Showing posts with label malaysia. Show all posts
Showing posts with label malaysia. Show all posts

Wednesday, July 31, 2013

"Indonesia pelengkap armada perang", Kata 'Utusan', Media Malaysia



Modernisasi peralatan militer Indonesia akan selalu menarik perhatian negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Australia, dan lain-lain. Mungkin bahkan bisa menimbulkan kekhawatiran tersendiri dari mereka, jika hal ini tidak dilakukan dengan hati-hati. Indonesia harus bisa meyakinkan para tetangga bahwa modernisasi peralatan tempur tidak dimaksudkan untuk berperang atau mendukung perilaku agresif, melainkan lebih untuk tujuan penjagaan stabilitias kawasan dan perdamaian. Oleh sebab itu modernisasi perlu dilakukan secara bertahap, langkah demi langkah, dan tidak secara besar-besaran (revolusioner). Hal ini penting agar para tetangga tidak merasa khawatir dan merasa takut terhadap rencana pemerintan RI ini, sehingga stabilitas kawasan utamanya regional ASEAN tetap bisa stabil, aman, damai, dan terbebas dari perlombaan senjata.

Gaya kepemimpinan Presiden Indonesia yang mengedepankan kohesivitas hubungan baik dengan para tetangga di Asia Tenggara /Australia dan jauh dari kesan ingin mendominasi telah memberi pengaruh positif di tingkat ASEAN, sehingga di tengah-tengah modernisasi peralatan militer ini tidak menimbulkan rasa khawatir terhadap mereka semua. Ini tak lepas dari sikap Indonesia yang selama ini berhasil membangun 'budaya persaudaraan' di antara sesama negara ASEAN, dan hal ini menimbulkan rasa 'trusting' atau saling percaya tersendiri antara Indonesia dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara bahwa pembangunan industri pertahanan dan keamanan nasional bukanlah sesuatu yang patut ditakutkan. Malaysia, bagaimanapun juga adalah saudara serumpun, sama-sama ras Melayu, demikian pula halnya dengan Brunei Darussalam dan negara-negara lain anggota ASEAN adalah ibarat satu keluarga. 

Kepemimpinan Indonesia di tingkat ASEAN yang sangat baik sehingga kawasan ini bebas dari perang dan menjadi kawasan yang paling solid di dunia telah diakui sukses oleh PBB, Uni Eropa, AS, dan juga negara-negara lain di dunia. Ini jika kita melihat ada perbedaan dengan kawasan seperti Asia Selatan (India-Pakistan saling curiga), Asia Timur (Jepang-Korea-China tampak saling curiga/perang), Timur Tengah, dan bahkan Eropa (Yugoslavia porak-poranda dilanda perang, Barat (Inggris)-Rusia masih saling usir duta besar masing-masing), dan lain-lain. ASEAN masih lebih adem dibandingkan  dengan kawasan lain yang kadang panas dan kadang dingin.  Terkait dengan modernisasi alutsista nasional Indonesia, berikut ini ulasan dari salah satu media Malaysia, Utusan, yang ditulis oleh Borhan Abu Samah : 
     

Indonesia Pelengkap Armada Perang

Oleh BORHAN ABU SAMAH


ISU persempadanan dengan beberapa negara jiran khususnya Malaysia menjadikan Indonesia kini lebih ghairah memperbaiki kelengkapan armada perang yang agak ketinggalan kerana dibatasi kemampuan kewangan.

Dari segi pertahanan, Singapura masih yang terbaik di rantau ini, namun pembangunan jangka panjang industri pertahanan Indonesia akan berada setidak-tidaknya sama taraf dengan negara-negara lain di rantau Asia Tenggara.

Peningkatan usaha untuk melengkapkan aset ketenteraan negara kepulauan itu terserlah pada pameran ketenteraan yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini atau dikenali sebagai Indodefence, Indoaerospace dan Indomarine 2010.

Pada pameran itu Indonesia melahirkan minat untuk menambah stok kapal selamnya yang kini berjumlah dua buah. Pembelian itu adalah daripada syarikat dari Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME).

Kapal selam yang menarik minat Indonesia adlh jenis DW SSK-11 berukuran 56.4 x 6.2 x 11.5 meter. Kapal selam itu mempunyai kelajuan sehingga 22 knot di dalam air dan 12 knot di permukaan air serta dilengkapi dengan empat torpedo.

Rancangan untuk membeli kapal selam tersebut disuarakan Panglima Tentera Laut Indonesia, Agus Suhartono yang kini merupakan Panglima Tentera Indonesia pada Ogos lalu.

Indonesia juga berminat membeli salah satu produk jet latihan supersonik T-50 bagi menggantikan pesawat Hawk MK-53 yang sudah tua. Hasrat itu dilahirkan Panglima Tentera Udara Indonesia, Marsekal Imam Sufaat, April lalu.

Negara itu turut bekerjasama dengan satu lagi syarikat Korea Selatan iaitu Doosan DST melalui syarikat milik negara PT Pindad bagi mengeluarkan kereta perisai baru yang dilengkapi meriam 90 mm dan roket berdaya jangkau 15 kilometer bernama Tarantula.

Tarantula diutamakan untuk penggunaan Tentera Nasional Indonesia (TNI) berbanding satu lagi kereta perisai Anoa yang dibuat untuk dieksport.

Doosan juga akan menjual 22 buah kenderaan tempur infantri K-21 untuk angkatan darat Tentera Indonesia.

Indonesia juga di peringkat perbincangan dengan syarikat kerjasama India dan Rusia, Brahmos Aerospace untuk membeli roket keluaran syarikat itu yang mampu menjelajah 290 kilometer dengan kelajuan supersonik.

Roket itu boleh dilancarkan dari landasan berbeza-beza sama ada dari bawah laut, permukaan laut, darat dan udara.

Selain itu PT Pindad juga bekerjasama dengan syarikat dari Turki, FNSS Savunna Sistemleri AS untuk menghasilkan kenderaan kalis peluru pertempuran darat. PT Pindah dikatakan telah membeli lesen dua peralatan tempur untuk pengeluaran sendiri.

Kecenderungan negara jiran itu adlh untuk bekerjasama membangunkan armada perangnya daripada membeli peralatan perang semata-mata. Konsep tersebut bukan sahaja memberi kesan positif kepada ekonomi tempatan, bahkan untuk jangka panjang ia lebih mudah untuk meremajakan aset armada perang.

Indonesia juga tidak ketinggalan bekerjasama dengan negara tetangga terdekatnya iaitu Malaysia.

Malaysia berminat untuk membeli kenderaan perisai jenis Anoa bagi menggantikan kenderaan perisai Condor buatan Britain. Anoa kini digunakan oleh Angkatan Tentera Malaysia yang menyertai misi perdamaian Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) di Lubnan. Malaysia dijangka membeli 32 buah Anoa.

Menteri Pertahanan, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi ketika berkunjung ke Indodefence berkata, pembelian aset ketenteraan dari negara jiran itu adlh sebahagian daripada kerjasama rantau ASEAN di dlm bidang ketenteraan bagi mengelak daripada terus bergantung kepada pengeluar aset dri negara Barat.

Selain Anoa, Malaysia juga berminat untuk membeli pesawat CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia untk digunakan bagi rondaan di wilayah maritim.

Namun diharap pembangunan industri ketenteraan jangka panjang Indonesia bukan satu bentuk untuk mewujudkan perlumbaan persenjataan perang, tetapi lebih kepada kepentingan pertahanan negara masing-masing sekali gus untuk menjaga keamanan serta kestabilan rantau ASEAN.



Tuesday, July 2, 2013

Lima negara berminat beli pesawat Indonesia

Pesawat CN-295 Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melintas di depan pesawat CN-295 usai memberikan sambutan saat acara serah terima 2 unit pesawat CN-295 kepada TNI AU di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (4/10/13). (ANTARA/Zabur Karuru)

Jakarta - Lima negara di kawasan Asia Tenggara menyampaikan berminat membeli pesawat angkut buatan PT Dirgantara Indonesua, CN-295.

Lima negera itu menyatakan minatnya untuk membeli CN-295 ketika Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menggelar road show di enam negara ASEAN Mei lalu.

"Angkatan udara dari lima negara sudah menyatakan minatnya terhadap pesawat angkut buatan PT DI tersebut. Lima negara yakni Vietnam, Filipina, Thailand, Myanmar, dan Malaysia," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang juga sekretaris KKIP usai sidang KKIP ke-9 di Kantor Kementerian Pertahanan di Jakarta, Selasa. 

Brunei juga meminta PT DI melakukan demo flight sebelum mereka membeli pesawat itu.

Keinginan negara ASEAN itu terhadap pesawat angkut CN-295, lanjut Wamenhan, karena pesawat itu antara lain bisa digunakan dalam bantuan sosial, kegiatan militer, bisalanding (mendarat) di atas rumput dan bisa mengangkut sekitar 50 penerjun.

Sementara Menhan Purnomo Yusgiantoro yang sekaligus sebagai Ketua KKIP mengatakan, hasil kegiatan road show itu mendapatkan respon yang konkrit dari kelima negara yang dikunjungi.

"Pesawat angkut ini mendapatkan minat dari angkatan udara dan kepolisian di lima negara," katanya.

Selanjutnya, kata Menhan, negara tersebut akan mengirimkan tim observasi untuk membahas masalah teknis dan administrasi dengan PT DI selaku pembuat pesawat. (Antara).

Saturday, March 30, 2013

Pesawat CN295 Mengundang Kagum di Malaysia

Pesawat CN 295

Pesawat CN295 Mengundang Kagum di Malaysia  

Pesawat CN295 Mengundang Kagum di Malaysia  
Pesawat CN 295 di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, 4-10, 2012. Pesawat CN 295 merupakan pesawat angkut taktis menengah hasil kerjsasama Airbus Military dan PT dirgantara Indonesia. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo.
TEMPO.CO, Langkawi – Indonesia memamerkan pesawat CN 295 di Langkawi Internasional Maritime and Aerospace (LIMA) 2013. Tampil di dekat helikopter Apache, penampilan adik CN 235 itu tak kalah mengundang penasaran pengunjung pada hari pertama perhelatan. Apalagi, kabin CN 295 bisa dikunjungi.

Pengunjung juga diperbolehkan berfoto di kokpit. "Ini buatan Indonesia," ujar Najib, seorang pengunjung, saat akan berfoto di dalam kabin. (Lihat FOTO, Aksi Aerobatik Pesawat Jet dari Breitling Jet Team)

CN 295 adalah pesawat terbaru rancangan PT Dirgantara dan Cassa, Spanyol. Di Spanyol, pesawat ini sudah diproduksi lebih dulu dan digunakan sebagai pesawat militer angkut kelas medium. Dua negara tetangga sudah menyatakan tertarik untuk membeli, yakni Thailand, Filipina, dan Malaysia. TNI Angkatan Udara sendiri akan membeli sembilan pesawat ini. Total jenderal, 100 CN 295 sudah diproduksi dan digunakan 17 angkatan perang. Tujuh angkatan peran di antaranya bahkan memesan kembali pesawat tersebut.

CN 295 lebih besar dari kakaknya dan yang terpanjang di kelasnya, sehingga bisa digunakan untuk aneka tujuan. Dari pemburu kapal selam, kargo, hingga pesawat angkut personal. Keunggulan CN 295 dibandingkan pesawat angkut di kelas yang sama adalah pesawat ini hanya butuh landasan pacu yang pendek, selain bisa take off dan landing di medan darurat.

Adapun biaya operasional per jamnya lebih hemat dibandingkan pesawat yang sekelas. Hal ini berkat konsumsi bahan bakar yang irit dan suku cadang yang murah. “CN 295 yang tercanggih di kelasnya,” ujar Sony.

Tak mengherankan, pesawat ini diandalkan untuk misi-misi kemanusiaan di wilayah terpencil di Irak, Afganistan, hingga Chad dan Haiti.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, PT Dirgantara menjadi wakil Indonesia dari kalangan industri, bersama Tim Aerobartik Jupiter dari militer. "Kami harap pameran di Langkawi akan menarik banyak perhatian internasional," ujar Purnomo saat melepas CN 295 ke Langkawi di Halim Perdana Kusuma, Jumat lalu.

Selain memamerkan CN 295, PT DI yang juga membuka stan pamer menawarkan CN 212 dan CN 235. Kedua pesawat yang lebih dulu diproduksi PT Dirgantara ini juga diminati Korea Selatan dan Filipina. “Semua hadir dalam berbagai versi, tergantung kebutuhan,” kata Sonny Saleh Ibrahim, Asisten Presiden Direktur PT Dirgantara di Langkawi.

