Showing posts with label its. Show all posts
Showing posts with label its. Show all posts

Saturday, April 6, 2013

ITS "panen" pesanan kapal

Kapal Timaran yang sistem dan prosedur bakunya akan diuji secara laboratoris oleh ITS untuk mencegah kebakaran dalam kelanjutan program. Anggota konsorsium kapal perang ITS, Dr Subchan mengatakan, "Program itu harus terus dilanjutkan, apalagi teknologi yang dimiliki KRI Klewang itu hanya dimiliki oleh 3-4 negara saja di dunia." SOP penting sejak dari tahap desain, pemilihan material, pengerjaan, hingga uji coba kapal secara laboratoris..Kebakaran Klewang beberapa waktu yang lalu menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa material kapal harus diuji dulu di laboratorium sebelum dibuat permanen.   

ITS "panen" pesanan kapal

Minggu, 19 Februari 2012 07:20 WIB | 4953 Views


Ilustrasi (ANTARA/Feri)
Surabaya (ANTARA News) - ITS yang dikenal sebagai universitas teknologi dengan keahlian teknologi perkapalan, energi, dan kelautan kini "panen" pesanan kapal dari berbagai kalangan, di antaranya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), dan bahkan sejumlah kalangan asing.

"PGN memesan kapal untuk mendukung `Floating Storage and Regasification Unit (FSRU)` PGN dan ITS terlibat mulai tahap perancangan hingga mengawasi pembangunan kapal-kapal pendukung FSRU itu," kata Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Prof Eko Budi Djatmiko, di Surabaya, Minggu.

Pesanan itu sendiri merupakan salah satu bagian dari serangkaian kerja sama yang tertuang dalam "Memorandum of Understanding" (MoU) PGN-ITS yang meliputi bidang jasa konsultasi, pendidikan, penelitian dan pengembangan rancang bangun dan rekayasa.

"Jadi, PGN akan melibatkan ITS dalam mendukung distribusi dan transportasi gas domestik. Itu penting bagi ITS guna mendukung strategi ITS untuk meraih `international recognition` di bidang kelautan dan perkapalan," katanya.

Saat ini, katanya, PGN sendiri telah mengoperasikan FSRU di Sumatera Utara, Labuhan Maringgai, dan Belawan, namun pemerintah juga menuntut PGN untuk mengembangkan fasilitas LNG dan memperbanyak unit FSRU.

Oleh karena itu, PGN memesan kapal kepada ITS, karena FSRU itu memerlukan kapal-kapal pendukung dalam operasionalnya, seperti "tug boat", "crew boat", dan "mooring boat".

"PGN yang diwakili Direktur Teknologi dan Pengembangan, Jobi Trinanda Hasjim, telah menandatangani kerja sama PGN-ITS itu pada 17 Februari lalu. Kerja sama untuk kurun waktu 36 bulan itu akan menjadi langkah awal yang baik untuk PGN dan ITS," katanya.

Tidak hanya itu, Pembantu Rektor IV ITS Surabaya Prof Dr Darminto MSc menyatakan Kemenristek juga memesan desain kapal patroli rudal kepada ITS.

"Ada 16 konsorsium yang terlibat dalam proyek kapal patroli rudal itu dan ITS diminta untuk membantu dalam desain atau perancangan, tapi ITS juga diminta untuk mengawasi sampai kapal itu benar-benar terwujud," katanya.

Ia menilai kepercayaan pemerintah itu menunjukkan adanya pengakuan atas kemampuan bangsa sendiri dalam merancang dan memproduksi kapal sesuai kebutuhan.

"Itu bagus, karena Indonesia merupakan kawasan bahari dengan 2/3 merupakan kawasan laut, sehingga orientasi ke laut itu penting, terutama kapal-kapal sederhana untuk mewujudkan `connecting` antar-pulau," katanya.

Apalagi, tenaga ahli lokal cukup tersedia di ITS, termasuk tenaga ahli yang berstandar RINA, bukannya justru membayar tenaga ahli asing dengan biaya mahal.

Hal itu dibenarkan seorang ahli perkapalan dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) ketika dikonfirmasi ANTARA tentang keahlian lokal dalam bidang pembuatan kapal, baik kapal sederhana maupun kapal besar.

