Showing posts with label PT KAI. Show all posts
Showing posts with label PT KAI. Show all posts

Tuesday, May 14, 2013

Monorel Bandara Soetta Selesai 2015



Pembangunan monorel di dalam Bandara Soekarno-Hatta dimulai pertengahan tahun ini. Monorel menjadi moda transfer lanjutan saat PT. KAI merealisasikan layanan kereta api dari pusat Kota Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.

Monorel internal Bandara Soekarno Hatta diharapkan selesai awal tahun 2015. Monorel ini nantinya akan dimanfaatkan untuk mengangkut karyawan yang bekerja di sekitar terminal 1 hingga terminal 3, Bandara Soekarno Hatta. Kapasitasnya 80-100 orang perkereta. Nilai investasi pembangunan monorel ini Rp2,5 triliun, dibiayai oleh konsosrsium BUMN. Moda transportasi ini akan melayani penumpang secara gratis.

Cara kerja monorel ini nantinya akan dibuat sama seperti sistem kerja di Changi Airport Skytrain, Singapura. Lihat videonya di sini.

Diharapkan dengan adanya monorel ini pelayanan di Bandara Soekarno Hatta dapat ditingkatkan. (Viva news)

Dapat uang melalui internet

Saturday, March 23, 2013

Dahlan Iskan: KRL Jabodetabek Wajib Pakai Buatan Madiun Mulai 2016


Dahlan Iskan: KRL Jabodetabek Wajib Pakai Buatan Madiun Mulai 2016

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Jumat, 22/02/2013 15:52 WIB



Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) wajib membeli kereta listrik (KRL) buatan dalam negeri tiga tahun kedepan. Armada kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) Persero yang diproduksi di Madiun Jawa Timur ini, siap menggantikan pengadaan KRL bekas dari Jepang. 

Hal ini diungkapkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan di Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (22/2/2013).

"Dalam 3 tahun ke depan KAI tidak pakai kereta bekas. Sekarang kalau dipaksa beli kereta baru itu bisa dapet sedikit. Tapi nggak boleh seterusnya. Kalau beli baru itu beli di INKA," tutur Dahlan.

Selama KAI masih membeli KRL bekas, INKA diminta Dahlan untuk serius memperbaiki dan meningkatkan kualitas KRL-nya dengan menggandeng perusahaan produsen kereta kelas dunia seperti Bombardier dan General Electric (GE). Hal ini bisa sejalan juga dengan membaiknya keuangan KAI sehingga 3 tahun ke depan, KAI bisa melakukan pengadaan armada baru dengan membeli KRL asal Madiun.

"Selama masih beli di Jepang, INKA bisa belajar untuk memenuhi keinginan kualitas KAI," tambahnya.

Selain itu, Dahlan juga meminta INKA fokus menjadi produsen pembuat kereta asal Indonesia yang berkualitas internasional. Hal ini dilakukan karena kebutuhan terhadap produk kereta seperti KRL terus tumbuh dan masih sangat tinggi khususnya yang datang dari dalam negeri.

"Karena kan kereta atau KRL kan pasarnya besar. Kalau kualitas bagus kan bisa ekspor jadi jangan diganggu dengan industri lain yang nggak ada pesannya (mobil dan kos)," cetusnya.




(feb/dru) 

Gaet Bombardier, INKA Siap Pasok Kereta KRL Jabodetabek


Gaet Bombardier, INKA Siap Pasok Kereta KRL Jabodetabek

Feby Dwi Sutianto - detikfinance
Sabtu, 02/03/2013 15:54 WIB




Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) produsen kereta, PT Industri Kereta Api (INKA) siap pasok kebutuhan gerbong KRL Commuter Line Jabodetabek. Hal ini menanggapi permintaan Menteri BUMN, Dahlan Iskan yang menyarankan KAI mulai tahun 2016 wajib menggunakan KRL asli produk Indonesia.

Untuk memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh KAI, INKA menggandeng produsen kereta kelas dunia, Bombardier. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Komersial INKA, Hendy Indratno Adji kepada detikFinance, Sabtu (2/3/2013).

"Memang produksi enggak pernah dilatih, membuat kemampuannya stagnan, kalau diberi kesempatan, kami siap di 2016," tutur Hendy.

Meskipun menggadeng Bombardier, KRL buatan INKA secara konten menggunakan 70% sampai 75% komponen yang dibuat di dalam negeri. Selain itu, dengan KRL yang diproduksi di dalam negeri bisa juga memberdayakan sumber daya di lokal dan menambah penciptaan lapangan kerja.

"Lokal kontennya tinggi 70%-75%, buatan putra-putri Indonesia sendiri," tambahnya.

KRL yang dibanderol seharga Rp 48 miliar per trainset (1 trainset terdiri dari 4 gerbong) ini, bisa tahan ketika menghadapi tegangan listrik naik turun. Hal ini biasa terjadi saat, jarak antar kereta sangat jam padat di pagi dan sore hari. 

Namun daya tahan seperti ini tidak ditemui oleh KRL bekas asal Jepang karena saat tegangan naik turun. Ujung-ujungnya, berdampak pada padamnya pendingin udara yang sering dikeluhkan oleh pengguna KRL.

"Kami rencana desain statistik inventor 1000-2000 volt DC. Kalau kereta Jepang enggak segitu (daya ketahanan terhadap naik turun tegangan)," cetusnya.



