Showing posts with label Mobil nasional. Show all posts
Showing posts with label Mobil nasional. Show all posts

Saturday, July 27, 2013

Mulai Dari Pencurian Teknologi sampai Cara Mengemudi



Mulai Dari Pencurian Teknologi sampai Cara Mengemudi

INI mirip dengan istilah "sengsara membawa nikmat". Kecelakaan ini, meski menimbulkan keributan yang bising, benar-benar memberikan pelajaran yang berharga.

Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan di antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri yang lagi sama-sama dikembangkan di seluruh dunia.

Ada yang berpandangan mobil listrik tidak perlu menggunakan gearbox. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/roda.

Tapi, ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumnus ITB) berpendapat mobil listrik harus menggunakan gearbox. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini. Demikian juga Ravi Desai (alumnus Gujarat). Mereka setuju tidak harus pakai gearbox, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).

Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu, Sarangan Sabtu pekan lalu memberikan pelajaran yang sangat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.

Saya memang tidak ingin menyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan untuk mewujudkan ambisi keilmuannya. Apalagi, saya menangkap sinyal bahwa para ahli kita itu memang ingin membuktikan kehebatan masing-masing. Saya sangat menghargai itu. Saya memilih bersikap memberikan otonomi yang luas kepada mereka.

Karena itu, ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI dengan menggunakan gearbox, saya dukung penuh. Dana talangan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.

Sebenarnya, pada awalnya saya dan Kang Dasep menanggung malu: Begitu tiba di Jalan Thamrin, Jakarta (dari Depok), mobil AhmaDI "mogok". Media meliputnya dengan besar-besaran. Saya malu sekali. Tapi, saya minta Kang Dasep tidak menyerah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, melainkan low batt. Indikator baterainya kurang sempurna sehingga "menipu".

Minggu berikutnya kami berdua masih menanggung malu: Mobil listrik itu tidak kuat menaiki tanjakan. Padahal tidak terjal. Padahal perjalanan uji coba itu juga diliput langsung oleh media secara luas.

Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.

Sebetulnya masih banyak "malu" yang lain. Tapi, biarlah itu hanya kami berdua yang merasakan.

Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh. Saya mengemudikan mobil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km.

Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali. Tanjakan yang terjal dan turunan yang curam dilewati dengan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasannya boleh dikata berhasil gemilang.

Setelah itu saya minta Kang Dasep membuat mobil listrik jenis yang lebih besar. Sebesar Alphard. Tiga bulan lagi insya Allah sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju untuk membiayainya. Bahkan, saya juga sudah minta Kang Dasep untuk membuat bus listrik.

Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumnus USA) selesai dibuat. Saya pun bertekad mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.

Begitu tiba di Jakarta 19 Desember lalu, mobil Tucuxi (semula saya usul namanya Gundala, tapi Mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pancoran ke Bandara Soekarno-Hatta. Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Mobil tiba di Cengkareng dengan kebanggaan penuh: Mas Danet hebat! Hari pertama ini tidak membawa malu.

Kalau toh ada kekurangannya, hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperbaiki. Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamanya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan secara bergantian ikut mencoba duduk di sebelah saya.

Semua yang menyaksikan terlihat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat.

Beberapa kekurangan memang masih terasa. Tapi tidak mungkin diperbaiki di Jakarta. Maka, saya minta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa.

Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan kemarin Mas Danet tidak lagi menyebut-nyebut soal pencurian teknologi. Yang dipersoalkan tinggal kesalahan cara saya mengemudi dan (menurut perasaannya) saya akan menyingkirkannya.

Setelah diperbaiki, mobil dicoba di sekitar Jogja. Tidak ada masalah. Termasuk sampai Kaliurang. Tapi, suasana sudah kurang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.

Saya sendiri saat itu lagi keliling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Purwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Perhutani dan masyarakat miskin sekitar hutan. Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu, saya minta Tucuxi disiapkan di Solo untuk saya coba lewat medan yang berat.

Itu penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar, mobil tersebut harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: Bisakah mengatasi tanjakan? Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.

