Showing posts with label sukhoi. Show all posts
Showing posts with label sukhoi. Show all posts
Monday, June 24, 2013
Bulgaria to transfer fuse bomb technology to RI
Indonesia will soon be ready to produce live bombs for fighter aircraft, particularly the Sukhoi 27 SK and 30 MK, as weapons manufacturer PT Sari Bahari Malang will receive technology from Bulgarian fuse-bomb producer Armaco.
Indonesia has only been able to produce casing, warheads and ammunition powder, while importing fuse bombs.
“This is a major step forward for Indonesia. From now on we will no longer depend on other countries because we are able to fulfill the Indonesian Military [TNI] needs of bombs,” company director Ricky Hendrik Egam told The Jakarta Post on Wednesday in Surabaya, East Java.
Ricky, however, refused to reveal the financial value of the cooperation between his company and Armaco.
He said that with the cooperation, Indonesia could also have the chance to provide fuse bombs for Asian countries that use Russian-made Sukhoi fighter jets.
The company has previously faced difficulties in finding countries producing fuse bombs that were willing to transfer the technology. China has rejected the company’s request for cooperation.
PT Sari Bahari has produced bombs for Sukhoi fighter jets, both smoke and live versions, with weights ranging from 100 kilograms to 250 kilograms. The company has also exported 70 millimeter smoke warhead rockets to the Chilean Air Force. (swd) (The Jakarta Post)
Labels:
Fuse Bomb,
PT Dahana,
sukhoi,
ToT,
Transfer Teknologi
Wednesday, May 1, 2013
Lagi, 8 Unit Pesawat Sukhoi untuk Indonesia : Antonov Rusia Tiba di Makassar Bawa Mesin Su 27/30
Sebelum tahun 1998, Indonesia sangat jarang membeli peralatan tempur termasuk pesawat terbang militer meskipun pertumbuhan ekonomi kita ketika itu 7% per tahun. Di zaman Orde Baru, kita terlalu bergantung pada AS dan kiblat Presiden Soeharto ketika itu amat jelas ke arah Blok Barat telah membuat militer Indonesia melemah, kehilangan pamornya. Di tingkat ASEAN, Indonesia sebagai negara besar, kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan kebesarannya, baik Angkatan Udara maupun Angkatan Laut yang dimilikinya, dibandingkan dengan luasnya wilayah yang harus dilindungi. Kita hanya kuat di Angkatan Darat namun amat sangat lemah di udara dan lautan.
"Kedekatan" Indonesia dengan AS dan sekutunya sebenarnya menciptakan dilema tersendiri, yakni kita merasa "tidak bebas" memalingkan muka untuk membeli peralatan dari negara lain seperti Rusia. Bagi AS sendiri, Indonesia sebenarnya bukanlah sekutu utama dalam arti kesamaan ideologi maupun pakta pertahanan di tubuh organisasi yang sama seperti NATO, ANZUS, maupun pakta pertahanan bilateral seperti AS-Jepang, AS-Philipina. Bahkan Indonesia tak lebih dari negara besar yang mereka lupakan dalam hal pengaruh dan perannya di tingkat dunia. Hubungan Indonesia-AS selama ini tak lebih dari pola hubungan Lintah dan Inangnya. Hubungan yang tidak seimbang, di mana negara yang satu banyak mendiktekan kehendaknya terhadap yang lain.
Indonesia, hanyalah "Sang Burung Merak" yang menarik hati karena kekayaan alamnya yang berkilau, yang ketika di Bulan November Tahun 1967 dianggap sebagai 'tangkapan terindah' bagi sang imperialis, Amerika Serikat. Presiden AS ketika itu, Richard Nixon, menginginkan tangkapan besar ini untuk diperas sampai kering. Itulah sebabnya, karena kekayaan alamnya, AS tidak ingin Indonesia jatuh ke pelukan Rusia dan China. Indonesia terlalu seksi untuk dibiarkan bersekutu dengan mereka.
Menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ ini, hasil tangkapannya pun dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan ekonomi Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top” (lihat di tulisan ini).
“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar.”
Di halaman 39 buku “A Game as old as Empire” karangan John Pilger, Bradley Simpson, Jeffrey Winters, John Perkins, ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor.
"Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler", kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi.
"Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri."
Freeport mendapatkan bukit (mountain) emas dan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board) (baca di sini). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”
Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya, di bawah jerat korporatrokasi AS. (baca halaman : Indonesia Menggugat)
AS menguasai Indonesia melalui kelelawar-kelelawar penghisap bernama Freeport, Exxon, Chevron, Newmont, yang terbang ke sana kemari mencari sumber-sumber emas, perak, alumunium, cekungan-cekungan minyak dan gas, untuk kebutuhan industri mereka, dalam perjanjian-perjanjian kontrak karya yang tidak adil, amat sangat merugikan rakyat Indonesia. Kecuali hanya segelintir elit negeri yang makmur di bawah gelontoran suap Dollar AS, rakyat Indonesia kebanyakan hidup miskin.
Sebelum Tahun 2000 saat boneka-boneka AS di rezim Soeharto berkuasa, Sang Mafia Berkeley, Indonesia hanya punya 2 buah pesawat F-16 tanpa persenjataan rudal yang mematikan. Satu di antaranya jatuh. Selebihnya, peralatan tempur tua yang sulit diandalkan. Indonesia hanya punya pesawat Hercules C-130 uzur, beberapa buah Fokker, dan Hawk 200 buatan Inggris. Kendaraan tempur baru yang amat dibanggakan ketika itu hanyalah Tank ringan Scorpions buatan Inggris.
