Thursday, October 10, 2013

TNI Sebut Amerika Pelit Teknologi


Jakarta - Pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem senjata atau Alutsista menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Perancis, dan Korea Selatan. Masing-masing negara produsen tersebut mempunyai keunggulan teknologi tersendiri. 

Dari kerja sama itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar mengungkapkan ada strategi tersendiri dari pemerintah Indonesia. 

Sisriadi menegaskan pemerintah tidak terikat pada negara tertentu karena Indonesia punya pengalaman embargo tahun 1990-an hingga 2000-an oleh Amerika. Indonesia punya pesawat tapi tidak dapat terbang karena suku cadangnya tak bisa dibelikan. 

"Karena pengalaman itu makanya kita jadi beli di mana-mana, jadi diembargo di sini kita masih bisa beli di sana,” ujar dia kepada detikcom, kemarin. Selain itu, pemerintah juga tak mau membeli alutsista dari satu sumber karena alasan teknologi. “Amerika itu pelit enggak mau kalau sekalian sama teknologinya,” kata Sisriadi.



Persoalan transfer teknologi memang jadi perhatian tersendiri. Untuk mengoperasikan alat-alat super canggih itu diperlukan keterampilan sumber daya manusia yang tinggi. 

Sesuai Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, dalam setiap pembelian sistem senjata dari luar negeri wajib ada konten lokal. Bentuknya antara lain pelatihan, kerja sama pembuatan, dan kerja sama operasi.

Sisriadi berujar, kerja sama PT Dirgantara Indonesia dengan Kanada adalah salah satu bentuk kerja sama dan transfer teknologi tersebut. Sementara dari produsen lain, pembelian senjata juga umumnya sepaket dengan training.

"Setiap kontrak ada klausul bahwa operator akan dilatih di negara itu. Dan yang kita kirim adalah tenaga-tenaga intinya, jadi nanti dia pulang akan menyebarkan ilmu,” jelasnya. Dia optimistis kemampuan prajurit Tanah Air bisa mengimbangi kecanggihan teknologi alutsista yang baru. 

Anggota Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati atau Nuning mengatakan sudah seharusnya industri pertahanan dalam negeri diberi kesempatan besar untuk pembuatan alutsista TNI. 

"Ini untuk menyesuaikan kebutuhan teritorial wilayah negara dan sistem kemandirian dalam kemampuan yang bisa terus berkembang," ujar politikus Partai Hanura ini kepada detikcom, kemarin.







Satu Peluru Senjata TNI AD Ini Bisa Menghancurkan Senayan



Jakarta - Kehadiran empat unit kendaraan tempur Main Battle Tank Leopard di lapangan Monumen Nasional pekan lalu paling memantik perhatian pengunjung. Pengunjung pameran alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia berebut untuk berpose di samping tank buatan Jerman tersebut. 

MBT Leopard adalah salah satu alutsista yang didatangkan untuk melengkapi senjata tempur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Nantinya sampai tahun 2015, total tank Leopard yang akan didatangkan adalah 169 unit. 

Terdiri dari 119 tank canon untuk tempur dan 50 tank angkut yang membawa jembatan, tank perlengkapan, dan tank ambulan. 

Tank Leopard senegaja didatangkan untuk memberikan efek deteren. “Ketika kita diskusi tentang pertempuran dan mengatakan MBT, orang sudah mikir. Dalam pertempuran darat, tank masih lawan tank,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar kepada detikcom, Selasa (8/10) lalu. 



Selain tank, senjata TNI AD lainnya adalah 38 unit roket multi laras buatan Brasil. Barang yang baru mulai datang tahun depan ini, menurut Sisriadi, adalah yang terbaik di kelasnya. Menurut Sisriadi di beberapa medan pertempuran di Timur Tengah, roket ini paling ditakuti. Termasuk oleh orang NATO.

“(Roket ini) daya hancurnya luar biasa. Satu peluru bisa menghancurkan Senayan dan menembus baja 90 sentimeter,” kata dia.

Alutsista untuk TNI AD lainnya adalah meriam kaliber 155, buatan Prancis. Alat ini menurut Sisriadi termasuk senjata canggih. Senjata ini sudah menggunakan digital dan sound ranging radar untuk mengukur dan melacak meriam musuh. Jarak tembaknya pun bisa mencapai 40-50 kilometer

“Begitu musuh menembak kami tahu langsung musuhnya di mana. Kami tembak dan langsung kena musuh, setelah itu kami bisa langsung geser. Kalau manual mungkin bongkar pasang dulu dan baru jalan lagi, itu butuh 3 menit kalau prajuritnya jago-jago, jika tidak butuh enam menit, peluru musuh udah nyampe duluan,” papar Sisriadi.

Ada juga satu skuadron (12 unit) helikopter serang dan helikopter serbu buatan Eurocopter dari Eropa. Kementerian Pertahanan juga menjajaki untuk membeli 6 atau 8 unit Helikopter Apache buatan Amerika. 

