
IARC 2012 merupakan event tahunan FTMD ITB yang sudah digelar sejak 2008. Kali ini, IARC berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana acara dihelat di outdoor. Biasanya, IARC ITB digelar di ruangan FTMD ITB, Jalan Ganeca, Bandung. Sehingga tantangan peserta IARC kali ini akan lebih berat.
"Sekarang outdoor. Sebelumnya pada September kami telah melakukan workshop, dan survei tentang bagaimana jika dilakukan kontes outdoor. Sehingga kesiapannya sudah diperhitungkan," terangnya.
Ada tiga tujuan utama kenapa IARC. Kata Taufiq, intinya even ini ingin menumbuhkan spirit inovasi khususnya bidang UAV, bukan hanya sekedar kontes menang kalah.
Kedua, kata dia, diharapkan ada kolaborasi antara ilmu di perguruan tinggi dan sekolah tingkat SMA.
"Ketiga, ada proses, kita enggak lihat hasil akhir saja tapi penguasaan teknik UAV di Indonesia," ujarnya.
Menurutnya, teknologi UAV Indonesia tentu sangat jauh ketinggalan jika dengan UAV di negara maju misalnya Jepang.
Jika dihitung-hitung, teknologi UAV di negara maju sudah ada sejak 20 tahun lalu. "Ya ketika dibandingkan dengan kita, ibarat bayi dengan pelari. Jadi perlu investasi waktu supaya UAV di Indonesia maju. Di kita sendiri bentuk UAP baru ada 2004, kalau penelitiannya sejak 94," ceritanya.
Perkembangan dan Prospek UAV Di Indonesia
Pemanfaatan UAV di Indonesia pertama kali dirasakan manfaatnya saat melacak keberadaan sandera di pedalaman hutan Papua. saat itu operasi militer satuan khusus TNI AD, Kopassus, ditugasi melakukan operasi penyelamatan para peneliti Ekspedisi Lorentz'95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Karena luasnya medan operasi di hutan Mapenduma, Jayawijaya, Kopassus meminta bantuan pesawat pengintai (UAV) dari negara lain, untuk mendeteksi keberadaan OPM. Pengintaian dilakukan untuk mengatur strategi penggelaran operasi militer.
Pemanfaatan UAV ternyata berhasil dengan baik, dalam pengejaran dan penyelamatan yang sukses dilakukan Kopassus. Keberhasilan penggunaan UAV ini adalah awal bangkitnya pengenalan pesawat intai portabel di TNI untuk dapat mengatur strategi pasukan di lapangan. Dan menjadi awal pemikiran akan teknologi pesawat intai portabel yang bisa digunakan untuk operasi militer. TNI menyadari selain menggunakan pesawat intai dan radar, ada gap yang belum tercover dan hanya bisa ditutupi oleh UAV.
Kemelut Pengadaan UAV
Pertengahan 2006, sejumlah perwira menengah (Pamen) TNI dikabarkan berkunjung ke produsen pesawat UAV, Israel Aircraft Industry (IAI) di Haifa, Israel. Pada 22 Oktober 2006 media Israel, Jerusalam Post, mengabarkan bahwa militer Indonesia tertarik untuk membeli salah satu produk UAV buatan IAI. Keputusan ini diambil setelah Pamen TNI mengamati kemampuan dan kehandalan beberapa UAV buatan IAI yang mampu beroperasi siang hingga malam. Setelah melakukan penilaian dan diskusi panjang dengan pihak produsen, akhirnya TNI memilih UAV jenis Searcher MK II untuk Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Pemilihan UAV jenis Searcher MK II oleh TNI berdasarkan pada keunggulan teknologi yang dimilikinya dan sudah terbukti tangguh (battle proven) dibandingkan dengan UAV sejenis dari negara lain.
Pembelian UAV sempat disamarkan dengan memanipulasi pembelian sarana pendukung alutsista TNI dari perusahaan Filipina, padahal barang tersebut berupa UAV berasal dari Israel.
Manipulasi pembelian UAV pun terdengar dan ditolak parlemen di Senayan. Menhan Juwono Sudarsono saat itu mengungkapkan bahwa pengadaan UAV berasal dari Israel adalah langkah realistik, mengingat kebutuhan BAIS yang memerlukan teknologi canggih yang handal.
Rencana ini marak diberitakan pers di Indonesia, sehingga masyarakat terutama kaum muslim di tanah air banyak yang menolak pembelian alutsista dari Israel, dengan melakukan demo di depan kedubes AS. Karena Israel dikenal negara penjajah yang menindas dan melanggar HAM di Palestina.
Lembaga riset militer intenasional, SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) dalam laporannya yang menyebutkan pembelian UAV ini dengan status uncertain (tidak pasti). Namun jadi atau tidak pembelian UAV ini, Informasi yang beredar TNI sedang menyiapkan satu skuadron UAV.
