Sunday, May 5, 2013

AS, Korsel, Indonesia, dan Transfer Teknologi Militer

LVT 7A1 hibah dari Korsel. Pemerintah Korsel memberi hibah 10 unit LTV 7A1 ini untuk Indonesia. Tank ini adalah Tank Amfibi.

Dalam suatu kesempatan di New York, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengungkapkan, transfer teknologi dalam kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan berbagai pihak asing adalah hal yang mudah diucapkan, namun pada kenyataannya sulit diwujudkan. 

"Saya sadar, kalau itu hanya `technology sharing, technology transfer`, mudah diucapkan, tapi dalam prakteknya kandas," katanya di New York, Jumat, dalam jumpa pers dengan para wartawan Indonesia sebelum bertolak kembali menuju Jakarta. 


Hal tersebut dikatakan Presiden Yudhoyono menjawab pertanyaan tentang keuntungan yang bisa dinikmati Indonesia dari pembelian pesawat bernilai miliaran dolar AS oleh Indonesia dari Boeing, termasuk kemungkinan keuntungan dalam hal transfer teknologi dan pengetahuan dari perusahaan raksasa pembuat pesawat Amerika itu. 


"Kalau berbicara tentang `transfer of technology`, itu sangat tidak mudah. Saya sudah kenyang delapan tahun bertemu dengan para pemimpin dunia dalam forum G-20, APEC, ASEAN Summit, negosiasi `climate change`. `Technology transfer` dari negara yang menguasai teknologi tidak mudah dilakukan," kata Presiden. 


"Mengapa? Puluhan tahun mereka mengembangkan untuk menguasai suatu teknologi tertentu. Puluhan tahun, dengan sumber daya yang besar, dengan segala yang dia lakukan, tidak begitu saja bisa ditransfer dan dialihkan ke negara lain," tambahnya. 


Ungkapan Presiden RI sebagaimana tersebut di atas masuk akal, terlebih berharap Amerika atau perusahaan asal Amerika mau mengalihkan teknologinya ke Indonesia, adalah sesuatu yang hampir mustahil terjadi. Jika pun persyaratan tinggi dari kemungkinan technological sharing itu bisa dipenuhi, misalnya Lion Air harus membeli lebih dari 200 unit pesawat dari Boeing, baru bisa dilakukan transfer teknologi. Pelaksanaannya mungkin sulit, meski Lion Air telah memborong lebih dari 230 unit pesawat, pada kenyataannya mereka (Boeing) tidak akan mudah memberikannya pekerjaan-pekerjaan vital itu pada PT DI sebagaimana yang diminta oleh pihak Lion Air. 

Tank Amfibi TNI AL sedang dalam tugas. Indonesia membeli 37 unit Tank Amfibi BMP 3F dari Rusia. Indonesia mendapat transfer teknologi dari pembelian ini berupa cara perawatan Tank dengan baik dan benar.  













Di luar hubungan bisnis, Indonesia bukanlah sekutu tradisional AS. Dalam konteks percaturan politik di dunia dan hubungan internasional, Indonesia bahkan secara teori tidak akan pernah menjadi sekutu AS. Indonesia yang saat ini menjadi negara demokrasi sebagaimana AS yang juga negara demokrasi (bahkan seringkali memaksakan ke negara lain dengan mengirim tentara atau menjatuhkan bom), tidaklah menjadi basis pokok untuk dengan sendirinya transfer teknologi itu menjadi mudah. Demokrasi memang sering menjadi alasan untuk menjadi perekat hubungan antara negara satu dengan yang lain, namun faktanya, ada nilai-nilai lain yang lebih substansial dan lebih dalam lagi agar hubungan itu bisa menjadi saling percaya satu sama lain, hubungan dekat dari hati ke hati. 

Hubungan pemerintah RI-AS cukup baik, namun harus diakui bahwa di tingkat masyarakat Indonesia misalnya, jutaan kaum Muslim tak percaya kebaikan AS itu tulus. Hal itu tak lepas dari sepak terjang AS sendiri yang begitu agresif menyerang negara-negara lain seperti Irak, Afganistan, Pakistan, dan selalu menerapkan standard ganda menyangkut konflik Palestina-Israel. AS, atau setidaknya media AS dan Barat, hampir selalu bersikap memusuhi Islam dan Muslim. 

Tidak hanya itu, AS juga banyak melakukan operasi rahasia (CIA) di hampir seluruh dunia, baik itu di Timur Tengah, di Nikaragua, Chile, Brazil, Argentina, Venezuela, Bolivia, Vietnam, dan lain-lain tak terkecuali di Indonesia menggunakan segala cara, termasuk pembunuhan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak dia (AS) sukai. 

Sejarah Amerika Serikat dipenuhi dengan darah. Negara AS didirikan oleh orang-orang kulit putih dari Inggris yang datang ke Benua Amerika lalu merampas tanah-tanah orang Indian, menindas penduduk asli di sana, dan menyita tanah-tanah mereka, lalu mengusir mereka. Cerita yang sama juga terjadi dalam proses pendirian negara Australia, oleh pelaku yang sama : Inggris. Kali ini yang diusir dan ditindas adalah orang-orang Aborigin.

Penjajahan faktanya tidaklah hilang. Imperialisme yang telah menyebabkan jutaan nyawa manusia melayang selama ratusan tahun, dan milyaran manusia menderita karenanya, hanya bentuknya saja yang berubah, namun hakekatnya tetap sama. Penjajahan yang dilakukan oleh Barat terhadap negara-negara lain di benua lain belumlah usai. Ini terlihat dari perilaku NATO (yang dimotori oleh AS) yang arogan, adigang adigung adiguna, merasa benar sendiri dan cenderung ingin menang sendiri seperti tengah membangun imperium dunia, telah melekat di alam bawah sadar masyarakat negara-negara berkembang. Ini yang menyebabkan AS memiliki banyak musuh di dunia seperti Iran, Bolivia, Nikaragua, Venezuela, Korea Utara, Cuba, dan bahkan Rusia-China.

Hal demikian menjadikan AS paranoid, selalu curiga pada negara lain, sulit mempercayai negara lain termasuk Indonesia, karena 'dosa-dosa'-nya sendiri, kejahatan yang mereka lakukan terhadap negara-negara lain. AS selalu merasa 'takut', was-was, jika negara lain seperti China mampu menyaingi mereka secara ekonomi dan teknologi, apalagi teknologi militer. China pasti tidak akan melupakan begitu saja bahwa negaranya pernah diserang dan dijajah oleh Inggris. China juga pasti ingat dukungan AS atas Taiwan. Meski ada upaya membangun hubungan baik, namun pada dasarnya mereka selalu khawatir kebangkitan militer China. 

Indonesia memang tidak pernah dijajah oleh Inggris atau AS, namun sikap permusuhan AS terhadap negara-negara Islam menjadi penghalang tumbuhnya saling 'trusting' tadi. Khawatir Indonesia maju dan menguasai teknologi yang mereka kuasai. Khawatir Timur Tengah menguasai teknologi pesawat tempur, teknologi nuklir, dan lain-lain. Khawatir Indonesia terlalu dekat dengan China dan Rusia yang seaktu-waktu negara itu bisa menularkan ilmu 'horor-nya ke Indonesia. Secara teori, AS hanya percaya 100 % pada Inggris, Australia, dan Israel.

