Showing posts with label N-250. Show all posts
Showing posts with label N-250. Show all posts

Friday, March 22, 2013

PROSPEK PESAWAT N-250 DINILAI CERAH


PROSPEK PESAWAT N-250 DINILAI CERAH



BANDUNG-(IDB) :Pemerintah diminta mengimbau maskapai penerbangan nasional untuk membeli pesawat N-250.

Pengembangan kembali proyek pesawat komersial tipe N-250 dinilai memiliki prospek cerah. Di samping harga yang tidak mahal, pesawat kecil itu sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Pengamat penerbangan Universitas Gadjah Mada Arista Atmadjati menilai pesawat yang pernah menjadi produk primadona Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)--kini bernama PT Dirgantara Indonesia (PT DI)--tersebut ideal bagi pasar Indonesia.

"Harganya terjangkau oleh maskapai-maskapai nasional mulai dari kelas besar, menengah, hingga kecil. Ukurannya pun cocok untuk menerbangi pulau-pulau kecil di Tanah Air," kata Arista, kemarin.

Arista menuturkan, N-250 yang bermain di kapasitas 50-70 tempat duduk sangat cocok untuk mendukung transportasi komuter pulau-pulau kecil atau antarkabupaten. Sebab kebanyakan bandara di sana berlandasan pacu pendek, sekitar 900 meter hingga 1.400 meter. Apalagi, saat ini rute-rute penerbangan antarkabupaten tengah berkembang. Misalnya, rute Bandung-Pangandaran, Halim Perdanakusuma-Tasikmalaya, Yogyakarta-Bandung, atau di luar Pulau Jawa seperti Kendari-Wakatobi dan Raja Ampat-Nabire.

Pesawat N-250, diyakini Arista, akan mampu bersaing dengan pesawat-pesawat sekelas produk perusahaan ternama dunia seperti Fokker, Bombardier, atau Avions de Transport Regional (ATR).

Persaingan


Namun, agar mampu bersaing, pemerintah dinilai perlu mendukung dengan mengimbau maskapai penerbangan nasional untuk membeli N-250. Selama ini, minimnya produksi pesawat terbang domestik membuat maskapai penerbangan nasional terus menggunakan pesawat buatan asing, khususnya Boeing dan Airbus.

Bahkan, Merpati Airlines lebih memilih pesawat tipe MA-60 buatan Xian Aircraft Industry Ltd, China, menggantikan CN-235 buatan PT DI yang telah memiliki lisensi dari otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA). "Tanpa campur tangan pemerintah dan dukungan industri penerbangan domestik, pesawat sebagus N-250 pun tidak akan bisa bertahan," kata Arista.

Senada dengan Arista, pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang meminta pemerintah mempromosikan N-250 melalui imbauan Presiden atau Menteri BUMN Dahlan Iskan agar maskapai penerbangan pelat merah menggunakan N-250 bagi penerbangan skala kecil mereka.

"Harus maskapai kita sendiri yang pertama kali menggunakan N-250 untuk menunjukkan kepada dunia luar betapa baiknya produk yang kita hasilkan," tegasnya.

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo juga berharap upaya mantan Presiden BJ Habibie itu didukung penuh pemerintah. "Karena mulai 2015, seluruh produk asing akan membanjiri Indonesia termasuk pesawat. Apakah kita akan terus memakai produk asing, sedangkan SDM kedirgantaraan dalam negeri sudah ada dan berpengalaman," tegasnya.

Sebelumnya, seusai peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Bandung, Jumat (10/8), Habibie menyatakan tekad mewujudkan kembali mimpinya agar pesawat komersial tipe N-250 yang pernah terbang 17 tahun silam, tetapi kemudian kandas lantaran krisis ekonomi, bisa mengangkasa kembali. 