Meskipun rencana tersebut tidak jelas, UAV ditanah air akan menjadi tanggung jawab TNI AU dalam pengoperasian maupun pemeliharaan. Sedangkan tanggung jawab dalam penggunaannya berada dibawah Badan Intelijen TNI (BAIS).
Untuk pengoperasian wahana intelijen di Indonesia, Mabes TNI telah menyiapkan dana tambahan 16 juta dollar untuk membangun sarana dan prasarananya di Jakarta. Salah satunya adalah pusat komando dengan berbagai fitur pengintai canggih yang terhubung ke beberapa jaringan server. Sistem ini dikenal sebagai 'I3C' (Integrated Intelligence and Information center).
Jika proyek ini terealisasi semua perwakilan TNI diluar negeri (Atase Pertahanan) dapat terhubung jalur komunikasi secara realtime - online, jalur ini juga dilengkapi sistem pengacak signal (encrypto) pada sistem telekomunikasinya. Konsep ini diharapkan dapat memperkuat sistem keamanan jalur komunikasi sehingga sangat sulit disadap.
Selain itu pusat komando juga diproyeksikan mampu menggerakkan pasukan kemanapun diseluruh pelosok tanah air baik dipedalaman hutan maupun ditengah lautan. Bukan hanya jaringan komunikasi saja yang terpantau, lalu-lintas email, internet, data-link bahkan situs jejaring sosial semacam facebook dan lainnya dapat dimonitor secara online. Semua ditempuh demi keamanan dan keselamatan negara, salah satu pejabat TNI menyebut perangkat ini sebagai total-defence.
UAV Nasional
Penelitian dan pengembangan (litbang) UAV di Indonesia telah lama dilakukan. Pertama kali yang merintis teknologi ini adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1999. Almarhum Prof Dr Said D Jenie merupakan salah seorang penggerak hadirnya UAV di Indonesia. Beliau yang pertama kali mencanangkan peta jalan bagaimana Indonesia mengembangkan pesawat tanpa awak (UAV).
Awal-awal pengembangan UAV oleh BPPT dimulai dengan pembuatan target drone untuk sasaran tembak TNI. Seiring dengan itu dibuat juga wahana tanpa awak bernama Rutav single boom dan double boom berkerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Namun karena memburuknya kinerja PT DI saat itu mengakibatkan proyek ini tertunda.
Lalu BPPT melakukan riset sendiri dengan membuat beberapa prototipe PUNA (Pesawat Udara Nir Awak). Hingga kini BPPT sudah memproduksi 10 unit, generasi pertama tercipta PUNA degan tiga varian, yaitu Wulung (2006), Pelatuk dan Gagak (2007). BPPT lalu mengembangkan PUNA generasi kedua, dengan nama Alap-alap dan Sriti.
![]() |
| UAV BPPT-01A Wulung. |
Prototipe pertama UAV nasional diperkenalkan ke umum pada pameran Indo-defence 2004 di PRJ Kemayoran, Jakarta. Saat itu Industri Pertahanan Indonesia (IPI) menampilkan UAV berbobot 35 kilogram dengan panjang 2,5 meter dan rentang sayap mencapai 5 meter. UAV tersebut belum diberi nama, hanya terdapat tulisan 'Departemen Pertahanan'.
Badan UAV berbentuk seperti ujung pensil dan panjang. Sedangkan di bagian belakang terdapat mesin piston mini, lengkap dengan propeler yang menjadi tenaga penggerak utama. Untuk kepentingan pengintian, dibawah pesawat dipasang kamera mini. Sedangkan untuk mengirim hasil pengintaian digunakan antena yang terhubung dengan satelit melalui sinyal GPS.
Soal kemampuan, UAV mampu mengudara selama 3 jam tanpa mengisi bahan bakar. Selain itu, mampu terbang hingga ketinggian 3.000 kaki atau sekitar 1.000 meter. Sedangkan untuk jarak terbang, UAV dikontrol melalui Ground Control Station pada jarak 20 kilometer.
Menurut Direktur Teknologi dan Industri Dirjen Sarana dan Pertahanan (Ranahan) Dephan Suwendro, UAV merupakan salah satu hasil pengembangan teknologi paling mutakhir Indonesia. Suwendro menjelaskan, UAV baru rampung dikembangkan akhir 2003 lalu.
![]() |
| UAV Sriti buatan BPPT |
| Puna Sriti |
Masih dalam rangka uji coba prototipe, pada Mei 2006 Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menyerahkan 5 unit UAV kepada Panglima TNI yang merupakan hasil pengembangan bersama Litbang Dephan, PT DI, PT Pacific Teknology, PT Pindad dan PT LEN. Pembuatan dan Pengembangan UAV Indonesia ini dibiayai oleh Kredit Ekspor.