AS, sebagai sesama Anglo Saxon Inggris dan Australia, adalah bangsa yang dalam sejarahnya penuh catatan hitam. Hampir 90 persen negara bangsa di dunia ini pernah dijajah oleh Inggris. Jika semua bangsa di dunia ini harus "trusted" pada mereka, rasanya sulit. Sepak terjang mereka sebagai bangsa yang penuh kejahatan tidak bisa begitu saja serta merta hilang dengan adanya lembaga bantuan seperti USAID, AusAID, atau sejenisnya dari Inggris. Maka, Indonesia jangan berharap dari negara-negara itu akan sudi mentransfer teknologi tinggi ke negara lain. Mereka akan memproteksi dengan segala cara agar superioritasnya tidak terganggu. Jadi, sebaiknya lupakan itu. Berhati-hatilah jika diajak kerjasama, perlu dicermati apakah akan merugikan Indonesia atau tidak. Contohnya, kerjasama di bidang kesehatan. Mereka (AS dan Inggris) melakukan penelitian penyakit tropis. Mereka bawa sampel virus segala macam untuk diteliti di sana, tanpa melakukan sharing pengetahuan apapun hasil penelitian itu dengan negara di mana sampel itu diambil. Tiba-tiba mereka bikin saja vaksin, obat, dan lain-lain untuk penyakit tropis lalu dijual dengan harga sangat mahal. Jadilah Indonesia hanya dibodohi, selain hanya dijadikan pasar obat-obatan industri framasi mereka, kita tidak mendapat manfaat apa-apa dari kerjasama ini. 

Atau, kasus yang baru-baru ini terjadi. Beberapa perusahaan pertambangan swasta nasional melakukan 'listing' di bursa saham London, bekerjasama dengan mitra perusahaan asing dari Eropa (Inggris). Perusahaan asing partner ini selanjutnya melakukan taktik licik dengan 'me-reset' perusahaan patungan sedemikian rupa sehingga harga saham jatuh terjun bebas. Mereka melakukan black campaign bahwa manejemen prusahaan Indonesia yang mereka jadikan partner ternyata kinerjanya buruk, manjemen keuangannya amburadul, dan lain-lain agar harga saham terus merosot tajam. Padahal mereka (asing) hanya pemilik minoritas.

Langkah selanjutnya adalah mereka berupaya agar perusahaan patungan ini bisa dijual dengan harga seadanya, sangat murah, atau diambil alih kendalinya dengan berbagai macam manuver penguasaan saham. Mereka sangat berpengalaman dalam melakukan ini dengan memanfaat celah hukum dan jaringan internasionalnya untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan domestik di Indonesia lewat "kerjasama" ini. Misalnya, perusahaan pertambangan milik Ilham Habibie yang dia dirikan susah payah dan berkembang; tiba giliran menggaet mitra asing, kini beralih ke Italia dan berkantor di sana setelah peristiwa serupa. Atau yang baru gencar jadi berita, konflik Bakrie-Rothscild. Masih banyak perusahaan lain lagi yang jadi korban yang tidak diberitakan oleh media massa Indonesia.   

Korsel-AS, Korsel-Indonesia, dan Transfer Teknologi

Hubungan Korsel-AS lebih dekat ketimbang hubungan AS-Indonesia. Ini terlihat dari sikap AS dalam konflik Korsel-Korut di mana AS terang-terangan menjadi sekutu Korsel dan Jepang. Korsel-AS memiliki pakta perjanjian pertahanan bilateral, sedang Indonesia-AS tidak. 


Indonesia tentu tidak perlu membuat pakta serupa dengan AS, karena Indonesia tidak butuh perlindungan militer dari AS. Prinisip non blok yang dicanangkan Presiden Soekarno harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan, yakni dengan politik bebas aktif, "having much friends with no enemy".  Kita bebas bergaul dengan siapa saja. Karena jika kita satu musuh saja, misalnya dengan negara tentangga, maka akan mereka jadikan lahan eksploitasi untuk memecah belah kawasan, pasar senjata, dan instabilitas kawasan agar konflik itu terus berlanjut sehingga kita jadi lemah. Kalau kita dan tetangga kita lemah dan tidak akur, maka mudah bagi mereka untuk membuat kita tidak tenang, hidup dalam kecemasan, dan inverstor akan pergi dari sini sehingga ekonomi kita guncang. Kekacauan akan terjadi.

Jadi, cara Indonesia dalam membangun 'trusting' dengan negara tetangga sehingga saling percaya satu sama lain, hidup damai nan rukun dalam satu wadah ASEAN sangat bisa dibanggakan. AS patut mencontoh cara Indonesia ini dalam cara mereka membangun kebersamaan dengan tetangga mereka Cuba, Nikaragua, Meksiko, dan lain-lain.  

Sedangkan hubungan Indonesia-Korsel boleh dibilang sangat dekat, dari hati ke hati. Mungkin karena kita tidak pernah punya konflik kepentingan dengan mereka, dan sama-sama pernah menjadi korban penjajahan. Hal ini pernah ditegaskan oleh Presiden Korsel sendiri di periode sebelumnya, Lee Myung Bak, bahwa hubungan perhabatan Korsel-Indonesia adalah sangat dekat, heart to heart. Korea Selatan banyak melakukan investasi bersama dalam membangun technological Sharing dengan Indonesia. Contohnya, mereka mau berbaik hati melakukan transfer teknologi Kapal Selam padahal kita cuma membeli tiga biji kapal selam. 
      
Namun tetaplah cara terbaik adalah melakukan Riset dan pengembangan bersama-sama seperti halnya proyek KFX/IFX. Indonesia, kata Presiden SBY, lebih mengembangkan kebijakan yang bersifat penelitian dan pengembangan bersama, investasi bersama dan produksi bersama seperti yang dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad dan sejumlah industri strategis Indonesia dengan negara-negara asing. 

"Itu yang paling baik, akhirnya setelah bersama-sama lima, sepuluh, lima belas tahun, teknologi akan beralih. Itu masuk akal dan mereka juga tidak merasa diambil jerih payahnya selama puluhan tahun untuk mengembangkan teknologi," kata Yudhoyono. 

Berkaitan dengan Boeing, ia mengatakan Indonesia berjuang untuk mendapatkan porsi keuntungan dari nilai pembelian miliaran dolar AS. 

"Perjuangan kita adalah bisa mendapatkan porsi keuntungan itu untuk bangsa kita, untuk industri strategis kita, untuk komponen dalam negeri kita," ujarnya. 

"Kalau bisa dipenuhi akan bagus sekali. Dan itu `direct benefit` yang kita terima dari kerjasama dengan Boeing," tambahnya. 

Terkait kerjasama Indonesia-AS, pemerintah Indonesia dan pihak Boeing Amerika Serikat pada awal pekan ini menandatangani nota kesepahaman kerjasama bidang industri. 

Penandatangan dilakukan di sela-sela Indonesia Investment Day di New York, oleh Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal dan Wakil Presiden Boeing Stanley Rooth, disaksikan oleh Presiden Yudhoyono. 

Maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, dan Boeing tahun lalu menyepakati pembelian pesawat senilai 23 miliar dolar. 

Dengan pembelian itu, Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya --baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan, setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unitpesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900.

Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi suatu bangsa tergantung kemampuan inovasi dari bangsa itu sendiri. Jika kita berhasil memperoleh transfer teknologi dari negara lain yang lebih maju, itu bagus namun jika tidak, ya.. memang begitulah, sulit. 

Jadi baiknya ya kembangkan sendiri, melakukan riset dan pengembangan sendiri, atau mencontek dari alat canggih yang kita beli dari mereka. Jepang saja bisa menjadi pencontek yang sukses dan menguasai dunia, kenapa kita tidak ? Apakah Jepang melakukan penemuan bola lampu ? Mobil ? Pesawat ? Kamera ? Radio ? 