Indonesia tak mampu membeli rudal Sidewinder yang berharga sangat mahal (lebih tepatnya sengaja dijual sangat mahal agar Indonesia tak mampu memilikinya), dan hanya mampu membeli beberapa kapal bekas eks Jerman Timur. Mengapa anggaran kita tidak pernah cukup untuk membeli peralatan militer yang bagus padahal ekonomi kita ketika itu tumbuh rata-rata 7% per tahun ? Bukankah kita eksportir minyak terbesar yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu anggota OPEC, eksportir emas, tembaga, bouksit, dan mineral-mineral bahan pembuatan teknologi tinggi ?
Pertama, pertumbuhan ekonomi saat itu hanyalah semu, hanya menguntungkan segelintir elit negara dan tak jelas manfaatnya untuk rakyat banyak. IMF dan Bank Dunia menimbuni Indonesia dengan hutang segunung agar RI terjerat hutang sebagaimana negara-negara di Amerika Latin. Jika Indonesia terjerat hutang hingga tak mampu lagi membayar, maka mudah bagi IMF dan World Bank, yang sebagian besar jatah saham dan suaranya dikuasai AS & negara-negara maju, mendiktekan kebijakannya agar Indonesia manut pada mereka.
Sementara itu, MAIN Consultant, sebuah konsultan pembangunan asal AS yang disewa pemerintah RI untuk menjadi konsultan pembangunan bagi Indonesia atas rekomendasi IMF, berkeliaran ke sana kemari menebarkan dongeng tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, stabil, dan berkelanjutan berkat program-program yang diarahkan dan dibiayai oleh IMF dan Bank Dunia. Program itu sebenarnya tidak bermanfaat langsung ke rakyat banyak, hanya membuat kaya segelintir pejabat negara bermental korup. Contohnya, program peningkatan kapasitas personel Indonesia dalam birokrasi manajemen yang menelan biaya triliunan Rupiah. Program semacam itu hanya memberi pekerjaan saja pada konsultan-konsultan asing, menghabiskan biaya dari plafon hutang. Program itu bahkan dirancang untuk menjerat Indonesia agar jatuh ke dalam kubangan hutang lebih dalam lagi, tercekik lehernya, sampai-sampai APBN kita habis untuk membayar bunga-bunganya saja ke lembaga keuangan dunia itu.
Kedua, kita eksportir bahan-bahan mineral, minyak, dan bahkan tembaga atau emas terbesar di dunia. Namun bagian kita hanya 1% royalti, sementara 99% adalah bagiannya untuk Freeport McMoran, Newmont, Exxon, dan konco-konconya. Yang kaya dari SDA kita adalah AS, bukan kita.
Jadi itulah sebabnya kita tetap miskin. Lebih tepatnya, dimiskinkan oleh para komprador penjajah.
Lalu krisis 1998 terjadi dan pemerintahan ORBA pun jatuh. Reformasi pun tak terhindarkan. Proses demokratisasi terus berlangsung hingga mengantarkan Indonesia ke sekarang ini. Setelah Presiden SBY naik, kita mulai sedikit demi sedikit mampu memperbaiki diri secara ekonomi, dan Indonesia, sebagai negara berdaulat, tak terlalu mudah untuk didikte oleh IMF maupun World Bank yang menjadi perpanjangan tangan kaum kapitalis AS dan sekutunya.
Di saat yang sama AS dan Eropa Barat mengalami krisis yang belum juga pulih hingga sekarang, sementara ekonomi kita tumbuh 6,3 % per tahun. Pertumbuhan terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. PDB Indonesia naik secara signifikan dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan perekeonomian terbesar ke-15 di dunia.
Embargo militer AS atas Indonesia memberi pelajaran berharga bagi Indonesia. Kita seperti membiarkan resiko tinggi menghadang manakala secara militer hanya bergantung pada satu negara besar. Karena embargo AS, pesawat-pesawat F-16 kita tidak bisa terbang karena ketiadaan suku cadang.
Maka, selagi ekonomi kita tumbuh dengan baik, pemerintah RI mulai membeli peralatan militer dari negara-negara lain di luar AS, yakni Rusia, Brazil, Jerman, dan lain-lain; dan di saat yang sama mulai menggalakkan industri dalam negeri guna menciptakan kemandirian alutsista. Salah satunya adalah untuk menghindari embargo sepihak dari negara asal produsen tersebut, yang kongres maupun pemerintahnya amat sangat rewel, dan selalu ingin mencampuri urusan dalam negeri orang lain.
AS tak mau menjual rudal ke kita, tidak jadi masalah. Kita bisa beli rudal berikut teknologinya dari Rusia dan China. Hasilnya, Indonesia sudah mampu membuat roket sendiri RX 550 dan masih akan dikembangkan lagi sebagai pembawa satelit. Belanda tidak mau menjual Tank Leopard yang mereka beli dari Jerman ke kita, maka kita tanpa pikir panjang langsung mengalihkan pembelian ke Jerman sendiri, sang produsennya langsung.
Sekarang pemerintah kita mulai berani. Jika Belanda ingin Indonesia bersedia membeli kapal dari galangan mereka, maka mereka juga harus mau membangun sebagiannya di PT PAL, Indonesia, untuk transfer teknologi.