Dari sini Dislitbang TNI coba menggali dan mengembangkan potensi serta kebutuhan teknis yang diinginkan untuk penyempurnaan UAV dalam negeri, seperti penggunaan jenis sensor, elektronik, mesin pesawat dan lain sebagainya.
"Kita masih perlu waktu dan dana besar untuk bisa mengembangkan pesawat tanpa awak bagi kepentingan militer sekaligus komersial. Untuk meng-up grade prototipe yang sudah ada saja, kita masih perlu kajian lagi dan itu perlu waktu dan dana besar," kata Juwono.
Dalam pengembangan UAV Balitbang Dephan berkerjasama dengan PT Uavindo Nusantara sempat merancang prototipe UAV khusus untuk kepentingan militer dengan nama Close Range Surveilance (CR-10). CR-10 ini dirancang untuk keperluan misi pemantauan dan pengintaian, dan tergolong kelas Low Altitude, Short range UAV. CR-10 menggunakan dua sistem pengendalian yakni unit udara dan unit stasiun darat. Meski telah menjalani beberapa ujicoba, CR-10 dengan avionik buatan dalam negeri ini gagal dikembangkan.
PUNA
Banyak kemajuan pesat yang dilakukan BPPT, salah satunya kendali terbang terintergrasi (auto-pilot) dimana sistem kontrol berupa heading, bearing, altitude dan lainnya mampu di input-by-system kedalam 'otak' PUNA.Pengoperasian PUNA BPPT dilakukan dari sebuah stasiun pengontrol yang secara realtime menerima hasil pengamatan untuk selanjutnya dikirimkan ke posko komando kemudian mengirimkan datalink via satelit yang mampu diterima langsung di Jakarta. Selain itu unit Ground Control Station (GCS) PUNA mampu mengendalikannya secara manual melewati garis batas horizon (40-60 km). Rencananya tahun 2009 jarak jangkau PUNA akan ditingkatkan hingga mencapai 120 km dengan ketinggian operasional hingga 2.300 meter.
Berkat kemampuan PUNA ini, dikatakan cocok untuk misi pengintaian, pemotretan atau kegiatan militer lainnya. PUNA ditenagai mesin 'Limbach' buatan Jerman berbahan bakar oktan tinggi (Pertamax Plus), dengan kapasitas tangki hingga 40 liter. Dalam ujicobanya PUNA memerlukan konsumsi bahan bakar sekitar 9 liter untuk 1 jam penerbangan.
Pengembangan UAV Swasta Nasional
Oktober 2006, pemerintah dikabarkan telah mengalokasikan 5 juta dollar AS untuk pembelian UAV dari Israel jenis Searcher Mk-II. Jenis UAV ini memang unggul secara teknologi dan yang jelas sudah battle proven. Mampu terbang selama 15 jam dengan jarak jangkau hingga 250 km serta mampu terbang hingga 20.000 kaki. Dengan daya beban hingga 100 kg, UAV Israel ini dapat membawa kamera TV resolusi tinggi, serta Automatic Video Tracker yang sangat dibutuhkan dalam sebuah operasi militer. Namun kelanjutan rencana ini tidak bisa diketahui karena kemudian mengundang demo penolakan produk Israel.
30 Mei 2006, Menhan sudah menyerahkan 5 UAV kepada TNI hasil produksi bersama PT DI, PT Pacific Technology, PT Pindad dan LEN. Akhir April 2009, TNI juga terus melakukan uji coba lanjutan meliputi uji manuver, low speed performance, low altitude capability dan recovery. Bila berhasil, berikutnya adalah uji coba sistem termasuk monitoring dan pengiriman data dan pengendalian dari Command Post Cabin.
Melihat fakta di atas sepertinya pemerintah sudah melirik UAV sebagai teknologi militer masa depan.
Yang jadi masalah sekarang adalah jangan sampai ahli-ahli dan industri UAV kita hanya melongo dan menjadi penonton saja dari UAV-UAV yang nanti akan beterbangan di langit kita. Jangan sampai kita mengulangi kebodohan pemerintah dulu terhadap teknologi GSM. Saat itu kita sudah memiliki ahli-ahli yang menguasai teknologi GSM tapi pemerintah lebih suka mengimpor handphone dan teknologi GSM sehingga sekarang kita hanya bisa menjadi konsumen belaka sehingga duit kita lari semua ke Finlandia (Nokia), Korea Selatan (Samsung) maupun Cina.
| UAV Helikopter buatan dalam negeri antara lain dimanfaatkan untuk pengambilan gambar dari atas oleh TV swasta nasional seperti laporan lalu lintas. |
Kalau Anda masih meragukan otak kita dalam urusan UAV, cobalah berkunjung ke Bandung. Di kota ini berderet industri swasta yang bergerak di bidang pengembangan UAV seperti Globalindo Technology Services Indonesia, Uavindo, Aviator, dan Robo Aero Indonesia. Juga ada perusahaan berbasis aeromodelling sebagai pemasok suku cadang UAV seperti Telenetina dan Bandung Modeler.
| UAV KUJANG diproduksi oleh PT. GTSI |
PT Dirgantara Indonesia, sebenarnya memiliki sumber daya yang lebih dari cukup untuk urusan UAV, wong membuat pesawat saja bisa.Tapi sayang, PT DI baru bisa menghasilkan prototipe UAV kelas ringan dengan nama RUTAV. Alasan utama adalah tiadanya dana.