Sama sekali tidak. Yang menemukan cara kerja mobil itu orang Amerika. Yang menemukan pesawat itu Oliver Wirght dan Wilbur Wright, juga orang Barat. Tapi siapa penguasa otomotif di dunia ? dan di Asia ? 
Jawabnya adalah Jepang. Penemu kamera juga bukan orang Jepang, tapi penguasa pasar Kamera digital di dunia adalah Nikon, Canon, Sony, dan lain-lain juga dari Jepang. Korea juga sama, bukan penemu tapi mencontoh dari teknologi Jepang dan AS. Tapi Korea menguasai produk lemari es, smartphone, mobil, dan lain-lain. 

Indonesia tidak harus jadi penemu. Indonesia bisa mencontoh terknologi dari negara lain dan mengembangkan sendiri. Terbukti, kita ternyata juga bisa buat pesawat terbang dengan belajar dari Jerman. Kita juga bisa buat Kapal perang canggih juga berasal dari Korsel dan Belanda. Tapi orang Indonesia juga ada yang jadi penemu, misalnya penemu pengkayaan uranium dengan tingkat rendah. Dan masih banyak lagi. 

Jelas Indonesia punya potensi untuk maju. Siswa SMK saja bisa membuat mobil, tablet, laptop, dan lain-lain jadi kita bisa maju. Tinggal pemerintah saja mau mendukung atau tidak. 

Dapat uang melalui internet

Akankah Pabrik Pesawat RI Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri ?

Andai PT DI tidak "dimatikan" oleh IMF, Indonesia sudah memproduksi pesawat N 2130 saingan Boeing 737-500 ini pada tahun 2005 lalu. Pesawwat ini sama canggihnya dengan Sukhoi SuperJet 100 buatan Rusia.


Pada hari Jum'at, 3 Mei 2013, Tempo menurunkan laporan sebagai berikut : 
PT DI dan Aviasi Kembangkan Pesawat Turbotrop
PT Dirgantara Indonesia (Persero) meneken kerjasama dengan PT Regio Aviasi Indonesia untuk mengembangkan pesawat terbang turbotrop modern berkapasitas 70-90 orang penumpang bernama Regioprop, di kantor PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jumat, 3 Mei 2013.
Direktur Utama PT Regio Aviasi Indonesia Agung Nugroho mengatakan, kerjasama tersebut bertujuan untuk mengembalikan kejayaan PT DI sebagai pembuat pesawat terbang dari ujung sampai ujung mulai dari desain hingga pemasaran. Selain itu untuk memberdayakan industri pesawat terbang asli produk Indonesia. 
“PT Regio Aviasi Indonesia posisinya sebagai sponsor dan PT DI sebagai strategi partner dan main contractor,” kata Agung kepada Tempo, Jumat, 3 Mei 2013.
PT Dirgantara Indonesia berfungsi sebagai strategi partner dan main contractor untuk menangani program sejak awal, perancangan, sertifikasi sampai dengan pembuatan pesawat serta serial dan melakukan pemasaran bersamda. Sementara PT Regio Aviasi Indonesia sebagai sponsor, marketing dan pengambangan program.
Program pengembangan akan dilakukan terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah pleminary design dan feasibility study, yang akan berlangsung selama kurang lebih satu tahun untuk definisiawal pesawat dan menyerap keinginan atau persyaratan customer. Tahap ke-dua, full scale development atau pengembangan skala penuh, terdiri dari detail design, prototype manufacturing dan sertifikasi. Tahap tersebut berlangsung sekitar empat tahun terhitung mulai 2014-2017 untuk mendapatkan sertifikasi nasional Kementrian Perhubungan. 
“Semoga di tahun 2018 sertifikasi turun dan bisa berlanjut ke tahap tiga yaitu serial production, penjualan dan layanan purna jual,” kata Agung.
Program yang ditargetkan rampung dalam lima tahun itu akan memanfaatkan pengalaman rancang bangun anak bangsa dalam mengembangkan pesawat terbang sejak 1979 – 1982 (CN35) dan 1989 – 1996 (N250), yang disesuaikan dengan tantangan kebutuhan pesawat di masa depan, akan transportasi dengan efisiensi dan keekonomian yang lebih baik, kenyamanan penumpang dan keandalan yang lebih tinggi serta ramah lingkungan. 

Selain itu, program tersebut juga dimanfaatkan untuk mengisi kebutuhan pasar di sektor pesawat regional (regional aircraft) pada kurun waktu 2018-2037 dan untuk mengambalikan kemampuan rancang bangun pesawat terbang di Indonesia. 
“Indonesia punya potensi untuk mengembangkan industri pesawat di Negara sendiri. Baiknya ya bangsa ini membuat pesawat untuk bangsanya sendiri untuk kebangkitan dirgantara nasional,” ujar Agung.
Program tersebut merupakan satu wadah untuk meneruskan cita-cita yang telah dirintis oleh PT DI dalam mengembangkan pesawat terbang secara bertahap, baik dari segi kapasitas, daya jangkau dan kandungan teknologi. Seperti program-program sebelumnya yakni,  NC212, CN235, N250, dan N2130. 
Melihat perkembangan di atas, ada harapan bahwa Industri penerbangan Indonesia akan bangkit pada saat yang tepat, yakni ketika pertumbuhan bisnis penerbangan di Asia Pasifik khususnya Indonesia sedang naik pesat.

Indonesia adalah negara besar, dalam arti luas wilayah dan jumlah penduduk kelas menengah yang terus naik yang saat ini berjumlah lebih dari 130 juta jiwa adalah jumlah yang luar biasa banyak dan sangat potensial. Pertumbuhan kelas menengah yang sangat signifikan tersebut menjadikan Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia bersama China, India, dan Brazil. 

Tak ada momen yang lebih baik dari sekarang, bagi industri / pabrik pesawat Indonesia seperti PT DI untuk segera mempersiapkan diri menyambut kebutuhan jumlah pesawat domestik dan di kawasan regional Asia Tenggara.

CEO Lion Air, Rusdy Kirana, beberapa waktu lalu menyatakan bahwa "mereka yang mengkritik langkah Lion Air adalah mereka yang tidak paham akan pertumbuhan industri penerbangan di Asia Pasifik." Lion Air beberapa waktu lalu melakukan transaksi spektakuler yakni pembelian 230 unit pesawat dari Boeing (rekor sejarah untuk Boeing), dan beberapa bulan kemudian Lion Air melakukan hal yang sama dan kali ini membeli 234 unit pesawat dari Air Bus (rekor dalam sejarah Air Bus).

Pembelian gila-gilaan ini, kata sejumlah pengamat penerbangan, merupakan refleksi dari tuntutan kebutuhan pasar pesawat yang juga "gila" di Indonesia dan Asia Tenggara.

Situasi ini bukan tidak diperkirakan sebelumnya oleh pioneer industri penerbangan kita, Prof. Dr. BJ Habibie, bahwa ke depan potensi kebutuhan jumlah pesawat komersial akan naik secara signifikan. Habibie menyatakan hal itu 25 tahun yang lalu, ketika beliau merencanakan pembuatan pesawat N 2130 pada tahun 1996.  DetikFinance melaporkan sebagai berikut :

BJ Habibie Rancang N-2130, Boeing dan Airbus 'Ketar-ketir'
Setelah sukses melahirkan N-250 Gatotkaca dan Krincing Wesi pada Agustus 1996, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di bawah besutan BJ Habibie pernah berencana melahirkan prototipe pesawat lebih maju sekelas Sukhoi SuperJet 100.
Habibie mendesain pesawat penumpang komersial bermesin jet asli karya Indonesia, yakni N-2130 yang rencananya beroperasi mulai 2005 lalu. Pesawat N-2130 berpenumpang 130 orang ini dikonsep memiliki pasar serupa dengan pesawat Boeing seri 737-500 atau Airbus seri A320. 

