Showing posts with label kereta api indonesia. Show all posts
Showing posts with label kereta api indonesia. Show all posts

Saturday, March 23, 2013

BUMN Ini Siap Bikin Monorel Jabodetabek Khas Betawi


BUMN Ini Siap Bikin Monorel Jabodetabek Khas Betawi

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Kamis, 21/02/2013 13:22 WIB



Jakarta - PT Industri Kereta Api (INKA) siap memproduksi kereta dengan ciri khas Betawi untuk proyek monorel Jabodetabek yang akan dibangun konsorsium BUMN pimpinan PT Adhi Karya Tbk. 

Monorel buatan INKA ini 80% dibuat dengan konten komponen lokal, dan sisanya yaitu 20% berupa komponen mesin penggerak, masih harus diimpor

"Tampilannya bisa khas Jakarta," tutur Direktur Utama INKA Agus H. Purnomo kepada detikFinance, Kamis (21/2/2013).

INKA merupakan anggota konsorsium monorel Jabodetabek dan bermarkas di Madiun ini. Dalam waktu dekat siap melahirkan prototipe kereta untuk proyek monorel Jabodetabek tahap I yakni rute Bekasi Timur-Cawang, Cibubur-Cawang, dan Cawang-Kuningan sepanjang sepanjang 39,036 km. 

Agus menuturkan, secara desain dan teknik, INKA tak kesulitan memproduksi monorel karena konsep pembuatan monorel lebih mudah dari kereta api atau KRL. Ia pun menjamin keandalan monorel buatannya.

"Monorel keunggulannya basic-nya kereta api jadi kita desainnya monorel dengan basik kereta. Konsepnya kereta api sehingga kualitasnya terjamin," tambahnya.



(feb/dnl) 

PT INKA Gandeng Bombardier Swedia Bangun KRL Canggih Bandara Soetta


Kereta Bombardier
Jakarta - PT Industri Kereta Api (INKA) Persero, saat ini sedang mengikuti proses tender pengembangan KRL Commuter khusus rute Bandara Soekarno Hatta-Sudirman Baru. Untuk rencana pengembangan KRL khusus tersebut, BUMN kereta yang bermarkas di Madiun Jawa Timur ini, menggadeng produsen kereta kelas dunia adal Kanada, Bombardier. 

"Bandara Soekarno-Hatta, kita ikut tender. Itu akan dibuat sekelas eksekutif. Keunggulan yang ditawarkan disyaratkan disitu harus dijamin perusahaan kelas dunia. INKA sudah kerjasama dengan Bombardier di Swedia," tutur Direktur Utama INKA Agus H Purnomo kepada detikFinance, Jumat (22/2/2013).

Nantinya, INKA akan menawarkan 10 rangkaian kereta penumpang dari atau menuju Bandara Soetta ini. Adapun nilai proyek kereta ini disiapkan sekitar Rp 800 miliar. 

"10 rangkaian yang ditawarkan dengan harga sekitar Rp 800 miliar," tambahnya.

Bombardier merupakan perusahaan pembuat pesawat terbang yang bermarkas di Kanada. Namun, Bombardier mengembangkan transportasi terutama kereta api yang bermarkas di Swedia sejak tahun 1981. Garuda Indonesia sendiri baru saja membeli pesawat Bombardier CRJ 1000 Next Gen.



(feb/dru) 

Hebat, BUMN Bisa Ciptakan Kereta Tambang Super canggih Tanpa Masinis


Hebat, BUMN Bisa Ciptakan Kereta Tambang Super canggih Tanpa Masinis

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Kamis, 21/02/2013 16:17 WIB



Jakarta - PT Industri Kereta Api (INKA) siap meluncurkan produk kereta terbaru super canggih untuk keperluan angkutan tambang di seluruh Indonesia. BUMN produsen kereta ini menawarkan solusi angkutan tambang yang selama ini hanya bisa diangkut oleh truk-truk besar.

Nantinya, kereta api tanpa lokomotif ini bisa dikendalikan dari ruang pengendali jarak jauh. Selain itu kereta ini bisa mengangkut produk-produk tambang dalam jumlah besar dari pedalaman tanpa harus ada seorang masinis.

"Dikendalikan dari jarak jauh seperti roller coster di control room," tutur Direktur Utama INKA Agus H Purnomo kepada detikFinance, Kamis (21/2/2013).

Angkutan tambang moderen yang pertama ada di Indonesia tersebut, saat ini sedang dikembangkan oleh INKA. Nantinya, pengembangan kereta dengan penggerak listrik ini jauh lebih mudah dan murah, ketimbang investasi pengembangan infrastruktur kereta saat ini.

"Jalan kereta api ringan ini nggak seperti jalur kereta saat ini. Jauh sekali lebih mudah. Nantinya di bangun disebelahnya jalan pertambangan," tambahnya.

Salah satu keunggulan kereta yang dirancang di Madiun Jawa Timur ini yakni, 90% komponennya dibuat dan dirancang di Indonesia. Selain itu, kereta pertambangan penggerak listrik ini biasa dan umum dipergunakan pada pertambangan besar di luar negeri.

"Kontennya 80%-90% lokal. Penggeraknya nggak pakai lokomotif tapi pakai listrik," cetusnya.



(feb/dnl)