Helikopter tersebut akan digunakan untuk misi-misi tembakan, misalnya saat ada pertempuran darat maka helikopter akan digunakan untuk menyerang dari udara. Sementara Helikopter Serbu yang akan didatangkan yakni 16 unit Bell 412. (Detik.com)




Wednesday, October 9, 2013

Indonesia Cinta Damai, Tapi Alutsista Wajib Dimodernisasi


Indonesia Cinta Damai, Tapi Alutsista Wajib Dimodernisasi

Anggi Oktarinda
130614_sby-1.jpgBISNIS.COM, JAKARTA--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) sangat diperlukan untuk mendukung kedaulatan RI. 
"Benar Indonesia cinta damai, tetapi kedaulatan tidak akan pernah bisa ditawar," ujar SBY sebagaimana dikutip dari laman resmi Kepresidenan RI, Selasa (2/7/2013).
SBY menuturkan dalam 5 tahun terakhir pemerintah membangun kekuatan dan modernisasi alutsista untuk kepentingan pertahanan dan keamanan secara signifikan.
Dia menyebutkan di tengah pertumbuhan ekonomi negeri ini, peningkatan alokasi anggaran untuk mondernisasi alutsista menjadi hal yang memungkinkan.
Di sisi lain, pemerintah juga membangun postur militer dan kepolisian untuk meningkatkan kemampuan dalam melindungi perbatasan serta menghadapi ancaman kejahatan transnasional. 
"Melalui modernisasi alutsista, kita juga menjadi lebih siap baik dalam menjalani operasi militer selain perang, maupun untuk melakukan berbagai operasi pertahanan dan keamanan," ujar SBY.
Menurut dia, kejahatan yang harus dituntaskan di era globalisasi pada saat ini bukan hanya kejahatan tradisional yang terjadi di dalam negeri, tetapi juga kejahatan transnasional serta berteknologi canggih. 
"Bentuk perilaku dan alat kejahatan telah semakin beragam dan canggih, karena itu Polri harus mengungguli kemampuan para pelaku kejahatan dan mampu menaklukan kecanggihan peralatannya," katanya. (Bisnis.com)




Monday, October 7, 2013

Ekspor amunisi senjata Pindad sampai ke negeri adidaya Amerika


PT Pindad adalah salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang produknya sampai di jual ke Amerika Serikat. Pindad pernah mengekspor amunisi kaliber kecil yaitu 5,56 mm ke negeri Paman Sam tersebut.
Marketing Manajer PT Pindad, Sena Maulana, mengatakan selain ekspor ke Amerika pihaknya juga telah mengekspor amunisi ke Singapura dan Thailand.
"Amunisi kita ekspor itu kaliber 5,56 mm ke Singapura sama Thailand dan ini terus-terusan. Tahun 2000 kita pernah ekspor ke Amerika," katanya ketika ditemui di Monas, Jakarta, Jumat (4/10).
Untuk penjualan ke luar negeri, Pindad mempunyai agensi sendiri yang mengurusi penjualan. Nilai ekspor amunisi juga disebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun demikian, Sena tidak menyebut berapa nilai pasti ekspornya.
"Singapura yang cukup canggih saja memesan. Amerika yang mempunyai kemampuan militer sangat baik pernah mesan juga dan terakhir Laos," katanya.
Selain itu, pada tahun 2000, Pindad juga pernah mengekspor amunisi ke Nigeria. "Nilai secara signifikan dari 2010 ke 2011 ada peningkatan. 2011-2012 cenderung stabil karena menuhi dalam negeri dulu. Tahun 2013 dibandingkan 2012 ada peningkat. Angkanya saya tidak apal," tutupnya. (Merdeka.com)




Pindad jajal Panser Anoa Amfibi tahun depan


PT Pindad bakal menjajal Panser Anoa Amfibius pada tahun depan. BUMN produsen senjata dan alat tempur itu tengah mengembangkan Anoa dengan berbagai varian.
"Kendaraan tempur Itu Anoa Amfibius, bisa di darat bisa berenang juga. Ada senjatanya juga, ada recovery, ada logistik," kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Pindad, Wahyu Utomo, saat ditemui di Monumen Nasional, Jakarta, Jumat (4/10).
Menurut Wahyu, produk baru Pindad itu bakal menguatkan pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Anoa Amfibius tahun depan akan kita coba," katanya.
Marketing Manajer PT Pindad Sena Maulana menambahkan, pihaknya masih terus mengupayakan agar Anoa Amfibius bisa bergerak di laut. "Kita harus bisa menggerakkannya di laut karena gelombangnya beda. Produk ini baru akan di uji coba dulu," sebutnya.
Dalam mengembangkan Anoa ini, Pindad bekerjasama dengan Italia. Kabarnya, panser berbobot 12 ton ini mampu melaju hingga 90 kilometer per jam.
Kabarnya lagi, Anoa sudah dipesan oleh sejumlah negara. Diantaranya, Malaysia, Timor Lestr, Nepal, dan Afrika Selatan.
(merdeka.com) 




Pindad produksi roket pertama yang dikendalikan GPS


PT Pindad tengah mengembangkan roket balistik pertama buatan Indonesia bernama Rhan 122. Roket ini bisa menembak dengan jarak 15 kilometer (Km) dan dikendalikan dengan GPS. Pada proyek ini Pindad tergabung bersama PT Dirgantara Indonesia, Dahana, Ristek dan BPPT dalam sebuah konsorsium.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Pindad, Wahyu Utomo, mengatakan roket balistik ini pernah di uji coba di Baturaja, Sumatera Selatan serta di Garut Selatan.
"Roket kita masih konsorsium, sudah di uji coba karena kita butuh lahan tembak," ucap Wahyu ketika ditemui di Monas, Jakarta, Jumat (4/10).
Pembuatan roket masih dalam tahap penyempurnaan dan mendapatkan tabel tembak. Tabel tembak baru bisa didapat jika sudah dilakukan pengujian beberapa kali dan tembakannya akurat.
"Tabel tembak, kita harus nembakin berapa ratus kali dan sekian kali. Kalau itu akurat baru dibuat tabel tembak. Nama roketnya Rhan 122," katanya.
Roket ini nantinya akan dipakai oleh TNI. Pasalnya, selama ini TNI masih memakai produk impor. Menurut Wahyu ini adalah roket balistik pertama untuk industri pertahanan.
"Sekarang ini akan diuji dulu. Ini roket balistik pertama untuk pertahanan. Ini nanti bisa kendalikan GPS di sirip siripnya kita kendalikan. Nanti ada GPS segala macam dan ini generasi pertama," jelasnya.
Roket ini ditargetkan bisa digunakan pada tahun 2015 mendatang. "Tergantung pemerintah tabel tembak selama 2 tahun lagi lah," tutupnya. (Merdeka.com)





Tuesday, October 1, 2013

Beli Pesawat PT DI, Garuda Tunggu 2 Tahun Lagi


JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) sejatinya telah bekerjasama dengan NAC dan ATR dalam pengadaan pesawat turboprop ATR72-600 sebanyak 35 pesawat. Di mana, 25 pesawat terdiri dari pesawat firm order dan 10 persawat berupaoption, yang melayani penerbangan jarak dekat.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan, kerjasama ini merupakan jalan keluar yang terbaik dengan tidak membeli langsung pesawat untuk menghemat cadangan devisa negara.