Ternyata hebat sekali. Sepanjang jalan, saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tarikannya, power-nya, dan kemampuan menanjaknya hebat sekali. Demikian juga kemampuan baterainya.

Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai waswas. Saya harus menginjak rem sekuat tenaga.

Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berbeda dengan AhmaDI. Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi ciptaan Mas Danet itu tidak menggunakan gearbox. Untuk menahan laju Tucuxi, sepenuhnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gearbox!

Tentu saya mencoba untuk sesekali mengendurkan rem agar tidak overheated. Ini juga disinggung dalam keterangan pers terbaru Mas Danet. Tapi, setiap kali rem saya longgarkan, mobil langsung melaju. Padahal, jalan berkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Danet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.

Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung, otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas. Tapi, bau menyengat akibat rem yang bekerja keras tak tertahankan. Saya memutuskan untuk berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan tajam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.

Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng Gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataran tinggi itu menambah keindahan pemandangan.



Seandainya waktu istirahat ini dibuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Tapi, saya terikat janji dengan Dr Fachri Aly yang akan ke kampung saya sore itu. Dan malamnya kami masih akan salawatan Maulid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kampung saya itu.

Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus menuruni jalan yang curam dan berliku. Kami belum menyadari bahwa tanpa bantuan gearbox, rem akan bekerja sendirian terlalu keras. Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk menginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali menusuk-nusuk hidung.

Ketika akhirnya berhasil mencapai Ngerong, saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang curam dan berkelok. Jalan memang masih akan terus menurun, tapi sudah tidak ekstrem.

Justru di saat hati sudah lega itulah saya merasakan rem Tucuxi tidak lengket lagi. Mobil melaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan. Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhnya. Maka, saya harus ambil keputusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.

Saya segera memutuskan ini: Lebih baik saya sendiri yang menjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tidak ada mobil dari arah berlawanan, saya banting setir mobil itu untuk menabrak tebing tersebut.

Braaak! Mobil hancur. Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi, saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: Tidak ada darah. Saya raba muka saya: Tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.

Setelah mengucap syukur kepada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan, tergores sedikit pun tidak. Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya membentuk segi tiga-segi tiga kecil. Allahu Akbar!

Saya pun memperoleh pelajaran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gearbox. Karena itu, ke depan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gearbox atau yang tidak pakai gearbox.

Mungkin saya akan menghadapi masalah hukum akibat pelanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya. Tapi, pelajaran teknologi itu akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekuensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan itu.

Mobil listrik harus jaya!


Baik Kang Dasep yang menggunakan gearbox maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gearbox sama-sama hebatnya. Sama-sama sudah membuktikan diri menjadi putra bangsa yang membanggakan. Tucuxi akan dikenang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.

Mas Danet akan terus saya dorong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya.

Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berlomba untuk kebaikan negeri. Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya.

Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang, kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik, jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!

Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

(Sumber : Manufacturing Hope-Jppn.com)

Thursday, June 27, 2013

Melaju dengan Bus Listrik Nasional

Mobil listrik buatan nasional mengadakan fun drive pada peluncuran peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 17 di Gedung BPPT, Jakarta Pusat, Selasa (26/6/2012). Mobil dengan kapasitas 17 orang ini mampu berjalan sejauh 150 kilometer dengan pengisian listrik 500 ampere. | KOMPAS.com/Vitalis Yogi Trisna

Jakarta - Setelah sekian lama menjadi wacana, akhirnya Kementerian Riset dan Teknologi meluncurkan bus listrik nasional buatan Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika LIPI 

Saturday, June 22, 2013

Mobil Listrik APEC sesuai Jadwal



JAKARTA - Sebanyak 20 mobil listrik sedang dikebut pengerjaannya agar dapat digunakan para delegasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) di Bali, Oktober mendatang. Yang membanggakan, mobil-mobil ramah lingkungan tersebut diproduksi oleh putra bangsa sendiri.