LIMA 2013 dihadiri 38 negara dari seluruh benua. Perhelatan berlangsung mulai hari ini hingga 30 Maret.

Begini spesifikasi CN 295

KARAKTERISTIK
Panjang: 24,50 meter
Tinggi: 8,66 meter
Rentang sayap: 25,81 meter

Berat maksimum: 23.200 kg
Daya angkut: 9,250 kg
- Personel: 71 orang
- Pasukan penerjun: 49 orang
- Evakuasi: 24 ranjang + 6 tenaga medis

Kecepatan: 480 km/jam
Mesin: 2 x PW-127G turboprop
Jarak jelajah: 5.400 km tanpa muatan

YOSEP S. (LANGKAWI)

Konflik Sabah, Malaysia Tertarik Beli Pesawat CN 295 Buatan Indonesia


Jumat, 22/03/2013 10:53 WIB

Konflik Sabah, Malaysia Tertarik Beli Pesawat CN 295 Buatan Indonesia

Syarifah Nur Aida - detikNews
Pesawat CN 295 buatan PT DI

Jakarta - Dalam acara Langkawi International Maritime and Aerospace (LIMA), Indonesia akan memamerkan sejumlah pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia. Kabarnya, Malaysia tertarik pada CN 295 seiring dengan merebaknya konflik di Sabah.

Budiman Saleh, Direktur PT Dirgantara Indonesia, mengatakan ada beberapa pesawat yang akan dipamerkan. Di antaranya CN 295 dan produk-produk buatan PT DI lainnya.

"Target kita dari Filipina, 212, 235, dan 295. Saat ini itu target kita Malaysia, yang juga tertarik 295 karena konflik Sabah. Korea tetap tertarik pada 212. PT DI punya stand, ada pesawat TNI AU aktif demo," kata Budiman saat jumpa pers di Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (22/3/2013).

Apa kelebihan CN 295? Menurut Budiman, pesawat itu generasi terbaru dari semua jenis 'medium lifter'. Pesawat jenis bisa sebagai pengganti pesawat Fokker 27.

"Sebenarnya CN 235, nah yang bentuknya lebih itu CN 295, juga lebih besar mesinnya, hasil kerja sama dengan Airbus Military, Spanyol. Optimistis bakal banyak order," jelasnya.

Menhan Purnomo Yusgiantoro menambahkan, CN 2935 sudah dikirim ke Langkawi. Selain pesawat di atas, ada juga Thailand yang tertarik dengan light transporter buatan PT DI.

"Semoga nanti di sana kita bisa menarik perhatian," ucap Purnomo.

Acara LIMA digelar mulai tanggal 26-30 Maret 2013 di Langkawi, Malaysia. Peserta LIMA terdiri dari negara-negara di Asia Pasifik.

(mad/nrl)

Thursday, February 14, 2013

PT.INKA Kirim Kereta Pesanan Malaysia

Kereta api buatan PT INKA dikapalkan ke Malaysia
PT.INKA Mengirim Kereta ke Malaysia
Pada Tanggal 12 Juli 2012 PT.INKA telah mengirim 8 unit kereta penumpang ke Malaysia terdiri dari 6 unit Air Conditioned Second Class ( ASC ) dan 2 unit Power Generating Car ( PGC). Pengiriman yang dilakukan melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ini merupakan bagian dari pesanan 16 Unit kereta penumpang dari Keretapi Tanah Malayu Berhad ( KTMB ) Malaysia yaitu 12 unit ASC, 2 Unit PGC dan 2 unit Air Conditioned Buffet Car ( ABC ). Semua kereta pesanan KTMB ini dirancang untuk beroperasi pada kecepatan maksimum 120 Km/jam serta dilengkapi dengan pendingin udara.
Pesanan ini merupakan pesanan kedua dari KTMB, dimana pada tahun 2002 KTMB telah memesan 2 unit PGC ke PT.INKA. Hal ini menunjukkan bahwa produk PT.INKA memenuhi standar kualitas internasional dan mampu untuk bersaing di persaingan pasar global. Kepercayaan dari customer luar negeri inilah yang harus dapat dimanfaatkan untuk dapat meningkatkan pangsa pasar di luar negeri dengan terus meningkatkan kualitas produk.