"Dulu kita maunya beli, saya bilang nggak mau, karena negara lagi mau menghemat devisa. Tetapi kemudian, ketemu jalan keluar tidak beli tetapi sewa dari NAC tadi. Negara tidak terganggu dan Garuda juga tidak terganggu," jelas dia, Kamis (1/10/2013).

Akan tetapi, dia menuturkan jikalau perjanjian kerjasama dalam bentuk penyewaan ini dibatalkan, maka tidak sama sekali mengganggu negara, akan tetapi mengganggu kinerja Garuda Indonesia.

"Jika dibatalkan sama sekali, negara terbantu dari penghematan negara tetapi Garuda terganggu karena program kinerjanya tidak jadi bahkan tidak ketinggalan dari penerbangan lain. Dengan skema ini itu ada jalan keluar, Garuda tidak terganggu. Dampak negatifnya nggak ada," tambahnya.

Akan tetapi, Mantan Dirut PLN ini mengakui bahwa jangka panjang ke depannya akan bersinergi dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) mengenai pesawat ATR72-600. Dirinya juga telah mengkomunikasikan kepada Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar.

"Tentu kita mau dari PT DI, tetapi keperluannya sekarang. Kalau dibuat di PT DI harus tunggu dua tahun lagi. Saya sudah sarankan ke Pak Emirsyah untuk jangka panjang dan menengah. Lion sudah melakukan lebih kecil. Tiga tahun ke depan," tukas dia. (wdi)



RI-Australia: Sikap Tegas SBY Menuai Pujian


Bisnis.com, JAKARTA - Sikap tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap PM Australia Tony Abbott terkait masalah pengungsi pencari suaka ke Australia yang melintasi perairan Indonesia, menuai pujian.
"Presiden SBY mampu mempertahankan kedaulatan Indonesia dari program PM Tony Abbott yang unilateral dan tidak bersahabat terkait pencari suaka dan pengungsi," kata Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana.
Dia menanggapi hasil pernyataan pers bersama seusai pertemuan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Australia Tony Abbott di Istana Presiden Senin sore (30/9/2013).
Menurut Hikmahanto, Tony Abbott bahkan menghindarkan diri untuk berbicara kemungkinan Indonesia bekerjasama menjalankan programnya.
Dalam pembicaraan kedua kepala pemerintahan itu, katanya, Presiden SBY tidak mau melayani keinginan Abbott.
"Dalam konperensi pers, Presiden SBY mengatakan Indonesia dan Australia sama-sama menjadi korban atas masalah pencari suaka dan pengungsi, ingin menggaribawahi tidak hanya Australia yang menjadi korban," katanya.
Para politisi Australaia, termasuk Abbott, paparnya, kerap menganggap masalah pencari suaka dan pengungsi telah menjadikan Australia sebagai korban karena ketidaktegasan pemerintah Indonesia terhadap para pencari suaka dan pengungsi, bahkan seolah ada pembiaran imigran gelap untuk masuk Australia.
"Pandangan seperti itulah yang mampu dipatahkan oleh Presiden SBY".
Namun demikian, menurut dia, komentar Abbott yang mengatakan bahwa masalah pencari suaka dan pengungsi akan diselesaikan pada tingkat menteri atau pejabat setingkat, perlu diwaspadai.
"Para menteri dan pejabat Indonesia harus bersikap seperti Menlu Marty Natalegawa ketika bertemu dengan Menlu Australia Julia Bishop yakni tegas menolak apapun program yang disampaikan oleh pihak Australia yang bersifat unilateral, bahkan berpotensi menganggu kedaulatan Indonesia," katanya.
Ia mengingatkan sikap Presiden SBY telah mampu membentengi NKRI dari program Abbott, harus terus dipertahankan dan diperkuat agar tidak mudah digoyahkan Australia.(antara/yus)
Sumber : Newswire
Editor : Yusran Yunus
>


Monday, September 30, 2013

Korsel Sarankan RI Perkuat Industri Galangan Kapal


Pemerintah Korea Selatan memberikan saran kepada pemerintah Indonesia untuk memperkuat industri perkapalan, dengan menambah galangan kapal. Potensi Indonesia di industri perkapalan sangat besar, karena Indonesia merupakan negara kepulauan.

Usai menerima Menteri Perdagangan Korea Selatan (Korsel), Yosang Jick, Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengatakan pemerintah Korsel memberikan saran jika industri perkapalan Indonesia ingin cepat berkembang, maka harus ada yang bertanggungjawab untuk mengembangkan industri galangan kapal.

"Mereka kasih saran, kalau mau cepat sukses, lebih baik industri perkapalan itu ada satu perusahaan besar milik pemerintah maupun swasta yang nanti ditugasi secara penuh untuk membangun industri itu," kata Hidayat, Jumat (18/4/2013).