Jika Bank Dunia mempersulit pencairan dana bantuan (baca : hutang) yang hanya sebesar 1,7 triliun rupiah untuk proyek JEDDI di DKI Jakarta, Gubernur DKI Jokowi dengan tegas akan membatalkan hutang itu. DKI lebih dari mampu untuk mengatasi proyek itu sendiri dengan APBD, karena sisa anggaran tahun lalu saja 10 triliun rupiah belum terpakai.
Untuk pertamakalinya dalam sejarah semenjak ORBA, Indonesia menolak didikte oleh IMF yang telah mengacak-acak perekonomian RI selama ini. Indonesia langsung melunasi seluruh hutang-hutangnya ke lembaga itu, yang di zaman Bung Karno, IMF diusir keluar dari Indonesia. Sekarang IMF yang berbalik meminta-minta ke Indonesia bantuan sebesar 1 juta Dollar AS untuk mengatasi krisis di Eropa.
IGGI (yang kemudian berubah nama menjadi CGI) dibubarkan oleh pemerintah RI, karena peran mereka yang signifikan dalam 'merusak' Indonesia dan memuluskan kepentingan para komprador. Indonesia tidak butuh mereka lagi dengan Paris Club dan segala tetek bengek-nya yang menjadi agen pembodohan arah pembangunan dengan berkedok Lembaga Konsultatif semu. Indonesia belakangan sadar, CGI tak lebih dari gerombolan penipu yang memperdaya negara lugu yang umurnya baru beberapa puluh tahun. Peran CGI sudah selesai, tamat, dan almarhum. Cukup sampai di sini saja mereka membodohi kita, karena Indonesia sekarang bisa mengarahkan diri sendiri menuju kemandirian. Otak orang Indonesia juga sama cerdasnya dengan bule-bule serakah dan angkara murka itu.
Jika Freeport tak mau bangun smelter di negeri ini, maka tahun depan mereka pun tidak akan dijamin bisa ekspor keluar. Indonesia masih menuntut agar Freeport melakukan divestasi saham sebesar minimal 51% ke pemerintah pusat dan ke Pemda. Kelelawar itu tak bisa seenaknya lagi menghisap darah korban, karena sang burung merak telah bermetamorfosis menjadi Banteng yang siap melawan.
Sang Banteng pun mulai bisa mendenguskan api yang melayang-layang di udara, membentuk rangkaian huruf-huruf bertuliskan R-Han 122; dan siap menyengat siapa saja yang mencoba mengganggu. Api itu terbang di bawah cengekeraman Su 27 dan Su 30 MK nan canggih, bergabung dengan 6 Sukhoi 30MK2 dan sejumlah Sukhoi 27 yang sebelumnya sudah ada.
| Pesawat Sukhoi Su 30MK mencengkeram rudal balistik. |
Pesawat Antonov Rusia Bawa 8 Engine Pesawat Tempur Sukhoi
LANUD SULTAN HASANUDDIN (30/4),- Setelah beberapa waktu yang lalu 2 (dua) Pesawat Tempur SU-30 MK 2 dari 6 (enam) Pesawat pesanan pemerintah Indonesia buatan Rusia memperkuat Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Tim penerimaan kedatangan Pesawat tempur Sukhoi Lanud Sultan Hasanuddin, Sabtu siang (27/4) kembali disibukan untuk menerima kedatangan 8 (delapan) engine Pesawat Tempur Sukhoi 27/30 yang diangkut dengan menggunakan Pesawat Antonov AH-124-100 VDA-6192 dengan Pilot Chevron, Co Pilot Morenko.
Kedatangan Pesawat AH-124-100 yang parkir di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin tersebut disaksikan oleh Komandan Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb Danet Hendriyanrto, para Kepala Dinas, Komandan Satuan, Tim dari Kemhan, Mabes TNI dan Mabesau serta Pejabat dari PT. Trimarga Rekatama.
Pesawat AH-124-100 mempunyai panjang badan 68.96 M dan lebar sayap 73.3 M serta tinggi 20.78 M, yang membawa empat engine pesawat tempur SU-27/30 buatan KNAPO (Komsomolsk-na Amure Aircraft Production Association) Rusia, Take off dari Bandara Dzemgi Rusia dengan rute penerbangan Bandara Dzemgi Rusia- Manila - Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, yang merupakan satu rangkaian tahapan dari kedatangan 6 (enam) unit pesawat Tempur SU-30 MK2 pesanan pemerintah Indonesia buatan Rusia. Sumber : TNI
Zaman Presiden Abdurrahman Wahid agak sedikit hiruk pikuk karena manajemen pemerintahan yang cenderung 'bebas' dan gaya kepemimpinan Gus Dur yang 'nyentrik'. Namun di bawah Gus Dur untuk pertamakalinya, kaum minoritas Tionghoa dan Kong Hucu diakui sebagai salah satu agama resmi negara, dan budaya mandarin sebagai bagian dari budaya Indonesia. Pluralisme menjadi lebib menonjol zaman Gus Dur.
Zaman Presiden Megawati Soekarno Putri menurut penulis, adalah zaman ketika BUMN-BUMN dijual ke asing dan bank-bank swasta nasional di bawah BPPN juga diobral dengan harga murah ke asing. Banyak orang menilai, ini adalah zaman 'kegilaan' pada privatisasi yang menyesatkan, sampai-sampai Krakatau Steel, yang didirikan oleh Bung Karno atas pinjaman dari Jepang, nyaris dijual ke Mittal Corporation dengan harga yang sangat murah oleh Menteri BUMN ketika itu, Laksamana Sukardi. Seorang menteri yang percaya sekali akan 'privatisasi' sektor-sektor strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti PAM Jaya yang sebagian sahamnya dijual ke Thames, Perancis, di bawah perjanjian merugikan DKI.