Direktur Utama PT DI Budi Santoso bercerita, rencana BJ Habibie kala itu membuat raksasa produsen pesawat dunia yaitu Boeing dan Airbus ketar-ketir.
"Dikembangkan pasca N-250. Mungkin kesalahan ini mengembangkan N-2130. Mulai masuk pasarnya Boeing. Mungkin waktu IMF masuk ke sini, pesan sponsor di sana tolong matikan," tutur Budi kepadadetikFinance di Kantor Pusat PTDI, Jalan Pajajaran, Bandung, Jumat (15/2/2013).

Budi memprediksi, Seandainya waktu itu proyek pesawat jet N-2130 tidak dikembangkan, pesawat penumpang bermesin propeler yakni N-250, mungkin tidak akan mangkrak seperti saat ini.

"Kalau ini (Boeing dan Airbus) terganggu pasarnya. Mulai gunakan politik mematikan. Mungkin kita kalau nggak bikin N-2130, N-250 bisa jadi (berhasil) karena itu (N-250) bukan pasarnya perusahaan besar. Bukan pasar Airbus dan Boeing," cetusnya.

Hari ini, proyek N-2130 hanya tinggal secarik kertas yang tak pernah terwujud barangnya. Di ruang pamer pesawat PT DI terdapat prototipe N-2130 yang belum selesai dikembangkan. 

Budi menuturkan, dengan nilai uang saat ini, biaya mengembangkan N -2130 versi terbaru setidaknya mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 10 miliar.
"N-2130 hanya jadi kertas saja. Bikin baru seperi ini (N 2130) perlu US$ 6 miliar-US$ 10 miliar. Itu harga tahun ini, kalau harga tahun itu berbeda (dulu senilai US$ 2 miliar)," cetusnya.

Perlu Anda ketahui bahwa pesawat N 2130 ketika itu adalah lebih modern dan lebih unggul dibandingkan dengan Boeing 737-500.

BJ Habibie merencanakan ketika itu, seandainya proyek itu tetap dipertahankan, PT DI sudah memproduksi pesawat N 2130 sekelas Sukhoi Superjet 100 pada tahun 2005 lalu. Itu artinya, Lion Air mungkin tidak akan 100% berpaling pada Boeing dan Airbus untuk memenuhi kebutuhan pesawat domestik dan regional Asia Pasifik. Boleh jadi, Lion Air akan memesan setidaknya 30 pesawat dari PT DI yang sekelas 737-500.

BJ Habibie Sempat Akan Bikin Pesawat Penumpang Saingan Boeing 737-500
PT Dirgantara Indonesia (PT DI) ternyata pernah berencana mengembangkan pesawat penumpang bermesin jet, N-2130. Pesawat komersial berkapasitas 130 penumpang itu, awalnya akan dikembangkan setelah N-250, berhasil diuji coba sekitar 1996. 
Direktur Utama PT DI Budi Santoso menuturkan, pesawat tersebut oleh BJ Habibie kala itu, siap dikembangkan dengan dana US$ 2 miliar. Bahkan spesifikasi rancangan mesin dan desain pesawat kala itu telah mengungguli atau lebih moderen serta efisien dibandingkan pesawat penumpang asal pabrikan Amerika Serikat yakni Boeing 737-500 seri klasik.
"Itu (N-2130) di atas kertas lebih baik dari Boeing 737-500," tutur Budi kepada detikFinance di Kantor Pusat Dirgantara Indonesia, Jalan Pajajaran Bandung, Jumat (15/2/2013).
Kala itu, N-2130 diproyeksikan siap beroperasi dan terbang melayani masyarakat mulai 2005. Budi menuturkan, seandainya proyek N-2130 berjalan, maka maskapai penerbangan komersial di tanah air seperti Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, Mandala, Sriwijaya, Merpati Nusantara, dan maskapai lainnya akan menggunakan pesawat N-2130 tersebut.
"Sebelum 2005-2006 sudah terbang (di rencana). Ini (N-2130) bisa menguasai pasar Indonesia. Jadi ini (Boeing seri 737) nggak akan merajalela di sini (Indonesia),” tambah Budi sambil menunjuk miniatur N-2130 di ruangannya.
Namun rencana itu harus pupus karena Presiden Soeharto mengehentikan kucuran dana PT DI saat krisis ekonomi 1998. Hal itu dilakukan berdasarkan desakan International Monetary Fund (IMF) yang bertindak sebagai kreditor ke Indonesia. (Detikfinance).
Sekarang, mimpi-mimpi itu bukannya hilang, melainkan akan dilanjutkan oleh PT DI bekerja sama dengan PT Aviasi untuk mengembangkan pesawat Jet Turboprop yang lebih canggih. Kali ini PT DI akan membuat pesawat itu berdasarkan riset kebutuhan pasar, untuk memenuhi pertumbuhan jumlah pesawat penumpang dengan kapasitas kursi 130 orang.

Beberapa maskapai penerbangan nasional telah menyatakan minatnya untuk membeli pesawat buatan PT DI ini. Pemerintah harus mendukung program ini yakni membuat pesawat baru yang lebih canggih untuk menerusakan N 2130 yang sempat terhenti. Disain dan prototipe pesawat itu sudah dibuat, data-datanya sudah ada, tinggal melanjutkan saja. Kebutuhan investasinya sekitar 600 milyar rupiah. Jika tagihan pajak pemerintah ke Asian Agri saja sebesar 2,5 triliun Rupiah dari pajak yang mereka kemplang, jumlah 600 milyar Rupiah terasa kecil. Apalagi dibandingkan dana BLBI yang dicolong Djoko Tjandra sebesar 164 Triliun Rupiah, uang setengah triliun hampir-hampir tiada artinya.

Jika pemerintah mendukung proyek tersebut, maka soal apakah pabrik pesawat kita akan menjadi tuan rumah di tanah sendiri akan terjawab : "Ya, insya Allah akan terwujud lebih cepat." PT DI akan mencari cara agar proyek ini bisa terwujud bersama Aviasi dan ini sebuah tindakan yang patut dihargai dan didorong realisasinya.

Rakyat Indonesia sudah bosan negara bangsa kita hanya dijadikan bulan-bulanan produk asing. Lihatlah pasar mobil dan motor yang sedemikian besar, hanya dikuasai oleh mobil-mobil Jepang dan Eropa. Seharusnya 230 Juta rakyat negara ini bisa merasakan mobil buatan dalam negeri sendiri, karya-karya anak bangsa. Baru mobil Esemka saja yang serius. Departemen Perindustrian dan perdagangan harus mendukung 100% upaya bangkitnya industri dalam negeri. Industri bayi dalam negeri jangan diperlakukan sama dengan asing di negeri sendiri. Mereka harus diproteksi lebih dahulu.

Melihat bangsa ini dalam sejarahnya selalu bisa lolos dari situasi sulit, penulis optimis bahwa PTDI dan Aviasi akan berhasil mewujudkan impiannya, bahkan impian Indonesia agar pabrik pesawat nasional bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Insya Allah, dengan usaha keras dan doa, tidak ada yang tidak mungkin. Cepat atau lambat Insya Allah akan terwujud.  

Dapat uang melalui internet

Thursday, May 2, 2013

Korsel sediakan kerja sama industri pertahanan integratif

Tank T-90S buatan Korea Selatan


Pakar militer Universitas Indonesia Andi Widjajanto mengatakan Korea Selatan merupakan mitra kerja sama industri pertahanan yang menyediakan kemungkinan integrasi peralatan dan senjata militer di beberapa platform.