Dalam pertemuan yang membahas Comprehensive Economic Parternship Agreement (CEPA) dengan Korsel siang hari ini di kantor Kementerian Perindustrian, Hidayat juga menyampaikan kepada Jick, bahwa Indonesia banyak bekerjasama dengan Korsel di industri perkapalan. Bahkan baru-baru ini Indonesia memesan kapal selam dari negeri ginseng tersebut.

"Baru saja kita mengorder 3 kapal selam dari Korsel," imbuhnya.

Sebagai informasi, pemerintah mentargetkan dengan adanya CEPA, investasi masuk dari Korsel mencapai Rp 50 miliar. Salah satu industri yang hendak dikembangkan adalah industri perkapalan. Hidayat mengatakan investasi untuk industri galangan kapal akan diberikan di tiga lokasi incharge.

"Kita bikin cluster, di Lamongan, dan di P.Batam, selain di Jakarta," pungkasnya. (Est/Ndw)

http://m.liputan6.com/bisnis/read/565892/korsel-sarankan-ri-perkuat-industri-galangan-kapal




Tank Baru Leopard Tampil Di HUT TNI


JAKARTA - Tank kelas berat baru milik TNI AD hingga kini masih disembunyikan. Main battle tank (MBT) yang diberi nama oleh pabrikannya Leopard tipe 2A4 itu dibeli dari Jerman untuk memperkuat TNI AD. Saat ini, baru dua buah MBT Leopard dan dua tank pengangkut personel Marder yang tiba di Jakarta.
    
"Sekarang masih dicat, istilahnya di camo (camuflase), disiapkan untuk defile hari ulang tahun TNI 5 Oktober nanti," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Rukman Ahmad di Jakarta kemarin (29/09). MBT Leopard adalah tank kelas berat pertama yang dimiliki Indonesia.
    
Menurut Rukman, pengelolaan tank seberat 62 ton itu diatur oleh Pusat Persenjataan Kavaleri (Pusenkav) Kodiklat TNI Angkatan Darat. "Pasti akan ditampilkan, nanti juga secara statis dipamerkan di Monas," ujarnya.
    
Pembelian Leopard 2A4 sudah menjadi perdebatan berbulan-bulan sebelumnya. Pihak yang tidak setuju berpendapat, tank Leopard tidak cocok dengan karakter medan peperangan Indonesia yang hutan tropis dan berbukit-bukit. Ditambah lagi, jalan dalam kota kota di Indonesia tidak cocok dengan beban berat tank itu.  
    
Sebaliknya, mereka yang setuju optimistis tank leopard mampu memberi efek gentar bagi negara-negara tetangga. Tercatat, baru ada dua negara di ASEAN yang menggunakan MBT Leopard, yakni Singapura dan Indonesia. Negeri Singa memiliki 96 tank jenis ini.
    
Rukman menjelaskan, tank Leopard akan diperkenalkan secara total ke masyarakat. "Termasuk kemampuan-kemampuan manuvernya, " ujar alumni Naval War College Amerika Serikat itu.
      
Saat ini, awak tank atau personel crew Pusenkav Kodiklat TNI AD sedang berlatih di Bandung, Jawa Barat. "Masyarakat kami undang untuk nonton langsung secara terbuka dan gratis," katanya. (rdl) 

http://m.jpnn.com/news.php?id=193363



Sunday, September 29, 2013

Pesawat Buatan Perusahaan Habibie Mulai Dipesan


Jakarta - NAM Air, maskapai anak usaha Sriwijaya Air mulai beroperasi pada Oktober 2013. Menurut Presiden Direktur NAM Air, Jefferson Jauwena, maskapainya akan menggunakan pesawat domestik buatan PT Regio Aviasi Industri (RAI). 

"Kami akan membeli 100 pesawat dari RAI untuk memenuhi rute penerbangan yang tersedia," kata dia di Gedung Djakarta Theater, Kamis 26 September 2013. Seluruh pesawat yang dipesan akan selesai pada 2018. 

Menurut Jefferson, NAM Air memesan 100 pesawat baling-baling Regio Prop 80 (R80). Pesawat ini akan melayani rute pelosok dengan landasan pendek, 1.200 meter. Produksi pesawat bermuatan 80 penumpang tersebut masih dalam tahap pre-eliminary design. "Soal harga juga akan dibicarakan nanti," ujarnya.
PEsawat Sriwijaya Air. TEMPO/Subekti

Meski R80 dibuat di dalam negeri, Jefferson tidak meragukan kualitasnya. Dia bercermin pada pesawat N-250 yang dibuat PT Dirgantara Indonesia satu dekade lalu, yang terbukti berkualitas baik. 

RAI adalah perusahaan yang didirikan arsitek industri penerbangan Indonesia, BJ Habibie. ""Ini menjadi bentuk dukungan kami terhadap produk dalam negeri."

Namun pada tahap awal NAM Air akan menggunakan pesawat Boeing 737-500. Menurut Jefferson, NAM Air sudah memiliki lima unit pesawat tersebut dan akan dioperasikan di tahap awal. Kini maskapai tersebut tengah menunggu penerbitan Air Operation Certificate (AOC). "Kami sudah melampaui dua dari lima tahap untuk memperoleh AOC," katanya. (Tempo.co)


NINIS CHAIRUNNISA




Saturday, September 28, 2013

Indonesia Bangun Infrastruktur Pembuatan Kapal Selam


[JAKARTA]Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantoro, menyatakan, Indonesia segera membangun infrastruktur pembuatan kapal selam di Surabaya melalui PT PAL.

"Rencananya infrastruktur pembuatan kapal selam akan dibuat di Surabaya melalui PT PAL. Karena itu, dibutuhkan infrastruktur untuk pembangunan kapal selam," kata Menhan sekaligus Ketua KKIP usai Sidang ke sembilan KKIP "Membangun Sinergitas Menuju Kemandirian Industri Pertahanan", di Kantor Kemhan, Jakarta, Selasa (11/6).