PT Globalindo Technology Services Indonesia (GTSI) didirikan oleh Endri Rachman, mantan karyawan PT DI yang hijrah ke Malaysia menjadi dosen di Universiti Sains Malaysia. Beliau dan bersama sesama mantan karyawan PT DI mendirikan perusahaan PT GTSI. UAV perdananya adalah Kujang , mampu membawa muatan kamera survaillance 20 kg, lama terbang 2-3 jam dengan kecepatan maksimal sampai 150 km/jam. Ironisnya, peminat pertama UAV Kujang ini adalah Malaysia, bukan pemerintah Indonesia.
Selain UAV Kujang, PT. GTSI telah berhasil menbuat pesawat UAV lainnya seperti UAV Keris dan UAV Bumerang.
![]() |
| SS-5 diproduksi oleh PT.UAVINDO |
PT Uavindo sudah mengembangkan UAV sejak 1994 di mana dimulai dengan berkumpulnya para insinyur lulusan Teknik Penerbangan ITB dengan dimotori Dr Djoko Sardjadi. Produk pertamanya adalah SS-5 (SkySpy-5) di tahun 2003 yang kemudian menjadi UAV lokal pertama yang dioperasikan oleh militer, lengkap dengan Ground Control Station yang ditempatkan pada sebuah truk Perkasa keluaran Texmaco. SS-5 ini mampu terbang selama 2-3 jam dengan jarak sampai 25 km untuk fungsi survaillance melalui kamera yang dibawanya. Saya tidak tahu apakah TNI masih menggunakan produknya (selanjutnya ada pengembangan ke SS-20), tapi ironisnya Malaysia memesan UAV SM-75 dari perusahaan ini.
PT Aviator, dibentuk oleh beberapa mantan karyawan PT Uavindo. Produk unggulannya adalah SmartEagle II , mampu terbang selama 6 jam dengan jarak maksimum 300 km. Bisa diadu dengan Searcher Mk II dari Israel, hanya sayangnya berat muatan maksimum hanya sampai 20 kg, bandingkan dengan beban 100 kg yang mampu dibawa oleh Searcher Mk II. Sekarang PT Aviator menggandeng Irkuts dari Rusia untuk memasarkan produk secara bersama.
| Smart Eagle II diproduksi oleh PT. AVIATOR |
PT Robo Aero Indonesia (RAI) didirikan oleh beberapa dosen ITB yang melihat peluang besar bisnis UAV di dalam maupun luar negeri. Mereka sudah membuat prototipe UAV dengan jarak operasional 20 km, 50 km dan 100 km secara otonomi .
UAV buatan mahasiswa Teknik Penerbangan ITB sudah mampu unjuk gigi dengan menjuarai kontes UAV di Taiwan dan Korea Selatan.
BPPT juga sudah membuat beberapa prototipe UAV yang dalam produksi dan pemasarannya menggandeng PT Aviator dan UKM Djubair OD di Tangerang.
Yang membuat saya bangga, kalau Anda membaca The UAV Market Report: Forecast and Analysis 2008 – 2018, Indonesia ditempatkan di posisi terhormat sebagai salah satu produsen UAV di Asia Pasifik dengan produk yang dituliskan di laporan tersebut adalah PUNA (keluaran BPPT), Smart Eagle I & II (keluaran PT Aviator) dan SS-5 (keluaran PT Uavindo)
Sebagai penutup tulisan ini marilah kita hitung-hitungan. Untuk membeli sebuah pesawat patroli maritim sekelas CN-235 MPA butuh dana 30-35 juta dollar AS. Dengan dana yang sama kita bisa beli 6-7 buah UAV dari Israel lengkap dengan GCS, kamera dan sistem pendukungnya. Berarti kita sudah bisa membentuk 1 skuadrom UAV lengkap. Kalau dana itu dipakai untuk membeli UAV lokal dengan spesifikasi standar, kita bisa membeli 20-30 UAV intai, berarti bisa membentuk 3-4 skuadron intai.
Coba kalau Patroli Bea Cukai di Kepulauan Riau dan Selat Malaka menggunakan UAV, pastilah penyelundupan dari Singapura dan Malaysia ke pantai timur Sumatera bisa banyak dicegah.