"Kalangan asing saja pesan kapal kepada kami, kok. Tapi, pesanan itu lucu, karena pesanan itu berasal dari institusi di Indonesia, lalu mereka (asing) memberikan proyek itu kepada PPNS dan hasilnya dijual lagi kepada institusi dari Indonesia yang memesannya itu," katanya, enggan disebut namanya.

Ia menambahkan PPNS justru mendidik mahasiswa untuk menjadi tenaga ahli, karena itu PPNS yang setiap tahunnya menerima pesanan 6-7 kapal antar-pulau dari sejumlah pemerintah daerah itu selalu menyerahkan proses pengerjaannya kepada para mahasiswa dengan bimbingan dosen. (ANT)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012

Sunday, March 10, 2013

Indonesia (Kadin) Akan buat Tablet Sendiri




Menkominfo dukung Kadin buat tablet 

Jumat, 8 Maret 2013 21:58 WIB | 2675 Views

MenkoInfo Tifatul Sembiring (Antara)
Surabaya (ANTARA News) - Menkominfo Tifatul Sembiring mendukung rencana pengurus Kadin memproduksi perangkat tablet yang akan dipasarkan kepada masyarakat pada tahun ini dengan harga Rp 600 ribu.

"Kadin merencanakan produksi massal mulai tahun ini, tapi produksi awal mungkin 50.000 unit dulu," katanya dalam kuliah umum di Graha ITS Surabaya, Jumat.

Di hadapan ribuan mahasiswa ITS yang memadati gedung berkapasitas 3.000-an itu, ia menegaskan bahwa pihaknya mendukung gagasan Kadin dengan membeli sejumlah tablet untuk diberikan kepada mahasiswa.

"Kami akan berikan beberapa kepada mahasiswa secara gratis. Selain itu, kami juga akan membantu Kadin dengan mencarikan pasar ke negara lain," katanya.

Menurut dia, masyarakat dapat memanfaatkan tablet buatan Indonesia yang relatif murah itu untuk berbagai kepentingan, di antaranya e-health, e-learning, e-governmet, dan e-commerce.

"Dengan merancang aplikasi yang sesuai kebutuhan orang Indonesia, maka kita akan dapat merebut pasar IT, sehingga pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat, sebab IT berperan 11 persen lebih dalam perekonomian," katanya.

Dalam sesi dialog, politisi PKS itu sempat ditanya upaya pemerintah dalam menangkal dampak negatif IT, seperti halnya "toko online" yang dimanfaatkan untuk menjual bayi, masjid, dan sebagainya.

"Kami sudah menyiapkan UU ITE untuk mencegahnya, tapi kami tidak bisa bekerja sendirian, karena itu kami berharap masyarakat untuk melapor kepada kami lewat lamanwww.aduankonten.co.id," katanya.

Ia menjelaskan UU ITE sudah mengatur enam dampak negatif IT yakni kekerasan, pornografi, ancaman/teror, penghinaan bernuansa SARA, judi online, dan pencemaran nama baik.

"Tapi, kami tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan masyarakat dalam bentuk laporan, karena kami tidak mungkin memelototi internet terus menerus. Saat ini, kami menerima satu juta laporan," katanya.

Menyikapi laporan masyarakat itu, ia menempuh dua langkah yakni melakukan blokir untuk jaringan internet dari luar negeri dan meminta bantuan polisi menindak secara hukum untuk jaringan internet dari dalam negeri.

"Jadi, laporkan saja. Tapi, bagi mahasiswa, tentu internet sebaiknya dimanfaatkan untuk menciptakan software, animasi, dan peluang bisnis lainnya," katanya.

Dalam kesempatan itu, Menkominfo menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan empat PTN yakni ITS, Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dan Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar.

Penandatangan MoU ini terkait kerja sama pendidikan, penelitian, dan pengembangan di bidang komunikasi dan informasi. Beberapa kerja sama yang dilakukan meliputi pertukaran tenaga ahli, pendidikan dan pelatihan, serta pertukaran informasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

MoU yang berlaku selama tiga tahun itu ditandatangani Rektor ITS, Pembantu Rektor IV UNS Dr Widodo Muktiyo SE M Kom, Rektor USU Prof Syahril Pasaribu dan Wakil Rektor I Unhas Prof Dr Eng Dadang Ahmad Suriamiharja MEng.

(*)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2013