Showing posts with label Mobil Hijau. Show all posts
Showing posts with label Mobil Hijau. Show all posts

Saturday, July 27, 2013

Mulai Dari Pencurian Teknologi sampai Cara Mengemudi



Mulai Dari Pencurian Teknologi sampai Cara Mengemudi

INI mirip dengan istilah "sengsara membawa nikmat". Kecelakaan ini, meski menimbulkan keributan yang bising, benar-benar memberikan pelajaran yang berharga.

Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan di antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri yang lagi sama-sama dikembangkan di seluruh dunia.

Ada yang berpandangan mobil listrik tidak perlu menggunakan gearbox. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/roda.

Tapi, ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumnus ITB) berpendapat mobil listrik harus menggunakan gearbox. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini. Demikian juga Ravi Desai (alumnus Gujarat). Mereka setuju tidak harus pakai gearbox, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).

Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu, Sarangan Sabtu pekan lalu memberikan pelajaran yang sangat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.

Saya memang tidak ingin menyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan untuk mewujudkan ambisi keilmuannya. Apalagi, saya menangkap sinyal bahwa para ahli kita itu memang ingin membuktikan kehebatan masing-masing. Saya sangat menghargai itu. Saya memilih bersikap memberikan otonomi yang luas kepada mereka.

Karena itu, ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI dengan menggunakan gearbox, saya dukung penuh. Dana talangan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.

Sebenarnya, pada awalnya saya dan Kang Dasep menanggung malu: Begitu tiba di Jalan Thamrin, Jakarta (dari Depok), mobil AhmaDI "mogok". Media meliputnya dengan besar-besaran. Saya malu sekali. Tapi, saya minta Kang Dasep tidak menyerah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, melainkan low batt. Indikator baterainya kurang sempurna sehingga "menipu".

Minggu berikutnya kami berdua masih menanggung malu: Mobil listrik itu tidak kuat menaiki tanjakan. Padahal tidak terjal. Padahal perjalanan uji coba itu juga diliput langsung oleh media secara luas.

Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.

Sebetulnya masih banyak "malu" yang lain. Tapi, biarlah itu hanya kami berdua yang merasakan.

Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh. Saya mengemudikan mobil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km.

Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali. Tanjakan yang terjal dan turunan yang curam dilewati dengan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasannya boleh dikata berhasil gemilang.

Setelah itu saya minta Kang Dasep membuat mobil listrik jenis yang lebih besar. Sebesar Alphard. Tiga bulan lagi insya Allah sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju untuk membiayainya. Bahkan, saya juga sudah minta Kang Dasep untuk membuat bus listrik.

Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumnus USA) selesai dibuat. Saya pun bertekad mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.

Begitu tiba di Jakarta 19 Desember lalu, mobil Tucuxi (semula saya usul namanya Gundala, tapi Mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pancoran ke Bandara Soekarno-Hatta. Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Mobil tiba di Cengkareng dengan kebanggaan penuh: Mas Danet hebat! Hari pertama ini tidak membawa malu.

Kalau toh ada kekurangannya, hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperbaiki. Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamanya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan secara bergantian ikut mencoba duduk di sebelah saya.

Semua yang menyaksikan terlihat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat.

Beberapa kekurangan memang masih terasa. Tapi tidak mungkin diperbaiki di Jakarta. Maka, saya minta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa.

Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan kemarin Mas Danet tidak lagi menyebut-nyebut soal pencurian teknologi. Yang dipersoalkan tinggal kesalahan cara saya mengemudi dan (menurut perasaannya) saya akan menyingkirkannya.

Setelah diperbaiki, mobil dicoba di sekitar Jogja. Tidak ada masalah. Termasuk sampai Kaliurang. Tapi, suasana sudah kurang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.

Saya sendiri saat itu lagi keliling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Purwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Perhutani dan masyarakat miskin sekitar hutan. Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu, saya minta Tucuxi disiapkan di Solo untuk saya coba lewat medan yang berat.

Itu penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar, mobil tersebut harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: Bisakah mengatasi tanjakan? Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.

Ternyata hebat sekali. Sepanjang jalan, saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tarikannya, power-nya, dan kemampuan menanjaknya hebat sekali. Demikian juga kemampuan baterainya.

Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai waswas. Saya harus menginjak rem sekuat tenaga.

Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berbeda dengan AhmaDI. Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi ciptaan Mas Danet itu tidak menggunakan gearbox. Untuk menahan laju Tucuxi, sepenuhnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gearbox!

Tentu saya mencoba untuk sesekali mengendurkan rem agar tidak overheated. Ini juga disinggung dalam keterangan pers terbaru Mas Danet. Tapi, setiap kali rem saya longgarkan, mobil langsung melaju. Padahal, jalan berkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Danet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.

Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung, otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas. Tapi, bau menyengat akibat rem yang bekerja keras tak tertahankan. Saya memutuskan untuk berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan tajam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.

Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng Gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataran tinggi itu menambah keindahan pemandangan.



Seandainya waktu istirahat ini dibuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Tapi, saya terikat janji dengan Dr Fachri Aly yang akan ke kampung saya sore itu. Dan malamnya kami masih akan salawatan Maulid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kampung saya itu.

Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus menuruni jalan yang curam dan berliku. Kami belum menyadari bahwa tanpa bantuan gearbox, rem akan bekerja sendirian terlalu keras. Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk menginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali menusuk-nusuk hidung.

Ketika akhirnya berhasil mencapai Ngerong, saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang curam dan berkelok. Jalan memang masih akan terus menurun, tapi sudah tidak ekstrem.

Justru di saat hati sudah lega itulah saya merasakan rem Tucuxi tidak lengket lagi. Mobil melaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan. Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhnya. Maka, saya harus ambil keputusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.

Saya segera memutuskan ini: Lebih baik saya sendiri yang menjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tidak ada mobil dari arah berlawanan, saya banting setir mobil itu untuk menabrak tebing tersebut.

Braaak! Mobil hancur. Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi, saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: Tidak ada darah. Saya raba muka saya: Tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.

Setelah mengucap syukur kepada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan, tergores sedikit pun tidak. Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya membentuk segi tiga-segi tiga kecil. Allahu Akbar!

Saya pun memperoleh pelajaran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gearbox. Karena itu, ke depan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gearbox atau yang tidak pakai gearbox.

Mungkin saya akan menghadapi masalah hukum akibat pelanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya. Tapi, pelajaran teknologi itu akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekuensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan itu.

Mobil listrik harus jaya!


Baik Kang Dasep yang menggunakan gearbox maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gearbox sama-sama hebatnya. Sama-sama sudah membuktikan diri menjadi putra bangsa yang membanggakan. Tucuxi akan dikenang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.

Mas Danet akan terus saya dorong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya.

Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berlomba untuk kebaikan negeri. Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya.

Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang, kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik, jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!

Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

(Sumber : Manufacturing Hope-Jppn.com)

Friday, July 19, 2013

Telah Lahir : Baterai Lithium Made in Indonesia



SATU lagi langkah maju untuk bisa segera merealisasikan mobil listrik nasional: sejak Sabtu, 13 Juli 2013, Indonesia telah mampu memproduksi baterai litium (lithium). Memang bukan BUMN yang memproduksinya, tapi BUMN ikut menjadi pendorongnya.

Tahun lalu, ketika mobil listrik generasi pertama diluncurkan tim Putra Petir BUMN, memang masih tersisa satu kegundahan ini: baterai (aki) mobil tersebut masih impor dari Tiongkok. Belum menggunakan baterai made in Indonesia.

Selama ini Indonesia baru mampu memproduksi baterai biasa. Padahal, untuk mobil listrik, tidak mungkin digunakan aki biasa. Karena ukurannya menjadi begitu besar dan beratnya begitu ampun-ampun.

Maka, tidak lama setelah peluncuran tiga mobil listrik jenis city car karya Dasep Ahmadi itu, saya mencari-cari siapa gerangan yang punya potensi mampu memproduksi baterai litium di dalam negeri. Tentu saya mengincar pabrik-pabrik baterai yang sudah ada. Lantas saya tawari siapa yang berminat memproduksi baterai litium.

Saya tidak menjanjikan apa-apa. Tidak berjanji membelinya, tidak memberikan fasilitas apa-apa, dan tidak mau ikut menanggung biaya investasi. Juga tidak ikut menanggung risiko. Saya hanya mengemukakan gagasan besar: bahwa sebaiknya Indonesia mulai memproduksi mobil listrik. Agar kelak kita tidak menyesal untuk kedua kalinya. Agar kita tidak hanya akan kembali menjadi pasar yang besar bagi mobil listrik dari luar negeri.

Saya sangat yakin masa depan mobil adalah mobil listrik. Seluruh dunia sudah sepakat seperti itu. Memang tidak bisa kesusu dan grusa-grusu. Pelan tapi pasti masa depan kita adalah mobil listrik.

Alhamdulillah, ada satu pabrik baterai terkemuka yang mendukung ide itu: PT Nipress Tbk di Bogor. Pengalamannya memproduksi baterai sudah puluhan tahun. Pasarnya tidak hanya di dalam negeri. Ekspornya sudah merambah dunia sampai Eropa.

Perusahaan publik ini tertantang untuk ambil bagian mewujudkan gagasan besar itu, dengan mengembangkan baterai litium. Jackson Tandiono, presiden direktur, dan Richard Tandiono, direktur operasional PT Nipress, menyatakan sanggup menanamkan investasi puluhan miliar rupiah dan sanggup meluncurkan produk baterai litium pertama pada Juli 2013.

Ini sesuai dengan perencanaan lahirnya mobil listrik Putra Petir generasi kedua. Yakni mobil listrik yang disiapkan untuk digunakan dalam forum APEC di Bali awal Oktober depan.

Komitmen PT Nipress benar-benar dipenuhi. Minggu lalu Richard menghubungi saya: apakah bersedia meluncurkan baterai litium pertama made in Indonesia. Tentu saya harus bersedia untuk memberikan penghargaan kepada orang yang memenuhi komitmen yang begitu tinggi. Saya terharu ada yang mau ikut mempertaruhkan uang puluhan miliar demi mobil listrik nasional.