Untunglah Krakatau Steel tidak jadi dijual karena protes keras dari Rizal Ramli, Sri Edi Swasono, dan Kwik Kian Gie ketika itu, karena betapa pentingnya BUMN Perusahaan Baja bagi industri pertahanan, konstruksi, dan lain-lainnya. Tanpa memiliki pabrik Baja sendiri, Indonesia akan sangat kesulitan dalam membuat kapal, Kereta api, Panser, maupun Tank. Perusahaan baja adalah perusahaan vital yang menjadi penopang industri strategis kita seperti PT PAL, PT INKA, PT PINDAD, dan bahkan PT DI. Mengerikan sekali negara besar seperti Indonesia tidak memiliki pabrik baja karena telah dijual murah ke asing. Tanpa punya pabrik baja, mustahil kita bisa buat ANOA, mustahil kita bisa buat Kapal besar dengan berat 50.000 DWT, mustahil kita bisa buat Tank, mustahil kita bisa buat kapal selam, mustahil kita bisa bangun jembatan, mustahil kita bisa buat gedung pencakar langit, mustahil Pertamina bisa menyalurkan gas dan minyak lewat pipa-pipa baja, dan mustahil kita bisa maju.
Andai saja Krakatau Steel jadi dijual ke asing, maka siapapun presiden dan menteri BUMN-nya ketika itu, akan dikutuk rakyat Indonesia sebagai pemimpin paling lugu dan bodoh sepanjang sejarah berdirinya negeri ini.
Sadar telah dibodohi oleh IMF, maka zaman Presiden SBY penjualan aset penting negara ke asing dihentikan sama sekali. Indonesia tidak peduli lagi dengan rekomendasi dan saran menyesatkan dari lembaga-lembaga keuangan internasional yang telah menyebabkan negara ini terpuruk.
Menteri BUMN sekarang, Dahlan Iskan, bahkan menegaskan : "sekarang bukan zamannya menjual BUMN ke asing. Sekarang zamannya BUMN membeli saham-saham milik perusahaan asing dan go international." Untunglah Indonesia punya orang seperti Dahlan Iskan yang jujur, pandai manajemen, menguasai seluk beluk perusahaan, dan seorang enterpreneur hebat.
Menteri BUMN sekarang, Dahlan Iskan, bahkan menegaskan : "sekarang bukan zamannya menjual BUMN ke asing. Sekarang zamannya BUMN membeli saham-saham milik perusahaan asing dan go international." Untunglah Indonesia punya orang seperti Dahlan Iskan yang jujur, pandai manajemen, menguasai seluk beluk perusahaan, dan seorang enterpreneur hebat.
Di Zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan pula PT DI bangkit, PT PAL bangun dan mencetak untung milyaran rupiah, PT PINDAD ekspor Anoa ke mancanegara, PT INKA mulai berjalan, dan lain-lain prestasi menggembirakan.
Penulis menyukai SBY, tapi di saat yang sama juga ada sisi yang tidak penulis sukai dari Presiden kita ini. Penulis menganggap SBY berprestasi dalam membawa Indonesia dari negara yang nyaris gagal menjadi negara yang ekonominya tumbuh. Tapi kelemahan beliau adalah Nepotisme, yakni anak, istri, kakak ipar, adik ipar, dan keluarga dekat dijadikan pejabat tinggi partai yang didirikannya, sekaligus caleg di DPR RI. Cara SBY ini akhirnya dicontoh oleh pejabat-pejabat di tingkat bawahnya, seperti Bupati mencalonkan istrinya jadi bupati periode berikutnya, lalu Istri bupati ini di akhir masanya mencalonkan anaknya untuk menduduki jabatan yang sama. Ini sungguh tragis.
Nepotisme adalah kemunduran reformasi, saat tahun 1998 para istri, teman dekat, dan handai taulan para pejabat negara ramai-ramai mengundurkan diri dari DPR RI yang dipenuhi oleh famili-famili.
Demokratisasi memang tidak mudah. Indonesia masih butuhkan proses yang panjang agar demokrasi kita bisa seperti Jerman. Namun, setidaknya, banyak perbaikan ekonomi yang terjadi.
Di bawah tekanan korupsi yang merajalela saja Indonesia masih bisa tumbuh, maka kita bisa bayangkan betapa hebatnya kita, jika korupsi itu bisa kita basmi hingga ke akar-akarnya. Di tengah-tengah kesulitan global saja kita masih bisa membeli pesawat tempur, membangun gedung-gedung dan pabrik-pabrik, maka jika korupsi bisa kita bantai, maka Indonesia akan bisa tumbuh lebih cepat.
Di saat itulah kita perlu mengupayakan kemerdekaan ekonomi dalam arti sebenarnya. Kita tidak perlu memusuhi AS dan sekutunya, bahkan kita harus tetap bisa bekerjasama dengan mereka, namun harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Kita dengan negara manapun harus sejajar, sama, dan setara.
