Showing posts with label alutsista. Show all posts
Showing posts with label alutsista. Show all posts

Wednesday, May 29, 2013

Indonesia Terus Bangun Industri Pertahanan



Beragam cerita pahit dimasa lalu telah menjadi pijakan pemerintah untuk menata kembali industri pertahanan nasional. Bisa dikatakan pemerintah kita sudah kapok dengan tingginya ketergantungan alutsista asing. Langkah ini juga seolah menjadi kilas balik niat tulus pemerintah untuk tak mengulang kesalahan yang sama dimasa lalu. Satu tujuan besar dan amat penting kemudian ditetapkan. Tujuan itu apalagi jika bukan untuk menuju kemandirian pembuatan alutsista yang mampu mendukung kebutuhan alutsista TNI.

Upaya bangkit itu mulai terlihat dalam beberapa tahun ini. Pemerintah mulai serius membangun industri pertahanan dalam negeri. Banyak cara dilakukan untuk membuat industri ini mekar kembali, mulai dari kerjasama produksi (joint production), lisensi, hingga membuat alutsista dengan kemampuan sendiri. Selain itu dengan adanya komitmen untuk mengutamakan pengadaan alutsista produksi industri dalam negeri akan dapat memacu perkembangan industri, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan penguasaan. Komitmen pemerintah tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Penyampaian Keterangan Pemerintah Atas Rancangan Undang-Undang Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 Beserta Nota Keuangannya di Depan Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, tanggal 16 Agustus 2011.

Buah dari hasil kerja keras ini bisa dilihat dari kondisi industri pertahanan yang mulai mengalami kemajuan berarti. Hal ini bisa ditengok dari makin menjamurnya produk alutsista buatan industri pertahanan dalam negeri. Alutsista yang muncul tak hanya terbatas pada alutsista matra udara, tetapi juga diikuti dengan kemunculan alutsista matra darat dan laut,k yang juga tak kalah seru meramaikan kebangkitan alutsista buatan dalam negeri.

Kementerian Pertahanan sebagai institusi yang berkewenangan menyelenggara-kan fungsi pembinaan potensi nasional dalam upaya mendukung pertahanan negara, berkewajiban untuk memberdayakan seluruh potensi yang ada, salah satu di dalamnya adalah “Pemberdayaan Industri Strategis Pertahanan”. Industri strategis pertahanan dibangun untuk kepentingan orang banyak untuk memenuhi kebutuhan pertahanan yang menyangkut kedaulatan negara. Industri pertahanan mempunyai peran strategis dalam penyelenggaraan pertahanan sehingga perlu didorong dan ditumbuhkembangkan agar mampu memenuhi kebutuhan peralatan yang mendukung pertahanan.

Indonesia mempunyai rencana strategis untuk membangun industri pertahanan, namun yang terpenting komitmen yang kuat untuk membangun dan mewujudkan rencana tersebut, yaitu memanfaatkan industri pertahanan dalam negeri untuk sistem pertahanan militer. Untuk itu guna mendorong peningkatan produksi industri pertahanan dalam negeri melalui kebijakan yang makro, pemerintah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). KKIP terdiri dari Menteri Pertahanan, Meneg BUMN, Wakil Menteri Pertahanan. Panglima TNI, Kapolri, Menteri Perindustrian, dan Menristek. Salah satu yang menjadi tugas pokok adalah membangun industri pertahanan dengan mengutamakan produksi dalam negeri sesuai dengan tingkat perkembangan dan pertumbuhan ekonomi bangsa.


Sejak digelarnya Sidang Pleno Perdana awal 2011 lalu hingga Sidang Pleno yang keempat (November 2011). KKIP telah menetapkan beberapa kebijakan strategis, di antaranya penetapan alutsista, memverifikasi kemampuan industri pertahanan, revitalisasi manajemen industri pertahanan BUMNIP dan proses pengadaan Alutsista. Pada tanggal 6 Maret 2012, KKIP mengadakan sidang kelimanya. Tujuan dan agenda sidang tersebut adalah melakukan refleksi dan memproyeksikan tugas-tugas/program KKIP ke depan dengan dua agenda utama, yaitu Kemajuan Kerja KKIP TA. 2011  dan Sasaran Kerja yang akan dicapai pada TA.2012. Hasil sidang Kelima KKIP menghasilkan beberapa poin, sebagai berikut:

a. Menhan menekankan bahwa tugas-tugas/program KKIP untuk penguasaan teknologi pertahanan, membangun dan memperkuat industri pertahanan dalam rangka mewujudkan kemandirian pemenuhan alutsista TNI dan almatsus Polri agar senantiasa selaras/sejalan dengan Master Plan Revitalisasi Industri Pertahanan dan Grand Strategy KKIP.

b. Kerangka pokok/program kerja lima tahunan (2010 s.d 2014) KKIP sebagai berikut:
  1) Penyiapan Regulasi Industri Pertahanan,
  2) Penetapan Kebijakan Nasional Dalam Rangka Stabilisasi dan Optimalisasi Industri
          Pertahanan,
  3) Formulasi dan Penetapan Program Kerja KKIP,
4) Penyiapan Produk/Industri Pertahanan Masa Depan (New Future Products/Defence
          Industry).

c. Hasil diskusi dari penyampaian Laporan Kemajuan Kerja KKIP TA. 2011 dan Sasaran Kerja KKIP TA. 2012, sebagai berikut;

  1) Dalam hal upaya pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI dan Almatsus Polri melalui BUMNIP, Kementerian BUMN akan menggalang kesepakatan dengan BUMNIP dan akan membenahi manajemen BUMNIP termasuk menjembatani adanya pinjaman oleh Perbankan Nasional agar BUMNIP dapat bekerja sebelum dana/anggaran riil dari belanja Kemhan/TNI didapatkan. Dengan langkah ini diharapkan BUMNIP benar-benar siap memenuhi pesanan secara tepat waktu dan tepat kualitas.