"Untuk sekarang ini potensi kerja sama yang seintegratif Korsel tidak ada," kata Andi saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Menurut Andi, dengan kemampuan teknologi industri pertahanan milik Korsel, Indonesia bisa mendapatkan ketersediaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di berbagai platform baik itu darat, laut, maupun udara.

"Dengan kapasitas industri pertahanan yang ada di Korsel, kita bisa punya platform yang integratif. Jadi Daewoo bisa kita andalkan untuk kapal perang dan kapal selam, kemudian nanti KAI (Korean Aerospace Industry) bisa kita manfaatkan untuk industri dirgantara," ujar dia.

"Kita juga bisa manfaatkan produk K1A1 tank kelas berat dan kelas menengah itu bisa kita manfaatkan," kata Andi menambahkan.

Andi menyatakan dengan kerja sama tersebut, apabila Indonesia berencana membangun industri pertahanan dengan platform yang sama integrasinya makan akan dimungkinkan lewat transfer teknologi dari Korsel.

"Kita seharusnya sudah memikirkan misalnya konsorsium antara Daewoo dengan PT PAL (Penataran Angkatan Laut) Indonesia, atau KAI dengan Dirgantara Indonesia," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Pertahanan Budiman menyatakan kerja sama antara Indonesia dengan Korsel menjadi jembatan selain bagi Indonesia untuk mendapatkan pasokan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Negeri Ginseng tersebut tetapi juga terjadi transfer teknologi.

"Aktivitas akuisisi peralatan militer Korsel oleh Indonesia, pengadaan alutsista oleh Indonesia dari Korsel juga diikuti transfer teknologi," kata dia.

"Proyek KFX/IFX (Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment) misalnya, merupakan model kerja sama pertahanan yang memunculkan bentuk saling memetik manfaat dan keuntungan oleh satu sama lain," ujar Budiman menambahkan. (Antara)

Dapat uang melalui internet

JET TEMPUR KFX-IFX: Kemhan Lanjutkan Alokasi Dana Proyek










Kementerian Pertahanan akan memanfaatkan alokasi dana untuk meneruskan proyek pengembangan Korean Fighter Xperiment (KFX) - Indonesian Fighter Xperiment (IFX)  yang merupakan kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan melalui Defense Acquisition Program Administration (DAPA).

“Dana KFX/IFX itu untuk pengembangan pesawat pada generasi 4,5. Dana itu ada sebagian tetap kami manfaatkan di dalam sendiri untuk pengembangan dan pemanfaatan lainnya,” jelas Sekjen Kementerian Pertahanan Letjen TNI Budiman seusai acara 2013 ROK-RI Security and Defense Seminar, di Jakarta, Kamis (2/5/2013).

Seperti diketahui, pemerintah telah menunda perencanaan proyek proyek pengembangan pesawat jet tempur tersebut hingga September 2014.

Penundaan tersebut disebabkan oleh belum adanya kesepakatan Korsel untuk menyediakan anggaran guna mendukung terlaksananya tahapan kedua, yaitu fase Engineering and Manufacturing Development Phase ( EMD Phase).

Budiman menegaskan pihaknya hingga kini tetap memeritahkan sebanyak 37 teknisi untuk melakukan riset tersendiri hingga menunggu keputusan dari pemerintah Korsel.

Dia mengharapkan penundaan tersebut akan mendorong Indonesia lebih siap dan matang untuk mengembangkan proyek selanjutnya.

“Program kerjasama KFX/IFX adalah salah satu model kerjasama pertahanan yang dikembangkan dalam kerangka saling mendapatkan manfaat dan menguntungkan,” katanya.  (ra) Sumber : Bisnis

Dapat uang melalui internet

Dua Kapal Jenis PC-43 Perkuat Jajaran TNI AL

TNI AL terus menambah kapal-kapal baru. Kemampuan pertahanan harus sepadan dengan luas wilayah. Dalam suatu kesempatan Presiden SBY pernah menyatakan, "Terus terang, dibandingkan dengan luas wilayah, mestinya kekuatan militer kita harus lebih besar dan modern, meski dengan judul minimum essential force"

TNI AL mengalami peningkatan signifikan dalam hal penambahan peralatan baru. Beberapa waktu lalu sejumlah kapal dan helikopter baru telah memperkuat jajaran TNI AL. Sebagian besar kapal baik untuk jenis Kapal Rudal Cepat, LPD, maupun patroli cepat adalah hasil produksi dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan buatan luar negeri. 
Kapal cepat buatan perusahaan dalam negeri termasuk canggih, termasuk Kapal Patroli Cepat yang baru saja diresmikan. 
TNI Angkatan Laut resmi menerima dua Kapal Patroli jenis PC-43, KRI Pari-849 dan KRI Sembilang-850, produksi dalam negeri dari PT Palindo Marine, yang resmi diluncurkan pada Rabu (24/4/2013), di Batam, Kepulauan Riau.


Kedua kapal patroli berjenis PC-43 ini, memiliki panjang 43 meter, lebar 7,4 meter dengan kecepatan maksimal 24 knot, serta memiliki ketahanan dalam kemampuan layar selama empat hari.

Rencananya KRI Pari-849 akan memperkuat jajaran Satuan Kapal Patroli (Satrol) Komando Armada RI Kawasan Timur, sedangkan untuk KRI Sembilang-850 akan memperkuat jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat, di wilayah Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) II Padang, Sumatera Barat.

Dalam peluncuran kedua kapal tersebut, Kepala Dinas Pengadaan Angkatan Laut (Kadisadal) Laksamana Pertama TNI Agus Setiadji secara simbolis memotong tali kapal sebagai tanda kedua KRI resmi diluncurkan. Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Asisten Perencanaan (Waasrena) Kasal Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Adji, Kepala Dinas Kelaikan Material Angkatan Laut (Kadislaikmatal) Laksamana Pertama TNI Ir. Harry Pratomo, Kepala Dinas Material Angkatan Laut (Kadismatal) Laksamana Pertama TNI Ir. Bambang Nariyono, serta pejabat terkait lainnya.

Demikian berita Dinas Penerangan Angkatan Laut.

Sumber : Dispenal Mabesal

Dapat uang melalui internet

Wednesday, May 1, 2013

Lagi, 8 Unit Pesawat Sukhoi untuk Indonesia : Antonov Rusia Tiba di Makassar Bawa Mesin Su 27/30


Su-30MK adalah jet tempur multiperan dengan dua pilot (1 main pilot dan 1 co-pilot) dan pesawat udara superior. Pesawat ini lebih unggul dibanding F-16 Fighting Falcon, bahkan masih di atas F/A 18 Hornets. Dikembangkan dari pendahulunya Su 27,  Su 30 dapat melakukan semua tugas dari Su-24 dan Su-27, sementara jarak tempunya 2 kali lipat dan efektivitas tempurnya naik 2,5 kali lipat.

Sebelum tahun 1998, Indonesia sangat jarang membeli peralatan tempur termasuk pesawat terbang militer meskipun pertumbuhan ekonomi kita ketika itu 7% per tahun. Di zaman Orde Baru, kita terlalu bergantung pada AS dan kiblat Presiden Soeharto ketika itu amat jelas ke arah Blok Barat telah membuat militer Indonesia melemah, kehilangan pamornya. Di tingkat ASEAN, Indonesia sebagai negara besar, kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan kebesarannya, baik Angkatan Udara maupun Angkatan Laut yang dimilikinya, dibandingkan dengan luasnya wilayah yang harus dilindungi. Kita hanya kuat di Angkatan Darat namun amat sangat lemah di udara dan lautan. 