Lima atau sepuluh tahun ke depan, Indonesia sangat mungkin mampu membuat pesawat tempur sendiri yang lebih canggih dari F-16 Fighting Falcon. Industri strategis kita sudah cukup lengkap dan semua tampak berkembang bersama-sama : untuk menguasai udara kita punya PT DI untuk memproduksi pesawat militer maupun helikopter serang; di laut kita punya PT PAL untuk memproduksi sendiri kapal perang rudal maupun kapal induk; di darat kita punya PT PIDAD yang memproduksi Tank dan panser; di lini identifikasi kita puna LEN dan PT INTI untuk mengembangkan radar dan teknologi tinggi semi-konduktor. Dan kita juga punya LAPAN yang siap mengembangkan teknologi roket untuk daya jelajah dua digit atau lebih, dan juga pembuatan satelit. Pada titik ini, kita adalah yang terbaik di ASEAN.
Sambil mencari bentuk sistem pemerintahan yang tepat, rasanya tidak akan sulit bagi indonesia untuk mengejar Brazil atau India. Jika indeks korupsi di negara ini bisa kita penggal menjadi lebih rendah lagi, maka Indonesia akan bisa tumbuh lebih kencang lagi. Di saat itu, kelelawar yang merugikan akan bisa kita halau menjauh, dan bila perlu paksa mereka untuk mau bekerjasama sehingga saling menguntungkan. Indonesia, pada saatnya, akan bisa berdiri tegak sebagai bangsa yang terhormat, kuat, dan makmur. Sebagai bangsa kita mampu berdiri sejajar dengan Belanda, Australia, dan bahkan Rusia atau AS. SDM kita juga sama pintarnya dengan mereka. Dalam kontes robot, komputer, matematik, astronomi, fisika, biologi, dan lain-lain di tingkat dunia, para pelajar dan mahasiswa kita sering menang dan juara umum.
Lima atau sepuluh tahun ke depan, Indonesia sangat mungkin mampu membuat pesawat tempur sendiri yang lebih canggih dari F-16 Fighting Falcon. Industri strategis kita sudah cukup lengkap dan semua tampak berkembang bersama-sama : untuk menguasai udara kita punya PT DI untuk memproduksi pesawat militer maupun helikopter serang; di laut kita punya PT PAL untuk memproduksi sendiri kapal perang rudal maupun kapal induk; di darat kita punya PT PIDAD yang memproduksi Tank dan panser; di lini identifikasi kita puna LEN dan PT INTI untuk mengembangkan radar dan teknologi tinggi semi-konduktor. Dan kita juga punya LAPAN yang siap mengembangkan teknologi roket untuk daya jelajah dua digit atau lebih, dan juga pembuatan satelit. Pada titik ini, kita adalah yang terbaik di ASEAN.
Labels:
jet tempur,
pesawat tempur,
Su 27,
su 30,
Su 30 MK2,
sukhoi,
sukhoi 30 MK2
Tuesday, April 9, 2013
TNI-AU Tambah Tiga Skadron Udara
| Pesawat Hawk TNI AU termasuk yang akan dimordernisasi dengan pesawat baru. |
TNI-AU Tambah Tiga Skadron Udara
Senin, 08 April 2013, 03:46 WIB
![]() |
| Dua Pesawat Sukhoi SU-MK2 milik TNI AU sedang lepas landas. |
TNI Angkatan Udara berencana menambah tiga skadron udara, yakni skadron udara tempur, angkut, dan pesawat intai menyusul program pembelian 102 unit pesawat berbagai jenis. TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, sebagai bagian dari rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014.
"Saat ini tengah disiapkan skadron udara 16 di Pekanbaru (Riau), pembangunan skadron udara di Makassar, Sulawesi Selatan dan skadron udara Pontianak, Kalimantan Barat," kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, skadron udara 16 akan dipakai sebagai home base pesawat tempur F-16 yang merupakan hibah dari Amerika Serikat.
"Sekarang ini sudah mulai bangun selter untuk pesawat. Tahun depan akan datang 8 unit (dari 24 unit)," katanya.
Pembangunan skadron udara untuk pesawat angkut di Makassar, Sulawesi Selatan, kemungkinan akan diisi Hercules C-130 pembelian teranyar dan hibah dari Australia yang totalnya 10 unit.
Sementara skadron udara Pontianak akan menjadi markas pesawat tanpa awak (UAV). "Skadron UAV di Pontianak sudah disiapkan, tinggal menunggu pesawatnya saja. Mudah-mudahan segera datang," kata Ida Bagus.
Ia mengatakan, untuk pencapaian Minimum Essential Forces (MEF) ada tiga rencana strategis pembangunan TMI AU, yakni renstra 2010-2014, 2015-2019 dan 2020-2024. Namun, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pencapaian kekuatan pokok minimum dapat tercapai pada dua renstra saja.
Penambahan Alutsista Baru
TNI Angkatan Udara akan terus menambah jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya, diluar 102 alutsista baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal dapat dilakukan pada 2019 atau lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan pada 2024.
"Pada awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019). Saya yakin MEF bisa tercapai pada 2019," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro beberapa waktu lalu.
Menurut dia, pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan itu merupakan sebuah terobosan dan keberhasilan berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan, meski pada 2012 lalu pencapaian MEF tak sesuai rencana.
"Kemhan akan melakukan percepatan pembelanjaan anggaran pada 2013 ini, ujarnya.
Menhan pun meyakini kekuatan alutsista TNI AU hingga semester I 2014 mendatang dalam rangka kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF) akan mencapai 40 persen.
