Showing posts with label Sjafrie Sjamsoeddin. Show all posts
Showing posts with label Sjafrie Sjamsoeddin. Show all posts

Tuesday, July 2, 2013

Uganda tertarik produk industri militer Indonesia


SS-1 yang kemudian keluar versi lebih baru, SS-2,
adalah senjata buatan PT PINDAD yang sangat hebat.
Senjata ini bisa dikatakan terbaik di dunia, karena itu telah memenangi kejuaraan dunia berulang-ulang mengalahkan AS, Inggris, dll.

Wamenhan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, luar biasa. Ia berkeliling dunia untuk 'berjualan' produk-produk pertahanan buatan dalam negeri, mulai dari pesawat terbang hingga senapan serbu.

Ini merupakan hal baru di negeri ini, karena selama ini, belum pernah seorang pejabat setingkat wakil menteri atau menteri dari Indonesia mau menjadi 'sales' menawarkan produk-produk buatan dalam negeri ke negara-negara lain di dunia, agar mereka mau membeli peralatan kita.

Sales bukanlah bekerjaan buruk. Sales bahkan pekerjaan mulia, karena tanpa sales, pegawai-pegawai administrasi tidak akan gajian. Orang sering meremehkan dan menganggap hina pekerjaan 'menjual', karena identik dengan menurunkan harga diri. Misalnya, di sebuah kompleks perumahan terdapat tulisan : pengemis, pemulung, dan sales dilarang masuk !

Pekerjaan sales bahkan disamakan dengan pengemis ? Benar-benar....     ujian untuk seorang sales, karena itu mereka butuh mental kuat. 

Di negara Eropa, bahkan seorang Presiden menjadi sales menawarkan barang dagangan mereka ke Indonesia. Misalkan, Presiden AS Barack Obama menawarkan F-16 atau Helikopter Apache kepada Presiden SBY. Atau Presiden Finlandia menawarkan 'solusi' transportasi kepada Gubernur DKI Jakarta, Jokowi. Intinya Presiden Finlandia itu menjual konsep, jasa konsultan dan bahkan kontraktor untuk mendapatkan proyek dari Pemda DKI. Tidak apa-apa, kita hargai juga usaha keras mereka mendekati Indonesia. 

Di Afrika, Wamenhan menawarkan produk-produk PT DI dan industri pertahanan kita yang lain kepada para pemimpin negara-negara di Afrika. Setelah beberapa waktu lalu Wamenhan berkeliling ASEAN dan Papua Nugini, untuk keperluan yang sama, kini kita melirik Afrika sebagai pasar potensial. 

Ini suatu hal yang sangat positif. Begitulah seharusnya memang, agar PT DI tetap bisa mendapat order pekerjaan dari negara-negara lain. Dengan adanya order pesawat dari negara lain, maka karyawan PT DI bisa tetap bekerja dan memperoleh penghasilan. Mudah-mudahan ini menjadi momen bangkitnya industri pertahanan kita, agar tidak selalu mengandalkan ekspor bahan mentah terus menerus.  

Berkat kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoedin di Kampala, Uganda, - Menteri Pertahanan Uganda Kiyonga Cripus menyatakan tertarik dengan produk industri militer Indonesia termasuk pesawat angkut militer CN 295.

"Industri militer Indonesia sudah maju. Saya tertarik dengan apa yang dipamerkan tadi," kata Kiyonga seusai pertemuan dengan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Kampala, Uganda, Selasa.

Setelah pertemuan, dilakukan pameran kecil tentang produk-produk industri pertahanan Indonesia seperti rompi anti peluru, helm prajurit, makanan tentara, senapan serbu SS1, dan model pesawat CN 235 dan CN 295 produksi PT Dirgantara Indonesia.

Kiyonga yang didampingi Panglima Angkatan Bersenjata Uganda Katumba Wamala tampak antusias memeriksa barang-barang yang dipamerkan.

"Saya akan datang ke Indonesia untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana barang-barang militer itu diproduksi," kata Kiyonga. 

Ia bersama timnya juga akan melihat bagaimana pusat pelatihan pasukan penjaga perdamaian dan kontra terorisme.

"Pasukan penjaga perdamaian Indonesia sangat dikenal di Afrika," katanya merujuk pada peran Kontingen Garuda di Kongo yang dinilainya melegenda.

Sjafrie didampingi Dirjen Industri Pertahanan Mayjen Sonny Prasetyo,  Direktur Pemasaran PT DI Budiman Saleh, Direktur Afrika Kemlu Lasro Simbolon serta Dubes RI di Kenya dan Uganda Sunu Sumarno.

Kiyonga juga memuji Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus. 

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan tujuan ke Uganda adalah untuk  melanjutkan hubungan sejarah Indonesia dan Uganda sebagai negara NonBlok. "Tujuan utama kami untuk meningkatkan hubungan kerjasama pertahanan," kata Sjafrie.

"Kita proaktif komunikasi dengan negara-negara termasuk yang jauh seperti Uganda. Kita bisa buka pintu untuk kerjasama," katanya.

Sjafrie juga mengundang mitranya  untuk datang ke Indonesia. "Kita punya Universitas Pertahanan ditawarkan untuk belajar para perwira.  Mengundang tim untuk melihat produksi industri pertahanan Indonesia," demikian Sjafrie Sjamsoeddin.

Sinyal positif berkat usaha keras Wamenhan mendekati negara-negara mitra, mereka mau membeli peralatan buatan Indonesia. 

Sekali lagi, ini hal baru. Pejabat yang dulu cenderung pasif, sekarang menjadi lebih proaktif. Barangkali karena Menteri BUMN Dahlan Iskan beberapa waktu lalu merombak 'holding company' BUMN dengan menempatkan PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT Dahana, dan PT PAL langsung di bawah Kementerian Pertahanan. Perombakan ini terbukti positif, jajaran petinggi Kemenhan mau secara proaktif 'bersafari ria' keliling dunia untuk menawarkan produk-produk alutsista kita. 

Kejelian Dahlan Iskan terbukti membawa angin segar perubahan ke arah kinerja yang lebih baik. Bahkan Dahlan Iskan pernah menyatakan, Presiden Indonesia pun sebaiknya juga berjualan menawarkan produk-produk teknologi kita kepada negara-negara lain di dunia. 

Hampir semua pemimpin di dunia melakukan demikian. Dulu hanya Bapak BJ Habibie saja yang 'berjualan' menawarkan produk IPTN ke Malaysia, Korea Selatan, Turki, dan lain-lain. Kini Wamenhan telah mengambil alih tugas itu, mudah-mudahan diikuti oleh para pejabat lain yang bergerak di bidang non industri alutsista, seperti misalnya PT INKA, PT LEN, PT INTI, dan lain-lain menyusul BUMN lain seperti PT Adhi Karya, PT Garuda Indonesia, PT Telkom, PT Wijaya Karya, Pt Semen Gresik, dan lain-lain yang telah lebih dahulu mendapatkan proyek di luar negeri.  

Monday, July 1, 2013

Wamenhan promosikan industri pertahanan ke Afrika

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) bersama Menristek Gusti Muhammad Hatta mengamati produk pertahanan saat pameran industri pertahanan bertajuk "Indo Defence, Indo Aerospace and Indo Marine 2012 Expo and Forum" ke-5 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat. (FOTO ANTARA/ Wahyu Putro A)

Dubai -Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melakukan safari promosi industri pertahanan ke sejumlah negara di Afrika seperti Uganda, Kenya dan Senegal.

Sjafrie bertolak ke Afika dari Bandara Soekarno- Hatta Jakarta, Senin dan transit di Dubai, Senin pagi. Wamenhan antara lain didampingi Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen TNI Sonny ES Prasetyo dan Direktur Produk Manufaktur PT Pindad Tri Hardjono.

Menurut Sjafrie, lawatannya atau blusukanya ke Afrika untuk kerja sama pertahanan antarpemerintah yang nantiya ditindaklanjuti dari bisnis ke bisnis.

"Kita harus proaktif mencari pasar termasuk ke Afrika. Kunjungan ini merupakan upaya untuk mempromosikan produk industri pertahanan nasional," katanya.

Dipilihnya Uganda karena hubungan dekat Sjafrie dengan Menteri Pertahanan Uganda Kiyonga Crispus.

"Sewaktu saya berkunjung ke Afrika sebelumnya saya ketemu Menhan Crispus yang punya ketertarikan dengan produk pertahanan kita," katanya.

Dari minat tersebut, Sjafrie kemudian membawa pejabat dari PT Pindad dan juga PT Dirgantara Indonesia untuk menindaklanjuti pada kunjungan kali ini.

Yang dipromosikan Sjafrie ke Uganda, Kenya dan Senegal berupa peralatan tempur dan nontempur, misalnya saja rompi dan helm prajurit yang sudah mendapat standardisasi PBB.

Begitu juga senjata produk PT Pindad yang terkenal handal dan akurat. "Prajurit kita sering memenangi lomba menembak. Artinya senjata buatan nasional bisa diandalkan," katanya. (Antara).

Tuesday, May 14, 2013

Era Kebangkitan Industri Pertahanan RI


Armada kapal tempur TNI AL sedang menembakkan rudal dalam suatu latihan. Kapal tempur di atas semuanya buatan  industri dalam negeri.

Oleh Sjafrie Sjamsoeddin

Wakil Menteri pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin
Memiliki pertahanan yang tangguh adalah sebuah kebutuhan mendasar bagi setiap bangsa.

Kemampuan pertahanan tidak saja penting dalam menjaga keselamatan bangsa, tetapi juga simbol kekuatan serta sarana untuk menggapai cita-cita, tujuan, ataupun kepentingan nasional.

Efektivitas pertahanan negara turut ditentukan juga oleh kemampuan industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) secara mandiri. Oleh sebab itu, industri pertahanan perlu dibangun melalui revitalisasi industri pertahanan.

Setelah Presiden SBY memberikan arahan revitalisasi industri pertahanan di Kementerian Pertahanan tahun 2004, sejak saat itu mesin dari semua pemangku kepentingan segera bekerja. Kementerian Pertahanan sebagai pembuat regulasi dan kebijaksanaan pembinaan industri pertahanan, TNI sebagai pengguna, dan industri pertahanan sebagai produsen dalam negeri menyatu dalam target merevitalisasi industri pertahanan untuk membangkitkan kekuatan industri pertahanan dalam negeri.

Berbagai langkah, strategi, dan regulasi segera diambil. Pemerintah yang diperankan oleh Bappenas, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Pertahanan bersama TNI dan Polri serta instansi pemerintah lain sebagai pengguna, segera menerjemahkannya.

Presiden pada 2010 telah membentuk suatu badan kebijakan nasional industri pertahanan yang disebut Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Tugas yang diemban oleh KKIP adalah mengembangkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri, baik alutsista maupun non-alutsista.

Sejak saat itu Indonesia sebenarnya telah memiliki visi, misi, dan strategi dasar pembangunan industri pertahanan. Apalagi pemerintah dan DPR pada 2012 menetapkan Undang-Undang Nomor 16 tentang Industri Pertahanan Negara sebagai legalisasi dan legitimasi menghidupkan dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.

Industri pertahanan

Suatu negara yang kuat akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan industri teknologi pertahanan yang mandiri. Filosofi ini penting untuk mendukung misi negara menjaga kedaulatan negara dan keutuhan wilayah.

Presiden melihat kebangkitan industri pertahanan dalam negeri dan untuk semakin mendorong tumbuhnya industri pertahanan dalam negeri, presiden bahkan menggariskan beberapa kebijakan teknis.

Pertama mewajibkan pengguna dalam negeri memakai produksi dalam negeri untuk alutsista dan non-alutsista. TNI dan Polri serta instansi pemerintah lainnya diwajibkan memakai produksi dalam negeri manakala kebutuhan tersebut dapat diproduksi oleh kita sendiri.

Kedua, manakala harus membeli dari luar negeri, maka persyaratannya adalah produksi dalam negeri belum mampu memenuhi spesifikasi teknis dan kebutuhan operasional dari pengguna yang perlu teknologi tinggi. Namun, pembelian dari luar negeri harus ditambah persyaratan transfer teknologi dan ofset dari negara pemasok kepada industri pertahanan dalam negeri.

Ketiga, pembelian dari luar negeri tidak boleh mendikte secara politik terhadap negara dalam membeli peralatan militer.

Sebagai pembina industri pertahanan, Kemhan berkepentingan memberikan peluang kepada industri pertahanan dalam negeri untuk memasok kebutuhan. Bahkan, Kemhan mendorong industri pertahanan dalam negeri untuk bisa ekspor produk mereka ke luar negeri.

Kemampuan industri dalam negeri kita sekarang ini sudah pada tingkat teknologi menengah. Artinya, industri pertahanan kita sudah dapat membuat dan sudah digunakan oleh TNI.

Sebagai contoh, alutsista darat buatan PT Pindad mulai dari pistol dan senjata serbu sampai mortir serta kendaraan tempur roda ban (panser Anoa) sudah mendukung kebutuhan TNI AD. Bahkan, produk PT Pindad itu sekarang sudah berstandardisasi PBB, demikian juga kendaraan taktis pengintainya.

Saat ini sedang berlangsung pembaruan kendaraan tempur roda rantai (tank AMX-13) yang merupakan awal membangun tank ringan. Setelah itu diharapkan kita bisa membuat sendiri tank ringan sampai berat.

Saat membeli tank berat (MBT Leopard) dari Jerman, dalam paket kontrak ada klausul transfer teknologi. Pihak Jerman menyetujui dalam pemeliharaan pascajual, artinya kita akan mendapat kesempatan melakukan didampingi pihak produsen.

Untuk alutsista udara, PT Dirgantara Indonesia kini sedang mengembangkan kerja sama produksi dengan Airbus Military untuk membangun pesawat angkut sedang CN 295. Kita sangat berkepentingan untuk meningkatkan kemampuan memproduksi pesawat angkut ringan, seperti C-212, CN 235, dan CN 295, yang bermuatan 50 penerjun.

Hal yang sama kita lakukan dalam pembuatan helikopter serbu Bell-412 dan heli Cougar 725. PT Dirgantara Indonesia diharapkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan dari TNI dan cocok untuk operasi kemanusiaan.

Di sisi alutsista laut, kita bahkan memiliki beberapa industri pertahanan dalam negeri yang bisa diandalkan. PT PAL diandalkan untuk pembuatan kapal perang skala besar, seperti class korvet dan kapal selam. PT PAL juga didorong untuk membuat kapal perang untuk tanker.

Kita juga memiliki badan usaha milik negara yang lain, yaitu PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari. BUMN ini kita beri porsi untuk membangun Landing Ship Tank atau kapal pengangkut tank ringan dan sedang.

Industri pertahanan swasta juga sudah memberikan kontribusi besar untuk kapal patroli cepat ukuran 60 meter ke bawah, seperti Palindo, Lundin, Anugrah. Bila berkualitas, peluang yang sama juga diberikan kepada beberapa galangan swasta lain di dalam negeri. Alokasi anggaran kepada industri pertahanan cukup besar dalam rencana strategis 2010– 2014, minimal Rp 5,4 triliun.

Peluang ini sekaligus menjadi tantangan bagi industri pertahanan dalam negeri untuk meningkatkan kualitas manajemen agar mampu memenuhi persyaratan kualitas, waktu distribusi, dan harga yang bersaing. Tanpa ada profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan dan keuangan, semua peluang yang ada ini tidak akan bisa termanfaatkan bahkan terlewat tanpa makna.

Saat ini industri pertahanan PT PAL bahkan perlu untuk merekrut tenaga terampil umur 18–20 tahun agar mereka siap digunakan dalam pembangunan kapal selam, yang diharapkan bisa kita lakukan tahun 2020.

Hal kritis dalam pembangunan industri pertahanan dalam negeri adalah pengawakan manajemen yang unggul dan kemampuan untuk mengeliminasi parasit dalam manajemen industri pertahanan dan meniadakan peran ”broker” yang berdampak pada penggelembungan biaya.

Manajemen industri pertahanan jangan pernah memberikan peluang distorsi internal dan eksternal yang hanya menimbulkan kerusakan manajemen. Aturan yang mengharuskan kita membeli langsung ke pabrikan dan menjual langsung kepada pembeli adalah cara paling tepat untuk efisiensi dan manfaat.

Bila kita mau, Indonesia pasti sanggup menjadi kekuatan regional yang didukung oleh kemampuan industri teknologi pertahanan dalam negeri.

Sjafrie Sjamsoeddin Wakil Menteri Pertahanan RI; Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan (Kompas)

Dapat uang melalui internet