  2) Menanggapi peran konsultan dalam program Transfer of Technology, Kemenristek menyarankan agar memperioritaskan penggunaan konsultan dalam negeri yang dalam hal ini bisa memberdayakan BPPT, mengingat BPPT juga selama ini mempunyai kompetensi dan pengalaman dalam audit teknologi.

  3) Pemerintah RI telah melakukan negosiasi akhir penjualan Panser APC 6X6 ANOA ke Malaysia sebanyak 32 Unit senilai total 40 juta dollar AS. Malaysia meminta pihak Indonesia melakukan imbal beli (counter trade/offset) dengan produk militer atau produk komersil Malaysia senilai 15 juta dollar AS. Untuk menindaklanjutinya, PT. Pindad diminta melakukan koordinasi dengan kementerian terkait dan dengan Tim Pokja atau Tim Asisten KKIP dan tetap melaporkan hasilnya kepada KKIP.

  4) Menanggapi tentang trade off terkait produk yang akan dibeli oleh Malaysia, Kementerian BUMN menyarankan agar sedapat mungkin tidak mengganggu program unggulan yang akan dikembangkan oleh Kementerian Perindustrian.

  5) Perihal penyiapan produk masa depan (new future products), Panglima TNI menyarankan untuk memasukkan peralatan sensor (sensor systems) untuk sistem senjata terpadu (SST) kapal selam.

  6) Panglima TNI menekankan tentang perlunya regulasi yang mengatur tentang produsen dalam negeri yang memiliki kemampuan memproduksi barang militer yang sama/sejenis seperti helm, rompi dan payung udara.

  7) Menanggapi tentang produk Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang dihasilkan oleh industri dalam negeri dan akan dijadikan komoditi ekspor keluar negeri, Kapolri menekankan tentang perlunya regulasi yang mengatur tentang perizinan produksi, ekspor maupun impor.

  8) Wamenhan menekankan bahwa tugas KKIP selain melaksanakan pembinaan dan percepatan revitalisasi BUMNIP, KKIP perlu juga fokus terhadap pembinaan BUMS industri pertahanan dalam negeri sebagai bagian dari upaya percepatan secara menyeluruh terhadap pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI dan Almatsus Polri.

  9) Kementerian Perindustrian telah menyiapkan dan menyusun kajian teknis tentang konsep pembangunan industri Propellant dalam negeri yang perlu tindak lanjut dan persetujuan/keputusan KKIP.

Dilihat dari hasil sidang kelima KKIP tersebut dapat kita lihat bahwa Indonesia sedang mendorong, membangun dan mengembangkan  industri pertahanan yang lebih baik di masa mendatang. Untuk itu maka yang harus dilakukan ke depannya adalah:

a. Setiap kebijakan yang telah ditetapkan harus benar-benar diimplementasikan dalam bentuk program kerja yang lebih terencana, terukur, terkoordinir dan dapat dipertanggungjawabkan.

b. Penting adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan supervisi pada pelaksanaan pencapaian sasaran sebagaimana yang telah ditetapkan sesuai masterplan revitalisasi industri pertahanan tahun 2010-2014.

c. Diperlukan kesamaan pola pikir, pola sikap dan pola tindak dari semua pemangku kepentingan dalam rangka memberdayakan industri pertahanan dalam negeri.

d. Perlu adanya sosialisasi kebijakan nasional secara terus menerus dan dijadikan pedoman oleh pejabat perumus kebijakan pada tingkat kementerian/lembaga, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia dan kalangan industri dalam rangka merealisasikan proses revitalisasi, membangun dan memberdayakan industri pertahanan dalam negeri sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing.

Revitalisasi industri pertahanan nasional yang sudah diinisiasi pemerintah tampaknya tidak boleh hanya dianggap sebagai proyek nasional semata. Tumbuh kembangnya industri pertahanan sebuah negara membutuhkan komitmen yang kuat serta kepemimpinan yang konsisten dan berkesinambungan.(Deputi Politik, Hukum, dan Keamanan, Setkab)

Wednesday, May 15, 2013

Kekuatan Tempur TNI-AL bakal Naik Signifikan Tahun depan

Kapal Perang TNI dalam formasi siap tempur dalam latgab beberapa waktu lalu.


Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetio mengemukakan TNI-AL akan memiliki kekuatan tempur yang signifikan pada akhir 2014 seiring kedatangan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang telah dipesan.


Ditemui usai memimpin gelar pasukan sekaligus inspeksi kesiapan unsur tempur laut menjelang Latihan Gabungan TNI tahun 2013 di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jumat (26/4), Marsetio mengatakan pengadaan alutsista itu merupakan program TNI-AL untuk menuju pembangunan kekuatan pokok minimum (MEF).