"Hadirnya pesawat tempur F-16, pesawat angkut dan pesawat tempur lainnya akan memercepat dan menambah prosentasi kekuatan pertahanan kita, khususnya TNI AU," kata Purnomo.
Alutsista baru tersebut meliputi pesawat tempur F-16, T-50, Sukhoi, Super Tucano, CN-295, pesawat angkut Hercules, Helikopter Cougar, Grob, KT-1, Boeing 737-500 dan radar, kata Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia usai geladi bersih pelaksanaan HUT ke-67 TNI AU, di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu.
Menurut dia, hingga 2014 mendatang pada akhir masa kabinet ini, diperkirakan ada sekitar 45 alutsista bergerak, baik untuk TNI AU, TNI Angkatan Laut maupun TNI Angkatan Darat.
"Sebanyak 45 alutsista bergerak ini termasuk pesawat tempur maupun angkut, yang tiba di Indonesia," ujarnya.
TNI AU memprogramkan pembelian total 102 pesawat guna mencapai target kekuatan pokok minimal (MEF). Apa saja pesawat-pesawat tempur tersebut ?
1. Skuadron Udara Pekanbaru (Riau)

Hibah 24 pesawat tempur jenis F-16 dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI Angkatan Udara.
Amerika menghibahkan sebanyak 24 unit pesawat F-16 yang akan dilakukan secara bertahap dalam empat tahun. "24 unit sesuai rencana, per tahunnya sesuai kemampuan retrofit atau pemeliharaan peningkatan kemampuan, kalau tidak salah setiap tahun delapan unit," kata Agus.
TNI AU membentuk skudron tersendiri untuk seluruh pesawat F-16 ini, yakni di Pekanbaru, Riau. Ini akan melengkapi dua skuadron F-16 yang saat ini telah dimiliki TNI AU di Lapangan Udara Iswahjudi Madiun.
![]() |
| Dua Pesawat F-16 TNI AU sedang lepas landas. |
Agus menambahkan, proses hibah 24 pesawat tempur tersebut masih dalam tahap upgrading sebelum benar-benar diserahkan ke Indonesia. Tak hanya itu, setelah penyerahan hibah ini, F-16 yang telah dimiliki TNI AU juga akan menyusul di-upgrade (ditingkatkan) dengan teknologi dan kemampuan terkini pesawat tersebut.
2. Skuadron Udara Makassar (Sulawesi Selatan)

Tak lengkap rasanya TNI AU punya pesawat tempur F-16 jika belum punya Sukhoi. Pesawat buatan AS akan lebih hebat jika disandingkan dengan pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi Su 30MK2. Kedua kompetiror ini memiliki keunggulan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tiap-tiap pihak. F-16 Fighting Falcon lebih kecil, dengan jangkauan terbang lebih pendek dibandingkan Sukhoi, tetapi lebih lincah. Sedangkan pesawat tempur buatan Rusia lebih besar, mampu menjalankan misi terbang lebih jauh tanpa pendukung kapal induk maupun pengisian bahan bakar di udara. Sukhoi lebih handal melakukan serangan udara untuk jarak jauh, mampu pulang pergi secara mandiri, dengan kecepatan lebih tinggi. Sedang F-16 barangkali lebih efektif untuk melakukan serangan udara yang mengandalkan kelincahan manuver.
![]() |
| Pesawat Sukhoi Su MK2 milik TNI AU. Enam pesawat baru telah memperkuat pangkalan di Makassar. |
3. Skuadron Udara Pontianak
Di Pontianak akan dibentuk 2 skuadron baru, yang berbeda sama sekali dengan skuadron-skuadron yang sudah ada, yakni pesawat tanpa Awak atau UAV.
Dephankam telah membentuk tim di bawah koordinasi BPPT untuk membentuk dua skuadron UAV itu, di mana BPPT akan mewujudkannya untuk kepentingan militer.
"Sekarang kami sedang finalisasi pesawat itu untuk kepentingan pengintaian dan operasi," kata Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar, usai penganugerahan BJ Habibie Technology Award 2012 di Aula BPPT, Jakarta, Rabu 12 September 2012.
Marzan menambahkan pesawat tanpa awak tersebut selain untuk kepentingan pertahanan juga dapat digunakan untuk pengamatan wilayah (survailence) dan kebakaran hutan.
"Pada waktu lalu, pesawat ini digunakan untuk mendukung pembuatan hujan buatan," tambahnya.
Pesawat dengan kemampuan tinggi terbang mencapai 8.000 kaki ini dioperasikan secara otomatis melalui pusat kendali. "Langsung bisa kirim data secara real time ke pusat kontrol," ujarnya.
Bulan September ini, lanjut Marzan, akan dilakukan ujicoba bersama dengan Kementerian Pertahanan. Setelah ujicoba baru kemudian akan dilanjutkan ke tahap produksi.
Beberapa pesawat baru yang akan menempati skuadron yang sudah ada seperti :
1. Super Tucano
| Pesawat Super Tucano buatan Embraer, Brazil. |
TNI AU telah menerima empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano. Diharapkan pada 2014 nanti 14 jenis alutsista akan menambah kekuatan TNI AU, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat latih, pesawat intaidan pesawat tempur lainnya.
"Saat ini TNI AU telah menerima empat unit pesawat Super Tucano. Diharapkan pada akhir 2013 atau awal 2014 akan tiba delapan unit lagi, sehingga tercapai satu skadron atau 16 unit," katanya.