Demikian pula seandainya kapal patroli DKP (Departemen kelautan dan perikanan) di laut Natuna, laut Aru, laut Banda maupun Selat Sulawesi dilengkapi UAV pastilah pencurian ikan bisa ditindak dengan biaya yang lebih murah. Bukan seperti tahun lalu, baru tender pengadaan kapal patroli saja sudah ada korupsi.
Kalau Anda cermat, beberapa bulan belakangan ini MetroTV sudah mulai menggunakan UAV untuk siaran langsung saat penggebrekan teroris di Jatiasih, Temanggung dan Jebres Solo, juga saat liputan mudik lebaran yag lalu. Jadi UAV ini akan semakin memasyarakat, sayang kalau orang-orang bule dan para tengkulak (baca: importir) yang dapat untung dari negeri ini seperti kasus-kasus teknologi sebelumnya.
Ditulis dari berbagai sumber, antara lain tulisan Dipl.-Ing. Endri Rachman dari Kompasiana - Internet online.
Tuesday, April 9, 2013
TNI-AU Tambah Tiga Skadron Udara
| Pesawat Hawk TNI AU termasuk yang akan dimordernisasi dengan pesawat baru. |
TNI-AU Tambah Tiga Skadron Udara
Senin, 08 April 2013, 03:46 WIB
![]() |
| Dua Pesawat Sukhoi SU-MK2 milik TNI AU sedang lepas landas. |
TNI Angkatan Udara berencana menambah tiga skadron udara, yakni skadron udara tempur, angkut, dan pesawat intai menyusul program pembelian 102 unit pesawat berbagai jenis. TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, sebagai bagian dari rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014.
"Saat ini tengah disiapkan skadron udara 16 di Pekanbaru (Riau), pembangunan skadron udara di Makassar, Sulawesi Selatan dan skadron udara Pontianak, Kalimantan Barat," kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, skadron udara 16 akan dipakai sebagai home base pesawat tempur F-16 yang merupakan hibah dari Amerika Serikat.
"Sekarang ini sudah mulai bangun selter untuk pesawat. Tahun depan akan datang 8 unit (dari 24 unit)," katanya.
Pembangunan skadron udara untuk pesawat angkut di Makassar, Sulawesi Selatan, kemungkinan akan diisi Hercules C-130 pembelian teranyar dan hibah dari Australia yang totalnya 10 unit.
Sementara skadron udara Pontianak akan menjadi markas pesawat tanpa awak (UAV). "Skadron UAV di Pontianak sudah disiapkan, tinggal menunggu pesawatnya saja. Mudah-mudahan segera datang," kata Ida Bagus.
Ia mengatakan, untuk pencapaian Minimum Essential Forces (MEF) ada tiga rencana strategis pembangunan TMI AU, yakni renstra 2010-2014, 2015-2019 dan 2020-2024. Namun, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pencapaian kekuatan pokok minimum dapat tercapai pada dua renstra saja.
Penambahan Alutsista Baru
TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, diluar 102 alutsista baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal dapat dilakukan pada 2019 atau lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan pada 2024.
"Pada awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019). Saya yakin MEF bisa tercapai pada 2019," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro beberapa waktu lalu.
Menurut dia, pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan itu merupakan sebuah terobosan dan keberhasilan berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan, meski pada 2012 lalu pencapaian MEF tak sesuai rencana.
"Kemhan akan melakukan percepatan pembelanjaan anggaran pada 2013 ini, ujarnya.
Menhan pun meyakini kekuatan alutsista TNI AU hingga semester I 2014 mendatang dalam rangka kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF) akan mencapai 40 persen.
"Hadirnya pesawat tempur F-16, pesawat angkut dan pesawat tempur lainnya akan memercepat dan menambah prosentasi kekuatan pertahanan kita, khususnya TNI AU," kata Purnomo.
Alutsista baru tersebut meliputi pesawat tempur F-16, T-50, Sukhoi, Super Tucano, CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500 dan radar, kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia usai geladi bersih pelaksanaan HUT ke-67 TNI AU, di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu.
Menurut dia, hingga 2014 mendatang pada akhir masa kabinet ini, diperkirakan ada sekitar 45 alutsista bergerak, baik untuk TNI AU, TNI Angkatan Laut maupun TNI Angkatan Darat.
"Sebanyak 45 alutsista bergerak ini termasuk pesawat tempur maupun angkut, yang tiba di Indonesia," ujarnya.
TNI AU memprogramkan pembelian total 102 pesawat guna mencapai target kekuatan pokok minimal (MEF). Apa saja pesawat-pesawat tempur tersebut ?
1. Skuadron Udara Pekanbaru (Riau)

Hibah 24 pesawat tempur jenis F-16 dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI Angkatan Udara.