Sumber : MediaIndonesia

Pesawat N 2130 Kita, Lebih Canggih dari Sukhoi SJ 100


Pesawat N 2130 Kita, Lebih Canggih dari Sukhoi SJ 100
Sebelum Rusia membuat pesawat Sukhoi Super Jet 100  yang dilengkapi sistem navigasi canggih fly-by-wire,Indonesia sudah membuat pesawat N 250  yang memasang sistem  fly-by-wire.  
n 250 iptn
Pesawat N 250, asli buatan Indonesia.
Indonesia bisa membuat pesawat terbang? Itu, benar. Pesawat itu diberi nama N 250. N adalah singkatan dari Nusantara, 2 singkatan dari dua mesin, 50 singkatan dari 50 penumpang.
Pesawat N 250 menggunakan 2 mesin baling-baling atau turbo propeller . Kenapa yang yang dibuat pesawat kecil dan menggunakan baling-baling?
Itu karena Indonesia membutuhkan pesawat kecil antar pulau atau antar kota. Pesawat N 250 ini ditujukan untuk transportasi antar pulau atau antar kota.
Supaya pulau-pulau kecil dan kota-kota kecil bisa dilayani pesawat, maka yang dibutuhkan adalah pesawat kecil bermesin baling-baling.
Kenapa? Karena pesawat kecil bermesin baling-baling ini hanya memerlukan landasan pendek, tidak seperti yang dibutuhkan pesawat jenis jet yang membutuhkan landasan yang panjang.
Pesawat N 250 terbang perdana tanggal 10 November 1995. Ya, waktu itu, kita belum lahir. Cerita ayah-ibu, semua bangga karena bangsa Indonesia mampu bikin pesawat terbang.
Meskipun pesawat N 250 menggunakan baling-baling, pesawat ini konon cukup canggih karena sudah dikendalikan dengan sistem  fly-by-wire.  Sistem ini merupakan teknologi penerbangan yang menggunakan komputer.
n 2130 iptn
Pesawat N 2130 asli hasil rancangan Indonesia.
Dalam pidato menyambut N 250, Presiden Soeharto(waktu itu) mengumumkan, ke depan, Indonesia juga akan membuat pesawat super jet N 2130  yang akan menerapkan teknologi yang lebih canggih lagi, yaitu sistem navigasi advanced fly-by -wire.
Pastinya, teknologi pesawat  Sukhoi Super Jet 100 yang tergolong canggih akan kalah dengan teknologi yang digunakan pesawat Super Jet N 2130 buatan Indonesia ini.
Sayangnya, akibat krisis keuangan negara tahun 1997, Industri Pesawat Terbang Nusantara yang didirikan oleh ahli pesawat Pak BJ Habibie, terpaksa ditutup. Proyek-royek pembuatan pesawat pun terpaksa dihentikan karena pemerintah tidak punya biaya lagi.
Sungguh menyedihkan nasib N 250 dan N 2130 ini. Ya, andai saja tidak terjadi krisis keuangan negara, tentu kita sudah bisa menikmati pesawat-pesawat terbang buatan Indonesia ini sekarang.
Namun, meskipun industri pesawat terbang di Indonesia sekarang ini sedang mati suri,  suatu saat bangsa kita pasti mampu bangkit kembali.
Ini semua akan menjadi tanggungjawab kita, nanti.(Sigit Wahyu, Foto-foto: IPTN)

Tuesday, March 19, 2013

Pesawat R80, The Next N-250 yang Siap Ungguli ATR

Pesawat Jet N 2130 berkapasitas 80-130 penumpang. Pesawat seperti ini kira-kira R-80 yang 
akan dikembangkan lagi menjadi lebih canggih oleh Ilham Habibie, antara lain digitalisasi perangkat.

Wawancara Anak Sulung BJ Habibie

Pesawat R80, The Next N-250 yang Siap Ungguli ATR

Rista Rama Dhany - detikfinance
Senin, 18/03/2013 08:10 WIB



Jakarta - Anak sulung mantan Presiden Republik Indonesia BJ Habibie, Ilham Habibie mempunyai ambisi untuk melanjutkan impian ayahnya yakni memproduksi pesawat Regio Prop 80 (R80).

Seperti diketahui, proyek pesawat N-250 yang dikomandani BJ Habibie dihentikan oleh International Monetary Fund (IMF) pada 1998 akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Jadi bagaimana R80 dibangun, bagaimana prospeknya? Apakah pesawat R80 sama dengan N-250? Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Ilham ketika ditemui di kantornya di Kawasan Mega Kuningan, akhir pekan lalu.

Apa bedanya Gatotkaca N-250 dari BJ Habibie dengan Regio Prop 80 dari seorang Ilham Habibie dan kawan-kawan?

Beda, N-250 dengan R80 sangat berbeda sekali. Perbedaanya di antaranya dari ukuran, R80 jauh lebih besar dari pada N-250, karena R80 memiliki daya tampung hingga 80 kursi sementara N-250 hanya 50 kursi.

Sayap pesawat jauh lebih besar dan panjang, karena ukurannya lebih besar jadi diperlukan sayap yang besar untuk mengangkat beban. Landing Gear juga jauh lebih besar dikarenakan badan pesawat lebih besar dari pada N-250.

Kemudian teknologi kokpit, Aircraft flight control system juga berbeda, ya bisa dibayangkan proyek N-250 dimulai sejak 15 tahun lalu tentunya teknologi sekarang berubah, komputer saja berapa kali kita ganti, handphone sudah berapa kali berubah, pastinya teknologi di pesawat N-250 dan R80 akan jauh berbeda.

Namun ada sedikit persamaan antara N-250 dengan R80, yakni sayap yang berada di atas badan pesawat, tetap menggunakan baling-baling sebagai penggerak pesawat dan jika dibelah badan pesawatnya lekukan atau konturnya hampir sama dengan N-250.

Anda tetap mempertahankan mesin pesawat dengan baling-baling. Sebagian masyarakat masih ragu menggunakan pesawat yang menggunakan baling-baling?