"Alutsista yang sedang dibangun di dalam dan luar negeri, akan datang secara bertahap, baik itu kapal perang, pesawat, helikopter maupun tank," katanya.

Menurut Marsetio, beberapa alutsista yang direncanakan datang pada tahun ini, antara lain 37 unit tank BMP-3F asal Rusia untuk pasukan Korps Marinir, dan kapal perang. "Sebelumnya, Korps Marinir sudah mendapatkan 17 unit tank BMP-3F dan akhir tahun ini akan ditambah lagi 37 unit. Tahun depan, sejumlah pesanan alutsista lain datang lagi," ujarnya.

Marsetio menambahkan Mabes TNI-AL telah memesan sejumlah peralatan tempur dari industri strategis di dalam dan luar negeri, antara lain tiga kapal selam dari Korea Selatan, empat kapal LST (Landing Ship Tank) dari PAL, dan kapal fregat (Inggris). Selain itu, masih ada kapal cepat rudal, kapal hidrografi, helikopter antikapal selam, dan kapal latih Kadet AAL pengganti KRI Dewaruci yang usianya sudah tua.

"Kekuatan tempur TNI AL baik untuk kapal, Marinir, maupun pangkalan udara akan dilengkapi secara bertahap sesuai program MEF (Minimum Essential Forces)," tambah Marsetio.

Sementara untuk kegiatan Latgab TNI Tingkat Divisi tahun 2013 yang berlangsung 2-5 Mei di Situbondo, Jatim, TNI-AL mengerahkan sebanyak 42 kapal perang dari berbagai jenis, tank amfibi, helikopter, pesawat Cassa dan Bolcow, serta sejumlah persenjataan tempur (roket dan meriam).

Sedangkan jumlah personel TNI-AL dari berbagai unsur kesatuan yang terlibat latihan lebih kurang 6.500 prajurit dari total 16.745 prajurit TNI yang ikut latgab. (metrotvnews)

Dapat uang melalui internet

Sunday, May 12, 2013

PT LEN Produksi Tansponder Sasaran Torpedo



Salah satu lini produksi PT LEN, Lembaga Elektronika Nasional, yakni produk Elektronika Pertahanan, memproduksi Tansponder Sasaran Torpedo. Transponder Sasaran Torpedo yang berkode Transponder TPO TLM - 01, adalah suatu target bergerak bawah air yang digunakan dalam suatu latihan peperangan anti kapal selam.

TNI AL bekerjasama dengan PT LEN merancang dan merealisasikan Transponder sasaran tembak torpedo (Transpedo) yang akan digunakan sebagai target tembak torpedo, sebagai pengganti kapal selam pada latihan tembak objek bawah air. Lembaga tersebut (PT LEN) melakukan proses penelitian dalam perancangan platform dan realisasi sistem mekanik Transponder Torpedo. Mereka kemudian melakukan perancangan sistem embedded dan sonar.

Kemampuan Transponder TPO TLM - 01 hasil produksi PT LEN ini memiliki kemampuan merespon pancaran gelombang akustik yang berasal dari Sonar System Kapal anti Kapal Selam. Ia (Transpedo) juga mampu bergerak sendiri, dan dirancang untuk dapat digunakan secara berulang-ulang, karena itu dilengkapi dengan kemampuan sistem pemulihan (Recovery system) secara otonom.

Transpedo ini memiliki ketahanan (Endurance) selama 3 jam dan dilengkapi pula dengan annuciator sinar lampu agar mudah dilacak.

Keberadaan transpedo ini sangat penting bagi TNI AL sebagai sarana latihan melumpuhkan kapal anti-kapal selam.

Transpedo dapat dapat beroperasi sampai dengan kedalaman 200 meter dengan waktu operasi sampai 3 jam, sesuai dengan spesifikasi permintaan dari TNI AL. Peningkatan dapat terus dilakukan sehingga mampu mencapai kedalaman yang lebih besar dan waktu operasi yang lebih panjang. (W Alfianto)

Dapat uang melalui internet

Sunday, May 5, 2013

Transfer Teknologi Alat-Alat Tempur: Fakta Atau Utopia ?


MLRS Astross II yang dibeli TNI dari Brazil beberapa waktu lalu. Akankah Brazil melakukan Transfer teknologi (ToT) untuk Indonesia dalam pembuatan Rudal Multi laras ini ? 

Transfer teknologi, terlebih lagi di bidang militer, adalah kisah yang hampir-hampir menjadi dongeng. Dongeng yang enak di dengar, mudah di ucapkan, namun nyatanya selalu sulit diwujudkan. Mungkin istilah itu harus diganti, agar terminologi itu tidak terasa 'menakutkan' bagi negara-negara maju, yang dalam hal ini terkandung makna harus memberikan ilmunya kepada negara-negara berkembang. Jika dalam green technology saja transfer teknologi begitu sulit, apalagi di bidang militer, tentu lebih sulit lagi. Jangan berharap mereka (negara maju) itu mau menularkan ilmunya begitu saja.