Amerika menghibahkan sebanyak 24 unit pesawat F-16 yang akan dilakukan secara bertahap dalam empat tahun. "24 unit sesuai rencana, per tahunnya sesuai kemampuan retrofit atau pemeliharaan peningkatan kemampuan, kalau tidak salah setiap tahun delapan unit," kata Agus.
TNI AU membentuk skudron tersendiri untuk seluruh pesawat F-16 ini, yakni di Pekanbaru, Riau. Ini akan melengkapi dua skuadron F-16 yang saat ini telah dimiliki TNI AU di Lapangan Udara Iswahjudi Madiun.
![]() |
| Dua Pesawat F-16 TNI AU sedang lepas landas. |
Agus menambahkan, proses hibah 24 pesawat tempur tersebut masih dalam tahap upgrading sebelum benar-benar diserahkan ke Indonesia. Tak hanya itu, setelah penyerahan hibah ini, F-16 yang telah dimiliki TNI AU juga akan menyusul di-upgrade (ditingkatkan) dengan teknologi dan kemampuan terkini pesawat tersebut.
2. Skuadron Udara Makassar (Sulawesi Selatan)

Tak lengkap rasanya TNI AU punya pesawat tempur F-16 jika belum punya Sukhoi. Pesawat buatan AS akan lebih hebat jika disandingkan dengan pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi Su 30MK2. Kedua kompetiror ini memiliki keunggulan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tiap-tiap pihak. F-16 Fighting Falcon lebih kecil, dengan jangkauan terbang lebih pendek dibandingkan Sukhoi, tetapi lebih lincah. Sedangkan pesawat tempur buatan Rusia lebih besar, mampu menjalankan misi terbang lebih jauh tanpa pendukung kapal induk maupun pengisian bahan bakar di udara. Sukhoi lebih handal melakukan serangan udara untuk jarak jauh, mampu pulang pergi secara mandiri, dengan kecepatan lebih tinggi. Sedang F-16 barangkali lebih efektif untuk melakukan serangan udara yang mengandalkan kelincahan manuver.
![]() |
| Pesawat Sukhoi Su MK2 milik TNI AU. Enam pesawat baru telah memperkuat pangkalan di Makassar. |
3. Skuadron Udara Pontianak
Di Pontianak akan dibentuk 2 skuadron baru, yang berbeda sama sekali dengan skuadron-skuadron yang sudah ada, yakni pesawat tanpa Awak atau UAV.
Dephankam telah membentuk tim di bawah koordinasi BPPT untuk membentuk dua skuadron UAV itu, di mana BPPT akan mewujudkannya untuk kepentingan militer.
"Sekarang kami sedang finalisasi pesawat itu untuk kepentingan pengintaian dan operasi," kata Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar, usai penganugerahan BJ Habibie Technology Award 2012 di Aula BPPT, Jakarta, Rabu 12 September 2012.
Marzan menambahkan pesawat tanpa awak tersebut selain untuk kepentingan pertahanan juga dapat digunakan untuk pengamatan wilayah (survailence) dan kebakaran hutan.
"Pada waktu lalu, pesawat ini digunakan untuk mendukung pembuatan hujan buatan," tambahnya.
Pesawat dengan kemampuan tinggi terbang mencapai 8.000 kaki ini dioperasikan secara otomatis melalui pusat kendali. "Langsung bisa kirim data secara real time ke pusat kontrol," ujarnya.
Bulan September ini, lanjut Marzan, akan dilakukan ujicoba bersama dengan Kementerian Pertahanan. Setelah ujicoba baru kemudian akan dilanjutkan ke tahap produksi.
Beberapa pesawat baru yang akan menempati skuadron yang sudah ada seperti :
1. Super Tucano
| Pesawat Super Tucano buatan Embraer, Brazil. |
TNI AU telah menerima empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano. Diharapkan pada 2014 nanti 14 jenis alutsista akan menambah kekuatan TNI AU, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat latih, pesawat intaidan pesawat tempur lainnya.
"Saat ini TNI AU telah menerima empat unit pesawat Super Tucano. Diharapkan pada akhir 2013 atau awal 2014 akan tiba delapan unit lagi, sehingga tercapai satu skadron atau 16 unit," katanya.
Saat ini, TNI AU telah memiliki empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano, sehingga diharapkan TNI AU memiliki satu skadron pesawat Super Tucano yang ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.
Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Pangkalan Udara Abd Saleh, Kolonel Pnb Novianto Widadi, Minggu, mengatakan, secara umum Lanud Abd Saleh siap menyambut kedatangan pesawat tempur itu, dan akan menggantikan posisi pesawat tempur Oviten-10F Bronco yang sudah memasuki masa "grounded".
Kesiapan yang sudah dilakukan, meliputi sejumlah fasilitas pendukung di Lanud Abd Saleh, seperti shelter atau tempat lokasi parkir pesawat, serta 12 pilot khusus yang telah dilatih untuk menukangi pesawat tersebut.