Dengan berhasilnya Indonesia memproduksi baterai litium, hampir 50 persen persoalan mobil listrik nasional teratasi, 50 persennya lagi sebagian besar bisa diadakan di dalam negeri. Seperti pembuatan bodi dan interiornya. Motor listriknya pun sudah akan bisa diproduksi di dalam negeri.

Mobil listrik memang harus menggunakan baterai litium. Dengan litium, untuk kekuatan yang sama, hanya diperlukan ukuran yang kecil, hanya 30 persen baterai biasa. Beratnya pun hanya sepertiga berat baterai biasa. Dan yang lebih penting: dengan baterai litium proses charging-nya bisa cepat.

Waktu meluncurkan baterai litium pertama made in Indonesia itu, kepada saya dipamerkan seluruh proses pembuatannya, pengujiannya, laboratoriumnya, dan standardisasinya. Juga sistem modulnya. Ada modul untuk bus listrik, ada modul untuk mobil listrik jenis MPV, ada modul untuk city car, dan ada modul untuk mobil sport.

Modul itu ditentukan berdasar kesepakatan hasil diskusi ilmiah berkali-kali. Dasep Ahmadi, Ravi Desai, Ricky Elson, dan ahli baterai yang paling top di Indonesia Dr Ir Bambang Prihandoko dari LIPI dengan aktifnya merumuskan bersama ahli dari Nipress untuk menentukan modul-modul itu. Inilah modul baterai litium standar Indonesia!

Dengan ditentukannya modul baterai litium ini, siapa pun yang ingin memproduksi mobil listrik tidak perlu lagi bingung. Terutama dalam penempatan baterainya. Ikuti saja standar modul yang ditetapkan produsen baterai litium tersebut.

Kang Dasep lewat PT Sarimas Ahmadi Pratama sedang menyiapkan delapan bus VIP dan lima MPV yang baterainya sudah made in Indonesia. Ricky lewat PT Berkah Para Maestro sedang menyiapkan tiga MPV dan mobil sport. Ravi lewat partnernya di Surabaya sudah membangun pabrik mobil listrik dengan kapasitas 20.000 per tahun.

Maka, kelahiran mobil listrik nasional generasi kedua akhir Agustus nanti sudah lebih lega. Tidak saja sudah banyak belajar dari kekurangan-kekurangan generasi pertama, tapi juga made in Indonesianya sudah lebih "nendang". (*) Taken from manufacturing hope jppn.com


  Dahlan Iskan
 Menteri BUMN

Saturday, June 22, 2013

Mobil Listrik APEC sesuai Jadwal



JAKARTA - Sebanyak 20 mobil listrik sedang dikebut pengerjaannya agar dapat digunakan para delegasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) di Bali, Oktober mendatang. Yang membanggakan, mobil-mobil ramah lingkungan tersebut diproduksi oleh putra bangsa sendiri.

Friday, June 14, 2013

BMW me-release Mobil Listrik BMW i3

Kalau Jerman saja semangat membuat mobil listrik, kenapa Indonesia tidak ? Indonesia sudah
puluhan tahun 'dijajah' mobil-mobil impor Jepang, sudah saatnya bikin mobil nasional sendiri.
Kalau mobil bensin sudah tidak mungkin mengejar Jepang bahkan di negeri sendiri, maka
tepat jika Dahlan Iskan bilang, start mobil listrik semua sama, jadi kita harus memulainya sekarang. 


Banyak orang pesimis akan masa depan mobil listrik ini tidak hanya di Indonesia, tapi juga di hampir seluruh dunia. Di AS, banyak produsen mobil listrik yang bangkrut dan tidak produksi

Tuesday, May 21, 2013

Toyota Prius Akan Pakai Baterai Li-Ion Baru


Prius, mobil listrik produksi Toyota.
Toyota berhasil mengembangkan baterai Lithium-ion yang digunakan pada mobil hybrid Prius dengan ukuran yang lebih kecil dan ringan. Hal ini jika dibandingkan dengan baterai yang sebelumnya.
Toyota berencana akan menggunakan baterai Li-Ion barunya pada mobil hybrid Toyota Prius. Hal ini menunjukkan Toyota tidak pernah berhenti berinovasi untuk kepentingan konsumennya.



Toyota Prius
Karena itulah, Toyota bersama partnernya Panasonic akan membangun jalur produksi baru dengan investasi 20 miliar yen $194 juta yang akan memproduksi baterai Li-Ion hingga 200.000 unit pertahun atau enam kali lebih banyak dari sekarang, seperti dilrilis toyota-Indonesia Senin (20/05).




Baterai Toyota Prius
Toyota telah mengirim lebih dari 5 juta mobil hybrid terhitung sejak pertama kali dipasarkan 1997. Dari jumlah itu, Prius menyumbang 70 persen dan menjadi mobil hybrid paling popular di seluruh dunia. Tahun lalu, Toyota menjual 1.2 juta unit mobil hybrid dan menjadi tahun pertama penjualan hybrid melewati angka psikologis 1 juta unit dalam setiap tahun. (kpl/rd)
Sumber: Otosia.com
Dapat uang melalui internet

Monday, May 20, 2013

Bus listrik "Hevina" diuji coba di Yogyakarta



Bus listrik yang dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi "Hevina" resmi diuji coba di Yogyakarta untuk kepentingan wahana sekaligus membawa wisatawan dari Taman Pintar berkeliling kawasan di sekitarnya.

"Bus listrik ini akan menjadi bagian dari Taman Pintar dalam konteks riset dan penelitian. Pengunjung juga bisa memanfaatkannya untuk berkeliling di sekitar Taman Pintar dan Malioboro," kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti di sela-sela peluncuran bus listrik "Hevina" di Yogyakarta, Senin.

Rute yang akan dilalui bus listrik tersebut dari Taman Pintar menuju ke kawasan Malioboro dilanjutkan ke Alun Alun Utara, Jalan Ibu Ruswo dan kembali ke Taman Pintar. Pengunjung bisa memanfaatkannya dengan gratis.

Haryadi berharap, animo masyarakat untuk memanfaatkan bus listrik tersebut cukup tinggi. "Segera setelah peluncuran, masyarakat sudah bisa mengakses bus listrik ini," lanjutnya.

Bus listrik yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut memiliki kapasitas 15 penumpang ditambah sopir.

Kecepatan maksimal yang bisa dicapai oleh bus listrik tersebut adalah 100 kilometer per jam dan jarak yang bisa ditempuh maksimal per pengisian baterai adalah 150 kilometer asalkan tidak menyalakan penyejuk udara dan "power steering".

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, dengan adanya uji coba tersebut akan diketahui kelemahan dan kendala bus listrik sehingga bisa segera diperbaiki.

"Kementerian akan terus mengembangkan kendaraan bertenaga listrik. Kami sudah memiliki `road map` pengembangannya. Di tahun-tahun mendatang, tentunya akan lebih baik lagi," katanya.

Selain Hevina, sudah ada satu bus listrik lagi yang dimiliki kementerian dan dua kendaraan jenis sedan, serta sejumlah mobil yang bentuknya mirip mobil golf.

Menristek mengatakan, pengembangan kendaraan bertenaga listrik tersebut sejalan dengan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Teknologi Nasional tahun lalu yaitu membuat kendaraan "low cost green car" yang diutamakan untuk angkutan publik. (Antara)

Dapat uang melalui internet

Selama Ujicoba Naik Bus Listrik Gratis

Prototip bus listrik membawa rombongan berkeliling saat digelar Fun Drive Mobil Listrik Nasional
di sela peluncuran Hakteknas Ke-17 di halaman Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (26/6).


Bus listrik produk LIPI-Kemenristek yang diujicobakan di Yogyakarta akan dioperasikan selama tiga bulan. Mini bus ini hanya akan menempuh rute dari Terminal Ngabean Yogyakarta-Tamanpintar-Jalan Mataram-Malioboro-Kraton-Terminal Ngabean kembali.

"Karena ini ujicoba dan masih dalam bentuk riset maka hanya  akan menempuh rute lingkar Kraton Yogya. Nanti siapa saja boleh naik dan gratis," kata Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi, Informasi (Dishub Kominfo) DIY, Tjipto Haribowo, Senin (20/5).

Menurutnya setiap hari bus ini akan menempuh rute tersebut tiga sampai empat kali saja. "Karena masih dalam ujicoba maka bus ini akan dikawal," katanya.  Bus listrik ini kata dia, juga akan  menjadi obyek belajar di Tamanpintar. Pengunjung katanya, bisa melihat, merasakan dan bertanya lebih jauh tentang mobil ini.

Indra Bastian, guru besar UGM yang merupakan konsultan dan  tim observasi bus itu mengatakan, pihaknya akan melakukan observasi terhadap bus yang diujcobakan di Yogya ini selama 30 hari ke depan.

"Sementara mobil ini akan dioperasikan di area wisata dekat Kraton.Nanti akan ada suttle di beberapa titik," ujarnya. Ada sekitar 8 hingga 9 titik henti.  Sepanjang rute Ngabean-Tamanpintar--Malioboro-Kraton dan Ngabean lain.

Setiap belokan jalan di sepanjang rute itu kata dia, akan  ada monitor pengawas. Selain itu ada saru petugas yang berada di bus untuk melakukan pemantauan. "Jarak rute awal hanya 8,2 kilometer dengan kecepatanperjalanan 10,7 kilometer/jam. Waktu tempuh 46 menit. Waktu operasi selama 6 jam dalam sehari," tambahnya.

Selain operasionalnya sendiri, pihaknya juga mengobservasi manajemen busnya, penumpangnya serta batery sebagai penyimpang energi bagi bus tersebut. Hasil observasi pihaknya tersebut akan menjadi bahan masukan terhadap perbaikan bus tersebut ke depan.

Sementara itu Ketua Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Kemenristek,  Abdul Hapid dalam paparannya mengatakan, bus listrik ciptaan LIPI ini berpotensi digunakan untuk  angkutan umum perkotaan. Beberapa keunggulannya, kata dia adalah  efisiensi penggunaan energi dua kali lebih efisien dibandingkan dengan kendaraan bermesin konvensional.