Tapi jika memang transfer teknologi itu sesuatu yang mustahil dilakukan, kenapa Jerman mau berbaik hati membantu Indonesia mendirikan pabrik pesawat terbang bernama IPTN ketika itu ?
Ya, itulah kelihaian BJ Habibie dalam memboyong ahli-ahli pesawat Jerman ke Indonesia, dan kepandaian beliau juga dalam meyakinkan Presiden Soeharto ketika itu agar mau tanda tangan mengalokasikan trliunan rupiah untuk proses pendirian dan pendidikan ahli-ahli aeronetika Indonesia.

Transfer teknologi memang sulit, tapi bukan berarti mustahil. Terbukti kita juga bisa menguasai teknologi tinggi yang tidak mampu dikuasai oleh negara tetangga, berkat 'transfer teknologi' dari negara maju seperti Jerman. Persoalannya tidak terletak pada keengganan sang penguasa teknologi untuk memberikan ilmu dan pengalamannya pada negara penerima, melainkan 'cara' mendapatkannya.

Ya, cara atau strategi negara berkembang agar bisa mendapatkan ilmu dari negara maju itulah yang menentukan. Hampir pasti mereka tidak akan sudi memberikan begitu saja pada negara dan bangsa lain, namun mereka bisa 'dipaksa' dengan satu atau lain cara agar mau 'menularkan' ilmunya ke negara-negara berkembang.

Seperti yang tengah dan sudah kita lakukan, kita bisa saja merekrut tenaga ahli dari mereka (negara-negara maju) untuk bekerja di perusahaan yang kita dirikan dengan menawarkan bayaran yang lebih tinggi di bandingkan di negara asalnya. Ekspatriat itu dikontrak dalam jangka waktu tertentu, dan diberi target dalam waktu tertentu pula agar bisa mendidik anak buahnya yang orang Indonesia untuk menguasai keahlian mereka. Itu yang dilakuka PT DI dulu.

Cara kedua adalah dengan riset dan pengembangan bersama dengan negara-negara lain. Misalnya program pembuatan kapal selam Indonesia-Korsel dan proyek pembuatan pesawat tempur KFX/IFX juga antara Korsel-Indonesia.

Cara ketiga adalah 'mencontek' teknologi itu dengan membongkar pasang barang yang kita beli dari mereka. Jepang mungkin berhasil melakukan dengan cara ini, mencontek teknologi AS lalu mereka kembangkan sendiri menjadi teknologi yang lebih marketable. Indonesia bisa saja membongkar satu Tank Tempur Utama Leopard, mempretelinya satu demi satu, dipelajari, lalu dicontek model dan bentuknya. Juga cara kerjanya. Tapi cara ini sangat sulit, perlu berpuluh-puluh tahun. Tapi yang namanya manusia, tetap saja bisa belajar dan melakukan hal itu dengan sukses.

Cara keempat adalah dengan pendirian perusahaan Joint Venture, yakni perusahaan patungan antara perusahaan nasional baik swasta/BUMN dengan perusahaan asing yang memiliki teknologi itu. Contohnya, adalah rencana pendirian perusahaan Foxconn dengan PT LEN dan PT INTI untuk memproduksi tablet canggih dan smarphone high-end.

Pemerintah untuk itu perlu mengatur dalam suatu UU penanaman modal asing, agar transfer teknologi bisa berjalan mulus tanpa hambatan. Misalnya, mengharuskan PT Freeport untuk joint venture dengan perusahaan domestik dalam proses pemurnian emas dan penambangan. Atau mengharuskan Exxon dalam ijin kontraknya dengan Pertamina dalam teknologi eksplorasi dan idenfiikasi sumber-sumber minyak baru. Dengan klausul kontrak yang diperbaiki dan lebih berpihak pada kepentingan nasional, hal itu mungkin bisa dilakukan. Mengapa ? Karena Freeport juga tak mungkin hengkang dan mengalihkan penambangannya ke Alaska atau Chichago sana. Beda dengan Bank atau pabrik mobil yang bisa begitu saja dipindahkan ke negara lain. Persoalannya adalah bunyi kontrak yang sudah ditandatangani waktu pemerintahan dulu begitu merugikan Indonesia. Indonesia bisa saja me-renegosiasi lagi atau 'memaksa' mereka untuk taat pada hukum juridiksi Indonesia. Lain kali hati-hati kalau buat kontrak dengan asing.

Cara kelima adalah cara efektif dan cepat dari Sang Menteri BUMN Dahlan Iskan. Menteri BUMN Dahlan Iskan mencari seantero dunia talenta-talenta hebat Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan raksasa yang bergerakdi bidang teknologi tinggi seperti pembuatan mobil listrik. Gagal import batteri secara massal dari China, Dahlan Iskan mencari cara lain. Beliau (Dahlan Iskan) memanggil pulang anak muda WNI yang pakar pembuatan batteri, yang berpengalaman pernah bekerja dalam pembuatan mobil Hybrid di Daimler Chrysler atau Ferrarri. Hasilnya, berdirilah pabrik batteri canggih di Indonesia untuk keperluan produksi massal mobil listrik nasional.