Paling lambat, dalam dua tahun ke depan, diharapkan Indonesia sudah memiliki infrastruktur industri pembuatan kapal selam, katanya.

Dijelaskannya, dalam sidang ke sembilan KKIP juga dibahas mengenai dijadikannya pembangunan infrastruktur kapal selam dan jet tempur sebagai proyek nasional.

Oleh karena itu, agar tidak menemui hambatan, payung hukum sangat diperlukan agar rencana pembangunan infrastruktur kapal selam dan pesawat jet tempur tetap berjalan pada lintas parlemen.

"Butuh dukungan parlemen karena program ini pasti akan melalui lintas parlemen. Dibutuhkan payung hukum agar menjadi proyek nasional," ucap Purnomo.

Dijelaskannya, sebagai negara kepulauan keberadaan kapal selam dan pesawat jet tempur sangat diperlukan untuk menjaga kepulauan indonesia hingga batas luar. Jika infrastruktur ada, pembuatan kapal selam bisa dilakukan di Indonesia.

Untuk membangun infrastruktur pembuatan kapal selam, Indonesia akan bekerjasama secara khusus dengan Korea Selatan. Kerjasama kedua negara akan dilakukan mulai dari kesepakatan lisensi, enginering manufacturing development, hingga prototipe.

Dalam pembuatan KFX/IFX bersama Korsel, kata dia, tahap yang sudah selesai dilaksanakan mencakup tahap teknologi desain. Dua tahun ke depan, ditargetkan akan mencapai tahap 'enginering manufacturing development' dan prototipe.

"Dari sisi teknis, kita juga sudah kirim 52 ahli untuk belajar teknologi design," ucap Purnomo.

Menhan menambahkan, pada tahun 2012 KKIP juga telah menghasilkan sejumlah produk kebijakan. Dalam hal penyusunan regulasi, diantaranya disahkannya UU No 16 tahun 2012 tentang industri pertahanan.

Sidang KKIP ke sembilan dipimpin langsung Menhan Purnomo Yusgiantoro selaku Ketua Harian KKIP, didampingi Wamenhan Sjafrie Syamsoeddin sebagai Sekretaris.

Dalam pembahasan tersebut juga dihadiri Ses Menristek, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Deputi II Kementerian BUMN, Kasum TNI dan Asrena Kapolri.

Sebelumnya, Pembangunan pabrik modern untuk pembuatan kapal selam TNI Angkatan Laut di Indonesia ditargetkan dapat direalisasikan pada tahun 2016 atau 2017 mendatang karena kapal selam pertama yang dibuat oleh Korea Selatan baru selesai pada tahun 2014.

"Pembangunan pabrik semua tergantung komitmen pemerintah. Pemerintah mutlak menyokong pendanaanya. Tanpa itu saya kira sangat sulit pembangunan kapal selam bisa direalisasikan di Indonesia," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati, Rabu (10/4).

Ia berharap sudah ada perencanaan dari sekarang agar pada waktunya nanti pengerjaan kapal selam ketiga itu lancar tanpa kendala.

"Keberadaan pabrik modern untuk membuat kapal selam menjadi kendala serius kita saat ini," kata Untung.

Pembangunan pabrik modern ini, katanya, bukan persoalan sederhana karena selain membutuhkan banyak sumber daya manusia yang handal, pemerintah pun harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, ia berharap sumber daya manusia yang sudah dikirim ke Korea benar-benar menyerap ilmu secara komprehensif.

"Ketika secara keilmuan sudah memenuhi syarat, baru kemudian pemerintah mempersiapkan pabriknya," katanya.

Indonesia sudah sepakat melakukan transfer teknologi kapal selam dengan Korea Selatan, dimana akan dibuat tiga unit kapal selam. Untuk kapal selam pertama, pihak Indonesia hanya memantau pengerjaannya di Korea Selatan.

Selanjutnya, kata dia, pada pembuatan kapal kedua, teknisi di Indonesia dilibatkan dalam membuat kapal selam. Namun, pembuatannya tetap dilakukan di Korea Selatan.

Sementara untuk kapal selam ketiga, Indonesia akan membuat sendiri kapal itu di galangan kapal PT PAL. "Pada tahap inilah Indonesia harus mempersiapkan peralatannya. Termasuk membuat pabrik baru untuk mendukung pembangunannya," jelas Untung.

Ia juga memastikan Pangkalan Kapal Selam yang disiapkan di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, bisa diresmikan pada akhir tahun ini.

Pangkalan seluas 13 hektar inilah yang nantinya digunakan untuk menyimpan semua kapal selam yang dimiliki Indonesia, termasuk untuk menyimpan kapal selam baru yang saat ini dibuat di Korea Selatan. [Ant/L-8]
(Suarapembaruan)



Alat Anti Sadap Baru TNI Dicurigai


JAKARTA---Badan Intelijen Strategis TNI membeli peralatan anti sadap dari Gamma Tse Ltd Inggris. Sejumlah kalangan menilai pembelian itu bisa membahayakan kebebasan masyarakat sipil.
"Siapa yang bisa menjamin alat itu tidak digunakan untuk memata-matai bangsa sendiri," ujar koordinator Kontras Haris Azhar di Jakarta, Jumat (27/09).   
Pemerintah Inggris dengan mudah mengucurkan bantuan kepada Indonesia untuk membeli peralatan intelijen yang harganya sekitar Rp70 miliar itu. Padahal, Inggris termasuk negara anggota dalam perjanjian internasional tentang penjualan senjata.
"Negara anggota harus menghindari penjualan senjata kepada negara-negara yang memiliki reputasi penegakan dan pemenuhan HAM yang buruk," ujarnya.
Saat ini, kebebasan berpendapat dan berorganisasi sudah diatur dengan undang-undang. "Sudah bukan waktunya lagi diawasi dengan alat sadap," katanya.  
Staf biro monitoring dan dokumentasi Kontras, Adrian Budi Sentosa, menambahkan, pabrikan alat sadap itu, Gamma TSE Ltd, sudah tekenal di ranah internasional sebagai penyedia peralatan intelijen. "Alat sadap itu menggunakan teknologi FinFisher sehingga dapat meretas komunikasi yang dilakukan lewat internet atau telepon genggam,"katanya.
Dari data yang dirilis lembaga penelitian Universitas Toronto, Kanada, Adrian menguraikan di Indonesia terdeteksi ada lima server yang digunakan untuk mengoperasikan alat sadap itu.  "Jadi selama orang itu menggunakan jasa provider atau ISP yang memakai server atau FinFisher maka bisa disadap," urainya.
Peneliti Imparsial Erwin Maulana menambahkan, reputasi Gamma TSE Ltd tergolong buruk di komunitas masyarakat sipil internasional. Seperti rezim di Pakistan, Banglades dan Mesir, menggunakan alat intelijen buatan Gamma TSE Ltd untuk mengendalikan masyarakat sipil.
Untuk itu Erwin mengaku cemas jika alat sadap yang dibeli pemerintah itu digunakan oleh pihak tertentu untuk kepentingan politik. Apalagi, Erwin melihat alat sadap itu nantinya berada di bawah Badan Intelijen Strategis (BaIS) yang dikomandoi TNI. "Sampai saat ini, tidak ada mekanisme yang dipayungi undang-undang untuk mengawasi,"katanya. (rdl) (jppn)



Thursday, September 26, 2013

Menristek gunakan smartphone antisadap buatan LIPI

Smartphone merk IMO buatan PT Inti.

Padang - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta mengaku menggunakan smartphone atau telepon pintar merek BandrOS antisadap buatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"HP ini buatan Pusat Penelitian Informatika LIPI dengan spesifikasi antisadap, tapi saya tak pernah yang jahat-jahat. Saya tak mengatakan antisadap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," kata Menristek Gusti Muhammad Hatta saat memberi sambutan pada jamuan makan malam peserta Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional ke XV di Padang, Rabu malam.

Menristek mengakui sudah memakai telepon genggam produk dalam negeri itu sejak peringatan hari kebangkitan teknologi nasional pada Agustus lalu.

Smartphone BandrOS anti sadap baru digunakan beberapa menteri, rencananya produksi massal dimulai pada 2014. BandrOS sendiri diambil dari salah satu nama penganan khas daerah Jawa Barat khususnya Bandung berbahan kelapa, tapi singkatan dari Bandung Raya Operating System (BandrOS).

Vitur yang tersedia banyak, tapi bukan termasuk jenis android karena akan bisa disadap. BandrOS memiliki sistem sendiri yang dirancang oleh Pusat Penelitian Informatika LIPI.

"Anggota DPR juga sudah banyak yang pesan Smarphone BandrOS. Harganya jauh lebih murah sekitar Rp800 ribu, dibandingkan produk dari luar," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Menristek mengajak pemerintah daerah untuk terus memanfaatkan potensi daerah dan mendorong pengembangan teknologi tepat guna sehingga memberi nilai tambah. 

"Selama ini, kita hanya menjual produk bahan mentah ke luar negeri, setelah jadi kembali ke dalam negeri dengan harga mahal. Artinya kita hanya memperkerjakan orang saja," katanya.

Jadi, kenapa tidak mengolah sendiri dengan dilengkapi sentuhan teknologi, ujarnya.

Menristek menceritakan suatu pengalaman perjalanannya ke Thailand, menemukan tempat penjualan batu hias. "Ketika ditanyakan kepada pedagang di sana, di mana tempat membuatnya, rupanya bahan batunya dari Martapura, Kalimantan Selatan," ucapnya.

"Hasilnya batu hias cukup bagus dengan beragam warna, karena produk-produk di Thailand sudah mengembangkan sentuhan teknlogi," ujarnya.

Kemudian ada contoh lagi tentang teknologi tepat guna dalam pengembangan padi, produksinya bisa sampai 9 ton - 10 ton/hektare dan yang tidak menggunakan teknologi masih menghasilkan padi (gabah) hanya 5 ton - 6 ton/ha.

"Kita menyadari banyak temuan rakyat, tetapi belum diproduksi secara massal. Ke depan tentu dibutuhkan kebersamaan. Bagaimana untuk memperbagus kemasan produk yang dihasilkan masyarakat," katanya.

Dalam jamuan makan malam rombongan peserta TTG Nasional itu dihadiri sejumlah pejabat dari Kemendagri, sejumlah gubernur, wakil gubernur dan bupati/kota di Indonesia.

Rangkaian kegiatan TTG Nasional upacara pembukaan pada Kamis (26/9), dilanjutkan exhibition, pameran dagang, lokakarya, rapat koordinasi teknis (Rakornis) dan widyawisata teknologi ke lokasi TTG dan penutupan pada 30 September 2013.  (SA/T007)(Antara News)