"Kedekatan" Indonesia dengan AS dan sekutunya sebenarnya menciptakan dilema tersendiri, yakni kita merasa "tidak bebas" memalingkan muka untuk membeli peralatan dari negara lain seperti Rusia. Bagi AS sendiri, Indonesia sebenarnya bukanlah sekutu utama dalam arti kesamaan ideologi maupun pakta pertahanan di tubuh organisasi yang sama seperti NATO, ANZUS, maupun pakta pertahanan bilateral seperti AS-Jepang, AS-Philipina. Bahkan Indonesia tak lebih dari negara besar yang mereka lupakan dalam hal pengaruh dan perannya di tingkat dunia. Hubungan Indonesia-AS selama ini tak lebih dari pola hubungan Lintah dan Inangnya. Hubungan yang tidak seimbang, di mana negara yang satu banyak mendiktekan kehendaknya terhadap yang lain.

Indonesia, hanyalah "Sang Burung Merak" yang menarik hati karena kekayaan alamnya yang berkilau, yang ketika di Bulan November Tahun 1967 dianggap sebagai 'tangkapan terindah' bagi sang imperialis, Amerika Serikat. Presiden AS ketika itu, Richard Nixon, menginginkan tangkapan besar ini untuk diperas sampai kering. Itulah sebabnya, karena kekayaan alamnya, AS tidak ingin Indonesia jatuh ke pelukan Rusia dan China. Indonesia terlalu seksi untuk dibiarkan bersekutu dengan mereka. 

Menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ ini, hasil tangkapannya pun dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan ekonomi Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top” (lihat di tulisan ini).


“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar.”

Di halaman 39 buku A Game as old as Empirekarangan John Pilger, Bradley Simpson, Jeffrey Winters, John Perkins, ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. 

"Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler", kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konferensi. 

"Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri."

Freeport mendapatkan bukit (mountain) emas dan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board) (baca di sini). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”

Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya, di bawah jerat korporatrokasi AS. (baca halaman : Indonesia Menggugat)

AS menguasai Indonesia melalui kelelawar-kelelawar penghisap bernama Freeport, Exxon, Chevron, Newmont, yang terbang ke sana kemari mencari sumber-sumber emas, perak, alumunium, cekungan-cekungan minyak dan gas, untuk kebutuhan industri mereka, dalam perjanjian-perjanjian kontrak karya yang tidak adil, amat sangat merugikan rakyat Indonesia. Kecuali hanya segelintir elit negeri yang makmur di bawah gelontoran suap Dollar AS, rakyat Indonesia kebanyakan hidup miskin. 

Sebelum Tahun 2000 saat boneka-boneka AS di rezim Soeharto berkuasa, Sang Mafia Berkeley, Indonesia hanya punya 2 buah pesawat F-16 tanpa persenjataan rudal yang mematikan. Satu di antaranya jatuh. Selebihnya, peralatan tempur tua yang sulit diandalkan. Indonesia hanya punya pesawat Hercules C-130 uzur, beberapa buah Fokker, dan Hawk 200 buatan Inggris. Kendaraan tempur baru yang amat dibanggakan ketika itu hanyalah Tank ringan Scorpions buatan Inggris. 

Indonesia tak mampu membeli rudal Sidewinder yang berharga sangat mahal (lebih tepatnya sengaja dijual sangat mahal agar Indonesia tak mampu memilikinya), dan hanya mampu membeli beberapa kapal bekas eks Jerman Timur. Mengapa anggaran kita tidak pernah cukup untuk membeli peralatan militer yang bagus padahal ekonomi kita ketika itu tumbuh rata-rata 7% per tahun ? Bukankah kita eksportir minyak terbesar yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu anggota OPEC, eksportir emas, tembaga, bouksit, dan mineral-mineral bahan pembuatan teknologi tinggi ? 

Pertama, pertumbuhan ekonomi saat itu hanyalah semu, hanya menguntungkan segelintir elit negara dan tak jelas manfaatnya untuk rakyat banyak. IMF dan Bank Dunia menimbuni Indonesia dengan hutang segunung agar RI terjerat hutang sebagaimana negara-negara di Amerika Latin. Jika Indonesia terjerat hutang hingga tak mampu lagi membayar, maka mudah bagi IMF dan World Bank, yang sebagian besar jatah saham dan suaranya dikuasai AS & negara-negara maju, mendiktekan kebijakannya agar Indonesia manut pada mereka. 

Sementara itu, MAIN Consultant, sebuah konsultan pembangunan asal AS yang disewa pemerintah RI untuk menjadi konsultan pembangunan bagi Indonesia atas rekomendasi IMF, berkeliaran ke sana kemari menebarkan dongeng tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, stabil, dan berkelanjutan berkat program-program yang diarahkan dan dibiayai oleh IMF dan Bank Dunia. Program itu sebenarnya tidak bermanfaat langsung ke rakyat banyak, hanya membuat kaya segelintir pejabat negara bermental korup. Contohnya, program peningkatan kapasitas personel Indonesia dalam birokrasi manajemen yang menelan biaya triliunan Rupiah. Program semacam itu hanya memberi pekerjaan saja pada konsultan-konsultan asing, menghabiskan biaya dari plafon hutang. Program itu bahkan dirancang untuk menjerat Indonesia agar jatuh ke dalam kubangan hutang lebih dalam lagi, tercekik lehernya, sampai-sampai APBN kita habis untuk membayar bunga-bunganya saja ke lembaga keuangan dunia itu.

Kedua, kita eksportir bahan-bahan mineral, minyak, dan bahkan tembaga atau emas terbesar di dunia. Namun bagian kita hanya 1% royalti, sementara 99% adalah bagiannya untuk Freeport McMoran, Newmont, Exxon, dan konco-konconya. Yang kaya dari SDA kita adalah AS, bukan kita. 

Jadi itulah sebabnya kita tetap miskin. Lebih tepatnya, dimiskinkan oleh para komprador penjajah.
  
Lalu krisis 1998 terjadi dan pemerintahan ORBA pun jatuh. Reformasi pun tak terhindarkan. Proses demokratisasi terus berlangsung hingga mengantarkan Indonesia ke sekarang ini.  Setelah Presiden SBY naik, kita mulai sedikit demi sedikit mampu memperbaiki diri secara ekonomi, dan Indonesia, sebagai negara berdaulat, tak terlalu mudah untuk didikte oleh IMF maupun World Bank yang menjadi perpanjangan tangan kaum kapitalis AS dan sekutunya. 

Di saat yang sama AS dan Eropa Barat mengalami krisis yang belum juga pulih hingga sekarang, sementara ekonomi kita tumbuh 6,3 % per tahun. Pertumbuhan terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. PDB Indonesia naik secara signifikan dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan perekeonomian terbesar ke-15 di dunia. 

Embargo militer AS atas Indonesia memberi pelajaran berharga bagi Indonesia. Kita seperti membiarkan resiko tinggi menghadang manakala secara militer hanya bergantung pada satu negara besar. Karena embargo AS, pesawat-pesawat F-16 kita tidak bisa terbang karena ketiadaan suku cadang. 

Maka, selagi ekonomi kita tumbuh dengan baik, pemerintah RI mulai membeli peralatan militer dari negara-negara lain di luar AS, yakni Rusia, Brazil, Jerman, dan lain-lain; dan di saat yang sama mulai menggalakkan industri dalam negeri guna menciptakan kemandirian alutsista. Salah satunya adalah untuk menghindari embargo sepihak dari negara asal produsen tersebut, yang kongres maupun pemerintahnya amat sangat rewel, dan selalu ingin mencampuri urusan dalam negeri orang lain.