"Kami terus menyiapkan pendukung lainnya untuk kedatangan pesawat tempur canggih itu, termasuk pilot khusus yang berusia minimal 24 hingga 35 tahun dan ahli dalam berbahasa inggris," katanya.
Dengan tibanya pesawat pada bulan Maret, diharapkan nantinya bisa dipertunjukan kepada masyarakat pada peringatan HUT TNI AU tanggal 9 April 2012.
Sementara itu, rencananya pesawat tersebut akan digunakan untuk misi operasi taktis dalam membantu pasukan di darat, sebab pesawat itu memiliki keunggulan "close air support".
Selain itu, pesawat yang memiliki mesin tunggal buatan "Empresa Braziliera de Aeronautica", juga memiliki kemampuan menembakan asap ke darat secara cepat untuk menunjukkan posisi musuh.
Pesawat itu nantinya tidak hanya digunakan sebagai pesawat latih, namun juga digunakan misi pengamanan wilayah perbatasan, untuk memastikan tidak adanya pelanggaran batas negara oleh pihak lain.
"Total pesawat yang kita pesan sebanyak 16 unit, dan pengiriman akan dilakukan secara bertahap, diawali dengan kedatangan empat unit pada Maret 2012, dan akan ditempatkan pada Skuadron 21 Lanud Abd Saleh," katanya.
![]() |
| Super Tucano TNI AU yang ditempatkan di Malang. |
2. T-50 Golden Eagle
Hubungan Indonesia-Korea Selatan adalah ibarat sahabat dekat. Kedua negara ini telah lama bekerjasama saling menguntungkan dan saling mendukung satu sama lain. Indonesia membeli pesawat tempur T-50 Eagle produksi Korsel dan sebaliknya, Korsel membeli peswat CN 235 produksi PT DI yang akan digunakan sebagai pesawat penjaga pantai atau Cost Guards.
| Pesawat T-50 Golden Eagle. |
| South Korean Defense Minister Kim Kwan-jin holds a model plane CN-235, right, and Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro holds a model plane T-50 Golden Eagle after a meeting in Jakarta, Indonesia, Friday. (AP/Achmad Ibrahim) |
| Display kokpit Pesawat T-50 Golden Eagle |
T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea. Pesawat ini berjenis pesawat latih lanjut serang ringan. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries bekerjasama dengan Lockheed Martin.[5] Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan.[1]
Pengembangan pasawat ini 13% dibiayai oleh Lockheed Martin, 17% oleh Korea Aerospace Industries, dan 70% oleh pemerintah Korea Selatan.[9] KAI dan Lockheed Martin saat ini melakukan program kerjasama untuk memasarkan T-50 untuk pasar internasional.
Indonesia membeli 16 pesawat T-50 Golden Eagle ini untuk pelatihan pilot pesawat tempur bermesin jet supersonik.
Sebaliknya, Korea Selatan juga membeli pesawat dari PT DI yakni pesawat angkut untuk militer mereka dan untuk keperluan Penjagaan Pantai. Kerjasama teknologi Indonesia Korsel tidak hanya itu, mereka juga membantu Indonesia melalui transfer technology dalam pembuatan Kapal selam di PT PAL, Surabaya.
3. Hercules C-130
Pengembangan pasawat ini 13% dibiayai oleh Lockheed Martin, 17% oleh Korea Aerospace Industries, dan 70% oleh pemerintah Korea Selatan.[9] KAI dan Lockheed Martin saat ini melakukan program kerjasama untuk memasarkan T-50 untuk pasar internasional.
Indonesia membeli 16 pesawat T-50 Golden Eagle ini untuk pelatihan pilot pesawat tempur bermesin jet supersonik.
Sebaliknya, Korea Selatan juga membeli pesawat dari PT DI yakni pesawat angkut untuk militer mereka dan untuk keperluan Penjagaan Pantai. Kerjasama teknologi Indonesia Korsel tidak hanya itu, mereka juga membantu Indonesia melalui transfer technology dalam pembuatan Kapal selam di PT PAL, Surabaya.
3. Hercules C-130
![]() |
| Pesawat Hercules C-130 milik Australia yang dihibahkan untuk Indonesia. Pesawat ini berjenis H, yang artinya termasuk keluaran baru. |
Dalam sejarah penerbangan militer Indonesia, pesawat angkut Hercules berjenis B adalah yang paling sering jatuh karena faktor usia dan ketiadaan biaya perawatan saat itu. Tetapi kini Indonesia tumbuh lebih kaya dibandingkan dulu, jadi punya cukup uang untuk melakukan perbaikan atau upgrade pesawat-pesawat tersebut.
TNI menerima empat buah pesawat Hercules berjenis H hasil hibah pemerintah Australia, dan keempat pesawat tersebut telah datang pada tahun 2012 lalu.