F-16 Sukses Terbang Tanpa Pilot



NEWYORK--Pentagon berhasil meluncurkan pesawat jet tempur F-16 tak berawak. Pesawat ini hanya dikendalikan dua pilot Angkatan Udara AS dari darat.
Jet tempur jenis Lockheed Martin F-16 untuk pertama kalinya terbang tanpa pilot pada pekan lalu. Keberhasilan Pentagon bersama Boeing ini sekaligus menjadi terobosan baru sebuah jet tempur nyata menjadi pesawat tak berawak.
Menurut CNN (24/9), Pentagon telah menghabiskan miliaran dolar untuk membeli pesawat tak berawak atau "drone" (UAV). Pembelian UAV juga menimbulkan kontroversi di antara pilot AU Amerika karena merasa terancam bakal tergeser keberadaannya oleh UAV tersebut.
"Kita mungkin bingung karena melihat jet tempur tanpa siapa pun di dalamnya," kata Letnan Kolonel Ryan Inman, komandan Angkatan Udara AS.
Dijelaskannya, dengan kemampuan terbang tanpa pilot, pesawat tempur F-16 yang selama ini tidak beroperasi lagi bisa digunakan sebagai target nyata untuk melatih pilot belajar menghadapi pesawat musuh.
"Ini adalah simulasi kondisi nyata, dan dengan platform pesawat seperti ini, mereka dapat menembak jatuh pesawat ini sebagai target,"sambungnya.
Jet tempur ini sebelumnya sudah tidak lagi dipakai selama 15 tahun, tersimpan di hanggar Arizona dan kemudian dimodifikasi sehingga bisa terbang dengan ketinggian 12,2 km dan mencapai kecepatan Mach 1,47 atau sekitar 1.800km/jam.
"Pesawat ini mampu lepas landas dan naik hingga ketinggian 40 ribu meter di atas Teluk Meksiko, memecahkan hambatan suara dan melakukan manuver seperti gulungan barel pada lebih dari 7G," lanjutnya.
Jet tempur tak berawak ini juga mampu melakukan sejumlah gerakan manuver termasuk gerakan "split S", sebuah gerakan dimana posisi pesawat terbalik sebelum membuat setengah lingkaran sehingga bisa mengubah arah secara berlawanan. Manuver tersebut biasa digunakan dalam pertempuran untuk menghindari tembakan misil lawan.
"Jet ini terbang dengan hebat, semuanya bekerja dengan sangat baik, membuat pendaratan yang cantik, mungkin salah satu pendaratan terbaik yang pernah saya lihat," kata Paul Cejas, kepala teknisi proyek ini.
Boeing sendiri telah memodifikasi enam jet F16, yang kini diberinama QF-16, dan militer AS sekarang berencana untuk menggunakannya dalam uji tembak langsung. Tetapi, seorang juru bicara gerakan Kampanye Hentikan Robot Pembunuh memperingatkan atas kemungkinan penggunaan jet ini dalam armada perang.
"Saya sangat khawatir jest ini digunakan untuk menyerang orang di lapangan," kata Profesor Noel Sharkey.
"Saya terutama khawatir tentang kecepatan tinggi yang bisa mereka tempuh sehingga mereka tidak bisa mengenali target mereka dengan jelas," tambahnya.(esy/jpnn)



Wednesday, September 25, 2013

Menhan Bilang 2014 Kekuatan TNI Teratas di Asean



BATAM--Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan pada 2014, TNI akan memiliki daya kekuatan yang terbesar di antara negara lain di Asia Tenggara.

"Renstra pertama 2014, kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara," kata Menteri saat meresmikan dua Kapal Republik Indonesia di Batam, Kamis (5/9/2013).

Kekuatan itu tercermin dari pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru.

Menteri mengatakan ada banyak alutsista yang ditambah untuk ketiga angkatan bersenjata, di antaranya kapal patroli cepat untuk TNI AL, tank leopard untuk TNI AD dan penambahan pesawat sukhoi untuk TNI AU.

"Sukhoi akan diganti semua. Negara kita akan kuat, itu penting,"  ujarnya dia menambahkan  untuk TNI AD, selain 45 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit apace.

Menurutnya, TNI yang kuat memiliki banyak arti, baik bagi dalam negeri maupun luar negeri.

Meski begitu, Purnomo mengatakan penambahan alutsista dan penguatan TNI tidak ada hubungannya dengan pendirian pangkalan militer AS di Singapura dan Australia. "Ini tidak untuk perlombaan senjata, ini memordernisasi."

Ia mengatakan hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga amat baik. Namun, bukan berarti Indonesia tidak membangun kekuatan militernya.

Di tempat yang sama, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya TNI Marsetio mengatakan pemerintah merencanakan pembangunan Kapal Cepat Rudal dengan panjang 40 meter sebanyak 16 unit dan kapal patroli cepat sebanyak 16 unit. (Antara)
Sumber : Newswire



Enam pesawat Sukhoi kembali perkuat TNI AU

Pesawat Tempur Sukhoi SU-30 MK2 milik TNI AU saat diturunkan dari pesawat angkut Antonov di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Sabtu (23/2) dini hari. Pesawat tempur canggih tersebut didatangkan secara bertahap sejak 2003 di Lanud Iswahyudi Madiun, selanjutnya di Lanud Sultan Hasanuddin 2009, 2010 dan 2013. (ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)

Makassar - Enam pesawat tempur Sukhoi SU-30MK2 kembali memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara, sehingga jumlah pesawat tempur Sukhoi yang dimiliki TNI AU sebanyak 16 unit atau satu skuadron.

"Pesawat tempur Sukhoi sudah genap 16 unit atau satu skuadron. Pesawat ini akan ditempatkan di Skadron Udara 11 Wings 5 Lanud Hasanuddin, Makassar," kata Menhan Purnomo Yusgiantoro, dalam sambutannya pada acara serah terima Enam Pesawat Sukhoi Su-30 MK2 dari Pemerintah Rusia/JSC Rosoboronexport kepada Kementerian Pertahanan RI diwakili Kepala Baranahan Kemhan Laksamana Muda TNI Rahmat Lubis di Lanud Hasanuddin, Makassar, Rabu.

Menurut Menhan, telah genapnya satu skuadron pesawat tempur Sukhoi Su-30 MK2 dan Su-27 SKM itu merupakan bagian pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia untuk rencana strategis 2010-2014.

"Sukhoi siap mengawal kedaulatan NKRI," katanya.

Yang terpenting dalam pengadaan satu skuadron pesawat tempur Sukhoi itu, katanya, adalah mampu menjaga NKRI, mampu melaksanakan tugas-tugas pertahanan udara dan penegakan hukum wilayah udara NKRI.

Ia berharap ke-16 pesawat Sukhoi itu dimanfaatkan secara optimal dan dirawat dengan sebaik-baiknya.

Keenam pesawat sebelumnya menjalani perakitan selama satu minggu di Skadron Teknik 044, Rabu. Perakitan dilakukan oleh Tim Teknisi dari Rusia yang dibantu oleh Teknisi dari Skuadron Teknik 044 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar.

Seluruh pesawat Tempur SU-30 MK 2 dan SU-27 SKM merupakan pesanan pemerintah Indonesia sesuai kontrak Nomor Trak/1099/VII/2007 Tanggal 23 Juli 2007. Pesawat tempur canggih tersebut didatangkan secara bertahap yakni sejak tahun 2003 di Lanud Iswahyudi Madiun, selanjutnya di Lanud Sultan Hasanuddin tahun 2009, 2010 dan 2013.

Secara simbolis, penyerahan "Logbook"/miniatur pesawat SU-30 MK2 yang diserahkan oleh pihak Pemerintah Rusia/JSC Rosoboronexport diwakili Duta Besar Rusia di Indonesia, Mikhail Galuzin kepada Kementerian Pertahanan RI diwakili Kepala Baranahan Kemhan Laksamana Muda TNI Rahmat Lubis. Dalam upacara penyerahan pesawat, hadir secara langsung Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Selanjutnya, pesawat Sukhoi diserahkan kepada TNI yang diterima oleh Asisten Logistik Panglima TNI Mayjen TNI Joko Sriwidodo di Apron Galaktika Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar. (Antara News)
Editor: Fitri Supratiwi



Tank Leopard untuk Pertahanan Perbatasan


JAKARTA---Kementerian Pertahanan optimistis tank Leopard baru dari Jerman akan mampu memperkuat TNI AD. Tank kelas berat pertama dalam sejarah kavaleri itu akan memperkuat daerah daerah perbatasan.
"Tim TNI AD nanti yang akan menentukan posisi tepatnya dimana," kata Menhan Purnomo Yusgiantoro di sela sela penutupan training bela negara pns Kemhan di Rindam Jaya kemarin (24/09). Dua tank Leopard dan dua tank Marder sudah datang Sabtu (21/09) malam lalu.
Menurut Menhan, tank Leopard sangat cocok dengan kebutuhan pertahanan TNI di masa depan. "Pembelian itu sudah melalui proses perencanaan strategi yang panjang. Tentu sesuai," kata mantan Wagub Lemhanas itu.       
Pada November 2012 Kemenhan menandatangani kontrak pembelian"senilai USD 280 juta (sekitar Rp 3 triliun) dengan Jerman. Indonesia membeli sebanyak 153 unit MBT dan IFV.
Dengan rincian, 61 unit MBT Leopard tipe revolution, 42 MBT Leopard 2A4, serta 50 IFV Marder. Untuk MBT Leopard akan dilengkapi tank recovery, tank bridge layer, dan ambulans.     
Tipe Leopard 2A4 yang dibeli bukan tank baru, melainkan bekas pakai yang di-refurbish. Tank itu dibuat pada durasi waktu 1985 hingga 1992. Pemerintah Jerman memiliki 2.125 MBT Leopard 2A4. Karena over produksi, maka Leopard tipe ini dijual ke berbagai negara. Di antara yang sudah memakai adalah Austria, Polandia, dan Turki. Untuk negara Asia, selain Indonesia, baru Singapura yang tercatat mengoperasikan 96 tank jenis itu.     
Selain Leopard, Marder juga bukan produk anyar. Prototipe awalnya dirancang pada 1960-an dengan produksi perdana pada 1971. Saat ini sebagian Marder varian awal di Jerman sudah akan digantikan generasi yang lebih baru, yaitu Puma.     
Tank Marder berfungsi sebagai tank angkut personel. Salah satu ciri khas Marder adanya kanon atau meriam berkaliber 20 mm Rheinmetall MK 20 Rh202. Kanon ini otomatis. Artinya, peluru tidak perlu diisi satu demi satu. Peluru yang dipergunakan bisa dari berbagai jenis seperti amunisi konvensional, penembus baja serta berdaya ledak tinggi.     
Secara terpisah, Direktur Lembaga Studi Pertahanan dan Strategi Indonesia Rizal Darmaputera menilai TNI AD harus segera memikirkan sarana pendukung operasional Leopard. "Apakah secara teknis, jalanan kita bisa dan kuat dilewati tank 63 ton," katanya.      
Memang dari hasil kajian tim kavaleri TNI Angkatan Darat menyimpulkan Leopard memiliki beberapa keunggulan dibandingkan tank kelas berat yang lain. Di antaranya dari segi penggunaan bahan bakar, Leopard multifuel berbeda dengan lainnya yang hanya bisa dengan satu jenis bahan bakar. Dari segi kemampuan, Leopard mampu menembak sejauh 6 km, lebih jauh ketimbang MBT PT-91M milik Malaysia yang sanggup 5 km.     
"Tapi itu harus diimbangi dukungan infrastruktur yang memadai," kata alumni IDSS Jenewa itu. Jika tidak, pembelian besar-besaran senilai hampir tiga triliun itu bisa sia-sia.
"Pengaturan dan penempatan tank harus disesuaikan potensi ancaman yang ada," katanya.(rdl)  (Jppn.com)
/div>