Ya kita pakai baling-baling. Itu lah yang sebenarnya, masyarakat harus banyak diberi penjelasan. Simpelnya saya mau tanya, awalnya pesawat menggunakan baling-baling atau mesin jet? baling-baling kan, ya secara teknologi baling-baling lebih matang, jika matang artinya lebih aman dong, begitu cara berpikirnya.

Pesawat sekarang banyak yang memakai mesin jet dikarenakan pesawat bermesin jet memang dikhususkan untuk jarak jauh. Tapi sebenarnya antara mesin jet dengan mesin baling-baling pada pesawat sama saja, tidak terlalu berbeda karena mesinnya sama.

Kalau Jet namanya Turbo Jet, kalau baling-baling namanya turbo prop. Jet lebih cepat karena dorongan jet memang lebih cepat karena dihembuskan dari belakang namun konsekuensinya konsumsi bahan bakar jauh lebih boros, bahkan sangat boros.

Mengapa anda memilih R80 tetap menggunakan baling-baling?

Pesawat baling-baling didesain untuk jarak tempuh yang pendek. Mengapa? dengan baling-baling konsumsi bahan bakar akan jauh lebih irit. Bandingkan jika maskapai menggunakan pesawat jet untuk jarak pendek, waduh itu luar biasa borosnya.

Selain itu melihat luasnya negara kita dari Sabang-Marauke, yang terdiri banyak pulau dan jarak antara satu kota ke kota lainnya cukup dekat jika menggunakan pesawat. Asal tahu saja, saat ini semua maskapai sangat terbebani jika harga minyak (Avtur) naik, mereka pusing tujuh keliling, kenapa? Karena konsumsi avtur mencapai 50% lebih dari seluruh ongkos operasi.

Beberapa negara juga saat ini menerapkan aturan, bahwa pesawat terbang harus irit bahan bakar, karena ini menyangkut dengan emisi dan lingkungan hidup, banyak orang bilang emisi di atas (pesawat) lebih berbahaya 8 kali bagi lapisan ozon dari pada yang dari daratan. Bahkan perusahaan pesawat memang diwajibkan produksi pesawat yang irit bahan bakar karena jika tidak mereka bisa kena pinalti atau denda pajak yang sangat tinggi.

Dan R80 memang didesain untuk jarak tempuh yang kurang dari 600 km atau jarak pendek. Sehingga sudah pastinya R80 ini akan sangat irit bahan bakar. Makanya maskapai seperti Citilink, Wingsair memilih rute-rute pendek dengan menggunakan pesawat bermesin baling-baling seperti ATR.

Anda terkesan sangat ambisius untuk bisa memproduksi pesawat? Punyakah anda uang?

Ambisius? saya yakin masih banyak orang di Indonesia ini yang mempunyai semangat. Dirgantara dan saya salah satunya.

Uang? saat ini dalam tahap awal diperlukan US$ 400 juta dolar. Tapi itu bukan dana dari pribadi saja sendiri, ada beberapa modal dari beberapa kalangan tetapi juga pribadi bukan dana perusahaan.

Dan nanti suatu saat, ketika perusahaan atau R80 ini berkembang dan memerlukan dana besar, kita bisa melepas saham ke publik.

Banyak orang salah paham juga, bahwa perusahaan yang kami dirikan yakni PT Ragio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan perusahaan gabungan dari perusahaan miliknya yakni PT Ilthabie Rekatama dengan PT Eagle Cap adalah perusahaan miik Erry Firmansyah yang merupakan mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mendirikan pabrik pesawat menyaingi PT Dirgantara Indonesia (DI).

Tidak, yang benar R80 akan produksi menggunakan pabrik PT DI, dan nantinya PT DI juga akan menjadi salah satu pemegang saham di PT RAI.

R80 nanti kelasnya di mana? Menyaingi Airbus, Boeing atau ATR?

Patokan kita harus di atas ATR. Acuan kita pasarnya ATR, sama-sama menggunakan baling-baling. Namun R80 akan di atas ATR, mengapa? Pertama kapasitas penumpang kita akan lebih besar yakni 80 kursi sementara ATR maksimal hanya 70 kursi, ATR sampai saat ini belum bisa memproduksi lebih dari 70 kursi.

Kelebihan R80 lagi dari pada ATR, mesin kita lebih cepat namun lebih irit bahan bakar, tapi tidak lebih cepat dari pada jet, karena kalau sama kecepatannya dengan jet artinya sangat boros bahan bakar.

Jadi patokan R80 harus di atas ATR namun harganya jauh lebih murah dari pada ATR. Lebih murah itu wajib karena produksi kita ada di Indonesia, suku cadang juga dibuat di Indonesia.

Akankah R80 ini bisa bersaing dengan produsen pesawat di dunia? Akankah laris manis di pasar dalam negeri, tunggu pada 2018 nanti.

Ya target kami R80 sudah bisa produksi pada 2018 nanti.