Saat ini, TNI AU telah memiliki empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano, sehingga diharapkan TNI AU memiliki satu skadron pesawat Super Tucano yang ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.
Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Pangkalan Udara Abd Saleh, Kolonel Pnb Novianto Widadi, Minggu, mengatakan, secara umum Lanud Abd Saleh siap menyambut kedatangan pesawat tempur itu, dan akan menggantikan posisi pesawat tempur Oviten-10F Bronco yang sudah memasuki masa "grounded".
Kesiapan yang sudah dilakukan, meliputi sejumlah fasilitas pendukung di Lanud Abd Saleh, seperti shelter atau tempat lokasi parkir pesawat, serta 12 pilot khusus yang telah dilatih untuk menukangi pesawat tersebut.
"Kami terus menyiapkan pendukung lainnya untuk kedatangan pesawat tempur canggih itu, termasuk pilot khusus yang berusia minimal 24 hingga 35 tahun dan ahli dalam berbahasa inggris," katanya.
Dengan tibanya pesawat pada bulan Maret, diharapkan nantinya bisa dipertunjukan kepada masyarakat pada peringatan HUT TNI AU tanggal 9 April 2012.
Sementara itu, rencananya pesawat tersebut akan digunakan untuk misi operasi taktis dalam membantu pasukan di darat, sebab pesawat itu memiliki keunggulan "close air support".
Selain itu, pesawat yang memiliki mesin tunggal buatan "Empresa Braziliera de Aeronautica", juga memiliki kemampuan menembakan asap ke darat secara cepat untuk menunjukkan posisi musuh.
Pesawat itu nantinya tidak hanya digunakan sebagai pesawat latih, namun juga digunakan misi pengamanan wilayah perbatasan, untuk memastikan tidak adanya pelanggaran batas negara oleh pihak lain.
"Total pesawat yang kita pesan sebanyak 16 unit, dan pengiriman akan dilakukan secara bertahap, diawali dengan kedatangan empat unit pada Maret 2012, dan akan ditempatkan pada Skuadron 21 Lanud Abd Saleh," katanya.
![]() |
| Super Tucano TNI AU yang ditempatkan di Malang. |
2. T-50 Golden Eagle
Hubungan Indonesia-Korea Selatan adalah ibarat sahabat dekat. Kedua negara ini telah lama bekerjasama saling menguntungkan dan saling mendukung satu sama lain. Indonesia membeli pesawat tempur T-50 Eagle produksi Korsel dan sebaliknya, Korsel membeli peswat CN 235 produksi PT DI yang akan digunakan sebagai pesawat penjaga pantai atau Cost Guards.
| Pesawat T-50 Golden Eagle. |
| South Korean Defense Minister Kim Kwan-jin holds a model plane CN-235, right, and Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro holds a model plane T-50 Golden Eagle after a meeting in Jakarta, Indonesia, Friday. (AP/Achmad Ibrahim) |
| Display kokpit Pesawat T-50 Golden Eagle |
T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih supersonik buatan Amerika-Korea. Pesawat ini berjenis pesawat latih lanjut serang ringan. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries bekerjasama dengan Lockheed Martin.[5] Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan.[1]
Pengembangan pasawat ini 13% dibiayai oleh Lockheed Martin, 17% oleh Korea Aerospace Industries, dan 70% oleh pemerintah Korea Selatan.[9] KAI dan Lockheed Martin saat ini melakukan program kerjasama untuk memasarkan T-50 untuk pasar internasional.
Indonesia membeli 16 pesawat T-50 Golden Eagle ini untuk pelatihan pilot pesawat tempur bermesin jet supersonik.
Sebaliknya, Korea Selatan juga membeli pesawat dari PT DI yakni pesawat angkut untuk militer mereka dan untuk keperluan Penjagaan Pantai. Kerjasama teknologi Indonesia Korsel tidak hanya itu, mereka juga membantu Indonesia melalui transfer technology dalam pembuatan Kapal selam di PT PAL, Surabaya.
3. Hercules C-130
Pengembangan pasawat ini 13% dibiayai oleh Lockheed Martin, 17% oleh Korea Aerospace Industries, dan 70% oleh pemerintah Korea Selatan.[9] KAI dan Lockheed Martin saat ini melakukan program kerjasama untuk memasarkan T-50 untuk pasar internasional.
Indonesia membeli 16 pesawat T-50 Golden Eagle ini untuk pelatihan pilot pesawat tempur bermesin jet supersonik.
Sebaliknya, Korea Selatan juga membeli pesawat dari PT DI yakni pesawat angkut untuk militer mereka dan untuk keperluan Penjagaan Pantai. Kerjasama teknologi Indonesia Korsel tidak hanya itu, mereka juga membantu Indonesia melalui transfer technology dalam pembuatan Kapal selam di PT PAL, Surabaya.
3. Hercules C-130
![]() |
| Pesawat Hercules C-130 milik Australia yang dihibahkan untuk Indonesia. Pesawat ini berjenis H, yang artinya termasuk keluaran baru. |
Dalam sejarah penerbangan militer Indonesia, pesawat angkut Hercules berjenis B adalah yang paling sering jatuh karena faktor usia dan ketiadaan biaya perawatan saat itu. Tetapi kini Indonesia tumbuh lebih kaya dibandingkan dulu, jadi punya cukup uang untuk melakukan perbaikan atau upgrade pesawat-pesawat tersebut.