"Selain itu kelebihaan lainnya biaya opersional dapat ditekan hingga 50 persen dan biaya perawatan juga turun lebih dari 70 persen serta tanpa emisi gas buang sehingga ramah lingkungan," ujarnya.

Bus listrik karya LIPI ini sudah diuji sejak 2011 di Bandung. (Republika)

Dapat uang melalui internet

Dukung Bus Listrik, PLN Siapkan Dua 'Charging Station'



Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan sudah membangun dua stasiun pengisi tenaga listrik (charging station) di Yogyakarta untuk mendukung uji coba bus listrik 'Hevina'.

"Satu kita bangun di Tamanpintar dan satunya di Terminal Penumpang Yogyakarta Giwangan," ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan PLN, Saftri Falani di Yogyakarta, Senin (20/5).

Bentuk stasiun pengecasan ini kata dia mirip dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada umumnya. Pengisian listrik untuk baterai di mobil maupun bus listrik bisa langsung dilakukan layaknya kendaraan biasa. Alat itu pun kata dia, akan mengisi sendiri dan berhenti jika suplai daya listrik yang diinginkan terpenuhi.

Untuk uji coba stasiun pengecasan itu sendiri, PLN juga sudah mengembangkan protipe mobil listrik perkotaan. Namun, "PLN bukan ingin kembangkan mobil listriknya, kita tidak ingin jualan mobilnya tetapi bisnis kamis di charging station-nya," kata dia.

Menurut Saftri, PLN tahun ini tengah mengembangkan model bisnis charging station tersebut. Diharapkan 2015 sudah banyak Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang didirikan di Indonesia untuk mendukung mobil listrik sebagai mobil nasional. (Republika.co.id)

Dapat uang melalui internet

Hong Kong mulai gunakan taksi listrik

Taksi Hong Kong BYD E6 listrik sedang mengisi baterai (Reuters/Tyrone Siu)
Hong Kong mulai menyediakan taksi tenaga listrik untuk mengurangi polusi udara akibat akitifitas kendaraan bermesin BBM.

AFP melaporkan taksi tersebut buatan produsen otomotif China BYD dan disokong oleh investor besar Amerika Serikat Warren Buffett. 

Terdapat 45 taksi listrik BYD e6 jenis crossover lima pintu warna merah yang beroperasi sejak Sabtu.

Tenaga BYD e6 menggunakan baterai fosfat dan cuma perlu dua jam "cas" untuk menempuh 300 km.

Armada tersebut disewa oleh Hong Kong Taxi dan Public Light Bus Association untuk masa percobaan selama enam bulan.

"Ide agar kita bersahabat dengan lingkungan menjadi tren global dan mobil listrik adalah contoh yang baik," kata presiden asosiasi tersebut, Wong Chung Keung.

"Mobil listrik tidak perlu BBM sehingga pengemudi bisa mendapatkan penghasilan lebih banyak," katanya.

Wong CHung Keung menjelaskan taksi dengan mesin BBM tiap satu kilometer biayanya sekitar 0,8 dolar Hong Kong (sekitar Rp900) sedangkan mobil listrik hanya sepertiganya.

BYD menyediakan 47 charger di sembilan lokasi.

Hong Kong pada Januari 2012 memperbarui kebijakan kualitas standar udara mereka setelah riset University of Hong Kong menunjukkan penyakit akibat polusi udara membunuh lebih dari 3.000 orang setiap tahun. (Antara).

Dapat uang melalui internet

Friday, March 22, 2013

UI Luncurkan Mobil Ultra-Efisien dan Hemat Energi


UI Luncurkan Mobil Ultra-Efisien dan Hemat Energi

Pool - detikOto
Kamis, 21/03/2013 21:44 WIB

Mobil tersebut akan dilombakan dalam ajang 'Shell Eco-Marathon Asia 2013' yang akan diselenggarakan di Malaysia pada 4-7 Juli 2013 di Sirkuit Sepang, Malaysia. (dok UI).


Jakarta - Universitas Indonesia (UI) kembali menunjukkan inovasi dengan meluncurkan dua mobil hemat energi, ramah lingkungan dan ultra-efisien karya para mahasiswa Fakultas Teknik (FT) bernama Keris RV dan Kalabia evo-3.


UI siap berkompetisi dalam ajang 'Shell-Eco Marathon 2013' yang keempat kalinya ini pada dua kategori yaitu prototype dan urban concept yang berfokus pada penggunaan bahan bakar yang efisien. (dok UI).

Friday, December 28, 2012

100 Pengusaha Antre 'Ferrari' Tuxuci

100 Pengusaha Antre 'Ferrari' Tuxuci
Harian Sumut Pos, JAKARTA- Sampai saat ini sudah ratusan pengusaha yang tertarik ingin memiliki mobil serupa yang dimiliki Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan. Bagaimana tidak, mobil listrik ramah lingkungan itu bermodifikasi cukup canggih tak kalah dengan mobil buatan luar negeri.
MOBIL LISTRIK: Menteri BUMN Dahlan Iskan usai mencoba mobil sport listrik Tucuxi  kawasan Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Minggu (23/12). Mobil bertenaga listrik senilai Rp3 miliar tersebut setara  Ferarri 3.500 CC.//UKON FURKON SUKANDA/INDOPOS/jpnn
UKON FURKON SUKANDA/INDOPOS/JPNN
MOBIL LISTRIK: Menteri BUMN Dahlan Iskan usai mencoba mobil sport listrik Tucuxi di kawasan Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Minggu (23/12). Mobil bertenaga listrik senilai Rp3 miliar tersebut setara dengan Ferarri 3.500 CC.
Meskipun menghabiskan dana hingga Rp3 miliar untuk pembuatan dan risetnya, pria yang kerap mengenakan sepatu kets ini tak akan membandrol dengan harga itu. Mobil kelas Ferrari ini akan dibandrol hanya seharga Rp1,5 miliar.
“Walau pasarnya kalangan terbatas, sudah hampir 100 orang (yang memesan), rata-rata kalangan pengusaha lokal,” papar Dahlan usai mengitari mobil merah bernama Tucuxi itu di sekitar Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (23/12).
Mobil mewah ini juga tidak bisa dibuat massal seperti mobil listrik berwana hijau yang sudah diluncurkan beberapa bulan lalu. “Karena harganya mahal,” tutup Dahlan.
Yang membanggakan, lanjut Dahlan, mobil listrik sport pertama buatan Indonesia ini diminati warga asing. Tak tanggung-tanggung, dua duta besar dari Eropa ingin memboyong mobil tersebut ke negaranya. “Tapi saya nggak mau sebutkan namanya. Rencananya nanti akan dibawa ke Eropa,” katanya.
Meski begitu, tambah dia, banyaknya pesanan itu belum bisa dipenuhi karena masih harus menjalani tahap uji coba. Dahlan sendiri yang akan menjajal ketangguhan mobil tersebut. “Saya akan tes dulu sampai 1.000 kilometer. Jika sudah tidak ada masalah baru bisa diproduksi, kira-kira April atau Mei (2013) bisa produksi,” imbuh mantan Dirut PLN itu.
Menurut dia, mobil harus di tes sejauh 1.000 kilometer agar bisa mengetahui kendala dan kekuatannya, sehingga saat dilepas ke pasaran sudah dengan hasil sempurna. Dia ingin mobil itu benar-benar cocok bagi kalangan atas. “Saya enggak mau orang kecewa, sudah bayar mahal tapi mobilnya nggak bagus,” ucapnya.
Dia mengklaim kekuatan mobil listrik ini setara dengan kendaraan berbahan bakar minyak kapasitas 3.500 cc. Dengan kekuatan sebesar itu, mobil ini sanggup digeber hingga 200 kilometer per jam. Pada saat mencobanya kali pertama, Dahlan mengaku sempat mencapai kecepatan tinggi. “Pernah 120 kilometer per jam waktu ke bandara,” tambahnya.
Sebagian besar komponen Tucuxi buatan dalam negeri. Hanya baterai dan motor listrik yang masih harus diimpor dari Amerika Serikat. Tapi bulan depan, baterai dan motor listrik akan diproduksi di dalam negeri. “Baterai oleh PT Nipress, dan motor listriknya oleh PT Pindad atau PT Bukaka Teknik Utama. Jadi itu syarat muatan lokal,” ungkapnya.
Tuxuci ini merupakan mobil rancangan alumnus Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Danet Suryatama. Tuxuci dikirim dari Jogjakarta dengan layanan pengiriman mobil car carrier (truck towing) pada pukul 1 Kamis dini hari dengan dibungkus plastik putih.
Menurut Danet, nama Tuxuci diambil dari nama ikan lumba lumba yang langka dari Amerika. “Ya bisa juga diartikan Tuku sih, yang dalam bahasa Jawa artinya beli dong,” katanya sambil tertawa saat menemani Dahlan Iskan.
Mobil dengan kecepatan maksimal 205 km/jam ini langsung memiliki plat nomor DI 19. DI diambil dari Dahlan Iskan dan 19 adalah jumlah huruf di dalam doa bahasa Arab yang biasa dia lafalkan sebelum mengendarai mobil, yaitu Bismillahirrahmanirahim. (chi/ (wir/oki/jppn)

Dahlan Iskan Perkenalkan Mobil Listrik Tucuxi


Dahlan Iskan Perkenalkan Mobil Listrik Tucuxi

Penulis: Agung Kurniawan | Minggu, 23 Desember 2012 | 12:48 WIB|
Share:
  • Sumber : KompasOtmotif | Author : Agung Kurniawan
    Dahlan Iskan dengan Tecuxi "Ferrari" kebanggaan karya anak bangsa
  • Sumber : KompasOtmotif | Author : Agung Kurniawan
  • Sumber : KompasOtmotif | Author : Agung Kurniawan
    Dahlan Iskan dengan Tecuxi "Ferrari" kebanggaan karya anak bangsa
Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan keluar dari mobil sport elektrik merk Tucuxi karya anak bangsa usai melakukan test drive di area Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (23-12). TEMPO-Eko Siswono Toyudho

Jakarta, KompadOtomotif - Menteri BUMN Dahlan Iskan memperkenalkan secara resmi mobil sport listrik buatan anak bangsa Tucuxi   di Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan, hari ini (22/12/2012). Mobil kupe dua penumpang itu didesain Danet Suryatama, putra bangsa yang pernah bekerja di Chrysler Amerika Serikat.
Kemunculan Tucuxi sebenarnya lebih lambat dari rencana sebelumnya 10 Agustus 2012, namun baru terlaksana hari ini. "Kendalanya, yang desain ini orangnya tinggal di AS, jadi dia hanya bisa dua bulan sekali ke Indonesia. Makanya proses agak lebih lama," komentar Dahlan.
Dahlan Iskan mencoba beberapa instrumen di dalam kabin pengemudi mobil sport bertenaga listrik Tucuxi. TEMPO-Wisnu Agung Prasetyo

Selain itu, lanjutnya, kendala dalam pengiriman baterai dari AS. "Hari ini, saya rasakan masih ada sedikit kekurangan pada power steering, tapi mudah diatasi nanti," tegas Dahlan yang mengendarai sendiri Tucuxi dari kediamannya di kompleks menteri Widya Chandra menuju Gelora Bung Karno. Dikatakannya, perjalanan ditempuh 10 menit dan ia pernah ngebut sampai 120 kpj sebelumnya.
Menurut Dahlan, dengan baterai terisi penuh, Tucuxi bisa jalan sampai 400 km atau 4 jam. Sedang pengisian dibutuhkan waktu sampai 5 - 6 jam. Tucuxi dikerjakan oleh rumah modifikasi Kupu-Kupu Malam di Yogyakarta sejak awal 2012. Harganya dibandrol mulai Rp 1,5 miliar per unit.

Editor : Bastian

Tuxuci : Mobil Sport Listrik Pertama Terwujud


NASIONAL - TOKOH
Minggu, 23 Desember 2012 , 13:30:00



Dahlan Iskan bersama Tuxuci, mobil listrik yang diklaim sekelas "Ferrari". Foto: Yessy Artada/JPNN
JAKARTA- Mobil listrik kedua milik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan bernama Tucuxi sekelas Ferrari diyakini tetap dapat bersaing dengan produk luar negeri. Bahkan Dahlan optimis Indonesia nantinya dapat bersaing dengan negara Jepang dan Amerika.

"Kalau kita masuk industri bensin apa mungkin bisa bersaing dengan luar negeri?. Tapi kalau masuk mobil listrik bisa bersaing karena sama-sama berangkat. Ibarat kita marathon, kemungkinan ada kesempatan kita untuk menang," ujar Dahlan disela-sela test drive di Istora Senayan, Jakarta (Minggu, 23/12).

Mobil yang menghabiskan dana hingga Rp 3 miliar ini dirancang oleh Danet Suryatama, lulusan ITS yang memiliki perusahaan Electrikcar di Amerika. Namun, untuk membuat bodi mobil, dikerjakan oleh rumah modifikasi Kupu-kupu Malam di Yogyakarta.

Dan inilah spesifikasi mobil listrik Tucuxi atau lumba-lumba berwarna merah berplat D 19 itu:

Lebar: 1.995 mm
Tinggi: 1.200 mm
Jarak sumbu roda: 3.110 mm
Jarak bebas ke tanah: 150.9 mm
Berat: 1.112,1 Kg

Kelistrikan
Baterai : Lithium Iron Phosphate or Nano-Lithium
Jarak jelajah: 321-482 km sekali isi baterai penuh
Motor : 200KW (268HP) Permanent Magnet AC
Waktu pengisian: tergantung sistem, bisa 4 jam
Kapasitas: 2 (+2) or 4 passengers
Kecepatan maksimum: 193 km per jam
Bodi: Aramid-Carbon Fiber Composite.

Sebelumnya, Dahlan juga pernah meluncurkan mobil listrik sejenis city car karya Dasep Ahmadi berwarna hijau. (chi/jpnn)

Menristek: Target Produksi 100 Ribu Mobil Diharapkan Terwujud 2018


Menristek: Target Produksi 100 Ribu Mobil Diharapkan Terwujud 2018



Menristek: Target Produksi 100 Ribu Mobil Diharapkan Terwujud 2018
Mobil listrik



REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Pemerintah mempersiapkan regulasi untuk memproduksi mobil listrik secara massal yang diharapkan dapat terwujud sebanyak 10.000 unit pada 2018.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di Bandung, Selasa, mengatakan bahwa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono telah meminta kementerian terkait untuk mempersiapkan berbagai peraturan yang dibutuhkan.

"Misalnya, Kementerian Perindustrian, BUMN, Keuangan, dan Perhubungan, menyiapkan regulasi agar ada kemudahan-kemudahannya," ujarnya.

Gusti mengatakan bahwa peta jalan untuk memproduksi massal mobil listrik yang disiapkan oleh enam perguruan tinggi di Indonesia, antara lain, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada, itu sudah dipresentasikan kepada Presiden.

Ia mengakui mobil listrik tersebut hanya 60 persen mengandung komponen dalam negeri. Indonesia, menurut dia, sudah bisa menguasai desain mobil 100 persen dan kontrol elektronik sebanyak 50 persen.