(feb/ang) 

Thursday, February 14, 2013

Indonesia Kembangkan Sendiri Teknologi Sinyal



TEKNOLOGI PERSINYALAN – MEMULAI KEMANDIRIAN


Persinyalan kereta api di Indonesia kini mulai beralih dari manual ke sistem otomatis berbasis komputer. Belakangan ini diterapkan serangkaian komponen mikroelektronika yang lebih kompak dan ringkas. Sistem pengendali yang modern itu bernama Computer Based Interlocking, buatan dalam negeri. YUNI IKAWATI

Era perkeretaapian di Indonesia dimulai 1867, pada masa kolonial Belanda. Pengembangan jalur sarana transportasi massal selama ini terbatas di Jawa dan Sumatera. Modernisasinya tersendat, termasuk sistem persinyalan.

Sistem persinyalan kereta api, 98 persen masih manual atau menggunakan sistem mekanik. Kemampuan industri dalam negeri untuk memasok tidak terlalu besar. Dari seluruh sinyal kereta api, 60 persen merupakan buatan dalam negeri.

Meningkatnya mobilitas manusia menggunakan kereta api yang mendorong penambahan rangkaian dan lalu lintas memerlukan sistem persinyalan yang dapat bekerja cepat dengan tingkat keamanan dan keandalan tinggi. Ini dapat dipenuhi dengan sinyal elektrik yang mampu bekerja otomatis.

Sayangnya, saat ini jalur kereta api yang menggunakan sinyal elektrik baru 2 persen. Untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan transportasi kereta api, Menteri Perhubungan Evert Erenst Mangindaan, Desember lalu, mengatakan akan meningkatkan secara bertahap penggunaan sinyal elektrik yang dilengkapi sistem pengontrol mikro. Penerapannya akan menggantikan sistem manual.

Ada beberapa kelebihan yang dapat dicapai dengan menggunakan sinyal elektrik dan otomatis. Tidak hanya keamanan dan keselamatan transportasi lebih terjamin, tetapi juga meningkatkan kapasitas perlintasan kereta dan efisiensi sistem persinyalan.

Persinyalan elektrik untuk kereta api di Indonesia, sekitar 80 persen merupakan generasi kedua. Kini, mulai dirintis sistem generasi ketiga, antara lain Computer Based Interlocking, dilengkapi pengontrol mikro.

Berbeda dengan sinyal manual yang sebagian besar dapat dipenuhi industri dalam negeri, sinyal elektrik masih bergantung pada produk asing. Menurut Asisten Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Produktivitas dan Riset Iptek Industri Erry Ricardo, 96 persen teknologi sinyal kereta api berbasis listrik dibangun oleh vendor dari luar negeri, yaitu Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, dan Australia.

Upaya mandiri


Untuk mengurangi ketergantungan pihak asing, dibentuk Konsorsium Persinyalan Kereta Api untuk merancang bangun dan memproduksi sinyal elektrik secara mandiri. Konsorsium itu terdiri dari Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Perhubungan, PT Len Industri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Perintisan sinyal elektrik, menurut Agung Darmawan, Kepala Divisi Teknologi dan Inovasi PT Len Industri, dimulai dengan merancang programmable logic controller (PLC), yaitu sistem pengontrol yang menggunakan komponen elektromekanikal sebagai pengontrol otomatis yang terprogram berbasis digital komputer.

PLC yang merupakan generasi kedua sinyal elektrik, menurut Agung, proses rekayasanya masih menggunakan modul impor. Jadi, yang dikembangkan adalah sistem integrasi dan bahasa pemrogramannya.

Meski begitu, tim perekayasa di Konsorsium Persinyalan berhasil melakukan loncatan dengan menguasai teknologi CBI, yang merupakan generasi ketiga. Penguasaannya meliputi pembuatan desain komponen, modul, peranti lunak, hingga rancang bangun CBI. Sistem persinyalan ini meliputi enam rak setinggi 3 meter dan lebar 80 sentimeter. Di dalamnya terdiri dari modul-modul untuk pengaturan daya, transfer keluar-masuk data atau sinyal, serta modul antarmuka.

Sistem CBI


Sistem CBI terdiri dari peralatan yang dipasang di sekitar rel, antara lain point machine yang akan menggerakkan westle atau perpindahan jalur kereta api secara otomatis. Komponen CBI yang terbangun sekitar 70 persen merupakan produk dalam negeri.

Pengembangan desain dan rekayasa CBI dapat menghemat sekitar 30 persen biaya konstruksi interlocking dibandingkan teknologi sebelumnya. Total daya yang dikeluarkan untuk membangun sistem ini sekitar Rp 70 miliar.

Menurut Direktur Jenderal Perkeretaapian Tunjung Indrawan, CBI mulai dikembangkan pada 2009. Selama ini CBI diuji coba untuk menguji keandalannya. Uji perdana CBI dilakukan di Stasiun Gumilir Cilacap, Desember lalu.

Penerapan lebih lanjut dilakukan di Stasiun KA Cikampek, Cirebon, dan Maos. Percobaan di empat stasiun itu dengan pertimbangan memiliki frekuensi lalu lintas tinggi dan percabangan jalur kereta lebih dari dua.

Pada masa mendatang, menurut Erry, CBI memiliki pangsa pasar luas. Akan ada sekitar 300 stasiun sinyal mekanik yang akan diganti dengan sistem otomatis.

Selain itu, untuk meningkatkan mobilitas massal, pemerintah berencana menghidupkan jalur kereta api yang mati dan menambah jalur baru, termasuk untuk moda MRT guna angkutan ke bandara, jalur pintas, depo, dan pengangkutan batubara. Direncanakan pula pembukaan jaringan kereta api di pulau lain, yaitu trans-Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Sumber : Kompas, 16 Januari 2013