"Biasanya kalau dapat hibah, atau dapat pesawat, selalu kami cek, renovate, retrofit, kami betul yakinkan bahwa pesawat itu layak terbang," kata Purnomo ketika ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.
![]() |
| Pesawat C-130H A-1303 Hercules milik TNI AU hasil Retrofit oleh ARINC, LCC, USA. Ada lima buah pesawat Hercules milik TNI AU yang diretrofit agar tidak jatuh seperti yang lainnya. |
Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo, mengatakan pesawat Hercules yang diperlukan TNI-AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI-AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.
"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Ke-30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalion sebanyak 26 unit," kata Suprasodjo.
Dia menambahkan, pesawat tipe H yang akan dihibahkan Australia akan digunakan TNI-AU untuk menggantikan tipe B yang sudah sangat tua. Selain Angkatan Udara Amerika Serikat, Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menerima C-130 dari pabriknya.
4. Pesawat C 295 dan CN 295
Indonesia khususnya TNI AD dan TNI AU telah menerima dua dari 9 pesawat C 295 dari Air Bus Militery, Spanyol. Demikian Air Bus Military melaporkan. Dua pesawat diproduksi di pabrikan San Pablo, Sevilla, Spanyol lalu sisanya diproduksi di Bandung, oleh PT DI sebagai bagian dari kerjasama Airbus Military-PT DI. PEsawat ini akan digunakan sebagai pesawat angkut militer untuk menggantikan pesawat-pesawat tua Fokker 27 yang segera akan dipensiunkan.
PT DI selanjutnya akan memproduksi pesawat jenis itu dengan nama CN 295, di bawah lisensi Air Bus Military. Peswat ini akan dioperasikan oleh baik TNI AD maupun TNI AU untuk berbagai operasi, seperti pengangkutan personel militer, logistik, misi-misi kemanusiaan dan evakuasi medis seerti untuk bencana alam untuk seluruh teritori wilayah Indonesia yang meliputi 17.000 pulau. Total pengiriman akan selesai pada tahun 2014.
| Prosesi penyerahan peswat CN 295 hasil produksi bersama Air Bus Military-PT DI di Bandung pada 2012 lalu. |

5. Grob G 120TP
Grob adalah pesawat latih buatan perusahaan Jerman, Grob Aircraft AG. TNI AU memilih pesawat ini karena memiliki teknologi terbaru dan revolusioner, turbo-prop powered, dan aman. Pesawat jenis ini dibutuhkan untuk pelatihan pilot pesawat TNI AU ke depan, yang dari waktu ke waktu semakin banyak pilot diperlukan.
Grob G 120TP, saat ini dipandang sebagai 'pilihan terbaik pelatih' pilot militer angkatan Udara Indonesia karena kemajuan dan efektivitas biaya untuk abad 21.
Perusahaan Grob Aircraft telah mendapatkan pembeli untuk pesawat jenis G120TP-nya. Angkatan udara Indonesia berencana akan menambahkan pesawat G120TP tersebut kedalam armadanya, yang nantinya akan difungsikan sebagai pesawat latih dasar.
Grob Aircraft mengatakan, "G120TP turboprop telah dipilih setelah menghadapi persaingan ketat dari Finmeccanica [Alenia Aermacchi] SF-260TP dan Pasifik Aerospace CT-4".
Pengiriman akan dimulai pada tahun 2012, dan perusahaan ini juga akan menyediakan sistem pelatihan darat berbasis komputer, perlengkapan untuk briefing misi dan pembekalan, simulasi kokpit dan paket penuh untuk dukungan pemeliharaan.
Kesepakatan ini, kemungkinan untuk sekitar 18 pesawat, dan Grob Aircraft mengharapkan penanda-tanganan kontrak dapat dilakukan dalam beberapa minggu ke depan.
"Asia dinilai oleh Grob Aircraft sebagai salah-satu wilayah kunci, karena Asia memiliki beberapa Angkatan Udara yang berpotensi untuk mengikuti langkah AU Indonesia," kata perusahaan itu. Grob Aircraft saat ini juga tengah menawarkan G120TP ke beberapa negara lain, termasuk Inggris.
Selain menambah skadron udara baru, TNI AU juga terus menambah penerbang untuk mengawaki alat utama sistem senjata baru itu. "Kita butuh penerbang banyak, kita sudah membuat perencanaannya," tutur Ida Bagus.
Diolah dari berbagai sumber. Republika, Antara, dll.
Labels:
C 130,
c 295,
CN 295,
Drone,
F 16,
golden Eagle,
Grob,
Hercules,
Pesawat,
pesawat nir awak,
Pesawat tanpa awak,
Su 27,
su 30,
sukhoi,
sukhoi 30 MK2,
super tucano,
T 50,
TNI AU,
UAV
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)

