Dan masih banyak cara lain lagi yang bisa kita terapkan untuk 'mencuri' teknologi dari negara maju. Yang penting, berantas dulu korupsi, KKN yang menjadi hambatan utama dalam memajukan bangsa dan negara ini. Perbaikan manajemen SDM, khususnya sistem renumerasi dan merit system yang berbasis pada kinerja mutlak dilakukan. Jangan sampai misalnya, guru-guru yang bolos selama tahunan tak pernah mau mengajar, malah mendapat dana sertifikasi yang jumlahnya puluhan juta rupiah. Sementara, tenaga pendidik tidak tetap justru harus bekerja keras dengan upah secuil.

Dengan doa dan kerja keras, Insya Allah bisa terwujud. 

Dapat uang melalui internet

AS, Korsel, Indonesia, dan Transfer Teknologi Militer

LVT 7A1 hibah dari Korsel. Pemerintah Korsel memberi hibah 10 unit LTV 7A1 ini untuk Indonesia. Tank ini adalah Tank Amfibi.

Dalam suatu kesempatan di New York, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengungkapkan, transfer teknologi dalam kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan berbagai pihak asing adalah hal yang mudah diucapkan, namun pada kenyataannya sulit diwujudkan. 

"Saya sadar, kalau itu hanya `technology sharing, technology transfer`, mudah diucapkan, tapi dalam prakteknya kandas," katanya di New York, Jumat, dalam jumpa pers dengan para wartawan Indonesia sebelum bertolak kembali menuju Jakarta. 


Hal tersebut dikatakan Presiden Yudhoyono menjawab pertanyaan tentang keuntungan yang bisa dinikmati Indonesia dari pembelian pesawat bernilai miliaran dolar AS oleh Indonesia dari Boeing, termasuk kemungkinan keuntungan dalam hal transfer teknologi dan pengetahuan dari perusahaan raksasa pembuat pesawat Amerika itu. 


"Kalau berbicara tentang `transfer of technology`, itu sangat tidak mudah. Saya sudah kenyang delapan tahun bertemu dengan para pemimpin dunia dalam forum G-20, APEC, ASEAN Summit, negosiasi `climate change`. `Technology transfer` dari negara yang menguasai teknologi tidak mudah dilakukan," kata Presiden. 


"Mengapa? Puluhan tahun mereka mengembangkan untuk menguasai suatu teknologi tertentu. Puluhan tahun, dengan sumber daya yang besar, dengan segala yang dia lakukan, tidak begitu saja bisa ditransfer dan dialihkan ke negara lain," tambahnya. 


Ungkapan Presiden RI sebagaimana tersebut di atas masuk akal, terlebih berharap Amerika atau perusahaan asal Amerika mau mengalihkan teknologinya ke Indonesia, adalah sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Jika pun persyaratan tinggi dari kemungkinan technological sharing itu bisa dipenuhi, misalnya Lion Air harus membeli lebih dari 200 unit pesawat dari Boeing, baru bisa dilakukan transfer teknologi. Pelaksanaannya mungkin sulit, meski Lion Air telah memborong lebih dari 230 unit pesawat, pada kenyataannya mereka (Boeing) tidak akan mudah memberikannya pekerjaan-pekerjaan vital itu pada PT DI sebagaimana yang diminta oleh pihak Lion Air. 

Tank Amfibi TNI AL sedang dalam tugas. Indonesia membeli 37 unit Tank Amfibi BMP 3F dari Rusia. Indonesia mendapat transfer teknologi dari pembelian ini berupa cara perawatan Tank dengan baik dan benar.  













Di luar hubungan bisnis, Indonesia bukanlah sekutu tradisional AS. Dalam konteks percaturan politik di dunia dan hubungan internasional, Indonesia bahkan secara teori tidak akan pernah menjadi sekutu AS. Indonesia yang saat ini menjadi negara demokrasi sebagaimana AS yang juga negara demokrasi (bahkan seringkali memaksakan ke negara lain dengan mengirim tentara atau menjatuhkan bom), tidaklah menjadi basis pokok untuk dengan sendirinya transfer teknologi itu menjadi mudah. Demokrasi memang sering menjadi alasan untuk menjadi perekat hubungan antara negara satu dengan yang lain, namun faktanya, ada nilai-nilai lain yang lebih substansial dan lebih dalam lagi agar hubungan itu bisa menjadi saling percaya satu sama lain, hubungan dekat dari hati ke hati. 

Hubungan pemerintah RI-AS cukup baik, namun harus diakui bahwa di tingkat masyarakat Indonesia misalnya, jutaan kaum Muslim tak percaya kebaikan AS itu tulus. Hal itu tak lepas dari sepak terjang AS sendiri yang begitu agresif menyerang negara-negara lain seperti Irak, Afganistan, Pakistan, dan selalu menerapkan standard ganda menyangkut konflik Palestina-Israel. AS, atau setidaknya media AS dan Barat, hampir selalu bersikap memusuhi Islam dan Muslim. 

Tidak hanya itu, AS juga banyak melakukan operasi rahasia (CIA) di hampir seluruh dunia, baik itu di Timur Tengah, di Nikaragua, Chile, Brazil, Argentina, Venezuela, Bolivia, Vietnam, dan lain-lain tak terkecuali di Indonesia menggunakan segala cara, termasuk pembunuhan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak dia (AS) sukai. 