AS tak mau menjual rudal ke kita, tidak jadi masalah. Kita bisa beli rudal berikut teknologinya dari Rusia dan China. Hasilnya, Indonesia sudah mampu membuat roket sendiri RX 550 dan masih akan dikembangkan lagi sebagai pembawa satelit. Belanda tidak mau menjual Tank Leopard yang mereka beli dari Jerman ke kita, maka kita tanpa pikir panjang langsung mengalihkan pembelian ke Jerman sendiri, sang produsennya langsung. 

Sekarang pemerintah kita mulai berani. Jika Belanda ingin Indonesia bersedia membeli kapal dari galangan mereka, maka mereka juga harus mau membangun sebagiannya di PT PAL, Indonesia, untuk transfer teknologi. 

Jika Bank Dunia mempersulit pencairan dana bantuan (baca : hutang) yang hanya sebesar 1,7 triliun rupiah untuk proyek JEDDI di DKI Jakarta, Gubernur DKI Jokowi dengan tegas akan membatalkan hutang itu. DKI lebih dari mampu untuk mengatasi proyek itu sendiri dengan APBD, karena sisa anggaran tahun lalu saja 10 triliun rupiah belum terpakai. 

Untuk pertamakalinya dalam sejarah semenjak ORBA, Indonesia menolak didikte oleh IMF yang telah mengacak-acak perekonomian RI selama ini. Indonesia langsung melunasi seluruh hutang-hutangnya ke lembaga itu, yang di zaman Bung Karno, IMF diusir keluar dari Indonesia. Sekarang IMF yang berbalik meminta-minta ke Indonesia bantuan sebesar 1 juta Dollar AS untuk mengatasi krisis di Eropa.



IGGI (yang kemudian berubah nama menjadi CGI) dibubarkan oleh pemerintah RI, karena peran mereka yang signifikan dalam 'merusak' Indonesia dan memuluskan kepentingan para komprador. Indonesia tidak butuh mereka lagi dengan Paris Club dan segala tetek bengek-nya yang menjadi agen pembodohan arah pembangunan dengan berkedok Lembaga Konsultatif semu. Indonesia belakangan sadar, CGI tak lebih dari gerombolan penipu yang memperdaya negara lugu yang umurnya baru beberapa puluh tahun. Peran CGI sudah selesai, tamat, dan almarhum. Cukup sampai di sini saja mereka membodohi kita, karena Indonesia sekarang bisa mengarahkan diri sendiri menuju kemandirian. Otak orang Indonesia juga sama cerdasnya dengan bule-bule serakah dan angkara murka itu.  

Jika Freeport tak mau bangun smelter di negeri ini, maka tahun depan mereka pun tidak akan dijamin bisa ekspor keluar. Indonesia masih menuntut agar Freeport melakukan divestasi saham sebesar minimal 51% ke pemerintah pusat dan ke Pemda. Kelelawar itu tak bisa seenaknya lagi menghisap darah korban, karena sang burung merak telah bermetamorfosis menjadi Banteng yang siap melawan.

Sang Banteng pun mulai bisa mendenguskan api yang melayang-layang di udara, membentuk rangkaian huruf-huruf bertuliskan R-Han 122; dan siap menyengat siapa saja yang mencoba mengganggu. Api itu terbang di bawah cengekeraman Su 27 dan Su 30 MK nan canggih, bergabung dengan 6 Sukhoi 30MK2 dan sejumlah Sukhoi 27 yang sebelumnya sudah ada.

Su-30MK
Pesawat Sukhoi Su 30MK mencengkeram rudal balistik.
Kini, skuadron Udara kita di Makassar semakin kuat. Indonesia semakin terlihat lebih digdaya dibanding 20 tahun yang lalu. TNI mengumumkan bawah setelah 6 unit Su 30 MK tiba beberapa waktu yang lalu, maka 8 unit lagi telah tiba untuk dirakit di sini. Indonesia membeli banyak pesawat tempur Sukhoi 27/30 lengkap dengan persenjatannya. Minimum Essential Force kita semakin hari semakin bisa kita dekati. Selasa, 30 April Puspen TNI memberitakan sebagai berikut : 
Pesawat Antonov Rusia Bawa 8 Engine Pesawat Tempur Sukhoi
LANUD SULTAN HASANUDDIN (30/4),- Setelah beberapa waktu yang  lalu 2 (dua) Pesawat Tempur SU-30 MK 2 dari 6 (enam) Pesawat pesanan pemerintah  Indonesia buatan Rusia memperkuat Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Tim penerimaan kedatangan Pesawat tempur Sukhoi Lanud Sultan Hasanuddin, Sabtu siang (27/4) kembali disibukan untuk menerima kedatangan 8 (delapan) engine Pesawat Tempur Sukhoi 27/30 yang diangkut dengan menggunakan Pesawat Antonov AH-124-100  VDA-6192 dengan Pilot  Chevron, Co Pilot Morenko.

Kedatangan Pesawat AH-124-100 yang parkir di Base Ops Lanud Sultan Hasanuddin tersebut disaksikan oleh Komandan Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb Danet Hendriyanrto, para Kepala Dinas, Komandan Satuan, Tim dari Kemhan, Mabes TNI dan Mabesau serta Pejabat dari PT. Trimarga Rekatama. 
Pesawat AH-124-100 mempunyai panjang badan 68.96 M dan lebar sayap 73.3 M serta tinggi 20.78 M, yang membawa empat engine pesawat tempur SU-27/30 buatan KNAPO (Komsomolsk-na Amure Aircraft Production Association) Rusia, Take off dari Bandara Dzemgi Rusia  dengan rute penerbangan Bandara  Dzemgi Rusia- Manila - Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, yang merupakan satu rangkaian tahapan dari kedatangan 6 (enam) unit pesawat Tempur SU-30 MK2 pesanan pemerintah Indonesia buatan Rusia. Sumber : TNI
Perubahan pemerintah yang diakibatkan oleh krisis 1998 telah membawa Indonesia ke arah dinamika politik dan ekonomi yang terus berubah. Zaman Presiden BJ Habibie cukup stabil dan untuk pertama kalinya pers mendapatkan kebebasannya sebagai kontrol terhadap pemerintahan.

Zaman Presiden Abdurrahman Wahid agak sedikit hiruk pikuk karena manajemen pemerintahan yang cenderung 'bebas' dan gaya kepemimpinan Gus Dur yang 'nyentrik'. Namun di bawah Gus Dur untuk pertamakalinya, kaum minoritas Tionghoa dan Kong Hucu diakui sebagai salah satu agama resmi negara, dan budaya mandarin sebagai bagian dari budaya Indonesia. Pluralisme menjadi lebib menonjol zaman Gus Dur.

Zaman Presiden Megawati Soekarno Putri menurut penulis, adalah zaman ketika BUMN-BUMN dijual ke asing dan bank-bank swasta nasional di bawah BPPN juga diobral dengan harga murah ke asing. Banyak orang menilai, ini adalah zaman 'kegilaan' pada privatisasi yang menyesatkan, sampai-sampai Krakatau Steel, yang didirikan oleh Bung Karno atas pinjaman dari Jepang, nyaris dijual ke Mittal Corporation dengan harga yang sangat murah oleh Menteri BUMN ketika itu, Laksamana Sukardi. Seorang menteri yang percaya sekali akan 'privatisasi' sektor-sektor strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti PAM Jaya yang sebagian sahamnya dijual ke Thames, Perancis, di bawah perjanjian merugikan DKI. 