Tuesday, June 18, 2013

Dr. Danet & Dr. Deden Beri Kuliah Online Mobil Listrik dan Banjir


Den Haag - Mobil listrik dan banjir saat ini sedang menyita perhatian. Dr. Danet Suryatama (Electrik Car LLC, Amerika Serikat) dan Dr. Deden Rukmana (Savannah State University, Amerika Serikat) akan memberikan kuliah tamu secara online tentang dua isu tersebut.

Sunday, June 16, 2013

Otomotif : Esemka Tak Takut Lawan Mobil Murah Jepang

Mobil SMK Digdaya, model dengan double cabin. 

Pemerintah baru saja mengeluarkan regulasi mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC). Banyak opini yang beranggapan jika kebijakan itu akan semakin menyudutkan keberadaan mobil Esemka sebagai produk mobil dalam negeri atau nasional.

Saturday, June 1, 2013

7.000 mobil Esemka mulai Juli diproduksi


Pasband Esemka telah mencapai 7.000 unit dan produsen PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) akan memulai produksi massal kendaraan roda empat itu pada Juli. Humas PT SMK Sabar Budi mengatakan selama bulan Mei dan Juni 2013 pihaknya akan menghubungi para pemesan mobil Esemka untuk mengkonfirmasi pesanan.

"Sampai saat ini, ada beberapa pelanggan yang membatalkan pemesanan, tapi jumlahnya tidak banyak sekitar sepuluhan atau belasan orang saja. Semuanya dari pemesan perorangan," katanya.

Ia mengatakan, jika para pemesan ingin mobil pesanannya mulai diproduksi, wajib membayar uang muka sebesar 30 persen dari harga mobil. Untuk produksi awal, pihaknya baru akan merakit mobil Esemka jenis Rajawali SUV yang dibanderol harga antara Rp 140 juta hingga Rp 150 juta. Di lain pihak, Pemerintah Kota Surakarta menyatakan tetap pada komitmennya untuk berperan memajukan industri mobil dalam negeri dengan memesan mobil Esemka berjenis Sport Utility Vehicle (SUV) untuk kendaraan dinas wali kota dan wakil wali kota.

Dua prototype mobil Esemka Rajawali yang pernah digunakan untuk uji emisi akan dijadikan ikon sekaligus contoh produk jadi mobil Esemka sehingga tidak digunakan sebagai kendaraan dinas.

"AD 1 dan AD 2 dibuatkan mobil Esemka yang baru. Yang kemarin kan hanya buat prototype saja untuk uji emisi," kata Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo kepada wartawan di Solo, Kamis.

"Kami dari Pemkot Surakarta kan hanya membantu agar Esemka ini bisa lulus uji emisi. Setelah itu kita serahkan semuanya ke PT SMK selaku produsen Esemka," katanya. 

Monday, May 20, 2013

Bus listrik "Hevina" diuji coba di Yogyakarta



Bus listrik yang dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi "Hevina" resmi diuji coba di Yogyakarta untuk kepentingan wahana sekaligus membawa wisatawan dari Taman Pintar berkeliling kawasan di sekitarnya.

"Bus listrik ini akan menjadi bagian dari Taman Pintar dalam konteks riset dan penelitian. Pengunjung juga bisa memanfaatkannya untuk berkeliling di sekitar Taman Pintar dan Malioboro," kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti di sela-sela peluncuran bus listrik "Hevina" di Yogyakarta, Senin.

Rute yang akan dilalui bus listrik tersebut dari Taman Pintar menuju ke kawasan Malioboro dilanjutkan ke Alun Alun Utara, Jalan Ibu Ruswo dan kembali ke Taman Pintar. Pengunjung bisa memanfaatkannya dengan gratis.

Haryadi berharap, animo masyarakat untuk memanfaatkan bus listrik tersebut cukup tinggi. "Segera setelah peluncuran, masyarakat sudah bisa mengakses bus listrik ini," lanjutnya.

Bus listrik yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut memiliki kapasitas 15 penumpang ditambah sopir.

Kecepatan maksimal yang bisa dicapai oleh bus listrik tersebut adalah 100 kilometer per jam dan jarak yang bisa ditempuh maksimal per pengisian baterai adalah 150 kilometer asalkan tidak menyalakan penyejuk udara dan "power steering".