Sejarah Amerika Serikat dipenuhi dengan darah. Negara AS didirikan oleh orang-orang kulit putih dari Inggris yang datang ke Benua Amerika lalu merampas tanah-tanah orang Indian, menindas penduduk asli di sana, dan menyita tanah-tanah mereka, lalu mengusir mereka. Cerita yang sama juga terjadi dalam proses pendirian negara Australia, oleh pelaku yang sama : Inggris. Kali ini yang diusir dan ditindas adalah orang-orang Aborigin.

Penjajahan faktanya tidaklah hilang. Imperialisme yang telah menyebabkan jutaan nyawa manusia melayang selama ratusan tahun, dan milyaran manusia menderita karenanya, hanya bentuknya saja yang berubah, namun hakekatnya tetap sama. Penjajahan yang dilakukan oleh Barat terhadap negara-negara lain di benua lain belumlah usai. Ini terlihat dari perilaku NATO (yang dimotori oleh AS) yang arogan, adigang adigung adiguna, merasa benar sendiri dan cenderung ingin menang sendiri seperti tengah membangun imperium dunia, telah melekat di alam bawah sadar masyarakat negara-negara berkembang. Ini yang menyebabkan AS memiliki banyak musuh di dunia seperti Iran, Bolivia, Nikaragua, Venezuela, Korea Utara, Cuba, dan bahkan Rusia-China.

Hal demikian menjadikan AS paranoid, selalu curiga pada negara lain, sulit mempercayai negara lain termasuk Indonesia, karena 'dosa-dosa'-nya sendiri, kejahatan yang mereka lakukan terhadap negara-negara lain. AS selalu merasa 'takut', was-was, jika negara lain seperti China mampu menyaingi mereka secara ekonomi dan teknologi, apalagi teknologi militer. China pasti tidak akan melupakan begitu saja bahwa negaranya pernah diserang dan dijajah oleh Inggris. China juga pasti ingat dukungan AS atas Taiwan. Meski ada upaya membangun hubungan baik, namun pada dasarnya mereka selalu khawatir kebangkitan militer China. 

Indonesia memang tidak pernah dijajah oleh Inggris atau AS, namun sikap permusuhan AS terhadap negara-negara Islam menjadi penghalang tumbuhnya saling 'trusting' tadi. Khawatir Indonesia maju dan menguasai teknologi yang mereka kuasai. Khawatir Timur Tengah menguasai teknologi pesawat tempur, teknologi nuklir, dan lain-lain. Khawatir Indonesia terlalu dekat dengan China dan Rusia yang seaktu-waktu negara itu bisa menularkan ilmu 'horor-nya ke Indonesia. Secara teori, AS hanya percaya 100 % pada Inggris, Australia, dan Israel.

AS, sebagai sesama Anglo Saxon Inggris dan Australia, adalah bangsa yang dalam sejarahnya penuh catatan hitam. Hampir 90 persen negara bangsa di dunia ini pernah dijajah oleh Inggris. Jika semua bangsa di dunia ini harus "trusted" pada mereka, rasanya sulit. Sepak terjang mereka sebagai bangsa yang penuh kejahatan tidak bisa begitu saja serta merta hilang dengan adanya lembaga bantuan seperti USAID, AusAID, atau sejenisnya dari Inggris. Maka, Indonesia jangan berharap dari negara-negara itu akan sudi mentransfer teknologi tinggi ke negara lain. Mereka akan memproteksi dengan segala cara agar superioritasnya tidak terganggu. Jadi, sebaiknya lupakan itu. Berhati-hatilah jika diajak kerjasama, perlu dicermati apakah akan merugikan Indonesia atau tidak. Contohnya, kerjasama di bidang kesehatan. Mereka (AS dan Inggris) melakukan penelitian penyakit tropis. Mereka bawa sampel virus segala macam untuk diteliti di sana, tanpa melakukan sharing pengetahuan apapun hasil penelitian itu dengan negara di mana sampel itu diambil. Tiba-tiba mereka bikin saja vaksin, obat, dan lain-lain untuk penyakit tropis lalu dijual dengan harga sangat mahal. Jadilah Indonesia hanya dibodohi, selain hanya dijadikan pasar obat-obatan industri framasi mereka, kita tidak mendapat manfaat apa-apa dari kerjasama ini. 

Atau, kasus yang baru-baru ini terjadi. Beberapa perusahaan pertambangan swasta nasional melakukan 'listing' di bursa saham London, bekerjasama dengan mitra perusahaan asing dari Eropa (Inggris). Perusahaan asing partner ini selanjutnya melakukan taktik licik dengan 'me-reset' perusahaan patungan sedemikian rupa sehingga harga saham jatuh terjun bebas. Mereka melakukan black campaign bahwa manejemen prusahaan Indonesia yang mereka jadikan partner ternyata kinerjanya buruk, manjemen keuangannya amburadul, dan lain-lain agar harga saham terus merosot tajam. Padahal mereka (asing) hanya pemilik minoritas.

Langkah selanjutnya adalah mereka berupaya agar perusahaan patungan ini bisa dijual dengan harga seadanya, sangat murah, atau diambil alih kendalinya dengan berbagai macam manuver penguasaan saham. Mereka sangat berpengalaman dalam melakukan ini dengan memanfaat celah hukum dan jaringan internasionalnya untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan domestik di Indonesia lewat "kerjasama" ini. Misalnya, perusahaan pertambangan milik Ilham Habibie yang dia dirikan susah payah dan berkembang; tiba giliran menggaet mitra asing, kini beralih ke Italia dan berkantor di sana setelah peristiwa serupa. Atau yang baru gencar jadi berita, konflik Bakrie-Rothscild. Masih banyak perusahaan lain lagi yang jadi korban yang tidak diberitakan oleh media massa Indonesia.   

Korsel-AS, Korsel-Indonesia, dan Transfer Teknologi

Hubungan Korsel-AS lebih dekat ketimbang hubungan AS-Indonesia. Ini terlihat dari sikap AS dalam konflik Korsel-Korut di mana AS terang-terangan menjadi sekutu Korsel dan Jepang. Korsel-AS memiliki pakta perjanjian pertahanan bilateral, sedang Indonesia-AS tidak. 


Indonesia tentu tidak perlu membuat pakta serupa dengan AS, karena Indonesia tidak butuh perlindungan militer dari AS. Prinisip non blok yang dicanangkan Presiden Soekarno harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan, yakni dengan politik bebas aktif, "having much friends with no enemy".  Kita bebas bergaul dengan siapa saja. Karena jika kita satu musuh saja, misalnya dengan negara tentangga, maka akan mereka jadikan lahan eksploitasi untuk memecah belah kawasan, pasar senjata, dan instabilitas kawasan agar konflik itu terus berlanjut sehingga kita jadi lemah. Kalau kita dan tetangga kita lemah dan tidak akur, maka mudah bagi mereka untuk membuat kita tidak tenang, hidup dalam kecemasan, dan inverstor akan pergi dari sini sehingga ekonomi kita guncang. Kekacauan akan terjadi.

Jadi, cara Indonesia dalam membangun 'trusting' dengan negara tetangga sehingga saling percaya satu sama lain, hidup damai nan rukun dalam satu wadah ASEAN sangat bisa dibanggakan. AS patut mencontoh cara Indonesia ini dalam cara mereka membangun kebersamaan dengan tetangga mereka Cuba, Nikaragua, Meksiko, dan lain-lain.  

Sedangkan hubungan Indonesia-Korsel boleh dibilang sangat dekat, dari hati ke hati. Mungkin karena kita tidak pernah punya konflik kepentingan dengan mereka, dan sama-sama pernah menjadi korban penjajahan. Hal ini pernah ditegaskan oleh Presiden Korsel sendiri di periode sebelumnya, Lee Myung Bak, bahwa hubungan perhabatan Korsel-Indonesia adalah sangat dekat, heart to heart. Korea Selatan banyak melakukan investasi bersama dalam membangun technological Sharing dengan Indonesia. Contohnya, mereka mau berbaik hati melakukan transfer teknologi Kapal Selam padahal kita cuma membeli tiga biji kapal selam. 
      
Namun tetaplah cara terbaik adalah melakukan Riset dan pengembangan bersama-sama seperti halnya proyek KFX/IFX. Indonesia, kata Presiden SBY, lebih mengembangkan kebijakan yang bersifat penelitian dan pengembangan bersama, investasi bersama dan produksi bersama seperti yang dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan sejumlah industri strategis Indonesia dengan negara-negara asing. 

"Itu yang paling baik, akhirnya setelah bersama-sama lima, sepuluh, lima belas tahun, teknologi akan beralih. Itu masuk akal dan mereka juga tidak merasa diambil jerih payahnya selama puluhan tahun untuk mengembangkan teknologi," kata Yudhoyono. 

Berkaitan dengan Boeing, ia mengatakan Indonesia berjuang untuk mendapatkan porsi keuntungan dari nilai pembelian miliaran dolar AS. 

"Perjuangan kita adalah bisa mendapatkan porsi keuntungan itu untuk bangsa kita, untuk industri strategis kita, untuk komponen dalam negeri kita," ujarnya. 

"Kalau bisa dipenuhi akan bagus sekali. Dan itu `direct benefit` yang kita terima dari kerjasama dengan Boeing," tambahnya. 

Terkait kerjasama Indonesia-AS, pemerintah Indonesia dan pihak Boeing Amerika Serikat pada awal pekan ini menandatangani nota kesepahaman kerjasama bidang industri. 

Penandatangan dilakukan di sela-sela Indonesia Investment Day di New York, oleh Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal dan Wakil Presiden Boeing Stanley Rooth, disaksikan oleh Presiden Yudhoyono. 

Maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, dan Boeing tahun lalu menyepakati pembelian pesawat senilai 23 miliar dolar. 

Dengan pembelian itu, Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya --baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan, setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unitpesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900.

Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi suatu bangsa tergantung kemampuan inovasi dari bangsa itu sendiri. Jika kita berhasil memperoleh transfer teknologi dari negara lain yang lebih maju, itu bagus namun jika tidak, ya.. memang begitulah, sulit. 

Jadi baiknya ya kembangkan sendiri, melakukan riset dan pengembangan sendiri, atau mencontek dari alat canggih yang kita beli dari mereka. Jepang saja bisa menjadi pencontek yang sukses dan menguasai dunia, kenapa kita tidak ? Apakah Jepang melakukan penemuan bola lampu ? Mobil ? Pesawat ? Kamera ? Radio ? 

Sama sekali tidak. Yang menemukan cara kerja mobil itu orang Amerika. Yang menemukan pesawat itu Oliver Wirght dan Wilbur Wright, juga orang Barat. Tapi siapa penguasa otomotif di dunia ? dan di Asia ? 
Jawabnya adalah Jepang. Penemu kamera juga bukan orang Jepang, tapi penguasa pasar Kamera digital di dunia adalah Nikon, Canon, Sony, dan lain-lain juga dari Jepang. Korea juga sama, bukan penemu tapi mencontoh dari teknologi Jepang dan AS. Tapi Korea menguasai produk lemari es, smartphone, mobil, dan lain-lain. 

Indonesia tidak harus jadi penemu. Indonesia bisa mencontoh terknologi dari negara lain dan mengembangkan sendiri. Terbukti, kita ternyata juga bisa buat pesawat terbang dengan belajar dari Jerman. Kita juga bisa buat Kapal perang canggih juga berasal dari Korsel dan Belanda. Tapi orang Indonesia juga ada yang jadi penemu, misalnya penemu pengkayaan uranium dengan tingkat rendah. Dan masih banyak lagi. 

Jelas Indonesia punya potensi untuk maju. Siswa SMK saja bisa membuat mobil, tablet, laptop, dan lain-lain jadi kita bisa maju. Tinggal pemerintah saja mau mendukung atau tidak. 

Dapat uang melalui internet

Saturday, March 16, 2013

Alutsista TNI Membaik Tiga Tahun Kedepan


Selasa, 29 Januari 2013 | 10:40


Menhankam  RI Purnomo Yusgiantoro mencoba 
senapan mesin canggih buatan PT PINDAD.

Alutsista TNI Membaik Tiga Tahun Kedepan
Rapim TNI 2013 dimaksudkan sebagai sarana komunikasi bertukar informasi para pimpinan agar tercapai satu tujuan, tindakan serta evaluasi program kerja kinerja organisasi TNI.

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro optimis penyehatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) Indonesia akan membaik paling lambat dalam jangka waktu tiga tahun kedepan. Penyehatan alutsista dilakukan berdasarkan Undang-undang (UU) Industri Pertahanan Negara.

"Penyehatan akan dilakukan berdasarkan Industri pertahanan dan akan kita lakukan dalam waktu tiga tahun. Saya optimis semua itu akan bisa kita lakukan," kata Purnomo Yusgiantoro, sesaat setelah menghadiri Rapat Pimpinan (Rapim) TNI 2013 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (29/1).

Untuk mencapai semua itu, Purnomo berharap adanya kesatuan persepsi dari seluruh pimpinan TNI dalam pelaksanaan tugas 2013. Dengan demikian, penguatan alutsista dapat berjalan sesuai dengan arah kebijakan dan mendapat hasil yang optimal.

Dalam Rapim TNI 2013 yang berlangsung mulai 28 sampai 30 Januari sebagai bentuk sarana komunikasi bertukar informasi para pimpinan agar tercapai satu tujuan dan kesatuan, tindakan serta evaluasi program kerja kinerja organisasi TNI.

Selama hasil evaluasi Rapim TNI sebelumnya, yang menonjol diantaranya adalah belum terlengkapinya alat utama sistem senjata (alutsista) pengganti dari sebagian alutsista lama, penggelaran kekuatan TNI yang relatif masih bertumpu di pulau Jawa, serta keterbatasan dukungan anggaran yang belum mencukupi dalam mewujudkan kekuatan pokok minimun TNI.

Tujuan Rapim TNI untuk mengevaluasi pelaksanaan pembinaan kekuatan dan kemampuan serta gelar TNI 2012, menambah wawasan pengetahuan unsur pimpinan TNI tentang kondisi dan ketentuan yang berlaku berkaitan dengan pelaksanaan tugas TNI 2013

Rapim sendiri diikuti oleh 165 peserta terdiri dari 4 pimpinan TNI, 47 pejabat Mabes TNI, 47 pejabat TNI AD, 35 pejabat TNI AL, 22 pejabat TNI AU dan 10 peninjau.

Disamping pelaksanaan Rapim TNI, dalam kesempatan tersebut juga diadakan static show alat pertahanan dalam negeri di lapangan apel gedung BIII Mabes TNI Cilangkap. Peserta yang terlibat terbagi 38 perusahaan.

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dalam amanat pembukaan Rapim TNI, menegaskan, kondisi lingkungan strategis kawasan saat ini penuh dengan ancaman yang bersumber dari aktor negara maupun non negara.

"Bentuk ancaman dan tantangannya beragam. Secara garis besar dapat dikelompokkan dalam rupa simetriis dan asimetris," kata Agus.

Namun demikian, yang perlu menjadi catatan bahwa ancaman simetris tidak dapat dibatasi pada organisasi aktornya, namun juga bagaimana kekuatan, kesenjataan dan moralnya.

Dijelaskanya, ancaman dan tantangan simetris muncul dari kasus seperti sengketa perbatasan antar negara, perlombaan senjata dan masalah kebebasan penggunaan laut. Sebaliknya, ancaman asimetris secara umum muncul berupa perompakan, pembajakan, terorisme, dan lain sebagainya. 
Penulis: /WBP
Dapat uang melalui internet