TNI menerima empat buah pesawat Hercules berjenis H hasil hibah pemerintah Australia, dan keempat pesawat tersebut telah datang pada tahun 2012 lalu.
"Biasanya kalau dapat hibah, atau dapat pesawat, selalu kami cek, renovate, retrofit, kami betul yakinkan bahwa pesawat itu layak terbang," kata Purnomo ketika ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat.
![]() |
| Pesawat C-130H A-1303 Hercules milik TNI AU hasil Retrofit oleh ARINC, LCC, USA. Ada lima buah pesawat Hercules milik TNI AU yang diretrofit agar tidak jatuh seperti yang lainnya. |
Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI-AU, Marsekal Muda TNI Rodi Suprasodjo, mengatakan pesawat Hercules yang diperlukan TNI-AU saat ini sebanyak 30 unit. Namun, TNI-AU hanya memiliki 21 pesawat Hercules, sehingga masih kurang sembilan pesawat.
"Kekurangan pesawat Hercules itu akan dipenuhi dari hibah dan membeli. Ke-30 pesawat Hercules akan digunakan untuk pesawat tanki sebanyak dua unit, pesawat VIP dua unit, dan pesawat operasional dua batalion sebanyak 26 unit," kata Suprasodjo.
Dia menambahkan, pesawat tipe H yang akan dihibahkan Australia akan digunakan TNI-AU untuk menggantikan tipe B yang sudah sangat tua. Selain Angkatan Udara Amerika Serikat, Indonesia adalah negara pertama di dunia yang menerima C-130 dari pabriknya.
4. Pesawat C 295 dan CN 295
Indonesia khususnya TNI AD dan TNI AU telah menerima dua dari 9 pesawat C 295 dari Air Bus Militery, Spanyol. Demikian Air Bus Military melaporkan. Dua pesawat diproduksi di pabrikan San Pablo, Sevilla, Spanyol lalu sisanya diproduksi di Bandung, oleh PT DI sebagai bagian dari kerjasama Airbus Military-PT DI. PEsawat ini akan digunakan sebagai pesawat angkut militer untuk menggantikan pesawat-pesawat tua Fokker 27 yang segera akan dipensiunkan.
PT DI selanjutnya akan memproduksi pesawat jenis itu dengan nama CN 295, di bawah lisensi Air Bus Military. Peswat ini akan dioperasikan oleh baik TNI AD maupun TNI AU untuk berbagai operasi, seperti pengangkutan personel militer, logistik, misi-misi kemanusiaan dan evakuasi medis seerti untuk bencana alam untuk seluruh teritori wilayah Indonesia yang meliputi 17.000 pulau. Total pengiriman akan selesai pada tahun 2014.
| Prosesi penyerahan peswat CN 295 hasil produksi bersama Air Bus Military-PT DI di Bandung pada 2012 lalu. |

5. Grob G 120TP
Grob adalah pesawat latih buatan perusahaan Jerman, Grob Aircraft AG. TNI AU memilih pesawat ini karena memiliki teknologi terbaru dan revolusioner, turbo-prop powered, dan aman. Pesawat jenis ini dibutuhkan untuk pelatihan pilot pesawat TNI AU ke depan, yang dari waktu ke waktu semakin banyak pilot diperlukan.
Grob G 120TP, saat ini dipandang sebagai 'pilihan terbaik pelatih' pilot militer angkatan Udara Indonesia karena kemajuan dan efektivitas biaya untuk abad 21.
Perusahaan Grob Aircraft telah mendapatkan pembeli untuk pesawat jenis G120TP-nya. Angkatan udara Indonesia berencana akan menambahkan pesawat G120TP tersebut kedalam armadanya, yang nantinya akan difungsikan sebagai pesawat latih dasar.
Grob Aircraft mengatakan, "G120TP turboprop telah dipilih setelah menghadapi persaingan ketat dari Finmeccanica [Alenia Aermacchi] SF-260TP dan Pasifik Aerospace CT-4".
Pengiriman akan dimulai pada tahun 2012, dan perusahaan ini juga akan menyediakan sistem pelatihan darat berbasis komputer, perlengkapan untuk briefing misi dan pembekalan, simulasi kokpit dan paket penuh untuk dukungan pemeliharaan.
Kesepakatan ini, kemungkinan untuk sekitar 18 pesawat, dan Grob Aircraft mengharapkan penanda-tanganan kontrak dapat dilakukan dalam beberapa minggu ke depan.
"Asia dinilai oleh Grob Aircraft sebagai salah-satu wilayah kunci, karena Asia memiliki beberapa Angkatan Udara yang berpotensi untuk mengikuti langkah AU Indonesia," kata perusahaan itu. Grob Aircraft saat ini juga tengah menawarkan G120TP ke beberapa negara lain, termasuk Inggris.
Selain menambah skadron udara baru, TNI AU juga terus menambah penerbang untuk mengawaki alat utama sistem senjata baru itu. "Kita butuh penerbang banyak, kita sudah membuat perencanaannya," tutur Ida Bagus.
Diolah dari berbagai sumber. Republika, Antara, dll.
Labels:
C 130,
c 295,
CN 295,
Drone,
F 16,
golden Eagle,
Grob,
Hercules,
Pesawat,
pesawat nir awak,
Pesawat tanpa awak,
Su 27,
su 30,
sukhoi,
sukhoi 30 MK2,
super tucano,
T 50,
TNI AU,
UAV
Subscribe to:
Posts (Atom)