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, dengan adanya uji coba tersebut akan diketahui kelemahan dan kendala bus listrik sehingga bisa segera diperbaiki.

"Kementerian akan terus mengembangkan kendaraan bertenaga listrik. Kami sudah memiliki `road map` pengembangannya. Di tahun-tahun mendatang, tentunya akan lebih baik lagi," katanya.

Selain Hevina, sudah ada satu bus listrik lagi yang dimiliki kementerian dan dua kendaraan jenis sedan, serta sejumlah mobil yang bentuknya mirip mobil golf.

Menristek mengatakan, pengembangan kendaraan bertenaga listrik tersebut sejalan dengan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Teknologi Nasional tahun lalu yaitu membuat kendaraan "low cost green car" yang diutamakan untuk angkutan publik. (Antara)

Dapat uang melalui internet

Thursday, February 14, 2013

Peluncuran 18 Inobus Produksi PT INKA untuk Transjakarta koridor 12 tahun 2013

Bus gandeng Buatan PT INKA. Lumayan bagus, dilengkapi dengan GPS, kamera CCTV dan on-board monitor.(admin : Gue heran, kenapa Trans Jakarta beberapa waktu lalu impor ratusan bus dari China padahal negara sendiri saja mampu membuat ?)

PT Industri Kereta Api ( INKA ) akan segera meluncurkan produk Articulated Bus atau bus gandeng terbaru pada pertengahan Januari 2013,  Inobus ini rencananya akan dioperasikan sebagai bagian dari armada Busway Transjakarta.  Sebelumnya PT INKA telah meluncurkan 21 unit Inobus yang telah lebih dulu melayani armada Busway Transjakarta di koridor 11. Direncanakan 18 unit ATC ini akan dioperasikan di koridor 12. Peresmian armada ini sendiri rencananya akan diresmikan oleh bapak Jokowi pada hari Selasa 15 Januari 2013.
Inobus ini mempunyai kapasitas 160 penumpang dengan 40 tempat duduk, dan dilengkapi dengan handgrip untuk penumpang berdiri. Inobus ini dilengkapi mesin Full dedicated CNG engine untuk otomotif dengan minimal standar emisi memenuhi  EPA / CARB certification (USA)  atau standar EURO III (Eropa). Mesin berkapasitas 9000 cc ini mempunyai power 285 Hp. Dengan menggunakan desain dan mesin tekhnologi baru Inobus ini mampu untuk lebih ramah lingkungan dan efisien dalam pengoperasiaanya. Inobus ini juga dilengkapi dengan kamera CCTV dan on-board monitor, alat pemadam kebakaran, perlengkapan P3K, dan GPS.
PT. INKA sendiri merupakan salah satu industry strategis yang bergerak di bidang transportasi. Selain core business dalam bidang manufaktur sarana kereta api; dengan produk – produk diantaranya Kereta Api Ekonomi AC, Kereta Api kelas Eksekutif, Kereta Rel Listrik, Kereta Rel Diesel dan Railbus;  PT. INKA juga telah memproduksi produk – produk transportasi lainnya, salah satu diantaranya adalah Inobus ini. Selain itu PT. INKA juga memproduksi tram yang telah di operasikan di Rasuna Epicentrum. PT. INKA juga telah merambah pasar luar negeri dengan mengekspor produk kereta ke Malaysia, Singapura, Bangladesh dan Negara – Negara lain.
Bagian dalam bus Trans jakarta buatan PT INKA.
Tampak dashboard Bus Trans Jakarta buatan PT INKA. Ada On-Board monitor canggih untuk memantau depan, belakang, dan di dalam bus panjang ini.
Tampak belakan bus Trans Jakarta buatan PT INKA- dilengkapi kamera CCTV dan GPS.

Friday, December 28, 2012

Tuxuci : Mobil Sport Listrik Pertama Terwujud


NASIONAL - TOKOH
Minggu, 23 Desember 2012 , 13:30:00



Dahlan Iskan bersama Tuxuci, mobil listrik yang diklaim sekelas "Ferrari". Foto: Yessy Artada/JPNN
JAKARTA- Mobil listrik kedua milik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan bernama Tucuxi sekelas Ferrari diyakini tetap dapat bersaing dengan produk luar negeri. Bahkan Dahlan optimis Indonesia nantinya dapat bersaing dengan negara Jepang dan Amerika.