BUMN lain sebelumnya yang dijual adalah Indosat, Perusahaan Gas Negara, Kimia Farma, Indofarma, dan lain-lain kurang lebih 7 perusahaan milik negara, belum termasuk beberapa BUMD strategis yang juga dijual ke asing di bawah perjanjian yang merugikan negara. Juga perusahaan-perusahaan besar swasta nasional seperti Astra, BCA, Bank Danamon, Bank Niaga dan lain-lain  dijual sahamnya ke asing atas perintah IMF.

Atas desakan IMF, pemerintah dipaksa menjual BUMN-BUMN yang cukup potensial di masa-masa mendatang hanya untuk menutup defisit APBN. Selain menjadi sapi perah pejabat negara, BUMN diobral kepada investor asing demi mendapatkan utang baru dari IMF cs. Pada pemerintahan Megawati, tim ekonominya yakni  Menko Perekonomian Dorodjatun, Menkeu Boediono, dan Meneg BUMN Laksama Sukardi melakukan privatisasi BUM secara cepat (fast-track privatization)  hanya untuk menutup anggaran dengan tanpa mempertimbangkan aspek ekonomis dari BUMN yang bersangkutan. Pilihan menggandeng mitra strategis (melalui strategic sale) dalam proses privatisasi oleh sebagian pengamat dipandang sebagai tindakan yang merugikan negara.




Untunglah Krakatau Steel tidak jadi dijual karena protes keras dari Rizal Ramli, Sri Edi Swasono, dan Kwik Kian Gie ketika itu, karena betapa pentingnya BUMN Perusahaan Baja bagi industri pertahanan, konstruksi, dan lain-lainnya.  Tanpa memiliki pabrik Baja sendiri,  Indonesia akan sangat kesulitan dalam membuat kapal, Kereta api, Panser, maupun Tank. Perusahaan baja adalah perusahaan vital yang menjadi penopang industri strategis kita seperti PT PAL, PT INKA, PT PINDAD, dan bahkan PT DI. Mengerikan sekali negara besar seperti Indonesia tidak memiliki pabrik baja karena telah dijual murah ke asing. Tanpa punya pabrik baja, mustahil kita bisa buat ANOA, mustahil kita bisa buat Kapal besar dengan berat 50.000 DWT, mustahil kita bisa buat Tank, mustahil kita bisa buat kapal selam, mustahil kita bisa bangun jembatan, mustahil kita bisa buat gedung pencakar langit, mustahil Pertamina bisa menyalurkan gas dan minyak lewat pipa-pipa baja, dan mustahil kita bisa maju.

Andai saja Krakatau Steel jadi dijual ke asing, maka siapapun presiden dan menteri BUMN-nya ketika itu, akan dikutuk rakyat Indonesia sebagai pemimpin paling lugu dan bodoh sepanjang sejarah berdirinya negeri ini. 

Sadar telah dibodohi oleh IMF, maka zaman Presiden SBY penjualan aset penting negara ke asing dihentikan sama sekali. Indonesia tidak peduli lagi dengan rekomendasi dan saran menyesatkan dari lembaga-lembaga keuangan internasional yang telah menyebabkan negara ini terpuruk.  

Menteri BUMN sekarang, Dahlan Iskan, bahkan menegaskan : "sekarang bukan zamannya menjual BUMN ke asing. Sekarang zamannya BUMN membeli saham-saham milik perusahaan asing dan go international." Untunglah Indonesia punya orang seperti Dahlan Iskan yang jujur, pandai manajemen, menguasai seluk beluk perusahaan, dan seorang enterpreneur hebat. 

Di Zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan pula PT DI bangkit, PT PAL bangun dan mencetak untung milyaran rupiah, PT PINDAD ekspor Anoa ke mancanegara, PT INKA mulai berjalan, dan lain-lain prestasi menggembirakan. 

Penulis menyukai SBY, tapi di saat yang sama juga ada sisi yang tidak penulis sukai dari Presiden kita ini. Penulis menganggap SBY berprestasi dalam membawa Indonesia dari negara yang nyaris gagal menjadi negara yang ekonominya tumbuh. Tapi kelemahan beliau adalah Nepotisme, yakni anak, istri, kakak ipar, adik ipar, dan keluarga dekat dijadikan pejabat tinggi partai yang didirikannya, sekaligus caleg di DPR RI. Cara SBY ini akhirnya dicontoh oleh pejabat-pejabat di tingkat bawahnya, seperti Bupati mencalonkan istrinya jadi bupati periode berikutnya, lalu Istri bupati ini di akhir masanya mencalonkan anaknya untuk menduduki jabatan yang sama. Ini sungguh tragis.


Nepotisme adalah kemunduran reformasi, saat tahun 1998 para istri, teman dekat, dan handai taulan para pejabat negara ramai-ramai mengundurkan diri dari DPR RI yang dipenuhi oleh famili-famili. 

Demokratisasi memang tidak mudah. Indonesia masih butuhkan proses yang panjang agar demokrasi kita bisa seperti Jerman. Namun, setidaknya, banyak perbaikan ekonomi yang terjadi. 

Di bawah tekanan korupsi yang merajalela saja Indonesia masih bisa tumbuh, maka kita bisa bayangkan betapa hebatnya kita, jika korupsi itu bisa kita basmi hingga ke akar-akarnya. Di tengah-tengah kesulitan global saja kita masih bisa membeli pesawat tempur, membangun gedung-gedung dan pabrik-pabrik, maka jika korupsi bisa kita bantai, maka Indonesia akan bisa tumbuh lebih cepat.

Di saat itulah kita perlu mengupayakan kemerdekaan ekonomi dalam arti sebenarnya. Kita tidak perlu memusuhi AS dan sekutunya, bahkan kita harus tetap bisa bekerjasama dengan mereka, namun harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Kita dengan negara manapun harus sejajar, sama, dan setara.  


Lima atau sepuluh tahun ke depan, Indonesia sangat mungkin mampu membuat pesawat tempur sendiri yang lebih canggih dari F-16 Fighting Falcon. Industri strategis kita sudah cukup lengkap dan semua tampak berkembang bersama-sama : untuk menguasai udara kita punya PT DI untuk memproduksi pesawat militer maupun helikopter serang; di laut kita punya PT PAL untuk memproduksi sendiri kapal perang rudal maupun kapal induk; di darat kita punya PT PIDAD yang memproduksi Tank dan panser; di lini identifikasi kita puna LEN dan PT INTI untuk mengembangkan radar dan teknologi tinggi semi-konduktor. Dan kita juga punya LAPAN yang siap mengembangkan  teknologi roket untuk daya jelajah dua digit atau lebih, dan juga pembuatan satelit. Pada titik ini, kita adalah yang terbaik di ASEAN.  

Sambil mencari bentuk sistem pemerintahan yang tepat, rasanya tidak akan sulit bagi indonesia untuk mengejar Brazil atau India. Jika indeks korupsi di negara ini bisa kita penggal menjadi lebih rendah lagi, maka Indonesia akan bisa tumbuh lebih kencang lagi. Di saat itu, kelelawar yang merugikan akan bisa kita halau menjauh, dan bila perlu paksa mereka untuk mau bekerjasama sehingga saling menguntungkan. Indonesia, pada saatnya, akan bisa berdiri tegak sebagai bangsa yang terhormat, kuat, dan makmur. Sebagai bangsa kita mampu berdiri sejajar dengan Belanda, Australia, dan bahkan Rusia atau AS. SDM kita juga sama pintarnya dengan mereka. Dalam kontes robot, komputer, matematik, astronomi, fisika, biologi, dan lain-lain di tingkat dunia, para pelajar dan mahasiswa kita sering menang dan juara umum.