Namun, kata dia, sistem transmisi dan baterai belum sepenuhnya dikuasai oleh Indonesia. "Nanti mendatangkan bahan dari luar negeri bisa bebas pajak, pajak jual akan dikurangi atau ditiadakan sehingga harga jualnya bisa diturunkan," ujarnya.

Meski memproduksi mobil listrik tergolong mahal, Gusti mengatakan bahwa biaya produksi bisa ditekan hingga 30 persen apabila sudah memasuki tahap produksi massal. "Presiden minta BUMN terlibat langsung untuk produksi massal ini. Nanti kalau terlalu banyak, baru ke swasta," katanya.

Untuk uji coba tahap pertama, menurut Gusti, mobil-mobil instansi pemerintah di seluruh Indonesia siap menggunakan mobil listrik. Selain itu, stasiun pengisian listrik umum juga akan disiapkan secara bertahap.
Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara

Pindad akan Produksi Motor Penggerak Mobil Listrik


Pindad akan Produksi Motor Penggerak Mobil Listrik





Prasetyo Utomo/Antara
  
Pindad akan Produksi Motor Penggerak Mobil Listrik
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa (kiri) bersama Menteri BUMN Dahlan Iskan (kanan) mengendarai mobil listrik seusai rapat koordinasi membahas program mobil listrik nasional di Jakarta, Senin (23/7).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--PT Pindad Persero berencana memproduksi motor penggerak untuk mobil listrik secara massal tahun depan dengan kapasitas 50 Kilowatt (KW).

Saat ini, BUMN penghasil peralatan militer ini baru memproduksi satu motor penggerak.

"Sekarang baru satu yang kita produksi karena menunjukkan kalau kita bisa memproduksinya," kata Direktur Utama Pindad Adik Avianto Sudarsono dihubungi wartawan di Jakarta, Senin.

Menurut Adik, pembuatan motor penggerak ini seiring dengan diproduksinya mobil listrik yang dimulai tahun depan. Motor penggerak mobil listrik ini sudah diuji coba dan akan diperkenalkan pada Rabu (8/8).

"Pak Dahlan (Menteri BUMN) ke Pindad untuk mengetahui apakah kita sudah siapkan agar bisa diekspos Rabu nanti," ujarnya.

Ia menduga harga motor penggerak itu lebih mahal dibandingkan dengan produksi luar negeri karena komponennya masih diimpor.

"Komponennya bisa tembaga, `silicon steel` dan itu harus diimpor. Jauh lebih mahal enam kali kalau diproduksi," paparnya.

Ia mengakui motor penggerak berkapasitas 50 KW hanya diproduksi di Indonesia, sementara untuk yang befkapasitas 15 KW dapat diproduksi oleh negara-negara lain. Motor penggerak 50 KW tidak dijual.

Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah menuturkan selain Pindad, PT Inka Persero juga dapat memproduksi motor penggerak mobil listrik tersebut.

Pindad dianggap sebagai perusahaan yang siap memproduksi motor tersebut.
Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara

Pemerintah Siapkan Regulasi Mobil Listrik


Pemerintah Siapkan Regulasi Mobil Listrik


Pemerintah Siapkan Regulasi Mobil Listrik




Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kementerian Ristek dan Teknologi (Kemenristek) menyatakan bahwa dalam waktu dekat Pemerintah akan menyiapkan regulasi mobil listrik sebagai inovasi unggulan 2012. Hal itu dilakukan terkait setelah lima universitas di Indonesia yaitu ITB, UI, UGM, ITS, dan UNS memaparkan masing-masing roadmap mobil listrik kepada Pemerintah.

"Dari pemaparan tersebut, Presiden berencana memanggil menteri-menteri terkait, seperti Menteri ESDM, Menteri BUMN, Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perhubungan untuk menyiapkan regulasi mobil listrik agar nantinya ada kemudahan dalam produksi mobil listrik," tutur Gusti Muhammad Hatta, Menteri Riset dan Teknologi di Bandung, Selasa (7/8).

Kemudahan tersebut, ungkap Gusti, seperti untuk Kementerian Keuangan dapat dilakukan pengurangan pajak dan untuk Kementerian Perhubungan dengan adanya kemudahan dalam pembuatan STNK. "Karena pada 2018 kita berencana memproduksi massal 10 ribu unit dan 2016 membuat 10 unit guna prototipe. Kalau nanti ada pengurangan pajak maka otomatis harga mobil listrik bisa turun hingga 30 persen. Sedangkan untuk STNK mobil listrik kan tidak dapat diukur lagi melalui cc," jelasnya.

Pendukung mobil listrik, lanjut Gusti, juga sedang di bangun, tapi baru terbatas untuk wilayah Jakarta. "Ada sepuluh Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang rencananya akan dibangun di mal-mal atau tempat parkir. Yang jelas BUMN harus terlibat langsung dalam semua produksi mobil listrik," cetusnya.

Meskipun begitu Gusti agak menyayangkan, karena beberapa bahan baku mobil listrik masih harus impor dari luar negeri. "Kalau disain dan charger seratus persen buatan Indonesia. Namun untuk baterai kita masih belum bisa memproduksi. Sedangkan untuk kontrol elektronik Indonesia masih fifty-fiftydengan luar negeri,"tandasnya.
Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Rachmita Virdani