"Kalau kita masuk industri bensin apa mungkin bisa bersaing dengan luar negeri?. Tapi kalau masuk mobil listrik bisa bersaing karena sama-sama berangkat. Ibarat kita marathon, kemungkinan ada kesempatan kita untuk menang," ujar Dahlan disela-sela test drive di Istora Senayan, Jakarta (Minggu, 23/12).

Mobil yang menghabiskan dana hingga Rp 3 miliar ini dirancang oleh Danet Suryatama, lulusan ITS yang memiliki perusahaan Electrikcar di Amerika. Namun, untuk membuat bodi mobil, dikerjakan oleh rumah modifikasi Kupu-kupu Malam di Yogyakarta.

Dan inilah spesifikasi mobil listrik Tucuxi atau lumba-lumba berwarna merah berplat D 19 itu:

Lebar: 1.995 mm
Tinggi: 1.200 mm
Jarak sumbu roda: 3.110 mm
Jarak bebas ke tanah: 150.9 mm
Berat: 1.112,1 Kg

Kelistrikan
Baterai : Lithium Iron Phosphate or Nano-Lithium
Jarak jelajah: 321-482 km sekali isi baterai penuh
Motor : 200KW (268HP) Permanent Magnet AC
Waktu pengisian: tergantung sistem, bisa 4 jam
Kapasitas: 2 (+2) or 4 passengers
Kecepatan maksimum: 193 km per jam
Bodi: Aramid-Carbon Fiber Composite.

Sebelumnya, Dahlan juga pernah meluncurkan mobil listrik sejenis city car karya Dasep Ahmadi berwarna hijau. (chi/jpnn)

Menristek: Target Produksi 100 Ribu Mobil Diharapkan Terwujud 2018


Menristek: Target Produksi 100 Ribu Mobil Diharapkan Terwujud 2018



Menristek: Target Produksi 100 Ribu Mobil Diharapkan Terwujud 2018
Mobil listrik



REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Pemerintah mempersiapkan regulasi untuk memproduksi mobil listrik secara massal yang diharapkan dapat terwujud sebanyak 10.000 unit pada 2018.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di Bandung, Selasa, mengatakan bahwa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono telah meminta kementerian terkait untuk mempersiapkan berbagai peraturan yang dibutuhkan.

"Misalnya, Kementerian Perindustrian, BUMN, Keuangan, dan Perhubungan, menyiapkan regulasi agar ada kemudahan-kemudahannya," ujarnya.

Gusti mengatakan bahwa peta jalan untuk memproduksi massal mobil listrik yang disiapkan oleh enam perguruan tinggi di Indonesia, antara lain, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada, itu sudah dipresentasikan kepada Presiden.

Ia mengakui mobil listrik tersebut hanya 60 persen mengandung komponen dalam negeri. Indonesia, menurut dia, sudah bisa menguasai desain mobil 100 persen dan kontrol elektronik sebanyak 50 persen.

Namun, kata dia, sistem transmisi dan baterai belum sepenuhnya dikuasai oleh Indonesia. "Nanti mendatangkan bahan dari luar negeri bisa bebas pajak, pajak jual akan dikurangi atau ditiadakan sehingga harga jualnya bisa diturunkan," ujarnya.

Meski memproduksi mobil listrik tergolong mahal, Gusti mengatakan bahwa biaya produksi bisa ditekan hingga 30 persen apabila sudah memasuki tahap produksi massal. "Presiden minta BUMN terlibat langsung untuk produksi massal ini. Nanti kalau terlalu banyak, baru ke swasta," katanya.

Untuk uji coba tahap pertama, menurut Gusti, mobil-mobil instansi pemerintah di seluruh Indonesia siap menggunakan mobil listrik. Selain itu, stasiun pengisian listrik umum juga akan disiapkan secara bertahap.
Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara