Showing posts with label Bombardier. Show all posts
Showing posts with label Bombardier. Show all posts

Saturday, March 23, 2013

PT INKA Gandeng Bombardier Swedia Bangun KRL Canggih Bandara Soetta


Kereta Bombardier
Jakarta - PT Industri Kereta Api (INKA) Persero, saat ini sedang mengikuti proses tender pengembangan KRL Commuter khusus rute Bandara Soekarno Hatta-Sudirman Baru. Untuk rencana pengembangan KRL khusus tersebut, BUMN kereta yang bermarkas di Madiun Jawa Timur ini, menggadeng produsen kereta kelas dunia adal Kanada, Bombardier. 

"Bandara Soekarno-Hatta, kita ikut tender. Itu akan dibuat sekelas eksekutif. Keunggulan yang ditawarkan disyaratkan disitu harus dijamin perusahaan kelas dunia. INKA sudah kerjasama dengan Bombardier di Swedia," tutur Direktur Utama INKA Agus H Purnomo kepada detikFinance, Jumat (22/2/2013).

Nantinya, INKA akan menawarkan 10 rangkaian kereta penumpang dari atau menuju Bandara Soetta ini. Adapun nilai proyek kereta ini disiapkan sekitar Rp 800 miliar. 

"10 rangkaian yang ditawarkan dengan harga sekitar Rp 800 miliar," tambahnya.

Bombardier merupakan perusahaan pembuat pesawat terbang yang bermarkas di Kanada. Namun, Bombardier mengembangkan transportasi terutama kereta api yang bermarkas di Swedia sejak tahun 1981. Garuda Indonesia sendiri baru saja membeli pesawat Bombardier CRJ 1000 Next Gen.



(feb/dru) 

Dahlan Iskan: KRL Jabodetabek Wajib Pakai Buatan Madiun Mulai 2016


Dahlan Iskan: KRL Jabodetabek Wajib Pakai Buatan Madiun Mulai 2016

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Jumat, 22/02/2013 15:52 WIB



Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) wajib membeli kereta listrik (KRL) buatan dalam negeri tiga tahun kedepan. Armada kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) Persero yang diproduksi di Madiun Jawa Timur ini, siap menggantikan pengadaan KRL bekas dari Jepang. 

Hal ini diungkapkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan di Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (22/2/2013).

"Dalam 3 tahun ke depan KAI tidak pakai kereta bekas. Sekarang kalau dipaksa beli kereta baru itu bisa dapet sedikit. Tapi nggak boleh seterusnya. Kalau beli baru itu beli di INKA," tutur Dahlan.

Selama KAI masih membeli KRL bekas, INKA diminta Dahlan untuk serius memperbaiki dan meningkatkan kualitas KRL-nya dengan menggandeng perusahaan produsen kereta kelas dunia seperti Bombardier dan General Electric (GE). Hal ini bisa sejalan juga dengan membaiknya keuangan KAI sehingga 3 tahun ke depan, KAI bisa melakukan pengadaan armada baru dengan membeli KRL asal Madiun.

"Selama masih beli di Jepang, INKA bisa belajar untuk memenuhi keinginan kualitas KAI," tambahnya.

Selain itu, Dahlan juga meminta INKA fokus menjadi produsen pembuat kereta asal Indonesia yang berkualitas internasional. Hal ini dilakukan karena kebutuhan terhadap produk kereta seperti KRL terus tumbuh dan masih sangat tinggi khususnya yang datang dari dalam negeri.

"Karena kan kereta atau KRL kan pasarnya besar. Kalau kualitas bagus kan bisa ekspor jadi jangan diganggu dengan industri lain yang nggak ada pesannya (mobil dan kos)," cetusnya.




(feb/dru) 

Gaet Bombardier, INKA Siap Pasok Kereta KRL Jabodetabek


Gaet Bombardier, INKA Siap Pasok Kereta KRL Jabodetabek

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Sabtu, 02/03/2013 15:54 WIB




Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen kereta, PT Industri Kereta Api (INKA) siap pasok kebutuhan gerbong KRL Commuter Line Jabodetabek. Hal ini menanggapi permintaan Menteri BUMN, Dahlan Iskan yang menyarankan KAI mulai tahun 2016 wajib menggunakan KRL asli produk Indonesia.

Untuk memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh KAI, INKA menggandeng produsen kereta kelas dunia, Bombardier. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Komersial INKA, Hendy Indratno Adji kepada detikFinance, Sabtu (2/3/2013).

"Memang produksi enggak pernah dilatih, membuat kemampuannya stagnan, kalau diberi kesempatan, kami siap di 2016," tutur Hendy.

Meskipun menggadeng Bombardier, KRL buatan INKA secara konten menggunakan 70% sampai 75% komponen yang dibuat di dalam negeri. Selain itu, dengan KRL yang diproduksi di dalam negeri bisa juga memberdayakan sumber daya di lokal dan menambah penciptaan lapangan kerja.

"Lokal kontennya tinggi 70%-75%, buatan putra-putri Indonesia sendiri," tambahnya.

KRL yang dibanderol seharga Rp 48 miliar per trainset (1 trainset terdiri dari 4 gerbong) ini, bisa tahan ketika menghadapi tegangan listrik naik turun. Hal ini biasa terjadi saat, jarak antar kereta sangat jam padat di pagi dan sore hari. 

Namun daya tahan seperti ini tidak ditemui oleh KRL bekas asal Jepang karena saat tegangan naik turun. Ujung-ujungnya, berdampak pada padamnya pendingin udara yang sering dikeluhkan oleh pengguna KRL.

"Kami rencana desain statistik inventor 1000-2000 volt DC. Kalau kereta Jepang enggak segitu (daya ketahanan terhadap naik turun tegangan)," cetusnya.



(feb/ang)